Tuesday, June 08, 2010

Relawan kota Cape Town siap tempur

Volunteer (relawan-red) adalah bagian terpenting bagi suksesnya penyelenggaraan Piala Dunia. Cape Town yang bakal disesaki tamu dan maniak bola dilaporkan telah menyiapkan sedikitnya 1200 relawan selama Piala Dunia 2010.

"Sebagian besar relawan kami rekrut dari warga kota Cape Town sendiri. Disamping ada juga dari negara lain. Alasannya, relawan lokal tentu hafal dan paham setiap inci sudut kotanya. Ini akan memudahkan kami dalam membantu dan memandu para tamu.," ungkap Garth Kemp, penanggung jawab relawan kota Cape Town seperti dikutip BuaNews.

Para relawan yang berusia antara 18-75 tahun diseleksi secara ketat. Yang lulus seleksi mendapat pembekalan singkat meliputi tips dan trik servis bagi tamu asing, P3K, keamanan, pariwisata, transportasi, IT dan prosedur pengurusan administrasi kota. Hasil pelatihan langsung diujicoba di stadion dan area penting di pusat kota. Khalayak ramai terlihat antusias menonton atraksi sukarelawan ini.

"Mereka mulai bertugas sejak 5 Juni lalu hingga 13 Juli nanti. Masing-masing dibentuk dalam beberapa kelompok dan bahu membahu satu sama lainnya dengan koordinasi terpadu," imbuh Kemp seraya menyebut wilayah kerja relawan sebagian besar adalah kawasan stadion, arena nonton bareng, bandar udara, dan hotel tempat tim dan para tamu menginap.

Para relawan dengan berbalut seragam warna oranye akan bekerja selama 9 jam sehari dengan cara shift (bergiliran) dari pukul 8.30 pagi hingga 24.30 tengah malam. Tak hanya itu, para relawan juga akan ditempatkan di Pusat Kegiatan Olahraga dan Rekreasi setempat. Area itu bakal dijejali pengunjung, terutama anak-anak sekolah, sebab bertepatan dengan musim liburan.

"Relawan kami adalah relawan terpilih yang memiliki gairah, semangat dan antusias tinggi, juga skill sosial dan kemampuan beradaptasi secara cepat pada tiap kondisi. Mereka mampu berkomunikasi dalam beberapa bahasa, selain Inggris" terang Kemp seraya menyebut seluruh relawan telah mendapat akreditasi penuh dari FIFA.

Selama turnamen, Good Hope Centre akan jadi markas para relawan.
Beberapa relawan ditempatkan khusus untuk memasukkan data-data mutakhir ke sistem database pemerintah kota Cape Town. Hal ini akan memudahkan otoritas kota untuk mengakses segala aktifas di seluruh penjuru kota secara real time, akurat dan tepat waktu.

"Wah, senang sekali bisa ikut serta sebagai relawan di Piala Dunia kali ini. Banyak sekali hal-hal baru yang kupelajari selama pelatihan, terutama saat ujicoba di lapangan. Misalnya, bagaimana mengekspresikan diri dengan orang banyak, dari berbagai negara dan dengan kultur berbeda. Sungguh sebuah pengalaman yang mahal," tukas Joyce McGowan (21), salah seorang anggota relawan yang berasal dari kawasan Scottsdene, Cape Town Utara sumringah.
Selama turnamen Joyce dapat tugas menemani Timothy Amos, relawan lainnya, di Pusat Kegiatan Olahraga dan Rekreasi. Diperkirakan ratusan pelajar berusia 3 hingga 18 tahun bakal memenuhi arena itu selama musim liburan sekolah.

"Dibantu beberapa relawan lain, kami secara bergantian akan memandu acara khusus untuk anak-anak dan para pelajar selama liburan sekolah bulan Juni di kawasan itu," kata Timothy.

Pada Piala Dunia kali ini, hingga akhir masa pendaftaran ada sekitar 67.000 calon relawan dari 170 negara yang memasukkan lamaran mereka. Padahal untuk penyelenggaraan nanti, mengutip FIFA, dibutuhkan 15.000 relawan. Bagi Dr Danny Jordan, Ketua Panitia Piala Dunia, animo pelamar yang sedemikian tinggi sebagai bentuk apresiasi dan respon yang luar biasa dari masyarakat dunia terhadap Piala Dunia Afsel. Apakah para relawan itu mendapat bayaran? Tidak sama sekali alias gratis.

“Kita harus memberi terlebih dahulu dan jangan berharap untuk mendapatkan kembaliannya,” ujar Camila Ismail (44) diplomatis. Dia akan bertugas memandu tim Jerman. “Aku serasa seperti terbang ke bulan. Sulit dilukiskan dengan kata-kata. Begitu bahagianya. Hampir tak percaya bisa jadi salah satu diantara 15 ribu relawan,” tutur Nosisa Mbolekwa yang akan berulang tahun ke-20 persis pada Jumat, 11 Juni nanti. Begitulah, tak semua rasa bahagia bisa dinilai dengan uang semata. (zulkarnain jalil)

No comments: