Kasih Ibu Sepanjang Masa(Refleksi Hari Ibu 22 Desember) Oleh: Ummi Rifqah* Ingatlah kawan, ketika ibumu rela tidur tanpa selimut demi melihatmu, tidur nyenyak dengan dua selimut membalut tubuhmu …Ingatlah kawan, ketika jemari ibu mengusap lembut kepalamu ...dan ingatlah kawan,ketika air mata menetes dari mata ibumu saat ia melihatmu terbaring sakit...Kawan ...sesekali jenguklah ibumu yang selalu menantikan kepulanganmu di rumah yang dulu kau dilahirkan,Kawan.. jangan biarkan engkau kehilangan, saat-saat yang akan kau rindukan di masa datang, ketika ibumu telah tiada ... ----oOo----
Tanggal 22 Desember kerap diperingati sebagai Hari Ibu. Tahun 2007 ini peringatan Hari Ibu di Tanah Air telah memasuki usia yang ke-79. Di negara-negara Barat sana dikenal dengan sebutan Mother’s Day, seperti di Amerika Serikat diperingati setiap tanggal 14 Mei, ataupun di Jerman jatuh pada 8 Mei. Terlepas dari bagaimana cara memperingatinya, Mother's Day di negara-negara Barat dan Hari Ibu di Indonesia sangatlah berbeda. Mother's Day adalah hari untuk 'memanjakan' ibu ataupun istri selama sehari penuh. Jadi lebih ditujukan ke individu si ibu. Sedangkan Hari Ibu adalah peringatan yang berhubungan dengan perjuangan perempuan Indonesia dalam kemerdekaan bangsa.
Tulisan ini tidaklah semata-mata menyoroti peringatan Hari Ibu sebagai bagian seremonial belaka, namun berusaha mengambil hikmah apa arti sebenarnya seorang ibu. Memang sangat sukar untuk memahami rasa pertalian yang begitu mendalam dan suci yang terwujud diantara kita dan ibu kita. Kita boleh saja menyayangi sesuatu seperti emas dan intan, tetapi tiada suatu pun yang dapat menandingi kasih sayang seorang ibu kepada anak-anaknya.
Kering kasih sayang
Kaum ibu memelihara dan membesarkan anak-anak mereka, seringkali tidak mengindahkan kehidupan mereka sendiri. Pertama sekali, mereka mengandungi kita selama sembilan bulan di dalam rahim mereka, kemudian membawa kita memasuki dunia ini melalui proses kelahiran yang sangat menegangkan. Seterusnya mereka menjaga kita sebagai bayi.
Mari kita pikirkan tentang malam-malam di mana mereka tak memejamkan mata dan hari-hari yang terlalu memenatkan badan. Mendidik kita sedari kecil bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Pertalian inilah yang menimbulkan kasih sayang antara ibu dan anak, sungguhpun kemudian si anak tak memperhatikannya lagi, namun kasih ibu tak pernah luntur.
Hari ini, secara perlahan naluri kita sebagai seorang ibu seperti tercabut. Pola hidup modern dan materialis merasuki hampir seluruh sendi kehidupan kita. Upaya mengejar kekayaan dan kesuksesan, ibarat meminum air laut, haus tak pernah hilang. Si ibu dan ayah hanya bertemu dengan anak-anaknya di malam hari, saat anak-anak sudah tidur. Pagi-pagi sekali mereka berangkat kerja, juga saat anak-anak masih tidur. Semua diurus oleh pembantu. Sebenarnya anak-anak mereka sudah „mati“. Rumah kita, keluarga kita, hari ini miskin dan kering akan kasing sayang.
Gaya hidup bebas, pergaulan tanpa batas dan hidup materialis di negara-negara Barat menjarakkan hubungan di antara ibu, ayah dan anak-anak. Lalu, banyaknya anak-anak dilahirkan di luar nikah, hubungan hati antara ibu dan anak tidak tampak. Keakraban pun luntur. Pertalian yang ada hanya sekadar perasaan ibu melahirkan saya dan saya harus memanggilnya emak.
Haruskah ini terjadi pada kita, wahai Ibu ?
Islam dan Hari Ibu
Dalam suatu tanya jawab online tentang apa pendapat Islam berkaitan dengan Hari Ibu, maka sang ustadz memberi jawaban bahwa sebenarnya setiap hari di dalam hidup seorang muslim adalah hari ibu, yang melibatkan kebaikan, hormat, sayang, dan timbang rasa untuk para ibu. Ini adalah karena Islam - tidak seperti agama dan cara hidup yang lain-, menjadikan ibu-bapa sebagai satu tuntutan agama dan kewajiban moral sebagaimana telah disebutkan dalam Quran dan banyak hadist.
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu-bapamu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut didalam peliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil" (Q.S. Al-Israa' : 23 - 24).
Perhatikan di dalam ayat tersebut bagaimana Allah s.w.t. menyatakan hak-Nya untuk disembah, kemudian menyatakan adab terhadap ibu-bapa. Di dalam peraturan ini, berbuat baik kepada ibu-bapa telah diberikan taraf dan kehormatan yang tinggi. Di dalam ayat yang lain pula, dinyatakan keutamaan kepada ibu:
"Dan Kami perintahkan kepada manusia berbuat baik kepada kedua ibu-bapanya - ibunya telah mengandungkannya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, "Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang ibu-bapamu, hanya kepada-Ku lah kamu kembali" (Surah Luqman : 14).
Diceritakan pula dalam satu hadist yang masyhur; Diriwayatkan seorang telah bertemu Rasulullah SAW dan bertanya,"Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berhak mendapat layanan baik dariku?" Rasulullah menjawab,"Ibumu(dan diulang sebanyak tiga kali), kemudian ayahmu, kemudian saudara-saudara terdekatmu."
Sepatutnya janganlah kita mengkhususkan satu hari yang istimewa untuk menunjukkan kasih sayang kepada ibu-bapa, ataupun mengislamkan hari tersebut. Sebaliknya, marilah kita perhatikan serta ikuti prinsip-prinsip etika terhadap ibu-bapa setiap hari di dalam kehidupan kita. Marilah kita elakkan dari berkata "Selamat Hari Ibu", tetapi gantilah kepada doa kepada mereka, setiap hari:
"Wahai Tuhanku! Kasihilah mereka keduanya, sepertimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil" (Surah Al-Israa': 24).
Seorang ibu juga adalah pemberi yang tulus, yang telah memberikan seluruh hidupnya untuk anak-anak yang dicintainya. Sebuah lagu menggambarkan hal ini dengan sangat indah, Kasih ibu kepada beta, Tak terhingga sepanjang masa,Hanya memberi tak harap kembali,
Bagai sang surya menyinari dunia. Dalam konsep Islam, ibu memang diletakkan pada tingkatan tertinggi, maka kehadiran Hari Ibu tidak menjadi halangan untuk dipraktekkan. Namun, Islam tidaklah menekankan bahwa ibu itu harus diingat hanya satu hari itu saja dan tidak pada hari-hari yang lain. Ibu di dalam Islam diingat dan ditaati sepanjang masa.
Selagi ibu kita ada didunia ini, ciumlah dia, cium tangannya, sentiasa minta ampun darinya, berikan senyuman kepadanya, bukannya dengan bermasam muka, kasih ibu tiada tandingannya. Bila ia telah berpulang, atau engkau berada jauh di rantau, kirimkan do’a untuknya. Ingatlah, syurga berada di bawah telapak kaki ibu.
* Ibu rumah tangga, tinggal di Banda Aceh