Lengkingan Vuvuzela setara suara mesin jet
Vuvuzela adalah fenomena baru di Piala Dunia kali ini. Boleh jadi, Piala Dunia Afsel akan dikenang sebagai Piala Dunia paling berisik sepanjang masa. Saat pertandingan Afsel lawan Meksiko kemarin malam, pasti Anda mendengar suara riuh mirip dengungan ribuan tawon yang sedang berterbangan. Suara tiupan terompet plastik khas Afsel itu terdengar bagai tak ada henti. Vuvuzela sebagai salah satu alat musik lokal, diyakini mampu mendongkrak semangat pemain di lapangan. Tapi apa jadinya jika malah bikin telinga berdengung?
Tak pelak, vuvuzela bikin penasaran para peneliti masalah suara. "Suara vuvuzela sangat berisiko dan bisa menyebabkan kerusakan permanen pada alat pendengaran," terang Dr De Wet Swanepoel dari Jurusan Patologi Komunikasi, Universitas Pretoria, Afsel seperti dikutip Sport24.
Swanepoel yang melakukan riset bersama Dr James Hall dari Universitas Florida, Amerika Serikat menerbitkan hasil riset terbarunya itu di SA Medical Journal. Tim riset ini melakukan tes di stadion berstandar FIFA dengan kapasitas 30 ribu tempat duduk. 11 orang penonton dijadikan sampel ujicoba. Sebuah detektor suara mini direkatkan di dekat bahu mereka. Pengujian dilakukan sebelum dan sesudah pertandingan.
Hasilnya sangat mencengangkan. Suara vuvuzela selama dua jam ternyata memiliki intensitas sebesar 100,5 desibel (dB). Jika jumlah peniup ditambah, intensitas meningkat hingga 144,2 dB. Sebagai perbandingan, getaran suara mesin bor jalanan sama dengan 100 dB. Deru mesin pesawat terbang 120 dB. Berarti lengkingan vuvuzela bisa melebihi suara mesin jet. Wow!
“Jadi sangat beralasan jika kami katakan intensitas suara vuvuzela bisa lebih tinggi lagi di stadion resmi Piala Dunia. Dimana kapasitasnya bahkan mencapai tiga kali lipat dari stadion yang kami gunakan dalam penelitian ini, " terang Swanepoel dalam makalahnya.
Merujuk data, intensitas suara 30 sampai 40 dB masuk katagori gangguan ringan. Lalu, 40-60 dB skala sedang dan intensitas suara antara 60 hingga 90 desibel sudah tergolong skala berat. Karena itu, dengan intensitas suara yang dimiliki vuvuzela, para peneliti menyarankan perlunya penggunaan alat pelindung mini di telinga.
Hasil riset itu tak berbeda jauh dengan temuan tim riset Phonak -perusahaan produsen alat bantu pendengaran asal Jerman- yang meneliti suara vuvuzela. Hasil temuan tim Phonak yang dilakukan di sebuah stadion di Cape Town diketahui intensitas suara vuvuzela mencapai 127 dB.
Vuvuzela pemain ke-12
Vuvuzela sempat jadi kontroversi di Piala Konfederasi tahun 2009 silam, karena dianggap mengganggu konsentrasi pemain di lapangan. Pemain Spanyol Xabi Alonso bahkan meminta vuvuzela dilarang saja. Entah karena vuvuzela, Spanyol akhirnya kalah lawan Amerika 0-2 di semi final.
Presiden FIFA Sepp Blatter acuh saja dengan saran ini dan dengan enteng menjawab: “Vuvuzela adalah bagian dari budaya masyarakat Afrika. Kenapa kita tidak belajar beradaptasi dengan kultur mereka.“
"Kita musti hargai cara rakyat Afrika mengungkapkan rasa gembiranya. Biarkan mereka mengekspresikan dengan cara mereka sendiri. Mungkin beda dengan kultur kita. Tapi, itulah kebanggaan mereka dan jangan dilukai," timpal Juergen Klinsmann, eks pelatih tim panser Jerman yang berada di Afrika sebagai komentator televisi.
“Kami butuh Vuvuzela. Kami butuh segala hal yang bisa memompa semangat para pemain. Vuvuzela adalah pemain ke-12 kami,“ tegas Carlos Alberto Parreira, pelatih timnas Afsel.
Dan, kini ada sebuah perusahaan di Afsel yang sukses menangkap peluang usaha baru dari kontroversi vuvuzela. Perusahaan itu saat ini memasarkan busa penyumbat telinga yang dirancang secara khusus hingga mampu meredam suara dengan intensitas tinggi. Begitulah.
No comments:
Post a Comment