Friday, September 29, 2006

Sukses, Konferensi Organisasi Islam se-Jerman

BERLIN--Islam tidaklah termasuk agama yang diakui oleh negara di Jerman. Namun pemerintah tidak bisa menutup mata atas kenyataan bahwa makin banyak warganya yang beragama Islam dari tahun ke tahun. Saat ini menurut catatan ada sekitar 3,5 juta warga muslim yang berdiam di sana. Karena itu pemerintah mencoba melakukan dialog terbuka dengan wakil-wakil organisasi Islam yang ada di Jerman sebagai upaya penguatan integrasi warga muslim di sana.

Rabu kemarin (27/9) berlangsung sebuah konferensi organisasi Islam se-Jerman yang diadakan di Istana Charlottenburg, Berlin. Kementerian Dalam Negeri sebagai pemrakarsa acara itu mengundang semua wakil organisasi Islam yang ada di Jerman yang terdiri dari berbagai kelompok dan aliran.

Menteri Dalam Negeri Wolfgang Schäuble yang menyampaikan pandangan pemerintah selepas acara itu di gedung parlemen menyebutkan: “Islam adalah bagian dari Jerman dan Eropa. Islam juga bagian dari masa kini dan masa depan kami“. Lebih lanjut Bundestag (DPR-nya Jerman) hari Kamis (28/9) mulai membahas tentang pokok-pokok integrasi Islam di Jerman.

Lebih jauh, Ketua Fraksi Hijau Renate Künachst memandang positif pertemuan tersebut sebagai upaya menuju integrasi yang legal formal. “Tahun-tahun terakhir integrasi di Jerman banyak menghadapi masalah,“ ujar Künachst seraya berharap terbentuknya satu kehidupan harmonis antara penganut Islam dan agama lainnya di Jerman.

Sementara itu Ketua Zentralrat der Muslime in Deutschland (ZMD) –semacam MUI-nya Jerman- Ayyub Axel Köhler, berujar: “Ini merupakan awal yang baik, khususnya bagi pemerintah yang punya niat baik untuk duduk bersama memecahkan persoalan integrasi ini,“. Aiman Mazyek, Sekjen ZMD dalam wawancaranya dengan televisi swasta Jerman ZDF menyebutkan: “Inilah hari yang berkesan bagi Jerman, warga Muslim, dan masa depan integrasi di Jerman.

Konferensi Rabu kemarin tersebut merupakan yang pertama kali di Jerman. Kegiatan itu sekaligus mencairkan hubungan kaku antara pemerintah dan Islam selama hampir setengah abad lamanya. Mendagri secara terbuka menyebutkan bahwa tujuan pertemuan itu guna menguatkan peran Islam dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Konflik yang berlangsung selama ini, semisal masalah pembangunan mesjid, perlakuan terhadap siswi muslim (berjilbab), juga tentang pelajaran agama Islam di sekolah dalam bahasa Jerman, hingga ke masalah pemisahan siswa-siswi dalam olahraga berenang, perlu dicarikan penyelesaiannya. Schäuble juga menambahkan bahwa pertemuan ini bukanlah dialog antar agama, namun dialog antara pemerintah dengan warganya (yang muslim).

Pertemuan di Berlin tersebut –konon lagi di bulan Ramadhan- sedikit banyak meredam semangat anti Islam di dunia Barat. Misalnya pernyataan yang keluar dari bibir Paus Benekditus XVI baru-baru ini, yang menuding Islam sebagai agama tidak rasional dan Nabi Muhammad sebagai tidak humanis. Walau belakangan sang Paus asal Jerman itu meminta maaf atas pernyataannya tersebut.

Diperkirakan sedikitnya saat ini ada sekitar 25 juta warga muslim tinggal di Eropa. Populasi terbesar berdiam di Perancis, yaitu sekitar 5 juta jiwa. Muslim Perancis kebanyakan berasal dari Afrika utara (didominasi Maroko dan Aljazair). Di Jerman, mayoritas muslim datang dari Turki. Sedangkan di Inggris umumnya dari Pakistan dan Bangladesh. Awalnya para pendatang itu tiba di Eropa sebagai tenaga kerja murah antara tahun 1950-1960. Akan tetapi kemudian mereka menetap dan belakangan membawa keluarganya ke Eropa. Adapun generasi saat ini bisa dikatakan sebagai generasi ketiga.

(Zulkarnain Jalil, dari Jerman, Serambinews (30/9).

Thursday, September 28, 2006

Putra Aceh Raih Award Peneliti Muda Terbaik di Jerman

Sebuah award (penghargaan) peneliti muda terbaik diberikan oleh Rheinisch-Westfä lischen Technischen Hochschule (RWTH) Aachen, Jerman kepada Dr.-Ing. Zulfiadi Zulhan. Pria kelahiran Matang Geulumpang Dua, Kab. Bireuen 28 Januari 1973 itu mendapat award Ludwig Bogdandy Preis 2006 atas hasil penelitiannya di bidang metalurgi yang dianggap orisinil dan inovatif serta berguna bagi masa depan. Menariknya, penghargaan ini untuk pertama kalinya dianugerahkan kepada peneliti selain warga Jerman. RWTH Aachen sendiri adalah sebuah perguruan tinggi teknik berkaliber di Jerman, tempat dimana Prof. B.J. Habibie – mantan Presiden Indonesia- pernah menimba ilmu.

Zulfiadi Zulhan lulus ujian doktor (Dr.-Ing.) di Institut für Eisenhüttenkunde (institut untuk ilmu peleburan besi) RWTH Aachen dengan predikat Summa Cumlaude Juni 2006 yang lalu. Disertasi yang bertema “Slag foaming dielectric arc furnace (EAF)“ ditulisnya dalam bahasa Jerman. Adapun perangkat riset untuk menyelidiki porositas permukaan partikel batu bara berikut dengan model matematika guna mengetahui prinsip dasar termodinamika dan kinetika material dirancangnya sendiri. Tak pelak hasil risetnya dilirik oleh kalangan industri pengolahan baja. Dan tak perlu menunggu lama, Siemens VAI, sebuah perusahaan Jerman yang bergerak di bidang konstruksi pabrik baja mengontraknya selama 3 tahun.

“Sebenarnya profesor saya yang menganjurkan agar mencari pengalaman di industri di Jerman sebelum kembali ke Indonesia,“ ujar Zulfiadi yang saat dikontak masih berada di Cina dalam rangka persiapan pabrik “Vacuum Tank Degasser” untuk menghasilkan baja kualitas tinggi.

“Selepas itu saya putuskan kembali ke kampung, mengajar dan meneliti di kampus. Mentransfer ilmu kepada mahasiswa“, imbuh pria yang juga dosen di jurusan Teknik Pertambangan, ITB Bandung dalam bahasa Aceh yang masih kental.

Selama mengerjakan penelitian disertasinya, alumnus SMA Negeri 1 Bireuen ini juga aktif dalam kegiatan pendidikan di RWTH. Misalnya memberikan praktikum dan responsi kepada mahasiswa Jerman. Selain itu ia juga menyelesaikan satu proyek penelitian kerjasama RWTH dengan ISPAT Ltd. India untuk mengoptimisasi proses pembuatan baja.

Ayahnya H. Zulkifli Hanafiah, yang membuka usaha percetakan di Matang Geulumpang Dua dan ibunya Hj. Zubaidah Abubakar (alm) adalah sosok yang berpengaruh dalam hidupnya.
“Saya awalnya mendapat dua beasiswa yaitu dari AUSAID (Australia) dan DAAD (Jerman) pada tahun 2001. Orang tua menganjurkan untuk mengambil di Jerman. Demikian juga saat ditawari menjadi dosen di ITB saya meminta pertimbangan keduanya”, ungkap pria yang menyelesaikan program masternya juga dengan predikat Cumlaude.

“Terima kasih kepada para guru, tanpa ilmu yang kau berikan tentulah keberhasilan ini hanya mimpi belaka. Hal ini juga membuktikan bahwa ilmu dari mereka bisa bersaing di dunia internasional,“ tukas pria yang menikahi Sri Yulis, teman sekelasnya semasa SMA di Bireuen menutup pembicaraan. Anugerah lainnya yang paling berkesan, di Aachen pula mereka memperoleh dua buah hati, Aulia Aghna dan Sybilla Syailannisa yang lahir kembar 29 Maret 2006 silam. (Zulkarnain Jalil, dari Jerman untuk Serambinews (28/9)