Perancis berduka, Irlandia tertawa
Perihal angkat kopernya Perancis dari Piala Dunia Afsel rupanya memantik koran-koran di Irlandia untuk menurunkannya sebagai berita utama. Seperti diekspos oleh dua harian berpengaruh di Afsel, yakni Business Day dan Sport24 yang terbit di Johannesburg, bahwa hampir semua koran di Irlandia seakan bersepakat menyebut gagalnya Tim Ayam Jantan Perancis sebagai “Hari Penghakiman” untuk Perancis. Kenapa media Irlandia malah tertawa di atas duka yang sedang dialami Perancis?
Semua bermula pada 19 Oktober 2009 silam saat Perancis lolos dari lobang jarum babak play-off Piala Dunia 2010 dengan menang kontroversial dari Irlandia. Kontroversial, karena gol tunggal Prancis itu dicetak setelah didahului oleh hands ball Thierry Henry. Dari tayang ulang, sangat jelas terlihat kalau bola dibelokkan Henry dengan tangannya, lalu mengoper ke Gallas yang tinggal mendorong sedikit ke gawang Irlandia. Rakyat Irlandia pun meradang.
Begitulah, Prancis berangkat ke Afsel dengan tiket “haram” yang dicuri dari saku Irlandia. Mungkin, karena dicapai dengan cara tidak elegan itu selama berada di negeri Nelson Mandela, Prancis terus didera konflik tiada henti. Konflik internal adalah yang sangat kentara, tinggal menunggu bom waktu saja. Dan, kemelut meledak Sabtu pekan lalu saat striker Nicolas Anelka diusir dari timnas Prancis karena melontarkan kata-kata 'tidak pantas' ke Raimond Domenecg, sang pelatih.
Tak pelak, kini koran-koran di Irlandia pun “bersuka ria” atas gagalnya Perancis melaju ke babak 16 besar Piala Dunia 2010. Mereka seakan bersepakat untuk menurunkan berita itu sebagai berita utama di halaman depan. Tentu saja, ”gol tangan Tuhan” Henry di Stade de France diungkit-ungkit lagi, kendati Henry sendiri telah minta maaf kepada publik Irlandia. ”Hari Penghakiman” tulis harian terkemuka Irlandia Examiner. Koran itu menyebut bahwa kekalahan Perancis atas Afrika Selatan (2-1) dengan memelesetkan Tour de France menjadi ”end of Tour de Farce” (akhir dari lelucon Perancis).
Harian yang terbit di Dublin –ibukota Irlandia- itu masih mengungkit gol Henry tujuh bulan silam dengan mengutip istilah dalam bahasa Perancis "Le Hand of Dieu" atau tragedi tangan Tuhan. Perancis berangkat ke Afsel dengan tiket ”haram” hasil ”penipuan” Henry. Demikian Irish Examiner.
Sementara itu harian terkemuka lainnya, Times menulis "France's nightmare World Cup finally ends with inglorious exit". Mimpi buruk Perancis di Piala Dunia berakhir dengan memalukan, begitu kira-kira artinya.
Times terus memojokkan Prancis dengan kata-kata pedas. "Ini boleh dicatat sebagai Tahun Duka Perancis. Kemarin di Bloemfontein, pelaku kejahatan telah mendapat hukuman setimpal," ulas Times dalam headline-nya.
"Au revoir!" (selamat tinggal!) tulis harian Independent dihalaman utamanya. "Maafkan kami yang tertawa atas duka Les Blues, tapi ini semua gara-gara kalian sendiri. Barangkali ini hukum karma atau kutukan atau apapun namanya. Tapi yang pasti tim yang telah menipu kami hari ini pulang kampung dengan penuh kehinaan,” tambah Independent lagi. "Kami sebenarnya ber-empati dengan hari buruk yang dialami mereka. Namun orang-orang Irlandia tak bisa menyembunyikan rasa senangnya," tutup Independent.
Menariknya, seperti dicatat media Afsel Timeslive, di Paris warga Prancis malah mengelu-elukan kemenangan tim Bafana. Arena nobar di dekat Menara Eiffel berubah jadi pesta untuk Afsel. Bahkan ketika Goucuff dapat kartu merah, disambut dengan sorakan gembira. Kentara sekali kalau suporter Prancis sudah muak dengan lelucon timnas mereka, tulis Timeslive.
Begitulah. Kegagalan ini mirip dengan Piala Dunia 2002 di Jepang-Korea. Kala itu Prancis juga angkat kaki lebih cepat setelah jadi juru kunci. Lagi-lagi masalah internal yang jadi biang keroknya.
No comments:
Post a Comment