Wednesday, April 18, 2012

Trieste, Ulee Karengnya Italia


Italia dan kopi adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Seperti orang Aceh, minum kopi adalah salah satu kebiasaan yang telah menyatu dalam masyarakat Italia, disamping sepak bola tentunya. Italia terkenal dengan kopinya yang memiliki aneka cita rasa. Capuchino, espresso, koffee-latte, macchiato, dll adalah brand-mark Italia yang sudah mendunia.

Ada satu kota di Italia yang sering disebut sebagai kota kopi yakni Trieste. Saya merasa beruntung bisa berada di kota ini. Artinya semangat minum kopi saya tidak ‘punah’. Budaya minum kopi di kota ini sangatlah kuat dan mengakar. Kabarnya komsumsi kopi warga Trieste rata-rata mencapai 10 kilogram per kapita setahun, dua kali lebih banyak dari penduduk Italia lainnya. Di Trieste pula kita bisa temukan ada museum kopi. Di museum yang terletak di kawasan Torre del Lloyd itu berisi sejarah kopi tempo dulu, alat peracik kopi dari jaman baheula hingga modern, proses pembuatan kopi, dan banyak lainnya lagi. Tak pelak, Trieste telah jadi semacam pusat industri kopi di Italia.

Kota berpenduduk 200 ribu jiwa ini sudah sejak lama dikenal sebagai pusat perdagangan kopi. Kawasan pelabuhan Piazza Unità dulu dikenal sebagai pusat bisnis kopi. Kini, aktifitas perdagangan kopi telah pindah ke pelabuhan baru di Porto Nuovo, selatan kota. Namun di Piazza Unita kita masih mencium aroma kopi yang menusuk hidung. Ada ratusan gudang penyimpanan kopi disini. Berjejer pula di dekatnya warung-warung kopi, orang Italia sering menyebut Café. Caffè San Marco salah satunya, adalah satu dari lima warung kopi tertua disini. Menilik fisiknya, warkop ini masih memelihara memori ketuaannya. Dari bangunan yang terbuat dari kayu hingga bentuk mejanya yang klasik, khas warung-warung tempo dulu.

Trieste mungkin lebih cocok disebut sebagai kota pelabuhan kopi. Menurut data, rata-rata dalam setahun ada hingga 2,5 juta karung biji kopi yang ditampung disini Seiring dengan dengan pesatnya usaha kopi di Trieste, alhasil aneka perusahaan lain pun bermunculan. Dari pedagang, agen penjualan dan pengiriman, unit pengujian kopi hingga ke usaha grosir dan eceran. Tak hanya itu, industri dan pedagang alat peracik kopi pun tumbuh disini.

Agrobisnis kopi
Pacorini, salah satu perusahaan kopi Italia terkemuka yang berbasis di Trieste, telah menguasai hampir 10 persen volume perdagangan biji kopi dunia. Sebelum dijual, biji-biji kopi itu telah melewati sejumlah pengujian yang ketat.

"Kami selalu mengeceknya, ada cacat apa tidak," ujar Sergio Vatta, sembari menyeruput kopi espresso dari secangkir gelas, lalu berkumur dan meludahkan kopi itu dalam satu kantong plastik khusus. Sergio Vatta adalah seorang spesialis uji rasa kopi di perusahaan Pacorini. Dia mampu menganalisis secara cermat biji-biji kopi dan cita rasanya. Sampel biji kopi itu juga dianalisis di laboratorium dekat dengan pelabuhan. Berkarung-karung biji kopi yang diimpor dari India, Kolumbia, Brazil, Vietnam dan Guatemala menumpuk, siap untuk diproses.

Bagaimana dengan kopi Indonesia? Harus diakui, selama ini importir kopi di Italia lebih banyak mengenal Indonesia sebagai eksportir kopi jenis robusta. Robusta dari Indonesia dipakai untuk campuran dari racikan kopi yang dihasilkan para roaster terkenal Italia. Padahal kita juga punya kopi arabika, seperti di kawasan Aceh tengah. Selama ini masyarakat Italia lebih kenal kopi arabika dari Amerika Latin ketimbang arabika Indonesia. Ini peluang agribisnis kopi yang menjanjikan sebenarnya. Konon lagi, Trieste adalah salah satu kota yang saban tahun aktif menyelenggarakan pameran kopi internasional. Tahun ini Ekspo Kopi Internasional tersebut akan dihelat pada 25-27 Oktober 2012. Indonesia sendiri mengikuti secara aktif pameran di Trieste sejak 2006. So, bagaimana dengan Pemerintah Aceh, ada minat ekspansi?

No comments: