Friday, July 14, 2006

Warga Turki di Jerman Makin Mesra

Di sebuah kedai roti doner kebab –roti khas Turki- di Kreuzberg, Berlin tampak semua kursi telah terisi penuh. Semua pengunjungnya lelaki Turki, tua muda kumpul disitu. Tidak berapa lama terdengar teriakan “Toooor !“ (Gooool !) ketika Lukas Podolski mencetak gol. Semua yang ada disitu melompat gembira. Saat itu memang sedang berlangsung pertandingan antara Jerman melawan Swedia.
Di lain waktu kita bisa saksikan anak muda Turki berparade bersama-sama warga Jerman lainnya dengan bendera nasional Jerman di tangan.

Kreuzberg hanya salah satu sisi lain kehidupan warga Turki di Jerman. Tidak ada tempat lain di Jerman yang begitu „Turki“ selain disini. 40 persen penduduk di Kreuzberg adalah warga asing. Sebagian besarnya keturunan Turki yakni sekitar 10.000-an jiwa. Di kawasan itu dengan mudah bisa ditemukan mesjid, organisasi kemasyarakatan, supermarket, juga tim sepak bola yang semuanya bernuansa Turki. Orang menyebut kawasan itu dengan julukan “die kleine Istambul“ atau Istambul Kecil. Selama piala dunia berlangsung, di setiap rumah, kedai, dan kios kepunyaan warga Turki pasti berkibar bendera nasional Jerman

Tak pelak lagi, sepak bola telah membuka simpul benang kusut integrasi warga Turki di Jerman. Presiden Jerman, Horst Köhler dalam satu wawancara dengan harian Bild berujar: „Kita memang tidak juara dunia, namun kita banyak meraih kemenangan yang lain. Salah satunya adalah perbaikan integrasi warga asing di Jerman”. Warga asing dimaksud disini adalah Turki yang merupakan imigran terbesar.

Menurut catatan Wikipedia Jerman, saat ini ada sekitar 2,5 juta warga Turki di seluruh Jerman. Sebab itu Islam di Jerman pun kental dengan warna Turki. Seperti Islam di Perancis yang dipengaruhi oleh warna Marokko, atau di Inggris yang kental dengan nuansa Pakistannya.

Kenan Kolat, ketua masyarakat Turki di Jerman mengaku sangat terkesan dengan perkembangan tersebut. “Hal ini menunjukkan rasa memiliki telah timbul“, ujar Kolat bangga.
”Warga Turki sekarang lagi demam bola. Mereka sangat mencintai Ballack dkk. Bagi mereka, Jerman adalah kampung halamannya”, sahut Taciddin Yatkin, ketua masyarakat Turki di Berlin kepada Netzeitung (30/6).

Huseyn Ugur (30) seorang pengusaha ekspor-impor menyebutkan ia tidak pernah menjumpai sebelumnya sebuah solidaritas yang demikian tinggi antara warga Turki dan Jerman.
“Akhirnya kami bisa tunjukkan bahwa kami mencintai Jerman. Fans Jerman kini jangan memalingkan muka lagi. Biarkan kami bersama-sama menikmatinya“, tukas Ugur bersemangat.

Tak kurang pedagang kain gorden, Ayhan Yalcin yang melihat simpati Turki dan Jerman sebagai suatu kejutan. “Inilah kali pertama -sejak Turki hidup di Jerman- orang Turki benar-benar ingin menunjukkan bahwa mereka juga warga Jerman“, ujar Yalcin yang lahir di Jerman.

Menilik sejarahnya, warga Turki datang ke Jerman sekitar awal tahun 1960-an. Umumnya generasi pertama ini adalah pekerja kasar yang membantu membangun Jerman dari keruntuhan setelah Perang Dunia II. Kini generasi kedua Turki bisa dikatakan telah banyak yang berhasil baik di parlemen, bintang film, pengusaha, olahragawan, dan akademisi. Di sepak bola, Mehmet Scholl -mantan pemain timnas Jerman- boleh disebut sebagai salah satu keturunan Turki yang sukses.

Hanya saja di masa silam integrasi muslim Turki di Jerman masih memiliki masalah. Hal ini disebabkan antara lain, lingkungan yang terpisah dari warga asli Jerman, lalu banyak juga diantara mereka yang tidak dapat berbahasa Jerman dengan baik. Gerhard Schröder –mantan kanselir Jerman- satu ketika pernah berujar: “Jika ingin menyatu dengan kami, belajarlah bahasa Jerman”.

Sebab itu tidak lolosnya timnas Turki ke Piala Dunia 2006 di Jerman adalah “rahmat” juga. “Jika tim nasional Turki hadir di sini, sudah pasti kebanyakan warga Turki mendukung negara asalnya“, tukas Yatkin lebih lanjut. Zulkarnain Jalil, Serambinews (13/07/06)

No comments: