Dan, mimpi bangsa Afrika pun terwujud
Acara pembukaan yang diawali musik dan tari-tarian mewarnai Stadion Soccer City , Johannesburg tadi malam berlangsung memukau. Sayangnya, aneka atraksi pembukaan Piala Dunia 2010 yang ditonton jutaan pasang mata itu tak dihadiri oleh Nelson Mandela. Tokoh kharismatik Afsel itu tengah berduka usai tewasnya sang cicit Zenani Mandela dalam satu kecelakaan tragis Kamis kemarin. Acara pembukaan secara resmi pun hanya berlangsung dalam 30 menit yang berisi pagelaran musik dan tarian. Tak ada pidato yang panjang-panjang dan membosankan.
"Mimpi itu akhirnya terwujud hari ini," ujar bos FIFA Sepp Blatter penuh rasa bangga. Mimpi yang dimaksud adalah bahwa bangsa Afsel mampu menggelar even akbar sejagad itu. Akhirnya, Presiden Afsel Jacob Zuma tampil ke depan dan membuka secara resmi perhelatan empat tahunan tersebut. "Ini adalah Piala Dunia bagi seluruh rakyat benua Afrika," demikian Zuma dalam kata pembukanya.
Setelahnya, pertandingan perdana pun dimulai. Pertandingan Afsel vs Meksiko tadi malam mungkin adalah yang paling bising sepanjang sejarah pembukaan Piala Dunia. Betapa tidak, suara aneh mirip dengungan ribuan tawon yang sedang beterbangan terdengar sepanjang pertandingan. Sangat memekakkan telinga.
Ya itulah suara tiupan Vuvuzela, terompet plastik khas rakyat Afsel yang ditiup dengan memanfaatkan getaran bibir. Gabungan ribuan vuvuzela terdengar memekakkan telinga.
Sepanjang hari Jumat kemarin, suara vuvuzela juga membahana di sepanjang ruas jalan menuju stadion dan kawasan nobar yang tersebar di beberapa titik. Fans terlihat lumayan tertib. Bus dan kereta api cepat bagai tak henti, pulang pergi membawa para maniak bola. Kemacetan tidak begitu terlihat. Karena kebanyakan penonton memilih menggunakan transportasi umum ketimbang kenderaan pribadi. Beberapa helikopter terlihat meraung-raung di angkasa memantau keadaan.
Shalat Jumat dekat stadion
Hal menarik lainnya, khusus fans yang beragama Islam, juga mendapat servis memuaskan dari komunitas muslim setempat. Konon lagi kemarin bertepatan dengan hari Jumat. Komunitas muslim Johannesburg telah menyebarkan informasi via situs mereka samuslims2010.net, mengenai posisi mesjid dan mushalla yang berdekatan dengan lokasi stadion dan arena nobar untuk shalat Jumat.
“Saran kami tunaikan shalat Jumat terlebih dahulu, baru ke stadion. Tempat shalat lumayan luas dan dimulai tepat waktu. Di dalam stadion tidak ada fasilitas ruang shalat,” tukas Mohammed Haffejee, seorang muslim setempat yang menjadi panitia bagian keamanan.
Temapt shalat Jumat yang paling dekat dengan stadion, seperti tertera di situs, diadakan di musalla Corobrik, Mushalla yang terletak di Nasrec Road 85 adalah sebuah bangunan sederhana berdampingan dengan area parkir Shareworld Parking. Jaraknya sekitar 2 kilometer ke Stadion Soccer City . Karena fasilitas wudhu yang terbatas, jamaah diminta membawa botol berisi air masing-masing untuk keperluan wudhu. Begitulah. Bangsa Afsel berdiri tegak penuh rasa bangga. Waka Waka ! Saatnya untuk Afrika!
Friday, June 11, 2010
Thursday, June 10, 2010
Ke Nako! Johannesburg siap gelar pesta
Ke Nako! Waktunya telah tiba!. Istilah dalam bahasa Zulu ini, bahasa utama warga Afsel, terpampang di spanduk-spanduk raksasa di sepanjang jalan raya kota Johannesburg. Aroma Piala Dunia kini terasa begitu menyengat di kota Johannesburg. Bendera 32 kontestan berkibar di setiap ruas jalan. Tentu saja lebih didominasi oleh warna kuning, warna seragam timnas Afsel. Mobil-mobil berseleweran dengan bendera nasional Afsel. Bendera Afsel juga melambai-lambai di pertokoan, rumah-rumah penduduk yang sudah didekorasi sedemikian rupa. Suara vuvuzela, terompet khas Afsel, terdengar memekakkan telinga. Radio dan televisi saban hari terus menyiarkan musik-musik khas Afsel. Juga iklan-iklan Piala Dunia.
Pemerintah kota Joburg –sebutan untuk Johannesburg- menanti saat-saat jelang pembukaan dengan hati ketar-ketir. Terutama berkaitan dengan transportasi dan kemacetan. Patut diingat, di hari-hari biasa, kemacetan adalah pemandangan umum di Joburg. Pejabat bidang transportasi Propinsi Gauteng, Bheki Nkosi, telah mewanti-wanti para fans bola untuk hadir lebih awal ke stadion agar tak berimbas pada kemacetan.
"Hari Jumat akan ada pengerahan massa besar-besaran. Karena itu kami harapkan penonton untuk berangkat lebih awal, baik ke stadion maupun ke area nonton bareng. Ini untuk menghindari munculnya kemacetan yang parah," pesan Nkosi dalam selebaran yang disebar ke seluruh pojok kota.
Sebanyak 19 metrorail, sejenis tram, telah disiapkan untuk hari-H. Tram ini akan melayani tiga tempat utama yakni Stadion Soccer City, tempat kumpul fans Coca Cola Park dan Loftus. Sebanyak 149 bus yang tergabung dalam Bus Rapid Transit (BRT) –sejenis bus way- juga akan melayani rute yang sama. Tak ketinggalan ratusan taksi milik swasta ikut serta menyukseskan pembukaan nanti.
Amos Masondo, Walikota Johannesburg, memberi jaminan bahwa kotanya sudah sangat siap sebagai tuan rumah, akan menjamu dan melindungi para tamunya selama perhelatan nanti.
Pedagang dilarang jualan
Harapan para pedagang musiman, asongan dan pedagang kaki lima untuk meraih sedikit keuntungan selama turnamen, tampaknya bakal gigit jari. Pasalnya, para pedagang tak resmi dilarang membuka lapak di area seperti stadion, FIFA Fan Fest, dan arena nobar resmi lainnya. Padahal disanalah maniak bola banyak berkumpul. Lalu, memasuki detik-detik akhir jelang pembukaan, di beberapa sudut kota terlihat masih berantakan akibat adanya perbaikan jalan dan infrastruktur lainnya. Masalah penjualan tiket langsung juga masih menggayut.
Namun demikian, menurut beberapa pengamat bola, untuk ukuran negeri yang masih dibelit kemiskinan, pengangguran dan masalah sosial lainnya, apa yang telah dilakukan oleh panitia setempat adalah sebuah progres yang luar biasa. Sebagai negeri yang baru lepas dari politik perbedaan warna kulit (apartheid), satu langkah besar telah mereka tancap.
Sabtu pekan lalu, sebuah parade tahunan Pale Ya Rona digelar di Soweto, kota di selatan Johannesburg. Ribuan warga bergembira bersama di karnaval sepanjang 6 kilometer itu. Warga Afsel kulit putih dan hitam terlihat akrab. Tak ada perbedaan lagi. Turis asing tak ketinggalan ikut menonton. Inilah sepakbola, menyatukan warga Afsel di tengah segala perbedaan.
Akhirnya, mari lupakan sejenak semua persoalan sehari-hari yang membelit. Selama sebulan penuh, perhatian dunia akan tertuju ke Afrika Selatan, tempat hajatan akbar Piala Dunia 2010 dihelat. Ke Nako! Saatnya telah tiba! (zulkarnain jalil)
Ke Nako! Waktunya telah tiba!. Istilah dalam bahasa Zulu ini, bahasa utama warga Afsel, terpampang di spanduk-spanduk raksasa di sepanjang jalan raya kota Johannesburg. Aroma Piala Dunia kini terasa begitu menyengat di kota Johannesburg. Bendera 32 kontestan berkibar di setiap ruas jalan. Tentu saja lebih didominasi oleh warna kuning, warna seragam timnas Afsel. Mobil-mobil berseleweran dengan bendera nasional Afsel. Bendera Afsel juga melambai-lambai di pertokoan, rumah-rumah penduduk yang sudah didekorasi sedemikian rupa. Suara vuvuzela, terompet khas Afsel, terdengar memekakkan telinga. Radio dan televisi saban hari terus menyiarkan musik-musik khas Afsel. Juga iklan-iklan Piala Dunia.
Pemerintah kota Joburg –sebutan untuk Johannesburg- menanti saat-saat jelang pembukaan dengan hati ketar-ketir. Terutama berkaitan dengan transportasi dan kemacetan. Patut diingat, di hari-hari biasa, kemacetan adalah pemandangan umum di Joburg. Pejabat bidang transportasi Propinsi Gauteng, Bheki Nkosi, telah mewanti-wanti para fans bola untuk hadir lebih awal ke stadion agar tak berimbas pada kemacetan.
"Hari Jumat akan ada pengerahan massa besar-besaran. Karena itu kami harapkan penonton untuk berangkat lebih awal, baik ke stadion maupun ke area nonton bareng. Ini untuk menghindari munculnya kemacetan yang parah," pesan Nkosi dalam selebaran yang disebar ke seluruh pojok kota.
Sebanyak 19 metrorail, sejenis tram, telah disiapkan untuk hari-H. Tram ini akan melayani tiga tempat utama yakni Stadion Soccer City, tempat kumpul fans Coca Cola Park dan Loftus. Sebanyak 149 bus yang tergabung dalam Bus Rapid Transit (BRT) –sejenis bus way- juga akan melayani rute yang sama. Tak ketinggalan ratusan taksi milik swasta ikut serta menyukseskan pembukaan nanti.
Amos Masondo, Walikota Johannesburg, memberi jaminan bahwa kotanya sudah sangat siap sebagai tuan rumah, akan menjamu dan melindungi para tamunya selama perhelatan nanti.
Pedagang dilarang jualan
Harapan para pedagang musiman, asongan dan pedagang kaki lima untuk meraih sedikit keuntungan selama turnamen, tampaknya bakal gigit jari. Pasalnya, para pedagang tak resmi dilarang membuka lapak di area seperti stadion, FIFA Fan Fest, dan arena nobar resmi lainnya. Padahal disanalah maniak bola banyak berkumpul. Lalu, memasuki detik-detik akhir jelang pembukaan, di beberapa sudut kota terlihat masih berantakan akibat adanya perbaikan jalan dan infrastruktur lainnya. Masalah penjualan tiket langsung juga masih menggayut.
Namun demikian, menurut beberapa pengamat bola, untuk ukuran negeri yang masih dibelit kemiskinan, pengangguran dan masalah sosial lainnya, apa yang telah dilakukan oleh panitia setempat adalah sebuah progres yang luar biasa. Sebagai negeri yang baru lepas dari politik perbedaan warna kulit (apartheid), satu langkah besar telah mereka tancap.
Sabtu pekan lalu, sebuah parade tahunan Pale Ya Rona digelar di Soweto, kota di selatan Johannesburg. Ribuan warga bergembira bersama di karnaval sepanjang 6 kilometer itu. Warga Afsel kulit putih dan hitam terlihat akrab. Tak ada perbedaan lagi. Turis asing tak ketinggalan ikut menonton. Inilah sepakbola, menyatukan warga Afsel di tengah segala perbedaan.
Akhirnya, mari lupakan sejenak semua persoalan sehari-hari yang membelit. Selama sebulan penuh, perhatian dunia akan tertuju ke Afrika Selatan, tempat hajatan akbar Piala Dunia 2010 dihelat. Ke Nako! Saatnya telah tiba! (zulkarnain jalil)
Subscribe to:
Posts (Atom)