Tuesday, November 28, 2006

Catatan Malam Budaya Indonesia Muenchen 2006:
Tari Likok Pulo Jadi Primadona

Sebagai warga Aceh yang jauh di rantau, tentu tak kuasa menahan haru saat Tari Likok Pulo tampil ke pentas. Terlebih lagi tatkala tepuk tangan penonton begitu membahana. Bahkan gerakan terakhir tarian itu sempat tertunda agak lama karena tepukan penonton yang tak henti-hentinya. Ya Likok Pulo layak menuai "standing ovation" (tepuk tangan sambil berdiri) Minggu malam kemarin (18/11). Tari yang tampil di puncak acara Indonesischer Kulturabend (Malam Budaya Indonesia) Muenchen 2006 tersebut benar-benar jadi primadona. Tak pelak selepas acara beberapa warga Jerman minta foto bareng para penari yang sebagian besar adalah mahasiswa.

Diawali potongan lagu Saleum (Album Nyawoung), lalu salawat di padu dengan gerakan-gerakan cepat nan atraktif, tarian ini bagai membius warga Jerman yang memenuhi gedung pertunjukan Bildungszentrum kota Muenchen. 400-an penonton -diantaranya terlihat juga Dr. Reinhard Bauer, utusan dari walikota Munich- spontan berdecak kagum, terutama karena keunikan tari asal Aceh itu yang tampil tanpa menggunakan iringan alat musik.

Tarian yang menurut sejarahnya diciptakan oleh seorang ulama Arab yang terdampar di Pulo Aceh sekitar tahun 1849 tersebut memang dikenal hanya mengandalkan suara dan tepuk tangan para penari yang dikombinasikan dengan tepukan dada, pangkal paha serta hempasan badan ke kiri dan kanan.

Adapun inisiatif tari Likok Pulo ini datang dari Teuku Edward (kandidat master Teknik Elektro pada Technische Universität Muenchen).
“Alhamdulillah, acara kita sukses. Saya terharu, sebagian besar penari bukanlah anak-anak Aceh, namun kami benar-benar menyatu dengan tarian ini,“ ungkap pemuda Banda Aceh yang juga mantan Siswa Teladan Nasional tingkat SMP 1990 ini penuh gembira.

“Saya sudah beberapa kali ikuti acara ini, namun saya kira tadi malamlah (Minggu malam –red) yang paling meriah. Konon lagi Likok Pulo yang benar-benar tampil beda,“ tutur Eko Fariadianto, pria asal Aceh yang bekerja di Muenchen. Sebelumnya, Tari Likok Pulo pertama kali tampil di ajang silaturrahmi Idul Fitri 2006 masyarakat Indonesia Muenchen Oktober silam. Sejak itulah muncul tawaran pentas di ajang yang lebih besar.

Acara Malam Budaya Indonesia ini sendiri pertama kalinya diadakan pada Juli 2001. Masa itu masih terbatas pada pertunjukan tradisi adat perkawinan Jawa Barat dan aneka Jajanan Pasar. Berangkat dari sukses itu serta dukungan material dan moril dari berbagai pihak akhirnya diadakanlah setiap tahun.

Tahun 2006 kegiatan malam budaya itu mengambil motto Meine Heimat Indonesia (Indonesia, Tanah Airku). Acara yang dibuka oleh ketua penyelenggara, Swadaya Indonesia Muenchen (SIM) yakni Bambang Arianto, dan kata sambutan dari Konsul Jenderal Republik Indonesia di Frankfurt Muhammad Abduh Dalimunthe menampilkan program-program utama antara lain tari dan lagu daerah (Jawa, Bali, dan Aceh), teater, musik tradisional (kecapi dan angklung), dan tak ketinggalan aneka Jajanan Pasar serta info wisata Indonesia.Walau resminya acara dimulai pukul tujuh malam, namun para penonton sudah terlihat sejak jam lima sore.

Swadaya Indonesia Muenchen sendiri adalah sebuah lembaga non profit tempat berhimpunnya masyarakat Indonesia di kota terbesar ketiga di Jerman itu. Lembaga ini didirikan tahun 2000 oleh masyarakat Indonesia dan Jerman yang ada di Muenchen dengan tujuan utama untuk mewujudkan integrasi warga Indonesia, dan juga sebagai wadah pertukaran antar budaya Indonesia-Jerman. (Zulkarnain Jalil, dari Jerman)

No comments: