Thursday, October 26, 2006

Di Aceh Ada Kanji, di Perancis Ada Harira

JIKA kita berkunjung ke Paris-ibukota Perancis- maka siapa sangka kota yang identik dengan mode dan glamournya selebritis dunia itu juga memancarkan nuansa Islam, utamanya di bulan Ramadhan.

Di Evry misalnya, kota kecil berjarak 25 kilometer arah selatan Paris, dihuni 15.000 muslim, yang merupakan sepertiga populasi penduduk kota itu. Masjid dan Islamic Centernya adalah terbesar kedua di Perancis. Warga muslim Perancis sendiri kini ada sekitar 5 juta jiwa yang merupakan populasi terbesar di Eropa.

Selama Ramadhan, sedikitnya 1.500 jamaah meramaikan masjid Evry sepanjang hari. Kala waktu berbuka tiba, jamaah berkumpul di ruangan bawah tanah. Aroma masakan Maroko langsung menyergap. Khalil Merroun-imam masjid––ikut membantu jamaahnya mencuci piring selepas berbuka. Lalu kembali ke ruangan shalat guna menyampaikan ceramah berbahasa Arab maupun Perancis. Begitulah rutinitas di masjid yang dibangun tahun 1985 yang merupakan sumbangan Raja Hassan II dari Maroko.

Ramadhan memang bikin kagum warga Perancis. Sebuah survei yang dilakukan oleh koresponden Islamonline di Paris menyebutkan, mayoritas warga Perancis mengaku kagum dan takjub akan kemampuan rekannya yang muslim dalam menahan napsu (makan, minum, dan lainya) sepanjang hari.

“Benar-benar mengagumkan, teman karib saya tiba-tiba berhenti ke kedai kopi selama Ramadhan,” ujar Escafi yang ikut menikmati malam Ramadhan bersama rekan-rekannya yang muslim di Saint Denis, utara Paris. Saint Denis merupakan tempat berdiamnya populasi muslim terbesar di Perancis ––500.000 jiwa- dari jumlah penduduk kota itu 1,4 juta jiwa.

Namun, harus diakui, berpuasa di negeri berpenduduk 63 juta jiwa juga tidak mudah, terutama untuk menjaga pandangan mata. “Yang cukup berat di sini ya menahan godaan mata, karena walaupun sudah mulai dingin masih banyak yang berpakaian sangat seksi, atau bahkan ada yang asyik peluk cium di depan umum. Kadang suka risih juga melihatnya. Tapi gimana lagi namanya juga kultur mereka. Paling kita palingkan wajah atau pindah tempat duduk,” begitu pengakuan Adhi Setiaji, seorang warga Indonesia yang bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi di Paris.

Bagi warga Perancis sendiri, bulan suci Ramadhan juga identik dengan sup Maroko (harira) yang terkenal lezat itu. Ibaratnya barangkali seperti kanji di tempat kita yang tersedia gratis kala berbuka di hampir semua masjid dan meunasah di Aceh. Bicara masalah makanan, muslim Perancis berani tampil beda.

Jika kita berjalan agak ke timur Paris, tepatnya di Clichy-sous-Bois di sana ada restoran halal, Beurger King Muslim (BKM) namanya. BKM seakan hendak menyaingi McDonalds atau KFC-nya Amerika. Restoran yang dibuka Juli 2005 itu mengikuti sukses Mecca-Cola––menyaingi Coca Cola–– yang diluncurkan November 2002 silam. “Saking gembiranya saya sampai meneteskan air mata,” ungkap Mouna Talbi (24). Mouna yang datang bersama keluarganya menempuh jarak sejauh 90 kilometer untuk membeli burger halal ini. Wanita ini mengaku merasa nyaman berbelanja di sana. “Di restoran lain, saya sering jadi bahan tatapan asing karena berjilbab,” imbuhnya. Pegawai wanita di restoran muslim Aljazair ini juga berjilbab.

Muslimah Perancis memang dikenal sangat teguh mempertahankan jilbabnya kendati ada larangan dari pemerintah. “Jika nanti saya dapat kerja, saya akan tetap berjilbab. Namun saya yakin pasti perusahaan tak akan mengizinkan. Jadi, haruskah saya melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan hati nurani saya?,” tukas Sonya Benhia, mahasiswi muslim yang tinggal di dekat Paris.

“Aku melihat Islam (di Paris), meski tidak ada orang Islam di sana. Aku melihat orang Islam di Kairo, tetapi tak melihat Islam di sana”. Itulah kalimat terkenal yang dilontarkan Syekh Muhammad Abduh. Pemikir muslim dari Mesir tersebut pernah tinggal di Paris pada tahun 1884 saat mana diasingkan oleh pemerintahnya. Kini, di negara yang terkenal dengan menara Eiffel-nya itu tentu sudah jauh berbeda dengan yang dilihat Syekh Abduh dulu.

“Arus masuk Islam menjadi fenomena yang makin meluas di Perancis. Saya yakin nilai-nilai yang diserukan Islam itulah yang menjadi motif pertama kebanyakan pemeluk Islam baru di sini,” demikian dikatakan Steve Brodwer, seorang muallaf baru, seperti disitir Islamonline.
Zulkarnain Jalil, Serambinews 16 Oktober 2006

No comments: