Muhammad Ali Shilhavy, Legenda Muslim Republik Ceko
Akhir tahun 2007 terasa manis bagi warga Republik Ceko. Betapa tidak, mulai 2008 mereka sudah bisa mengadakan perjalanan tanpa paspor di seluruh kawasan Uni Eropa. Pasalnya Ceko baru saja masuk sebagai salah satu dari 24 negara di kawasan yang memiliki kesepakatan Schengen yang bebas visa. Kegembiraan lain, khususnya bagi muslim di Ceko, mereka seakan membuka kembali halaman sejarah Islam di Republik Ceko. Karena Nopember 2007 lalu bertepatan dengan peringatan ulang tahun ke-90 salah satu peletak dasar-dasar Islam di negara yang dulunya menganut paham komunis. Itulah dia Muhammad Ali Shilhavy.
“Bagi Muslim Ceko, Shilhavy ibarat jembatan yang menghubungkan antara dua zaman berbeda,” tutur Munib Al-Rawi, Direktur Otoritas Wakaf Islam di Republik Ceko.
“Ia telah mengambil peran dan tanggung jawab dalam mendokumentasikan kehadiran Muslim di Cekoslowakia sejak Perang Dunia II,” imbuh Al-Rawi. Shilhavy sendiri lahir 17 Nopember 1917 di sebuah desa di pinggiran kota Trebic.
Sebagaimana diceritakan Islamonline, persinggungan pertama Shilhavy dengan Islam adalah saat ia masih duduk di sekolah menengah. “Entah bagaimana, di sebuah perpustakaan saya sangat tertarik dengan Al-Quran yang diterjemahkan dalam bahasa Ceko,” kisah Shilhavy dalam sebuah wawancara tentang sejarah keislamannya.
Shihavy muda tampak sangat antusias dan tanpa pikir panjang iapun meminjam Al-Quran tersebut. Staf perpustakaan heran. “Petugas perpustakaan kala itu menyangka saya telah salah pilih buku. Ia, seperti kebanyakan nonmuslim lainnya, saat itu tidak tahu apa-apa tentang Islam dan Muslim,” ujarnya mengenang sembari tertawa.
Masuk Islam
Saat itu tahun 1934, Shilhavy masih berusia 17 tahun. Ia mengaku merasakan daya tarik yang sangat kuat akan agama yang baru dikenalnya itu. Kebetulan tahun itu berdiri organisasi Al-Gamaa al-Islamiya yang di kemudian hari berperan besar dalam sejarah hidupnya. Shilhavy makin dekat dengan kelompok Islam itu hingga akhirnya ia bersyahadat tahun 1937 di saat berumur 20 tahun serta mengganti namanya menjadi Muhammad Ali Shilhavy.
Setahun kemudian ia mengadakan lawatan ke Mesir guna belajar Islam di Universitas Al-Azhar, salah satu universitas bergengsi di dunia Islam. Ia tercatat sebagai muslim Ceko pertama yang belajar di salah satu universitas Islam tertua di dunia itu.
Namun Shilhavy tak lama berada disana. Pasalnya tahun 1938 pasukan Nazi menguasai Cekoslowakia. Karena khawatir akan keluarganya ia lalu pulang kampung. Oleh pasukan Jerman yang berkuasa kala itu, ia tak diizinkan untuk kembali lagi ke Mesir. Minatnya menuntut ilmu tak luntur. Akhirnya Shilhavy memilih melanjutkan sekolah di kotanya yakni di Universitas Brno dan mengambil jurusan Kimia.
Kendati hidup di tengah-tengah paham komunis, Shilhavy tetap berani menunjukkan identitas muslimnya. Kedua putrinya juga dididik dengan nilai-nilai Islam dan bahkan menjadi teladan bagi muslim lainnya di sana. Rumahnya disulap bak sebuah mesjid kecil. Di ruang keluarga ada mimbar, sajadah dan mushaf Al-Quran.
Mendirikan mesjid
Shilhavy, bagi minoritas muslim di Republik Ceska, pantas dianggap sebagai bagian halaman sejarah emas di sana. Ucapan terima kasih memang patut ditujukan pada pria lansia atas kontribusinya yang besar kepada Islam. Ialah yang memperjuangkan agar Islam diakui negara. Shilhavy getol menulis surat. Misalnya tahun 1990 ia menyurati pemerintah komunis Cekoslowakia agar mengakui Islam di negara yang bertetanggaan dengan Austria dan Jerman itu.
Tahun 1991 ia secara berani menghidupkan kembali organisasi Al-Gamaa al-Islamiya di Cekoslowakia. Bahkan tahun 1992, ia dipercaya menjadi Ketua Persatuan Islam (Islamic Union) di Praha, ibukota Republik Ceko. Pekerjaan pertamanya adalah mereformasi Persatuan Islam menyusul jatuhnya rezim komunis yang kemudian diikuti terbentuknya dua negara, Republik Ceko dan Slowakia pada Januari 1993. Sejak runtuhnya tirai besi komunisme, masyarakat Ceko memperlihatkan pengaruh yang sangat tinggi akan budaya-budaya lain. Kini turis-turis dari Barat pada berdatangan ke Praha. Pelajar dari berbagai negara juga tak ketinggalan menuntut ilmu di sana. Bahkan para pengungsi dan penerima suaka, terutama dari negara-negara Islam, juga memberi warna baru terutama bagi perkembangan Islam.
Shilhavy melobi pemerintah guna mendapat ijin bagi pembangunan mesjid di sana. Usahanya tak sia-sia. Mesjid pertama di kota Brno, kota kedua terbesar di negara beribukota Praha itu, berhasil didirikan. Mesjid yang dibuka 1998 selepas beberapa kampanye Shilhavy, yang berdiri dengan kuat menghadapi politisi sayap kanan, komunis dan bahkan gerakan islamphobia setempat.
Shilhavy menerjemahkan banyak buku ke dalam bahasa Ceko termasuk dua bukunya yang sangat terkenal, Islam Between the East and the West (Islam antara Timur dan Barat) dan What is Islam (Apa itu Islam?). Muslim Ceko diperkirakan saat ini berjumlah 50 ribu jiwa. Di seluruh Ceko hanya ada dua buah mesjid, masing-masing di ibukota negara Praha dan Brno berikut beberapa ruangan yang dijadikan tempat shalat. Tahun 2004 muslim Ceko berhasil mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah.
“Kami punya Islamic Center di Praha, satunya lagi di Brno dan ada beberapa ruangan shalat yang tersebar di berbagai tempat. Kami punya satu organisasi Islam. Kami punya sejarah panjang di Ceko. Dulu di masa komunis, hal itu semua adalah tabu,” ujar Zuzana Masakova, salah seorang muallaf wanita, penuh semangat.
Baru-baru ini muncul inisiatif membangun mesjid di kota Teplice yang berbatasan dengan Jerman. Mesjid jadi penting di sana, agar warga muslim yang bepergian dari Jerman bisa singgah dan shalat di sini. Namun beberapa kalangan di sana menghalangi.
Syukurnya, walikota Teplice Jaroslav Kubera justru mendukung inisiatif tersebut. Menurut dia, tak ada alasan bagi dibangunnya sebuah mushalla kecil di sekitar hotel, sehingga pelancong (muslim) yang melewati perbatasan bisa melaksanakan shalat.
Muslim Ceko memang tidak sebanyak di Perancis, Jerman atau Inggris. Sedikitnya kini ada 20 ribuan warga muslim di negara yang berpenduduk 10 juta itu. Umumnya adalah imigran dari negara-negara muslim. Tapi kita akan temukan juga ratusan warga Ceko yang telah memeluk Islam. Semoga Islam makin bersinar di sana. (zulkarnain jalil)
No comments:
Post a Comment