Friday, June 18, 2010

Pedagang bendera pun panen

Piala Dunia membawa berkah tersendiri bagi para pedagang bendera di Afsel. Terbukti penjualan bendera 32 negara peserta PD 2010 saat ini laku keras. Seperti dilaporkan Sport24, banyak warga Afsel yang memanfaatkan even ini untuk memperbaiki kondisi ekonomi mereka. Salah satunya ya dengan berjualan bendera.
Editor olahraga Voice of America, Parke Brewer yang sedang meliput Piala Dunia mengaku terkesima selama berada di Afsel. “Saya tak pernah melihat sebelumnya begitu banyak bendera berkibar disini. Tak hanya di stadion, tapi di hampir semua pelosok kota bermandikan bendera. Mobil, rumah, perkantoran, toko hingga kios-kios kecil,” ujar Brewer kagum.
Sebagian warga Afsel kini malah mengisi waktu dengan berjualan bendera, terutama para pengangguran. Bahkan ada yang meninggalkan pekerjaan lamanya dan beralih jadi pedagang bendera. Karena uang yang diraih dari berjualan bendera bisa lebih banyak.
Di kota-kota besar seperti Johannesburg, Cape Town dan Durban, penjual bendera begitu menjamur. Seperti di Johannesburg, kebanyakan mereka beroperasi di jalan raya, utamanya di kawasan lampu merah. Kota itu kini penuh warna warni bendera 32 kontestan.

Para pedagang jalanan menjual bendera yang paling besar rata-rata seharga 150 rand (sekitar 180 ribu rupiah). Sedangkan yang kecil bervariasi. Bendera yang paling laku adalah Brazil, Belanda, Spanyol dan Portugal. the Netherlands, Spain and Portugal. Tentu saja bendera tuan rumah Afsel masih menempati peringkat pertama. Saat pembukaan pedagang meraup keuntungan besar.

Nathan Murindagamo (24), seorang pemuda Afsel, terlihat sangat menikmati pekerjaan barunya itu. Nathan mengaku telah meneguk untung banyak dari berjualan bendera. "Piala Dunia ini luar biasa, hebat buat kami yang berekonomi lemah. Aku senang bisa dapat uang disini, di jalan raya," ujar pria pengangguran itu gembira.

Lain lagi Murindagamo, dia mengaku mampu meraup pendapatan yang menggiurkan dalam sehari. ”Bendera paling laris ya Afsel, diikuti Brazil, Belanda, Spanyol dan Portugal. Saya mampu mengumpulkan uang hingga 800 rand sehari (sekitar 960 ribu rupiah). Senang sekali rasanya. Piala Dunia sangat membantu keluarga saya," kata dia sumringah.
"Saya meninggalkan pekerjaan lama dan beralih jualan bendera disini. Uangnya lebih banyak dari dagang bendera," kata Lovemore Toronga (30) sambil melambai-lambaikan bendera dagangannya di sebuah perempatan jalanan yang sibuk di Johannesburg. "Saya akan jualan terus hingga turnamen selesai 11 Juli nanti,” imbuh Toronga sembari berteriak menawarkan bendera.
Diantara pedagang kecil, pedagang bendera seperti Toronga dan Murindagamo patut berlega hati. Pasalnya saudara mereka, pedagang kaki lima dan asongan, yang berdagang makanan dan minuman ringan kurang mampu meraih hasil maksimum. Kalah bersaing dengan pedagang modal besar seperti Coca Cola dan McDonald.
Made in China
Sayangnya, raihan omset besar ternyata tak dinikmati produsen bendera lokal. Apa pasal?
“Produsen lokal tak mampu berkompetisi dengan produsen asal China yang berani melepas dengan harga rendah. Kami bahkan tak mampu menutupi biaya produksi. Sebegitu rendahnya bendera produk China," keluh Michael Goldman, direktur Flag Factory seperti dikutip iol.za.

“Sebuah bendera tipe kecil asal China harganya cuma 35 rand (sekitar 42 ribu rupiah). Itu setengah dari harga jual bendera produk lokal. Perbedaan harga mencolok ini, karena pabrik-pabrik di Afsel harus membayar pekerjanya lebih mahal. Itulah masalahnya. Sayang, padahal saat ini bendera sedang jadi primadona,” lanjut Goldman.

Tak pelak, produsen bendera di Afsel pun geram dengan banyaknya produk murah asal China itu. “Padahal ini peluang besar kami untuk menciptakan lapangan kerja di Afsel. Setidaknya sekitar 4 jura rand hilang diserap bendera impor,” ujar salah satu produsen lokal tak mau disebut namanya.

No comments: