Friday, June 27, 2008

Fans pergi, sampah pun datang


Swiss kini sudah mulai ditinggal fans sepakbola. Tak ada lagi pertandingan di sana. Tinggal menunggu babak final saja di Wina. Yang tersisa saat ini adalah sampah yang menggunung. Selama tiga pekan perhelatan Euro 2008 ada ratusan ton sampah di empat kota penyelenggara.


Pengunjung memang membludak selama Euro 2008. Di Bern misalnya, menurut catatan tak resmi, sedikitnya ada 750.000 temu berada disana. Dari angka tersebut, 250.000 tamu berasal dari luar Swiss. Di Basel, hingga pertandingan terakhir semifinal Jerman vs Turki yang berlangsung total turis mendekati 1 juta orang.

Sudah pasti banjir pengunjung itu tak bisa dipisahkan dari sampah. Di Bern, sebagaimana dilaporkan Theo Schmid dari dinas kebersihan, saat pertandingan Belanda melawan Perancis mencapai 30 ton. Hal yang sama juga tampak di tiga kota lainnya.


“Sedikitnya ada 100 ton sampah selama tiga kali pertandingan“, tukas Boris Woelfle, juru bicara dinas kebersihan pemkot Basel kepada pers. Ada berbagai macam sampah. Yang paling banyak adalah botol minuman, kaleng bir, sisa makanan, serpihan kertas, hingga aneka pernak pernik fans. Untungnya toilet cukup tersedia. Jika tidak, dipastikan bau pesing bakal menyengat ke seantoro kota.


Dari segi volume, yang paling banyak memproduksi sampah adalah kota Basel. Ada dua pertandingan yang bikin repot tim dari dinas kebersihan. Yakni tatkala Belanda melawan Rusia, sampahnya mencapai 40 ton. Sedangkan saat pertandingan pembukaan antara Swiss vs Ceska, 24 ton sampah berhasil dikumpulkan. Sementara di Zurich, sejauh ini belum ada informasi dari penanggungjawab kebersihan setempat. Ya resiko jadi tuan rumah memang begini. Sampah adalah bagian dari sukses juga.


Di Bern ada 80 hingga 100 petugas kebersihan saban harinya. Mereka bergerak malam hari selepas pertandingan usai digelar dan penonton beranjak pulang“, imbuh Leo Schmid. Di Basel petugas kebersihan tak memadai hingga musti menambah petugas tambahan yang berjumlah sekitar 60 orang. Mereka bekerja di sekitar stadion dan arena nobar. Begitu juga halnya di Jenewa, ada 20 petugas tambahan diterjunkan ke arena sampah.


Bagaimana dengan di Austria? Tak jauh beda. Di Wina misalnya, Fernwarme, salah satu perusahaan daur ulang sampah di Wina, mampu mengangkut ribuan ton saban harinya. Sampah-sampah tersebut terlebih dahulu dipilah menurut jenisnya, organik dan anorganik. Semuanya diseleksi oleh mesin. Sampah hasil seleksi itu dimasukkan ke dalam ratusan insenerator (pembakar sampah).


Hasilnya ? Ratusan megawatt energi listrik mampu dihasilkan dari sampah itu, yang mampu memasok kebutuhan listrik sehari-hari bagi warga Wina. Misalnya di pusat pengolahan sampah Spittelau di dekat sungai Donau, mampu memasok energi listrik hingga 460 MW bagi kota Wina. Pusat pengolahan sampah milik miliknya Fernwärme Wien GmbH itu rata-rata mampu mengangkut hingga 250.000 ton sampah per tahunnya.


Menariknya, pusat pengolahan sampah berteknologi tinggi itu berada di pusat kota. Bahkan pusat pengolahan sampah tersebut jadi obyek wisata karena desainnya yang menarik. Sepintas lebih mirip gedung kesenian ketimbang tempat pengolahan sampah. Sebuah contoh yang patut ditiru tentunya.


Dan, ketika malam datang lagi. Pasukan “siluman” bersenjatakan sapu mulai keluar dari markas besarnya. Mereka menari-nari di atas tumpukan sampah, dari tengah malam hingga menjelang subuh. Paginya tahu-tahu seluruh kota sudah bersih seperti sedia kala. Saat mentari bergerak naik, kota mulai sibuk dengan aneka aktifitas warganya. Kala itu petugas kebersihan justru sedang menikmati mimpi indahnya di atas ranjang. Menunggu malam datang lagi.

Thursday, June 26, 2008

Jerman menang, fans Turki ikut senang

Sungguh malam yang luar biasa. Patut dicatat, mungkin tak ada dalam sejarah sepakbola, dimana fans tim yang kalah ikut merayakan kemenangan bersama dengan fans yang menang. Itulah yang terjadi malam kemarin pasca pertandingan semifinal Jerman-Turki. Setelah wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan berakhir terlihat fans Jerman mendekati fans Turki, merangkul mereka seraya menghibur. Sebuah kemenangan bagi persabahatan.

Malah Lukas Podolski secara simpatik mendatangi kamar ganti Turki. "Mereka memberi ucapan selamat padaku. Walau kalah, mereka sangat sportif. Kami senang melaju ke final. Tapi penampilan kami tidak mengesankan. Turki memang hebat", aku Podolski kepada pers seusai pertandingan.

Di Fan Zone Wina, fans Turki mendominasi arena nobar dekat gedung Rathaus (balai kota -red). Lautan warna merah menyala terhampar disana. Di belakangnya terlihat fans Jerman dengan warna putih dominan. Total ada sekitar 28.000 penonton yang menyesaki kawasan tersebut.

Fans Turki juga menempati "pole position“di Fan Zone Burgtheater. Fans Jerman boleh dibilang minoritas, berada di tengah-tengah massa Turki yang menyemut. Atmosfirnya benar-benar panas.
“Melebihi suasana di stadion malahan“, sebut Syafruddin Ghandy, seorang warga Aceh yang tinggal di Wina.

“Wah, kalau Turki yang maen, penampilan mereka ndak ada lawan pokoknya. Seluruh fans membalut diri dengan kaos merah serta mengikat kepala dengan bendera Turki. Ini bisa dimaklumi karena beberapa pusat perdagangan di Wina dikuasai warga Turki”, lanjut mahasiswa program doktor di Universitas Wina itu lagi.

Satu jam setelah pertandingan berakhir, di area seluas tujuh hektar itu masih terlihat fans Turki dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka menyanyi dan mengelu-elukan pemain timnasnya.
Halnya di Jerman, selepas kemenangan itu, pendukung Jerman keluar dari rumah, berpawai.
Diperkirakan ratusan ribu fans der Panzer memenuhi arena nobar baik di kedai-kedai, pub, stadion hingga lapangan terbuka. Menariknya, fans Turki juga ikut serta. Mereka mengibar-ngibarkan bendera negaranya.

Di Berlin, seperti dicatat Bild-Online, 500.000 pendukung Jerman memadati jalan raya sepanjang 1,2 kilometer di dekat Brandenbuger Tor yang disulap jadi arena nobar. Sejam sebelum pertandingan dimulai, semua akses menuju jalan tersebut ditutup untuk kenderaan umum. 1700 polisi bersiaga di sekitar arena. Namun hingga acara berakhir tak terjadi tindakan yang menjurus anarkis.

Sementara di Hamburg, sedikitnya 42.000 suporter memadati kawasan Heiligengeistfeld. Di Muenchen, 30.000 penonton menyesaki stadion Olimpiade yang disulap jadi arena nobar. Sedangkan di Stuttgart 40.000 maniak bola nobar di lapangan Schlossplatz. Stadion milik klub Borussia Dortmud yang berkapasitas 12.000 penonton juga disulap jadi arena nonton bareng. Karena tidak muat, 15.000 warga Dortmund lainnya menonton di lapangan Friedenplatz. Yang menarik, di kota Nuernberg, dari 25.000 penonton yang memadati lapangan nobar, setengahnya adalah warga Turki.

Begitulah, Jerman yang menang, tapi fans Turki ikut senang. Begitupun, sebagian media di Jerman tak mau gegabah dalam memberi komentar. "Jujur saja, kita menang karena lebih beruntung. Bukan karena permainan yang memikat. Ingat, Turki bermain dengan "tim kedua“. Jadi semata-mata karena keberuntungan“, tulis Morgenpost yang terbit di Berlin. Media lainnya kurang lebih sama.

Di Basel, tempat pertandingan tersebut berlangsung, tak kalah hebohnya. Arena Fan Zone sudah terisi penuh sejak satu jam sebelum pertandingan. Fans Turki dan Jerman menyatu di sana. Di sela-sela tampak beberapa pendukung Spanyol, Rusia, bahkan fans Swiss juga ikut nongol. Ya itulah pertandingan terakhir di Basel. Perlahan Basel mulai ditinggalkan maniak bola yang selama tiga pekan memadati kota seni itu. Beberapa pedagang mulai menurunkan harga jual beberapa jenis souvenir, hingga setengah harga. Bahkan di arena nobar dekat Kasernen ada yang berani memberi diskon hingga 70 persen. Kontan tempat itu diserbu banyak fans. Obral, obral...!