Sukses, Konferensi Organisasi Islam se-Jerman
BERLIN--Islam tidaklah termasuk agama yang diakui oleh negara di Jerman. Namun pemerintah tidak bisa menutup mata atas kenyataan bahwa makin banyak warganya yang beragama Islam dari tahun ke tahun. Saat ini menurut catatan ada sekitar 3,5 juta warga muslim yang berdiam di sana. Karena itu pemerintah mencoba melakukan dialog terbuka dengan wakil-wakil organisasi Islam yang ada di Jerman sebagai upaya penguatan integrasi warga muslim di sana.
Rabu kemarin (27/9) berlangsung sebuah konferensi organisasi Islam se-Jerman yang diadakan di Istana Charlottenburg, Berlin. Kementerian Dalam Negeri sebagai pemrakarsa acara itu mengundang semua wakil organisasi Islam yang ada di Jerman yang terdiri dari berbagai kelompok dan aliran.
Menteri Dalam Negeri Wolfgang Schäuble yang menyampaikan pandangan pemerintah selepas acara itu di gedung parlemen menyebutkan: “Islam adalah bagian dari Jerman dan Eropa. Islam juga bagian dari masa kini dan masa depan kami“. Lebih lanjut Bundestag (DPR-nya Jerman) hari Kamis (28/9) mulai membahas tentang pokok-pokok integrasi Islam di Jerman.
Lebih jauh, Ketua Fraksi Hijau Renate Künachst memandang positif pertemuan tersebut sebagai upaya menuju integrasi yang legal formal. “Tahun-tahun terakhir integrasi di Jerman banyak menghadapi masalah,“ ujar Künachst seraya berharap terbentuknya satu kehidupan harmonis antara penganut Islam dan agama lainnya di Jerman.
Sementara itu Ketua Zentralrat der Muslime in Deutschland (ZMD) –semacam MUI-nya Jerman- Ayyub Axel Köhler, berujar: “Ini merupakan awal yang baik, khususnya bagi pemerintah yang punya niat baik untuk duduk bersama memecahkan persoalan integrasi ini,“. Aiman Mazyek, Sekjen ZMD dalam wawancaranya dengan televisi swasta Jerman ZDF menyebutkan: “Inilah hari yang berkesan bagi Jerman, warga Muslim, dan masa depan integrasi di Jerman.
Konferensi Rabu kemarin tersebut merupakan yang pertama kali di Jerman. Kegiatan itu sekaligus mencairkan hubungan kaku antara pemerintah dan Islam selama hampir setengah abad lamanya. Mendagri secara terbuka menyebutkan bahwa tujuan pertemuan itu guna menguatkan peran Islam dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Konflik yang berlangsung selama ini, semisal masalah pembangunan mesjid, perlakuan terhadap siswi muslim (berjilbab), juga tentang pelajaran agama Islam di sekolah dalam bahasa Jerman, hingga ke masalah pemisahan siswa-siswi dalam olahraga berenang, perlu dicarikan penyelesaiannya. Schäuble juga menambahkan bahwa pertemuan ini bukanlah dialog antar agama, namun dialog antara pemerintah dengan warganya (yang muslim).
Pertemuan di Berlin tersebut –konon lagi di bulan Ramadhan- sedikit banyak meredam semangat anti Islam di dunia Barat. Misalnya pernyataan yang keluar dari bibir Paus Benekditus XVI baru-baru ini, yang menuding Islam sebagai agama tidak rasional dan Nabi Muhammad sebagai tidak humanis. Walau belakangan sang Paus asal Jerman itu meminta maaf atas pernyataannya tersebut.
Diperkirakan sedikitnya saat ini ada sekitar 25 juta warga muslim tinggal di Eropa. Populasi terbesar berdiam di Perancis, yaitu sekitar 5 juta jiwa. Muslim Perancis kebanyakan berasal dari Afrika utara (didominasi Maroko dan Aljazair). Di Jerman, mayoritas muslim datang dari Turki. Sedangkan di Inggris umumnya dari Pakistan dan Bangladesh. Awalnya para pendatang itu tiba di Eropa sebagai tenaga kerja murah antara tahun 1950-1960. Akan tetapi kemudian mereka menetap dan belakangan membawa keluarganya ke Eropa. Adapun generasi saat ini bisa dikatakan sebagai generasi ketiga.
(Zulkarnain Jalil, dari Jerman, Serambinews (30/9).
No comments:
Post a Comment