Saturday, June 21, 2008

Gaji wasit di Eropa menggiurkan

90 menit berjalan dan pertandingan pun usai. Tim yang menang bersorak gembira, yang kalah tertunduk lesu. Bahkan ada yang menangis segala, bak anak-anak kehilangan mainannya. Sebaliknya sang wasit keluar stadion dengan wajah tetap tersenyum sumringah. Tentu beda dengan wasit di tempat kita. Keluar stadion dengan mimik kurang cerah. Takut ditimpuki penonton. Sebuah joke dilontarkan rekan saya. Kata dia, kita bisa temukan kaos berbagai tim nasional tapi kaos wasit kok ndak ada yang jual. He he ada-ada saja.

Wasit memang bukan profesi terpandang. Tapi tanpa wasit rasanya takkan ada pertandingan. Wasit juga, mungkin, bisa disebut sebagai manusia tersabar di dunia. Betapa tidak, dia dimaki, dicaci oleh para pemain, pelatih hingga penonton. Dianya diam saja. Kalau di Indonesia malah ada yang dipukuli segala. Aduh kok tega nian ya. Apa wasit di Eropa juga begitu?

Tentu beda dong. Wibawa wasit di sana cukup tinggi. Misalnya di pentas Euro 2008 ini. Disamping digaji tinggi, mereka juga mendapat pengawalan super ketat kelas satu. Simak beberapa data berikut ini.

Wasit Piala Eropa mendapat gaji 10.000 Euro (sekitar 150 juta rupiah) per pertandingan. Tak ada perbedaan antara babak penyisihan dan final. Sedangkan asisten mendapat setengahnya (5.500 Euro). Hanya itu? "Tentu saja tidak, ada uang saku harian sebesar 200 Euro (sekitar 3 juta) dan bonus lainnya," kata Yvan Cornu dari komisi perwasitan UEFA.

Wasit tentu sudah bisa menghitung-hitung total gaji yang bakal diperolehnya setelah dua kali memimpin pertandingan babak penyisihan grup. Bila performa bagus bakal terpilih untuk memimpin pertandingan fase berikutnya. Pundi-pundi duit Euro pun makin banyak lagi didapat. Oya ada satu kesepakatan, wasit yang memimpin babak knock out dinominasikan berasal dari negara yang telah tersisih.. Dengan begitu wasit tuan rumah punya peluang besar.

Dikawal ketat 24 jam

Yang menarik adalah pengawalan ketat bagi wasit selama turnamen berlangsung. Satuan keamanan ditempatkan disekitar hotel tempat wasit menginap. Mereka berpatroli 24 jam secara bergilir. Lalu ada dua penjaga lainnya di tiap lantai yang mengawal 12 wasit, 24 hakim garis dan 8 pengawas pertandingan. Pihak-pihak yang tak berkepentingan jangan coba melewati kawasan ini.

Bahkan resepsionis hotel turut diawasi. Mereka diingatkan agar berhati-hati menerima telepon dari pihak luar. Pengawalan kelas satu ini semata-mata untuk menghindari adanya upaya suap, korupsi, pengaturan skor pertandingan dan tindak kekerasan pada wasit. Bukan main, wasit Euro 2008 bak raja saja.

Sedikit melongok ke belakang, di Piala Dunia 2006 wasit mendapat gaji 12.000 Euro (sekitar 173 juta rupiah) per pertandingan. Pengeluaran panitia waktu itu mencapai 52 milyar untuk gaji 16 orang wasit dan 23 asisten.

Bagaimana dengan gaji wasit di kompetisi lokal Eropa? Sangat menjanjikan. Di Liga Inggris misalnya, setahun penghasilan seorang wasit mencapai 33.000 Poundsterling (sekitar 645 juta). Bahkan bisa lebih, jika ditotal dengan uang saku harian. Di Liga Jerman, wasit bergaji 3000 Euro (sekitar 45 juta rupiah) per pertandingan. Bukan main. Anda berminat jadi wasit?

Berharap turun hujan lagi Terim?

“Hujan turun, dan kami menang,“ ujat Fatih Terim –pelatih Turki- kala diwawancarai sebuah stasiun televisi swasta usai Turki menaklukkan Ceko. Menarik apa yang diucapkan Terim. Kemenangan memang diraih Turki di menit-menit akhir kala hujan turun membasahi rumput stadion.

Tampaknya gelar rain master (spesialis hujan) pantas disematkan pada tim Turki. Tengok saja ketika melawan tuan rumah Swiss. Mereka tertinggal lebih dulu. Main di tengah hujan lebat tak mengendurkan semangat Nihat dkk. Kemenangan pun diraih di menit-menit akhir.

Jangan tinggalkan kursi Anda sebelum wasit meniup peluit tanda pertandingan selesai, kata seorang pengamat. Karena Turki bisa membalikkan keadaan di detik-detik akhir. Jika Turki bisa bikin satu gol di saat sedang ketinggalan, maka tunggu saja mereka akan cetak gol berikutnya, imbuh sang pengamat itu lagi.

Berbagai media di Turki pun tak luput membahas kemenangan fenomenal itu. Padahal awalnya mereka gencar mengkritik Fatih Terim setelah pertandingan mengecewakan lawan Portugal. Kala itu media di sana menyebut petualangan Turki sudah berakhir di Piala Eropa.

“Air mata saya mengalir ketika menulis laporan,“ tutur Levent Tümen, kolumnis harian Sabah seperti dikutip Basler Zeitung, koran berbahasa Jerman terbitan Basel. Menteri Olahraga Turki Murat Basesgioglu, yang menonton langsung di stadion Basel pekan lalu, tak luput memberikan ucapan selamat kepada anak asuh Terim. “Kini kami tak bisa dihentikan lagi,“ tukas Ardan Turan, pencetak gol penentu saat melawan Swiss, penuh optimis.

Jalan menuju Wina telah terbuka lebar,“ tulis koran Cumhuriyet. Harian terkemuka Hurriyet malah menampilkan sebuah karikatur wajah Fatih Terim berbentuk doner kebab –roti khas Turki- di halaman depan. Doner kebab adalah makanan khas Turki yang sangat diminati di Eropa.

Asesoris Turki laris manis

Topi Turki laku keras bak doner kebab“ sebut reporter televisi swasta ExpressTV yang bermarkas di kota Köln pasca kemenangan Turki atas Ceko. Ulgur Ileri (31) yang berjualan asesoris Piala Eropa belakangan kebanjiran pembeli. Topi, kaos laku bak doner,“ ujarnya gembira. Lain lagi dengan Efesik Atalay (35), pemilik restoran Büyük Harran Doydoy“, dia bahkan harus membeli proyektor baru guna memenuhi permintaan maniak bola yang makin ramai nobar di kedainya.

Lain halnya dengan anak-anak muda Turki. Mereka konvoi keliling kota. Kami mau parade keliling kota,“ kata Fati diikuti teman-temannya lengkap dengan atribut dan bendera Turki. Bahkan ada yang duduk di atap mobil. Satu ketika kepergok polisi dan menghardik mereka untuk turun. Fati dan koleganya nurut. Tapi pas sudah jauh dari tatapan polisi mereka naik lagi ke atap.

Di Berlin, tempat mayoritas warga Turki bermukim, tak kalah hebohnya. Menariknya mereka memasang dua bendera sekaligus di mobil, bendera Jerman dan Turki. Kami pasang dua-duanya, Jerman adalah negeri ayah kami dan Turki negeri ibu kami. Keduanya ada di hati kami,“ tegas salah satu pria Turki berusia sekitar 48 tahun penuh semangat. Dia mengaku punya dua kewarganegaraan, Turki dan Jerman. Mereka bermalam panjang layaknya Turki baru jadi juara. Kita lihat saja nanti malam, apakah pawai masih berlanjut. Fatih Terim pasti berharap hujan turun lagi.