Friday, July 14, 2006

Toor ! Pesta pun Dimulai

Pesta bagi penikmat sepakbola telah tiba. Ya, sore hari ini waktu setempat sekitar 66.000 penonton di FIFA World Cup Stadion München akan menjadi saksi dibukanya perhelatan akbar sebulan penuh melalui pertandingan pembuka antar Jerman melawan Kosta Rika.
Jutaan pendukung lainnya yang ada di Jerman akan menyaksikan melalui ribuan layar lebar. Belum lagi yang menonton melalui televisi di rumah-rumah. Sementara itu milyaran penduduk di belahan bumi lainnya juga tak kurang antusiasnya. Sihir sepakbola telah dimulai !

Ballack, Ronaldinho, Drogba, dan pemain-pemain kaliber lainnya sadar bahwa apa yang dilakukannya bukan sekedar urusan menendang bola. Tapi bagaimana menghibur ribuan penonton yang memadati Stadion München dan milyaran lainnya yang menonton melalui layar kaca. Sepak bola kini bukan lagi sekedar olah raga. Tapi telah menjelma menjadi hiburan, bahkan industri yang dapat menggerakkan roda perekonomian.

Sepak bola kini berubah wujud menjadi industri yang menggiurkan. Aspek bisnis tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan Piala Dunia. Dana trilyunan rupiah dapat diperoleh organisasi seperti FIFA dari kegiatan ini. Belum lagi Jerman sebagai negara penyelenggara.

Di luar itu, masyarakat di seluruh dunia banyak juga yang memperoleh keuntungan finansial. Katakanlah semisal penjual kaos, atribut tim, terompet, balon, aksesories dan berbagai macam pernak-pernik lainnya. Sepertinya produk yang “disentuh” sedikit saja dengan Piala Dunia bakal laku keras, Belum lagi terbukanya lapangan kerja baru yang begitu beragam. Sangat panjang untuk ditulis.

Seperti telah ditulis di harian ini, sepakbola adalah fenomena unik yang bisa mebuat siapapun terpana. 22 pemain mengejar sebuah bola di tengah lapangan dan ditonton milyaran orang, bisa memutar roda ekonomi, menghasilkan lapangan kerja baru, dan menambah teman baru. Kok bisa ?

Die Welt zu Gast bei Freunden, saatnya mencari teman adalah motto Piala Dunia kali ini. Hanya sepak bola barangkali yang bisa bikin semua bebas ngomong. Tak peduli dari kalangan mana berasal, suku, agama, ras, jenis kulit, jenis rambut, tua, muda, semua bebas ngomong tentang sepakbola. Ini bukan politik Bung !

Penyelenggaraan Piala Dunia kali memang sarat dengan masalah politik dan rasisme. Polemik boleh tidaknya Presiden Iran Ahmedinejad hadir di Jerman jadi headline dimana-mana. Terakhir kabarnya Ahmadinejad hanya akan mengirim pembantunya, sang wakil presiden.

Lalu masalah rasisme yang memuncak persis hanya beberapa pekan sebelum pembukaan, membuat suasana pengawalan menjadi begitu sangat ketat. Bahkan di perbatasan Jerman, kebijakan visa Schengen (bebas masuk bagi negara anggota Uni Eropa) terpaksa dibekukan sementara waktu. Belum lagi pengamanan untuk hooligans yang bikin Jerman minta tambahan bantuan polisi asing.

Ah, sudahlah mari lupakan sejenak persoalan itu. Kini mari fokuskan diri pada pertandingan pembuka Jerman melawan Kosta Rika. Pertandingan pembuka yang selalu bikin heboh. Ingat Piala Dunia 1990 dan 1998 ? Saat mana Argentina ditekuk Kamerun (1-0), lalu Perancis dibuat kaget oleh pendatang baru Senegal juga dengan skor 1-0, walau akhirnya Perancis jadi juara.
Masih belum lekang, Piala Dunia 2002 empat tahun silam saat tim-tim Asia membuat kejutan besar dengan menumbangkan tim-tim negara unggulan.

Ballack dkk musti hati-hati jika tidak ingin diterkam oleh anak-anak asuh Gumaraes. “Kaiser” Beckenbauer pun sampai perlu memompa semangat. "Singt und Siegt für Deutschland !“ (Ayo nyanyilah dan menangkan Jerman !).

Pukul 18.00 waktu Jerman saat lagu kedua negara selesai dialunkan, maka pesta pun dimulai. Tooor ! Selamat begadang. Zulkarnain Jalil, Serambinews (10/06/06)

No comments: