Sunday, June 13, 2010

Pedagang kaki lima pun menjerit
Dibalik gemerlap dan gegap gempita Piala Dunia, ternyata tidak semua orang bisa menikmati hajatan sepak bola terbesar dunia ini. Mereka adalah para pedagang kecil, seumpama pedagang kaki lima dan asongan yang kehilangan kesempatan meraih rezeki selama Piala Dunia. Para pedagang itu harus menyingkir dari area stadion, juga arena fan fest. Munculnya kawasan ekslusif di sekitar stadion dan fan fest yang digagas FIFA telah menimbulkan kekecewaan para pedagang kecil yang berharap kecipratan rezeki selama Piala Dunia. Bahkan para pedagang yang punya kios dan bertahun-tahun telah membuka lapak disana, tetap harus minggat. Kawasan tersebut hanya boleh diisi oleh pedagang atau sponsor resmi berlisensi FIFA.
"Saya pernah jualan di sini, dekat Grand Parade, tetapi sejak didirikan Fan Park kami harus pindah ke pinggiran. Piala Dunia ini hanya peristiwa yang akan menguntungkan kalangan konglomerat besar seperti Cola Cola dan McDonald." Kata benji yang berdagang buah-buahan di kawasan Grand Street, Cape Town. Bersama pedagang kaki lima lain dia saat ini berdesak-desakan di sisi sebuah jalan raya yang sebenarnya sudah diisi para pedagang tetap."Tidak benar kalau disebut Piala Dunia 2010 untuk semua orang Afrika Selatan. Tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Orang seperti kami tak punya kuasa," imbuh Benji.
Lain lagi di Rustenburg. Para pedagang kecil di sana rencananya akan melakukan demo hari Senin (hari ini-red). Demo itu, seperti disitir StreetNet International, akan dipusatkan di kawasan Magistrate’s Court. Ratusan pedagang kaki lima dan asongan yang merasa terampas hak berjualan selama Piala Dunia bakal ikut serta.
“Pemko telah mengusir kami demi untuk “kecantikan” kota selama Piala Dunia. Mereka mengusir tanpa pemberitahuan, juga tidak memberi tempat alternatif lain untuk berdagang,” ujar Paul Shambira, pemimpin demo itu.

"Kami berusaha untuk hidup kami. Kami menjual barang seharga 2 hingga 5 rand (sekitar 2400 hingga 5800 rupiah) untuk membantu mereka-mereka yang tak mampu, bahkan pengemis sekalipun berbelanja pada pedagang seperti kami," ujar Mony Govender, seorang pedagang buah-buahan. "Tentu saja harga seperti itu tak akan didapat jika beli di supermarket atau mall," imbuh ibu itu lagi.
Kekecewaan para pedagang kecil terhadap panitia Piala Dunia juga merebak di kota Durban. Johannes Mzimela, seorang pedagang es krim, mengaku kecewa saat diciduk oleh Satpol PP setempat "Ini razia penuh permusuhan," umpat Mzimela yang bermaksud menggelar dagangannya di sekitar stadion.
“Saya telah jualan es krim selama 25 tahun disini. Tapi kini harus minggat. Pedagang bermodal besar bisa berjualan di dekat stadion. Mereka bisa membayar berapapun untuk mengurus perizinan. Tapi kami?,” ujar Clement Zulu, salah satu pedagang lainnya dengan nada ketus. Menurut regulasi, siapa saja yang akan berjualan musti mengurus izin usaha di kantor pemkot setempat. Yang melanggar, maka penjara menunggu.
Jabulane Ngubane, pedagang kaki lima lainya , menyebut Piala Dunia telah merampas kehidupan keluarganya. "Polisi mengusir kami dari kawasan stadion seakan-akan kami ini orang-orang kriminal," ujar Ngubane, yang berdagang makanan dan minuman ringan untuk menghidupi 13 orang anaknya.
Ngubane sendiri berasal dari Pietermaritzburg, sekitar 43 km dari Durban. Dia pulang kampung seminggu sekali untuk menemui keluarganya. Sebelum diciduk satpol, di hari-hari biasa Ngubane memperoleh penghasilan sekitar 400 rand (sekitar 480 ribu rupiah) dalam sehari. Dengan penghasilan segitu dia mampu mengirim untuk keluarga sedikitnya 1200 rand (sekitar 1,4 juta rupiah) setiap pekan. Saat barang dagangannya disita, dia musti bayar denda sebesar 300 rand, setara dengan pendapatannya sehari. "Tak ada yang bisa dilakukan dengan Piala Dunia ini. Saya gembira jika bisa segera berakhir. Jadi bisa dagang lagi seperti biasa,” harap Ngubane.
Umumnya para pedagang itu menyesalkan aturan yang menyebut hanya sponsor resmi Piala Dunia saja yang berhak tampil di stadion dan arena fan fest. Sementara pedagang kecil yang menjajakan makanan ringan, jagung bakar, rokok, permen, kartu telepon dan aneka souvenir tidak memiliki akses berdagang. Padahal merekalah yang mendominasi gambaran ekonomi warga di hampir semua kota di Afsel.
Seperti saya tulis di Serambi edisi Jumat (11/6) lalu, banyak pedagang kecil yang harus gigit jari sebab dilarang berdagang di arena kumpul fans dan sekitar stadion. FIFA memang mengeluarkan regulasi yang melarang pedagang membuka lapak dagangan di sekitar stadion dan fan fest kecuali sponsor resmi Piala Dunia. Manejer stadion yang ditanya seputar hal itu bungkam, menolak berkomentar. Sejauh ini belum ada respon dari pejabat FIFA terkait masalah sensitif tersebut.

No comments: