Berharap turun hujan lagi Terim?
“Hujan turun, dan kami menang,“ ujat Fatih Terim –pelatih Turki- kala diwawancarai sebuah stasiun televisi swasta usai Turki menaklukkan Ceko. Menarik apa yang diucapkan Terim. Kemenangan memang diraih Turki di menit-menit akhir kala hujan turun membasahi rumput stadion.
Tampaknya gelar rain master (spesialis hujan) pantas disematkan pada tim Turki. Tengok saja ketika melawan tuan rumah Swiss. Mereka tertinggal lebih dulu. Main di tengah hujan lebat tak mengendurkan semangat Nihat dkk. Kemenangan pun diraih di menit-menit akhir.
Jangan tinggalkan kursi Anda sebelum wasit meniup peluit tanda pertandingan selesai, kata seorang pengamat. Karena Turki bisa membalikkan keadaan di detik-detik akhir. Jika Turki bisa bikin satu gol di saat sedang ketinggalan, maka tunggu saja mereka akan cetak gol berikutnya, imbuh sang pengamat itu lagi.
Berbagai media di Turki pun tak luput membahas kemenangan fenomenal itu. Padahal awalnya mereka gencar mengkritik Fatih Terim setelah pertandingan mengecewakan lawan Portugal. Kala itu media di sana menyebut petualangan Turki sudah berakhir di Piala Eropa.
“Air mata saya mengalir ketika menulis laporan,“ tutur Levent Tümen, kolumnis harian Sabah seperti dikutip Basler Zeitung, koran berbahasa Jerman terbitan Basel. Menteri Olahraga Turki Murat Basesgioglu, yang menonton langsung di stadion Basel pekan lalu, tak luput memberikan ucapan selamat kepada anak asuh Terim. “Kini kami tak bisa dihentikan lagi,“ tukas Ardan Turan, pencetak gol penentu saat melawan Swiss, penuh optimis.
“ Jalan menuju Wina telah terbuka lebar,“ tulis koran Cumhuriyet. Harian terkemuka Hurriyet malah menampilkan sebuah karikatur wajah Fatih Terim berbentuk doner kebab –roti khas Turki- di halaman depan. Doner kebab adalah makanan khas Turki yang sangat diminati di Eropa.
Asesoris Turki laris manis
“ Topi Turki laku keras bak doner kebab“ sebut reporter televisi swasta ExpressTV yang bermarkas di kota Köln pasca kemenangan Turki atas Ceko. Ulgur Ileri (31) yang berjualan asesoris Piala Eropa belakangan kebanjiran pembeli. “Topi, kaos laku bak doner,“ ujarnya gembira. Lain lagi dengan Efesik Atalay (35), pemilik restoran “Büyük Harran Doydoy“, dia bahkan harus membeli proyektor baru guna memenuhi permintaan maniak bola yang makin ramai nobar di kedainya.
Lain halnya dengan anak-anak muda Turki. Mereka konvoi keliling kota. “Kami mau parade keliling kota,“ kata Fati diikuti teman-temannya lengkap dengan atribut dan bendera Turki. Bahkan ada yang duduk di atap mobil. Satu ketika kepergok polisi dan menghardik mereka untuk turun. Fati dan koleganya nurut. Tapi pas sudah jauh dari tatapan polisi mereka naik lagi ke atap.
Di Berlin, tempat mayoritas warga Turki bermukim, tak kalah hebohnya. Menariknya mereka memasang dua bendera sekaligus di mobil, bendera Jerman dan Turki. “Kami pasang dua-duanya, Jerman adalah negeri ayah kami dan Turki negeri ibu kami. Keduanya ada di hati kami,“ tegas salah satu pria Turki berusia sekitar 48 tahun penuh semangat. Dia mengaku punya dua kewarganegaraan, Turki dan Jerman. Mereka bermalam panjang layaknya Turki baru jadi juara. Kita lihat saja nanti malam, apakah pawai masih berlanjut. Fatih Terim pasti berharap hujan turun lagi.
No comments:
Post a Comment