Saturday, December 29, 2007

Kasih Ibu Sepanjang Masa
(Refleksi Hari Ibu 22 Desember)
 
 
Oleh: Ummi Rifqah*
 
Ingatlah kawan, 
ketika ibumu rela tidur tanpa selimut demi melihatmu, tidur nyenyak dengan dua selimut membalut tubuhmu …
Ingatlah kawan, 
ketika jemari ibu mengusap lembut kepalamu ...
dan ingatlah kawan,
ketika air mata menetes dari mata ibumu saat ia melihatmu terbaring sakit...
Kawan ...sesekali jenguklah ibumu yang selalu menantikan kepulanganmu di rumah yang dulu kau dilahirkan,
Kawan.. jangan biarkan engkau kehilangan, saat-saat yang akan kau rindukan di masa datang, ketika ibumu telah tiada ...

----oOo----

Tanggal 22 Desember kerap diperingati sebagai Hari Ibu. Tahun 2007 ini peringatan Hari Ibu di Tanah Air telah memasuki usia yang ke-79. Di negara-negara Barat sana dikenal dengan sebutan Mother’s Day, seperti di Amerika Serikat diperingati setiap tanggal 14 Mei, ataupun di Jerman jatuh pada 8 Mei. Terlepas dari bagaimana cara memperingatinya, Mother's Day di negara-negara Barat dan Hari Ibu di Indonesia sangatlah berbeda. Mother's Day adalah hari untuk 'memanjakan' ibu ataupun istri selama sehari penuh. Jadi lebih ditujukan ke individu si ibu. Sedangkan Hari Ibu adalah peringatan yang berhubungan dengan perjuangan perempuan Indonesia dalam kemerdekaan bangsa.

Tulisan ini tidaklah semata-mata menyoroti peringatan Hari Ibu sebagai bagian seremonial belaka, namun berusaha mengambil hikmah apa arti sebenarnya seorang ibu. Memang sangat sukar untuk memahami rasa pertalian yang begitu mendalam dan suci yang terwujud diantara kita dan ibu kita. Kita boleh saja menyayangi sesuatu seperti emas dan intan, tetapi tiada suatu pun yang dapat menandingi kasih sayang seorang ibu kepada anak-anaknya.

Kering kasih sayang

Kaum ibu memelihara dan membesarkan anak-anak mereka, seringkali tidak mengindahkan kehidupan mereka sendiri. Pertama sekali, mereka mengandungi kita selama sembilan bulan di dalam rahim mereka, kemudian membawa kita memasuki dunia ini melalui proses kelahiran yang sangat menegangkan. Seterusnya mereka menjaga kita sebagai bayi.

Mari kita pikirkan tentang malam-malam di mana mereka tak memejamkan mata dan hari-hari yang terlalu memenatkan badan. Mendidik kita sedari kecil bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Pertalian inilah yang menimbulkan kasih sayang antara ibu dan anak, sungguhpun kemudian si anak tak memperhatikannya lagi, namun kasih ibu tak pernah luntur.

Hari ini, secara perlahan naluri kita sebagai seorang ibu seperti tercabut. Pola hidup modern dan materialis merasuki hampir seluruh sendi kehidupan kita. Upaya mengejar kekayaan dan kesuksesan, ibarat meminum air laut, haus tak pernah hilang. Si ibu dan ayah hanya bertemu dengan anak-anaknya di malam hari, saat anak-anak sudah tidur. Pagi-pagi sekali mereka berangkat kerja, juga saat anak-anak masih tidur. Semua diurus oleh pembantu. Sebenarnya anak-anak mereka sudah „mati“. Rumah kita, keluarga kita, hari ini miskin dan kering akan kasing sayang.

Gaya hidup bebas, pergaulan tanpa batas dan hidup materialis di negara-negara Barat menjarakkan hubungan di antara ibu, ayah dan anak-anak. Lalu, banyaknya anak-anak dilahirkan di luar nikah, hubungan hati antara ibu dan anak tidak tampak. Keakraban pun luntur. Pertalian yang ada hanya sekadar perasaan ibu melahirkan saya dan saya harus memanggilnya emak.
Haruskah ini terjadi pada kita, wahai Ibu ?

Islam dan Hari Ibu

Dalam suatu tanya jawab online tentang apa pendapat Islam berkaitan dengan Hari Ibu, maka sang ustadz memberi jawaban bahwa sebenarnya setiap hari di dalam hidup seorang muslim adalah hari ibu, yang melibatkan kebaikan, hormat, sayang, dan timbang rasa untuk para ibu. Ini adalah karena Islam - tidak seperti agama dan cara hidup yang lain-, menjadikan ibu-bapa sebagai satu tuntutan agama dan kewajiban moral sebagaimana telah disebutkan dalam Quran dan banyak hadist.

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu-bapamu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut didalam peliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil" (Q.S. Al-Israa' : 23 - 24).

Perhatikan di dalam ayat tersebut bagaimana Allah s.w.t. menyatakan hak-Nya untuk disembah, kemudian menyatakan adab terhadap ibu-bapa. Di dalam peraturan ini, berbuat baik kepada ibu-bapa telah diberikan taraf dan kehormatan yang tinggi. Di dalam ayat yang lain pula, dinyatakan keutamaan kepada ibu:

"Dan Kami perintahkan kepada manusia berbuat baik kepada kedua ibu-bapanya - ibunya telah mengandungkannya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, "Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang ibu-bapamu, hanya kepada-Ku lah kamu kembali" (Surah Luqman : 14).

Diceritakan pula dalam satu hadist yang masyhur; Diriwayatkan seorang telah bertemu Rasulullah SAW dan bertanya,"Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berhak mendapat layanan baik dariku?" Rasulullah menjawab,"Ibumu(dan diulang sebanyak tiga kali), kemudian ayahmu, kemudian saudara-saudara terdekatmu."

Sepatutnya janganlah kita mengkhususkan satu hari yang istimewa untuk menunjukkan kasih sayang kepada ibu-bapa, ataupun mengislamkan hari tersebut. Sebaliknya, marilah kita perhatikan serta ikuti prinsip-prinsip etika terhadap ibu-bapa setiap hari di dalam kehidupan kita. Marilah kita elakkan dari berkata "Selamat Hari Ibu", tetapi gantilah kepada doa kepada mereka, setiap hari:

"Wahai Tuhanku! Kasihilah mereka keduanya, sepertimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil" (Surah Al-Israa': 24).

Seorang ibu juga adalah pemberi yang tulus, yang telah memberikan seluruh hidupnya untuk anak-anak yang dicintainya. Sebuah lagu menggambarkan hal ini dengan sangat indah, 
               Kasih ibu kepada beta,
               Tak terhingga sepanjang masa,
               Hanya memberi tak harap kembali,
               Bagai sang surya menyinari dunia.

Dalam konsep Islam, ibu memang diletakkan pada tingkatan tertinggi, maka kehadiran Hari Ibu tidak menjadi halangan untuk dipraktekkan. Namun, Islam tidaklah menekankan bahwa ibu itu harus diingat hanya satu hari itu saja dan tidak pada hari-hari yang lain. Ibu di dalam Islam diingat dan ditaati sepanjang masa.

Selagi ibu kita ada didunia ini, ciumlah dia, cium tangannya, sentiasa minta ampun darinya, berikan senyuman kepadanya, bukannya dengan bermasam muka, kasih ibu tiada tandingannya. Bila ia telah berpulang, atau engkau berada jauh di rantau, kirimkan do’a untuknya. Ingatlah, syurga berada di bawah telapak kaki ibu.

* Ibu rumah tangga, tinggal di Banda Aceh

Bunga Rampai Idul Adha 1428 H di Eropa:

Jamaah Membludak, Shalat Id Dilaksanakan Hingga Tiga Kali

PENGANTAR. Masyarakat muslim di Eropa secara umum merayakan Idul Adha 1428 H pada Rabu, 19 Desember 2007. Berbagai nuansa dirasakan warga Aceh di sana. “Di tengah alunan gema takbir tak terasa air mata saya berlinang membasahi pipi, teringat akan istri dan anak-anak, kerabat dan handai taulan yang jauh di Aceh,” tutur Nasrullah Zaini yang tinggal di Inggris melalui e-mail (surat elektronik) pekan lalu. Nasrullah adalah satu dari sekian banyak warga Aceh lainnya di Eropa yang “terpaksa” memendam rindu akan kampung halaman di hari raya kurban. Disamping kisah rindu, ada banyak cerita seru lainnya, semisal di Austria yang shalatnya terpaksa dilakukan dalam tiga gelombang saking banyaknya jamaah yang hadir. Padahal suhu udara bulan Desember sedang dingin-dinginnya. Seperti diakui Hafild Arsy, putra Aceh di Rusia, suhu di sana mendekati -15°C. Berikut torehan serba serbi Idul Adha yang dikirimkan via e-mail oleh warga Aceh di Eropa dan dirangkum oleh Kontributor Kontras, Zulkarnain Jalil.

Inggris: Warga Aceh sumbang hewan qurban

“Kami warga muslim di Southampton dan kota-kota lainnya di Inggris merayakan Idul Adha 1428 H pada hari Rabu 19 Desember 2007. Pelaksanaan Idul Adha itu berdasarkan keputusan dari Islamic Cultural Centre yang berpusat di London. Tentu saja merujuk kepada keputusan penetapan hari raya Idul Adha oleh Kerajaan Arab Saudi,” kata Nasrullah Zaini.

Disebutkan, di Southampton khususnya Islamic Society (ISOC) University of Southampton melaksanakan shalat Eid di Stoneham Building yang diselenggarakan sebanyak dua kali pukul 8.30 dan 9.30 pagi. Hal ini dikarenakan banyaknya jamaah yang datang sekalipun suasana di luar sangat dingin mencapai -5 derajat Celcius.

“Di tengah alunan suara takbir tanpa terasa air mata saya berlinang membasahi pipi teringat akan keluarga, sahabat, kerabat dan handai taulan yang jauh di Aceh sana yang entah kapan Allah SWT mempertemukan kembali,” ujar Nasrullah yang juga dosen Fakulta MIPA Unsyiah. Selesai pelaksanaan shalat Eid pihak panitia menyediakan hidangan makanan ringan sehingga jamaah larut dalam nuansa gembira penuh persahabatan.

”Alhamdulillah warga Aceh yang terhimpun dalam "Rangkang Nanggroe" baik yang ada di Inggris maupun yang sudah kembali ke Aceh, pada Idul Adha kali ini dapat melaksanakan qurban dengan menyembelih dua ekor lembu yang diserahkan kepada panitia qurban Mesjid Al-Abrar Ganoe, Lam Dingin, di Banda Aceh,” cerita pria asal Aceh Selatan itu lagi. Disebutkan, kegiatan qurban itu dikoordinir oleh Cut Yufrita Skyner (Edinburgh) dan koordinator penyaluran hewan qurban di Banda Aceh adalah Isra Ahmadsyah, M.Sc (alumni University of Birmingham).

”Ada juga sebagian warga yang menyalurkan qurbannya melalui KIBAR (Keluarga Islam Britania Raya) dan disalurkan kepada Rumah Zakat Indonesia,” ujarnya mengakhiri kabar dari Inggris.

Rusia: Suhu -15°C

“Hari raya Idul Adha di tempat kami jatuh pada hari Kamis 20 Desember. Di Ufa, kota tempat saya bermukim, mayoritas penduduknya adalah muslim. Jadi tiap lebaran pasti ada libur selama satu hari. Suasana lebaran haji di sini biasa-biasa saja. Tanggapan warga setempat bagus, tak ada masalah. Mereka sudah tahu kalau libur kemarin itu adalah liburnya umat Islam. Hanya saja, ada sebagian warga asli Ufa yang tidak tahu lagi tentang hari-hari besar Islam, kendati mereka itu muslim. Barangkali inilah salah satu efek dari padamnya aktifitas dakwah, terutama pada era komunis Sovyet dulu,” urai Hafidl Arsy, putra Lhokseumawe yang hampir dua tahun menimba ilmu di Rusia.

Begitupun, tahun-tahun terakhir ini pertumbuhan Islam di Rusia sangat pesat. Hal itu diiringi dengan makin tingginya animo dalam beribadah. Sebutlah ibadah Haji misalnya yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Pemerintah Rusia pun turut memfasilitasinya dengan membentuk kantor khusus yang menangani jamaah haji, seperti urusan visa dan transportasi haji. Bahkan maskapai penerbangan milik negara, Aeroflot, memberikan potongan harga spesial bagi jamaah yang akan ke Mekkah. Kini di Rusia berdiam lebih dari 23 juta jiwa warga muslim atau 15 persen dari 145 juta total populasi.

Perancis: Ingin timphan, sulit cari daun pisang
Di Perancis, Idul Adha sangat ramai. Umumnya muslim disana berasal dari kawasan Arab. ”Bagi orang Arab, lebaran haji adalah lebaran terbesar. Jika dibandingkan dengan Idul Fitri maka Idul Adha yang paling meriah. Orang-orang Alzajair, Maroko, Tunisia dan Afrika lainnya terlihat sangat menikmati lebaran. Apalagi kala memotong domba, sangat semarak. Menariknya, hewan-hewan kurban itu disamping dibagikan kepada tetangga-tetangganya yang Islam juga dikirimkan pada orang-orang Islam di kampung halaman mereka. Pokoknya ramai lah. Lain dengan perayaan Idul Adha di Tanah Air,” ungkap Alijullah Hasan, pria Aceh yang telah 40 tahun bermukim di Paris.

Ditambahkannya, masyarakat Indonesia melaksanakan shalat Idul Adha di kantor KBRI Paris. Bahkan warga muslim asal Malaysia, Brunei, dan masyarakan Islam Perancis lainnya pun turut hadir. Setelah shalat, aneka macam hidangan ala nusantara memenuhi meja. Dari pisang goreng, kue lapis, risol dan kombinasi kue Indonesia dan Perancis.

Ditambah dengan lontong sayur dan gulai kambing yang sangat sedap. Ini semua mengingatkan kami kala lebaran di kampung halaman tercinta. Tapi sayang timphan tidak ada, habis cari daun pisang sulit,” kelakar Ali yang juga staf senior di KBRI Paris.

Italia: Nonmuslim ikut bergembira

“Saya mengucapkan selamat Idul Adha kepada seluruh ureung-ureung Aceh dan sekalian kaum muslimin. Alhamdulillah kami semua muslim di kota Bolzano, Italia bisa merayakan Idul Adha dengan aman, nyaman, dan suka cita. Meskipun tidak meriah, akan tetapi suasananya sangat menyenangkan. Lokasi shalat hari raya adalah di sebuah gedung kesenian yang disewa oleh panitia pembangunan mesjid. Ada sekitar 1000 muslim baik laki-laki maupun perempuan serta anak-anak turut merayakannya. Tampak juga muallaf dari Italia dan Rumania yang beberapa tahun lalu masuk Islam. Umat Islam di Bolzano terdiri atas berbagai etnis, seperti Pakistan, Bangladesh, Chechnya, Albania, Rumania, Bosnia, Maroko, Tunisia, Aljazair, Lybia, dan Indonesia tentunya,” ungkap Irvanizam Zamanhuri panjang lebar.

Pemuda lajang asal Pidie itu menceritakan pada malam hari raya ke dua mereka juga merayakan khanduri bersama mahasiswa-mahasiswa Islam mancanegara. Bahkan teman-temannya yang nonmuslim juga ikut serta.

“Dengan suguhan nasi biryani ala Pakistan dan makanan khas Italia lainnya, suasana khanduri tambah meriah. Banyak dari teman-teman mahasiswa yang nonmuslim menanyakan tentang Idul Adha dan juga ibadah haji. Kami berdiskusi hingga larut malam. Tak lupa di akhir acara, saya dan salah seorang teman dari Maroko mendendangkan beberapa nasyid. Bahkan teman-teman dari India turut berpartisipasi menyumbangkan lagu-lagu Bollywood sehingga suasana malam lebaran terasa sangat meriah dan berkesan,” ujar pria yang sedang belajar IT di Free University Bolzano itu lagi.

Austria: Shalat dilakukan hingga tiga gelombang

Di Austria, Idul Adha juga jatuh pada hari Rabu 19 Desember. Di Wina -ibukota Austria- suasananya terhitung meriah kendati udara cukup menusuk. Sejak pagi jamaah telah memenuhi Masjid Agung kota Wina.

“Kendati temperaturnya -4°C , namun tidak menyurutkan langkah umat Islam di negeri kelahiran komponis besar Mozart ini untuk melaksanakan dan memeriahkan lebaran haji. Bahkan saking ramainya jamaah, shalat terpaksa dilaksanakan dalam tiga gelombang,” tutur Syafruddin Ghandy, mahasiswa program doktor di Vienna University.

Dikatakannya, sebagian besar umat Islam di Austria yang berasal dari berbagai etnis seperti Turki, Bosnia, Tunisia, Maroko dan negara-negara di Asia melaksanakan shalat Idul Adha di Mesjid Agung Wina yang sekaligus berfungsi sebagai Islamic Center dan kabarnya yang terbesar di Austria.

Masih menurut Syafruddin, pelaksanaan kurban di Austria dilaksanakan di tempat pemotongan hewan. Daging kurban tersebut lalu dibagikan, terutama, kepada mahasiswa-mahasiswa muslim yang sedang menuntut ilmu dari berbagai strata dan negara. Pada Idul Adha tahun ini mereka juga menyumbangkan hewan kurban kepada muslim kurang mampu di negara-negara miskin lainnya. Demikian juga negara-negara yang dilanda bencana alam. Catatan Islamonline, daging kurban itu dikirim hingga ke Mozambik, Afrika.

Sementara itu warga muslim Indonesia melaksanakan kegiatan lebaran di Ruang Serba Guna KBRI di Wina. “Kumandang takbir semakin mengingatkan saya ke Aceh. Jadi ingat pada mesjid dengan alur sungai kecil di desa kelahiran saya Ujung Padang, Sawang, Aceh Selatan. Gema takbir tersebut juga mengingatkan saya pada Blang Padang dan halaman Mesjid Raya Baiturrahman. Dua kali sudah saya melaksanakan Idul Adha di Austria. Jadi sangat wajar jika kerinduan pada Aceh dan keluarga serta sanak saudara sangat menggunung,” aku pria yang juga dosen Fakultas Pertanian Unsyiah itu lagi. Disebutkan, setelah pelaksanaan shalat Idul Adha diikuti dengan acara halal bil halal sambil menikmati makanan khas dari tanah air.

“Ada tape hitam khas Aceh, rendang Padang sampai lontong sayur dan penganan kue-kue khas hari raya lainnya. Makanan tersebut di sediakan oleh ibu-ibu secara swadaya. Meskipun dalam rentang jarak yang jauh dari tanah air, tetapi nuansa Idul Adha di Austria sangat meriah dan kental terasa,” sambungnya sembari menitip salam untuk warga di Aceh.

Spanyol: Mesjid baru di Sevilla

Bagi Muslim di Sevilla akhir tahun 2007 ini terasa sangat berkesan. Pasalnya mereka baru saja memiliki mesjid sendiri secara permanen. Sebelumnya, muslim di sana musti berpindah-pindah tempat shalat. Itupun dengan status sewa. Adalah pesepakbola di klub FC. Sevilla, Frederic Kanoute, yang telah menyumbang senilai 510 ribu Euro (sekitar 6,7 milyar) untuk membeli satu-satunya mesjid yang ada di Spanyol Selatan itu.

Dilaporkan Agence France-Presse (AFP) dan dikutip Islamonline, pemain nasional Mali berusia 30 tahun itu diperkirakan menabung sebagian gajinya selama hampir setahun untuk membeli mesjid. Kondisi itu tentu sangat kontras, mengingat Sevilla merupakan bekas daerah kekuasan Islam selama hampir 7 abad lamanya. Begitupun, kini Islam mulai mendapat perhatian dari pemerintah Spanyol. Penuturan Dr Syafii Syam, seorang warga Aceh yang bekerja di Universitas Valladolid, warga Spanyol sangat menghormati umat Islam di negeri matador itu. Mereka tidak merasa terusik dengan ibadah seumpama shalat atau puasa Ramadhan.

Jerman: Daging kurban dikirim ke seluruh dunia

“Tak ada tradisi meugang kali ini. Suasananya sangat dingin, tidak seperti tahun lalu. Namun kami ada juga berkurban, bergabung dengan muslim Turki yang komunitasnya cukup besar disini. Telah berlaku umum, di Jerman daging kurban dikirim ke negara-negara lain di seluruh dunia dimana banyak saudara-saudara kita lebih membutuhkannya,” tutur H. Ali Jahja, warga Aceh yang telah 42 tahun bermukim di Hamburg. Ia mengaku rindu dengan suasana lebaran di Meureudu, Pidie Jaya tempat ia dilahirkan.

Suhu yang menusuk pada lebaran tahun ini memang membuat sebagian warga lebih betah berada di rumah. “Saya tidak kemana-mana pas lebaran Idul Adha. Bahkan saya bolos ke kampus. Karena suhunya dingin banget, -7 derajat celcius. Kemana-mana jadi malas,” ujar Cut Erika, mahasiswi program master di Universitas Goettingen.

Belanda: Selepas shalat kembali masuk kantor

“Lebaran jatuh hari Rabu, 19 Desember 2007 ikut Arab Saudi. Jadi kita lebih cepat sehari dibanding di Aceh. Suasananya saya rasakan sangat berbeda. Di sana, selepas shalat salam-salaman sebentar, lalu kembali ke tempat kerja atau ke kampus. Karena lebaran pas hari kerja, jadi tidak libur. Kebanyakan jamaah muslim minta izin dari kantor mereka hanya untuk shalat Ied,” ujar Mursalin yang tinggal di kota Maastricht.

“Memang sampai saat ini belum ada izin atau cuti khusus buat masyarakat muslim Belanda yang akan melaksanakan ibadah shalat, baik Jum’at maupun Ied. Sehingga harus curi-curi waktu untuk hal tersebut. Seperti sebagian dari kami, para mahasiwa, harus kembali ke kampus karena masih ada pelajaran yang harus diikuti.”

“Saya hanya duduk termenung menatap layar laptop sambil menuliskan kerinduan akan kampung halaman di saat hari indah seperti ini. Internet lumayan membantu menghapus rindu,” imbuhnya.

“Saya kepingin sekali makan timphan asoe kaya. Karena buat saya, tanpa timphan maka nggak jadi hari rayanya. Lebaran tahun ini adalah lebaran pertama dimana saya tidak bisa mencium tangan kedua orang tua saya,” ungkap pemuda asal Seulimuem, Aceh Besar itu penuh rindu.

Timphan seakan telah jadi ikon di hari raya nan suci. Makanan khas itu seakan tak tergantikan oleh jenis makanan lain. Bagi yang di Aceh, timphan sudah biasa dan tak begitu berkesan. Tapi, ternyata, di luar negeri makanan yang satu ini cukup dirindukan. Begitulah.

Profesor Austria Temukan Islam Melalui Seorang Juru Masak

PENGANTAR. Lahir di Austria, namun dibesarkan di Jerman. Keluarganya adalah penganut Kristen Protestan yang taat. Namun beranjak dewasa mulai ragu dengan dogma-dogma dalam ajaran agamanya yang dianggap tidak rasional. Pencarian kebenaran pun dimulai. Pada usia 16 tahun kembali ke Austria dan meneruskan studi lanjutnya di Salzburg University hingga meraih gelar doktor ilmu Biologi. Selanjutnya diterima sebagai dosen dan peneliti di almamaternya. Hingga, dalam sebuah perjalanan ke Mesir, ia menemukan hidayah melalui perantaraan seorang juru masak hotel yang kemudian jadi suaminya. Itulah dia Prof. Dr. Aminah Islam (54), Guru Besar Ilmu Biologi pada Universitas Salzburg yang memeluk Islam Ramadhan 2004 silam. Wanita yang malu difoto karena belum berjilbab itu menceritakan kisah perjalanan spiritualnya di situs Islam terkemuka Readingislam.com.

---------------------------------------------------

“Saya lahir di Linz, Austria tahun 1953. Namun menghabiskan masa kecil di Muenchen, Jerman hingga akhirnya pindah ke Salzburg, Austria kala berusia 16 tahun,” ujar Prof. Aminah di awal tulisannya. Dikatakannya, ia dibesarkan dengan cara Kristen konservatif. Kedua orangtuanya penganut Kristen Protestan yang taat. Keluarganya juga mengajarkan pendidikan etika dan moral.

Semasa remaja Aminah tidak mengikuti aktifitas di gereja Protestan. Alhasil, orangtuanya lalu memintanya untuk aktif di gereja Evangelis dan segera menjadi anggota aktif serta menjadi ketua salah satu kelompok pelajar. Ia belajar Bibel dan yakin dengan dogma bahwa Yesus adalah anak Tuhan. Demikian juga ia yakini Yesus mati disalib guna menebus dosa-dosa pengikutnya.

Pada mulanya ia jalani semua itu tanpa ada penolakan. Namun beberapa tahun kemudian, masih di komunitas yang sama, hati kecilnya mulai menolak hingga keluar dari perkumpulan itu karena bertentangan dengan rasionalnya. Secara berulangkali ia mengatakan bahwa Tuhan masih misterius baginya. Kala itu ia mulai ragu Yesus sebagai Tuhan. Sejak itula ia mulai mencari kebenaran hidup.

Aminah menyelesaikan sekolah menengahnya di kota Salzburg. Selanjutnya, di kota kelahiran komponis kenamaan Mozart itu ia meneruskan pendidikan tinggi di Universitas Salzburg dan mengambil jurusan Biologi. Belajar sembari bekerja sampingan (part time) di universitas tempatnya belajar pun dilakoni.

Setelah menyelesaikan program doktor, Aminah kemudian kawin dan prosesinya berlangsung di gereja. Dari perkawinan itu ia memiliki dua orang anak. Namun kebahagiaannya tak berlangsung lama. Karena alasan tak ada keharmonisan kemudian cerai. Sejak saat itu ia sudah mulai meninggalkan gereja.

Diterima menjadi dosen

Aminah mencoba melamar kerja karena ia sendirian mengasuh anak-anak. “Alhamdulillah saya dapat pekerjaan bagus di Universitas Salzburg sebagai staf pengajar dan peneliti di bidang Biologi,” ujarnya mengenang.

Kemudian ia memutuskan menikah untuk kedua kalinya. Ketika itu ia juga masih dalam proses mencari kebenaran. Namun pernikahan kedua itu juga bak bencana dan akhirnya cerai lagi. Mirip dengan kasus pertama.

“Waktu itu suami yang kedua itu mengambil keuntungan dari pekerjaan saya sebagai dosen. Sementara ia hanya santai saja tanpa ada upaya untuk mencari dukungan financial lainnya. Sakitnya lagi, ia bahkan tidak peduli terhadap anak-anak,” tukasnya lagi. Syukurnya saat cerai yang kedua itu Aminah sudah meraih posisi sebagai professor dan memegang tanggungjawab penuh pekerjaan di kampus.

“Namun saya merasa belum mendapatkan kebahagiaan dalam hidup. Pekerjaan pun dobel dan bahkan melebihi kapasitas. Ya mengajar, mengasuh anak-anak, mengurus rumah. Hingga saya kelelahan fisik dan psikis sampai akhirnya mengalami depresi berkepanjangan. Namun saya masih bisa bertahan, itu karena anak-anak,” akunya.

Selepas perceraian kedua, Aminah mengaku hidup bersama tanpa nikah dengan seorang pria yang usianya lebih muda 9 tahun dengannya. Hidup bersama tanpa nikah adalah hal lazim di dunia Barat.

“Hanya sebentar, kemudian saya ditinggalkan lagi. Sejak itu saya mulai lagi mengatur hidup sebagai wanita single, tanpa berharap akan ada pria lagi yang datang. Saya pikir untuk apa lagi. Saya sudah punya kerja, anak-anak sudah besar, punya apartemen nyaman, mobil, bisa menyalurkan hobi seperti mendaki gunung, main ski. Sudah bisa berdiri sendiri di atas kedua kaki. Saya sudah tidak punya kerinduan asmara lagi,” imbuhnya lagi. Namun ia mengaku masih belum puas untuk terus mencari kebenaran dalam hidup.

Berkenalan dengan Islam

“Pengetahuan tentang Islam sangatlah minim. Masa itu yang saya tahu –melalui media- Islam agama yang tidak simpatik,” ujarnya. Kala itu ia mengaku tidak pernah mendapatkan kontak dengan Islam secara langsung dan juga tidak ingin bersentuhan dengan orang-orang dari agama yang waktu itu disebutnya sebagai agama suka perang.

Sampai akhirnya situasi berubah secara tak terduga. Ceritanya, September 2002 ia bersama koleganya berencana menghabiskan liburan selama sepekan.

“Kami booking penerbangan pas detik-detik akhir. Syukurlah akhirnya dapat tawaran murah ke Mesir. Saya memang lagi ingin rilek, mengatur irama hidup kembali selepas lelah bekerja, dan berharap menemukan kebenaran yang kucari. Jujur saja, tidak ada lagi keinginan untuk menemukan pria idaman sebagai suami,” ujarnya seraya melanjutkan kisahnya.

“Kala itu, persis di sore pertama kami di hotel saya pergi ke restoran untuk makan malam. Eh entah bagaimana saya bertemu pandang dengan seorang pria yang terakhir saya ketahui bernama Walid. Ia juru masak di hotel itu. Kala mata kami bertemu, hati saya bergetar aneh. Ah saya jatuh cinta lagi!. Walid menceritakan, selepas menjadi suami saya, bahwa ia juga mengalami hal yang sama pada pandangan pertama itu,” kisah Aminah lagi.

Setelah kejadian itu hampir dua hari mereka tidak bertemu sampai kemudian Walid menulis sepucuk surat. Isi surat pertamanya itu Walid langsung mengajak Aminah untuk nikah.

“Liburan tinggal beberapa hari lagi dan saya merasakan hati seperti berat meninggalkan tempat itu. Akhirnya saya kembali ke Austria tanpa ada nomor kontak Walid yang dapat dihubungi. Namun dengan segera aku berpikir realistis bahwa ada pembatas yang sangat dalam diantara kami (umur, budaya, agama, pendidikan dan bahasa),” kilahnya. Namun hati tidak bisa ditipu. Akhirnya ia kembali ke Mesir dua bulan kemudian untuk mendapatkan cintanya lagi. Hanya saja masalah terbesar kala itu adalah sulitnya komunikasi karena faktor bahasa.

“Nampaknya Allah memang mengatur semua ini. Allah seakan mulai memperlihatkan jalan dalam hidupku. Beberapa hari selepas kembali ke Austria dari Mesir, seorang wanita datang dari Mesir dan bekerja sebagai peneliti tamu di institut kami selama satu tahun. Dua minggu kemudian saya pun mulai ikut kursus bahasa Arab di kampus yang ditawarkan oleh seorang profesor dari Mesir. Mereka juga mengajarkan banyak hal tentang Islam dan budayanya. Bahasa Arab adalah sebagai upaya untuk mempermudah komunikasi dengan Walid,” tuturnya mengenang. Karena tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang Islam, ia membeli banyak buku dan sebuah terjemahan AlQuran dalam bahasa Jerman.

Menikah diam-diam

Pada kunjungan kedua kalinya ke Mesir Aminah berkunjung ke keluarga Walid. Ia mengaku terkesan dengan Walid yang sangat ulet dan berasal dari sebuah keluarga besar yang bermata pencaharian sebagai petani. Keluarganya memegang teguh ajaran Islam.

“Saya diajak bertemu keluarga besarnya itu. Sore pertama di sana, akhirnya kami sepakat untuk menikah secara Islam. Hanya melalui bantuan penghulu setempat di desa itu. Kesannya kami menikah secara diam-diam. Semata-mata untuk menghindari kemaksiatan. Walid sangat komit dengan ajaran agamanya, bahwa laki-laki dan perempuan yang belum ada ikatan pernikahan haram melakukan hubungan yang dilarang agama.”

Setelah perjalanan kali kedua itu, Aminah sempat ke Mesir beberapa kali hingga akhirnya kami bisa menikah secara resmi di Kairo.

“Saya sungguh sangat bahagia waktu itu. kami pun segera mengurus visa Walid untuk memperoleh ijin berkunjung ke luar negeri. Akhirnya Walid bisa ke Austria persis setahun selepas pertemuan pertama kami di hotel,” kenangnya.

Aminah secara perlahan mulai belajar banyak hal tentang Islam, baik melalui buku-buku maupun dengan bantuan rekan-rekan muslim di Austria. Ada hal menarik, yakni tanpa disangka ia diminta oleh Cairo University untuk menjadi penguji tesis salah seorang mahasiswa di sana. Nah dari beberapa kali kunjungan akademik itulah ia akrab dengan salah satu muslimah Mesir yang kemudian jadi tempatnya bertanya hal Islam. Ia mengaku kagum dengan kebanyakan muslim termasuk kaum mudanya yang terbuka dan sangat respek jika bicara tentang Allah dan Islam.

Segera selepas kedatangan suaminya ke Austria, merekapun mengadakan kontak dengan mesjid yang ada di kota Salzburg. Ia menerima hadiah beberapa buku. Salah satu yang sangat berkesan adalah buku “Bible, Quran dan Ilmu Pengetahuan Alam” karangan Maurice Bucaille, ilmuwan Perancis. Buku itu sangat sesuai dengan aktivitas yang ia tekuni saat ini. Ia baru tahu, semua pernyataan ilmiah yang ada dalam Quran ternyata sangat sesuai dengan hasil-hasil penelitian terkini. Matanya makin terbuka.

“AlQuran ternyata tidak hanya menjelaskan tentang Tuhan dan dunia, tapi juga semua pernyataan di dalamnya, semisal ilmu-ilmu alam, tidak kontradiksi dengan kenyataan,” ujarnya. Bagi Prof Aminah yang seorang saintis ilmu alam, tentu saja penjelasan AlQuran makin membuatnya mantap untuk mempelajari Islam.

“Semakin jelas, Islam bukanlah agama baru, tapi justru agama yang menyempurnakan agama-agama sebelumnya, misal Yahudi dan Nasrani. Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir, yang oleh agama lain tidak diakui, adalah pembawa risalah, pembawa kebenaran yang berasal dari Allah. Tak ada yang disangsikan, AlQuran adalah perkataan Allah dan Muhammad utusannya! Jika ini merupakan kebenaran dan saya yakin atas itu, maka saya harus menerima dan menjalankan semua isi AlQuran,” tegasnya.

Mengucap dua kalimah syahadah

Persis memasuki Ramadhan 2004, Walid menanyakan dengan bijak akankah Aminah melakukan langkah terakhir dalam pencariannya (memeluk Islam).

“Tak ada keraguan sama sekali. Saya bahkan menginginkan agar prosesi itu dilaksanakan di rumah kami dengan mengundang beberapa saudara terdekat, muslim dan muslimah. Alhamdulillah, Ramadhan tahun 2004 saya mengukir sejarah hidup, bersyahadah disaksikan suami, anak-anak dan beberapa rekan-rekan kami. Sungguh, saya sangat bahagia. Bahagia sekali bisa menjadi bagian dari umat Islam,” kenangnya.

Mulai saat itu Prof. Fatimah berupaya untuk meningkatkan keyakinan dan ketaqwaannya kepada Allah, demikian juga pengetahuannya tentang Islam. Dan, berusaha sebaik mungkin melaksanakan ajarannya. Shalat misalnya, ternyata jauh-jauh hari ia telah belajar bagaimana menunaikan salah satu tiang agama Islam itu. Juga ia mulai berpuasa di bulan Ramadhan.

Di akhir penuturannya, ia mengakui masih ada dua masalah yang tersisa. Pertama, ia masih ragu memberitahukan hal keislamannya itu kepada kedua orangtuanya.

“Meskipun mereka telah tahu pendapat saya tentang Islam, tapi saya belum bisa beritahu bahwa saya sudah masuk Islam. Mereka sudah sangat tua dan sering sakit-sakitan. Takutnya, jika mereka terkejut bisa berbahaya bagi kesehatan. Tapi ini hanya masalah waktu saja,” ungkapnya.

“Satu lagi masalah yang masih mengganjal, saya belum bisa mengenakan jilbab di tempat kerja. Memang Austria tidak ada masalah dengan Islam yang telah jadi agama negara. Namun masalahnya, masyarakat atau lingkungan di universitas saya bekerja masih tabu dengan itu.”

Profesor Fatimah mengaku, kendati begitu ia tetap berjuang untuk jilbabnya itu. Buktinya, dalam setiap kesempatan ia gunakan untuk bicara dan menjelaskan tentang Islam.

“Alhamdulillah, Allah akhirnya menolong saya menemukan jalan kebenaran yang telah lama saya cari. Karena itu saya berusaha untuk menjadi muslimah yang baik. Di lingkungan kerja, saya mencoba mempraktekkan ajaran Islam yang saya ketahui dengan memberikan contoh-contoh yang bagus,” tukasnya mengakhiri penuturannya kepada Readingislam. Selamat, semoga hidayah Allah kekal bersamamu saudaraku Fatimah! (zulkarnain jalil)

Dianggap Gila Selepas Memeluk Islam

“Aku tidak pernah kekurangan uang, tapi entahlah, aku merasa hidup tidak tenang, selalu gelisah. Kala itu aku pun berpikir untuk mencari “sesuatu” yang lain.” (Yahya Schroeder).

Pengantar. Nama pemuda itu Yahya Schroeder. Ia muallaf baru asli Jerman. Memeluk Islam setahun lalu atau tepatnya Nopember 2006. Saat itu ia berusia 17 tahun. Saat remaja lain sibuk mereguk nikmatnya puncak masa remaja, Yahya justru sedang berada di puncak pencarian spiritualnya. Melalui situs Readingislam.com (11/9) ia menorehkan kisah perjalanan spiritualnya itu kepada publik, semata-mata untuk berbagi pengalaman dengan sesame saudara se-Islam, terutama yang berdomisili di negara non-Muslim.

-----------------

Sebagai seorang muallaf, Yahya mengaku lebih mudah mengikuti dan mengamalkan Islam ketimbang muslim tradisonal yang lahir dan dibesarkan di Jerman. Ada sebagian pemuda muslim yang lahir disana, sepengetahuan Yahya, justru ingin dikenal sebagai orang Jerman. “Mereka tidak bangga dengan Islamnya. Bagi mereka Islam hanyalah sebuah tradisi. Malah ada yang berani menggadaikan keislamannya hanya agar bisa berganti kewarganegaraan,” ungkap pemuda murah senyum itu. Na’uzubillah!.

Memang, seperti diakui Yahya, hidup sebagai seorang Muslim di Jerman tidaklah mudah.

“Jika orang Jerman ditanya apa yang mereka ketahui tentang Islam, maka mereka akan jawab Islam identik dengan yang berbau Arab. Jadi persis seperti sebuah simbol operasi dalam matematika, Islam = Arab. Mereka belum tahu kebesaran Islam yang sebenarnya,” imbuhnya.

Masa remaja penuh ceria

Yahya dibesarkan di sebuah desa kecil di pinggiran Potsdam. Ia tergolong anak keluarga berada. “Aku tinggal di sebuah rumah mewah dengan ibu dan ayah tiriku. Rumah kami memiliki halaman yang cukup luas dan ada kolam renangnya. Sebagai seorang remaja aku sangat menikmati hidup ini. Punya banyak teman, kami sering bikin pesta, minum alkohol, mabuk-mabukkan, dan acara gila-gilaan lainnya. Ya seperti kebanyakan pemuda Jerman umumnya, Pokoknya happy,” ujar Yahya mengenang.

“Kala itu aku punya segalanya; rumah mewah, mobil, uang, dan berbagai macam jenis mainan canggih. Aku tidak pernah kekurangan uang, tapi entahlah, aku merasa hidup tidak tenang, selalu gelisah. Kala itu pun aku berpikir untuk mencari “sesuatu” yang lain,” sambungnya.

Memasuki umur 16 tahun ia bersua dengan komunitas Muslim di kota Potsdam melalui perantaraan ayah kandungnya. Ayahnya memang telah duluan memeluk Islam tahun 2001. Ya kendati telah bercerai dengan sang ibu, namun Yahya senantiasa menjenguk ayahnya sekali dalam sebulan dan sering pula menghadiri pengajian warga muslim disana.

Secara perlahan, Yahya mulai tertarik dengan Islam. Rupanya sang ayah memerhatikan gejala itu. Sang Ayah ingin ia belajar lebih jauh tentang Islam dari orang yang memiliki ilmu yang lebih tinggi. Sejak saat itu Yahya mulai serius belajar Islam dan menghadiri forum pengajian rutin setiap bulannya.

Satu ketika, terjadilah sesuatu yang tak diinginkan, yang nantinya merubah semua jalan hidupnya. “Ceritanya, satu hari aku ikut kawan-kawan pergi berenang. Nah saat melompat ke kolam, aku terpeleset dan jatuh tidak sempurna. Akibatnya, punggungku mengalami retak berat dan kepala berbenturan hebat dengan dasar kolam. Cederaku cukup parah hingga ayah segera melarikanku ke rumah sakit.”

“Di rumah sakit, dokter menyarankan agar jangan banyak bergerak. Cedera punggungku cukup parah yang mengakibatkan engsel tangan kanan bergeser. Katanya: “Nak, janganlah banyak bergerak. Sedikit saja salah bergerak bisa menyebabkan cacat nantinya.” Kalimat dokter itu sungguh sangat tidak membantu. Malah membuatku tertekan luar biasa.”

Sejurus kemudian, sebelum dibawa ke ruang operasi, Ahmir salah seorang sahabatnya berujar.”Yahya, hidupmu kini ada di tangan Allah. Ini mirip seperti sebuah perjudian, antara hidup dan mati. Kini kamu berada di puncak kenikmatan dari sebuah pencarian. Bertahanlah, sabarlah sahabat. Allah pasti bantu.” Kalimat Ahmir dirasakan Yahya sangat luar biasa. Ia sangat termotivasi dan semangat hidupnya muncul kembali.

“Operasi berjalan selama lima jam dan aku siuman selepas 3 hari. Saat terjaga tangan kananku sulit digerakkan. Namun, entah mengapa, aku merasa orang yang paling bahagia di muka bumi ini. Bahkan kepada dokter kuberitahukan bahwa aku tidak peduli dengan cedera yang kualami. Aku justru bahagia Allah masih mengizinkanku hidup,” kenang Yahya.

“Dokter mengatakan aku harus tinggal di rumah sakit selama beberapa bulan. Tapi tahukah kawan, aku dirawat cuma dua pekan saja! Itu karena aku latihan rutin dan penuh disiplin. Satu hari dokter datang dan bilang: ”Hari ini kita coba latihan naik tangga ya.” Padahal tanpa sepengetahuan mereka sebenarnya aku telah melakukan latihan atas inisiatif sendiri, dua hari sebelum dokter datang,” sambungnya. Begitulah, akhirnya ia dapat menggerakkan kembali tangan kanannya seperti sediakala dan cuma dua pekan di rumah sakit.

“Kecelakaan itu telah mengubah jalan hidupku. Aku jadi suka merenung. Jika Allah inginkan sesuatu, maka kehidupan seorang individu bisa berubah hanya dalam hitungan detik. Aku pun mulai serius berpikir tentang hidup ini dan Islam tentunya. Keinginan untuk memeluk Islam makin menjadi-jadi, yang berarti harus meninggalkan rumah, keluarga yang kucintai dan semua kemewahan hidup disana,”ungkapnya. Akhirnya ia memutuskan pindah ke Potsdam.

Kala pindah ke Potsdam Yahya cuma membawa beberapa lembar pakaian, buku sekolah dan beberapa CD kesayangannya. Ia tinggal sementara di apartemen ayahnya.

“Kecil memang tempatnya, hingga aku musti tidur di dapur. Tapi itu tidak masalah bagiku. Aku merasa bahagia. Sangat bahagia, persis seperti kala terjaga dari siuman di rumah sakit selepas kecelakaan hebat itu.”

Mengucap dua kalimah syahadah

Tak berapa lama ia mulai menjalani hari pertama di sekolah. Mendadak semua serba baru baginya. Apartemen baru, sekolah baru, teman baru dan pertamakali tanpa keluarga lengkap. Persis sehari selepas hari pertama di sekolah, ia pun bersyahadah. Begitu teman-teman sekolahnya tahu ia beragama Islam mulailah mereka mengejek dengan kalimat-kalimat usil.

Ada teroris”, “Usamah bin Laden datang,” “Islam itu kotor”. Begitu mereka mengejek Yahya. Sebagiannya malah ada yang menganggapnya gila. Lebih parahnya lagi, bahkan ada yang tidak percaya ia orang Jerman asli.

“Aku bisa maklumi, karena mereka hanya tahu Islam dari media yang cenderung memojokkan Islam,” tukasnya

Akan tetapi setelah 10 bulan berjalan situasinya benar-benar berubah. Sikap teman-temannya berubah drastis. Rekan-rekan sekelasnya berhenti bersikap usil. Malah mereka sering bertanya tentang Islam. Pandangan mereka tentang Islam pun berubah. Menurut mereka, ternyata Islam itu cool! Indah! Subhanallah!

“Perubahan itu tentu saja tidak serta merta. Secara halus dan perlahan aku melakukan dakwah di kelas. Tentu saja bukan dengan ceramah agama. Sikap dan tingkah lakulah yang banyak membantu mereka mengenal Islam. Percaya tidak, kini aku bahkan punya ruang shalat khusus. Padahal akukah satu-satunya siswa muslim di sekolah itu,” ujar Yahya senang.

“Mereka baru tahu ternyata Islam punya adab atau tata tertib dalam hidup. Yang menarik bagi mereka, Islam tidak ekslusif, tidak mengelompokkan diri dalam kelompok-kelompok khusus. Seperti di sekolahku ini,” imbuhnya.

Dikatakannya, di sekolah itu ada tiga kelompok utama yakni kelompok yang suka hura-hura. kongkow-kongkow; lalu ada kelompok punk; dan satunya lagi kelompok yang suka pesta-pestaan. Setiap orang selalu mencoba untuk jadi anggota kelompok dari salah satu grup, semata-mata supaya diterima oleh yang lainnya.

“Kecuali aku! Aku tidak masuk kelompok manapun, namun diterima oleh semua mereka. Aku bisa menjadi teman bagi setiap orang. Tidak perlu menggunakan pakaian tertentu supaya dibilang “cool.” Bahkan mereka selalu mengundangku, demikian juga teman-temanku yang Islam pada acara-acara mereka,” kisah Yahya.

Mereka menaruh respek pada Yahya sebagai seorang muslim. Bahkan lebih dari itu, jika ada acara mereka secara khusus menyiapkan makanan halal untuknya. Misalnya acara bakar sate, maka mereka siapkan dua alat pembakar. Satunya untuk mereka dan satunya lagi khusus untuk Yahya dan rekan-rekan muslimnya.

“Bukan main! Kini mereka benar-benar terbuka dengan Islam. Aku hanya berdoa agar Allah beri mereka hidayah. Amiin,” harapnya sembari berdoa.

Selepas memeluk Islam, kesibukan Yahya kini bertambah. Ia menjadi produser film. YaYa Productions nama perusahaannya yang berlokasi di Potsdam. Produksinya terutama film-film dokumenter yang kebanyakan mengisahkan perjalanan hidup seorang muallaf dan kebanyakan dalam bahasa Jerman dengan terjemahan bahasa Inggris.

“Tujuan aku buat film adalah untuk menunjukkan kepada kalangan non-Muslim bagaimana Islam yang sebenarnya. Jauh dari apa yang ditampilkan media selama ini. Mudah-mudahan film-film itu bisa mencerahkan pandangan mereka,” ujar Yahya yang meyakini pekerjaannya itu sebagai bagian dari dakwah.

------------------------------------------------oooo---------------------------------------------------------

Muallaf Jerman Kini Jadi Sorotan

Muallaf Jerman sempat menghadapi masalah politik belakangan ini. Awal September 2007 lalu Pemerintah Jerman mengumumkan hal ditangkapnya tiga orang yang dituduh teroris. Dua diantaranya diketahui warga muslim kebangsaan Jerman. Mereka dituding merencanakan peledakan bandara internasional Frankfurt dan pusat militer Amerika yang ada di sana (Timesonline, 6/9).

Guenther Beckstein, Mendagri Negara Bagian Bavaria, menyarankan agar warga asli Jerman yang masuk Islam perlu dimonitor (baca: diawasi). “Pihak keamanan sebaiknya mempelajari latar belakang mereka (memeluk Islam). Apakah karena alasan nilai-nilai Islamnya ataukah faktor fundamentalis/radikalis,” kata Beckstein. Pernyataan Beckstein yang penuh kontroversi itu spontan mengundang kritikan terutama dari kalangan Islam.

Michael Mohammad Abuh Pfaff, Ketua Liga Muslim Jerman, mengkritik ucapan Beckstein sebagai pernyataan “tidak populer” yang bertendensi politik. “Meletakkan muallaf Jerman pada posisi seperti itu justru akan makin menambah bara api Islamphobia (perasaan takut akan Islam),” tegas Pfaff yang memeluk Islam di kala berusia 18 tahun.

"Okelah, misalnya muslim Turki bisa kembali ke negara asalnya di Turki. Begitu juga dengan yang berasal dari Mesir. Tapi kami, para muallaf asli, kemana kami harus pergi? Jerman adalah rumah kami,” tukas pria yang kini berusia 42 tahun seraya mengatakan pernyataan itu sebagai inkonstitusional. Prof. Stefan Reichmuth, Guru Besar Studi Islam pada Universitas Bochum setuju dengan pendapat Pfaff.

"Anda tidak bisa mengatakan bahwa pindahnya seseorang kepada Islam membawa implikasi kearah radikal," ujar Stefan Reichmuth kepada Deutsche Welle. Reichmuth juga menunjukkan bahwa kebanyakan muallaf Jerman adalah para wanita yang menikah dengan imigran (Islam). "Saya tidak melihat radikalisme ada dikalangan mereka ini,” tegasnya lagi.

Masalah integrasi

Kenapa Pemerintah masih menaruh curiga pada muallaf dan imigran muslim? Integrasi tampaknya adalah kata yang tepat untuk kasus Islam di negeri Panser. Integrasi boleh dikatakan barang baru di sana. Pasalnya isu integrasi yang dikaitkan dengan reformasi hukum kewarganegaraan baru berhembus pada tahun 2000 silam.

Akhir Oktober 2007 lalu, difasilitasi oleh Kementrian Dalam Negeri, berlangsung Konferensi Islam se-Jerman. Konferensi itu dipandang sebagai salah satu media penghubung dialog antara Pemerintah dengan Islam. Pemerintah Jerman merasa perlu duduk bersama dengan para pemuka Islam guna memecahkan kebuntuan integrasi Islam selama ini. Hasil dialog yang bertujuan untuk meningkatkan integrasi Islam dan kehidupan sosial di Jerman itu nantinya akan digodok menjadi sebuah kebijakan.

Ada catatan menarik dari Dr Nikola Tietze, sosiolog yang bekerja di Hamburg Institute for Social Research dan penulis buku Muslim Identity.

“Muslim di Jerman memang berbeda, misalnya dengan di Perancis. Di Jerman, jika Anda muslim maka Anda dianggap sebagai warga asing (foreigner) kendati memiliki kewarganegaraan Jerman. Sebaliknya di Perancis, jika mereka (imigran Islam) lahir di sana maka secara otomatis mereka akan mendapat hak kewarganegaraan. Jadi sebagian besar muslim di Perancis telah sejak lama mendapatkan kewarganegaraannya,” ujar Tietze.

Catatan Wikipedia sepanjang 2006 sedikitnya 4000 warga asli Jerman memeluk Islam. Total populasi muallaf asli Jerman saat ini, masih menurut Wikipedia, adalah sekitar 200.000 orang. Namun catatan tidak resmi melebihi angka tersebut. Padahal tahun 1989 jumlah warga Jerman yang masuk Islam “hanya” 10.000 jiwa. Begitulah. (zulkarnain jalil)

Friday, December 07, 2007

Sepeda Motor Pesanan SBY Itu Memakai Bahan Bakar Air
Sepeda motor ini pesanan Pak SBY," kata Voll Johanes Bosco alias Boy (51), perancang sepeda motor dengan bahan bakar yang sebagian di antaranya adalah air.
Di tengah kemeriahan Gelar Teknologi Tepat Guna di Manado Convention Center (MCC), Kamis (8/11) petang, Boy tidak sungkan-sungkan menyebut nama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia mengaku sempat mengejar Presiden hingga ke Yogyakarta hanya demi mempresentasikan energi alternatif untuk kendaraan bermotor.
"Waktu saya ke Jakarta, Pak SBY sedang ke Yogyakarta meninjau bencana gempa bumi, sehingga saya disuruh menyusul ke sana, lalu dinaikkan pesawat Hercules ke Yogya," katanya lagi.
Boy merasa diperlakukan khusus, sehingga ia merasa tersanjung. Di dalam pesawat, Boy hanya bersama empat orang, selain awak pesawat.
Lelaki berjambang lebat ini pantas mendapat apresiasi besar. Meski hanya tamat sekolah menengah atas di Manado, Boy yang berdomisili di Palu, Sulawesi Tengah, itu menemukan sepeda motor hemat bahan bakar. Kendaraan roda dua itu telah diuji coba sejauh 247 kilometer, dengan campuran satu liter bensin dan empat liter air.
Sebelumnya, Boy selama 10 tahun telah meneliti sejumlah peralatan hemat energi. Dari 11 kali penelitian, ia fokus pada penemuan lampu hemat listrik dan sepeda motor hemat bahan bakar minyak.
Jika di jalan orang memakai lampu merkuri dengan daya listrik 250 watt, Boy bisa menciptakan lampu yang cahayanya setara lampu merkuri dengan kapasitas listrik hanya 12 watt. Lampu itu disebut dengan lampu light emitting diode (>small 2small 0<).
Demikian halnya sepeda motor yang 80 persen menggunakan bahan bakar air. Menurut Boy, sistem kerja sepeda motor sangat sederhana. Akan tetapi di beberapa bagian mesin sepeda motor ditambah reaktor mirip pipa besi. Saat sepeda motor ini berjalan, suhu reaktor mencapai 150-200 derajat Celsius.
Boy mengatakan, setiap motor bahan bakar menghasilkan gas buang CO dan CO2 (karbon dioksida dan karbon monoksida). Pada mesin ini kedua gas diambil dan direaksikan dengan air, sehingga menghasilkan gas baru methane (CH4). "Nah, methane inilah yang menggerakkan motor," katanya.
Adapun energi untuk menjalankan reaktor diambil dari panas gas buang, sehingga pembakaran menjadi sangat efisien jika tabung reaktor mencapai suhu 200 derajat Celsius. Gas buang yang dihasilkan sangat ramah lingkungan.
Boy tentu tidak asal menciptakan. Temuan sepeda motor berbahan bakar air telah ia presentasikan kepada beberapa ahli di Departemen Energi Sumber Daya Mineral di Jakarta. "Saya disuruh pindah ke Jakarta untuk penelitian lanjutan, tetapi saya lebih suka tinggal di Palu," katanya.
Kemahiran Boy merancang teknologi dilatarbelakangi pengalamannya sebagai pekerja mekanik di bengkel. Boy sendiri adalah pegawai negeri sipil di Radio Republik Indonesia Palu. (jean rizal layuck) kompas 9 nop 2007
Profesor Austria Temukan Islam Melalui Seorang Juru Masak

PENGANTAR. Lahir di Austria, namun dibesarkan di Jerman. Keluarganya adalah penganut Kristen Protestan yang taat. Namun beranjak dewasa mulai ragu dengan dogma-dogma dalam ajaran agamanya yang dianggap tidak rasional. Pencarian kebenaran pun dimulai. Pada usia 16 tahun kembali ke Austria dan meneruskan studi lanjutnya di Salzburg University hingga meraih gelar doktor ilmu Biologi. Selanjutnya diterima sebagai dosen dan peneliti di almamaternya. Hingga, dalam sebuah perjalanan ke Mesir, ia menemukan hidayah melalui perantaraan seorang juru masak hotel yang kemudian jadi suaminya. Itulah dia Prof. Dr. Aminah Islam (54), Guru Besar Ilmu Biologi pada Universitas Salzburg yang memeluk Islam Ramadhan 2004 silam. Wanita yang malu difoto karena belum berjilbab itu menceritakan kisah perjalanan spiritualnya di situs Islam terkemuka Readingislam.com.

---------------------------------------------------

“Saya lahir di Linz, Austria tahun 1953. Namun menghabiskan masa kecil di Muenchen, Jerman hingga akhirnya pindah ke Salzburg, Austria kala berusia 16 tahun,” ujar Prof. Aminah di awal tulisannya. Dikatakannya, ia dibesarkan dengan cara Kristen konservatif. Kedua orangtuanya penganut Kristen Protestan yang taat. Keluarganya juga mengajarkan pendidikan etika dan moral.

Semasa remaja Aminah tidak mengikuti aktifitas di gereja Protestan. Alhasil, orangtuanya lalu memintanya untuk aktif di gereja Evangelis dan segera menjadi anggota aktif serta menjadi ketua salah satu kelompok pelajar. Ia belajar Bibel dan yakin dengan dogma bahwa Yesus adalah anak Tuhan. Demikian juga ia yakini Yesus mati disalib guna menebus dosa-dosa pengikutnya.

Pada mulanya ia jalani semua itu tanpa ada penolakan. Namun beberapa tahun kemudian, masih di komunitas yang sama, hati kecilnya mulai menolak hingga keluar dari perkumpulan itu karena bertentangan dengan rasionalnya. Secara berulangkali ia mengatakan bahwa Tuhan masih misterius baginya. Kala itu ia mulai ragu Yesus sebagai Tuhan. Sejak itula ia mulai mencari kebenaran hidup.

Aminah menyelesaikan sekolah menengahnya di kota Salzburg. Selanjutnya, di kota kelahiran komponis kenamaan Mozart itu ia meneruskan pendidikan tinggi di Universitas Salzburg dan mengambil jurusan Biologi. Belajar sembari bekerja sampingan (part time) di universitas tempatnya belajar pun dilakoni.

Setelah menyelesaikan program doktor, Aminah kemudian kawin dan prosesinya berlangsung di gereja. Dari perkawinan itu ia memiliki dua orang anak. Namun kebahagiaannya tak berlangsung lama. Karena alasan tak ada keharmonisan kemudian cerai. Sejak saat itu ia sudah mulai meninggalkan gereja.

Diterima menjadi dosen
Aminah mencoba melamar kerja karena ia sendirian mengasuh anak-anak. “Alhamdulillah saya dapat pekerjaan bagus di Universitas Salzburg sebagai staf pengajar dan peneliti di bidang Biologi,” ujarnya mengenang.

Kemudian ia memutuskan menikah untuk kedua kalinya. Ketika itu ia juga masih dalam proses mencari kebenaran. Namun pernikahan kedua itu juga bak bencana dan akhirnya cerai lagi. Mirip dengan kasus pertama.

“Waktu itu suami yang kedua itu mengambil keuntungan dari pekerjaan saya sebagai dosen.
Sementara ia hanya santai saja tanpa ada upaya untuk mencari dukungan financial lainnya. Sakitnya lagi, ia bahkan tidak peduli terhadap anak-anak,” tukasnya lagi. Syukurnya saat cerai yang kedua itu Aminah sudah meraih posisi sebagai professor dan memegang tanggungjawab penuh pekerjaan di kampus.

“Namun saya merasa belum mendapatkan kebahagiaan dalam hidup. Pekerjaan pun dobel dan bahkan melebihi kapasitas. Ya mengajar, mengasuh anak-anak, mengurus rumah. Hingga saya kelelahan fisik dan psikis sampai akhirnya mengalami depresi berkepanjangan. Namun saya masih bisa bertahan, itu karena anak-anak,” akunya.

Selepas perceraian kedua, Aminah mengaku hidup bersama tanpa nikah dengan seorang pria yang usianya lebih muda 9 tahun dengannya. Hidup bersama tanpa nikah adalah hal lazim di dunia Barat.

“Hanya sebentar, kemudian saya ditinggalkan lagi. Sejak itu saya mulai lagi mengatur hidup sebagai wanita single, tanpa berharap akan ada pria lagi yang datang. Saya pikir untuk apa lagi. Saya sudah punya kerja, anak-anak sudah besar, punya apartemen nyaman, mobil, bisa menyalurkan hobi seperti mendaki gunung, main ski. Sudah bisa berdiri sendiri di atas kedua kaki. Saya sudah tidak punya kerinduan asmara lagi,” imbuhnya lagi. Namun ia mengaku masih belum puas untuk terus mencari kebenaran dalam hidup.

Berkenalan dengan Islam
“Pengetahuan tentang Islam sangatlah minim. Masa itu yang saya tahu –melalui media- Islam agama yang tidak simpatik,” ujarnya. Kala itu ia mengaku tidak pernah mendapatkan kontak dengan Islam secara langsung dan juga tidak ingin bersentuhan dengan orang-orang dari agama yang waktu itu disebutnya sebagai agama suka perang.

Sampai akhirnya situasi berubah secara tak terduga. Ceritanya, September 2002 ia bersama koleganya berencana menghabiskan liburan selama sepekan.

“Kami booking penerbangan pas detik-detik akhir. Syukurlah akhirnya dapat tawaran murah ke Mesir. Saya memang lagi ingin rilek, mengatur irama hidup kembali selepas lelah bekerja, dan berharap menemukan kebenaran yang kucari. Jujur saja, tidak ada lagi keinginan untuk menemukan pria idaman sebagai suami,” ujarnya seraya melanjutkan kisahnya.

“Kala itu, persis di sore pertama kami di hotel saya pergi ke restoran untuk makan malam. Eh entah bagaimana saya bertemu pandang dengan seorang pria yang terakhir saya ketahui bernama Walid. Ia juru masak di hotel itu. Kala mata kami bertemu, hati saya bergetar aneh. Ah saya jatuh cinta lagi!. Walid menceritakan, selepas menjadi suami saya, bahwa ia juga mengalami hal yang sama pada pandangan pertama itu,” kisah Aminah lagi.

Setelah kejadian itu hampir dua hari mereka tidak bertemu sampai kemudian Walid menulis sepucuk surat. Isi surat pertamanya itu Walid langsung mengajak Aminah untuk nikah.

“Liburan tinggal beberapa hari lagi dan saya merasakan hati seperti berat meninggalkan tempat itu. Akhirnya saya kembali ke Austria tanpa ada nomor kontak Walid yang dapat dihubungi. Namun dengan segera aku berpikir realistis bahwa ada pembatas yang sangat dalam diantara kami (umur, budaya, agama, pendidikan dan bahasa),” kilahnya. Namun hati tidak bisa ditipu. Akhirnya ia kembali ke Mesir dua bulan kemudian untuk mendapatkan cintanya lagi. Hanya saja masalah terbesar kala itu adalah sulitnya komunikasi karena faktor bahasa.

“Nampaknya Allah memang mengatur semua ini. Allah seakan mulai memperlihatkan jalan dalam hidupku. Beberapa hari selepas kembali ke Austria dari Mesir, seorang wanita datang dari Mesir dan bekerja sebagai peneliti tamu di institut kami selama satu tahun. Dua minggu kemudian saya pun mulai ikut kursus bahasa Arab di kampus yang ditawarkan oleh seorang profesor dari Mesir. Mereka juga mengajarkan banyak hal tentang Islam dan budayanya. Bahasa Arab adalah sebagai upaya untuk mempermudah komunikasi dengan Walid,” tuturnya mengenang. Karena tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang Islam, ia membeli banyak buku dan sebuah terjemahan AlQuran dalam bahasa Jerman.

Menikah diam-diam
Pada kunjungan kedua kalinya ke Mesir Aminah berkunjung ke keluarga Walid. Ia mengaku terkesan dengan Walid yang sangat ulet dan berasal dari sebuah keluarga besar yang bermata pencaharian sebagai petani. Keluarganya memegang teguh ajaran Islam.

“Saya diajak bertemu keluarga besarnya itu. Sore pertama di sana, akhirnya kami sepakat untuk menikah secara Islam. Hanya melalui bantuan penghulu setempat di desa itu. Kesannya kami menikah secara diam-diam. Semata-mata untuk menghindari kemaksiatan. Walid sangat komit dengan ajaran agamanya, bahwa laki-laki dan perempuan yang belum ada ikatan pernikahan haram melakukan hubungan yang dilarang agama.”

Setelah perjalanan kali kedua itu, Aminah sempat ke Mesir beberapa kali hingga akhirnya kami bisa menikah secara resmi di Kairo.

“Saya sungguh sangat bahagia waktu itu. kami pun segera mengurus visa Walid untuk memperoleh ijin berkunjung ke luar negeri. Akhirnya Walid bisa ke Austria persis setahun selepas pertemuan pertama kami di hotel,” kenangnya.

Aminah secara perlahan mulai belajar banyak hal tentang Islam, baik melalui buku-buku maupun dengan bantuan rekan-rekan muslim di Austria. Ada hal menarik, yakni tanpa disangka ia diminta oleh Cairo University untuk menjadi penguji tesis salah seorang mahasiswa di sana. Nah dari beberapa kali kunjungan akademik itulah ia akrab dengan salah satu muslimah Mesir yang kemudian jadi tempatnya bertanya hal Islam. Ia mengaku kagum dengan kebanyakan muslim termasuk kaum mudanya yang terbuka dan sangat respek jika bicara tentang Allah dan Islam.

Segera selepas kedatangan suaminya ke Austria, merekapun mengadakan kontak dengan mesjid yang ada di kota Salzburg. Ia menerima hadiah beberapa buku. Salah satu yang sangat berkesan adalah buku “Bible, Quran dan Ilmu Pengetahuan Alam” karangan Maurice Bucaille, ilmuwan Perancis. Buku itu sangat sesuai dengan aktivitas yang ia tekuni saat ini. Ia baru tahu, semua pernyataan ilmiah yang ada dalam Quran ternyata sangat sesuai dengan hasil-hasil penelitian terkini. Matanya makin terbuka.

“AlQuran ternyata tidak hanya menjelaskan tentang Tuhan dan dunia, tapi juga semua pernyataan di dalamnya, semisal ilmu-ilmu alam, tidak kontradiksi dengan kenyataan,” ujarnya. Bagi Prof Aminah yang seorang saintis ilmu alam, tentu saja penjelasan AlQuran makin membuatnya mantap untuk mempelajari Islam.

“Semakin jelas, Islam bukanlah agama baru, tapi justru agama yang menyempurnakan agama-agama sebelumnya, misal Yahudi dan Nasrani. Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir, yang oleh agama lain tidak diakui, adalah pembawa risalah, pembawa kebenaran yang berasal dari Allah. Tak ada yang disangsikan, AlQuran adalah perkataan Allah dan Muhammad utusannya! Jika ini merupakan kebenaran dan saya yakin atas itu, maka saya harus menerima dan menjalankan semua isi AlQuran,” tegasnya.

Mengucap dua kalimah syahadah
Persis memasuki Ramadhan 2004, Walid menanyakan dengan bijak akankah Aminah melakukan langkah terakhir dalam pencariannya (memeluk Islam).

“Tak ada keraguan sama sekali. Saya bahkan menginginkan agar prosesi itu dilaksanakan di rumah kami dengan mengundang beberapa saudara terdekat, muslim dan muslimah. Alhamdulillah, Ramadhan tahun 2004 saya mengukir sejarah hidup, bersyahadah disaksikan suami, anak-anak dan beberapa rekan-rekan kami. Sungguh, saya sangat bahagia. Bahagia sekali bisa menjadi bagian dari umat Islam,” kenangnya.

Mulai saat itu Prof. Aminah berupaya untuk meningkatkan keyakinan dan ketaqwaannya kepada Allah, demikian juga pengetahuannya tentang Islam. Dan, berusaha sebaik mungkin melaksanakan ajarannya. Shalat misalnya, ternyata jauh-jauh hari ia telah belajar bagaimana menunaikan salah satu tiang agama Islam itu. Juga ia mulai berpuasa di bulan Ramadhan.
Di akhir penuturannya, ia mengakui masih ada dua masalah yang tersisa. Pertama, ia masih ragu memberitahukan hal keislamannya itu kepada kedua orangtuanya.

“Meskipun mereka telah tahu pendapat saya tentang Islam, tapi saya belum bisa beritahu bahwa saya sudah masuk Islam. Mereka sudah sangat tua dan sering sakit-sakitan. Takutnya, jika mereka terkejut bisa berbahaya bagi kesehatan. Tapi ini hanya masalah waktu saja,” ungkapnya.

“Satu lagi masalah yang masih mengganjal, saya belum bisa mengenakan jilbab di tempat kerja. Memang Austria tidak ada masalah dengan Islam yang telah jadi agama negara. Namun masalahnya, masyarakat atau lingkungan di universitas saya bekerja masih tabu dengan itu.”
Profesor Aminah mengaku, kendati begitu ia tetap berjuang untuk jilbabnya itu. Buktinya, dalam setiap kesempatan ia gunakan untuk bicara dan menjelaskan tentang Islam.

“Alhamdulillah, Allah akhirnya menolong saya menemukan jalan kebenaran yang telah lama saya cari. Karena itu saya berusaha untuk menjadi muslimah yang baik. Di lingkungan kerja, saya mencoba mempraktekkan ajaran Islam yang saya ketahui dengan memberikan contoh-contoh yang bagus,” tukasnya mengakhiri penuturannya kepada Readingislam. Selamat, semoga hidayah Allah kekal bersamamu saudaraku Fatimah! (zulkarnain jalil)

Friday, October 26, 2007

Der Panzer Akhirnya Runtuhkan Mitos

Glueckwunsch, Jogi! Selamat, Jogi!. Itulah bunyi headline harian beroplah tinggi Bild edisi online, Minggu (14/10). Ya, tak salah lagi Jogi adalah nama panggilan Joachim Loew, pelatih timnas Jerman. Ucapan itu memang pantas diterima Jogi. Pasalnya der Panzer menjadi tim pertama yang lolos ke putaran final Piala Eropa 2008 Austria-Swiss. Kendati malam itu hanya bermain imbang (0:0) di kandang Irlandia, akan tetapi poin mereka tak mungkin dikejar Republik Ceko, peringkat kedua.

Sukses lainnya, tak tanggung-tanggung Tim Panser berhasil meruntuhkan mitos yang telah bertahan selama 24 tahun atau sejak tahun 1982! Bunyi mitos atau lebih layak disebut kutukan itu adalah; juara ketiga Piala Dunia selalu gagal lolos kualifikasi Piala Eropa. Tidak percaya? Coba simak catatan sejarah berikut.

Piala Dunia 1982 yang digelar di Spanyol menempatkan Polandia sebagai juara ketiga. Kala itu di tim Polandia masih bercokol nama-nama besar seperti Boniek dan Lato. Akan tetapi Boniek dkk terpaksa gigit jari. Mereka gagal menembus babak kualifikasi hingga memupus ambisi menuju Perancis, tuan rumah Piala Eropa 1984.

Korban berikutnya adalah Perancis yang merupakan juara ketiga Piala Dunia “Maradona” 1986 di Meksiko, Perancis yang masih dipimpin Michel Platini juga tergusur saat kualifikasi dan absen di putaran final Piala Eropa 1988 di Jerman Barat.

Kutukan belum usai, nama besar Italia yang juara ketiga Piala Dunia Italia 1990 tak mampu mencapai Swedia, penyelenggara Piala Eropa 1992. Celakanya, Swedia –juara ketiga Piala Dunia 1994 Amerika Serikat, jadi korban selanjutnya. Negara tempat Hasan Tiro bermukim itu turut mencicipi mitos alias gagal lolos ke putaran final Piala Eropa 1996 yang berlangsung di Inggris.

Kroasia yang merupakan juara ketiga Piala Dunia 1998 Perancis, gagal meraih tiket ke putaran final Piala Eropa 2000 yang digelar pertama kali secara bersama oleh Belanda dan Belgia. Terakhir Turki, juara ketiga Piala Dunia 2002 Korea-Jepang, juga gagal lolos kualifikasi Piala Eropa 2004 Portugal. Pertanyaan yang muncul di kemudian hari, akankah Jerman yang juara ketiga Piala Dunia 2006 di tanahnya sendiri jadi korban berikutnya?

Tanggal 14 Oktober 2007 kemarin Bastian Schweinsteiger dkk berhasil menjawab pertanyaan berat tersebut. Mereka sukses mengubur mitos sekaligus mencatat sejarah baru. Jadi sangat pantas jika anak asuh Loew merayakannya bak sudah jadi jawara saja.

The winning team

Prestasi Loew sendiri yang menangani timnas sepeninggal Klinsmann boleh dibilang lumayan mengkilap. Selama memimpin Ballack cs, dari 15 pertandingan (persahabatan dan kualifikasi Piala Eropa) anak asuhnya meraih 12 kali kemenangan, 2 kali seri dan hanya sekali kalah. Tak pelak, petinggi DFB (PSSI-nya Jerman) pun spontan menyodorkannya kontrak baru untuk dua tahun berikut.

Selepas kemenangan telak 3:1 melawan Rumania dalam laga persahabatan bulan September silam, Jogi tetap mempertahankan the winning team-nya. “Muka baru” yang dipasang barangkali cuma Torsten Frings. Veteran Piala Dunia 2006 itu menempati posisi Hitzlsperger yang dibekap cedera. Kembalinya Frings, selepas istirahat panjang dari cedera, terbukti mampu menutup lubang di lini tengah. Barisan pertahanan pun bisa bernapas sedikit lega. Apalagi malam itu Jens Lehmann bermain cukup cemerlang di bawah mistar gawang.

Jerman Barat

Partai ini berlangsung lumayan panas. Buktinya, pada menit ke-12 Bastian Schweinsteiger musti keluar lapangan. Pasalnya, ia mengalami benturan kepala cukup keras dengan pemain Irlandia, Kilbane. Akibatnya Schweini mendapat tujuh jahitan di kepalanya.

Nah ada kejadian menarik tatkala pengumuman pergantian pemain antara Schweini dengan Rolf. “Pergantian di kubu Jerman Barat!,” demikian bunyi pengumuman itu. Beberapa detik kemudian, menyadari kesalahannya, sang anounser (pembaca pengumuman-red) segera meralat menjadi “Jerman” saja. Kontan stadion bergemuruh oleh tawa gerr sekitar 67.000 penonton yang berdesak-desakan. Si pembaca pengumuman tampaknya sangat menikmati pertandingan hingga ia lupa bahwa Jerman kini telah bersatu. (zulkarnain jalil).

Muslim Indonesia se-Jerman Silaturrahmi Jelang Ramadhan

Bagi yang pernah merantau tentu pernah merasakan bagaimana tersiksanya perasaan kala pisah dengan orang tua, sanak keluarga dan orang-orang yang dicintai. Jauh di rantau tentu saja bikin yang namanya rindu kampung halaman atau homesick membuncah, konon lagi pas puasa Ramadhan.

Namun “penyakit” itu tak perlu dipendam lama-lama. Banyak media bisa diciptakan guna mengurangi rasa rindu. Seperti yang dilakukan oleh Forum Komunikasi Masyarakat Muslim Indonesia di-Jerman atau Forkom. Sabtu lalu (8/9) mereka kumpul-kumpul sesama muslim Indonesia se-Jerman dalam acara yang mereka beri nama SALAM singkatan dari Silaturahim Masyarakat Muslim Indonesia se-Jerman.

Hajat besar itu biasa diadakan setiap tahun oleh Forkom. Kebetulan tahun 2007 ini bertepatan dengan datangnya bulan suci Ramadhan. Tahun ini kota Darmstadt ditunjuk sebagai tuan rumah. Tentu saja bukan asal tunjuk. Kumpulan pengajian muslim yang ada di setiap kota di Jerman terlebih dahulu mengadakan pertemuan antar pengurus atau Muktamar Forkom.

Darmstadt, kota berpenduduk 140.203 jiwa dan tempat industri kimia E-Merck bermarkas, Sabtu kemarin dibanjiri lebih dari 200-an warga muslim Indonesia dari berbagai kota seperti Berlin, Hamburg, Muenchen, Aachen, Hannover, Goettingen, Kassel, Nuermberg dan kota-kota lainnya. Pada Salam tahun ini IKID (Ikatan Keluarga Islam Darmstadt), yang secara mandiri melaksanakan kegiatan tahunan Forkom tersebut, mengusung tema “Kembali kepada Islam”. Seperti dilansir situs resmi Salamdarmstadt, selain forum silaturrahmi juga diisi dengan ceramah agama.

Sebuah Talk Show bertema “Kembali kepada Islam” barangkali adalah acara yang paling mengesankan. Betapa tidak, dalam forum itu dihadirkan muallaf Jerman yang menceritakan ihwal ketertarikannya dengan Islam. Misalnya ada Daniel Ibrahim Gremer dari IIS Darmstadt (Islamische Informations- & Serviceleistungen e.V), lalu Muhammad Siddiq (Haus des Islam). Tak kurang tokoh muslim Indonesia di Jerman juga turut hadir, seperti Mochsen Ali Sjawie (Hamburg) Abdul Qadir (Darmstadt) dan M. Nasser Balfas (Hamburg). Mendengarkan kisah mereka hingga tertarik dengan Islam seakan memberi semangat baru bagi kita yang telah sekian lama “beragama” Islam.

Nah bagi yang kangen makanan khas tanah air peserta bisa menikmati berbagai panganan yang disajikan pada Tour Jajanan Khas Nusantara di arena bazaar. Menurut informasi, Salam tahun ini panitia memang tidak menyediakan komsumsi secara langsung. Artinya setiap peserta dipersilahkan jika ingin membawa makan sendiri. Namun panitia menyediakan bazaar makanan. Dengan bazaar ini para peserta Salam dapat memilih jenis makanan yang disukainya. Tentu saja dijual dengan harga yang terjangkau oleh peserta yang sebagian besar adalah mahasiswa.

Jenis makanan pun beragam. Untuk sarapan panitia menyediakan: lumpia, donat, lalu ada bubur sumsum, bolu, aneka gorengan seperti bakwan dan risoles. Nah makan siangnya tersedia Pempek Palembang, Siomay dan Batagor Bandung, Batagor Riri, Batagor Kingsley, hingga Comro (sejenis oncom). Tidak ketinggalan, minuman khas Bandung ikut juga hadir menghangatkan tenggorokan misalnya Bandrek Braga Bandung dan Sop Buah. Bahkan ada juga makanan khas dari pulau Lombok yaitu Ayam Taliwang. Ayam bakar yang disajikan dengan sambal khas daerah Lombok ini memang memiliki rasa yang beda dengan ayam bakar biasa. Masih belum kenyang ? Bisa coba lagi nasi campur, lontong sayur dan mie ayam.

Menariknya lagi, panitia juga menyediakan arena khusus bagi anak-anak. Jadi bagi yang bawa anak pun bisa mengikuti berbagai acara Salam dengan tenang. Pasalnya, panitia ternyata juga sudah mempersiapkan program khusus untuk anak-anak. Banyak sekali jenis permainan yang ditawarkan Sehingga para bocah bisa saling bersenda gurau dengan sesamanya. Bosan dengan permainan bisa juga ikutan nyanyi dengan tembang-tembang menarik yang disenandungkan bersama-sama. Yang senang melukis bisa mengikuti lomba menggambar. Bisa dikatakan Salam kemarin memang arena berbagi kegembiraan segala usia, dari anak-anak hingga orang tua.

Forkom sendiri boleh disebut sebagai satu-satunya organisasi yang mempersatukan berbagai kalangan muslim Indonesia di Jerman. Tak pandang dari kalangan dan kelompok mana berasal. Forkom didirikan di Karlsruhe tahun 1994 silam atas prakarsa beberapa mahasiswa muslim Indonesia yang sebagian besar merupakan penerima beasiswa DAAD dari Pemerintah Jerman.

Forkom merupakan forum komunikasi lintas pengajian muslim Indonesia se-Jerman, dimana para anggotanya tidak terikat secara organisatoris, melainkan diikat bersama dalam rasa kecintaan terhadap Allah, Rasul, Islam dan Umat. Selain kegiatan SALAM, ada juga acara tahunan lainnya seperti safari ustadz (didatangkan dari Indonesia), pengajian antar kota, training ke-Islaman, dan PRIMA (Pekan Olahraga Insan Beriman). Prima mungkin hampir mirip Salam dari segi jumlah peserta. Prima diadakan dengan maksud untuk membentuk karakter Islam yang sehat, kuat dan berkualitas. Kota penyelenggaranya juga berpindah-pindah.

Forkom yang tergabung dalam ISF (Indonesian Solidarity Foundation) juga ikut serta dalam upaya recovery Aceh pada saat musibah tsunami melanda dengan menggalang dana bantuan bagi korban yang diadakan baik di kampus, mesjid hingga di jalanan dengan cara mengamen serta berbagai jenis kegiatan sosial lainnya.

Begitulah, andil muslim pendatang –salah satunya Indonesia- sangat kentara bagi perkembangan Islam di negeri Panser. Sebagai catatan, dari sekitar 3,5 juta pemeluk Islam di Jerman adalah para imigran. Dan sekitar 300 ribu pemeluk Islam berkewarganegaraan Jerman. Diperkirakan hampir setiap saat ada warga Jerman yang memeluk Islam. (zulkarnain jalil)