Ke Nako! Johannesburg siap gelar pesta
Ke Nako! Waktunya telah tiba!. Istilah dalam bahasa Zulu ini, bahasa utama warga Afsel, terpampang di spanduk-spanduk raksasa di sepanjang jalan raya kota Johannesburg. Aroma Piala Dunia kini terasa begitu menyengat di kota Johannesburg. Bendera 32 kontestan berkibar di setiap ruas jalan. Tentu saja lebih didominasi oleh warna kuning, warna seragam timnas Afsel. Mobil-mobil berseleweran dengan bendera nasional Afsel. Bendera Afsel juga melambai-lambai di pertokoan, rumah-rumah penduduk yang sudah didekorasi sedemikian rupa. Suara vuvuzela, terompet khas Afsel, terdengar memekakkan telinga. Radio dan televisi saban hari terus menyiarkan musik-musik khas Afsel. Juga iklan-iklan Piala Dunia.
Pemerintah kota Joburg –sebutan untuk Johannesburg- menanti saat-saat jelang pembukaan dengan hati ketar-ketir. Terutama berkaitan dengan transportasi dan kemacetan. Patut diingat, di hari-hari biasa, kemacetan adalah pemandangan umum di Joburg. Pejabat bidang transportasi Propinsi Gauteng, Bheki Nkosi, telah mewanti-wanti para fans bola untuk hadir lebih awal ke stadion agar tak berimbas pada kemacetan.
"Hari Jumat akan ada pengerahan massa besar-besaran. Karena itu kami harapkan penonton untuk berangkat lebih awal, baik ke stadion maupun ke area nonton bareng. Ini untuk menghindari munculnya kemacetan yang parah," pesan Nkosi dalam selebaran yang disebar ke seluruh pojok kota.
Sebanyak 19 metrorail, sejenis tram, telah disiapkan untuk hari-H. Tram ini akan melayani tiga tempat utama yakni Stadion Soccer City, tempat kumpul fans Coca Cola Park dan Loftus. Sebanyak 149 bus yang tergabung dalam Bus Rapid Transit (BRT) –sejenis bus way- juga akan melayani rute yang sama. Tak ketinggalan ratusan taksi milik swasta ikut serta menyukseskan pembukaan nanti.
Amos Masondo, Walikota Johannesburg, memberi jaminan bahwa kotanya sudah sangat siap sebagai tuan rumah, akan menjamu dan melindungi para tamunya selama perhelatan nanti.
Pedagang dilarang jualan
Harapan para pedagang musiman, asongan dan pedagang kaki lima untuk meraih sedikit keuntungan selama turnamen, tampaknya bakal gigit jari. Pasalnya, para pedagang tak resmi dilarang membuka lapak di area seperti stadion, FIFA Fan Fest, dan arena nobar resmi lainnya. Padahal disanalah maniak bola banyak berkumpul. Lalu, memasuki detik-detik akhir jelang pembukaan, di beberapa sudut kota terlihat masih berantakan akibat adanya perbaikan jalan dan infrastruktur lainnya. Masalah penjualan tiket langsung juga masih menggayut.
Namun demikian, menurut beberapa pengamat bola, untuk ukuran negeri yang masih dibelit kemiskinan, pengangguran dan masalah sosial lainnya, apa yang telah dilakukan oleh panitia setempat adalah sebuah progres yang luar biasa. Sebagai negeri yang baru lepas dari politik perbedaan warna kulit (apartheid), satu langkah besar telah mereka tancap.
Sabtu pekan lalu, sebuah parade tahunan Pale Ya Rona digelar di Soweto, kota di selatan Johannesburg. Ribuan warga bergembira bersama di karnaval sepanjang 6 kilometer itu. Warga Afsel kulit putih dan hitam terlihat akrab. Tak ada perbedaan lagi. Turis asing tak ketinggalan ikut menonton. Inilah sepakbola, menyatukan warga Afsel di tengah segala perbedaan.
Akhirnya, mari lupakan sejenak semua persoalan sehari-hari yang membelit. Selama sebulan penuh, perhatian dunia akan tertuju ke Afrika Selatan, tempat hajatan akbar Piala Dunia 2010 dihelat. Ke Nako! Saatnya telah tiba! (zulkarnain jalil)
No comments:
Post a Comment