Trieste, Ulee Karengnya Italia
Italia dan kopi adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Seperti orang Aceh, minum kopi adalah salah satu kebiasaan yang telah menyatu dalam masyarakat Italia, disamping sepak bola tentunya. Italia terkenal dengan kopinya yang memiliki aneka cita rasa. Capuchino, espresso, koffee-latte, macchiato, dll adalah brand-mark Italia yang sudah mendunia.
Ada satu kota di Italia yang sering disebut sebagai kota kopi yakni Trieste. Saya merasa beruntung bisa berada di kota ini. Artinya semangat minum kopi saya tidak ‘punah’. Budaya minum kopi di kota ini sangatlah kuat dan mengakar. Kabarnya komsumsi kopi warga Trieste rata-rata mencapai 10 kilogram per kapita setahun, dua kali lebih banyak dari penduduk Italia lainnya. Di Trieste pula kita bisa temukan ada museum kopi. Di museum yang terletak di kawasan Torre del Lloyd itu berisi sejarah kopi tempo dulu, alat peracik kopi dari jaman baheula hingga modern, proses pembuatan kopi, dan banyak lainnya lagi. Tak pelak, Trieste telah jadi semacam pusat industri kopi di Italia.
Kota berpenduduk 200 ribu jiwa ini sudah sejak lama dikenal sebagai pusat perdagangan kopi. Kawasan pelabuhan Piazza Unità dulu dikenal sebagai pusat bisnis kopi. Kini, aktifitas perdagangan kopi telah pindah ke pelabuhan baru di Porto Nuovo, selatan kota. Namun di Piazza Unita kita masih mencium aroma kopi yang menusuk hidung. Ada ratusan gudang penyimpanan kopi disini. Berjejer pula di dekatnya warung-warung kopi, orang Italia sering menyebut Café. Caffè San Marco salah satunya, adalah satu dari lima warung kopi tertua disini. Menilik fisiknya, warkop ini masih memelihara memori ketuaannya. Dari bangunan yang terbuat dari kayu hingga bentuk mejanya yang klasik, khas warung-warung tempo dulu.
Trieste mungkin lebih cocok disebut sebagai kota pelabuhan kopi. Menurut data, rata-rata dalam setahun ada hingga 2,5 juta karung biji kopi yang ditampung disini Seiring dengan dengan pesatnya usaha kopi di Trieste, alhasil aneka perusahaan lain pun bermunculan. Dari pedagang, agen penjualan dan pengiriman, unit pengujian kopi hingga ke usaha grosir dan eceran. Tak hanya itu, industri dan pedagang alat peracik kopi pun tumbuh disini.
Agrobisnis kopi
Pacorini, salah satu perusahaan kopi Italia terkemuka yang berbasis di Trieste, telah menguasai hampir 10 persen volume perdagangan biji kopi dunia. Sebelum dijual, biji-biji kopi itu telah melewati sejumlah pengujian yang ketat.
"Kami selalu mengeceknya, ada cacat apa tidak," ujar Sergio Vatta, sembari menyeruput kopi espresso dari secangkir gelas, lalu berkumur dan meludahkan kopi itu dalam satu kantong plastik khusus. Sergio Vatta adalah seorang spesialis uji rasa kopi di perusahaan Pacorini. Dia mampu menganalisis secara cermat biji-biji kopi dan cita rasanya. Sampel biji kopi itu juga dianalisis di laboratorium dekat dengan pelabuhan. Berkarung-karung biji kopi yang diimpor dari India, Kolumbia, Brazil, Vietnam dan Guatemala menumpuk, siap untuk diproses.
Bagaimana dengan kopi Indonesia? Harus diakui, selama ini importir kopi di Italia lebih banyak mengenal Indonesia sebagai eksportir kopi jenis robusta. Robusta dari Indonesia dipakai untuk campuran dari racikan kopi yang dihasilkan para roaster terkenal Italia. Padahal kita juga punya kopi arabika, seperti di kawasan Aceh tengah. Selama ini masyarakat Italia lebih kenal kopi arabika dari Amerika Latin ketimbang arabika Indonesia. Ini peluang agribisnis kopi yang menjanjikan sebenarnya. Konon lagi, Trieste adalah salah satu kota yang saban tahun aktif menyelenggarakan pameran kopi internasional. Tahun ini Ekspo Kopi Internasional tersebut akan dihelat pada 25-27 Oktober 2012. Indonesia sendiri mengikuti secara aktif pameran di Trieste sejak 2006. So, bagaimana dengan Pemerintah Aceh, ada minat ekspansi?
Wednesday, April 18, 2012
Thursday, June 09, 2011
Kopi Bergendaal, produk lokal yang mendunia
“Wow, rasanya beda dari kopi yang biasa. Cobain deh!,”ujar seorang ibu tua sembari mengajak temannya ikut minum. “Gile bener, aroma dan rasanya nendang banget,” tukas teman si ibu ini dengan logat Betawi sembari menyeruput kopinya. Tak ayal stand Aceh pun diserbu pengunjung Pameran SMESCO UKM Festival 2011 yang ingin mencoba cita rasa kopi yang punya nama dagang unik, Bergendaal. Celutukan dan komentar-komentar kagum pun jadi bagian dari kemeriahan yang sempat terekam di Gedung Smesco Tower Jakarta tempat pameran digelar. Dalam waktu singkat Kopi Bergendaal jadi primadona di ajang pameran yang dihelat Kementerian Koperasi dan UKM dari 1-5 Juni 2011 itu.
“Namanya unik, tapi gampang diingat,” tukas seorang pria muda disamping saya. Pria ini mengaku pernah minum kopi Ulee Kareng di Banda Aceh. “Tapi yang ini lain. Aromanya khas, kayak minum di Starbuck aja,” lanjut pria yang mengaku maniak kopi ini kagum.
Ya selama ini kopi Ulee Kareng memang lebih dikenal di khalayak penikmat kopi Aceh. Tapi kini kopi Bergendaal boleh dicoba sebagai varian lain dari ragam kopi Aceh. Patut dicatat juga, dalam waktu dekat, kopi Bergendaal asal Kabupaten Bener Meriah ini akan ikut Pameran Ambient dan Perekonomian di Rumania yang berlangsung pada 8-12 Juni 2011 mendatang. Kementerian Koperasi dan UKM rupanya melihat kopi gayo punya nilai jual tinggi di dunia internasional.
“Ini kopi asli dataran tinggi gayo. Saya mulai memproduksi dan memasarkan Bergendaal sejak 2008 silam, setelah melewati serangkaian penelitian dan ujicoba pra produksi..Kopi Bergendaal termasuk dalam deretan kopi yang terbaik di dataran gayo dan diolah secara modern” ujar H. Yusrin HS, pemilik usaha kopi Bergendaal.
“Oya kata Bergendaal saya ambil dari bahasa Belanda, yang artinya bukit dan lembah. Menurut sejarah, wilayah ini pernah jadi kebun perkopian yang dipilih Belanda waktu itu,” sambung Yusrin yang mengaku terjun langsung dalam memilih dan menyortir biji kopi unggulan. Dia bersama sejumlah petani kopi binaannya mengelola sekitar 60 hektar kebun kopi di Simpang Tritit, Bener Meriah. Jadi, usahanya bisa disebut usaha terpadu, dari perkebunan, pengolahan biji kopi, bubuk kopi hingga produk kopi siap saji. Semuanya berlebel Bergendaal. Kenapa tertarik dengan usaha kopi?
“Saya termotivasi oleh kopi Starbuck, yang kata orang kopi paling enak. Starbuck tak punya lahan, tapi produknya tersebar di seluruh dunia. Atau, tak usah jauh-jauh lah. Kopi Medan misalnya, tak banyak lahan mereka. Tapi kopinya ada dimana-mana. Kita punya lahan, masak kita tidak bisa produksi sendiri,” ungkap pria yang pernah berkunjung ke negeri Belanda itu saat ditanya ide awal memulai usaha.
“Sebelumnya kopi gayo diolah secara tradisional dan diekspor dalam bentuk green bean atau biji mentah saja. Saat dikirim keluar, kebanyakan eksportir di Medan tidak memakai lagi nama kopi Arabica Gayo, tapi diganti dengan nama mereka. Ini kan ironis. Saya sebagai orang Aceh merasa tertantang melihat kondisi seperti ini,” ujar pria beranak empat ini penuh semangat.
Yusrin memang tak main-main dalam memulai usahanya. Pria yang menganut pola usaha 3 UR yakni sedapur, sesumur dan leluhur itu sampai mengirim anak laki-lakinya yang sarjana hukum ke Cinere, Depok untuk belajar meracik kopi. Bahkan mesin produksi kopinya dipilih yang buatan Jerman. Di arena Pameran UKM Festival 2011 sendiri, para pengunjung bisa melihat dengan detail cara mengolah kopi Bergendaal. Karena mesin pengolahnya, dari penghalusan biji kopi menjadi serbuk hingga penyeduhannya di gelas siap saji, dibawa langsung dari Aceh.
Agar makin dikenal, Yusrin mengaku sering ikut pameran. “Saya sudah berkali-kali ikut pameran baik di Jakarta maupun Surabaya . Saya sangat berharap agar para pengolah kopi di Aceh jangan hanya mengekspor kopi mentah lagi, tapi sedapat mungkin yang diekspor adalah bahan jadi yang kita produksi sendiri, nilai jualnya lebih tinggi. Secara tidak langsung juga akan dapat meningkatkan ekonomi rakyat,” harap Yusrin seraya menyebut saat ini permintaan kopinya kebanyakan dari jenis super premium dan juga kopi luwak liar.
Bagi yang ingin menikmati langsung cita rasa kopi asli Bergendaal, Yusrin telah pula menyulap gudang rumahnya di Simpang Tritit menjadi Kafe Bergendaal. Kedai kopi yang dibuka pertengahan 2007 silam itu kini banyak disinggahi wisatawan lokal dan mancanegara. So, kalau sekali waktu Anda melewati daerah ini atau kalau ingin hari-hari Anda lebih meriah, yuk minum kopi produk Bener Meriah. Mau? (zulkarnain jalil)
“Wow, rasanya beda dari kopi yang biasa. Cobain deh!,”ujar seorang ibu tua sembari mengajak temannya ikut minum. “Gile bener, aroma dan rasanya nendang banget,” tukas teman si ibu ini dengan logat Betawi sembari menyeruput kopinya. Tak ayal stand Aceh pun diserbu pengunjung Pameran SMESCO UKM Festival 2011 yang ingin mencoba cita rasa kopi yang punya nama dagang unik, Bergendaal. Celutukan dan komentar-komentar kagum pun jadi bagian dari kemeriahan yang sempat terekam di Gedung Smesco Tower Jakarta tempat pameran digelar. Dalam waktu singkat Kopi Bergendaal jadi primadona di ajang pameran yang dihelat Kementerian Koperasi dan UKM dari 1-5 Juni 2011 itu.
“Namanya unik, tapi gampang diingat,” tukas seorang pria muda disamping saya. Pria ini mengaku pernah minum kopi Ulee Kareng di Banda Aceh. “Tapi yang ini lain. Aromanya khas, kayak minum di Starbuck aja,” lanjut pria yang mengaku maniak kopi ini kagum.
Ya selama ini kopi Ulee Kareng memang lebih dikenal di khalayak penikmat kopi Aceh. Tapi kini kopi Bergendaal boleh dicoba sebagai varian lain dari ragam kopi Aceh. Patut dicatat juga, dalam waktu dekat, kopi Bergendaal asal Kabupaten Bener Meriah ini akan ikut Pameran Ambient dan Perekonomian di Rumania yang berlangsung pada 8-12 Juni 2011 mendatang. Kementerian Koperasi dan UKM rupanya melihat kopi gayo punya nilai jual tinggi di dunia internasional.
“Ini kopi asli dataran tinggi gayo. Saya mulai memproduksi dan memasarkan Bergendaal sejak 2008 silam, setelah melewati serangkaian penelitian dan ujicoba pra produksi..Kopi Bergendaal termasuk dalam deretan kopi yang terbaik di dataran gayo dan diolah secara modern” ujar H. Yusrin HS, pemilik usaha kopi Bergendaal.
“Oya kata Bergendaal saya ambil dari bahasa Belanda, yang artinya bukit dan lembah. Menurut sejarah, wilayah ini pernah jadi kebun perkopian yang dipilih Belanda waktu itu,” sambung Yusrin yang mengaku terjun langsung dalam memilih dan menyortir biji kopi unggulan. Dia bersama sejumlah petani kopi binaannya mengelola sekitar 60 hektar kebun kopi di Simpang Tritit, Bener Meriah. Jadi, usahanya bisa disebut usaha terpadu, dari perkebunan, pengolahan biji kopi, bubuk kopi hingga produk kopi siap saji. Semuanya berlebel Bergendaal. Kenapa tertarik dengan usaha kopi?
“Saya termotivasi oleh kopi Starbuck, yang kata orang kopi paling enak. Starbuck tak punya lahan, tapi produknya tersebar di seluruh dunia. Atau, tak usah jauh-jauh lah. Kopi Medan misalnya, tak banyak lahan mereka. Tapi kopinya ada dimana-mana. Kita punya lahan, masak kita tidak bisa produksi sendiri,” ungkap pria yang pernah berkunjung ke negeri Belanda itu saat ditanya ide awal memulai usaha.
“Sebelumnya kopi gayo diolah secara tradisional dan diekspor dalam bentuk green bean atau biji mentah saja. Saat dikirim keluar, kebanyakan eksportir di Medan tidak memakai lagi nama kopi Arabica Gayo, tapi diganti dengan nama mereka. Ini kan ironis. Saya sebagai orang Aceh merasa tertantang melihat kondisi seperti ini,” ujar pria beranak empat ini penuh semangat.
Yusrin memang tak main-main dalam memulai usahanya. Pria yang menganut pola usaha 3 UR yakni sedapur, sesumur dan leluhur itu sampai mengirim anak laki-lakinya yang sarjana hukum ke Cinere, Depok untuk belajar meracik kopi. Bahkan mesin produksi kopinya dipilih yang buatan Jerman. Di arena Pameran UKM Festival 2011 sendiri, para pengunjung bisa melihat dengan detail cara mengolah kopi Bergendaal. Karena mesin pengolahnya, dari penghalusan biji kopi menjadi serbuk hingga penyeduhannya di gelas siap saji, dibawa langsung dari Aceh.
Agar makin dikenal, Yusrin mengaku sering ikut pameran. “Saya sudah berkali-kali ikut pameran baik di Jakarta maupun Surabaya . Saya sangat berharap agar para pengolah kopi di Aceh jangan hanya mengekspor kopi mentah lagi, tapi sedapat mungkin yang diekspor adalah bahan jadi yang kita produksi sendiri, nilai jualnya lebih tinggi. Secara tidak langsung juga akan dapat meningkatkan ekonomi rakyat,” harap Yusrin seraya menyebut saat ini permintaan kopinya kebanyakan dari jenis super premium dan juga kopi luwak liar.
Bagi yang ingin menikmati langsung cita rasa kopi asli Bergendaal, Yusrin telah pula menyulap gudang rumahnya di Simpang Tritit menjadi Kafe Bergendaal. Kedai kopi yang dibuka pertengahan 2007 silam itu kini banyak disinggahi wisatawan lokal dan mancanegara. So, kalau sekali waktu Anda melewati daerah ini atau kalau ingin hari-hari Anda lebih meriah, yuk minum kopi produk Bener Meriah. Mau? (zulkarnain jalil)
Subscribe to:
Posts (Atom)