Kopi Bergendaal, produk lokal yang mendunia
“Wow, rasanya beda dari kopi yang biasa. Cobain deh!,”ujar seorang ibu tua sembari mengajak temannya ikut minum. “Gile bener, aroma dan rasanya nendang banget,” tukas teman si ibu ini dengan logat Betawi sembari menyeruput kopinya. Tak ayal stand Aceh pun diserbu pengunjung Pameran SMESCO UKM Festival 2011 yang ingin mencoba cita rasa kopi yang punya nama dagang unik, Bergendaal. Celutukan dan komentar-komentar kagum pun jadi bagian dari kemeriahan yang sempat terekam di Gedung Smesco Tower Jakarta tempat pameran digelar. Dalam waktu singkat Kopi Bergendaal jadi primadona di ajang pameran yang dihelat Kementerian Koperasi dan UKM dari 1-5 Juni 2011 itu.
“Namanya unik, tapi gampang diingat,” tukas seorang pria muda disamping saya. Pria ini mengaku pernah minum kopi Ulee Kareng di Banda Aceh. “Tapi yang ini lain. Aromanya khas, kayak minum di Starbuck aja,” lanjut pria yang mengaku maniak kopi ini kagum.
Ya selama ini kopi Ulee Kareng memang lebih dikenal di khalayak penikmat kopi Aceh. Tapi kini kopi Bergendaal boleh dicoba sebagai varian lain dari ragam kopi Aceh. Patut dicatat juga, dalam waktu dekat, kopi Bergendaal asal Kabupaten Bener Meriah ini akan ikut Pameran Ambient dan Perekonomian di Rumania yang berlangsung pada 8-12 Juni 2011 mendatang. Kementerian Koperasi dan UKM rupanya melihat kopi gayo punya nilai jual tinggi di dunia internasional.
“Ini kopi asli dataran tinggi gayo. Saya mulai memproduksi dan memasarkan Bergendaal sejak 2008 silam, setelah melewati serangkaian penelitian dan ujicoba pra produksi..Kopi Bergendaal termasuk dalam deretan kopi yang terbaik di dataran gayo dan diolah secara modern” ujar H. Yusrin HS, pemilik usaha kopi Bergendaal.
“Oya kata Bergendaal saya ambil dari bahasa Belanda, yang artinya bukit dan lembah. Menurut sejarah, wilayah ini pernah jadi kebun perkopian yang dipilih Belanda waktu itu,” sambung Yusrin yang mengaku terjun langsung dalam memilih dan menyortir biji kopi unggulan. Dia bersama sejumlah petani kopi binaannya mengelola sekitar 60 hektar kebun kopi di Simpang Tritit, Bener Meriah. Jadi, usahanya bisa disebut usaha terpadu, dari perkebunan, pengolahan biji kopi, bubuk kopi hingga produk kopi siap saji. Semuanya berlebel Bergendaal. Kenapa tertarik dengan usaha kopi?
“Saya termotivasi oleh kopi Starbuck, yang kata orang kopi paling enak. Starbuck tak punya lahan, tapi produknya tersebar di seluruh dunia. Atau, tak usah jauh-jauh lah. Kopi Medan misalnya, tak banyak lahan mereka. Tapi kopinya ada dimana-mana. Kita punya lahan, masak kita tidak bisa produksi sendiri,” ungkap pria yang pernah berkunjung ke negeri Belanda itu saat ditanya ide awal memulai usaha.
“Sebelumnya kopi gayo diolah secara tradisional dan diekspor dalam bentuk green bean atau biji mentah saja. Saat dikirim keluar, kebanyakan eksportir di Medan tidak memakai lagi nama kopi Arabica Gayo, tapi diganti dengan nama mereka. Ini kan ironis. Saya sebagai orang Aceh merasa tertantang melihat kondisi seperti ini,” ujar pria beranak empat ini penuh semangat.
Yusrin memang tak main-main dalam memulai usahanya. Pria yang menganut pola usaha 3 UR yakni sedapur, sesumur dan leluhur itu sampai mengirim anak laki-lakinya yang sarjana hukum ke Cinere, Depok untuk belajar meracik kopi. Bahkan mesin produksi kopinya dipilih yang buatan Jerman. Di arena Pameran UKM Festival 2011 sendiri, para pengunjung bisa melihat dengan detail cara mengolah kopi Bergendaal. Karena mesin pengolahnya, dari penghalusan biji kopi menjadi serbuk hingga penyeduhannya di gelas siap saji, dibawa langsung dari Aceh.
Agar makin dikenal, Yusrin mengaku sering ikut pameran. “Saya sudah berkali-kali ikut pameran baik di Jakarta maupun Surabaya . Saya sangat berharap agar para pengolah kopi di Aceh jangan hanya mengekspor kopi mentah lagi, tapi sedapat mungkin yang diekspor adalah bahan jadi yang kita produksi sendiri, nilai jualnya lebih tinggi. Secara tidak langsung juga akan dapat meningkatkan ekonomi rakyat,” harap Yusrin seraya menyebut saat ini permintaan kopinya kebanyakan dari jenis super premium dan juga kopi luwak liar.
Bagi yang ingin menikmati langsung cita rasa kopi asli Bergendaal, Yusrin telah pula menyulap gudang rumahnya di Simpang Tritit menjadi Kafe Bergendaal. Kedai kopi yang dibuka pertengahan 2007 silam itu kini banyak disinggahi wisatawan lokal dan mancanegara. So, kalau sekali waktu Anda melewati daerah ini atau kalau ingin hari-hari Anda lebih meriah, yuk minum kopi produk Bener Meriah. Mau? (zulkarnain jalil)
No comments:
Post a Comment