NOSTALGIA RAMADHAN DI NEGERI PANSER
Catatan: Zulkarnain Jalil
Ramadhan merupakan saat yang senantiasa ditunggu-tunggu. Tidak saja di Tanah Air, namun juga muslim di seantero dunia. Bagi yang pernah merantau, konon lagi di luar negeri yang minoritas Islam, sangat banyak kenangan indah yang bisa dikenang. Tahun ini merupakan Ramadhan pertama saya di nanggroe Aceh setelah hampir empat tahun berpuasa di rantau, yakni di Jerman. Sekedar berbagi pengalaman, berikut ini merupakan catatan nostalgia selama menjalani Ramadhan di negeri Panser.
-------000--------
``Jadi minum juga tidak boleh ya ? Wah, kalau saya bisa meninggal``, ujar teman sekerja saya warga Jerman sembari tersenyum, menanggapi puasa Ramadhan yang sedang saya jalani. Hari-hari berikutnya sang teman ini selalu meminta maaf jika akan makan di depan saya. Sebagai upaya menghormati, barangkali.
Penggalan cerita di atas mungkin tidak akan pernah kita dapati di tanah air. Hal tersebut menjadi wajar untuk kasus puasa di negara yang minoritas muslim. Namun secara umum kalangan non-Muslim Jerman dapat memahami aktivitas yang sedang kita jalani ini. Dari cerita beberapa rekan mereka memang menaruh hormat pada muslim yang berpuasa. Hanya saja mereka tidak tahu bahwa selama Ramadhan dilarang makan dan minum. Jadi jangan heran jika suatu saat Anda ditawari makanan atau minuman, kendati mereka sudah tahu Anda sedang berpuasa.
Puasa lebih singkat
Bulan September-Oktober merupakan masa tibanya musim gugur di belahan bumi bagian Utara yang berjalan singkat. Sinar matahari hanya sedikit memancarkan kehangatannya. Tiupan angin di musim gugur lumayan kencang. Dinginnya menusuk. Daun yang telah menguning jatuh berguguran menutupi jalanan, pekarangan dan taman-taman, menambah indahnya suasana kota.
Di musim dingin, waktu siang menjadi lebih pendek. Puasa menjadi tidak terasa, apalagi dengan kesibukan di kampus, tanpa disadari waktu berbuka sudah tiba. Sementara bila puasa di musim panas waktunya lebih panjang, terkadang bisa sampai 18-20 jam. Disamping itu Ramadhan di musim panas tantangannyapun lebih besar, karena umumnya warga Jerman memakai pakaian seadanya, sehingga membuat kita yang berpuasa harus banyak-banyak beristighfar.
Sebagaimana di Indonesia yang selalu menunggu pengumuman dari majelis hisab setempat, maka di Jerman pun demikian, maklumat dari Majelis Pusat Islam Jerman (Zentralrat der Muslime in Deutschland) selalu menjadi rujukan. Pengumuman ini bisa diakses melalui internet ataupun per telepon. Jadwal imsakiah juga tersedia di mesjid.
Menjalankan ibadah puasa di negeri yang tidak ada nuansa keislaman terkadang membuat tingkat keimanan meningkat, dan disertai juga rindu akan kampung halaman. Konon lagi di bulan suci Ramadhan sangat terasa sekali. Suasana buka bersama di meunasah dan mesjid, suara azan bergema dimana-mana, riuhnya tabuhan beduk, suara tadarusan di malam hari, begitu pula dengan bunyi sirine kala berbuka dan sahur dan banyak lainnya lagi, selalu menambah nuansa kerinduan itu.
Bagi para imigran, kerinduan akan kampung halaman saat Ramadhan sangatlah terasa. Maka tak heran acara buka bersama terkadang jadi ajang berbagi rindu. Menariknya, peserta buka bersama bisa berasal dari berbagai warga negara seperti Turki, Somalia, Indonesia, Bangladesh, India, Iran, Pakistan, Palestina, dan banyak lainnya lagi. Umumnya adalah para pelajar yang rata-rata masih bujangan. Masing-masing menceritakan suasana puasa di kampungnya. Dan, ikatan persaudaraan antar bangsa pun segera terbangun.
Saya dan keluarga sempat menjalani ibadah puasa Ramadhan di kota Dresden. Kota peninggalan komunis yang berjarak 2,5 jam perjalanan kereta api dari Berlin ini jumlah pendatangnya tidak sebanyak di kota-kota lain, seumpama Hamburg, Stuttgart, atau Muenchen. Dari benua Asia sebagian besar berasal dari Cina dan Vietnam. Diikuti kalangan Timur Tengah/Arab. Sementara dari Indonesia ada sekitar 40-an orang. Mantan presiden Indonesia, Soeharto, tentu tidak akan pernah melupakan kota ini, karena di kota inilah ia didemonstrasi saat mengadakan kunjungan ke Jerman 1995 silam.
Kehidupan Islam di kota Dresden –yang digelar sebagai Parisnya Jerman karena keindahannya- tidak begitu terasa, mengingat muslimnya sangat minoritas. Hanya ada sebuah mesjid yang sekaligus berfungsi sebagai Islamic Centre. Beberapa warga Jerman asli ada yang bersyahadat di sini.
Di Jerman umumnya mesjid tidak memiliki menara maupun kubah. Dari luar sama sekali tidak terkesan sebagai sebuah tempat ibadah umat Muslim. Hanya beberapa mesjid di kota-kota besar saja yang memiliki menara dan kubah.
Ada kalanya gudang atau gabungan beberapa kamar dijadikan sebagai tempat shalat. Seperti di kota Dresden, mesjid tersebut awalnya adalah gedung taman kanak-kanak. Disewa oleh dermawan dari kalangan Arab dan dijadikan sebagai mesjid. Pernah sekali waktu digeledah oleh polisi selepas kejadian 11 September 2001. Begitu juga dengan suara azan, hanya dikumandangkan di dalam mesjid saja. Tidak boleh terdengar keluar mesjid. Rindu akan gema suara azan semakin membuncah selama Ramadhan.
Secara umum di Jerman ada dua jenis mesjid, yaitu mesjid Turki dan mesjid Arab. Yang beda barangkali shalat tarawihnya. Rakaatnya sama, yakni delapan. Shalat tarawih di mesjid Turki mengingatkan kita pada sebagian mesjid di tanah air, karena shalatnya cepat-cepat sekali, hampir tidak ada jeda, dengan bacaan surat-surat pendek. Sebaliknya di mesjid Arab setiap malam bacaan ayat kala shalat tarawih selalu satu juz. Hal itu berlaku di seluruh Jerman. Para imam semuanya hafiz Quran. Karena bacaan ayat-ayat Al-Quran sang imam yang lembut dan merdu membuat shalat tidak terasa lama Makanya bisa dipastikan, jika bisa aktif tarawih sebulan penuh, tamat Al Quran. Pernah satu ketika, sang imam berhalangan hadir. Akhirnya saya ditunjuk jadi imam. Karena bukan hafiz, terpaksalah berdiri sembari membawa Al Quran.
Makanan sahur dan berbuka
Bagaimana dengan makanan untuk sahur dan berbuka? Dalam masalah makanan ini masyarakat muslim di Jerman harus ekstra hati-hati dalam membeli, karena bahan tambahan atau emulgator yang digunakan banyak mengandung lemak babi. Sehingga kita harus menghapal nomor-nomor tertentu yang tertera di kemasannya. Pada awalnya cukup sulit, namun lama kelamaan jadi terbiasa dan hapal dengan sendirinya.
Mahasiswa Indonesia umumnya lebih suka membeli makanan mentah dan diolah sendiri. Untuk memperoleh makanan halal tidaklah sulit. Setiap Jumat di mesjid ada penjualan makanan halal, demikian juga kebutuhan lainnya. Juga terdapat toko makanan halal yang dikelola oleh orang Arab, Irak dan Turki. Sedangkan makanan seperti tempe, tahu, kecap, mie instan, kerupuk, beras, dan lain-lain dapat dibeli di Asian Shop, yang umumnya dikelola oleh warga Vietnam.
Satu hal yang menarik, selama di Jerman banyak mahasiswa yang dulunya tidak bisa memasak menjadi pintar masak. Ramadhan silam kebetulan saya mendapat kiriman dari kampung seperti keumamah, bumbu kari Aceh, dan asam sunti, sehingga kerinduan akan masakan Aceh sedikit terobati. Bahkan teman-teman sering minta dimasakkan kari Aceh -yang katanya- baunya sangat khas. Ada kawan sambil bercanda mengatakan, ``mungkin ada pakai ganja ya``.
Satu waktu, entah bagaimana, kami sangat kepingin makan mie Aceh (mengambil istilah teman di Jakarta). Akhirnya, ada spagethi, makanan khas dari Italia yang berbentuk persis mie, lalu kami olah dan rasanya mirip-mirip mie Aceh. Alhamdulillah, dapat juga makan mie goreng Aceh. Jadi boleh dibilang, di Jerman semua ada, kecuali pliek u dan asam sunti saja yang tidak ada, demikian seorang teman pernah berkata.
Begitulah sekelumit nostalgia suasana puasa Ramadhan di Jerman, lebih khususnya di kota Dresden. Semoga bermanfaat dan kita termasuk ke dalam kalangan alumni universitas Ramadhan dengan mendapat gelar taqwa. Amien.
No comments:
Post a Comment