Friday, October 26, 2007

Umat Islam Denmark Jenguk Pasien di Hari Raya

Ada banyak cara untuk merayakan Idul Fitri. Namun terobosan yang dilakukan oleh umat Islam di Denmark sangatlah berbeda. Bagi muslim Denmark, Idul Fitri adalah saat yang baik untuk berbagi kebahagiaan dengan para pasien yang terbaring lemah di rumah sakit. Itulah yang dilakukan mereka. Persis di saat warga muslim lainnya berbagi kegembiraan dengan sanak keluarga, maka umat Islam Denmark mengunjungi rumah sakit dan memberikan secercah harapan kepada para pasien agar mereka cepat sembuh.

Menurut situs Islamonline (13/10) yang melansir berita tersebut, mereka tak lupa menyelipkan sekuntum bunga berisi pesan:”Umat Islam peduli dengan semua warga kota tak peduli apa agama mereka.”

"Kami sengaja membuat program yang tidak lazim ini. Di hari lebaran, banyak relawan muslim menjenguk pasien di rumah sakit," ujar Mohamed Fouad Al-Barazi, Ketua Liga Muslim Denmark.

"Misi kami adalah memberikan mereka secuil rasa bahagia serta membuat mereka tersenyum kembali. Yang kami kunjungi bukan hanya pasien muslim, non muslim pun kami sambangi,” imbuh Al-Barazi.

Barazi mengatakan bahwa upaya itu sangat membantu dalam merubah imej buruk tentang Islam di Denmark dan Eropa umumnya. "Hal itu telah meninggalkan kesan yang sangat impresif,” ujarnya lagi, seraya menambahkan bahwa perilaku atau akhlak mulia adalah salah satu kunci terbaik dalam memperkenalkan Islam. "Kebanyakan warga Denmark memeluk Islam karena Islam memberikan perhatian terhadap hal kemanusiaan, tidak sebagaimana opini yang dimunculkan secara sepihak oleh sebagian media Barat," tukas Barazi.

Idul Fitri di Denmark jatuh pada hari Jumat (12/10). Selepas shalat ‘Id seperti biasanya ada acara perayaan, apakah itu berupa acara pentas seni budaya, permainan, pemutaran film, dan lainnya lagi. Saling berkunjung ke rumah orang tua dan karib kerabat adalah hal biasa dilakukan dan telah mentradisi. Secara tradisional, semua orang mengenakan baju baru, khususnya anak-anak akan mendapat aneka hadiah baik dari orang tua maupun saudara. Inilah kebiasaaan unik yang membedakan perayaan lebaran di Tanah Air.

Tradisi memberikan bingkisan bagi anak di hari lebaran menjadi sangat penting terutama bagi yang tinggal di kalangan minoritas muslim. Sebab kebiasaannya, anak-anak selalu menerima hadiah di sekolah di saat perayaan Natal. Nah, sang anak perlu juga tahu bahwa Islam pun punya hari besar yang layak diperingati.

Barazi mengatakan sejak pagi-pagi sekali jamaah telah datang dalam rombongan-rombongan besar.”Mereka datang bersama seluruh anggota keluarga. Selepas shalat kebanyakan anak-anak mencari kehangatan dalam pelukan orangtuanya. Anak-anak juga diberikan hadiah dan oleh-oleh setelah acara shalat Ied usai,” tutur Barazi.

Sumbangan dana

Umat Islam di Denmark tak mau ketinggalan dengan memanfaatkan momen Idul Fitri sebagai ajang untuk mengumpulkan dana bagi umat Islam di seluruh dunia. "Hampir dapat dipastikan sebagian besar umat Islam di sini mendapatkan penghidupan yang layak. Karena itu zakat fitrah yang berhasil kami kumpulkan digunakan untuk membantu umat Islam di belahan dunia yang lain yang lebih menderita dan membutuhkan uluran tangan saudara-saudara mereka yang berkelebihan secara materi," ungkap Barazi.

"Saban tahun kami bisa mengumpulkan zakat fitrah hingga 70 ribu US Dollar (sekitar 630 juta). Dana yang terkumpul itu kami transfer kepada fakir miskin, yatim piatu, hingga para janda papa yang ada di berbagai tempat, terutama di negara-negara mayoritas muslim," lanjut Barazi. Misalnya saja tahun 2006 lalu umat Islam di Denmark mengirim bantuan sebesar 21 ribu US Dollar guna membantu warga miskin di Iraq.

Begitupun, para pimpinan organisasi Islam di Denmark menyarankan agar bantuan mencapai sasaran, ada baiknya bantuan diberikan melalui organisasi kemanusiaan yang dapat dipercaya. Hal tersebut semata-mata untuk menghindari penyelewengan.

"Kami mohon agar setiap organisasi kemasyarakatan dapat membuktikan bahwa mereka punya izin dari pemerintah setempat. Sehingga kami dengan sendirinya yakin dana bantuan tersebut tidak digunakan untuk kepentingan pribadi," tegas Barazi.

Di Denmark saat ini bermukim sedikitnya 200.000 minoritas muslim. Jumlah ini sekitar 3 persen dari total populasi penduduk sejumlah 5.4 juta jiwa. Islam di negeri yang terkenal dengan dongeng penuh legenda H.C. Andersen itu merupakan agama terbesar kedua setelah Protestan.

Ada catatan menarik dimana akhir-akhir ini minat warga Denmark untuk mempelajari Islam tergolong tinggi. Bahkan uniknya, sebagaimana dikutip dari situs Alsofwah, Natal tahun 2006 silam Al Quran termasuk salah satu hadiah favorit.

Masih menurut Alsofwah, surat kabar ‘Kristeligt Dagblad’ menyebutkan sekitar 5000 Al Qur’an terjemahan habis terjual sepanjang Desember 2006. Ini berarti sekitar separuh dari cetakan pertama mushaf terjemahan terbitan Pan De Kusnten. Jadilah Al Quran sebagai produk best seller di Denmark kala itu.

Banyak pengamat menyebut bahwa pasca krisis kartun pelecehan Nabi Muhammad, Islam mulai mendapat perhatian masyarakat Denmark. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang kepincut dan akhirnya memeluk Islam. Seperti telah diketahui, koran Jyllands-Posten edisi September 2005 mempublikasi 12 karikatur berisi gambar kartun yang melecehkan Nabi Muhammad. Namun saat ini situasinya jadi lain, malah banyak media massa yang menyediakan halaman khusus berupa informasi seputar Islam.

Catatan Danish Broadcast Corporation News (DBC), saat ini sedikitnya ada 5000 warga asli Denmark yang telah memeluk Islam. DBC sendiri merupakan situs pemerintah Denmark pertama yang menyediakan halaman khusus tentang Islam. Bahkan sebelumnya, DBC juga meluncurkan program radio bertema serba serbi agama Islam. Program tersebut berisi tentang kehidupan umat Islam sehari-hari, ajaran-ajaran dalam Islam hingga isu-isu aktual seperti jihad, pendidikan dan integrasi. Tak hanya itu, mereka juga menyiarkan wawancara dengan para pemuka umat Islam di Denmark.

Muslim di Denmark secara umum bisa dikategorikan ke dalam tiga kelompok utama. Yakni pekerja asing, pencari suaka politik, dan mereka yang menikah dengan penduduk tempatan. Patut dicatat, warga muslim dari golongan pencari suaka politik menduduki peringkat pertama yang mencapai 40 persen dari total umat di sana. Begitulah! (zulkarnain jalil).

No comments: