Meriah, Penyelenggaraan Hari Mesjid se-Jerman
“Mesjid sebagai Jembatan Membangun Kebersamaan Menuju Masa Depan”, demikian motto yang diusung panitia acara Tag der Offenen Moschee (TOM) atau Hari Mesjid se-Jerman tahun ini. Kegiatan tahunan yang diadakan setiap tanggal 3 Oktober itu telah berlangsung sejak tahun 1997. Jadi tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ke sebelas kali.
Sebagaimana dilansir Islam.de (4/10) dan dikutip berbagai media Jerman lainnya, pada hari tersebut berbagai acara diadakan, seperti dialog antar agama dan antar budaya, diskusi seputar dunia Islam serta tatacara hidup sehari-hari dalam Islam, ada pula pameran, bedah buku hingga bazaar makanan khas. Khususnya bazaar makanan sangat menarik minat pengunjung. Sebab berbagai jenis makanan dengan aneka cita rasa dari berbagai negara asal imigran dijajakan di arena TOM. Pengunjung juga diperkenakan untuk melihat suasana di dalam mesjid. Tak jarang ada pula yang ikut menonton dan bahkan ikutan shalat.
Tahun ini TOM terasa lebih berkesan, sebab empat organisasi Islam terbesar di Jerman bersatu menjadi penyelenggara bersama, yakni Persatuan Masyarakat Turki di Jerman (DITIB), Dewan Penasehat Islam Jerman (IRD), Organisasi Pusat Kebudayaan Islam (VIKZ), dan Majelis Pusat Islam Jerman (ZMD). Tahun-tahun sebelumnya ZMD selalu menjadi penyelenggara tunggal.
Masih menurut Islam.de, sekitar 2000 mesjid ambil bagian dalam program yang kini sudah jadi agenda tahunan di Jerman. Jumlah ini meningkat dua kali lipat dibanding tahun lalu.
"Tujuan utamanya kegiatan TOM adalah untuk menunjukkan dan memperkenalkan kehidupan dalam Islam bagi kalangan non muslim yang ada di Jerman. Yang kami harapkan adalah terbangunnya jembatan kebersamaan sehingga tertanam rasa saling percaya satu sama lain," ujar Bekir Alboga, juru bicara panitia penyelenggara dalam satu jumpa pers.
Disebutkan, di Hamburg sedikitnya 4500 warga
Lebih berkesan lagi, penyelenggaraan tahun 2007 ini bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Sehingga banyak masjid turut mengundang warga Jerman untuk ikut berbuka bersama. Tentunya kesempatan itu digunakan oleh panitia untuk menjelaskan tentang Ramadhan yang sebenarnya. Sebab tidak semua warga mengerti bahwa dalam Ramadhan tidak diperkenankan makan, minum dan segala hal yang membatalkan puasa. Banyak kejadian-kejadian unik dimana adakalanya warga non Muslim Jerman menawarkan makanan atau minuman, kendati mereka tahu istilah Ramadhan.
Sepanjang kunjungan banyak sekali pertanyan yang muncul. Misal di Berlin, pertanyaan-pertanyaan semisal kenapa pakai tikar untuk shalat? Apakah anak-anak juga musti puasa? Kenapa tempat shalat pria dan wanita dipisah? Kenapa harus lepas sepatu/sandal saat masuk mesjid? Dan banyak lainnya lagi. Degan sabar, para pemandu pun menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan penjelasan yang masuk akal. Karena begitulah sifat orang Jerman dan Barat yang umumnya berpikir rasional.
Tak kalah menarik, anak kecil pun terlihat antusias saat berada di mesjid. Anton (5) misalnya, ia datang bersama ditemani adiknya Florentine serta sang ibu Kerstin. Menurut sang ibu, Anton sangat ingin tahu seperti apa mesjid itu. Mereka mengunjungi Mesjid Sehitlik yang terletak di Neukolln, Berlin.
“Anton, seperti anak seusianya, selalu banyak tanya. Tentang Mesjid ia ingin tahu banyak,” ujar Kerstin Klinkenburg, sang ibu. Kerstin mengatakan bahwa ia bukanlah penganut Kristen yang taat. Ia membebaskan anak-anaknya untuk memilih agama yang diyakini. “Saya sangat suka ada orang dengan sungguh mengamalkan keyakinannya,“ ujar wanita dua anak yang juga seorang insinyur itu kagum. Bersama 100-an pengunjung lainnya, Kerstin dan anak-anaknya larut dalam kesyahduan di rumah Allah yang tergolong megah di Berlin.
Sedikitnya 3,5 juta muslim tinggal di Jerman yang berasal dari 40 negara. menurut data Pusat Arsip Islam. Jumlah mesjid dan ruang ibadah 2750 buah di seantero Jerman. Namun yang menyerupai bangunan mesjid (memiliki kubah dan menara) hanya 164 buah. Mesjid tertua terdapat di negara Schwetzingen, negara bagian Baden Wuttenberg, yang dibangun tahun 1873.
Kebebasan dalam menjalankan perintah agama terbuka seluas-luasnya bagi muslim Jerman. Bahkan, menurut informasi terkini, tidak berapa lama lagi mata pelajaran agama Islam akan masuk sekolah-sekolah umum di Jerman. Informasi tersebut menyebutkan bahwa komunitas muslim di enam negara bagian Jerman telah mengajukan permohonan pada Kementerian Pendidikan negara itu, bagi kemungkinan diberikannya pelajaran agama Islam di sekolah-sekolah. Patut diketahui program ini sebenarnya sudah sangat lama diperjuangkan oleh muslim Jerman. Namun selalu saja ada batu sandungan dalam memperjuangkan hak dan kebenaran. Wallahu ‘alam bisshawab. (zulkarnain jalil)
No comments:
Post a Comment