Fans Belanda bangun “desa oranye” di Bern
Tak ada tim lain yang punya fans sefenomenal timnas Belanda. Ratusan ribu fansnya kini mengalir ke Bern, markas anak asuh Marco van Basten. Bisa dibilang kota Bern kini dibawah kekuasaan fans Belanda. Di beberapa pusat perkemahan saja ada 80 ribuan fans. Belum lagi yang di hotel-hotel atau yang menginap di rumah-rumah warga setempat.
“Saya sudah seminggu ini berkorban untuk Euro 2008,“ ujar Pej Schmidt. “Berkorban, mungkin kata yang kurang pas. Tapi begitulah, bagi saya rasa ada kedamaian dalam liburan kali ini. Setiap orang Belanda musti ambil cuti untuk mendukung tim nasionalnya,“ imbuh pria asal Groningen yang tiba di Bern hari Minggu lalu itu.
Di salah satu pusat perkemahan fans tim oranye yang terletak sekitar 14 kilometer dari pusat kota Bern warna oranye begitu mendominasi. Dari warna kemah, mobil, bis, kaos, topi, payung, sepatu dan aneka pernak-pernik lain semua serba oranye. “Desa oranye“ ini mampu menampung 10.000 orang. Perkemahan itu memiliki fasilitas hiburan, sebuah tenda raksasa buat nonton bareng dan sanitasi yang memadai.
Di Dieterswil, pusat perkemahan lainnya, berjarak 13 kilometer dari Bern warna oranye juga begitu mencolok. "80 persen penghuninya fans Belanda. Total ada sekitar 15.000 pendukung yang nginap disini,“ tutur salah seorang pimpinan rombongan.
"Timnas sangat spesial bagi kami. Di Liga lokal mereka bertempur, tapi di tim nasional saling akur satu sama lain. Begitu juga dengan pendukungnya,“ kata Pej. Lain lagi dengan pasangan Jan dan Dora Bass. Bagi mereka Piala Eropa ibarat sebuah perayaan. “ Kami ya musti ikut dong, walau ndak punya tiket,“ ujar Jan. "Kami juga ikutan saat Piala Eropa 2000 di Belanda-Belgia, 2004 di Portugal dan Piala Dunia 2006 di Jerman, semua pokoknya,“ tambah Dora, sang istri.
Konon di negeri kincir angin sendiri ada perkumpulan fans tim oranye yang terorganisir rapi. Anggota tetapnya sedikitnya ada 60.000 orang. “Kami punya 3000 tiket nonton langsung tiga pertandingan di stadion,“ ungkap Kim, teman Pej sembari menunjukkan kartu anggotanya.
Umumnya para fans itu jauh-jauh hari sebelum Piala Eropa dimulai telah membooking beberapa pusat perkemahan. Contohnya pusat kemping di Eichholz, sehari sebelum Belanda main 900 tempat telah dibooking. Di Flamatt, 10 kilometer dari Bern, sedikitnya 10.000 fans Belanda yang lengkap dengan berbagai asesories unik telah menempati pusat perkemahan yang dinamai Oranje-Dorp itu sejak Piala Eropa dimulai.
Uniknya fans itu membawa berbagai kebutuhan hariannya dari Belanda. "Kami bawa semua keperluan dari kampung. Semua ada di kulkas. Di Swiss kebanyakan makanannya coklat. Ndak mungkin dong tiap hari makan coklat aja," kata Tim, salah seorang fans. Mereka juga mengaku tak cocok dengan bir Swiss. Bisa bikin sakit kepala, kata mereka.
Fans Belanda tak hanya datang buat nonton bola. Jika Belanda tak main, mereka juga mengadakan piknik ke kota-kota lain di Swiss yang terkenal dengan keindahan alamnya. Pej dan Kim misalnya, mereka liburan ke Lausanne. "Luar biasa, cantik sekali kotanya. Saya kira semua yang kesini musti keliling, sambil mengenali budaya setempat," tukas Pej. Tentu saja pemerintah Bern senang dengan situasi ini. Duit Euro makin mengalir.
Fans Belanda dan Swiss akur
"Kami nonton Swiss-Turki di Bundesplatz. Luar biasa, walau Swiss kalah kami tetap berpesta bareng fans Swiss. Kami membangun persahabatan“ kata Naxel dari Venlo, Belanda. Tim Neiss, fans oranye lainnya, menyayangkan Swiss harus tersingkir. "Kemarin saya tukaran kaos oranye dengan fans Swiss,“ kata dia. Upaya fans Belanda ini pasti ada maunya. Tampaknya mereka mulai membangun dukungan dari warga Swiss. Jadi jangan heran nanti fans Swiss akan berbaur dengan fans oranye mendukung Belanda.
"Ada empat tim bagus, Portugal, Spanyol, Jerman dan Belanda. Saya yakin kami akan melaju hingga semifinal. Dan, di final kami akan melawan Portugal atau Jerman. Pasti akan jadi tontonan mengasyikkan,“ kata salah seorang fans Belanda penuh keyakinan. Tapi Kim mewanti-wanti rekan-rekannya agar jangan larut dalam euforia berlebihan. “Jangan arogan seperti itu. Jika nanti tiba-tiba sesuatu terjadi dengan timnas, katakanlah kekalahan, itu pertanda buruk. Kita musti siap menerimanya,“ cetus Kim. Nah, bagaimana dengan Anda pendukung Belanda di Aceh, sudah siap?
No comments:
Post a Comment