Wednesday, July 14, 2010

Di Afsel, Kaos Bola ‘aspal’ lebih diminati

Catatan: Zulkarnain Jalil

Piala Dunia memberi berkah tersendiri bagi segenap pelaku bisnis. Dari pemodal besar hingga pedagang kaki lima. Intinya, bisnis apa saja yang disentuh sedikit saja dengan ‘aura’ Piala Dunia bakal laku keras. Salah satu bisnis yang sukses mengeruk keuntungan besar adalah bisnis jersey atau kaos bola. Harga kaos bola ini bervariasi, dari harga 1 jutaan hingga belasan ribuan rupiah. Tergantung kocek masing-masing pembeli. Yang harga jut-jut biasanya produk asli merk ternama seperti Adidas, Nike, Puma, Umbro, Lotto, dan lainnya. Mau yang lebih murah, bisa beli jersey aspal, asli tapi palsu. “Yang penting kan enak dipakai dan pas di kantong he he,” cetus seorang maniak bola.

Nah, menariknya kostum tiruan atau aspal justru lebih laris di pasaran. Kenapa? Tentu saja karena harga jual yang lebih murah dibanding kostum asli membuat komoditas ini sangat diminati fans bola. Konon lagi di Afrika yang tingkat pendapatannya masih rendah. Misalnya di Pantai Gading, penjahit di sana mampu memproduksi kostum Didier Drogba dkk dengan bentuk yang tak kalah dengan aslinya. Mereka berani menjual seharga 5 dolar AS (sekitar 50 ribu rupiah). Bandingkan dengan kostum produk asli pabrik yang dibanderol sebesar 75 dolar AS (sekitar 700 ribu rupiah)! Alhasil, tim-tim Adidas atau Nike, tak hanya bertarung di dalam stadion, tapi mereka juga musti ‘bertarung’ lagi di luar lapangan melawan pesaing bisnis mereka.

Alasan ekonomi
Sejak awal 2010 polisi Afsel dikabarkan telah menyita barang-barang palsu Piala Dunia senilai 13 juta dolar AS (sekitar 120 milyar rupiah). Dari data FIFA, tercatat ratusan kasus pemalsuan produk Piala Dunia 2010 telah diajukan ke meja pengadilan. Namun tetap saja bisnis barang aspal itu tetap jalan, di tengah razia polisi yang kerap dilakukan terutama di kawasan kaki lima. Hal ini bisa terjadi karena alasan ekonomi.

"Saya berdagang disini untuk memperoleh sedikit uang buat makan, juga buat biaya sekolah anak-anak saya," tukas Philemon Sigauke, seorang pedagang kaos kaki lima di Johannesburg.

Sipho Mlambo, pedagang lainnya, mengaku ekonomi keluarganya sangat terbantu selama Piala Dunia. "Saya sangat gembira selama Piala Dunia ini. Ini negeri kami, kapan lagi kami bisa mendapat rejeki seperti ini. Piala Dunia telah membawa sesuatu yang lebih pada saya dan keluarga saya," ujar pedagang berusia 32 tahun itu sumringah.

Darimana mereka mendapatkan barang-barang tiruan Piala Dunia itu? "Tidak, saya tidak mau bilang pada Anda dimana saya dapatkan barang-barang ini. Bahaya. Anda harus mengerti ini Piala Dunia dan permintaan kaos sangat tinggi," sahut seorang pedagang kaki lima yang tak mau disebutkan namanya dan berdagang di kawasan Alexandra, sebelah utara Johannesburg.

"Dengan berjualan kaos ini kantong saya bisa lebih berisi dari biasanya. Saya tahu memang banyak yang kena tangkap polisi karena dagang barang seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi. Sayang melepas peluang besar seperti ini. Masalah polisi itu urusan belakangan," imbuh pria itu lagi.

Serbuan produk murah asal China
Disinyalir barang-barang tiruan itu didatangkan dari Asia. "Ya, selama Piala Dunia sangat banyak merchandise tiruan. Amatan kami, sebagian besar diproduksi di Asia," kata Mohamed Khader dari Spoor and Fisher, sebuah lembaga pengacara FIFA. Dikatakannya, sejak Januari 2010 ditemukan banyak produk China dan beberapa negara Asia lainnya dengan nilai investasi mencapai 100 rand (sekitar 120 milyar rupiah). Mereka berani menjual dengan harga rendah. Kaos tim Inggris atau Brazil tiruan misalnya dijual seharga 250 rand di kaki lima, sementara yang asli mencapai 600 rand.

Barang-barang tiruan ternyata tak hanya kaos tim saja. Banyak pernak pernik Piala Dunia berlisensi FIFA juga ditiru. Sebut saja boneka maskot Zakumi termasuk salah satu yang sangat banyak diperdagangkan di pasar gelap.

Bahkan timnas Afsel tak luput dari modus ini. Bendera dan Kaos tim Bafana Bafana sangat populer selama Piala Dunia, bahkan hingga perhelatan akan berakhir tetap laku keras. Permintaan akan kaos timnas Bafana Bafana sejauh ini memang nomor satu di Afsel. Ini terjadi sejak September 2009 silam saat mana Football Friday dicetuskan. Footbal Friday adalah sebuah inisiatif pemerintah Afsel agar warga mengenakan seragam timnas Afsel di hari Jumat. Sebagai bentuk dukungan kepada tim asuhan Carlos Alberto Parreira.

"Setiap orang di Afrika Selatan apakah dia warga asli atau pendatang, seharusnya tidak mendukung pasar gelap ini. Jangan beli produk mereka karena akan berimplikasi serius terhadap ekonomi negeri kita, " pesan Kolonel Vishnu Naidoo, jubir kepolisian nasional Afsel.

"Jika hal ini terus terjadi maka akan makin banyak orang yang kehilangan pekerjaan. Contohnya, seragam Bafana Bafana. Seragam timnas ini diproduksi di Afsel, dengan begitu akan makin banyak peluang kerja yang terbuka," imbuh Naidoo.

Di saat FIFA berperang melawan serbuan barang-barang bajakan, produsen merchandise resmi saat perhelatan pun dibuat pusing oleh munculnya bendera nasional Afsel produk China.

“Produsen lokal tak mampu berkompetisi dengan produsen asal China yang berani melepas dengan harga rendah. Kami bahkan tak mampu menutupi biaya produksi. Sebegitu rendahnya bendera produk China," keluh Michael Goldman, direktur Flag Factory seperti dikutip iol.za.

“Sebuah bendera tipe kecil asal China harganya cuma 35 rand (sekitar 42 ribu rupiah). Itu setengah dari harga jual bendera produk lokal. Perbedaan harga mencolok ini, karena pabrik-pabrik di Afsel harus membayar pekerjanya lebih mahal. Itulah masalahnya. Sayang, padahal saat ini bendera sedang jadi primadona,” lanjut Goldman.

Tak pelak, produsen bendera di Afsel pun geram dengan banyaknya produk murah asal China itu. “Padahal ini peluang besar kami untuk menciptakan lapangan kerja di Afsel. Setidaknya sekitar 4 juta rand hilang diserap bendera impor,” ujar salah satu produsen lokal tak mau disebut namanya.

No comments: