Warga Pretoria Antusias Sambut Trofi Piala Dunia
Pagi itu 31 Mei, ribuan fans bola dari berbagai kalangan, tua muda, hingga kanak-kanak memenuhi aula balai kota Pretoria, ibukota Afrika Selatan. Kendati cuaca masih sangat dingin, namun jumlah mereka yang datang makin lama makin bejubel saja. Ya warga Pretoria tumpah ruah untuk melihat dan berpose dengan trofi Piala Dunia yang saat itu dipajang di Balai Kota Tshwane.
Piala terbuat dari emas, dengan berat sekitar 6,17 kg itu menempuh perjalanan terakhir dari rangkaian tur trofi piala dunia di 86 negara di seluruh dunia. Menurut Manajer Coca Cola, Brad Ross, seperti disitir BuaNews (31/5), perhentian terakhir tur adalah di kota Soweto pada Sabtu 5 Juni mendatang. Setelah itu trofi Piala Dunia yang menempuh garis start awal di Zurich, Swiss akan dikembalikan ke FIFA.
Ditanya tentang tanggapan warga di kota-kota calon tuan rumah saat dikunjungi, Ross mengatakan: "Pengalaman yang sangat menakjubkan. Masyarakat sangat antusias dan terjadi antrian yang begitu panjang di tiap kota yang kami singgahi. Tidak ada keraguan sedikitpun, Afrika Selatan sangat pantas jadi tuan rumah turnamen sepak bola spektakuler sejagad ini," tukas Ross dipenuhi rasa kagumnya.
Elias Mahlangu (23), salah seorang fans bola yang datang dari desa kecil di pinggiran Pretoria untuk melihat trofi, mengaku bangga jadi warga Afrika Selatan. "Saya bangga jadi warga Afsel. Kami memang pantas untuk perhelatan ini. Saya gembira bisa melihat piala penuh legenda itu," katanya Elias penuh semangat.
Sementara itu Nomthandazo Ntikinca (29), warga Afsel lainnya, melakukan perjalanan jauh dari East Rand, Katlehong, hanya untuk melihat trofi piala dunia. "Piala dunia adalah impianku. Saya senang bahwa Afrika Selatan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010. Meskipun tidak akan nonton di stadion karena aku tidak mampu beli tiket, aku akan tonton semua pertandingan via televisi," aku Nomtha. Pria berkulit gelap itu seakan mewakili warga Afsel kebanyakan, yang tidak mampu membeli tiket untuk bisa nonton langsung di stadion.
Dengan waktu tersisa sepekan lagi sebelum peluit kick-off dibunyikan, Pretoria sebagai salah satu kota penyelenggara benar-benar berubah. Memasuki pusat kota, di sepanjang jalan dipenuhi oleh beragam spanduk, poster, bendera, graffiti, iklan berbagai merk produk, dari besar, kecil hingga kombinasi aneka warna. Di malam hari, Pretoria bermandikan lampu hias aneka warna. Tak hanya itu, kondisi kota juga tampak bersih bersinar dan menyehatkan. “Kami sudah punya komitmen untuk menjadikan Pretoria nyaman dan sehat bagi pengunjung sepakbola. Warga kota sudah siap untuk menyambut tamunya dengan ramah,” kata Dr Gwen Ramokgopa, Walikota Pretoria dalam siaran persnya.
Begitulah. Di seluruh Afsel, kini orang-orang menghabiskan malam tanpa tidur karena antrian dalam upaya untuk membeli tiket. Virus demam piala dunia sudah menjangkiti warga benua hitam. (zulkarnain jalil).
No comments:
Post a Comment