Neuchatel, rumah kedua timnas Portugal
Portugal adalah tim pertama yang lolos ke babak perempat final. Christiano Ronaldo dkk mendedikasikan hasil manis itu buat penduduk Neuchatel, Swiss. Lho?
Ya bisa dimaklumi, karena Neuchatel merupakan markas tim Portugal selama berada di Swiss. Kota Neuchatel belakangan ini memang benar-benar heboh. Tiap ada latihan, stadion Stade de la Maladiere selalu membludak. Sedikitnya 12.000 fans hadir disana. Sedangkan kapasitas stadion untuk 10.000 penonton. Jadi kebahagiaan turut dirasakan warga Neuchatel.
Padahal untuk bisa nonton latihan nusti beli tiket masuk seharga 15 Franc Swiss (sekitar 135 ribu rupiah). Menariknya lagi para calo pun ikut mengais rezeki di sini. Mendadak harga tiket melonjak. Tapi tetap tak mengurangi minat maniak bola di kota kecil yang terletak di sebelah barat Swiss itu. Tak masalah bayar. Yang penting bisa lihat bintang pujaan latihan. Kapan lagi. Begitu ujar mereka.
Bagi tim Portugal sendiri Neuchatel ibarat rumah kedua. Bisa dibilang persis seperti di kampung sendiri. Nuansa Portugal sangat kental disana. Soalnya lebih dari 10.000 warga Portugal hidup di sana. Bar dan restorannya kental dengan warna kebanggaan Selecao. Musik khas Portugis pun nyaring terdengar di kawasan itu. Di balkon-balkon rumah telihat juga dipasangi bendera Portugal. Di salah satu kios misalnya, setiap orang yang datang selalu menyapa sang kasir dengan bahasa Portugis.
”Nuansanya sangat spesial, seperti di rumah sendiri. Kami akan balas dengan permainan terbaik,” tukas pemain tengah Joao Moutinho. ”Wow, seperti di Portugal saja,” aku Nuno Gomes kagum.
Suasana di arena training pun persis seperti pertandingan benaran. Sebelum latihan dimulai, ada acara menyanyikan lagu nasional. Penonton mengenakan kaos, topi, syal lengkap dengan aneka asesories, plus muka yang dicat warna bendera Portugal. Lambaian bendera dan teriakan yel-yel penyemangat makin menghangatkan suasana latihan. Anak-anak asuh Luiz Felipe Scolari pun seakan tersengat dengan sambutan itu. Mereka menunjukkan atraksi mengolah si kulit bundar, bak seorang pemain sirkus. Tepuk tangan spontan menggema ditingkahi suitan yang membahana.
Latihan rampung. Selesai? Tidak. Para penonton keluar stadion dan melakukan konvoi di jalan raya. Melambai-lambaikan bendera, mobil juga dipasangi bendera. Klakson dibunyikan tak henti-henti hingga memekakkan telinga. Pertandingan belum dimulai. Tapi pendukung Deco merayakan seperti barusan memenangi pertandingan. Bukan main.
Kota kecil berpenduduk 32.000 jiwa ini terletak di sebelah barat Swiss, berbatasan dengan Perancis hingga mayoritas warganya berbahasa Perancis."Kami masih merasa sebagai bangsa Portugis. Dan kami bangga punya tim terbaik di dunia,” ujar seorang pekerja di sana.
No comments:
Post a Comment