Friday, October 27, 2006

Warga Aceh di rantau; Ada yang rindu Boh Rom Rom

Ini abang sama sinyak. Anak kita tambah cabak, dah pintar nangis..” Demikian isi SMS yang diterima Erfiati, salah satu mahasiswi asal Aceh yang saat ini sedang studi di Universitas Leipzig, Jerman. SMS dari suaminya di Banda Aceh itu kontan bikin sesak dada menahan rasa rindu. Er –panggilan perempuan asal Beureunuen ini- mengaku sering menelpon ke kampung hanya untuk mendengar suara tangisan anaknya yang masih berusia lima bulan . Erfiati, barangkali bisa jadi satu diantara sekian banyak mahasiswa Aceh di luar negeri yang harus memendam rindu akan kampung halaman.

Jauh dari kampung, keluarga atau sanak saudara, konon lagi menjelang lebaran, memang sungguh menyiksa batin. Saat ini ada ratusan lebih warga Aceh bertebaran di beberapa negara Eropa. Sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa, ada juga yang telah menetap lama. Selain rindu keluarga, ada pula yang rindu akan masakan, dan tentunya juga suasana Ramadhan. Menariknya lagi, selama di rantau kebanyakan dari mereka justru jadi mahir memasak.

“Saya sering masak sendiri selama puasa. Padahal saya dulu paling ndak bisa masak. Sekarang udah bisa buat rendang Aceh..he..he..,” ujar Meutia, mahasiswa Kedokteran di Universitas Muenster, Jerman sembari terkekeh. Alumni SMA 1 Banda Aceh ini mengaku untuk mengobati rindu sampai berpayah-payah belanja ikan ke Enschede, Belanda yang berbatasan dengan Jerman.

Pokok jih ta lawok-lawok laju, mangat keudro (pokoknya diaduk-aduk saja, nanti enak sendiri-red),” ujar Bahi, yang tinggal di kota Ulm.
Alah bisa karena terpaksa,” tambah Bahi memelesetkan sebuah pepatah. Lain halnya Syafii yang tinggal di Valladolid, Spanyol. Pria lajang asal Sanggeu, Pidie ini malah kangen berat dengan boh rom-rom. Untuk masalah masakan khas Aceh sebagian besar memang membawa bumbu sejak berangkat dari Aceh.

Tidak mau kalah dengan saudaranya di kampung, warga Aceh di Eropa ada juga yang mengadakan tradisi meugang. Ali Jahja misalnya, pria asal Meureudu yang tinggal di Hamburg mengaku tiap Ramadhan dan lebaran selalu mengadakan meugang.
“Bagaimana di kampung, ya begini pula di sini. Misal meugang, kami buat juga,” ujar Aminah, istri Ali Yahya yang sudah 38 tahun berada di Jerman.

Tak kurang serunya adalah keluarga Tgk. Iskandar yang tinggal di Amsterdam, Belanda. Pria asal Tanoh Abee, Aceh Besar yang sudah lebih dari 30 tahun di Belanda ini tampaknya terkesan suasana berbuka bersama di mesjid seperti di Tanah Air. Hampir setiap hari Iskandar dan keluarganya berbuka di mesjid PPME (Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa), Amsterdam. Ia bersama warga Indonesia lainnya saling bergantian membawa makanan.untuk berbuka.

“Malah ada juga warga Belanda, Afrika, atau Suriname yang datang ikut berbuka,” ungkap Tgk. Iskandar yang membuka usaha restoran di ibukota Belanda itu.
“Selama Ramadhan, kami juga mendatangkan ustazd dari Indonesia yang berkeliling dari satu kota ke kota lainnya. Biasaya ada lebih dari satu orang ustazd, jadi saling bergantian di tiap kota,” imbuh pria yang putra-putrinya lahir dan besar di Belanda.

Di Belanda sendiri saat ini ada sekitar 200-an mesjid, dan dari 15,6 juta penduduknya ada sekitar 1 juta warga yang beragama Islam. Kaum muslim yang terbesar disana adalah keturunan Turki, selain itu ada Maroko, Aljazair, dan Suriname.

Banyak pula pengalaman menarik lainnya seputar Ramadhan. Misalnya Erfiati yang kadang terpaksa meneguk air di keran kamar mandi di kampusnya untuk berbuka.
“Kalau lagi kuliah sampe sore, dan ndak sempat pulang, saya ke toilet batalin puasa pake air keran,” ungkap alumni MAN Sigli yang saat ini mengambil master Global Studies di Leipzig. Hal yang sama juga dialami temannya sekampus Nadya Rusydi yang berasal dari Banda Aceh.

Entah kapan lagi aku merasakan indahnya alam dari Tebing Bak Ret.
Entah kapan lagi aku merasakan nikmatnya mereguk secangkir kopi di Ulee Kareng.
Entah kapan lagi aku merasakan suasana pagi yang diwarnai ocehan Nyak-Nyak di Pasar Aceh. Entah kapan lagi merasakan indahnya malam di Rek.......

Demikian sejumput ungkapan rindu akan Aceh yang ditulis di sebuah blog (diari online). Masih banyak lagi tentunya pengalaman menarik dengan beragam corak keunikannya. Intinya, Aceh tetap lon sayang.

(Zulkarnain Jalil, dari Jerman untuk Serambi Indonesia)

No comments: