Wednesday, June 30, 2010

Inggris marah, Uruguay minta maaf
Drama Bloemfontein yang menghadirkan kontroversi kekalahan Inggris dari Jerman masih terus bergulir. Kali ini yang terlibat adalah media. Dikabarkan oleh harian Afsel, Cape Times, bahwa banyak surat kabar di Inggris yang terbit Senin (28/6) kemarin meluncurkan serangan pedas atas kinerja buruk tim mereka ketika melawan Jerman. Media itu juga meminta Fabio Capello untuk pergi dengan menyebut istilah FabiGo (dari singkatan Fabio Go atau Fabio silahkan pergi)
"Kita telah mengenalkan sepakbola kepada dunia. Namun setelah tahun 1966, sejak itu dunia tak mau mengembalikannya lagi (kepada kita)," tulis harian Dailymail yang terbit di London, mengacu kepada tahun dimana Inggris pernah memenangkan Piala Dunia.

"Menyedihkan sekali. Kemarin kita gagal lagi oleh musuh lama, Jerman. Fabio Capello dan timnya telah bikin malu bangsa. Ini adalah salah satu penghinaan paling perih dalam sejarah olahraga kita," keluh Daily Mail.

Tak kalah sengit, media-media Inggris juga menyemprot wasit yang memimpin pertandingan. Mereka mengecam keputusan wasit Uruguay, Jorge Larrionda dan asistennya Mauricio Espinosa yang tak mensahkan gol Lampard. "Barangkali, cuma wasit dan asistennya saja yang tidak melihat bola itu telah melewati garis gawang," komentar Daily Mail lagi.
Lain lagi fans Inggris, yang telah mengeluarkan dana yang tak sedikit untuk berangkat ke Afrika Selatan, beranggapan bahwa andai saja wasit Larrionda mensahkan gol itu maka jalannya pertandingan akan lain. Begitupun, seperti diakui Dailymail, diluar keputusan kontroversial itu Inggris sendiri memang bermain begitu buruk.

Media Uruguay minta maaf
Sementara itu, merasa nama Uruguay terbawa-bawa dalam kasus itu, beberapa surat kabar terkemuka Uruguay spontan merespon media Inggris. El Pais, misalnya, merespon keluhan orang-orang Inggris dengan pernyataan maaf yang ditulis di headline-nya.
”Atas nama sepakbola: Maafkan kami,” tulis koran beroplah besar itu dengan huruf besar bercetak tebal. Bahkan El Pais yang terbit di Montevideo –ibukota Uruguay- itu juga meminta pejabat sepakbola di negerinya untuk menyampaikan hal yang sama kepada sejawat mereka FA (PSSI-nya Inggris) yang sedang dilanda kesedihan.
Diego Perez, kolumnis di El Pais, berujar: "Kesalahan kemarin itu sangat parah. Ini dapat didefinisikan sebagai sebuah kesalahan besar yang dibuat oleh trio wasit dipimpin oleh Jorge Larrionda. Ini akan jadi sejarah hitam Piala Dunia. Dapat dipastikan mereka bertiga akan bersegera meninggalkan Afrika Selatan. Tapi masalahnya, Uruguay termasuk tim yang masih berjuang di perempat final.”
Sementara itu La Republica, harian berpengaruh Uruguay lainnya, menceritakan bahwa Direktur Atletico Penarol –salah satu klub ternama Uruguay- Sergio Perrone sedang menyelidiki seluruh video pertandingan Penarol yang pernah dipimpin Jorge Larrionda dalam 10 tahun terakhir, terutama saat Penarol melawan rival tradisional mereka. Selanjutnya, video plus rangkuman kerja Larrionda dalam memimpin liga Uruguay bakal dikirimkan ke persatuan sepakbola Uruguay AUF, federasi sepakbola Amerika Latin CONMEBOL dan juga FIFA.
“Kami ingin cek semua keanehan dalam pertandingan yang merugikan kami, yang dipimpin oleh Jorge Larrionda. Sebenarnya, hal ini telah kami rencanakan sejak sebulan yang lalu, jauh sebelum datangnya kontroversi pertandingan Jerman dan Inggris," tukas Sergio Perrone seperti dikutip La Republica.
Sementara itu mantan manajer Lampard di Chelsea, Jose Mourinho, yang kini bertugas di Real Madrid, mengatakan teknologi garis gawang harus segera diperkenalkan untuk mencegah timbulnya perselisihan lebih lanjut. "Aku tak mengerti, mengapa sepak bola termasuk satu dari sedikit cabang olahraga dimana teknologi masih tabu untuk dipakai," sebut pelatih yang mendapat julukan the special one itu penuh rasa heran.

No comments: