Sunday, June 08, 2008

Bola bergulir, duit mengalir

Zulkarnain Jalil

Peluit telah dibunyikan sabtu kemarin di Basel dan bola pun bergulir di delapan stadion. Secara ekonomi, akan ada perubahan yang sangat drastis. Bola bergulir dan duit pun ikut mengalir.

Sepakbola modern kini tak bisa dipisahkan dengan uang. Gelimang hadiah di Euro 2008 ini juga bakal bikin heboh. Untuk Piala Eropa Austria-Swiss kali ini, UEFA –induk sepakbola di Eropa- menyediakan total hadiah sebesar 184 juta Euro (sekitar 2,5 trilyun rupiah). Angka ini lebih banyak 700 milyar rupiah dibanding Euro 2004 Portugal yang lalu.

Ada yang namanya match fee atau “uang tampil” sebesar 7,5 juta Euro, meningkat 1,7 juta Euro dibanding di Portugal. Bila masing-masing tim di babak penyisihan grup meraih kemenangan, bonus sebesar 1 juta euro (sekitar 15 milyar rupiah) bakal menanti. Hasil imbang, bonusnya 500 ribu euro. Berhasil masuk babak berikutnya, bonus akan berlipat lagi. Sebagai catatan, bonus di babak perempatfinal bagi tim yang menang adalah 2 juta euro dan semifinal 3 juta euro. Nah di partai puncak, sang juara akan dapat 7,5 juta euro serta juara kedua sebesar 4,5 juta euro. Jadi maklum saja jika tim-tim “gurem” bakal main habis-habisan. Itu belum lagi bonus dari sponsor, hasil penjualan berbagai merchandise tim, dan banyak lainnya lagi.

Bisnis menggiurkan
Bisnis sepak bola kini telah jadi bisnis paling menggiurkan di dunia, Lihat saja bagaimana Portugal begitu ngotot mengajukan dirinya sebagai negara penyelenggara Piala Eropa 2004 silam. Bahkan pemerintah Portugal kala itu rela merogoh kocek hingga 4,8 miliar US dollar (sekitar 44 triliun) guna memperbaiki stadion. Pastinya mereka sudah berhitung bakal dapat pemasukan yang berlipat.

Asal tahu saja kala itu tiket sudah ludes terjual sebelum pesta digelar. Dari tiket saja sekitar Rp 7 triliun berhasil diraup. Lalu dari penjualan hak siar senilai 580 juta euro (sekitar 8,7 trilyun). Masih ada lagi “upeti” dari sponsor resmi. Dan masih banyak lagi masukan, dari resmi hingga yang tak resmi. Bukan hanya negara dapat tambahan tabungan, rakyat di negara penyelenggara pun turut menikmatinya.

Seperti disitir harian OÖNachrichten (31/5), saat ini sekitar 21.400 kamar di 408 hotel (220 di Austria dan 188 di Swiss) sudah habis dibooking. Lalu, 4500 kereta api tambahan (2000 di Austria, 2500 di Swiss) disiapkan. Dibutuhkan sedikitnya 14.000 papan petunjuk/nama di seputar jalan menuju stadion. Ada 10.000 media yang telah terakreditasi meliput Piala Eropa. Sudah pasti dibutuhkan banyak tenaga kerja. Dan, lowongan kerja disana kini memang meningkat drastis di berbagai sektor. Menurut hasil analisis Wiener Instituts für Sportökonomie Sports Econ Austria (SpEA), untuk di Austria saja akan mengalir uang sebanyak 641 juta euro (sekitar 9,7 trilyun).

Sekitar dua juta pengunjung juga bakal menyesaki Austria-Swiss. Semuanya pasti butuh penginapan, makanan, transport, dan berbagai kebutuhan lainnya. Sebagai perbandingan, pada Piala Eropa 2004 silam sekitar 12 ribu fans tim Rusia datang ke Portugal. Pengusaha lokal sangat menikmati kehadiran mereka. Bahkan ada yang berani menyewa di kamar hotel bertarif 3 ribu euro (setara dengan 33 juta rupiah)!

Terkadang sulit diterima akal sehat menilik uang yang mengalir dari bola yang bergulir itu. Saat ini ada 16 tim yang terlibat akan memainkan 31 pertandingan guna merebut sebuah piala. Sebanyak 22 pemain memperebutkan satu bola selama 90 menit. Namun daya tariknya bak magnet yang mampu menggerakkan segala sektor, dari sosial, ekonomi, budaya hingga politik. Kok bisa? Begitulah.

Surat terbuka Joachim Loew untuk fans Jerman

Zulkarnain Jalil

Satu langkah simpatik dilakukan Jogi –panggilan Joachim Loew- pelatih timnas Jerman.
Menjelang der Panzer memainkan partai perdana melawan tetangganya Polandia, dia menulis sepucuk surat untuk fans Jerman. Surat itu ditulis Jogi sesaat tiba di Klagenfurt, Austria dan dikirimkan ke beberapa koran yang terbit di Jerman. Harian Tageszeitung (TZ) yang terbit di Muenchen adalah salah satunya yang memuat surat terbuka Jogi itu. Intinya dia memohon dukungan tiada henti dari para fans untuk bisa berprestasi maksimal dan meraih mimpi di final yang bakal berlangsung di Wina, Austria 29 Juni nanti. Saat surat ini dipublish, pertandingan Jerman-Polandia sedang berlangsung. Berikut petikan surat mantan asisten Klinsmann yang ditulis dalam bahasa Jerman itu.

Salam hangat buat seluruh fans Jerman dimanapun berada,

Apakah kalian masih ingat dengan kemenangan terakhir timnas kita di Piala Eropa? Ya tanggal 30 Juni 1996 silam, saat kita mengalahkan Ceko di final yang berlangsung di Stadion Wembley, London. Gol emas Oliver Bierhoff telah mengantar kita merebut gelar juara, yang merupakan gelar tertinggi terakhir yang pernah kita raih. Sejak hari ini, tim kita di Piala Eropa 2008 mulai merajut sukses. Kita musti tutup dua seri gelap tanpa hasil di Piala Eropa 2000 dan 2004.

Setiap orang yang menyebut dirinya suka sepakbola pasti tahu, Piala Eropa lebih sulit dibandingkan Piala dunia. Di sini tak ada yang namanya babak pemanasan dan tak ada yang namanya tim lemah. Kekuatan 16 tim semuanya merata, punya ambisi dan motivasi yang tinggi. Contoh terdekat adalah Yunani yang tak diunggulkan namun jadi juara penuh sensasi empat tahun silam di Portugal.

Kita mulanya bukanlah tim unggulan, tapi kini sudah masuk dalam daftar tim favorit di turnamen ini. Semangat dan optimisme kita sedang tinggi. Kepada Yunani, sang juara bertahan, kita perlu ucapkan salam perpisahan. Jika dari setiap kita semua satu hati mendukung timnas, kita bisa merebut impian di Piala Eropa kali ini.

Selepas Piala dunia 2006 di negeri kita dua tahun lalu, kini kita bersua lagi dengan Piala Eropa. Dukungan jutaan fans sangat kami harapkan agar timnas kita bisa menunjukkan penampilan terbaiknya. Tim kita ini bukanlah milik 23 orang pemain saja. Tapi milik jutaan fans Jerman. Dukungan luar biasa yang telah kalian perlihatkan di dongeng musim panas tahun 2006 patut dibangkitkan lagi. Bedannya, kali ini kita tidak berada di rumah dan tidak main di stadion sendiri. Jadi, keuntungan sebagai tuan rumah kali ini tidak didapat.

Kami sangat yakin dengan dukungan kalian, tidak saja dukungan langsung yang nonton di stadion tapi juga yang menonton di berbagai arena nonton bareng. Dukungan simpatik ini akan sangat memompa semangat kami di lapangan. Kita akan raih kembali mimpi yang sudah di depan mata dua tahun lalu di Dortmund, kala dikalahkan Italia di semi final.

Kali ini tur di pegunungan Alpen, Austria dan Swiss, musti berakhir manis di Wina pada 29 Juni nanti.

Salam hangat,

Jogi Loew