Friday, October 26, 2007

Der Panzer Akhirnya Runtuhkan Mitos

Glueckwunsch, Jogi! Selamat, Jogi!. Itulah bunyi headline harian beroplah tinggi Bild edisi online, Minggu (14/10). Ya, tak salah lagi Jogi adalah nama panggilan Joachim Loew, pelatih timnas Jerman. Ucapan itu memang pantas diterima Jogi. Pasalnya der Panzer menjadi tim pertama yang lolos ke putaran final Piala Eropa 2008 Austria-Swiss. Kendati malam itu hanya bermain imbang (0:0) di kandang Irlandia, akan tetapi poin mereka tak mungkin dikejar Republik Ceko, peringkat kedua.

Sukses lainnya, tak tanggung-tanggung Tim Panser berhasil meruntuhkan mitos yang telah bertahan selama 24 tahun atau sejak tahun 1982! Bunyi mitos atau lebih layak disebut kutukan itu adalah; juara ketiga Piala Dunia selalu gagal lolos kualifikasi Piala Eropa. Tidak percaya? Coba simak catatan sejarah berikut.

Piala Dunia 1982 yang digelar di Spanyol menempatkan Polandia sebagai juara ketiga. Kala itu di tim Polandia masih bercokol nama-nama besar seperti Boniek dan Lato. Akan tetapi Boniek dkk terpaksa gigit jari. Mereka gagal menembus babak kualifikasi hingga memupus ambisi menuju Perancis, tuan rumah Piala Eropa 1984.

Korban berikutnya adalah Perancis yang merupakan juara ketiga Piala Dunia “Maradona” 1986 di Meksiko, Perancis yang masih dipimpin Michel Platini juga tergusur saat kualifikasi dan absen di putaran final Piala Eropa 1988 di Jerman Barat.

Kutukan belum usai, nama besar Italia yang juara ketiga Piala Dunia Italia 1990 tak mampu mencapai Swedia, penyelenggara Piala Eropa 1992. Celakanya, Swedia –juara ketiga Piala Dunia 1994 Amerika Serikat, jadi korban selanjutnya. Negara tempat Hasan Tiro bermukim itu turut mencicipi mitos alias gagal lolos ke putaran final Piala Eropa 1996 yang berlangsung di Inggris.

Kroasia yang merupakan juara ketiga Piala Dunia 1998 Perancis, gagal meraih tiket ke putaran final Piala Eropa 2000 yang digelar pertama kali secara bersama oleh Belanda dan Belgia. Terakhir Turki, juara ketiga Piala Dunia 2002 Korea-Jepang, juga gagal lolos kualifikasi Piala Eropa 2004 Portugal. Pertanyaan yang muncul di kemudian hari, akankah Jerman yang juara ketiga Piala Dunia 2006 di tanahnya sendiri jadi korban berikutnya?

Tanggal 14 Oktober 2007 kemarin Bastian Schweinsteiger dkk berhasil menjawab pertanyaan berat tersebut. Mereka sukses mengubur mitos sekaligus mencatat sejarah baru. Jadi sangat pantas jika anak asuh Loew merayakannya bak sudah jadi jawara saja.

The winning team

Prestasi Loew sendiri yang menangani timnas sepeninggal Klinsmann boleh dibilang lumayan mengkilap. Selama memimpin Ballack cs, dari 15 pertandingan (persahabatan dan kualifikasi Piala Eropa) anak asuhnya meraih 12 kali kemenangan, 2 kali seri dan hanya sekali kalah. Tak pelak, petinggi DFB (PSSI-nya Jerman) pun spontan menyodorkannya kontrak baru untuk dua tahun berikut.

Selepas kemenangan telak 3:1 melawan Rumania dalam laga persahabatan bulan September silam, Jogi tetap mempertahankan the winning team-nya. “Muka baru” yang dipasang barangkali cuma Torsten Frings. Veteran Piala Dunia 2006 itu menempati posisi Hitzlsperger yang dibekap cedera. Kembalinya Frings, selepas istirahat panjang dari cedera, terbukti mampu menutup lubang di lini tengah. Barisan pertahanan pun bisa bernapas sedikit lega. Apalagi malam itu Jens Lehmann bermain cukup cemerlang di bawah mistar gawang.

Jerman Barat

Partai ini berlangsung lumayan panas. Buktinya, pada menit ke-12 Bastian Schweinsteiger musti keluar lapangan. Pasalnya, ia mengalami benturan kepala cukup keras dengan pemain Irlandia, Kilbane. Akibatnya Schweini mendapat tujuh jahitan di kepalanya.

Nah ada kejadian menarik tatkala pengumuman pergantian pemain antara Schweini dengan Rolf. “Pergantian di kubu Jerman Barat!,” demikian bunyi pengumuman itu. Beberapa detik kemudian, menyadari kesalahannya, sang anounser (pembaca pengumuman-red) segera meralat menjadi “Jerman” saja. Kontan stadion bergemuruh oleh tawa gerr sekitar 67.000 penonton yang berdesak-desakan. Si pembaca pengumuman tampaknya sangat menikmati pertandingan hingga ia lupa bahwa Jerman kini telah bersatu. (zulkarnain jalil).

No comments: