Thursday, September 28, 2006

Putra Aceh Raih Award Peneliti Muda Terbaik di Jerman

Sebuah award (penghargaan) peneliti muda terbaik diberikan oleh Rheinisch-Westfä lischen Technischen Hochschule (RWTH) Aachen, Jerman kepada Dr.-Ing. Zulfiadi Zulhan. Pria kelahiran Matang Geulumpang Dua, Kab. Bireuen 28 Januari 1973 itu mendapat award Ludwig Bogdandy Preis 2006 atas hasil penelitiannya di bidang metalurgi yang dianggap orisinil dan inovatif serta berguna bagi masa depan. Menariknya, penghargaan ini untuk pertama kalinya dianugerahkan kepada peneliti selain warga Jerman. RWTH Aachen sendiri adalah sebuah perguruan tinggi teknik berkaliber di Jerman, tempat dimana Prof. B.J. Habibie – mantan Presiden Indonesia- pernah menimba ilmu.

Zulfiadi Zulhan lulus ujian doktor (Dr.-Ing.) di Institut für Eisenhüttenkunde (institut untuk ilmu peleburan besi) RWTH Aachen dengan predikat Summa Cumlaude Juni 2006 yang lalu. Disertasi yang bertema “Slag foaming dielectric arc furnace (EAF)“ ditulisnya dalam bahasa Jerman. Adapun perangkat riset untuk menyelidiki porositas permukaan partikel batu bara berikut dengan model matematika guna mengetahui prinsip dasar termodinamika dan kinetika material dirancangnya sendiri. Tak pelak hasil risetnya dilirik oleh kalangan industri pengolahan baja. Dan tak perlu menunggu lama, Siemens VAI, sebuah perusahaan Jerman yang bergerak di bidang konstruksi pabrik baja mengontraknya selama 3 tahun.

“Sebenarnya profesor saya yang menganjurkan agar mencari pengalaman di industri di Jerman sebelum kembali ke Indonesia,“ ujar Zulfiadi yang saat dikontak masih berada di Cina dalam rangka persiapan pabrik “Vacuum Tank Degasser” untuk menghasilkan baja kualitas tinggi.

“Selepas itu saya putuskan kembali ke kampung, mengajar dan meneliti di kampus. Mentransfer ilmu kepada mahasiswa“, imbuh pria yang juga dosen di jurusan Teknik Pertambangan, ITB Bandung dalam bahasa Aceh yang masih kental.

Selama mengerjakan penelitian disertasinya, alumnus SMA Negeri 1 Bireuen ini juga aktif dalam kegiatan pendidikan di RWTH. Misalnya memberikan praktikum dan responsi kepada mahasiswa Jerman. Selain itu ia juga menyelesaikan satu proyek penelitian kerjasama RWTH dengan ISPAT Ltd. India untuk mengoptimisasi proses pembuatan baja.

Ayahnya H. Zulkifli Hanafiah, yang membuka usaha percetakan di Matang Geulumpang Dua dan ibunya Hj. Zubaidah Abubakar (alm) adalah sosok yang berpengaruh dalam hidupnya.
“Saya awalnya mendapat dua beasiswa yaitu dari AUSAID (Australia) dan DAAD (Jerman) pada tahun 2001. Orang tua menganjurkan untuk mengambil di Jerman. Demikian juga saat ditawari menjadi dosen di ITB saya meminta pertimbangan keduanya”, ungkap pria yang menyelesaikan program masternya juga dengan predikat Cumlaude.

“Terima kasih kepada para guru, tanpa ilmu yang kau berikan tentulah keberhasilan ini hanya mimpi belaka. Hal ini juga membuktikan bahwa ilmu dari mereka bisa bersaing di dunia internasional,“ tukas pria yang menikahi Sri Yulis, teman sekelasnya semasa SMA di Bireuen menutup pembicaraan. Anugerah lainnya yang paling berkesan, di Aachen pula mereka memperoleh dua buah hati, Aulia Aghna dan Sybilla Syailannisa yang lahir kembar 29 Maret 2006 silam. (Zulkarnain Jalil, dari Jerman untuk Serambinews (28/9)

No comments: