Tuesday, November 03, 2009
Mie Aceh sudah dikenal dimana-mana. Itu pasti. Tapi mie yang satu ini bukanlah sembarang mie. Mie Neodles namanya. Mie jenis baru ini diyakini sangat bermanfaat bagi penderita diabetes atau dikenal dengan penyakit kencing manis. “Mie Neodles sangat cocok untuk pengidap diabetes dan juga obesitas (kelebihan berat badan –red),” papar Saifullah Ramli, M.Sc, sang penemu yang juga kandidat doktor bidang Teknologi Makanan di University Sains Malaysia (USM), Penang .
"Istilah Neodles berasal dari dua padanan kata Inggris yakni new (baru) dan noodles (mie). Jadi Neodles berarti mie jenis baru. Nama ini adalah murni ide dari saya sendiri, " imbuh pria kelahiran Bayu, Aceh Besar 10 Desember 1960. Produk Neodle ini telah mendapat award "PECIPTA 2009" dari Kementrian Pendidikan Tinggi Malaysia dalam sebuah acara yang berlangsung di Kuala Lumpur Convention Center pada 8-10 Oktober 2009 yang lalu.
”Alhamdulillah, direncanakan Neodles ini akan diproduksi secara komersial sekitar Februari 2010 di Malaysia,” kata Saifullah lagi. Saifullah menceritakan temuannya itu berawal saat ia melakukan riset tentang pemanfaatan tepung pisang (pisang cavendish dan barangan) di USM.
”Saya menganalisa physicochemical dari buah pisang (pulp) dan kulit pisang (peel). Ternyata kandungan fiber(serat) dalam buah pisang sangat tinggi. Karena kandungan fiber tinggi, lalu saya menganalisis kandungan GI (Glycemix Index) secara enzymatis dan ternyata GI yang dihasilkan relatif rendah. Patut diketahui, setiap bahan makanan yang memiliki GI rendah dapat berpotensi untuk memperlambat proses pelepasan glukosa (gula) dari karbohidrat ke dalam aliran darah manusia. Sehingga kadar gula dalam darah menjadi lebih rendah. Nah ini sangat cocok untuk orang yang menderita gula darah tinggi dan juga bagi penderita obesitas,” papar dosen Teknik Kimia Unsyiah itu yang beberapa kali sempat muncul di televisi Malaysia.
Segera dipasarkan
Temuan mie jenis baru itu kontan saja menarik minat para pengusaha Malaysia untuk berinvestasi. Setidaknya hal tersebut mencuat kala konferensi pers antara tim peneliti USM yang dipimpin Prof. Azhar Mat Easa dengan media cetak dan elektronik pada 28 Oktober pekan lalu di Fakultas Teknologi Industria (PPTI), Universiti Sains Malaysia.
”Saat ini kami sedang dalam proses akhir perbincangan dengan beberapa pihak tertentu untuk tujuan produksi masal. Tak hanya dalam bentuk mie, neodles juga bisa diproduksi dalam bentuk tepung mentah untuk tujuan eksport. Produk yang murni menggunakan kandungan lokal ini diperkirakan Februari tahun depan akan berada di pasaran dalam kemasan 200 gram dan dijual dengan harga 2 hingga 2,5 Ringgit (sekitar Rp. 7000,- ),” ungkap Azhar kepada pers, seperti dikutip dari kantor berita Malaysia Bernama.
Azhar yang didampingi anggota tim risetnya yakni Saifullah Ramli, Yeoh Shin Yong dan Dr. Abbad F.M Alkarkhi juga menyebut bahwa untuk penelitian tersebut dia mendapat kucuran dana riset dari Kementerian Sains, Teknologi dan Inovasi (MOSTI) Malaysia bernilai RM900.000 (sekitar 2,5 milyar rupiah). Halnya dengan Saifullah, dia mulai meneliti di USM sejak Januari 2008 dan kini telah menghasilkan 8 buah publikasi di jurnal international.
Industri tepung pisang
“Saya berencana setelah selesai S3 pulang ke Aceh dan membuka usaha industri tepung pisang instan. Para petani pisang patut kita berdayakan. Jika perlu kita satukan mereka dalam satu wadah sejenis koperasi atau apapun namanya. Kita bina agar bersemangat dan mau memanfaatkan lahan-lahan kosong untuk menanam pokok pisang. Hasilnya kita beli dan kita jadikan tepung pisang," papar Saiful bersemangat.
"Jika memungkinkan kita cari jalur untuk ekspor. Saya sudah mendapatkan jaringan international ekspor-import buah pisang. Buah pisang kalau dijadikan tepung pisang maka lebih awet dan tahan lama. Tepung pisang dapat dijadikan sebagai untuk bahan baku membuat roti, kue dan segala macam olahan makanan lainnya. Selama ini yang kita kenal kan tepung gandum atau tepung beras," tutur ayah empat anak itu lagi.
Tak ada dukungan dalam negeri
Saifullah memang identik dengan ide-ide kreatif. Misalnya saja, pria bersahaja ini tahun 1996 silam pernah menerima penghargaan sebagai pemakalah terbaik untuk risetnya mengenai "Pembuatan Bubuk Santan Instan" dalam sebuah seminar yang disuport HEDS-JICA di Padang. Dia pernah merasakan getirnya mengurus hak paten.
”Waktu itu di Indonesia belum ada produk santan instan di pasaran. Saya pernah mengurus hak patennya. Tapi akhirnya tidak berhasil, karena rumitnya birokrasi dan juga tak ada dukungan yang memadai,” keluh Saifullah, yang mengaku waktu itu tidak mendapatkan suport, baik dari institusi ataupun pemda setempat.
“Beberapa tahun kemudian, produk santan instan ini mulai muncul di pasaran. Ceritanya, setelah artikel saya dipublikasi oleh ITB Bandung, banyak surat datang ke saya dan meminta informasi pembuatan santan instan tersebut. Kebanyakan adalah dari pengusaha di Jakarta, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan,” papar suami Cut Suzanna itu mengenang.
Koleganya di Unsyiah tentu saja menyambut antusias temuan mie neodles Saifullah itu. “Keberhasilan Pak Saifullah menghasilkan penelitian yang dapat dipatenkan dan dikomersialkan dalam skala industri patut kita sambut gembira. Hal ini tentu saja akan memberikan dorongan rekan-rekan lain untuk dapat mencapai hal yang sama. Dan, tentu saja dukungan dana riset dari dalam negeri harus memadai. Saya yakin hasil-hasil riset peneliti kita banyak yang bisa dijadikan produk komersil,” ujar Dr. Saiful Sulun, salah seorang dosen dan peneliti di FMIPA Unsyiah.
Tampaknya institusi akademik di Aceh perlu bersinergi dengan dinas atau instansi riset terkait untuk mendukung upaya seperti disitir Saiful. Dan, dukungan pemerintah daerah juga tak bisa dipandang remeh sehingga hasil riset aneuk nanggroe bisa memberi kesejahteraan bagi rakyat banyak. Bukan justru dinikmati oleh negeri tetangga. Begitulah. (Zulkarnain Jalil).
Wednesday, September 23, 2009
muslim Italia tetap ceria di hari lebaran
Minoritas muslim Italia, di tengah derasnya kampanye anti Islam yang dihembuskan oleh kelompok politisi sayap kanan, tetap menikmati suasana Idul Fitri 1430 H yang berlangsung beberapa hari yang lalu. Misalnya di Milan, nuansa kekeluargaan sangat jelas terasa. Seperti dilansir Islamonline.net (22/9), ratusan jamaah berdesak-desakan memenuhi aula gedung Islamic Center di Milan yang memang memiliki daya tampung sangat terbatas.
“Kendati diterpa berbagai kesulitan, umat Islam di Milan tetap menikmati suasana Idul Fitri tahun ini,” sebut Ali Abu Shwaima, Direktur Islamic Center Milan. “Lebaran adalah hari istimewa. Jadi kami tak mau melewati suasana bahagia ini begitu saja. Anak-anak kami terutamanya harus melewati hari-hari suci ini dengan riang. Segala kesulitan dan tantangan hidup harus dilewati dengan hati tenang. Tak ada yang perlu disedihkan di hari ini,” imbuh Abu Shwaima lagi.
Idul Fitri di Italia dan Eropa umumnya, berlangsung hari Minggu 20 September. Selepas shalat Id, jamaah terlihat saling bersalam-salaman dan dilanjutkan suguhan aneka hiburan islami sembari menikmati hidangan khas ala kadarnya.
Acara berlangsung meriah dan jamaah tak ada yang tergesa-gesa untuk meninggalkan arena shalat. Sebab, secara kebetulan, Idul Fitri berlangsung pada hari libur. Jika saja terjadi pada hari-hari kerja, maka dapat dipastikan sebagian besar jamaah bersegera berangkat ke kantor. Begitu pula dengan mahasiswa menuju ke kampus masing-masing. Karena -seperti negara-negara di Eropa lainnya terkecuali Austria- tak ada libur khusus bagi umat Islam.
Seperti halnya di tanah air, muslim Italia juga saling bersilaturahmi antara sesama keluarga dekat, karib kerabat dan teman sejawat. Anak-anak mengenakan pakaian terbaru mereka dan saling bertukar kado hadiah lebaran. Sebagaiannya ada juga yang berkumpul di taman-taman dan tempat-tempat lainnya.
Jamaah membludak
Patut diketahui, jauh sebelum lebaran, umat Islam di Milan telah merencanakan untuk melaksanakan shalat Id di lapangan terbuka. Sebab ruangan Islamic Center sangat terbatas, sementara jumlah jamaah shalat membludak.
Kantor Walikota Milan menolak proposal yang diajukan otoritas muslim setempat. Proposal itu berisi permohonan untuk menggunakan gedung olahraga kota mode itu untuk dijadikan arena shalat Id. Gedung itu lumayan besar hingga mampu menampung jamaah dalam jumlah besar.
Pemda Milan beralasan gedung tersebut, pada hari yang sama, telah dibooking untuk rapat oleh sebuah partai politik lokal. Menyikapi hal itu, selanjutnya pimpinan muslim beralih ke sebuah ruangan terbuka milik sebuah bar.
"Namun rencana itu tidak jadi, sebab dari ramalan cuaca diprediksi bakal turun hujan,” kata Abu Shwaima. Menghadapi semua halangan ini, akhirnya otoritas muslim Milan memutuskan mengadakan shalat Id di gedung Islamic Center. "Kami tak punya pilihan lain. Satu-satunya ya Islamic Center ini. Walau kapasitasnya terbatas, kami akan memanfaatkan setiap inci ruangan ini untuk mengakomodasi jamaah yang melimpah" tukas Abu Shwaima.
Masa-masa sulit
Sejak Silvio Berlusconi memimpin Italia, umat Islam di sana menghadapi sedikit tantangan. Pasalnya, partai pimpinan PM Italia itu berkoalisi dengan Northern League (NL), sebuah partai sayap kanan bergaris keras. “Sekitar 18 bulan ini, sejak NL bergabung dengan partai pemerintah, kami mendapat halangan yang cukup berarti. Diantaranya, ditolaknya pembangunan mesjid yang representatif bagi kegiatan harian, begitu juga dengan larangan perayaan hari-hari besar Islam,” cerita Abu Shwaima.
Jumlah warga muslim di Milan diprediksi ada sekitar 100.000 jiwa. Namun hingga kini mereka masih berpindah-pindah tempat shalat karena belum memiliki tempat tetap (baca: mesjid) untuk shalat. Selama hampir dua tahun mereka berganti tempat. Misalnya, mereka pernah menyewa ruangan olahraga, lalu kamar di sebuah gedung sepakbola. Saat shalat Jumat misalnya, saking sempitnya, jamaah meluber. Hingga sebagiannya shalat di luar ruangan. Berdesak-desakan di atas paving blok
Bulan lalu, otoritas muslim Milan sempat berencana menyewa sebuah aula khusus untuk shalat Jumat. Namun batal sebab biaya sewa mencekik leher. Mereka musti bayar 5.000 Euro per hari hanya untuk shalat Jumat saja!
Disamping biaya sewa yang mahal, upaya itu juga ditentang oleh pihak Northern League. Patut dicatat, Northern League sejak lama dikenal dengan paham rasisme yang dibawanya. Partai garis keras ini bahkan sering disebut sebagai BNP-nya Italia. BNP atau British National Party adalah sebuah partai nasionalis sayap kanan di Inggris, yang juga kerap menentang aspirasi umat Islam di negeri Ratu Elizabeth itu.
Isu-isu negatif
Dalam setiap kampanye pemilu baru lalu, mereka kerap menyuarakan isu-isu negatif berkait dengan imigran asing misalnya aksi kriminal, imigran illegal, ekonomi dan budaya yang dibawa para imigran yang dianggap mereka merusak budaya tempatan.
Bahkan, guna meraih simpati massa, NL ini mengidentikkan dirinya sebagai penjaga agama Kristen.Misi yang mulai berjalan sejak pemerintahan baru terbentuk Mei 2008 silam itu tergolong berhasil. Buktinya mereka sukses menggagalkan rencana pendirian sebuah mesjid di utara kota Verona. Bahkan September 2008 silam, NL girang dengan suksesnya kampanye mereka untuk menghentikan pembangunan mesjid di kota Bologna.
Tahun lalu, pemimpin tertinggi NL Mario Borghezio, dalam sebuah pidato di sebuah gereja di kota Genoa meneriakkan slogan-slogan anti-Islam.
Menurut catatan Wikipedia, sejarah Islam di Italia sebenarnya telah bermula sejak abad ke-9 tatkala terjadinya ekspansi negara-negara Afrika Utara yang menguasai Sisilia dan beberapa negara bagian lainnya di semenanjung Italia. Dari tahun 828 hingga 1300 Masehi muslim menguasai kawasan tersebut. Setelah itu, mengutip Wikipedia, hingga tahun 1970-an pengaruh Islam seakan hilang di Italia.
Di awal 1970-an, imigran muslim asal Somalia pertamakali mulai menginjak tanah Italia. Diikuti muslim Albania. Selanjutnya mulailah berdatangan secara berombongan dari Maroko, Mesir dan Tunisia. Awalnya mereka datang untuk membangun Italia dari kehancuran pasca Perang Dunia II.
Kini, kendati Islam tidak secara resmi diterima oleh pemerintah Italia, namun Islam menjadi agama terbesar kedua setelah Katolik. Populasi warga muslim saat ini, menurut catatan badan statistik Italia tahun 2005, tercatat ada sekitar 2,4 juta jiwa. 50.000 diantaranya adalah muallaf asli Italia. Menariknya, menurut catatan pemerintah, hampir 40% imigran Italia adalah illegal. Hal ini, tentu saja, jadi santapan empuk kampanye anti imigran yang disuarakan kalangan sayap kanan seumpama Northern League. Berkaitan dengan keberadaan mesjid, mereka beralasan bahwa orang Islam bisa shalat “di mana saja” dan tak perlu ada mesjid. Begitulah. Wallahu a’lam bisshawab. (Zulkarnain Jalil).
Thursday, September 17, 2009
Satu ketika di hari Jumat, jarum jam menunjukkan pukul 10 pagi jelang masuknya waktu shalat, seorang pemuda Cina tampak mendekati mesjid agung Beijing, China. Jang nama pemuda itu, berdiri sejenak persis di pintu gerbang masuk mesjid. Dia terlihat seperti ragu-ragu untuk melangkahkan kakinya lebih lanjut. Matanya tertumpu pada tulisan yang tergantung di gerbang, yang berbunyi “Muslims Only". Tanda peringatan itu ditulis dalam tiga bahasa, Cina, Inggris dan Arab.
Di tengah keragu-raguan itu, dia akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam mesjid. Batinnya seakan membawa sebuah beban berat.
"Ada yang kami bantu?" tanya imam mesjid ramah. "Saya mau menjadi seorang muslim, Pak," sahut Jang dengan nada bergetar. Sang imam tersenyum penuh simpatik. Lalu dia mengajak Jang masuk ke dalam ruangan kantor yang terletak menyatu dengan mesjid.
Lalu pengurus mesjid memberi Jang tiga buah brosur tentang Islam, agar dia sedikit paham sebelum memeluk Islam. Tapi serta merta mereka sangat terkejut ketika Jang memberitahukan bahwa dia tidak butuh brosur. Bahkan, kata Jang, dia telah mempelajari Islam dengan membaca bermacam buku.
Guna meyakinkan para pengurus mesjid, Jang mengajak mereka diskusi tentang apa saja yang telah diketahuinya. Alhasil, salah seorang pengurus menghampirinya dan melafalkan dua kalimah syahadah. Serta merta Jang pun mengikuti petunjuk sang imam.
Awalnya karena babi
Jang, yang kini telah menjadi mualaf mengganti namanya menjadi Salim. Lalu dia menceritakan kisah perjalanannya mencari Islam.
"Semuanya bermula dari masalah babi," kata dia sembari tersenyum. Sebagaimana diketahui Islam melarang para penganutnya untuk mengkonsumsi babi. Jang heran dan ingin tahu lebih detail kenapa babi dilarang dalam Islam.
"Saya lalu mempelajari hal itu dengan serius. Berbagai majalah kesehatan, demikian juga aneka rupa buku saya cari untuk mencari jawabnya," kisah Jang.
Dari hasil studi itu, diketahui bahwa babi merupakan hewan omnivora atau hewan pemakan segala jenis makanan. Tidak seperti sapi atau kambing yang hanya makan jenis tetumbuhan saja.
Beberapa peneliti juga menyebutkan bahwa makan babi dapat menyebabkan tidak kurang dari tujuh puluh macam jenis penyakit berbeda. Jang makin yakin Islam adalah agama yang benar.
"Bahkan saya juga menemukan hal yang sama di dalam pengobatan tradisonal Cina. Di sana disebutkan babi sangat tdak dianjurkan dijadikan sebagai makanan dan begitu pula mengolahnya menjadi sbahan baku produk-produk seperti kesehatan, kosmetik dan lainnya sangat dilarang," sebut Salim.
Berdasarkan data sejarah, Islam datang ke Cina melalui perantaraan pedagang muslim di era Dinasti Tang, sekitar 1300 tahun silam. Namun ada juga sejarah yang tergolong sahih menyebut bahwa Islam dibawa oleh sahabat Nabi Muhammad bernama Saad bin Abi Waqqas. Saat ini komunitas umat Islam di Cina ada sekitar 30 juta jiwa. Mereka sebagian besar berdiam di kawasan Xinjiang, Ningxia, dan Kashgar. Walahu alam bisshawab. (Zulkarnain Jalil/Islamonline).
Bagi kita di tanah air, barangkali tak asing lagi dengan tradisi musik keliling khas sahur di beberapa kota, umumnya di Pulau Jawa guna membangunkan warga bersahur. Nah, ternyata aksi unik ini juga ada di Brooklyn, Amerika Serikat. Di kawasan ini umumnya bermukim imigran asal Pakistan. Salah satu warganya, Muhammad Boota namanya, kerap keliling kota menjelang sahur lengkap dengan seperangkat alat musik dan pakaian khasnya.
Saban malam, persis beberapa jam sebelum sahur tiba, Muhammad Boota bersegera bangkit dari tidurnya. Lalu mengenakan busana tradisional ala Pakistan, meraih alat musik drum, selanjutnya mengendarai mobilnya menyusuri jalanan Brooklyn di New York. Tujuannya adalah membangunkan warga muslim yang bermukim di sekitar kawasan itu untuk sahur. “Mereka selalu menunggu kedatanganku,” kata imigran berdarah Pakistan itu kepada New York Times dan dikutip Islamonline (13/9).
Tradisi keluarga
Itulah kegiatan rutin Muhammad selama bulan puasa. Dia berkeliling jelang sahur dengan musik dan busana khasnya. Di kala istrinya, Mumtaz menyiapkan makan sahur, Muhammad dengan setia berkeliling sepanjang Coney Island Avenue, tempat dia tinggal.
Rute perjalanannya seakan sudah terjadwal dengan rapi. Mula-mula dia singgah di Bismillah Food, sebuah toko kelontong kecil milik seorang muslim Pakistan. Selepas mengucapkan salam, Muhammad pun berdiri di depan toko, menghidupkan lampu yang dibawanya, dan mulai memainkan drumnya. Lalu Muhammad melanjutkan perjalanan hingga ke pelosok kota yang ada warga Islamnya.”Irama musiknya sangat khas hingga semua warga muslim disitu hapal dengannya,” ujar salah seorang warga.
Bagi Muhammad, yang pindah ke AS tahun 1992 silam, keliling dengan memainkan drum sebelum sahur bukan cuma tradisi selama Ramadan. Tapi juga sudah jadi tradisi keluarganya.
Generasi ke-7
Patut dicatat, dia merupakan generasi ke-7 di Pakistan yang menjalankan tradisi unik jelang sahur dengan musik khas itu. Bahkan saat ini dia sedang menyiapkan anak laki-laki tertuanya, Sher. Sher yang telah berusia 20 tahun sering diajak turut serta kala keliling Brooklyn.
Muhammad sendiri telah menjalankan tradisi itu sejak 2002. ”Tak semua warga senang dengan caraku ini,” kata dia saat ditanya respon warga setempat. ”Banyak juga yang komplain. Bahkan ada yang menghardik. Ada apa ini? Apa yang kamu kerjakan di tengah malam begini? Bahkan ada warga yang meneriakiku lalu menelpon polisi. Ya, mereka tidak tahu ini bulan Ramadan,” imbuh Muhammad lagi. Saban tahun, seperti diakuinya, tiap Ramadan, ada saja para tetangga yang melarangnya untuk melewati kawasan itu.
Akhirnya Muhammad membatasi kegiatan tersebut hanya bagi warga muslim di kawasan Coney Island Avenue , tempat dimana mayoritas imigran Pakistan bermukim.
Agar tetangga yang non-muslim tak terganggu, dia mengurangi volume suara musik dan memainkan drum hanya sekitar 15 hingga 20 detik di tiap lokasi. “Ya, aku cuma bangunin warga Pakistan saja supaya yang lain tidak terganggu,” kata dia menutup perbincangan.
Pakistan parade
Komunitas Pakistan di Brooklyn boleh dikatakan sangat menyolok. Terutama di wilayah Coney Island Avenue . Kawasan itu bahkan sering dijuluki sebagai Little Pakistan. Di sana kita bias temukan segala macam rupa pernak pernik ala Pakistan . Dari musik, pakaian, pendidikan hingga perayaan hari besar dan karnaval.
Pakistan Day Parade (PDP) di New York dan Pakistan Day Mela (PDM) di Brooklyn adalah dua even besar yang sangat ditunggu-tunggu disana. Biasanya digelar pada bulan Agustus tiap tahunnya. Acara PDP diwarnai oleh aneka rupa seni budaya Pakistan di era 80-an sementara PDM tahun-tahun setelahnya.
Ada sekitar 30.000 jiwa warga Pakistan tinggal di Coney Islam Avenue . Kawasan itu juga dikenal dengan sebutan CIA (singkatan dari Coney Island Avenue ). Kebanyakan mereka (hampir 90%) tinggal di sana dengan menyewa apartemen atau sejenis rumah susun kalau di kita. Hanya beberapa dari kalangan pendahulu yang memiliki rumah sendiri. Hingga sebagian besar apartemen di situ penghuninya adalah kental dengan wajah Pakistan .
Kini telah banyak perubahan yang terjadi disana, terutama pasca kejadian aksi teror 9/11. Banyak warga Pakistan yang eksodus selepas meningkatnya investigasi FBI. Ada yang menduga mereka pindah ke Kanada, sebagian besar malah balik ke Pakistan . Begitupun, banyak pula yang tetap bertahan dan tentu saja kehidupan ala Pakistan tetap tak berubah hingga kini.Begitulah. (Zulkarnain Jalil).
Thursday, September 10, 2009
Cahaya Islam makin bersinar saja di Perancis. Konon lagi di bulan suci Ramadhan ini. Aneka kegiatan digelar. Dari buka bersama -yang turut mengundang kalangan non-muslim-, shalat tarawih, tadarus, hingga kampanye makanan dan minuman halal. Baru-baru ini warga Perancis dikejutkan oleh munculnya tayangan iklan halal di beberapa stasiun televisi swasta. Tayangan iklan makanan dan minuman halal di negeri mode dunia itu sungguh bak sebuah ”hadiah” bagi muslim Perancis di bulan suci Ramadhan tahun ini. Iklan makanan khusus untuk warga muslim bukanlah iklan yang lazim di benua Eropa yang menganut paham sekuler.
Halal, yes!
Seperti dilansir harian online Telegraph, penayangan iklan yang baru pertama kali di di negeri yang pernah melarang penggunaan jilbab itu telah membuat sekitar lima juta warga muslim di Perancis lega. Betapa tidak, selama ini mereka musti ekstra hati-hati dalam membeli makanan. Jika ingin aman musti ke toko makanan halal yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Kini, otomatis mereka akan dengan mudah mendapatkan makanan halal di pusat-pusat perbelanjaan terdekat. Sebelumnya, iklan-iklan makanan halal hanya bisa disaksikan di saluran televisi Arab.
Iklan halal itu muncul sejak 17 Agustus silam di saluran televisi TFI, salah satu TV swasta terkenal Perancis, begitu pula di saluran M6 dan beberapa televisi lokal lainnya. Dalam tayangan diperlihatkan sekelompok muslim kelas menengah Perancis mengantri di sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli Zakia Halal, sebuah merek makanan, untuk sajian berbuka.
Dalam tayangan digambarkan sepasang suami isteri sedang mendorong kereta belanja yang penuh dengan barang belanjaan sembari berujar: "Yes, yes, we eat halal" (Ya, ya, kami makan yang halal). "Halal? Yes, Zakia halal," imbuh sang istri sumringah.
Bisnis menggiurkan
Nilai bisnis makanan halal memang mengiurkan. Catat saja, saat ini ada sekitar 400 jenis produk makanan dan minuman halal yang dipasarkan di berbagai supermarket di seluruh Perancis. Sedikitnya 260 ribu poundsterling (sekitar 2,7 milyar rupiah) bisa diraup dari pasar halal ini per hari dan diperkirakan akan terus tumbuh hingga 15 persen per tahunnya. Mengutip studi yang dilakukan Solis, sebuah biro penelitian lokal, hampir 94 persen warga muslim di Perancis adalah konsumen produk-produk halal.
Beberapa pekan sebelumnya sebuah papan reklame produk makanan halal bermerk Isla Delice menyeruak di antara aneka papan reklame lainnya di sela-sela pusat keramaian Champs-Elysees, sebuah kawasan wisat terkenal di Paris.
Beragam reaksi dari kalangan muslim Perancis pun bermunculan. Sebagian besar dari mereka terkejut dan tak percaya. "Baru kali ini saya lihat ada begitu banyak warga Arab di iklan televisi. Sepertinya ini tanda-tanda Arab (baca: Islam) memberi warna baru dalam perekonomian Perancis," tulis seorang pembaca di website muslim Perancis Bladi.net.
"Selama bertahun-tahun produk makanan halal sangat terbatas dan hanya ada di pasar tradisional milik orang Arab. Namun sejak sepuluh tahun silam, sejumlah perusahaan retail mulai menawarkan beberapa produk halal. Sejumlah pengusaha melirik pasar yang menggiurkan dengan meningkatnya jumlah konsumen dari generasi kedua dan ketiga imigran muslim," kata Abbas Bendali, Direktur Solis.
Investor berlomba
Tentu saja setiap konsumen punya beragam keperluan akan produk-produk halal. Hal ini berakibat pada meningkatnya permintaan produk tertentu. Misalnya produk makanan berbagai merek seperti Maggi, Herta, Fleury Michon, Panzani, dan lainnya yang kini diperdagangkan di banyak supermarket dengan label halal. Menariknya, pasca booming produk halal, para investor kini malah melirik produk rumah tangga lainnya -selain makanan dan minuman- untuk memenuhi kebutuhan kaum muslimin Perancis.
"Pangsa pasar warga muslim di outlet kami mencapai 20 persen. Bahkan diprediksi akan terus meningkat. Sebagian besar mencari produk-produk halal,” kata Stéphane Renaud, seorang produsen produk rumah tangga yang membuka outletnya di kawasan Auchan.
Muslim Perancis memang terkenal dengan aneka sensasinya. Dari demo menentang pelarangan jilbab, penggunaan Burkini, yakni sejenis baju renang yang khusus dirancang bagi muslimah, dan yang terkini adalah iklan halal. Hanya saja untuk kasus iklan produk halal tidak sampai memunculkan kontroversi. Pemerintah adem-adem saja. Bisa jadi karena nilai ekonomi yang didapat dari bisnis halal sangat menjanjikan.
Perancis merupakan negara dengan komunitas muslim terbesar di Eropa. Saat ini, menurut catatan tak resmi, ada sekitar 7 juta warga muslim bermukim di negeri Napoleon Bonaparte itu. Sebagian besar merupakan imigran asal Afrika Utara (Maroko, Aljazair, Tunisia) dan Turki. Gelombang kedatangan pertama sekitar tahun 70-an guna membantu Perancis pasca Perang Dunia II. Imigran muslim saat ini adalah generasi kedua dan ketiga yang lebih moderat dan telah membaur dengan warga setempat. Begitulah. (zulkarnain jalil).
Suhu udara di Jerman selama bulan Agustus terasa menyengat. Rata-rata sekitar 30 derajat Celcius. Bisa dimaklumi karena masih berlangsung musim panas. Sementara itu Liga Jerman atau dikenal dengan Bundesliga baru saja bergulir. Pada saat yang sama Ramadhan pun datang menyapa. Tentu sebuah dilema bagi para pemain beragama Islam selama liga berlangsung. Satu sisi menjalankan perintah agama, sisi lain kondisi tubuh musti tetap fit agar tim yang dibelanya bisa bersaing di papan atas. Mendahulukan keyakinan atau kesehatan?
Ritme ramadhan
“Ritme hidup di bulan Ramadhan seperti ini sudah biasa buat aku. Tak ada masalah. Selama puasa aku selalu bangun pukul 3.30 untuk makan sahur,“ tutur Jauhar Mnari, pemain FC. Nuermberg. Mnari yang asli Tunisia ini mengaku selama Ramadhan berat badannya turun hingga tiga kilogram. Namun dia tak merasa bermasalah dengan hal itu dan bahkan dia sering terpilih masuk tim inti. Malah rekan-rekannya merasa takjub dengan Mnari. “Luar biasa daya tahan tubuhnya. Dia selama sebulan tetap puasa, shalat tak pernah tinggal,“ puji salah seorang rekan setim kagum.
Pemain lainnya yang istiqamah dengan puasa adalah Abdelaziz Ahanfouf, yang bermain di klub Bundesliga divisi dua Fortuna Düsseldorf. Pemain dengan dua kewarganegaraan ini, Maroko dan Jerman, lebih radikal lagi. Dia sangat ketat mengikuti aturan puasa. Selama latihan dan begitu juga di hari pertandingan dia tetap puasa. “Hari-hari pertama memang terasa berat, tapi ketika ritme hidup sudah teratur maka semuanya akan lancar. Aku ingin masuk syurga,” papar pemain berusia 31 tahun itu dengan mimik serius.
Problematis
Bintang Bayern Muenchen asal Perancis, Franck Ribery dikenal sebagai salah satu pemain alim di kalangannya. Namun pada hari pertandingan tidak puasa, terutama untuk pertandingan tandang di luar Muenchen.
Serdar Tasci und Sami Khedira, pemain Stuttgart dan anggota timnas Jerman, juga tetap tekun menjalankan ibadah puasa. “Tak ada yang perlu ditakutkan, saya tetap puasa ketika latihan,“ kata Tasci yang kini dipercaya sebagai bek kiri di timnas Jerman. Sami Khedira, kapten timnas U-21 yang baru saja mengantarkan Jerman sebagai juara Euro U-21 mengamini pendapat Tasci.
Situasi ini tentu saja bikin pelatih sedikit pusing dan putar otak. Misalnya Werner Lorant, mantan pemain Borussia Dortmund dan melatif klub Fenerbahce Turki ini menganjurkan para pemain muslim untuk terbuka tentang puasa. “Saya sangat senang jika pemain yang puasa jauh-jauh hari memberitahukan hal itu. Jadi kita bisa atur jadwal dan macam-macam hal lainnya. Ya, kita cari jalan keluarnya,“ kata dia. Lorant termasuk moderat dalam hal puasa, mungkin karena dia pernah lama di Turki. Dia menyarankan kepada para pemainnya agar mengonsumsi makanan yang cukup dan berkualitas di waktu sahur.
Yang agak berseberangan pendapat adalah Wilfried Kindermann, mantan dokter di timnas Jerman. Dia melihat Ramadhan bagi olahragawan sebagai hal problematis. “Apa jadinya kalau seseorang kekurangan cairan dalam tubuh? Pasti ini akan mempengaruhi konsentrasi pemain yang berakibat jebloknya prestasi tim, baik ketika latihan maupun saat bertanding,“ tekan Kindermann.
Ada yang tak kuat puasa
Pola pikir Kindermann ini tampaknya diadopsi oleh sebagian pemain. Sebut saja misalnya Mesut Ozil yang berdarah Turki. Sikap pemain timnas Jerman dari klub Werder Bremen ini mungkin tak patut ditiru. Dia mengaku tak sanggup puasa penuh selama Ramadan. “Aku tidak kuat puasa kalau lagi latihan dan saat ada pertandingan. Pernah dulu sewaktu masih di tim junior coba berpuasa. Tapi cuma sanggup beberapa hari saja,“ tukas pemain berdarah Turki itu santai.
Begitu pula dengan Halil Altintop. Pemain Schalke 04 itu melihat Ramadan kali ini dengan agak skeptis. Dia tidak yakin bisa berpuasa penuh. “Puasa bagiku sungguh sangat penting. Tapi sebagai pemain bola kami musti cukup gizi dan terutama cairan dalam tubuh yang stabil. Tapi, di luar hari pertandingan aku tetap puasa,“ kata adik dari Hamit Altintop itu jujur.
Pemain Moenchengladbach asal Aljazair Karim Matmour juga tak mau ketinggalan puasa Ramadan. “Sebagai seorang muslim, aku tak mau ketinggalan dalam puasa. Aku selalu berusaha sedapat mungkin tidak tidak tinggal puasa. Kendati begitu, pada hari pertandingan, jika mengundang resiko, aku terpaksa berbuka,“ kata Karim.
Saat ini Karim sedang pulang kampung karena hari Minggu besok ikut memperkuat timnas Aljazair pada pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2010. Selama berada di negerinya, Karim mengaku bisa menjalankan ibadah puasa dengan tenang. Karena di sana para pemain bisa istirahat total di siang hari. Sedangkan program latihan baru diadakan malam hari selepas shalat tarawih. Begitulah. (zulkarnain jalil)
Wednesday, May 27, 2009
“Aku sangat tersentuh dengan kelakuan para napi. Mereka terlihat khusyuk menjalankan keyakinan agamanya. Banyak orang Amerika tak peduli lagi dengan Tuhan. Tapi para tahanan itu, bahkan di tempat seperti ini, tetap taat menunaikan shalat.”(Terry Holdbrooks)
PENGANTAR. Siapa tak kenal dengan penjara Guantanamo. Penjara khusus teroris ini menyimpan sejuta kisah penuh misteri. Salah satunya, yang baru-baru ini terungkap, adalah kisah pertemanan sipir penjara Terry Holdbrooks dengan salah seorang tahanan asal Maroko bernama Ahmed Errachidi. Dari pertemanan itu Terry akhirnya memeluk agama Islam. Semuanya berawal dari interaksi intensif di malam hari, di saat petugas lain sedang tertidur lelap. Mereka berbincang banyak hal, dari musik, politik, hingga agama Islam. Prosesinya syahadahnya juga tergolong unik. Terry menyorongkan selembar kertas dan pulpen kepada Ahmed untuk dituliskan kalimah syahadah dalam bahasa Arab dan artinya dalam bahasa Inggris. Terry pun mengeja kedua kalimah penuh hidayah itu. Tepatnya di tengah malam buta nan dingin, di awal 2004, Terry menjadi muslim dan berganti nama menjadi Abdullah Mustafa. Berikut kisah serunya seperti dituturkan kepada majalah Newsweek edisi 21 Maret 2009 dan dikutip situs readingislam.com.
00000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000
Terry Holdbrooks adalah seorang sipir khusus penjara militer. Dalam perjalanan karirnya, dia pernah ditugaskan di penjara Guantanamo. Sebuah penjara angker yang terkenal dengan kebengisan para tentaranya. Di sana pula dia mengalami sebuah perubahan paling mendasar dalam hidupnya. Ya, dia bersyahadah di penjara paling menakutkan dan penuh kontroversi itu.
Diskusi tengah malam
Ceritanya, suatu malam di awal tahun 2004, dia berbincang-bincang dengan seorang tahanan asal Maroko. Tahanan ini, mungkin karena senioritas, oleh rekan-rekannya kerap dipanggil “jenderal”. Kala itu Terry dapat tugas shift malam. Malam berjalan serasa begitu lambat bagi Terry hingga membuatnya merasa bosan.
“Untuk menghilangkan rasa bosan saya menyapu lantai. Hanya itu yang bisa kita lakukan di tengah malam buta kayak gitu,” kata Terry. Selebihnya dia berbincang-bincang dengan sebagian tahanan yang masih melek dari balik jeruji mereka.
Tak lama berselang, dia terlibat perbincangan serius dengan “sang jenderal” yang punya nama lengkap Ahmed Errachidi. Perbincangan dengan Ahmed di awal 2004 itulah yang akhirnya mengantarkan Terry mengucapkan dua kalimah syahadah.
“Iya, jika aku tugas jaga shift malam, aku sering diskusi dengan Ahmed. Kami awalnya cuma ngobrol-ngobrol biasa tentang perang yang dimotori Amerika, apa yang akan terjadi nanti di Timur Tengah, seratus atau dua ratus tahun kemudian. Menariknya, kendati kami berbincang hingga menyentuh hal-hal sensitif tentang keburukan Amerika, Ahmed sama sekali tak terprovokasi untuk menjelek-jelekkan Amerika. Yeah, itulah salah satu sisi menarik dari pria dengan nomor tahanan 590 ini. Nah akhirnya diskusi merembet kemana-mana hingga menyentuh masalah agama Islam,” urai Terry.
Perbincangan berjam-jam lamanya di tengah malam buta tentang Islam rupanya bikin Terry penasaran. Dia malah jadi risau akan masa depannya sendiri. Begitulah, malam-malam berikutnya mereka makin serius ngobrol. Terry bahkan memesan beberapa buah buku Islam dan bahasa Arab dari kantornya.
Bersyahadah
Akhirnya, satu malam di awal 2004, tepatnya pada pukul 12.49 Terry pun “resmi” masuk Islam. Kala itu, Terry menyorongkan pulpen dan selembar kertas melalui celah pintu penjara dan meminta Ahmed menuliskan dua kalimah syahadah dalam bahasa Arab beserta artinya dalam bahasa Inggris. Lalu, Terry pun segera melafalkan kalimat yang ditulis Ahmed. Ya, dimalam pekat itu, di tengah dinginnya malam dan lembabnya lantai penjara Guantanamo, Terry telah jadi seorang muslim!
Hanya setahun bertugas, Terry keluar dari dinas kemiliteran pada 2005. Dalam satu wawancara dengan majalah Newsweek, bersama dengan beberapa mantan petugas penjara lainnya, dia bercerita tentang sadisme di Guantanamo yang dilakukan oleh para tentara, petugas medis dan juga para interogator terhadap napi. Mereka seakan ingin balas dendam terhadap kejadian teror 9/11 di New York sembilan tahun silam. Begitu kata Terry.
Sejak itulah kedok sadisme penjara Guantanamo, yang selama ini cukup terjaga kerahasiaannya, pun terkuak. Tak hanya sadisme, tabir tentang interaksi rohani antara sipir dan para napi juga mengemuka. Alhasil, empati berbagai pihak pun mulai muncul.
“Para tahanan dulunya cuma bisa bercakap-cakap dari hati ke hati dengan beberapa sipir yang menaruh simpati pada mereka. Kami sering diskusi banyak hal. Dari mulai agama, politik hingga musik,” beber Ahmed kepada Newsweek via e-mail dari kampung halamannya di Maroko. Ahmed sendiri disekap selama lima tahun dan bebas pada 2007 lalu.
Masa kecil yang suram
“Aku dibesarkan di kota Phoenix. Masa kecilku suram. Kedua orangtuaku pecandu narkoba. Aku sendiri, sebelum masuk militer tahun 2002, suka mabuk-mabukan. Lubang di telingaku ini sebagai bukti aku pernah pakai anting-anting. Badan penuh dengan tato. Musik-musik metal dan keras adalah kesukaanku. Pokoknya masa remaja penuh hura-hura,” kisah Terry tentang masa lalunya.
Terry masuk militer sebenarnya untuk memperbaiki kehidupannya. Dia tidak mau hidupnya rusak seperti kedua orangtuanya. Terry, seperti pemuda Amerika umumnya, tak kenal agama, jiwa labil dan berusaha mencari kedamaian dalam hidupnya. Sewaktu minggat dari rumah, dia bertunangan dengan seorang wanita yang baru dikenalnya dalam bilangan hari. Tiga bulan selepas perkenalan itu mereka menikah.
“Aku tak pernah bersentuhan dengan agama. Jadi tak pernah terbayang dalam hidupku akan masuk Islam. Jujur kukatakan, selama bertugas di penjara, aku sangat tersentuh dengan kelakuan para napi. Mereka terlihat khusyuk menjalankan keyakinan agamanya. Banyak orang Amerika tak peduli lagi dengan Tuhan. Tapi para tahanan itu, bahkan di tempat seperti ini, tetap taat menunaikan shalat," kisah Terry penuh rasa kagum.
Terkesan dengan Ahmed
Kharisma Ahmed rupanya membuat Terry kepincut. Kedekatannya itu hingga dia tahu latar belakang “sang jenderal.” Pria Maroko itu, sebut Terry, dulunya seorang kepala juru masak di Inggris selama hampir 18 tahun. Sebab itu dia lancar berbahasa Inggris. Akhir September 2001, Ahmed mengadakan perjalanan ke Pakistan guna menjenguk anaknya yang baru menjalani operasi. Ketika menyeberang Afganistan dia ditangkap oleh warga lokal dan dijual ke tentara Amerika senilai 5000 dolar (sekitar 50 juta rupiah). Lalu dia dikirim ke penjara Guantanamo dengan tuduhan ikut latihan kelompok Al-Qaeda. Tapi, tahun 2007, dalam sebuah investigasi mendalam yang dilakukan oleh harian London Times dia dinyatakan tak bersalah dan dibebaskan pada tahun itu juga.
Ahmed sendiri lupa kapan persisnya Terry bersyahadah. Yang dia ingat, selama lima tahun di penjara Guantanamo dia memang termasuk aktif “berdakwah” tentang Islam kepada beberapa sipir. Saat Terry mengungkapkan keinginannya masuk Islam, Ahmed bahkan mengingatkan bahwa masuk Islam adalah perkara serius. Konon lagi di Guantanamo. Agar tak terjadi penyesalan di kemudian hari, sebut Ahmed. Terry tetap memutuskan memeluk Islam. Selepas bersyahadah, Terry menyembunyikan status keislamannya itu dengan rapi. Kecuali dua orang sipir yang sekamar dengannya, lainnya tak ada yang tahu.
Dipukul sang komandan
Tapi lambat laun ketahuan juga. Tanpa sepengetahuan Terry, beberapa sipir penjara memerhatikan perubahan sikapnya. Satu waktu, para sipir itu mendengar Terry dipanggil dengan nama "Mustafa" oleh para napi. Pernah pula Terry kedapatan sedang mempelajari bahasa Arab.
“Satu malam, komandan regu beserta lima anak buahnya menyeretku ke lapangan untuk diinterogasi. Mereka membentakku dengan kasar dan menanyakan apa aku sudah jadi penghianat. Lalu, si komandan diikuti dua orang anak buahnya pun meninjuku bertubi-tubi," cerita Terry.
Alhasil, Terry menghabiskan masa dinasnya di Guantanamo dalam kesendirian dan tak ada yang mau bergaul dengannya. Dia dikucilkan oleh rekan-rekannya. Rupanya, sebut Terry, hal seperti itu juga pernah dialami oleh seorang petugas penjara lainnya yang bertugas di sana. “Kapten James Yee nama petugas itu. Bertugas sebagai pendeta penjara di kisaran 2003. Kapten James masuk Islam setahun lebih awal dari aku. James akhirnya ditangkap dengan tuduhan membantu musuh (para napi-red) dan tuduhan-tuduhan kriminal lainnya,” sebut Terry.
Kembali mabuk-mabukan
Masa dinas di penjara Guantanamo pun berakhir. Terry dipindahkan ke penjara Fort Leonard Wood. Sejak itu dia mulai kehilangan pegangan hidup. Dia kembali ke kehidupan lamanya. “Aku sering ke mall untuk membunuh waktu. Atau ke klub-klub malam, mabuk-mabukan sambil nonton tarian striptis," kata dia.
Beberapa bulan kemudian Terry diberhentikan dengan hormat dari tugas militer. Militer AS tak menyebutkan alasan pemberhentian itu. Namun, kuat dugaan, kasusnya di penjara Guantanamo adalah penyebab keluarnya keputusan tersebut.
Terry memutuskan kembali ke kota asalnya Phoenix. Dia kembali mabuk-mabukan. Neely, salah seorang temannya kala di Guantanamo, bercerita bahwa Terry depresi berat akibat tekanan hidup selama di Guantanamo. Terry pernah menghabiskan 60 dolar AS (sekitar 600 ribu rupiah) dalam sehari untuk membeli minuman keras. Tak hanya itu, Terry bahkan menceraikan istrinya.
Kebiasaan buruk Terry tambah kronis hingga dia jatuh sakit akibat kelebihan mengkonsumsi alkohol. Terry terpaksa masuk rumah sakit. Jantungnya sempat anfal selama beberapa kali.
“Ternyata Allah masih sayang padaku. Secara tak terduga aku dipertemukan kembali dengan Ahmed dan kami pun merajut lagi persahabatan yang sempat terputus. Kami saling berkirim kabar via e-mail. Ahmed rupanya juga punya masalah dengan lingkungannya. Dia butuh waktu lama untuk adaptasi. Biasa, orang baru keluar penjara awalnya kan sulit diterima di masyarakat,” kisah Terry lagi. Begitulah, hidup Terry perlahan mulai berjalan ke arah yang benar.
Taubat dan menulis buku
Terry, yang kini berusia 25 tahun, sejak desember 2008 silam telah berhenti minum minuman keras dan mulai aktif shalat lima waktu ke mesjid. Dia sering ke Tempe Islamic Center, sebuah mesjid dekat kampus Universitas Phoenix. Sehari-hari dia bekerja sebagai pegawai bagian pendaftaran di universitas itu. Terry kini menjalankan perintah agama dengan taat. Kepalanya senantiasa tertutup kopiah.
“Aku telah berjanji pada diriku sendiri, berhenti mabuk-mabukan dan berhenti merokok. Aku ingin jadi muslim yang benar. Aku ingin belajar serta mempraktekkan amalan Islam secara sempurna. Tidak mudah memang merubah kebiasaan hidup ini. Banyak sekali tantangannya. Tapi, aku yakin “pintu kehidupan” yang baru pasti akan terbuka,” kata Terry optimis.
Satu ketika, saat imam mesjid Tempe memperkenalkan Terry kepada segenap jamaah, sang imam menceritakan bahwa Terry memeluk Islam saat di penjara Guantánamo. Para jamaah spontan terkesima dan berebutan menyalaminya. "Kita seringkali terbayang oleh kebengisan tentara di penjara Guantanamo. Tapi tak pernah membayangkan bagaimana hidayah bisa sampai ke sana. Ya, seperti Terry ini," ujar Amr Elsamny, imam mesjid Tempe yang berasal dari Mesir.
Begitulah. Terry saat ini sedang menulis semua kisah hidupnya selama bertugas di penjara Guantanamo. Dia bahkan telah meneken kontrak dengan sebuah penerbit. Terry tampaknya ingin berkecimpung di dunia tulis menulis. “Kalau bisa hidup dari buku, aku berencana berhenti kerja dari Universitas Phoenix dan mendedikasikan diri untuk membantu keluarga besar para tahanan Guantanamo,” tutup Terry. (Zulkarnain Jalil)
Friday, May 22, 2009
PENGANTAR. Sarah Bokker namanya lengkapnya. Perempuan Amerika ini dulu seorang model, instruktur fitnes dan juga aktifis. Hidupnya yang penuh glamour ternyata tak membuatnya bahagia. Satu ketika dia berjumpa dengan seorang pria muslim asal Mesir dalam sebuah aksi unjuk rasa anti perang Irak. Berawal dari sini dia mulai mengenal Islam dan kemudian belajar secara mandiri hingga akhirnya di musim dingin Januari 2003 memeluk Islam. Bersama pria Mesir itu, yang kemudian jadi suaminya, dia membentuk organisasi The March for Justice dan Sarah sendiri sebagai Direktur Komunikasi. Sarah yang dulu bangga menyusuri Pantai Miami dengan bikini, kini malah bangga dengan jilbabnya. Berikut kisah keislaman Sarah Bokker seperti ditulisnya di www.islamreligion.com.
000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000
“Aku dibesarkan di sebuah kota kecil di South Dakota, AS. Sebelum kenal Islam, satu-satunya agama yang aku tahu kala itu dan mewarnai kehidupanku hanyalah Kristen. Aku, mengikuti petuah mama, sering ikut acara misa mingguan di gereja dekat tempat tinggal kami yang berafiliasi Marthin Luther. Aku percaya adanya Tuhan, tapi sebagian kegiatan gereja ada yang tak kusuka, seperti menyanyi, menyembah patung Yesus dan beberapa kegiatan lainnya. Sama sekali tak menarik,” tutur Sarah Bokker.
”Semakin lama aku seperti merasa ada sesuatu yang hilang. Seperti ada sebuah “lubang” di hatiku. Lubang yang begitu menganga dan gelap. Tak ada yang bisa menutup lubang yang gelap itu. Aku gelisah hingga kecanduan alkohol di usia yang masih sangat belia. Hubunganku dengan keluarga pun makin ada jarak. Seiring dengan bertambahnya usia, aku makin jauh dengan kedua orangtuaku. Hingga aku bermaksud minggat dari rumah,” aku dia.
Pindah ke Florida
Sarah drop out dari kuliahnya dan atas inisiatifnya sendiri pindah ke South Dakota, dekat Florida pada usia 19 tahun. Kendati lingkungan di sana masih baru tapi dia bisa cepat beradaptasi. Menurut Sarah, suasana di sana sangat mengesankan dimana dia bisa segera memeroleh kenyamanan dan ketenangan jiwa dalam waktu relatif singkat. Tapi ternyata suasana tersebut berlangsung hanya sebentar. “Rasa sakit dan sedih serta “lubang” di hatiku masih tetap ada,” aku Sarah.
“Aku habiskan waktu bertahun-tahun untuk mencari dan mencari. Mencari sesuatu yang dapat menyembuhkan luka di batinku. Aku mengadu ke psikolog, membaca buku, mendengar kaset dan aneka rupa latihan olah batin. Perlahan aku mulai mendapatkan ketenangan jiwa dan mampu mengatasi persoalan hidup. Aku bisa menikmati lagi hidup di Florida. Tak hanya itu, aku dapat pekerjaan hingga bisa membiayai hidup secara wajar, bahkan lebih dari cukup. Aku jadi suka shoping dan ikut pesta. Penampilan juga berubah. Aku ingin selalu tampak cantik. Makanya sebagian gaji kualokasikan untuk penampilan. Tentu saja tidak murah,” kata dia.
“Tanpa kusadari aku telah jadi budak bagi diriku sendiri. Perilaku konsumtif makin menjadi-jadi. Gajiku habis untuk ke salon, klub kebugaran, shoping, dan banyak lainnya lagi. Aku sangat gembira jika ada orang melihatku dengan rasa kagum. Aku suka jadi perhatian banyak orang. Tapi, entah kenapa lama kelamaan aku jadi benci cara hidup seperti ini. Semua cuma fantasi sesaat. Aku merasa telah diperbudak oleh nafsuku sendiri. Aku tetap tak merasa bahagia. Lalu, aku pun mencari lagi. Mencari kebahagiaan yang sebenarnya,” ungkap Sarah panjang lebar.
Tak mendapatkan kebahagiaan
Sarah mengaku memang mendapatkan bahagia, tapi itu hanya berumur sekejap. Lalu dia mulai mencari bahagia dengan belajar agama. Semua jenis agama. Perlahan dia mulai tahu ada “keyakinan universal” dalam setiap ajaran agama.
Rasa cinta akan sesama manusia dan kedamaian makin hari makin muncul di hatinya seiring dengan tumbuhnya keyakinan. “Aku mulai tertarik dengan “kajian metafisik” terutama meditasi ala Timur seperti yoga. Tapi aku ingin lebih. Aku butuh seseorang yang bisa menjelaskan apa yang seharusnya kukerjakan dan bagaimana mengerjakannya. Aku butuh aturan dan tatacaranya,” lanjut dia.
Membentuk organisasi kemanusiaan
Akhirnya Sarah memutuskan kembali lagi ke bangku kuliah. Dia sangat berkeinginan mengembangkan sebuah yayasan internasional yang bergerak di bidang kemanusiaan. “Jujur saja, aku benci dengan kebijakan luar negeri Amerika yang melanggar hak asasi manusia. Aku benci dengan ketakadilan, rasisme, dan tindakan penganiayaan yang sewenang-wenang. Aku harus mengerjakan sesuatu. Begitu kata hatiku,” tukas dia.
Lalu Sarah pun mulai menjalin networking dengan kalangan terpelajar dari akademisi hingga mahasiswa untuk menyuarakan ketakadilan di Timur Tengah. Atas inisitif dia pula akhirnya berdiri sebuah yayasan lokal berisi para aktifis muda. Kali pertama aksi mereka adalah menggelar unjuk rasa di Washington DC untuk menentang perang Irak.
Ketemu pria Mesir
“Nah saat kegiatan ini kami gelar, aku bertemu dengan seorang pria muslim asal Mesir yang juga sering mengadakan aksi unjuk rasa dengan tujuan yang sama. Aku belum pernah ketemu orang seperti dia yang mendedikasikan separuh hidupnya untuk orang lain, untuk menentang kesewenang-wenangan, untuk berbuat bagi kemanusiaan. Dia membangun sendiri organisasinya, persis seperti yang kulakukan. Karena itu aku berniat belajar dari pengalaman dan perjuangan dia. Kami pun bekerjasama. Tak hanya itu, dia juga sering berbagi cerita tentang kehidupan dalam Islam, akhlak Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Aku benar-benar terkejut mendengar kisah-kisah ini. Aku tak pernah tahu cerita seperti ini sebelumnya. Islam tak pernah hadir utuh. Kontan setelah mengetahui hal ini, aku pun jadi tertarik dan mencari-cai informasi lebih lanjut tentang Islam. Aku pelajari juga Alquran,” aku Sarah panjang lebar.
“Bukan main, akhirnya aku menemukan sesuatu setelah sekian lama mencari. Padahal sebelumnya, Islam tak menarik bagiku, penuh dengan stereotip negatif. Ternyata ajarannya sangat mengagumkan. Dulu aku sangat benci dengan wanita Islam (berjilbab). Bagaimana orang bisa lihat kecantikan kita jika selalu ditutup. Ternyata Islam sangat melindungi dan menghargai wanita. Bukan main,” lanjut Sarah kagum.
Sarah terus belajar dan mencari setiap jawaban atas soalan yang tak dipahaminya. Setiap jawaban yang didapat selalu saja membuatnya kagum. “Semuanya masuk akal. Islam itu rasional, masuk akal. Mengagumkan! Anda lihat, Islam ternyata bukan hanya sebuah agama. Islam juga tatacara hidup dari atifitas sosial keseharian hingga bernegara. Dalam Islam kutemukan bahwa hal-hal sekecil apapun ada aturannya. Misal, makan dan tidur pun ada tatacaranya. Luar biasa!,” tukas dia.
Begitupun, Sarah belum punya komitmen khusus untuk masuk Islam. Masih berat, begitu kata dia. Tapi yang namanya hidayah tak kan kemana. Satu malam di musim dingin, Januari 2003, Sarah kembali dari sebuah aksi unjuk rasa di Washington. Di dalam bus yang ditumpanginya, hati Sarah mulai “bergelut”.
“Aku sudah banyak melewati aneka ragam kehidupan. Aku lelah. Umurku sudah 29 tahun dan aku belum punya tujuan hidup yang pasti lagi. Apa yang harus kulakukan dengan hidup ini? Hatiku runtuh, aku menangis. Hatiku berteriak; "Apa yang musti kulakukan? Apa yang musti kulakukan? Aku hanya ingin jadi orang berguna, jadi orang baik-baik dan ingin dunia ini jadi damai." Entah bagaimana, tiba-tiba batinku berkata: Masuklah Islam. Oh! Tiba-tiba hatiku seperti digiring menuju Islam,” kisah Sarah.
Bersyahadah dan berjilbab
Sepekan kemudian, Sarah pun mengucapkan dua kalimah syahadah di depan masyarakat muslim yang berkumpul di mesjid setempat. “Dan, yang menakjubkan, sesaat selepas aku bersyahadah tak lama muncul pelangi di langit!,” tutur Sarah.
“Semua yang hadir waktu itu sangat tersentuh dan rekan-rekan muslimah memelukku dengan hangat penuh persaudaraan. Aku menangis sesenggukan, rasa bahagia mengalir di sekujur tubuhnya. Aku merasakannya,” lanjutnya bahagia.
Keesokan harinya, Sarah ingin segera menunjukkan kepada semua orang bahwa dia sudah jadi seorang muslim. Dia pun pergi ke kawasan pertokoan yang dihuni oleh warga Timur Tengah. Di sana dia membeli beberapa lembar pakaian muslimah dan tentu saja jilbab. Tanpa ragu, dia segera mengenakan baju muslimah dengan sempurna. Itulah hari pertama dia berjilbab.
“Ahhhhh … akhirnya aku bebas! Aku telah memutus rantai dengan budak kecantikan. Aku seperti baru melepaskan beban berat yang selama ini ada di pundak. Tahu tidak, begitu tahu aku berjilbab, sebagian orang yang selama ini mengagumi kecantikanku menganggapku aneh, ada juga yang menyayangkan keputusanku, malah ada pula yang marah,” kata Sarah.
“Alhamdulillah, terima kasih ya Allah telah Engkau perkenalkan pada Islam. Telah Engkau tunjukkan padaku jalan yang benar,” syukur dia.
Menikah dan pindah ke Mesir
Persis sebulan setelah ikrar syahadah itu, Sarah dilamar oleh pria Timur Tengah yang mengenalkan Islam pertamakali padanya. Sejak itu pula mereka meneruskan kerja kemanusiaan bersama-sama. Tak hanya di Amerika, mereka juga pergi kampanye kemanusiaan ke berbagai Negara. Akhirnya Sarah memutuskan tinggal di Mesir bersama dengan ibu mertuanya dan hidup dalam lingkungan Islam. “Alhamdulillah, aku dikarunia sebuah keluarga besar yang sangat bahagia dan penuh perhatian,” katanya.
“Hidup adalah hidup. Perlu terus dijalani walau tidak mudah. Tapi hidup musti ada tuntunan. Dan, kini aku telah menemukan buku tuntunan hidup itu. Kisah hatiku sudah cukup lengkap. Kesedihan dan kesendirian kini telah pergi, berganti kebahagiaan. Semoga kebahagiaan ini terus berlanjut hingga ke hari akherat nanti,” harap Sarah.
Begitulah, Sarah Bokker yang dulu bangga dengan bikininya menyusuri pantai South Beach, Miami dan hidup glamor ala Barat kini bangga dengan jilbabnya. Dia menemukan “kehidupan” lain yang tak pernah diduganya. Kehidupan damai dalam bimbingan Allah sang Maha Pencipta dan saling berbagi suka dan duka dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain.
“Hari ini, jilbab adalah simbol kebebasan wanita Islam. Bebas dari perbudakan dunia kecantikan dan fashion. Kepada para wanita-wanita yang selama ini memandang rendah wanita Islam dan jilbab, maka saya katakan kepada Anda semua; Ada sesuatu yang hilang dalam diri Anda. Carilah,” tutup Sarah diplomatis. (Zulkarnain Jalil)
Sunday, May 17, 2009
Elizabeth Valencia bersyahadah melalui telepon
PENGANTAR. Elizabeth Valencia adalah seorang gadis belia kelahiran Tijuana , Meksiko. Sebelum memeluk Islam dia merasa hidupnya seakan tak berharga. Karena tubuhnya yang gemuk dia sering diejek di sekolah. Dia makin stress dan tak punya semangat hidup. Begitulah, waktu terus berjalan hingga satu ketika di musim panas tahun 2000, Elizabeth bertemu dengan seorang seorang pemuda yang kemudian memperkenalkan Islam dan memberinya hadiah sebuah mushaf Alquran. Diapun mulai mengkajinya hingga akhirnya pada 13 Februari 2001 dia bersyahadah dan mengganti namanya menjadi Asma Alia. Bagaimana kisah ketertarikannya pada Islam? Berikut kisah lengkapnya seperti dituturkannya di www.geocities.com/embracing_islam.
00000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000
“Aku muallaf sejak 13 February 2001. Alhamdulillah!” ujar Elizabeth Valencia yang lahir di Tijuana , Baja California , Mexico pada 14 Juni 1986. Selepas masuk Islam di usia 14 tahun, dia berganti nama dengan Asma Alia.
“Saat ini akulah satu-satunya muslim di dalam keluarga. Tapi aku yakin satu saat akan bertambah lagi muallaf di rumahku, Insya Allah,” tukas dia yakin. Bagaimana kisahnya hingga Asma memeluk Islam?
“Kisah keislamanku sebenarnya telah dimulai sejak aku masih kanak-kanak,” lanjut Asma seraya berharap kisahnya bisa membawa perubahan bagi orang lain yang saat ini mencari kebenaran dalam lembaran hidup mereka.
Hidup tak bernilai
”Sebelum memeluk Islam, aku merasa hidupku seakan tak bernilai. Aku melihat seakan tak ada lagi kehidupan bagiku, tak ada yang namanya masa depan. Ditambah lagi hubunganku dengan kedua orangtua yang tak harmonis,” aku Asma.
Di sekolah, Asma merasa disisihkan oleh rekan-rekannya. ”Memang aku punya banyak teman, tapi jujur saja mereka serasa bak orang asing di mataku. Sehingga sulit sekali untuk akur dan saling berbagi,” imbuh dia.
”Adakalanya, orang-orang melihatku dengan pandangan aneh. Aku ibaratnya seperti orang buangan. Oya waktu masih bocah aku kelebihan berat badan alias. Bahkan makin gemuk persis orang dewasa padahal waktu itu aku masih duduk di bangku SMP. Sering aku pulang ke rumah dengan tangisan sebab teman-temanku kerab mengejekku dengan kata-kata yang menyakitkan. Inilah yang membuatku makin down dan tersisih,” kata dia lagi.
Hal itu membuat prestasinya di sekolah menurun, padahal dia termasuk siswa berperingkat bagus. ”Waktu masih di kelas 6 aku tak pernah bolos sekolah. Aku cinta sekolah,” kata dia mengenang. Hingga satu ketika aku mencoba berteman dengan beberapa anak muda. Ya biasa lah, masuk masa puber, mulai suka dengan lawan jenis. Aku ingin akrab dengan mereka. Sayangnya, aku harus menelan kekecewaan. Tak ada seorangpun yang menyukaiku. Ketika itu, aku makin benci dengan diriku sendiri,” lanjutnya.
”Satu hari, aku pasrah dengan keadaan dan tak mampu mencari solusi lain untuk mengatasi permasalahan hidupku. Aku ceritakan semua masalah yang membebaniku kepada setiap orang dalam rumahku, tentang bagaimana sikap orang-orang di sekolahku. Termasuk kepada kakek dan nenek, yang kutahu juga tidak begitu menyukaiku. Aku tumpahkan semua isi hatiku, tentang betapa tak bahagianya hidupku, betapa aku kesepian. Pokoknya semuanya.”
Sebagai penganut Katolik Asma lalu berupaya mencari solusi dengan banyak berdoa. ”Aku berdoa untuk hidup yang lebih baik. Tapi tak ada yang berubah. Aku pasrah dan ingin bunuh diri. Keinginan ini muncul saat aku berumur 13 dan 14 tahun. Untung pikiranku masih jernih, bunuh diri bukan jalan terbaik menyelesaikan masalah. Tapi hidup makin hari serasa makin berat saja,” lanjut dia.
Asma sering cemburu dengan teman-temannya yang rata-rata sudah punya pacar. Dia sering berangan-angan punya wajah cantik. Lalu disukai banyak pria. Sering juga sang ibu menghibur Asma dengan menyebutkannya anak yang cantik. ”Tapi aku tahu ibu berbohong. Ucapan itu cuma untuk menghiburku saja,” tukas Asma.
”Tapi, selepas memeluk Islam, dan ingat kejadian masa lalu, rasanya aku bukanlah orang yang buruk di dunia ini. Ya aku cuma gemuk saja. Tak lebih dari itu. Benar kata ibu wajahku cantik. Tapi entah kenapa aku merasa hidupku buruk. Untung Allah datang dan membimbingku ke jalan yang benar,” syukur Asma.
Bertemu pemuda Islam
Ceritanya, pas musim panas tahun 2000 silam, Asma bertemu dengan seorang seorang pemuda yang kemudian memperkenalkan Islam kepadanya. “Aku masih sangat ingat, hari Sabtu 4 Nopember dia menghadiahiku sebuah mushaf Alquran. Akupun mulai mengkajinya. Hanya dalam waktu 3,5 bulan, aku berhasil mempelajarinya secara tuntas! Menakjubkan. Tahu tidak, inilah bacaan pertamaku yang mampu kutamatkan secara tuntas tanpa kehilangan satu katapun. Sebelumnya buku apapun yang kubaca tak ada yang tamat. Masya Allah!,” kata Asma gembira.
Pada 13 Februari 2001 Asma jatuh sakit dan dia terbaring lemah di atas pembaringannya di rumah. Dia merasa depresi berat. Layaknya orang baru putus cinta. “Batinku benar-benar tertekan. Aku punya pacar dan kami sudah sepakat nanti jika sudah sampai waktunya akan menikah. Dia pun tak menampik. Sayangnya, keluarga pacarku itu ternyata telah menyiapkan gadis lain di kampungnya,” cerita Asma kelu.
Di tengah kegalauan itu muncul ide dalam kepalanya. “Aku ingin bikin perubahan dalam hidup ini,” batin Asma. Kendati kondisi lemah, dia beranjak dari tempat tidur dan bergegas menuju ke Mesjid Hamzah, sebuah mesjid di Mira Mesa, selatan California. Sebelumnya Asma mengontak dua orang rekan muslimah untuk ketemu di sana.
“Aku ceritakan pada mereka bahwa aku telah mempelajari Islam dan butuh saran mereka. Kepada salah seorang dari muslimah itu, dia baru berusia 13 tahun, aku sebutkan bahwa aku mau masuk Islam tapi tidak tahu bagaimana caranya. Rekan muslimah itu menyebut sangat sederhana sekali. Pertama harus ada dua kalimah syahadah di dalam hati. Begitupun, kata dia, aku musti mendeklarasikan kalimah itu di hadapan muslim lain sebagai saksi keislamanku,” kisah Asma panjang lebar.
Bersyahadah via telepon
Mendengar penjelasan temannya tersebut Asma pun setuju dan tak mau menunggu lagi untuk segera mengucapkan dua kalimah syahadah. “Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah. Alhamdulillah! Aku bersyahadah melalui telepon. Disaksikan oleh rekan muslimah yang baru berusia 13 tahun itu, di seberang sana ada saksi lain yakni ayah si muslimah tersebut dan seorang pembantunya. Merekalah saksi keislamannku,” kisahnya lagi.
Asma tampak berlinangan airmata. Dia merasakan tubuhnya ringan sekali. Mungkin itu yang disebut, dosa-dosa di masa silam bagi orang yang baru memeluk Islam dimaafkan alias dihapuskan.
“Segera setelah proses syahadah itu, aku pun menemui rekan-rekan lain yang selama ini mengajarkanku apa itu Islam. Mereka sangat gembira sekali. Setelah itu akupun pulang untuk mandi. Di kaca aku berujar “Aku sudah jadi muslim, aku sudah jadi muslim. Oh masya Allah, aku jadi muslim!”. Ya aku sangat gembira sekali," ujar Asma.
Ibunya syok
Hari-hari berikutnya, Asma bertemu dengan banyak rekannya yang muslimah seraya memberitahukan keislamnnya. “Tapi aku belum berani menceritakan pada orangtuaku. Aku takut dan menduga bisa saja dibunuh, gara-gara masuk Islam. Aku minta saran seorang muslimah apa yang musti kulakukan. Kata dia memang sebaiknya tak usah diberitahukan dulu hingga nanti ada waktu yang tepat. Soalnya aku juga masih sangat kecil sekali, baru 14 tahun,” sebut Asma.
Asma akhirnya menceritakan perihal keislamannya kepada sang ibu. “Ibu sangat terkejut dan sempat syok. Namun di hari berikutnya keadaan membaik. Dia bisa menerima berita itu. Ibu juga menyarankan untuk memberitahu ayah. Tapi aku menolak sarannya. Aku masih butuh waktu. Dan ini semua adalah proses,” ceritanya lagi.
Hari-hari berikutnya Asma menghabiskan waktunya dengan belajar tatacara shalat. “Aku belajar sendiri melalui buku-buku hingga aku bisa hafal bacaan di dalam shalat. Subhanallah!,” syukur Asma. Asma juga kadangkala ke mesjid untuk berjumpa rekan-rekannya dan menanyakan hal-hal yang belum dikuasainya.
Mulai pakai jilbab
Waktu terus berjalan dan kadar keimanan Asma pun semakin meningkat. Hingga dia memutuskan untuk mengenakan jilbab. Sesuatu yang awalnya sangat berat sekali bagi Asma. “Aku mulai pakai jilbab kala pergi keluar rumah. Aku mencoba untuk istiqamah,” ujar Asma.
Satu ketika tanpa disadarinya sang ayah melihat kelakuan Asma itu. Asma benar-benar takut kala tahu ayahnya mengamati dia. “Aku takut sekali. Aku takut bakal dimarahi. Dengan segenap kekuatan hati kusampaikan bahwa aku telah masuk Islam dan apa yang kulakukan ini adalah mengikuti perintah Allah. Ayah terpana sejenak. Lalu dia menyebut: “Tidak apa-apa anakku. Tapi sekarang sudah besar dan kamu sudah saatnya memilih. Nak, kamu anak ayah yang paling pintar,” kisah Asma perihal jilbab dan respon ayahnya.
Sejak itu Asma seolah mendapat kekuatan berlipat. Tepat tanggal 11 Juni 2001 diapun mulai mengenakan jilbab di sekolah. “Hanya 3 hari sebelum ulang tahunku yang ke-15. Jadi ini merupakan hadiah ulang tahun terbesar dalam hidupku. Awaknya aku hendak mengenakannya pas di hari ultah. Tapi batinku mengatakan kenapa musti ditunda sesuatu yang bisa dilaksanakan sekarang. Masha'Allah!,” tukas Asma lagi.
Sejak itu pula Asma berhenti memikirkan pandangan orang lain terhadapnya. Misalnya pandangan aneh kala ada warga yang melihatnya berjilbab dan macam-macam hal lainnya. “Berat memang, tapi rasa percaya diriku benar-benar tumbuh. Aku suka dengan jalan hidupku ini. Terutama setelah berjilbab. Alhamdulillah!,” kata dia penuh percaya diri.
Tak hanya itu, Asma pun mulai berani berdakwah. “Aku mulai menceritakan apa itu Islam kepada ayah setelah sebelumnya hal yang sama juga kuceritakan pada ibu. Aku hanya berusaha, hidayah ada di tangan Allah. Tapi aku yakin satu ketika kedua orangku Insya Allah akan mengikutiku. Amiin,” harap Asma.
“Aku sangat bahagia sebab Allah SWT telah memberiku peluang untuk menjadi seorang muslim dan satu hari nanti, Insya Allah, semoga aku bisa mendapat seorang pendamping hidup yang saleh, menikah dan memiliki anak serta aku akan menjadi guru bagi mereka. Indah sekali rasanya. Aku sangat mensyukuri atas semua karunia ini. Semoga Allah memelihara hidayah ini dan berharap Allah juga segera memberi hidayah untuk kedua orangtuaku,” tutup Asma. (Zulkarnain Jalil)
Friday, April 10, 2009
Dr. H. Azwar Manaf, M.Met:
Hanya dengan pendidikan Aceh bangkit
PENGANTAR. Dr. Azwar Manaf, M.Met nama lengkapnya. Sehari-hari bekerja sebagai dosen dan peneliti di FMIPA Universitas Indonesia, Jakarta. Tak banyak yang tahu, dibalik penampilannya yang sederhana, pria Langsa dan murah senyum ini ternyata menyimpan potensi tinggi di dunia iptek, terutama dalam pengembangan sains dan teknologi material dan mineral alam. Catat saja, dalam rentang waktu 1990 hingga 2008, Azwar telah menulis sekitar 85 publikasi ilmiah internasional dan nasional. Semuanya tentang pengembangan material nanomagnet. Bahkan ada 12 publikasinya di jurnal ilmiah internasional yang dikutip dan diacu oleh banyak peneliti dunia lainnya. Yang fenomenal, tahun 1992 silam pria kelahiran 12 Januari 1957 itu meraih amugerah Brunton Medals dari University of Sheffield, Inggris sebagai peneliti muda terbaik. Penyuka mie Aceh ini juga meraih penghargaan serupa pada tahun 2001 yakni sebagai peneliti senior terbaik Universitas Indonesia atas dedikasinya dalam litbang material magnetik. Azwar, yang kini menjabat Direktur Research Center for Materials Science (RCMS) FMIPA-UI, meraih gelar master dan doktornya dari Department of Engineering Materials, University of Sheffield, Inggris. Tahun 1996 dia sempat menjadi ilmuwan tamu di National University of Singapore. Azwar sejak 2006 lalu ikut terlibat di The Minerals, Metals and Materials Society, sebuah kelompok riset metalurgi di AS. Pria yang menikahi gadis sekampungnya, yakni Dra Hj Siti Sarah, kini hidup bahagia di kawasan teduh Sawangan, Bogor ditemani 3 orang anaknya masing-masing Alfa Sheffildi Manaf (19), Beta Nadia Manaf (17) dan Gamma Rizkina Manaf (15). Pekan lalu, kepada Kontributor Kontras Zulkarnain Jalil, Azwar mengungkapkan banyak hal terutama tentang potensi dan pengembangan sumber daya alam Aceh. Berikut petikannya:
Sumber daya alam (SDA) Aceh sangat melimpah, namun hingga kini sebagian rakyatnya masih ada yang dibelit kemiskinan, komentar Anda?
Sebagai orang Aceh seharusnya kita bersyukur karena memiliki sumber daya alam (SDA) yang berlimpah. Dari atas tanahnya tumbuh banyak tanaman subur dan bernilai seperti kelapa, sawit, kopi, cengkeh, pala dan lain sebagainya. Demikian pula dengan hutannya yang lebat hingga jadi salah satu paru-paru dunia. Lalu dari dalam tanahnya terdapat mineral-mineral yang berharga seperti batu bara. emas, nikel, besi, terdapat minyak dan gas. Di dalam lautnya terdapat juga kekayaan yang berlimpah. Sementara penduduknya hanya mencapai 3-4 juta orang. Jadi, jika terdapat kesan rakyatnya masih ada yang dibelit kemiskinan, itu menunjukkan bahwa Aceh belum memanfaatkan potensi luar biasa yang dimilikinya. Banyak rakyat Aceh yang belum sempat berfikir dan bertindak bagaimana harus maju. Bagaimana harus meningkatkan taraf hidupnya, rakyat Aceh belum sempat berbuat banyak. Bisa jadi hal itu terjadi karena deraan konflik yang berkepanjangan.
Satu hal pokok lagi yakni akses pendidikan, terutama pendidikan dasar, sudah seharusnya dirasakan oleh seluruh rakyat Aceh. Syukurlah bila bisa sampai pada tahap sekolah menengah. Lalu, kualitas pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah menjadi sangat-sangat menentukan dan penting untuk disadari karena kompetisi di luar daerah Aceh sendiri sudah demikian tinggi. Hanya dengan pendidikan Aceh bisa bangkit dan maju sejajar dengan bangsa-bangsa lain.
Langkah-langkah untuk pemanfaatan SDA ini, saran Anda?
Sebagai akademisi, terkait dengan SDA ini, saya melihat peran riset sangat menentukan efektivitas eksplorasi dan eksploitasi SDA. Tanpa riset, dikhawatirkan SDA akan dieksploitasi tanpa pemberian nilai tambah sebagaimana yang banyak terjadi selama ini. Lihat saja, bagaimana batu bara itu diambil dari sumbernya dan langsung dimasukkan ke dalam tongkang, kapal-kapal pengangkut dan kemudian meninggalkan tempat. Perhatikan juga, bagaimana pasir-pasir yang banyak mengandung mineral bernilai jual di sedot dari dasar laut dan langsung masuk kedalam vessel kapal. Lihat juga bagaimana gunung-gunung mengandung besi dipecah-pecah menjadi bongkahan-bongkahan dan langsung dibawa keluar negara. Tanah mengandung emas, tembaga, perak digali dan langsung diekspor. Padahal kita mampu mengolah bahan mentah ini.
Tentu saja, pengelolaan SDA yang semacam ini tidak diharapkan untuk ditiru. Oleh karena itu peran riset sangat menentukan terutama bagaimana untuk memperoleh nilai tambah yang optimal. Sebagai contoh, bila kita eksploitasi iron ore (biji besi), nilainya hanya US$ 60 per ton. Melalui proses pengkayaan, harganya menjadi $ 200. Bila selanjutnya diproses menjadi pig iron, harganya bisa mencapai $ 800 - $1100 per ton. Contoh lain adalah nickle ore, itu bernilai ~ US $100 per ton tetapi dalam bentuk logam Nikel bisa mencapai US $ 29.500,- per ton. Demikian juga ilmenite (FeTiO3) bernilai US $ 200 per ton, namun jika dimurnikan menjadi logam Ti nilai jualnya mencapai US $ 20.000,- per ton!
Dapat dilihat added value yang bisa diperoleh. Walaupun teknologi pemrosesan bahan tambang itu telah tersedia dan hanya diperlukan investasi saja, akan tetapi knowledge, atitude dan skill untuk pengelolaan SDA tersebut sangat penting dipunyai. Ini hendaknya perlu disadari bersama.
Seperti telah Anda sebutkan tadi bahwa potensi SDA Aceh belum dikelola secara optimal, apakah ini karena kendala sumber daya manusia?
SDA dan SDM terkait sangat erat. Diperlukan tenaga ahli yang berkompeten dalam pengelolaan SDA, bila kita ingin memperoleh nilai tambah (added value) yang optimal sehingga dapat dinikmati dan memberi kesejahteraan bagi rakyatnya.
Untuk kegiatan eksplorasi tambang misalnya, diperlukan kompetensi bidang mineral sehingga dapat menjalani tahapan-tahapan eksplorasi yang tepat. Diperlukan atitude yang proporsional dalam memutuskan langkah investasi dan eksploitasi, melakukan kajian kelayakan yang cermat. Semua ini memerlukan tenaga yang kompeten.
Sepengetahuan saya, di Aceh bukan tidak ada SDM yang kompeten. Banyak, tetapi rasanya masih tetap kurang, Bila kita perhatikan pemberitaan harian Serambi beberapa waktu yang lalu, disebutkan bahwa ”pemerintah Aceh cari tenaga ahli untuk pembangunan infrastruktur” dan disebutkan pula ”tenaga ahli yang ada masih sangat kurang”. Hal ini menunjukkan masih banyak pembenahan masalah SDM yang perlu terus dilakukan, tidak saja melalui pendidikan formal dari jenjang dasar sampai dengan tinggi tetapi juga melalui pendidikan non-formal seperti pelatihan-pelatihan berbagai kompetensi.
Terkait peningkatan mutu SDM ini, perguruan tinggi di Aceh bisa dikatakan belum ada yang memiliki jurusan spesifik dan khas semisal Mineral dan Pertambangan, komentar Anda?
Sudah selayaknya perguruan tinggi yang ada di Aceh memiliki fakultas atau program studi yang mendalami masalah pertambangan dan termasuk didalamnya know how tentang technological processing berbagai jenis mineral tambang. Perlu juga diingat bahwa masalah pengelolaan SDA misalnya hasil tambang tidak harus dimonopoli oleh lulusan dengan kompetensi tambang. Jadi, kalaupun saat ini di Aceh belum memiliki kompetensi tersebut maka segera sarankan kepada otoritas untuk memulai merintis membuka fakultas atau program studi tersebut.
Saya sangat percaya, sebuah program studi yang didukung oleh kekayaan alamnya akan cepat mencapai keunggulan dan memiliki daya saing. Janganlah kita berfikir yang terlalu tinggi misalnya bidang teknologi nanoscience -yang menjadi tren riset dan main issue masa kini. Tetapi selalulah berfikir bahwa keunikan yang terdapat di sekitar kita akan mampu membawa kita menempati salah satu posisi penting di masa depan.
Keunikan seperti apa?
Saya mengamati ilmu kelautan, geofisika eksplorasi, geothermal, tambang, mineral serta terkait sumber daya alam lainnya adalah salah satu keunikan yang dimiliki oleh Aceh dan dengan demikian berpotensi untuk dikembangkan bila ingin berada pada jajaran depan, minimal di negara ini. Sekali lagi, lihatlah keunikan apa yang kita miliki. Karena saya punya keyakinan bahwa untuk berada pada jajaran depan kita harus memiliki keunikan. Jadi, bukan sekedar ikut-ikutan tren. Istilah orang kita, bek meuron-ron.
Keterlibatan Anda dalam pengembangan SDM Aceh?
Saya sendiri berupaya membangun SDM Aceh dari sisi lain. Sebagai dosen tetap di UI, saya kerap membimbing dosen-dosen Unsyiah yang mengambil pendidikan tinggi S2 dan S3 di bidang Materials Science pada program pascasarjana UI. Sekali waktu saya pernah berpesan kepada salah seorang anak bimbingan saya, seorang dosen FMIPA Unsyiah, bukalah program pendidikan dan penelitian terkait dengan sumber daya alam. Saya sudah sejak lama menjalin kontak kerjasama dengan FMIPA Unsyiah. Begitu.
Berkaitan dengan situasi damai saat ini, terutama pasca MoU Helsinki, amatan Anda?
Begini, sebelum MoU tersebut terus terang ketika saya kembali ke Langsa menjenguk ibu dan mertua saya, saya merasakan sebagai orang asing saja. Dicurigai, terus diperiksa setiap langkah. Tentu hal ini dialami oleh setiap orang. Dengan perkataan lain betapa tertekannya perasaan orang yang hidup di tanah Aceh ini pada masa itu. Alhamdulillah, pasca MoU saya merasakan situasi yang sungguh jauh berbeda. Dua tahun yang lalu saya berziarah ke kuburan bapak saya di Taman Makam Pahlawan Banda Aceh. Berangkat dengan mobil dari Langsa dan sekitar pukul 23.00 malam saya berada dalam pendakian gunung Seulawah. Tidak ada perasaan yang mendebarkan saya rasakan. Justru saya menikmati udaranya yang segar, banyak pengendara motor (kereta) lalu lalang dari dan menuju Banda Aceh. Suatu perjalanan yang sangat menyenangkan. Itulah yang saya amati, kini Aceh jauh lebih aman. Bila situasi aman semacam ini bisa terus dijaga dan ditingkatkan kualitasnya dari waktu ke waktu, tidak saja hal di atas yang bisa dirasakan tetapi lebih jauh lagi, ketertinggalan seperti pada pendidikan, investasi/ekonomi, pembangunan infrastruktur, sosial budaya, kesejahteraan dan sebagainya bisa dipercepat agar dapat sejajar dengan daerah-daerah maju lain di negara ini.
Artinya dibutuhkan rasa aman yang abadi bagi kemajuan Aceh?
Menurut saya base linenya adalah keamanan, ketenangan dan kepastian hukum. Bila keamanan dapat dipertahankan dan ditingkatkan kualitasnya maka akan diperoleh ketenangan. Ketenangan dalam bekerja, ketenangan dalam memikirkan masa depan, ketenangan dalam perencanaan Aceh ke depan. Ketenangan itu bisa menjadi stimulan untuk kreasi dan inovasi. Hal ini perlu untuk derap langkah ke depan.
Mungkin ada pesan khusus untuk masyarakat Aceh?
Saya tidak punya pesan khusus, mengingat saya masih datang dan pergi dari daerah Aceh ini. Namun ada amatan khusus dari saya, dari dulu saya melihat budaya kerja di Aceh ini tidak banyak berubah. Banyak diantaranya bekerja secara kurang efektif atau kurang maksimal. Kurang inisiatif. Akibatnya tidak muncul inovasi. Hal ini mungkin bisa disebabkan kurang terdapatnya program-program kerja yang terencana baik dan memiliki ukuran-ukuran pencapaian. Aceh haruslah memiliki program-program yang progressive dari waktu ke waktu. Kalaupun saya harus berpesan kepada masyarakat Aceh maka dukunglah secara sungguh-sungguh program-program progressive pemerintah NAD termasuk dengan bekerja lebih efektif dan progressive. Saya juga berharap makin banyak putra-putri dari Aceh ini untuk tidak segan menimba ilmu dan pengalaman dari luar wilayah Aceh sendiri, bila mungkin hingga ke luar negeri.
DR. Rini Safitri, M.Si:
Tak perlu lagi berobat keluar Aceh
PENGANTAR. Polemik seputar belum berfungsinya peralatan medis canggih nan mahal di RSUZA (Serambi Indonesia, 4/4/09) cukup mengagetkan banyak pihak. Tak ayal beragam komentar “miring” bernada emosional pun bermunculan merespon berita tersebut. Sayangnya, sisi teknis dan ilmiah peralatan itu sendiri justru tak terangkat secara detail. Guna mengungkap sisi lain itu, Kontras berhasil menemui DR Rini Safitri, M.Si yang memiliki kompetensi tinggi di bidang Proteksi Radiasi dan Instrumentasi Medis. Patut dicatat, dosen dan peneliti di FMIPA Unsyiah itu saat ini merupakan satu-satunya doktor (S3) perempuan di Aceh yang menekuni bidang Medical Physics (Fisika Kesehatan). Jebolan School of Physics, USM Penang, Malaysia itu, dalam menyusun disertasi S3, bahkan sempat melakukan penelitian intensif di Rumah Sakit Pantai Mutiara Penang dengan memanfaatkan alat Radiotheraphy dan Linear Accelerator yang ada di sana. Perempuan kelahiran Banda Aceh 25 April 1970 itu juga pernah mengikuti kursus tentang Radiation Protection and the Safety of Radiation Sources yang diadakan oleh Badan Tenaga Nuklir Dunia (IAEA). Istri dari DR. M. Syukri Oesman (Wakil Dekan IV, FMIPA Unsyiah) itu Rabu kemarin (8/4) mengungkapkan beragam pandangannya kepada Kontributor Kontras, Zulkarnain Jalil. Berikut petikannya:
Berawal dari kunjungan tim anti korupsi gubernur ke RSUZA pekan lalu, didapati beberapa peralatan medis bernilai puluhan milyar rupiah belum difungsikan. Komentar Anda?
Menurut saya tidak ada yang perlu diperdebatkan. Kedua keterangan, mengutip Serambi Indonesia, yang diberikan oleh dr Indrita Iqbalawati SpR dan Sdr. Toni, staf ruangan radiologi, sangat berkaitan dan sesuai dengan prosedur dan standar yang berlaku. Dr. Rita sendiri telah berusaha untuk mencegah pemasangan alat itu. Namun, mengingat alatnya telah dipesan dan sudah sampai, serta harus segera diserahterimakan, maka dengan berat hati alat tersebut untuk sementara waktu diletakkan di RSUZA lama. Sedangkan penjelasan sdr. Toni, alat tersebut belum dapat dipakai sebab belum ada teknisi yang benar-benar terlatih yang bisa mengoperasikannya. Dari kedua pernyataan tersebut menunjukan bahwa mereka sangat paham dengan apa yang harus diperlakukan pada peralatan medis terbaru itu. Informasi dari dr. Rita, alat baru ini dapat mendiagnostik seluruh tubuh pasien. Alat sejenis itu biasanya memiliki energi sekitar 120-300 kV atau bahkan bisa juga lebih tinggi lagi.
Bisa lebih jelas lagi?
Dengan energi sebesar itu maka dapat dikategorikan sebagai radiasi dengan energi yang cukup tinggi. Misalnya ketika kita akan menempatkan mesin sinar X pada suatu ruangan. Ada aturan-aturan yang harus diperhatikan. Kita harus tahu apa fungsi dari sinar X yang akan kita tempatkan, untuk keperluan diagnostik atau untuk radioterapi. Lalu, disain bangunannya disesuaikan dengan energi maksimal yang akan dihasilkan alat dimaksud. Juga, semua sisi yang bersebelahan dari ruang mesin itu harus diperhitungkan. Berdasarkan kajian itu baru kita bisa mendesain tebal dinding dan jenis material yang akan diperlukan sebagai perisai untuk menghindari radiasi yang keluar dari alat tersebut.
Jika ruangan lama telah memenuhi standar, artinya alat tersebut sebenarnya sudah bisa dioperasikan?
Jika ruangan lama telah memenuhi standar proteksi radiasi, maka ada kemungkinan alat tersebut boleh dioperasikan. Ataupun paling tidak perlu ditempatkan tambahan pelindung berbahan Pb (timah hitam-red) dengan ketebalan tertentu sehingga radiasi scatter (terhambur) dari paparan alat tidak menganggu orang di sekitarnya.
Jika ruangan terdahulu pun tidak memenuhi standar proteksi radiasi?
Nah ada kemungkinan mesin sinar X yang lama dikhawatirkan juga telah menghasilkan hamburan yang mungkin telah mempengaruhi lingkungan sekitar. Tapi saya yakin proteksinya pasti sudah ada sejak awal didesain. Begitupun, sebagai bagian dari masyarakat yang prihatin dengan perkembangan teknologi kedokteran di NAD, saya sangat mendukung keberadaan berbagai alat kedokteran yang canggih itu. Karena tentu saja akan meningkatkan akurasi data hasil diagnosa dokter yang secara tidak langsung akan meningkatkan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Patut pula diperhatikan bahwa berbagai alat yang canggih itu harus didukung oleh tenaga yang punya kapabilitas tinggi dan trampil mengendalikan alat tersebut. Jadi jangan sampai alat yang telah kita beli dengan harga mahal malah tidak memberikan manfaat bagi warga.
Soal keselamatan radiasi, adakah standar baku?
Begini. Alat-alat kedokteran seperti sinar X untuk radiodiagnostik, radiasi yang dihasilkan dari mesin sinar X itu memiliki kemampuan untuk mengionisasi materi yang dilaluinya yakni tubuh manusia. Dengan kemampuan tersebut tidak tertutup kemungkinan akan timbul efek sampingan pada tubuh sebagai objek yang akan diradiasi. Upaya keselamatan radiasi sangat perlu diperhatikan agar terhindar dari efek-efek yang merugikan tersebut. Sebab itu ada dosis yang diperkenankan untuk seluruh tubuh bagi pekerja radiasi di Indonesia. Merujuk rekomendasi Dirjen Badan Tenaga Nuklir Nasional tentang Ketentuan Keselamatan Kerja Terhadap Radiasi, adalah sebesar 50 mSv/ tahun. Sedangkan dosis maksimum yang diperkenankan untuk seluruh tubuh bagi masyarakat umum adalah 5 mSv/ tahun.
Bedanya dengan radioterapi?
Perlu dipahami bahwa radiodiagnostik adalah radiasi yang dimanfaatkan untuk mendapatkan image (citra) dari bagian tubuh yang diradiasikan. Disini fungsi utamanya adalah untuk mendiagnosa kelainan yang ada pada tubuh pasien. Sedangkan radioterapi adalah suatu jenis perawatan penyakit kanker atau tumor yang menggunakan energi tertentu. Tujuan dari pada terapi radiasi ini adalah untuk membunuh sel kanker dan tumor dengan sangat seksama, akurat dan tepat pada sasaran. Caranya dengan merusak jaringan tumbuhnya, dengan tidak merusak jaringan sekitarnya. Begitupun, ketika radiasi tersebut dijalankan tidak mustahil jaringan sehat yang berada disekitar jaringan tumor ataupun kanker tersebut ikut terusakkan. Namun jaringan yang sehat itu nantinya akan mengalami pemulihan kembali. Terapi radiasi disini semaksimal mungkin membunuh sel kanker dan meminimalisir rusaknya sel-sel disekitarnya. Begitu.
Lalu kontribusi ahli fisika medis?
Begini ya, untuk memperoleh hasil yang sesuai dengan yang kita harapkan perlu selalu dilakukan pengecekan secara berkala menggunakan ionization chamber yang dilakukan pada saat expose (pemaparan) berlangsung ataupun pengecekan yang dilakukan secara berkala sebelum dilakukan expose. Hal ini diperuntukkan agar pasien akan mendapatkan dosis yang bersesuaian dengan yang direncanakan. Dan ini perlu ada kontribusi orang fisika medis
Pengecekan berkala seperti apa yang Anda maksud?
Maksudnya kalibrasi alat. Ini sangat perlu dilakukan secara berkala. Setiap alat radiasi yang baru dibeli sebaiknya dilengkapi dengan seperangkat alat yang berfungsi untuk menguji kesempurnaan radiasi yang terpancar dari alat. Kemampuan untuk menguji kesempurnaan radiasi itu sebaiknya dikuasai oleh tim teknis khusus yang ada di RS. Hal itu dilakukan untuk menghindari hasil image diagnosis yang salah sehingga bisa saja dengan hasil yang salah tersebut, menyebabkan dokter juga akan melakukan kesalahan dalam menginterprestasikan kondisi pasien. Apalagi untuk alat radiotherapi sangat diperlukan perencanaan perawatan (treatment planning) yang matang dimana pada perawatan ini diperlukan tim khusus antara dokter oncologyst dan ahli fisika medis yang bisa melakukan perencanaan penyinaran dengan sebaik-baiknya. Hal itu dilakukan agar tujuan dari perawatan, misal penyakit kanker, dapat tercapai.
Jadi alat radiodiagnostik ataupun radiotherapi yang digunakan dengan perencanaan dan dosis yang tepat akan sangat bermanfaat bagi masyarakat.
Ke depan tak perlu berobat keluar Aceh?
Kita patut mendukung kerja keras pemerintah Aceh dalam meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Dalam kerangka itu, keberadaaan alat radiodiagnostik dan radioterapi yang canggih sangat dibutuhkan. Sehingga jika ada pasien yang menderita penyakit tertentu dapat dilakukan perawatan di Aceh tanpa harus ke daerah lain atau bahkan ke negara lain. Kita bisa seperti Penang kok. Namun harus diingat, jika alatnya canggih tapi tak diiringi dengan pelayanan profesional maka sama saja bohong.
Harus ada yang memberi contoh tampaknya ya..
Iya betul. Ke depan para pejabat publik di Aceh harus bisa jadi patron. Misal, Pak Gubernur selaku public figure bisa memberi contoh. Tak perlu lagi berobat keluar Aceh. He he..
Oya, Anda kabarnya juga berkecimpung dengan nuklir. Bukankah itu jadi momok saat ini?
Teknologi nuklir memang selalu jadi momok menakutkan. Begitu opini hari ini. Padahal nuklir itu bukan sesuatu yang membahayakan, jika kita telah mengikuti aturan proteksi yang berlaku. Produk nuklir saat ini, selain untuk energi, telah pula dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti di bidang pertanian, peternakan, kedokteran, dan aneka industri lainnya. Karena yang dimanfaatkan dari hasil teknologi ini adalah energi radiasi yang dihasilkan dari bahan radioaktif yang merupakan produk dari reaktor nuklir. Khususnya energi , listrik tenaga nuklir tidak menghasilkan karbondioksida sebagai hasil pembakarannya. Jadi tidak mencemari lingkungan.
Bagaimana jika ada kebocoran?
Harus diakui masih ada pro dan kontra dalam pengembangan energi nuklir, terutama terkait dengan kebocoran radiasinya. Tapi itu dulu. Kini dengan teknologi yang sangat canggih, kebocoran tersebut dapat diminimalisir. Jadi tidak perlu ditakuti. Wong Amerika dan Eropa saja sebagian besar energinya dari nuklir kok.
Iran sendiri saat ini cukup maju teknologi nuklirnya. Tapi itu untuk keperluan pembangkit listrik. Bukan untuk senjata, seperti yang digembar-gemborkan Amerika dan sekutu-sekutunya.
Potensi nuklir di Aceh?
Saat ini, saya kira, yang sangat baik direalisasikan untuk Aceh adalah aplikasi atau pemanfaatan dari radiasi nuklir untuk keperluan masyarakat. Misalnya, penggunaan irradiator nuklir untuk pengawetan sayur-sayuran dan buah-buahan agar dapat bertahan lebih lama. Sehingga produk hasil pertanian kita dapat diekspor ketempat yang lebih jauh. Saat ini kami sedang mengkaji upaya pemanfaatan radiasi Co-60 dan Cs-37 untuk pengawetan hasil pertanian. Ada juga pemanfaatan teknologi radiasi untuk industri sterilisasi (makanan, minuman, dan lainnya). Saya kira ini akan membuka peluang kerja baru. Yang pasti apapun bentuk pemanfaatan dari radiasi nuklir ini kesemuanya harus memerhatikan upaya keselamatan radiasi standar.
Katlin Hommik Terkesan Puasa Ramadhan
PENGANTAR. Katlin Hommik nama gadis asal Estonia ini. Usia tiga tahun dia sudah banyak bertanya tentang Tuhan dan hidup setelah mati. Ketika Estonia masih dalam genggaman Sovyet, agama adalah hal tabu untuk dibicarakan. Begitupun, selepas Estonia merdeka Katlin mencoba belajar ajaran Kristen di sekolahnya. Tapi dia dikeluarkan karena dianggap terlalu banyak bertanya tentang keberadaan Tuhan. Akhirnya dia memutuskan keluar dari Kristen dan mencari agama lain. Begitulah, bertahun-tahun mempelajari berbagai ajaran diapun menemukan Islam. Menariknya, dia memeluk Islam selepas sebulan penuh ikut berpuasa. Dia mengaku puasa Ramadhan telah membimbingnya masuk Islam. Berikut penuturan Katlin seperti dikutip Islamreligion.com edisi 7 April 2008 silam.
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Saat masih berumur tiga tahun, aku pernah bertanya pada ayah: ”Apa yang nanti aku lakukan setelah mati, Ayah?” Kala itu ayah sangat terkejut mendengar pertanyaan dari anaknya yang masih berusia tiga tahun. Dia terlihat bingung harus memberi jawaban apa. Itulah awal pencarianku akan keberadaan Tuhan.
Di Estonia, terutama ketika masih berada di bawah kekuasaan komunis Sovyet, agama adalah barang tabu dan tak seorang pun diijinkan untuk berbicara di depan umum masalah agama dan keyakinan. Waktu itu berlaku opini bahwa hanya orang gila saja yang percaya akan Tuhan. Bagaimana mungkin percaya pada sesuatu yang tidak bisa kita lihat? Astronot kami pergi ke angkasa luar dan mereka tidak melihat Tuhan duduk di atas awan. Karena itu Tuhan tidak ada! Begitulah opini yang berkembang saat itu.
Hidup dalam masyarakat serupa itu, tentu saja ayah tak mampu memberikan jawaban atas pertanyaan ”aneh” yang kuajukan itu. Dia hanya menjawab ringan: ”Anakku, ketika mati nanti kamu ya cuma tidur di dalam tanah...” Tak ada penjelasan lebih detil.
Selebih itu aku tidak pernah mendengar jawaban lain yang melawan pendapat ayahku. Sejak itulah aku berusaha mencari jawaban sendiri, meski baru berumur tiga tahun. Tapi, ternyata jalannya sangat panjang sekali. Perlu waktu bertahun-tahun. Aku selalu merasa Tuhan itu pasti ada kendati aku tidak mampu menyebut nama-Nya. Aku juga seakan merasa Dia selalu ”mengamati” tindak tandukku.
Saat mulai masuk sekolah dasar, pertanyaan-pertanyaanku makin membuat ayah pusing hingga aku dihantarkan kepada nenek. Nenekku sendiri lahir di masa Republik Estonia pertamakali dicetuskan. Jadi dia masih merasakan kehidupan gereja pada saat usianya masih muda.
Neneklah yang pertamakali mengenalkanku cara memanggil Tuhan. Dia mengajarkan cara berdoa ala Kristen dengan menyebut “kepada Bapa kami di surga”. Uniknya, dia melarangku agar tidak mengucapkannya di depan khalayak ramai. Nanti ayah bisa dapat masalah besar. Begitu pesan nenek kala itu. Sejak itulah aku berniat untuk terus belajar ajaran Kristen dari nenek secara diam-diam.
Begitulah. Waktu pun berjalan cepat. Tepat di usia 11 tahun , persis di hari kemerdekaan dari Sovyet, aku masuk sekolah Minggu. Tahu tidak, mereka justru menolak kehadiranku!
Mereka berdalih aku terlalu banyak tanya. Kata mereka, keimananku telah rusak. Aku merasa heran, padahal semua pertanyaanku itu tak ada yang salah. Pertanyaanku rasional. Bagaimana mungkin ada anak Tuhan yang pada saat yang sama sekaligus bertindak sebagai Tuhan. Hingga guruku pun bingung.
Memasuki usia 15 tahun, aku makin intensif belajar ajaran Kristen secara otodidak. Aku mencari sendiri melalui literatur yang ada. Waktu itu aku masih menganggap aku ini orang Kristen. Tapi entahlah, pada akhirnya aku tak mampu bertahan. Aku tidak bisa menerima hal-hal tak rasional dalam ajaran Kristen. Aku memutuskan untuk mencari “sesuatu” yang lain. Nah setelah mempelajari berbagai ajaran agama, akhirnya aku pun menemukan Islam.
Selepas mengenal Islam, aku butuh waktu hingga tiga tahun untuk ”mengenal” siapa aku ini sebenarnya. Aku selalu bertanya pada diri sendiri apa aku sudah benar-benar yakin jadi muslim. Apa aku sudah siap? Begitulah, akhirnya di usia yang ke-21 aku pun bersyahadah.
Aku memeluk Islam tepat beberapa hari selepas Ramadhan 2001. Ramadhan sangat menginspirasiku. Bulan puasa itu kurasakan begitu indah. Menjalankan ibadah puasa berarti sekaligus berempati kepada mereka yang tak berpunya. Jauh sebelum aku mengenal Islam, perasaan kasih antar sesama telah hadir dalam hatiku.
Aku sendiri masih bingung, kenapa aku bersyahadah setelah Ramadhan. Bukannya sebelum atau selama Ramadhan. Yang kuingat, aku berpuasa sebulan penuh. Aku berharap hal itu bisa menghapus segala “kotoran” dalam diriku dan masuk Islam dalam keadaan suci bersih. Begitu pemahamanku waktu itu.
Karena itu, tiap kita puasa jangan hanya memikirkan kapan datangnya waktu berbuka. Kapan waktunya bisa makan dan minum lagi. Kapan bisa merasakan enaknya masakan sang istri di rumah, dan lain-lainnya. Tapi seharusnya kita juga memikirkan nasib orang lain yang menderita, bukan hanya karena kekurangan makanan, tapi juga karena menderita ”batin” akibat belum mendapatkan petunjuk-Nya. Itulah esensi puasa.
Sebagai seorang muslim, kita harusnya benar-benar bersyukur sebab diberi waktu untuk berpuasa sekali dalam setahun. Harus kita yakini hal itu sebagai upaya untuk memperbaiki diri kita secara personal, jasmani dan rohani serta yang maha penting lagi untuk berbagi kasih sayang dengan sesama. Terutama kepada mereka-mereka yang sedang dalam perjalanan mencari kebenaran Islam, semoga mereka cepat mendapatkan hidayah Allah. Amiin. (Zulkarnain Jalil).