Thursday, June 17, 2010

Makarapa, berkah dari lemparan penonton

Piala Dunia Afrika Selatan menawarkan banyak pernak pernik unik dan penuh warna. Selain terompet vuvuzela, ada satu asesoris lagi yang kini jamak digunakan suporter bola selama Piala Dunia. Itulah Makarapa, topi yang asal muasalnya dibuat dari helm proyek yang umum dipakai pekerja konstruksi bangunan. Tahu tidak, ternyata munculnya makarapa yang mendunia itu diilhami oleh lemparan penonton saat nonton bola di stadion. Lho, kok bisa?
”Semua bermula di tahun 1979. Kala itu, sehabis bekerja sebagai pencuci mobil, saya ke Orlando Stadium untuk nonton bola. Waktu itu tim kesayangan saya Kaizer Chiefs main lawan Moroka Swallows,” ujar Alfred Baloyi, pencipta makarapa, mengawali ceritanya.
”Bagi yang sering nonton bola di stadion Orlando pasti ingat dengan tribun kelas ekonomi, tribun khusus bagi yang berkantong cekak. Di tribun ini kita sudah biasa kena timpuk penonton yang duduk di atas. Nah, satu hari saya nonton ditemani Hendrik Langa, seorang teman yang bekerja di perusahaan konstruksi bangunan. Mungkin kasihan melihat saya kena timpuk, lantas Hendrik memberi saya sebuah helm proyek. Berkat helm itu kepala saya aman selama pertandingan,” lanjut Baloyi.
Baloyi, yang punya bakat seni sejak kecil, rupanya mencium “sesuatu” dari helm itu. Dia, bak fisikawan terkemuka Newton yang mendapat ilham dari jatuhnya buah apel yang menimpa kepala, lantas bergegas pulang ke rumah untuk menuangkan ide dari lemparan suporter di stadion itu.
"Di gudang, helm itu saya cat dengan warna-warni sesuai warna tim kesayangan saya,” kisahnya lagi. Di hari berikutnya, dia menambahkan tanduk hewan, misalnya tanduk kambing atau kerbau. Lalu ditambah foto para pemain. Rupanya ada penonton yang tertarik. Dia pun membuat beberapa buah makarapa.
“Saya jual seharga 7 rand (sekitar 8 ribu rupiah),” kata Baloyi mengenang. Perlahan, topi makarapa buatannya makin dikenal suporter bola. Pesanan pun terus meningkat. Akhirnya dia memutuskan berhenti bekerja sebagai pencuci mobil dan menekuni usaha makarapa. Baloyi lantas melatih beberapa anak muda di kampungnya merancang makarapa. Tiap ada pertandingan, mereka juga membuka lapak di sekitar stadion.
Jerih payahnya selama bertahun-tahun di bengkel sempit di Ga-Makausi, Germiston akhirnya mulai dikenal dunia luar. Saat Piala Konfederasi tahun 2009 kemarin, banyak fans Afsel mengenakan makarapa buatannya. Baloyi mengaku sangat terbantu oleh foto-foto yang muncul di media internasional. Maka dapat ditebak, topi makarapa pun go internasional.
Helm makarapa sempat diperkenalkan di Swiss saat Afsel ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia. Bahkan bos FIFA Sepp Blatter pernah diberi hadiah makarapa ketika melakukan inspeksi ke Afsel.
Selama Piala Dunia, untuk menambah kesan manis, makarapa pun dimodifikasi dengan tambahan aneka motif dan asesories. Ada yang dipasang sayap, dipadu dengan kacamata raksana, wajah pemain tertentu, bendera negara peserta Piala Dunia, dan bermacam asesories lainnya.
Makarapa bisa diperoleh di toko-toko, pedagang kaki lima hingga asongan dengan harga berkisar 120 rand (sekitar 154 ribu rupiah). Di pasaran internasional laku dijual hingga 30 dolar (sekitar 280 ribu rupiah). Untuk desain yang lebih ekslusif bahkan bisa mencapai 200 dolar (sekitar 1,8 juta rupiah).
Usaha Baloyi kini telah pindah ke Sandton, Johannesburg dan punya gudang luas. Dia dibantu oleh 50 orang pegawainya. Baloyi juga bekerjasama dengan Papadi Integrated Marketing (PIM) untuk memasarkan makarapa ciptaannya. PIM adalah sebuah perusahaan distributor alat-alat olahraga lokal dan direkturnya, Grant Nicholls merupakan teman lamanya dan sama-sama fans bola.
Kendati sudah sukses dan terkenal, Baloyi yang tak tamat sekolah dasar, tetap rendah hati. Hari-harinya disibukkan dengan membuat makarapa. Dia berharap mampu membuka lapangan kerja yang lebih luas dan dapat membantu pemerintah mengurangi pengangguran.

No comments: