Wednesday, June 18, 2008

Verliebt in Wien

Jatuh cinta di Wina, begitu kira-kira arti judul novel yang satu ini. Awalnya saya kira novel berbahasa Jerman. Bintang Alzeyra, nama pengarangnya. Saya coba telusuri lebih jauh, ternyata si pengarang memang tinggal di kota Wina. Tahu tidak, nama aslinya adalah Tari Hayuningrum. Nah, menariknya ternyata si Tari ini adalah salah satu dari 5000 volunteer (relawan) yang bertugas di Euro 2008. Bahkan dialah atu-satunya yang berasal dari Indonesia. Beruntung saya menemukan alamat online-nya, hingga bisa mengorek banyak hal dari gadis asal Yogya itu. Terutama pengalamannya saat bertugas sebagai relawan.

”Bintang Alzeyra itu nama pena saya he he,” ujar mahasiswi Universitas Wina itu mengawali perbincangan. Dia mengaku kaget terpilih sebagai relawan. “Benar-benar nggak nyangka. Pelamarnya 17 ribuan, yang diterima sekitar 5000. Siapa ndak bangga bisa bawa nama Indonesia,” tukasnya.

Tari diberi tugas sebagai guide service. Tugasnya melayani turis, mengantar jalan-jalan, persis seperti guide wisata. Tari mengaku sangat menikmati kerjanya kendati sangat melelahkan. ”Hari pertama kerja, jam 08.15 aku udah ke stadion, musti meeting dengan relawan lainnya. Pulangnya malam. Dikasi seragam volunteers yang serba biru. Keren..,” ujarnya senang.

”Abis itu aku registrasi di groupku. Lalu kita menuju stadion Ernst Happel buat pasang baliho yang mengelilingi lapangan..capeekk deh. Untungnya team banyak yang hadir. Aku dan dua relawan asal Wina malah santai banget kerjanya. Ya namanya juga relawan. Kalo capek ya kita cuma liatin yang lain kerja.. he he. Sambil nunggu waktu senggang kita sama-sama main bola. Setelah itu jam 13.30 waktunya makan siang. Inilah yang kita tunggu-tunggu,” tutur Tari sumringah.


Menurut Tari para relawan memang diberi voucher buat makan dan minum sepuasnya.
Mereka juga diberikan semacam training singkat. Lalu perkenalan dengan sesama volunteer lain yang datang dari berbagai negara.

Pernah dia dapat tugas di stadion pas hari pertandingan. Karena ingin sekali nonton, Tari pake ”jurus” ala Indonesia. ”Aku minta ijin pura-pura ke toilet yang ada dalam stadion, padahal mau liat pertandingan he he,” kisahnya.

”Aku dapat tugas di Stadion Ernst Happel. Wah asyik bisa ngintip semua bagian dari lounge room (semacam ruang istirahat), ruang tamu VIP, ruang ganti pemain. Langsung deh aku dan teman-teman ndak sia-siakan kesempatan langka ini. Jeprat-jepret sana sini. Kita berpose ria di ruangan VIP, Legend Lounge hingga Football player Lounge,” lanjut Tari lagi.

“Pernah juga masuk team security. Asyik juga liatin penonton yang mau masuk lapangan. Aneh-aneh aja kostumnya, ada yang bawa helm plus lampu bola di atasnya yang bisa muter-muter. Ada yang bawa rebana. Mau kasidahan kali ya he he. Macam-macam dech kelakuan mereka. Mereka sempat protes karena ndak boleh bawa terompet ato segala macam untuk dibunyikan pas pertandingan, ga boleh bawa ransel, payung, plus ndak boleh bawa air minum. Ada penonton yang kesal banget pas tau ndak boleh bawa air minum. Saking keselnya dia langsung teguk sampe abis air yang dibawanya di depan securiti,” kata Tari sambil terbahak.

”Jam 9 sore beres, kemas-kemas, langsung pulang. Shalat maghrib, trus nunggu Isya, langsung tidur. Nyenyak banget, karena capek kali ya,” imbuh gadis yang pernah berkunjung ke beberapa negara di Eropa itu lagi. Oya, selama musim panas, di Eropa matahari baru terbenam jam 9.30.

Tari mengaku terkesan jadi volunteer karena disamping menyenangkan, tambah pengalaman dan juga bisa tambah teman dari berbagai negara. Dia berniat akan menulis semua pengalamannya itu dalam bentuk buku. Selain Verliebt in Vienna, novelnya berjudul Bule, Emping dan Tempe Bacem sedang proses editing di penerbit Gramedia.

Selamat bertugas Tari, ditunggu bukunya!

No comments: