Mengintip Suasana Puasa di barak militer Austria
Austria –tetangga terdekat Jerman- boleh dijuluki sebagai Serambi Mekkahnya Eropa. Tidak percaya ? Pasalnya, Islam di Austria termasuk agama yang diakui oleh negara sejak tahun 1912. Berbeda dengan negara Eropa lainnya –katakanlah Jerman atau Perancis. Muslim Austria menurut data terbaru diperkirakan berjumlah 400.000 jiwa atau 4 persen dari 8 juta jiwa warga Austria. Populasi Islam di Austria memang terbilang kecil, tetapi lebih beruntung daripada warga muslim lain di Eropa. Hak-hak mereka dijamin oleh undang-undang.
“Adanya undang-undang yang mengatur keberadaan Islam membuat muslim di Austria mudah berintegrasi, sehingga terbangun komunikasi positif antara Islam dengan pemerintah dan organisasi sosial kemasyarakatan,” ujar Prof. Anas Shakfa, Ketua Himpunan Muslim Austria sebagaimana dikutip Islamonline. Kabar terkini menyebutkan saat ini amandemen undang-undang baru tentang pendirian sekolah untuk mendidik para calon imam/guru agama Islam sedang dalam penggodokan.
Patut diketahui di sekolah-sekolah di Austria kini juga ada mata pelajaran agama Islam. Mata pelajaran ini dimulai sejak tahun ajaran 1982/1983 silam. Karena itu pula pada tahun 1998 dibuka sebuah Akademi Agama Islam. Institusi ini tiap tahunnya menghasilkan lulusan berkualitas guna memenuhi tuntutan ketersediaan pengajar mata pelajaran agama Islam di sekolah-sekolah di Austria.
Hal menarik lainnya, saat ini pertumbuhan generasi kedua dan ketiga imigran di Autria telah memberi warna baru di barak militer. Seperti dilaporkan harian Salzburg (23/9), saat ini ada sekitar 1100 tentara beragama Islam di tubuh departemen pertahanan Austria. Disebabkan besarnya jumlah itu –setara dengan tentara yang beragama Katolik dan Evangelis- maka saat ini sedang diupayakan pengadaan ulama di lapangan bagi para tentara tersebut.
“Tentara beragama Islam disini juga diizinkan berpuasa. Bahkan makanan untuk bersahur dan berbuka juga disediakan. Ini menunjukkan respek pemerintah yang tinggi,” imbuh Prof. Anas lebih lanjut. Pada hari-hari besar Islam warga muslim di Austria juga memperoleh masa libur. Idul Adha mendapat prioritas dengan masa libur selama empat hari, sementara Idul Fitri tiga hari.
Uniknya lagi, para tentara muslim dibolehkan juga berjenggot. Hal yang sama juga berlaku bagi penganut aliran Sikh –yang dibolehkan memelihara jenggot dan sorban khas mereka.
Hal lainnya lagi, kehalalan makanan bagi tentara muslim sangatlah diperhatikan, disamping bebas dari daging babi tentunya.
Adapun para tentara yang bermarkas di pusat komando militer Wina –ibukota Austria- kini malah memiliki sebuah mushalla yang aktif digunakan untuk shalat lima waktu dan shalat Jumat. Mushalla seluas 40 meter persegi -dibuka Februari 2002- itu mampu menampung sekitar 60 jamaah. Berikut seorang imam yang bertugas memberikan bimbingan rohani bagi tentara muslim di barak militer tersebut.
"Sebelumnya para tentara muslim itu menunaikan shalat Jumat di mesjid yang terletak jauh dari markas,“ ujar Atila Külcü, salah seorang petugas mushalla. Di Austria sendiri saat ini ada lebih sekitar 100 hingga 130 mesjid besar dan kecil.
Prof. Anas Shakfa menyebutkan integrasi muslim di Austria bisa menjadi model sukses bagi negara Eropa lainnya.
"Atmosfir di Austria kini sangat menyenangkan dan kami berharap tentu saja hal ini menjadi contoh teladan bagi tetangga kami yang lain,“ujar pria kelahiran Syiria ini lebih lanjut dalam satu wawancara dengan dengan televisi Jerman ARD stasiun transmisi Wina. Maka tak heran pula jika Prof. Bernard Lewis, pakar Timur Tengah pada Universitas Princeton, AS sampai mengatakan bahwa Eropa akan makin Islami di penghujung abad ke-21. Wallahu'alam bisshawab. (Zulkarnain Jalil, dari Jerman, Serambinews 21.10.2006)
1 comment:
Wah Bang Zul, saya jadi tahu lebih banyak tentang muslim di Eropa.
Terima kasih postingannya.
Salam.
Faisal
Post a Comment