Pedagang Zimbabwe jejali Johannesburg
“Hei Jepang, kemari. Ini ada barang bagus buat kamu! Jepang pasti juara!,” teriak Jerry Madziwana ke arah gerombolan turis Jepang berseragam biru yang sedang melintasi kawasan Parkhurst, Johannesburg. Jerry berteriak sembari melambai-lambaikan syal timnas Jepang. Tak ketinggalan terompet vuvuzela juga disodorkannya. Mengenakan pakaian serba hijau dengan senyum yang tak pernah lekang dari bibirnya, Jerry tiada henti memuji-muji kehebatan tim Jepang. Itu memang strategi dagangnya.
Fans Jepang itu tersenyum seraya mendekati Jerry. Dua lembar syal dan beberapa asesoris bercorak timnas Jepang mereka beli. “Dagang disini prospeknya bagus, lumayan lakunya. Sebab disini banyak restoran, toko, bar, cafe dan warung kopi. Fans bola pada ngumpul disini,” kata Jerry sumringah. Jerry sebenarnya bukan warga Afsel. Dia asli dari Zimbabwe, tetangga terdekat Afsel. Jerry hadir disana khusus untuk mengais rezeki selama penyelenggaraan Piala Dunia.
Menarik dicermati, selama Piala Dunia kota-kota utama di Afsel kini dijejali banyak pedagang asing, terutama negara-negara Afrika yang bertetanggaan dengan Afsel. Para pedagang kaki lima kebanyakan berasal dari Zimbabwe, seperti Jerry.
“Tahun 2004, saat Afsel diumumkan sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010, saya bilang sama istri bahwa ini kesempatan emas. Saya musti tinggalkan Harare –ibukota Zimbabwe- sesegera mungkin dan bermukim di Johannesburg untuk sementara waktu,’” ujar Jerry mengenang. “Peluang seperti ini sayang untuk dilewati,” imbuhnya.
Tahun 2005 Jerry pun pindah ke Johannesburg. Di sana dia memborong aneka barang grosiran yang berbau Piala Dunia. “Saya belanja syal, kaos tim, terompet, peluit, dan pernak pernik lainnya. Pokoknya semua yang ada kaitan dengan Piala Dunia,” ujar pria yang mendukung timnas Ghana sembari memegang replika tropi Piala Dunia warna kuning keemasan.
“Tahun-tahun awal berdagang sepi sekali. Saya mulai putus asa dan menyalahkan diri sendiri kenapa dulu datang kemari. Karena ingat keluarga di kampung, saya coba bertahan. Nah setelah beberapa bulan berjalan, perlahan turis mulai ramai datang ke Afsel. Dagangan mulai laku. Semangat saya tumbuh lagi,” kata Jerry mengingat masa-masa sulit di awal usahanya. Sejak itu teman-temannya pun mulai berdatangan dari Zimbabwe.
Selama turnamen berlangsung, Jerry mengaku barang yang paling laku adalah bendera nasional, diikuti syal dan kaos. “Sekarang kan udah masuk musim dingin disini. Jadi banyak fans yang cari perangkat yang bisa menghangatkan tubuh,” tukas Jerry menjawab pertanyaan barang yang paling dicari fans.
Jerry mengaku sekarang ini sangat menikmati hari-harinya di Afsel. “Asyik disini, selain dagang, kita bisa berinteraksi dengan supporter bola dari macam-macam negara. Dari Kanada, Amerika, Belanda, Jerman dan lainnya. Wah macam-macam tingkah polahnya,” kata dia.
Temannya Walter Kanyegoni, juga asal Zimbabwe, membuka lapak di kawasan Parktown. Seperti Jerry, Walter juga datang khusus untuk mengais rejeki selama Piala Dunia.
“Ha ha Zimbabwe memang tak lolos kualifikasi Piala Dunia dan mungkin tak akan pernah,” kata Walter Kanyegoni terbahak ditanya timnas negaranya. Walter merasa gembira dagangannya laris manis selama Piala Dunia. Beda dengan Jerry, selain menjual pernak pernik Piala Dunia Walter juga banyak menawarkan barang-barang kerajinan tangan khas Afrika.
Di sudut lain berdiri Blessing Mdunge. Bibirnya tak henti berteriak menawarkan dagangan. Hingga gigi palsunya yang berwarna keemasan berkilau kena pantulan sinar matahari. Wig bercat warna-warni nangkring di kepalanya. Sekujur tubuhnya diselimuti dengan bendera berbagai negara. “Ramai sekali disini. Ada yang dari Brazil, Italia, Jerman, Belanda. Wah kalau tim-tim besar terus melaju, bakal laris manis,” sebut Blessing bahagia.
Uang keamanan
Agar usaha mereka aman dan lancar, para pedagang kaki lima asal Zimbabwe itu rupanya membayar semacam “jasa keamanan” kepada warga tempatan. Yang buka lapak di kawasan Parkhurst misalnya, mereka nyetor ke Lizo Lukela, seorang juru parkir yang menguasai kawasan situ.
“Ini senang sama senang aja. Saling membantu lah. Bukan semata-mata karena uang. Pedagang Zimbabwe ini saudara kami juga, sesama bangsa Afrika. Mereka pantas mendapatkan keuntungan dari Piala Dunia yang berlangsung di tanah Afrika. Persis seperti saya juga, jadi juru parkir. Mencari rezeki untuk keluarga kami di kampung,” kilah Lizo. Lizo sendiri bukan asli Johannesburg. Dia juga perantau di sana. “Saya dari Queenstown, kota kecil sebelah timur Cape Town. Disini ya selama Piala Dunia aja,” ujar Lizo.
“Di kampung tak ada atmosfir Piala Dunia. Makanya saya kemari. Enaknya lagi, disini bisa dapat kenalan baru, fans bola dari berbagai macam suku bangsa,” imbuh Lizo sambil meniup pluit memandu pengemudi mobil yang masuk area parkir. Tim mana yang mereka dukung?
“Kami awalnya mendukung Afsel. Sayang mereka tersisih. Kini saya dan kawan-kawan mendukung timnas Ghana. Permainan mereka sangat impresif. Pasti semua orang Afrika kepingin tropi Piala Dunia bertahan di Afrika,” ujar Jerry. Tak seperti rekan-rekannya yang lain, Jerry sudah memikirkan apa dan kemana setelah Piala Dunia berakhir, saatmana situasi di Afsel kembali seperti sediakala. Uang hasil jerih payah selama di Johannesburg pun tak lupa disisihkan untuk tabungan.
“Rencananya saya mau buka usaha baru. Belum tahu lagi bentuknya. Saya yakin, selalu saja ada peluang baru. Asal mau berpikir dan berusaha,” tukasnya optimis. Sesaat, dahinya mengkerut seperti mengingat sesuatu. “Oya, saya dengar Afrika Selatan mencalonkan diri jadi tuan rumah Olimpiade 2020. Nah itu kan peluang juga,” sahut Jerry dengan mimik gembira. Iya mas, tapi itu kan masih lama, sepuluh tahun lagi ..he he.
No comments:
Post a Comment