Saturday, December 20, 2008

Gadis Amerika itu pun bersyahadah di dalam bis kota

PENGANTAR: Halimah David kini namanya. Dia memeluk Islam tahun 2001 silam. Awalnya, semasa masih remaja, gadis Amerika ini hidup di tengah nuansa Katolik yang kental dibawah bimbingan sang ayah. Namun beranjak dewasa dia melihat ada kontradiksi dalam Kristen. Dia pun mulai mencari kebenaran dengan mendalami berbagai agama, termasuk Islam. Dalam satu perjalanan dengan bus dari Michigan ke Colorado, untuk melanjutkan kuliah di kedokteran, dia berjumpa dengan seorang pemuda muslim asal Afrika. Dari situlah dia kenal Islam. Dan, menariknya di atas bis antar kota itu juga dia bersyahadah. Masya Allah, hidayah-Nya tak kenal tempat dan waktu. Alhasil, dia justru tertarik belajar Islam ketimbang melanjutkan studi kedokteran. Berikut kisah Halimah, yang setelah menikah memilih tinggal di rumah, mendidik anak sembari menulis buku dan juga mengasuh website Islam.

000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000

“Aku dibesarkan dalam keluarga Kristen taat. Ayahku senantiasa memberi petuah Kristen semasa membesarkanku. Dia berusaha keras mengajariku nilai-nilai Kristen,” kata Halimah David tentang latar belakang keluarganya.


"Aku banyak membaca Bibel di saat masih duduk di sekolah dasar dan mengamati sekilas ada hal yang kontradiksi di sana (misal hal babi). Memasuki usia 12 tahun, aku makin mengerti dan Kristen makin jauh dari hidup. Tapi aku sendiri tidak tahu apa yang musti kulakukan. Aku terus mencari dan mencari, siapa tuhanku yang sebenarnya. Berdoa agar ditunjukkan pintu kebenaran itu. Jujur, aku benar-benar bekerja keras untuk hal ini," kata dia.


Halimah menyimpan segudang pertanyaan dalam kepalanya: “Kenapa ada manusia di dunia?” atau “Untuk tujuan apa manusia diturunkan?”

Halimah berpikir dengan sistem yang begitu komplek, misal bagaimana manusia diciptakan, lalu bumi diciptakan untuk manusia, tentu ada Maha Pencipta di balik semua itu. Semisal benda, pasti ada desainernya. Atau, tatkala seseorang jalan-jalan di pantai lalu meninggalkan jejaknya di pasir. Maka pasti yang melihat akan menduga ada orang yang baru melewati jalan itu sebelumnya.

"Memasuki usia ke-19, itulah saat-saat yang kritis dalam masa pencarianku. Aku banyak mengadakan perjalanan ke berbagai tempat guna melihat aneka budaya setempat. Ini juga bagian dari proses pencarian tuhan. Kuamati ajaran Taoisme, Budha, Yahudi, Freemansory, Hindu, Animisme, serta banyak lainnya lagi. Tentu saja ajaran Kristen juga jadi bahan pembanding. Aku juga mempelajari Islam melalui literatur yang ada. Kala itu hanya satu dua halaman saja yang kupelajari. Sekilas saja, aku tidak begitu tertarik mempelajarinya lebih jauh. Kuamati Islam menyembah Allah, lalu Muhammad Nabi mereka. Itu saja. Lalu mereka shalat lima kali sehari. Apa, lima kali sehari!?," tukas dia lagi.


"Ketika itu aku mulai berpikir, ah masa sampai sebegitu banyaknya. Kapan pergi kerja, kuliah kalau sebegitu banyak musti ibadah saban hari. Begitu hatiku membatin. Waktu berlalu, aku kembali ke Amerika lagi. Usiaku sudah 21 tahun. Aku masih belum puas dengan semua agama yang telah kupelajari," kata dia heran.

Waktu terus berjalan hingga dia memutuskan untuk kuliah dan diterima di jurusan kedokteran di Universitas Colorado. Menjadi dokter memang impiannya sejak lama. "Konsekuensinya, aku harus pindah dari Michigan ke Colorado. Tak apa-apa demi masa depan," ujarnya.

Saat hari-H, Halimah menggunakan bus umum Greyhound dari Michigan ke Colorado. Perjalanan sedikit panjang dan membosankan. Syukurnya sepanjang perjalanan itu dia punya teman ngobrol dengan seorang pemuda yang dikenalnya dalam bus. Anak muda yang duduk persis di belakangnya. Ternyata dia juga hendak ke Colorado untuk melanjutkan kuliah.

“Namanya Ibrahim, asal dari Afrika. Dia ke Colorado untuk kuliah di jurusan teknik. Kamipun mulai akrab dan ngobrol ke sana kemari untuk menghilangkan rasa jenuh di perjalanan,” kata Halimah.

Yang bikin Halimah tertarik adalah tatkala Ibrahim menyebut dirinya seorang muslim. “Aku tanya apa itu Islam dan dia cerita orang Islam percaya hanya satu Tuhan yaitu Allah dan Muhammad utusan-Nya. Dia cerita juga bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir dan tak ada diturunkan Nabi lagi setelahnya. Aku makin tertarik,” imbuh Halimah.

“Aku simpulkan bahwa ajaran Yahudi berada di belakang dua Nabi, yakni Nabi Isa dan Muhammad. Dan, ajaran Kristen yang dibawa Nabi Isa berada di belakang Islam yang dibawa Nabi Muhammad,” tukasnya. Halimah seakan merasa melihat secercah kebenaran dalam Islam. Ibrahim pun menghadiahinya sebuah buku kecil berisi kumpulan zikir dan doa yang merupakan senjata orang mukmin. Halimah sempat membaca salah satu bagian dari buku itu yang berbunyi:

"Tak ada satu pun yang patut disembah kecuali Allah. Allah satu dan tak bersekutu. Dia Maha Pemilik yang memiliki segala-galanya dan dia Maha Terpuji. Dialah yang Maha Berkuasa atas segala-galanya."

Berawal dari situlah Aminah melihat Islam adalah agama yang sedikit lebih masuk akal dan mudah dimengerti dari sekian agama yang pernah dipelajarinya. Halimah lalu membaca lagi isi buku pemberian Ibrahim itu untuk mendapat petunjuk siapa itu Allah. Dia temukan kalimat lain berbunyi:

"Dengan nama Allah, tak ada sesuatu pun bisa memberikan manfaat dan mudharat baik di dunia maupun di akherat, kecuali dengan seizin Allah. Dia Maha Mendengar dan lagi Maha Mengetahui."

"Ya Allah, segala keberkahan telah banyak kami terima dari Engkau yang Maha Pencipta. Engkau tidak bersekutu. Segala puji hanya bagi-Mu. Terima kasih ya Allah."

“Seketika itu lalu aku menoleh pada Ibrahim dan menanyakannya bagaimana caranya menjadi orang Islam. Dia menyebut aku musti bersyahadah. Dia bilang setiap yang mau masuk Islam musti mengucap duaa kalimah: La ilaha illa llaah Muhammadur Rasuulullah. Hanya itu? Aku lalu dituntunnya untuk mengucap kalimat Syahadah itu. Aku pun bersyahadah saat itu juga. Ya di dalam bus Greyhound, antara Michigan dan Colorado, aku telah jadi seorang muslimah!," kenangnya.

"Subhanallah! Setelah berbincang-bincang hanya sekitar lima belas menit dengan Ibrahim aku menjadi seorang muslim. Inilah cerita tujuh tahun yang lalu,” ujar Halimah memuji Allah. Dia mengaku sangat terkesan dengan kisah keislamannya akhir tahun 2001 silam itu.


Selanjutnya, dengan serta merta dia membatalkan perjalanannya ke Colorado. “Aku tidak melanjutkan sekolah kedokteran. Aku putuskan untuk menghabiskan waktu untuk mempelajari agama yang baru kukenal itu,” kata dia lagi.

Lalu Halimah pun pindah ke Utah. Di sana dia menemukan banyak muslim dan mereka sangat gembira serta menyambut Halimah dengan hangat dan mengenalkannya pada komunitas muslim setempat. Disanalah dia menghabiskan waktu untuk mempelajari Islam secara serius dan sungguh-sungguh.

"Begitulah, setelah mengikuti berbagai kajian Islam, ada beberapa hal yang menurutku sangat penting, yakni: Musti ada Sang Pencipta, karena di dalam kehidupan nyata ada benda-benda ciptaan. Bukti bahwa Tuhan itu ada ditunjukkan melalui kumpulan orang-orang yang berkumpul dan beribadah karena merasa ada "kebutuhan" yang bersifat spiritual. Ini terlihat dari adanya aneka ragam agama dan pemeluknya," ungkapnya.


"Begitupun, kita musti mengikuti agama yang meyakini hanya satu tuhan. Karena, jika ada lebih dari satu tuhan maka otomatis akan sangat komplek dan akan terjadi chaos antara sesama tuhan. Logikanya begitu. Konsekuensinya, semua manusia bertanggungjawab untuk percaya dan yakin kepada Tuhan yang terpatri di dalam setiap diri dan jiwa mereka," pungkas dia.

"Karena itulah dasar dari dilahirkan manusia ini, untuk mengabdi kepada Sang Penciptanya. Seperti termaktub di Surah Azzariyat ayat 56: "Aku menciptakan jin dan manusia hanya untuk mengabdi kepada-Ku.", imbuhnya. Jadi saya rasa Islam hadir untuk menggantikan ajaran Kristen yang telah berbelok arah dengan ajaran Trinitasnya, Satu dalam tiga, Itu sangat tidak rasional.

Halimah juga mendapat hal menarik lain tentang Tuhan di dalam Islam, bahwa jika seseorang manusia tidak mau beribadah kepada-Nya, maka kekayaan-Nya tidak akan berkurang. Sebaliknya jika semua manusia beribadah kepada-Nya, maka kekayaan-Nya juga tidak bertambah gara-garanya hamba-Nya menyembah Dia. Allah itu Maha Sempurna. Dia tak butuh kepada benda-benda, tapi semua benda-benda ciptaan-Nya butuh, itu sebabnya semua umat manusia butuh untuk beribadah kepada-Nya.

"Inilah yang makin memantapkan hati saya untuk terus berada dalam agama yang sangat saya cintai ini. Islam sudah sangat sempurna," tutupnya.

Halimah kini telah menikah dan memilih tinggal di rumah untuk mendidik anak-anaknya. Dia juga menulis buku-buku Islam khusus untuk anak-anak. Tak hanya itu waktunya juga diisi dengan mengasuh tiga website Islam. Salah satunya khusus membahas etika bisnis di dalam Islam. Begitulah. (Zulkarnain Jalil)

Srikandi Aceh raih Ummi Award 2008

Rahmawati Aida Putri (36) dinobatkan sebagai Ibu Teladan Tingkat Nasional setelah menyisihkan 5 finalis lainnya pada malam anugerah Ummi Award 2008 yang berlangsung di Jakarta, Sabtu (20/12) kemarin. Selama tiga hari dari 17 hingga 20 Desember Aida menjalani beberapa proses dari penjurian, pembekalan hingga malam puncak anugerah..

Prestasi yang ditoreh Aida –panggilannya- sekaligus memelihara tradisi juara dari Aceh. Sebelumnya, tahun 2001 Nurlina Jamil meraih anugerah serupa, diikuti oleh Rita Indahyati (2004). Aida sejak tahun 2002 berdomisili di kota Subulussalam dan bertugas sebagai da’i perbatasan bersama suaminya Muslem.

“Saya awalnya dikirim oleh Dinas Syariat Islam NAD sebagai dai selama tiga tahun. Setelah tugas resmi selesai saya memutuskan untuk tetap bertahan di Subulussalam hingga saat ini,” tutur sarjana Ekonomi Akuntansi Unsyiah lulusan 1999 itu.

“Tentu saja sekarang amanah makin berat. Saya musti bisa menunjukkan kiprah yang lebih baik lagi bagi keluarga dan masyarakat,” imbuh perempuan kelahiran Lhokseumawe itu kala ditanya kesannya atas anugerah yang baru diperolehnya. Pada bagian akhir, Aida mengajak para perempuan Aceh untuk bangkit. “Wanita Aceh harus ulet, tangguh dan jangan cepat putus asa,” kata dia.

Adapun juara kedua anugerah bergengsi ini diraih oleh Masfarlina (Malaysia). Masfarlina berasal dari Jakarta, namun sejaka beberapa lama menetap di Malaysia sebagai dai bagi para TKW yang berkerja di negeri jiran itu. Sedangkan juara favorit versi pembaca diraih oleh Nurlela dari Cileungsi, Bogor. Prestasi Aceh tahun ini sendiri cukup mengesankan dengan meloloskan dua finalisnya di babak puncak. Seorang lagi yakni dr. Rosaria Indah, dosen Fakultas Kedokteran Unsyiah, masuk kategori 6 terbaik.

Ummi Award merupakan kegiatan tahunan yang diprakarsai oleh Majalah Ummi, sebuah majalah muslimah terkemuka di tanah air. Kegiatan ini diperuntukkan bagi para ibu muslimah dari berbagai daerah di Indonesia. Kriteria yang dinilai antara lain aktifitas dakwah dalam masyarakat, keluarga, konsep diri dan beberapa kriteria lainnya. Pada akhirnya akan ditemukan seorang sosok perempuan yang mampu menjalankan tugas sebagai ibu sekaligus sebagai istri, memiliki kepribadian Islami dan menjadi contoh bagi masyarakatnya. (Zulkarnain Jalil)

Wednesday, November 19, 2008

Teknologi Ke Kamar Tidur

(Belajar dari kasus foto Bupati Akmal Ibrahim)

Oleh: Muhibuddin Hanafiah

Telah kesekian kalinya kasus penyalahgunaan teknologi terjadi di masyarakat kita. Akhir-akhir ini kasus yang sama menimpa keluarga Akmal Ibrahim, Bupati Aceh Barat Daya (Abdiya). Akmal dituduh telah melakukan perilaku amoral (selingkuh) dengan perempuan yang bukan istrinya. Menurut informasi yang berkembang, kejadian itu terekam kamera ponsel yang kemudian entah bagaimana tersebar luas ke publik. Kita berharap agar peristiwa serupa tidak terulang kembali pada siapapun juga. Sebab, kejadian itu bisa membawa aib, tidak hanya pada korban melainkan juga berimbas lebih luas kepada nama baik keluarga dan daerah. Dampak lainnya adalah merusak integritas individu sebagai manusia yang bermartabat, beriman dan beragama. Kejadian ini menyisakan pesan kepada kita bahwa dalam memanfaatkan piranti teknologi harus lebih berhati-hati, tidak lalai, apalagi jatuh ke tangan orang lain. Sehingga tidak ada celah untuk dapat disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Menjaga netralitas

Mencermati kasus ini, sejatinya kita berdiri pada posisi netral. Tidak dalam posisi menuduh Akmal telah berselingkuh dengan bukti tuduhan berupa foto-foto yang tersebar di masyarakat. Melainkan kita hanya pada posisi menyarankan masyarakat agar dalam menggunakan perangkat teknologi lebih hati-hati, dan tidak menyalahkannya pada fungsi yang tidak positif. Seperti merekam hal-hal yang bersifat privasi yang awalnya mungkin hanya sebagai iseng-iseng (tidak serius), namun karena suatu kelalaian dalam proses penyimpanan, maka rekaman tersebut akhirnya berpindah tangan dan menyebar ke tangan orang lain. Karena dengan segala kemudahannya kecanggihan teknologi bisa dibawa dan digunakan dimana saja. Bahkan bukan hal baru lagi bila teknologi telah merambah sampai ke ruang tidur kita yang super privat itu. Sedikit saja terjadi kelalaian dalam penggunaan dan pemanfaatannya, kita bisa dibuai oleh daya tarik teknologi tersebut. Tetapi kemudian tanpa disadari magnit yang membius itu bisa berbalik arah menghunus majikannya. Benar bila dikatakan bahwa teknologi bagaikan pedang yang bermata dua, sisi yang satu bisa menghibur manusia. Sebaliknya sisi yang lalu membunuh karakter manusia secara perlahan.

Sudah tidak menjadi rahasia umum lagi bahwa perangkat teknologi modern bersifat bebas nilai (free value) atau netral, ibarat pisau yang multifungsi, bisa digunakan untuk tujuan positif maupun negatif. Ia sangat tergantung pada manusia yang menggunakannya, atau tergantung siapa yang berada di balik perangkat teknologi itu, man behind gun kata orang bule. Jadi, terserah pada manusia sebagai pemakai perangkat teknologi, mau menggunakan pada tujuan awal penciptaan atau malah menyalahgunakannya pada tujuan lain. Contoh yang paling sederhana adalah maraknya pemakaian handphone oleh anak-anak muda (anak sekolah) kita sekarang. Percayalah bahwa pada umumnya mereka tidak sekedar menggunakan salah satu perangkat alat teknologi komunikasi itu sebagaimana fungsi dasarnya, seperti mengirim pesan singkat (short massage) atau untuk berbicara jarak jauh. Dipastikan mereka juga memanfaatkan fasilitas lain yang tersedia di sana, semisal fitur-fitur tambahan, baik sebagai bawaan pabrik maupun di-download belakangan. Dimana fitur-fitur itu cendrung berfungsi sebatas hiburan (intertainment), maupun permaianan (game). Sebagaimana umumnya, anak-anak kita itu justru bermain-main, dan beriseng-iseng pada ranah ini. Jenis-jenis hiburan semisal foto, gambar, simbol, lagu, dan film, mereka rekam atau terima dari temannya, lalu dinikmati dan kemudian disebarkan kembali antar sesama mereka. Dalam lingkaran aktivitas semacam inilah penyalahgunaan fungsi-fungsi itu mudah terjadi. Di sinilah cikal-bakal modus penyebaran pornografi menyebar luas di tengah-tengah generasi muda kita. Sebuah tontonan yang tidak mendidik, bahkan bisa merusak masa depan mereka.

Bimbingi Anak!

Sejatinya, sebelum sebuah perangkat teknologi semisal hanphone diizingunakan oleh orang tua kepada anak mereka, terlebih dahulu dijelaskan positif-negatifnya produk modern tersebut. Ironisnya, tidak semua orang tua memiliki kesempatan yang memadai untuk membimbing putra-putrinya dalam pemakaian handphone saja misalnya. Konon lagi berbagai perangkat teknologi multimedia lainnya yang saat ini bak jamur di musim hujan yang dengan mudah diperoleh di pasaran. Masalahnya, orang tua kurang sadar untuk mengambil peran maksimal, yaitu mengisi nilai-nilai pada lahan kosong yang ditinggalkan teknologi. Nilai-nilai seperti etika, moral, budaya dan ajaran agama yang akan memandu putra-putri mereka dari dampak miring saat piranti teknologi digunakan. Anak yang kurang mendapat perhatian yang cukup dari orang tuanya dalam mengontrol penggunaan fasilitas teknologi cendrung lebih mudah terjerumus pada penyimpangan moral dengan menyalahgunakan piranti tersebut. Karena itu, idealnya orang tua tidak terlalu permisif (serba boleh, serba bebas, serba mandiri) dengan membiarkan anak-anak mereka tumbuh dan berkembang tanpa bimbingan dan perhatian yang mencukupi dari orang tua. Mengontrol pergaulan anak-anak bukan berarti kita tidak percaya kepada mereka. Orang tua dapat memilih metode yang tepat dalam mendekati anak secara terbuka tanpa harus menjaga jarak tertentu. Kedekatan hubungan antara anak dan orang tua akan menumbuhkan rasa saling percaya. Di sela-sela kedekatan hubungan tersebut, orang tua dapat menyelip beberapa pesan atau nasehat seperti menjelaskan batasan pergaulan yang harus dihormati dan dijaga dengan tegas.

Petik hikmahnya

Dalam kasus Akmal misalnya, jika benar ponsel yang digunakan untuk merekam foto atau video dimana Akmal sedang tiduran dengan istrinya adalah ponsel yang dipegang oleh anaknya sendiri, maka alangkah permisifnya kelaurga Akmal membiarkan ponsel digunakan oleh anak di bawah umur. Dan yang lebih naïf lagi ponsel itu dibiarkan untuk merekam diri dan istrinya tanpa sempat berpikir lebih jauh akibat yang akan terjadi di kemudian hari sebagaimana merebak sekarang. Kamar tidur adalah ruang yang sangat privasi, apa yang terjadi di sana haram hukumnya diketahui apalagi dipublikasi ke ruang umum (khalayak ramai) yang tidak patut. Oleh sebab itu, harus hati-hati sekali bersahabat dengan teknologi. Karena di suatu saat teknologi dapat mengangkat martabat kita, namun di waktu yang lain teknologi bisa menistakan, dan membawa masalah bagi pemakainya. Kita prihatin apa yang dialami oleh keluarga Akmal Ibrahim yang hanya dikarenakan kelalaian bisa mengakibatkan masalah menjadi besar dan menyebar dan menggelinding ke mana-mana. Mari kita memetik i`tibar (pelajaran) berharga ini, sambil berharap agar kasus serupa tidak dialami oleh orang lain. Semoga!

Penulis adalah Pemerhati Masalah Etika Sosial dan Pengamat Media, berdomisili di

Saatnya menuntut ilmu ke negeri Taiwan

PENGANTAR: Arus mahasiswa asing yang belajar ke Taiwan begitu meningkat akhir-akhir ini. Taiwan, yang notabene masih serumpun dengan China, kini makin gencar memperlihatkan eksistensinya di bidang pendidikan tinggi. Karena itu banyak beasiswa ditawarkan untuk pelajar asing. Tentunya satu peluang baru putra-putri Indonesia, khususnya Aceh, untuk menimba ilmu di sana. Satu kabar gembira, baru-baru ini tim dari Unsyiah menandatangani sebuah MoU penting dengan institusi pendidikan tinggi di sana. Peluang bagi warga Aceh untuk studi lanjut tentu makin terbuka. Dr Mustanir Yahya, salah satu anggota delegasi, yang dikontak Kontributor Kontras Zulkarnain Jalil melalui jalur online, menuturkan kisah perjalanannya itu.

ööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööö

Pepatah lama yang berbunyi “tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina” tampaknya perlu diperbaharui menjadi “…hingga ke negeri Taiwan”. Setidaknya itulah yang tergambar dari kunjungan selama tiga hari delegasi Universitas Syiah Kuala ke Taiwan. Delegasi itu yakni, Prof. Dr Samsul Rizal (PR I), Prof. Dr. Darusman (PR IV) dan Dr Mustanir Yahya (Dekan FMIPA).

“Salah satu MoU yang berhasil ditandatangani adalah antara FMIPA Unsyiah dengan Computer Science National Tsin Hua University (NTU), salah satu universitas bergengsi di Taiwan. MoU ini sebenarnya merupakan upaya memformalkan kegiatan-kegiatan bersama NTU yang telah berlangsung selama 3 tahun ini. Ke depan, dengan adanya MoU, bidang kegiatan makin diperluas. Jadi akan ada pertukaran mahasiswa dan dosen untuk melakukan penelitian bersama. Mereka sangat serius dengan MoU ini. Tergambar dari harapan mereka adanya mahasiswa dan dosen untuk mengambil S2/S3 ke sana. Bahkan tim mereka sendiri sudah sempat mengunjungi kita beberapa bulan silam,“ tutur Mustanir panjang lebar.

Delegasi Unsyiah juga diundang oleh perguruan tinggi lainnya yakni National Chiao Tung University (NCTU). Mereka tampaknya juga tertarik untuk menjalin kerjasama. “Saat kami bertemu dengan pihak Rektorat mereka juga sangat ingin bekerjasama dengan kita. PR IV telah membicarakan detail bentuk-bentuk kerjasama itu. Bila konsep ini telah disetujui, maka segera akan dilakukan MoU sebagai payung untuk memudahkan kerjasama,“ imbuh Mustanir.

Mustanir sendiri akhir 2007 silam juga telah berkunjung ke Taiwan. Kala itu dia ditemani Prof. Dr Yuwaldi Away (kini Kadis Hubkomintel NAD). Dari dua kali kunjungan itu, dia mencatat setidaknya ada tiga hal penting yang patut dicermati.

“Pertama, Taiwan sedang "menunjukkan" eksistensi diri karena secara politis mereka ingin lebih unggul dari Cina daratan, sehingga ada peluang kita untuk masuk. Dan kualitas pendidikan mereka cukup bagus. Akademisi mereka bahkan ada yang sudah meraih hadiah Nobel,“ kata Mustanir.

“ Kedua, kolaborasi antara universitas di Taiwan dengan industri/pemerintahan sangat erat. Misalnya, Pemda Tsin Chu telah membangun Science Park (semacam silicon valley-nya Taiwan). Lokasinya pun harus antara NTHU dan NCTU. Oya saat kami berkunjung ke NCTU ada hadiah dari mereka berupa flashdisk yang merupakan karya alumni mereka di bidang IT,” ungkap Dekan FMIPA itu lagi.

“Hal ketiga, ini sangat penting ditiru, yakni penghargaan universitas untuk para pendahulunya luar biasa. Saat kami berkunjung ke NCTU, kami sempat berkunjung ke perpustakaan yang memiliki 8 lantai. Nah di dinding gedung ini kami lihat banyak dipajang foto-foto alumni-alumni mereka yang telah berhasil. Berdampingan dengan foto pimpinan terdahulu NCTU. Termasuk data-data alumni yang telah berhasil juga dipajang. Tentu ini memberi kebanggaan tersendiri, terlebih lagi akan jadi semacam motivator bagi mahasiswa yang sedang disitu untuk maju,” tukas Mustanir menyiratkan rasa kagum.

Kunjungan berikutnya adalah ke International Graduate Program Academia Sinica dan Institute of Information Science. Sewaktu di Academia Sinica ada beberapa hal yang menarik yang sempat dicatat delegasi.


“Ternyata di Academia Sinica, khususnya di Taiwan International Graduate Program, setiap tahunnya menyediakan banyak sekali beasiswa S2 dan S3 untuk mahasiswa asing. Sayangnya dari kita hanya sedikit. Mungkin karena tidak banyak yang tahu. Catat saja, dari 266 mahasiswa asing yang saat ini sedang sekolah di sana hanya ada 2 orang dari Indonesia . Yang banyak justru dari India, mereka ada 48 orang. Bagi peminat bisa mengakses informasi ini secara online. Silakan akses di www.tigp.sinica.edu.tw,” ungkap Mustanir.

Mustanir juga menyebutkan bahwa pihak Academia Sinica sangat menunggu mahasiswa dari Aceh. Setidaknya, kata Mustanir, saat ini ada sekitar 4 orang mahasiswa Aceh yang sedang mengambil program master disana.“ Ini bisa sebagai kontak person jika ada mahasiswa Aceh lain yang akan ke sana,“ lanjutnya.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Thursday, November 13, 2008

Amirah Bouraba, remaja Inggris yang masuk Islam di usia 15 tahun

PENGANTAR: Seperti umumnya berlaku, di usia 15 tahun biasanya para remaja mulai tertarik kepada lawan jenisnya. Lalu pacaran, jalan bareng dan aktifitas muda-mudi lainnya. “Aku tidak mau munafik. Jujur saja aku dulu juga salah satu dari mereka. Ya seperti muda-mudi umumnya, pokoknya happy. Tapi kini setelah mengenal Islam, aku musti berpikir lebih jauh lagi tentang hidup ini. Tentu hidup tak bisa terus seperti ini. Aku musti tahu apa tujuan hidup ini,” kisah Amirah Bouraba, remaja Inggris yang memeluk Islam tahun 2003 silam atau tepat di usianya yang masih belia, 15 tahun. Ketertarikannya kepada Islam disebabkan pertemanan dengan anak-anak Asia. Berikut kisah wanita yang saat ini menekuni kuliah Understanding Islam and Moslem di Oxford University, Inggris seperti diceritakannya di situs readingislam.com.
ööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööö

“Kala itu aku sedang duduk di tahun terakhir di sekolah menengah atas. Kawan-kawanku kebanyakan berdarah Asia, seperti India, Pakistan dan Bangladesh. Nah salah satu dari mereka adalah teman akrabku. Aku tak pernah tanya latar belakang agama mereka karena memang aku tak begitu peduli dengan latar belakang agama seseorang,” tulis Amirah di awal kisahnya.

Hingga satu hari, dia diberitahu oleh salah seorang rekannya bahwa teman Asianya itu memutuskan untuk mengenakan jilbab. Amirah luar biasa terkejut. Sebab dia tidak tahu gadis Asia itu ternyata seorang muslimah! Amirah mengaku luar biasa takjub. Islam, sebelumnya, praktis tak pernah ada dalam pikirannya.

Mulai tertarik Islam
“Tentu saja, mulai saat itu aku mulai tertarik dengan masalah ini. Aku tanya kenapa baru sekarang dia cerita dan kenapa musti pake jilbab. Pernah kawanku itu sampai mengeluarkan kata yang lumayan keras sebab aku banyak tanya. Tapi aku tak peduli, kendati dianggap pertanyaanku itu bodoh,“ tukas dia.

Kejadian itu telah membuka mata Amirah. “Ternyata ada orang yang menjalankan perintah agamanya dengan penuh keyakinan. Tak menghabiskan waktu untuk hal yang sia-sia dan mengisi hari-hari dengan hal yang bermanfaat. Seketika itu aku menuju ke komputer untuk mencari apa Islam,” kata Amirah yang mengenal Islam pertamakali melalui internet.

Namun dia tak serta merta mengatakan iya atas semua informasi yang didapat via internet. Dia juga baru tahu ada proses lain yang namanya syahadah bagi yang ingin memeluk Islam. “Saya butuh waktu beberapa lama untuk memutuskan syahadah ini,” kata dia.

Ada cerita menarik dikala dia mulai mencoba memahami syahadah. Satu hari ketika Amirah pergi belanja ada rombongan dakwah melintas di depannya. Diapun mendekat dan bicara dengan salah seorang dari mereka. Semua anggota rombongan itu pria.

“Pria itu lalu mengundangku ke rumahnya. Dia bermaksud mengenalkanku pada istrinya. Maksudnya, biar aku bisa bicara lebih bebas dengan sesama wanita, begitu kata dia. Aku setuju dan waktu untuk bertemu pun disepakati,“ kenangnya.

Prosesi syahadah
Persis di hari pertemuan itu Amirah mendapati dirinya sedikit gugup dan hatinya berdebar tak menentu. “Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku belum pernah bertemu dengan mereka sebelumnya. Dan persoalan yang hendak dibicarakan juga masalah sensitif menyangkut keyakinan. Dan yang buat aku nervous, bagaimana cara bicara dan apa yang musti dibicarakan. Lalu pakaian, apa aku juga musti berbusana seperti itu (berjilbab),” kenang Amirah.

Tapi ketika berjumpa semua ketakutannya sirna tak berbekas. “Wanita itu sangat ramah. Pas tiba dia menyambutku dengan hangat. Senyumnya mengembang, pancaran matanya sungguh menyejukkanku. Dia mengajakku ke ruang keluarga, menyuguhiku teh dan kami berbincang layaknya sudah kenal lama. Sungguh, tak bisa dipercaya,” kisahnya lagi.

“Setelah meneguk teh hangat hidangannya, dia lalu bertanya padaku apa pandanganku tentang Islam. Spontan aku menjawab bahwa aku sangat suka Islam. Wanita ramah ini lantas tersenyum. Jadi tidak ada yang perlu ditanyakan lagi kan? Begitu kata dia,” cerita Amirah. Saat mereka asyik berbincang, tak berapa lama datang suami si muslimah tersebut.

“Bagaimana, apa kita sudah siap?,” kata sang suami pada kami. “Aku bingung. Siap untuk apa?,” tanya Amirah dalam hati. Istri si pria itu lalu menoleh padanya. “Bagaimana, apa kamu sudah siap untuk bersyahadah sekarang,” tanya muslimah itu lembut. Pertanyaannya mengejutkan Amirah. Lantas dia berpikir beberapa saat. “Baiklah, ya saya sudah siap sekarang,” ujar Amirah mantap.

Lalu si suami mengambil sebuah buku. Rupanya itu adalah Alquran. “Saya akan bacakan beberapa ayat Alquran lalu nanti saya jelaskan artinya. Setelah itu baru kita lanjutkan dengan proses syahadah,” kata suami si muslimah itu.

“Wow, aku benar-benar gugup saat itu. Hati berdebar-berdebar hingga aku berkeringat. Tak lama, setelah lima menit aku mulai rilek dan tenang lagi. Saat itu dalam hati terbetik bahwa jalan yang kutempuh ini sudah benar. Ternyata proses syahadahnya singkat dan ringkas sekali. Tak berbelit-belit. Setelah itu aku langsung pulang dan mandi seperti diinstruksikan kedua pasangan muslim itu,” tutur Amirah takjub.

Setelah menjadi seorang muslimah, rasa khawatir mulai muncul dalam diri Amirah. Khawatir dengan keluarganya, teman-temannya, apa nanti kata mereka jika mereka tahu dia sudah masuk Islam. Perlahan dia singkirkan perasaan-perasaan itu. Dia pun mulai belajar shalat. Adapun jilbab dia belum berani mengenakannya.

“Aku tidak berani cerita sama kedua orangtuaku. Cuma rekanku yang beragama Islam yang aku kabari berita ini. Mereka sangat gembira mendengarnya, lalu memberiku hadiah dan mereka senantiasa membantuku dalam memahami Islam,” kisah Amirah.

“Kala itu aku juga mulai disibukkan dengan ujian akhir sekolah. Jadi waktuku habis buat belajar, karena ini ujian penentuan. Tapi di sela-sela belajar aku tetap menyempatkan untuk menekuni tatacara shalat melalui tuntunan beberapa buah buku,” imbuh Amirah lagi.

Keluarganya turut mendukung
Menariknya, ketika dia menceritakan pada keluarga tentang keislamannya, mereka terlihat tidak terkejut sama sekali. “Surprise! Rupanya mereka berpikir itu adalah satu fase yang akan hadir dalam hidupku, yakni memilih keyakinan menurut kemauan hatiku. Nah yang lebih membahagiakanku, mereka juga mendukungku tatkala aku mulai serius mengenakan jilbab. Alhamdulillah,” kenang Amirah perihal respon keluarganya.

Di awal-awal mengenakan jilbab, Amirah merasa begitu berat sekali. Apalagi jika melihat reaksi orang-orang sekitar. Namun dia menahan semua rasa tak enak itu. Dia buang semua kekhawatiran dan rasa takut yang berlebihan. Dia berdoa pada Allah agar diberi kekuatan.

“Awalnya memang berat sekali. Bukan hanya karena jilbab itu sendiri, tapi segala tingkah laku tentu musti berubah. Misalnya aku tak boleh lagi bebas dengan laki-laki bukan muhrim, menahan pandangan, tak bisa lagi pakai make up yang berlebihan dan mencolok, dan tentu saja tak boleh lagi nampak rambut kebanggaanku ini,” tutur Amirah.

Begitupun, seperti diakui Amirah, imannya belum begitu kuat. Kadang naik kadang turun. Begitu juga dengan jilbab, dia belum begitu istiqamah. Kadangkala dia masih buka jilbab juga. Namun itu tak berlangsung lama hingga dia ketemu seseorang yang mampu merubah kehidupannya.

“Ceritanya begini, setelah lulus SMA dengan nilai baik aku lalu kerja part time di sebuah rumah sakit di kotaku. Tentu saja aku juga meneruskan kuliah. Namun, ternyata untuk bisa melakukan dua kegiatan dalam waktu yang sama tidak gampang. Karena aku butuh uang akhirnya aku cuti kuliah,“ kisahnya lagi.

Ketemu calon suami di rumah sakit
Saat bekerja di rumah sakit itu dia tidak mengenakan jilbabnya. Satu hari ketika sedang berjalan di lorong rumah sakit tanpa sengaja dia bertubrukan dengan seseorang. “Saya malu, apalagi yang saya tubruk itu ternyata seorang laki-laki. Untungnya pria itu hanya tersenyum. Saya spontan minta maaf lalu pergi,” kata Amirah.

Amirah baru tahu ternyata pria itu juga bekerja di rumah sakit. Hingga saban hari mereka jadi sering ketemu. Amirah mengaku sangat malu jika bertemu dengan pria yang pernah bersenggolan dengannya itu. Setelah beberapa lama baru dia tahu pria itu seorang muslim.

“Sejak saat itu kalau jumpa kami selalu saling mengucapkan salam. Satu hari dia mengajakku keluar minum kopi. Aku begitu gugup dan takut kala itu. Tak tahu mau bilang apa. Aku menolak ajakannya. Namun dia mengatakan nanti ada orang lain juga bersama kami, jadi tak hanya berdua saja. Dia bilang, kalau berdua-duan syetan akan mudah masuk dan merayu. Aku langsung setuju mendengar ini,“ imbuhnya.

“Di warung kami banyak berdiskui tentang Islam. Dia banyak menyinggung tentang jilbab. Nah yang paling mengejutkan, dia tanya apakah aku mau jadi istrinya,” tutur Amirah mengingat kesan pertama diskusi dengan orang yang di kemudian hari jadi suaminya itu. Amirah tak memberi jawaban. Dia butuh waktu untuk berpikir.

Sore harinya, masih di hari yang sama, Amirah menerima panggilan telepon dari seseorang. “Ternyata pria di rumah sakit itu. Dia serius ingin melamar saya dan menanyakan apa aku siap. Entah bagaimana, spontan aku jawab iya,” ungkap Amirah.

Menikah
Begitulah, tanpa proses yang rumit akhirnya merekapun melangsungkan pernikahan. Amirah mengaku selepas menikah imannya makin mantap. Kepercayaan dirinya juga meningkat tajam.

“Suamiku itu sangat banyak membantu hingga aku bisa berjilbab secara istiqamah sampai hari ini. Allah telah mengirimku seorang yang sangat berarti dalam hidup ini, yang mampu menjaga keimananku. Alhamdulillah,” ujarnya bersyukur. Syukurnya lagi keluarga Amirah juga menyukai pria yang telah jadi suaminya itu karena akhlaknya yang baik.

“Islam telah merubah seluruh kehidupanku. Aku sangat bahagia hari ini. Karena aku bisa mengisi kehidupan ini dengan hal dan tujuan yang jelas. Namun masih banyak bukit yang musti kudaki. Jalan masih panjang. Banyak dari Islam yang belum kupelajari. Apalagi kini aku sudah punya momongan. Safia, putri tersayangku yang lahir 2007 silam, kini menemani hari-hari indah kami,” kata Amirah lagi.

Amirah, kini, di sela-sela mengasuh putrinya juga meneruskan kuliahnya di Oxford University menekuni bidang Understanding Islam and Muslim. Waktu luangnya juga diisi dengan menjadi guru di sekolah dasar islam. Dia juga ikut mengisi acara Islam di sebuah saluran televisi dalam program yang disebut “City Sisters”.

“Begitulah kesibukanku kini. Mengasuh anak, kerja dan kuliah. Malam hari adalah waktu bagiku untuk mendalami Islam. Internet sangat membantuku, karena bisa mengikuti kursus keislaman secara online,“ kata dia.

“ Mungkin kisahku ini tidak begitu menarik, tapi aku harap bisa menjadi pelajaran bagi lainnya yang punya situasi dan kondisi yang mungkin mirip. Semoga jadi inspirasi dan menambah kepercayaan diri bagi yang baru mengenal Islam,” harap Amirah menutup kisahnya. (Zulkarnain Jalil)

Thursday, October 30, 2008

Kita dilahirkan bukan untuk menjadi pembantu

Kalimat diatas ditulis Hasan Tiro dalam bukunya yang fenomenal "The Price of Freedom: The Unfinished Diary", yang dipublikasikan pertamakali tahun 1984. Kalimat itu secara khusus dikutip oleh Richard C. Paddock, seorang kolumnis harian Los Angeles Times edisi 30 June 2003. Paddock, dalam tulisannya, kagum dengan kemandirian pria yang dipanggil wali itu ketika berada di hutan belantara dengan akomodasi dan logistik yang terbatas. Padahal semua kemewahan hidup sudah dia dapatkan di New York.

“Kita harus hidup bebas merdeka atau tak perlu hidup sama sekali alias mati saja,” lanjut Hasan Tiro yang menjadi warganegara Swedia sejak 1985 itu. Buku tersebut berisi kisah hariannya ketika berada di Aceh dari 4 September 1976 hingga 29 Maret 1979.

Meninggalkan kehidupan glamour

Isi buku itu penuh dengan semangat hidup yang tak pernah pudar dari seorang Hasan tiro. Secara duniawi, dia sebenarnya sudah punya segala-galanya. “Saya punya istri cantik dan seorang bocah kecil yang sangat tampan,” tulis Hasan Tiro pada kata pengantar bukunya.

”Saya juga sedang memasuki tahap tersukses dalam bisnis. Saya punya kontak bisnis dengan para pengusaha dunia dan telah masuk dalam lingkaran pemerintahan dunia seperti di AS, Eropa, Timur Tengah, Afrika dan Asia Tenggara, kecuali Indonesia,” tandasnya. Kala itu Hasan Tiro sudah punya relasi bisnis dengan 50 pengusaha top Amerika yang bergerak di berbagai sektor seperti petrokimia, perkapalan, konstruksi, penerbangan, manufaktur dan industri pengolahan makanan.

Namun demi untuk "membebaskan Aceh dari penjajahan" dia rela meninggalkan keluarganya dan segala kemewahan hidup yang sedang dicicipinya. Hasan Tiro sendiri mengakui, hal yang sangat berat dalam hidupnya adalah ketika harus meninggalkan keluarga yang sangat dicintainya. Dia meninggalkan bocah laki-lakinya semata wayang, Karim, yang saat itu baru berusia enam tahun. Dia juga terpaksa membiarkan istrinya, Dora, kesepian di tengah keramaian New York.

“Bukan pekerjaan mudah meninggalkan kehidupan yang penuh glamour di Riverdale, New York lalu tinggal di hutan gelap di pedalaman Aceh untuk memimpin gerilya,” tulisnya. Namun ia memutuskan untuk melakukan apa yang dipercayainya sebagai tujuan dalam hidup ini yakni memimpin rakyat dan bangsanya menuju kemerdekaan.

“Itulah misi hidup saya. Saya akan merasa gagal jika tidak mampu mewujudkan hal ini. Harta dan kekuasaan bukanlah tujuan hidup saya. Bukan pula tujuan dari perjuangan ini. Saya sudah punya kedua-duanya. Saya hanya ingin rakyat Aceh makmur sejahtera dan bisa mengatur diri sendiri. Itu saja,” tulisnya pada bagian pengantar diari berbahasa Inggris itu.

Satu teladan lain yang pantas ditiru adalah, dia tak pernah menggunakan jabatan, demikian juga mitra bisnisnya untuk membantu terwujudnya cita-cita kemerdekaan itu. “Saya tak pernah mencampur aduk antara bisnis dan politik. Saya juga tak pernah meminta simpati, nasihat, ataupun dukungan mereka,” aku Hasan Tiro. Karenanya relasi bisnisnya itu tak ada yang tahu ternyata dia punya ambisi politik yang sangat hebat. Memerdekakan Aceh!.
Hidup atau mati syahid
Satu ketika, dikala pesawat sedang menderu di udara kala menuju ke Aceh, kala melongok ke bawah dia teringat akan mati. Ia takut mati? “Bukan, saya bukan takut kehilangan nyawa. Tapi takut jika nanti mati sementara saya belum melakukan sesuatu bagi tanah leluhur dan rakyat saya,” aku Hasan Tiro. Bukan main!
“Negeri kita adalah negerinya para syahid. Tak ada istilah takut mati atau menyerah. Kita akan terus berjuang untuk kemerdekaan Aceh hingga akhir. Dan, kita berdiri dengan penuh keyakinan karena Allah bersama kita. Hidup atau mati syahid!”
Senjata bukan segalanya
Di awal-awal meretas perjuangan, banyak pengikutnya yang menanyakan tentang senjata. “Kebanyakan dari mereka memikirkan senjata. Mana senjatanya, tanya mereka.Tanpa senjata kita sebaiknya jangan bicara tentang merdeka sama sekali! Begitu kata mereka. Dengan sabar saya jelaskan kepada mereka. Saya tahu, senjata sangat penting dan kita tidak bisa bergerak tanpa itu. Kita akan bahu membahu untuk mendapatkannya segera,” tulis Hasan Tiro.

“Tapi, ada yang lebih penting dari senjata, dan harus kita selesaikan dulu sebelum urusan senjata. Yakni persoalan status Aceh dalam hukum internasional, masalah identitas nasional, sejarah Aceh dan beberapa hal lainnya. Perkara-perkara ini bukanlah aktifitas militer tapi politik, budaya dan pendidikan. Ini semua lebih penting dipersiapkan daripada senjata. Jadi senjata bukanlah hal yang utama namun juga bukan hal terakhir. Saya sudah katakan ini berpuluh-puluh kali!,” tukas pria kelahiran desa Tanjong Bungong itu lagi.

Hasan Tiro menyebut dia menulis buku itu untuk mempersiapkan kematiannya yang bisa datang tiba-tiba. “Saya menulis buku ini dalam rangka mempersiapkan kematian syahid saya. Orang-orang tua kita terdahulu telah berkorban segala-galanya untuk mempertahankan marwah bangsa. Sekarang giliran kita untuk melakukannya. Jangan mundur sedikitpun,” tulisnya membangkitkan semangat.

Ya jangan mundur sejengkalpun. Kini saatnya membangun bagi kemakmuran rakyat Aceh di tengah nuansa damai yang makin terasa. Mari kita merdekakan Aceh dari kemiskinan dan kebodohan. Kita pasti bisa! (Zulkarnain Jalil)

000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000
Karim putra kesayangan
Kecintaan Hasan Tiro pada Karim, anak semata wayang buah kasih dengan Dora sangatlah kentara. Dia menulis secara khusus tentang Karim di dalam bukunya. Diceritakannya, Karim sering diajak bareng ke masjid. Misalnya untuk shalat Jumat. Hasan Tiro bermaksud untuk membuat anaknya itu mengerti perintah agama.

Karim, tulis Hasan Tiro, sangat dikagumi banyak orang. Misalnya kala di bawa ke gedung PBB tempatnya bekerja atau ke KBRI, banyak orang yang mendekati bocah itu, mengusap pipinya yang lucu atau mengelus-ngelus kepalanya. Hasan Tiro mengaku, jika bersama Karim, dia merasa dirinya seperti mendampingi orang penting. Bukan main.

Ayesha tertarik Islam karena jilbab


Hidup ini merupakan perjalanan dan kematian bagian dari perjalanan itu sendiri(Ayesha Islam, 2005).


PENGANTAR. Namanya Ayesha Islam. Dia dilahirkan di Polandia, tapi besar di Denmark dan Swedia. Jadi, bisa dikatakan telah mengenal dunia internasional sejak kecil. Perjalanannya menuju Islam dimulai tahun 1995 saat masih di Swedia. Di sanalah Ayesha berjumpa dengan muslim asal Lebanon. Meskipun mereka itu tidak begitu agamis, bahkan mereka tak pernah menceritakan pada Ayesha apa itu Islam, namun mereka cukup punya kesan mendalam dalam perjalanannya menuju Islam. “Karena dengan merekalah saya pertamakali berada dalam lingkungan muslim,” kata dia seperti ditulisnya di situs readingislam.com. Dalam sebuah parade di AS dia berpapasan dengan beberapa wanita berjilbab yang juga ikut menonton pawai tersebut. Itulah awal dari semuanya. Selepas pertemuan itu Ayesha rajin mengikuti pengajian dan akhirnya bersyahadah. Berikut kisah lengkapnya.


;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;

“Untuk beberapa alasan saya selalu merasa bisa menjadi diri sendiri kala berkumpul dengan orang-orang Islam kendati pada saat yang sama saya dianggap asing oleh warga di sekitar tempat tinggal. Begitupun saya berupaya untuk tetap mengikuti gaya hidup mereka, meskipun sebenarnya saya sendiri tidak suka. Misalnya, saya tidak pernah mengenakan pakaian ketat, tidak suka pakai make up, atau ikut-ikutan ke bar, minum-minuman keras. Sejak kecil saya hanya punya keinginan jika sudah besar ingin berkeluarga, lalu memiliki anak dan hidup tentram bahagia dalam kesederhanaan. Hanya itu. Simpel saja,” tutur Ayesha tentang gaya hidupnya.


Namun ketika memasuki usia 18 tahun, tiba-tiba dia punya keinginan jadi psikolog. Karena cita-cita itu pula Ayesha terbang ke AS, untuk ketigakalinya, di tahun 2001. Disana dia belajar ilmu kesehatan mental dan psikologi kriminal. Satu hari dia berada di tengah-tengah kota Manhattan, tepatnya di sekitar America Avenue.


“Saat itu saya sedang dalam perjalanan ke gereja Swedia untuk mengikuti satu pelajaran. Untuk mencapai gereja itu biasanya saya jalan kaki dari 5th Avenue ke 48th Street. Tapi hari itu, tepatnya 19 Juni 2005, saya putuskan untuk melintasi kawasan America Avenue untuk menikmati suasana keramaian yang sedang digelar disitu,” kenangnya.


“Ternyata sedang ada parade atau pawai internasional disana. Saya berpapasan dengan beberapa wanita berjilbab yang juga ikut nonton. Serta merta saya dekati mereka seraya mengatakan saya tertarik belaar Islam. Itulah awal dari semuanya. Selepas pertemuan itu Ayesha rajin mengikuti pengajian dengan beberapa muslim Yaman,” kata Ayesha lagi.

Ayesha mulai mengumpulkan buku-buku Islam dan juga mengenakan jilbab. Jilbab, ketika itu hanya dia pakai ketika berada di kereta bawah tanah. “Seorang muslim asal Maroko menghadiahi saya film “The Message” yang berkisah tentang perjuangan Rasulullah SAW. Film ini sangat mempengaruhi kehidupan saya,” sebut Ayesha. Dia bahkan mulai mencoba ikut puasa selama Ramadhan.

Muslimah Maroko itu juga menerangkan tentang ucapan khusus kala seseorang mau masuk Islam. Ayesha bahkan mulai “mendakwahi” orang-orang terdekat kendati belum bersyahadah. “Saya bilang pada orang-orang, sekali Anda mengetuk pintu Islam, maka Anda pasti tak ingin keluar lagi karena agama ini punya ideology dan cara hidup yang begitu indah,” tukasnya.


“Saya benar-benar butuh perubahan identitas yang drastis. Saya bahkan mengubah sendiri nama menjadi Laila di saat merayakan ultah ke-30. Di usia itu pula saya menerima Islam dan menjadi seorang muslim,” kenang Ayesha lagi yang bersyahadah pertengahan 2005 silam.

Teman-teman dan anggota keluarganya sangat ingin mendengar tentang perubahan yang muncul dari dirinya. Tapi di saat Ayesha mulai bercerita tentang Islam, mereka pada menyingkir pergi dan tak mau lagi mendengarkan apa itu Islam. “Tak apa-apa, mereka tak mau dengar. Justru saya jadi ingin tahu hingga mencari-cari kira-kira cerita apa yang mereka suka dari Islam,” kenang Ayesha.s


“Lucu sebenarnya, padahal tak ada yang berubah dari saya. Saya masih orang yang sama dan pribadi juga tak berubah. Saya masih menyintai siapa saja. Saya masih suka berbagi pengalaman dengan kalangan mana saja tanpa membeda-bedakan status. Begitu juga sekarang, saya merasakan nikmatnya Islam. Karena itu saya musti ceritakan juga kepada orang lain. Berbagi makanan yang nikmat bagi jiwa. Persis seperti kita sharing info tentang makanan enak di suatu restoran ataupun buku bagus bagi rekan sejawat dan keluarga kita. Simpel kan,” terang Ayesha lagi.

Ayesha sejak lama suka berkirim email dengan teman-temannya. Hingga mereka itu persis seperti saudara sendiri. Tapi kemudian mereka seperti menjaga jarak. “Mereka menjauhi saya karena takut tersentuh “makanan” yang nikmat ini. Dengan kata lain, mereka tak percaya dengan pilihan hidup saya yang baru itu,” kisah dia.


Adapun anggota keluarganya juga mulai jengah dengan keislamannya itu. “Ibu pun sangat peduli dengan apa yang dikatakan orang lain. Saya dikatakan jelek dan berjalan terlalu jauh. Tapi jika saya ngambek dan menyembunyikan diri di kamar, dia masih masih mau mendengar tentang Islam. Namun anggota keluarga yang lain merasa malu karena keislaman saya,” kata Ayesha.


Pola pikir Ayesha makin hari makin berubah. Dia mulai realistis dengan hidup, makin peduli dan respek terhadap sesama, menerima dirinya sendiri sebagai bagian dari masyarakat banyak, tidak egois dan perubahan-perubahan positif lainnya.

Dia berupaya dekat dengan Allah dan mengkondisikan dirinya seolah-olah senantiasa diawasi oleh-Nya. “Ini sangat membantu saya untuk selalu berperilaku baik dan ingat dengan tujuan hidup sebenarnya,” aku dia.

Dulu saya paling sulit dan gengsi mengatakan "tidak", tapi sekarang saya berani bilang "tidak" jika saya tidak bisa mengerjakan sesuatu hal. Jujur pada diri sendiri, itulah yang saya peroleh dalam Islam. Dengan begitu kita akan makin kenal dengan diri kita sendiri. Kita akan makin respek, baik kepada diri sendiri maupun orang lain.

Lebih dari itu, Islam membuat saya kembali “hidup” di dunia ini, persis baru pertama dilahirkan,” terangnya lagi.

Sejujurnya, saya dulu tak merasakan kenikmatan dalam hidup. Saya, semasih kecil, merasa asing di dunia ini. Sebabnya, saya lahir di luar nikah. Orang tua saya menyebut, kehadiran saya di luar perencanaan. Hingga saat ini saya tak punya seseorang yang bisa dipanggil sebagai ayah,” tandasnya.


Tapi kini saya tahu itu bukan sebuah hal yang patut disesali. Allah adalah Maha Pencipta. Allah Maha tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Bukanlah kesalahan Allah hingga melahirkan saya dengan cara seperti itu. Hingga saya tak punya ayah biologi. Hingga saya terlahir dari orantua non-muslim. Allah maha bijaksana,” katanya penuh keikhlasan.

Kini Ayesha merasa enjoy dengan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya. Kemanapun dia pergi, tak ada rasa takut dan malu. “Saya kini merasa bebas seperti burung yang bebas terbang tanpa ada rasa takut jatuh. Begitu pula saya dengan pakaian ini. Saya juga rasakan kenikmatan ketika shalat,” ungkap Ayesha yang kembali menekuni studinya di bidang psikologi dengan tetap berjilbab.


Dia bahkan mengaku tak ragu jika satu ketika musti kehilangan rumah tempat tinggalnya alias diusir dari rumahnya sendiri. “Islam membuat saya makin kuat,” kata Ayesha yang mulai fokus dengan studi dan berharap bisa menikah segera serta memilih bekerja sebagai seorang ibu rumah tangga. Wallahu alam bisshawab. (Zulkarnain Jalil)


Friday, October 10, 2008

Idul Fitri di Eropa:

Tari Saman turut meriahkan suasana lebaran

PENGANTAR. Idul Fitri atau lebaran sejatinya adalah hari berkumpul dengan sanak keluarga, karib kerabat dan tetangga. Saling memaafkan, mengucap syukur kepada Allah dengan hadiah di hari kemenangan nan fitri. Namun banyak pula yang kurang beruntung, terutama yang berada jauh diperantauan. Bagaimana mereka merayakan Idul Fitri? Berikut kesan-kesan Idul Fitri beberapa warga Aceh yang tinggal di Eropa yang dikirim via e-mail dan dirangkum oleh Kontributor Kontras, Zulkarnain Jalil.

Jerman

“Acara Idul Fitri di Berlin berlangsung meriah pada tanggal 1 Oktober di aula KBRI dan dihadiri lebih kurang 300 jamaah. Shalat Ied dipimpin oleh Ust. Saiful Bahri yang diundang khusus dari Mesir untuk mengisi Ramadhan dan Idul Fitri di Berlin, cerita Muzli, mahasiswa asal Aceh yang tinggal di sana sejak 2006. Dikatakannya, puluhan anak anak TPA (Taman Pendidikan Alquran) Masjid Al-Falah, satu-satunya mesjid yang dikelola muslim Indonesia di Berlin, mendapatkan bingkisan lebaran berisikan permen, buah, minuman dan juga mainan. Hal itu dimaksudkan untuk menumbuhkan kecintaan dan semangat anak-anak dalam merayakan hari besar Islam. Sebab, di sekolah mereka selalu mendapat bingkisan kala perayaan Natal. “Ini patut dicermati terutama yang tinggal di negara-negara nonmuslim,” kata dia lagi.

”Acara selanjutnya yang paling dinanti-nantikan tentu saja makan bersama. Apalagi buat mahasiswa yang jauh dari keluarga he he . Berbagai hidangan istimewa tersedia, dari gule kambing, sate hingga singkong rebus,” sebut Muzli.

Yang sangat berkesan, masih menurut Muzli, pada 3 Oktober 2008 bertepatan dengan lebaran ke-3, ada kegiatan tahunan yakni "Tag der offenen Moscheen" atau Hari Mesjid. Pada hari tersebut semua mesjid di Jerman dibuka untuk kalangan nonmuslim. Program yang pelopori oleh Pusat Islam di Jerman (ZMD) ini telah berlangsung beberapa tahun dan terbilang sukses menarik pengunjung dari orang-orang non muslim di Jerman untuk mengunjungi masjid-masjid dan mengenal Islam dan kaum muslimin lebih jauh. Juga untuk menunjukkan semangat kaum muslimin yang tinggal di Jerman sebagai bagian dari masyarakat Jerman.

Sementara itu di kota Muenchen kebanyakan warga muslim disana merayakan Idul Fitri pada hari Selasa tanggal 30 September. Susi Andriani, salah seorang warga Aceh yang telah delapan tahun bermukim di sana, menceritakan kegiatan shalat Id di ibukota Negara bagian Bavaria itu dipusatkan di Kulturzentrum. “Jamaahnya tak hanya dari Muenchen saja, ada yang datang dari luar kota seperti Ingolstadt, Regensburg, dan kota-kota terdekat lainnya,” sebut Susi yang bekerja sebagai staf peneliti di Siemens Communications, Jerman.

”Buat kami terasa istimewa, sebab kali ini giliran adik saya yang tinggal di Belanda datang bersama keluarganya untuk berlebaran bersama-sama. Dan, paling istimewa lagi, kali ini ibunda tercinta datang dari Aceh berlebaran bersama. Naah, tentu saja menu lebaran disamakan dengan menu lebaran keluarga kami di Aceh. Lontong, timphan, pulut. Pokoknya ndak kalah deh dengan yang di Aceh he he,” imbuh ibu dua anak itu lagi.

Lebaran di Muenchen saban tahun memang selalu meriah. “Tak hanya acara silaturrahim, tapi ada hiburan juga seperti acara menyanyi, tari-tarian, pembacaan puisi, dan beberapa hiburan lainnya. Istimewanya sejak ada TPA di Muenchen, kegiatan lebaran tahun ini diisi oleh santri TPA plus guru-guru TPA dan pengajian Muenchen,” kata Eko Faridianto, Direktur TPA kota Muenchen. Eko yang juga warga asli Aceh, menyebut beberapa acara yang turut dimeriahkan oleh santri TPA, seperti operet TPA berisi cerita suasana belajar mengaji dengan sistem qiroati di TPA Muenchen. Iringan lagu-lagu bernuansa Islami makin memeriahkan suasana.

“Kali ini ada 2 persembahan khas dari Aceh yaitu Saman anak-anak oleh santri dan Saman dewasa oleh guru-guru TPA plus para mahasiswa,” kata Susi yang bertindak sebagai pelatih sekaligus syech Saman.

“Alhamdulillah, sambutannya yang sangat meriah dan mendapat applaus yang luar biasa dan para penonton sampai ada yang teriak-teriak Zugabe ... Zugabe... alias tambah lagi tamboh lagi he he.” sebut Susi sumringah.

“Yang bikin saya terharu, ada seorang ibu datang menghampiri saya dan langsung memeluk serta mencium saya. Rupanya ibu itu juga berasal dari Aceh. Si ibu mengaku senang dan terharu karena mendapat siraman suasana Aceh,” kenang Susi.

Pada acara game, para penonton tak mampu menahan tawanya, dimana setiap anak diminta untuk menggambar wajah ayahnya sesuka hati mereka. “Nah lucunya anak-anak menggambar wajah ayahnya dengan tema yang berbeda-beda. Ada yang berupa monster pakai kacamata, ada indianer, ada dalam bentuk harimau mengaum dan gambar-gambar lucu lainnya. Pokoknya meriah.dan jadi kenangan tersendiri terutama bagi yang berada jauh dari kampung halaman,” kata Susi.

”Dan diakhir acara anak-anak diberi bingkisan lebaran. Ini sudah berlangsung saban tahun. Initiatif pemberian bingkisan buat anak-anak ini datang dari ibu Dwi Saad, yang walaupun dalam keadaan hamil tetapi bisa menggerakkan ibu-ibu lainnya untuk aktif berpartisipasi. Ibu Dwi ini dibantu suaminnya yang asal Pakistan,” kata perempuan asal Aceh Barat itu menutup keterangannya.


Belanda

Umat Islam di Belanda merayakan Idul Fitri mayoritas pada tanggal 30 September. “Di tempat saya tinggal, kota Enschede, seperti halnya di kota-kota lain di Belanda, pada umumnya dilaksanakan pada hari selasa 30 September 2008. Penetapan 1 Syawal 1429H ditetapkan oleh dewan mesjid dan juga mengacu kepada keputusan kerajaan Arab Saudi.

Di Enschede dan sekitanya ribuan ummat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1429H di mesjid-mesjid Turki dan mesjid Maroko. Mesjid-mesjid tersebut mencerminkan mayoritas ummat muslim yang tinggal di Enschede yang berasal dari Turki dan Maroko,” kata Nasrullah Zaini, mahasiswa Aceh yang tinggal di kota Enschede, Belanda.

Dikatakannya, umumnya para pelajar Indonesia yang sedang menuntut ilmu disini, demikian juga warga Indonesia yang menetap di Enschede atau di daerah perbatasan Jerman seperti Gronau dan Ahaus melaksanakan shalat Idul Fitri di mesjid Maroko. Karena mesjid tersebut merupakan mesjid terbesar di Enschede yang dapat menampung seribuan lebih jamaah.

Di Mesjid Maroko itu, sebut Nasrullah, yang menjadi khatib dan imam shalat Id adalah Prof. Dr. Ahmad Id, guru besar ilmu syariah dan hafiz dari Universitas Al-Azhar, Mesir, yang diundang khusus oleh dewan mesjid Maroko untuk menjadi imam shalat fardhu dan tarawih serta penceramah selama bulan Ramadhan.

“Ribuan jamaah yang berasal dari berbagai negara dan muslim Belanda asli sudah memenuhi mesjid sejak pukul 08:00 pagi kendati shalat baru dimulai pukul 9. Bahkan tidak sedikit dari para jamaah tidak kebagian tempat di ruang utama mesjid. Sehingga ruang seminar dan kelas belajar juga digunakan sebagai tempat shalat. Seperti di ketahui keadaan di luar mesjid sudah mulai dingin dan gerimis dengan masuknya musim gugur dimana suhu terendahnya mencapai 3oC,” imbuh pria asal Sawang itu lagi.

Menurut pantauan Nasrullah, suasana hari raya Idul Fitri di Enschede dan sekitarnya tidak jauh berbeda seperti hari-hari biasa karena tidak ada hari liburnya bagi pelajar dan pekerja serta gema takbirpun tidak terdengar dimana-mana. Setelah khatib selesai menyampaikan khutbahnya, seterusnya para jamaah beramah tamah, bermaaf-maafan sembari mencicipi minuman dan makanan yang disediakan oleh pengurus mesjid. Karena tidak ada libur atau tanggal merah, mahasiswa kembali ke kampus dan pekerja masuk kantor.

Di Belanda, tak hanya idul Fitri yang meriah, Ramadhan pun cukup semarak. Mesjid selalu ramai. Warga Belanda sudah mahfum dengan Ramadhan karena intensitas hubungan mereka dengan kaum muslim yang cukup besar. Mungkin hanya kelompok partai ekstrim saja yang tidak suka dengan Islam.

Denmark

Mukarram, seorang warga Aceh yang tinggal di Denmark sempat diwawancarai Radio Netherland seputar kesannya berlebaran di negeri Skandinavia itu. “Terasa sekali, apalagi orang Aceh tinggalnya berjauhan. Di kota saya, yang berjarak tiga jam perjalanan dari ibukota denmarik Kopenhagen, hanya ada beberapa orang Aceh. Untuk bisa bertemu dengan orang Aceh lain, saya harus naik mobil sekitar satu jam perjalanan. Di sini, di Denmark kalau kita datang ke rumah teman-teman terasa bagaikan kita sudah berkumpul dengan sanak saudara di sana,” terang Mukarram yang merayakan lebaran untuk ketiga kalinya di Denmark.

Dia juga mengungkapkan masalah makanan awalnya jadi sebuah kendala ketika mula pertama datang ke Denmark. “Kini tak masalah lagi. Jika tidak ada di sini, misalnya di toko-toko Asia, kita pesan khusus dari Aceh. Tapi secara umum kita dengan mudah bisa peroleh kebutuhan harian di toko Asia,” tukas pria yang mendapat suaka sejak Februari 2005 itu lagi.

Inggris

Di Inggris, seperti diliput Islamonline, nuansa multikultur justru sangat terasa. Di London Timur misalnya, di tempat berdiamnya komunitas Pakistan itu nuansa Punjabi sangat terasa. Perempuan berkain sari hilir mudik di sana. Lain lagi di London bagian Utara, disini nuansa Arab yang terasa. Sepanjang jalan Edgware Road misalnya, wanita muslimah memakai abaya baru mereka demikian juga jubah bagi kaum lelakinya. Nuansa Id dengan suasana multikultur itu terasa sekali di kota London.

Masih di Londin utara, kelompok muslim Turki yang ada disana pun turut memeriahkan lebaran dengan masakan tradisional khas idul fitri mereka yakni Hazer Baba yang sangat terkenal itu. Inggris merupakan rumah bagi dua juta muslim multi etnis berbagai suku bangsa, kebanyakan berlatar Pakistan, Bangladesh dan India.

Begitulah sekelumit kisah dari saudara-saudara kita yang terpaksa melewati semaraknya Idul Fitri di negeri orang. Adapun Ramadhan, bulan mulia itu telah pergi dan meninggalkan kesedihan yang sangat mendalam bagi hamba-hamba-Nya yang merindukan kedatangannya dan mengisi hari dan malamnya dengan penuh ikhlas dan khusyuk.

Tuesday, September 30, 2008

Islam makin diminati di Spanyol

Ribuan warga Spanyol, umumnya kalangan terpelajar seperti intelektual, akademisi, hingga aktifis, dikabarkan makin banyak yang tertarik dengan Islam. Umumnya mereka masuk Islam setelah menjalani masa pencarian spiritual yang panjang. Mereka mengaku mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian dalam Islam.

"Walau media barat kerap memojokkan Islam, arus masuk Islam begitu meningkat akhir-akhir ini," kata Abdul-Nour Barado, Direktur Islamic Society of Catalonia, Spanyol seperti diberitakan IslamOnline.net (25/9). Barado mengambil contoh pertumbuhan muallaf baru di Propinsi Catalonia , yang diprediksi berkisar antara 3000 hingga 4000 jiwa per tahunnya. "Jumlah itu malah bisa lebih besar lagi," imbuh Barado.

Catatan sejarah menyebutkan warga Catalonia pertamakali masuk Islam adalah pada kisaran 1960-an. Jumlah mereka waktu itu masih sedikit. Tapi kini ribuan warga Catalonia dipercaya telah banyak yang memeluk Islam.

Catalonia merupakan salah satu propinsi kaya di Spanyol. Kawasannya meliputi 31,950 km² dan jumlah populasi 6.3 juta jiwa. Ibukota propinsi, yakni Barcelona , merupakan sebuah kota yang terkenal ke seantero dunia. Disamping karena keindahannya, juga karena klub sepakbola disana yaitu FC. Barcelona . Warga kotanya sendiri dikenal memang gila bola. Imigran muslim disini diprediksi sekitar 100 ribu jiwa yang mayoritas berasal dari Moroko. Mereka memilih tinggal di Catalonia barangkali karena kondisi geografinya yang mirip seperti di Maroko.

Kawasan utara

Beralih ke kawasan utara Spanyol, tepatnya di Provinsi Palencia . Disana dikabarkan arus masuk Islam juga begitu meningkat akhir-akhir ini. "Sedikitnya ada 4000 warga Palencia yang masuk Islam tahun-tahun terakhir ini," tukas Saed Al-Ruttabi, Ketua Islamic Council Provinsi Palencia.

Ruttabi menyebutkan kebanyakan warga Spanyol yang masuk Islam adalah mereka-mereka yang telah menjalani masa pencarian rohani yang panjang. “Akhirnya mereka menemukan kedamaian ada dalam Islam,” sebut Ruttabi.

Ruttabi menyebut kelompok muallaf baru tersebut kebanyakan adalah mereka-mereka yang selama ini salah dalam memandang Islam. Apa yang dikatakan Ruttabi ada benarnya. Buktinya, dari 150 ribu muslim di Palencia, hanya 90,000 yang berlatar belakang imigran. Sisanya muallaf asli Spanyol. "Tren ini muncul tidak hanya di Spanyol, tapi juga di seluruh Eropa dan Amerika," sebut Ruttabi lagi.

Sejarah panjang

Spanyol memiliki sejarah panjang Islam yang kuat. Islam dipercaya masuk kesana pada 27 Ramadhan tahun 92 H, saat mana pasukan Islam yang dipimpin oleh Thariq bin Ziyad berhasil memasuki Andalusia . Di negeri ini pula banyak muncul ilmuwan-ilmuwan muslim ternama yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan menjadi rujukan masyarakat Eropa kala itu.

Sebutlah salah satunya Ibnu Firnas, yang oleh Barat kini diyakini sebagai peletak konsep dasar pembuatan pesawat terbang. Kini, dengan malu-malu ilmuwan Barat mulai mengakui keunggulan Islam.

Misalnya, mahasiswa teknologi dirgantara di University of Houston, Amerika Serikat, sejak September 2000 mulai diperkenalkan dengan sejarah penerbangan.yang telah dirintis pertamakali oleh Firnas. Bahkan Richard P Hallion, salah satu pakar kedirgantaraan AS, dalam sebuah kesempatan menyatakan dunia penerbangan tak boleh melupakan pencapaian seorang Ibnu Firnas.

Begitulah, setelah kejatuhan Islam semua seolah tinggal kenangan saja. Umat Islam di sana kini bak tamu di negeri sendiri. Begitupun saat ini Islam mulai meretas kembali masa-masa jaya kehidupan di Spanyol. Catatan resmi menyebutkan jumlah penduduk muslim di Spanyol saat ini ada sekitar 1,5 juta dari total populasi sebesar 40 juta jiwa. Islam merupakan agama kedua terbesar di sana setelah Kristen. Pada Juli 1967 Islam diterima sebagai salah satu agama yang diakui negara. (Zulkarnain Jalil)

Sunday, September 28, 2008

Pecatur Jeman itu Ternyata Putra Aceh

“Lon asli dari Banda Aceh Bang,”ujar Teuku Edward kala dijumpai Mei lalu di kediamannya di kawasan Hauptbahnhof, Muenchen, Jerman. Edo, panggilannya, Oktober 2007 silam menorehkan sebuah prestasi mentereng di olahraga catur. Dia merebut juara pertama kejuaraan catur internasional bertajuk Offenes Internationales Schachturnier (OIS). Menariknya dia bukannya mewakili Indonesia, malah tim catur Jerman. Lho kok?

Ya Edo merupakan pecatur inti yang memperkuat tim Technical University of Muenchen (TU-Muenchen) di OIS saat itu. “Pertama kali saya ikut tahun 2005, dapat juara ke-3. Tahun 2006 ikut lagi, juara ke-2,” kenang mahasiswa program master teknik otomatisasi di TU-Muenchen itu.

Seperti diakui mantan peraih medali emas Kejurda Catur se-Aceh 1995 itu, final OIS 2006 sangatlah dramatis. Pasalnya, dia menyerah dari pecatur Cina justru di detik-detik akhir yang membuatnya penasaran. Akhirnya Edo merengkuh prestasi puncak di tahun berikutnya dengan merebut gelar juara I OIS 2007.

Prestasinya itu tidak saja menjadi kebanggaan kota Muenchen, tapi masyarakat Indonesia di sana juga turut senang. “Tentu saja, kami pun turut gembira ada putra Indonesia mewakili tim Jerman dan juara lagi,” ungkap Wiwit Suryanto, salah seorang warga Indonesia asal Jogja yang tinggal di Muenchen.

OIS merupakan salah satu kejuaraan bergengsi dan sudah masuk kalendar tetap kejuaraan catur di Muenchen. Sedikitnya ada 80 pecatur dari berbagai negara mengikuti kejuaraan yang berlangsung setiap bulan Oktober itu.

Asosiasi Catur Muenchen (BVM) sendiri, tempat Edo bernaung, adalah bagian dari persatuan catur Jerman (DSB). “Di BVM ada sekitar 2100 pecatur dan tersebar di 47 klub. Jika diamati, sistem kompetisi di Jerman persis seperti di ajang sepakbola. Kompetisinya dari divisi 1 (Bundesliga) hingga paling buncit yakni divisi 5 (Bezirkliga). Makanya mereka tak pernah kekurangan pecatur, karena kompetisi lancar,” kata atlet Aceh pada Kejurnas Catur 1995 di Palangkaraya itu lagi.

Segudang prestasi
Pemuda kelahiran Banda Aceh 10 Oktober 1976 itu ternyata tak hanya pintar di meja catur. Di bangku sekolah pun prestasinya mencorong. Catat saja, juara catur ITB tahun 2000 itu pernah dinobatkan sebagai siswa teladan tingkat SMP se-Aceh tahun 1990 yang mengantarkannya ke Istana Negara untuk bertemu dengan Presiden RI.

Edo juga pernah meraih medali emas pada lomba sains di Missouri’s State Science Knowledge Bowl 1993yang dihelat di Kansas University, AS. Saat itu dia mengikuti ajang American Field Service (AFS). Di kejuaraan lain yakni Missouri State Science Olympiad, masih di tahun yang sama, Edo juga merebut emas di bidang elektronik dan perunggu di fisika. Bukan main. Masih ada lagi, pemuda murah senyum ini juga pemegang medali perak pada Internasional Mathematics Olympiad (IMO) tahun 1992.

Putra dari pasangan Teuku Mahyuddin dan Saida Afrida ini memang berotak encer. Tahun 1995, Edo mampu menembus ketatnya persaingan untuk masuk Jurusan Teknik Elektro ITB. Lulus dari ITB tahun 2000, dia sempat bekerja. Namun meja kuliah memanggilnya. Dia pun terbang ke Jerman untuk mengambil master bidang Sistem Otomatisasi pada TU-München.. Saat ini, pemuda yang juga anggota Persatuan Insinyur Elektro Jerman (VDE) itu sedang menyusun tesis masternya. “Satu saat saya akan kembali ke Aceh, mengabdi di gampong,” pungkasnya sembari menutup perbincangan. Ditunggu, Bung Edo!
.Zulkarnain Jalil

Semarak buka bersama di Bulgaria

Ada kebiasaan menarik dilakukan muslim Bulgaria selama bulan Ramadhan ini. Biasanya acara buka bersama di mesjid selalu didominasi oleh kaum lelaki. Seperti diberitakan situs IslamOnline.net, mereka menciptakan sebuah suasana baru dimana seluruh anggota keluarga ikut serta pada saat buka bareng. Dari bapak, ibu hingga anak-anak pun turut serta. Nuansa buka bersama pun terlihat begitu semarak. Betapa tidak, mereka berkumpul bak sebuah keluarga besar saja layaknya.

Misalnya di kota Chepintsi, saban hari setiap keluarga muslim disana memasak untuk acara berbuka bagi seluruh komunitas muslim di kota yang terletak di selatan Bulgaria itu. Menjelang sore terlihat ratusan warga muslim memadati mesjid setempat dimana acara buka bersama diadakan. Suasana kebersamaan begitu terasa.

"Ini merupakan Ramadan yang sangat berkesan bagi kami," kata Mustafa Haci, Mufti besar Bulgaria. "Setiap keluarga memberikan layanan terbaik mereka dengan menyiapkan aneka menu berbuka sesuai kemampuan masing-masing," imbuh Mustafa.

Sebagian besar keluarga secara sukarela mengeluarkan biaya mandiri bagi acara berbuka itu. Namun adakalanya The Fatwa House (semacam MUI-red) turut membantu sebagian pengeluaran tersebut. "Ya kadangkala kami menyediakan bantuan juga untuk hidangan berbuka. Baik dari dana The Fatwa House (TFH) ataupun dari donasi masyarakat Islam di luar negeri," kata Haci. Seperti umat Islam lainnya di seluruh dunia, umat Islam di Bulgaria juga memulai puasa Ramadhan tahun ini pada 1 September.

Hidup harmonis

Kegiatan buka bareng semacam itu ternyata tidak hanya diadakan oleh masyarakat yang berada di kawasan dengan populasi mayoritas muslim. Kota-kota dengan jumlah muslim yang sedikit pun tak mau ketinggalan.

"Keluarga muslim yang tinggal di kota-kota kecil bahkan ada yang mengundang kerabat terdekat, teman atau tetangganya yang nonmuslim untuk ikut serta dalam acara berbuka," tutur Sami Fazliiski, seorang mahasiswa yang tinggal di kota Rudozem, kepada IslamOnline. "Ini pertanda atau sinyal harmonisme sosial dari muslim Bulgaria, terutama selama bulan puasa," tambah Fazliiski lagi.

Umumnya pihak tuan rumah mengundang tetamunya itu pada sore hari atau menjelang maghrib. Fazliiski juga menceritakan, sambil menunggu waktu berbuka tiba, mereka duduk-duduk sembari ngobrol santai seputar kegiatan-kegiatan rutin umat Islam selama Ramadhan.

"Lalu, salah seorang diantara kami secara khusus memberikan uraian singkat tentang makna puasa dan keutamaan-keutamaannya. Juga penjelasan tentang apa itu Islam. Selepas berbuka, shalat maghrib pun segera ditunaikan. Para jamaah juga menyemarakkan malam dengan shalat Tarawih berjamaah," ungkap Faziiski menutup penjelasannya.

Menurut catatan Wikipedia, di seluruh Bulgaria saat ini ada sekitar 966 ribu umat Islam (data sensus tahun 2001) atau 12 persen dari total populasi sebesar 7,8 juta jiwa. Sebagian besar merupakan etnik Turki yang datang ke sana pertamakali pada masa kekhalifahan Usmaniyah. Namun TFH memprediksi persentase muslim disana bisa mencapai 25 persen.

Mereka punya hubungan baik dengan para penganut agama lain. Ikatan budaya setempat yang dikenal dengan istilah Komshuluk atau hubungan pertetanggaan itu membuat umat Islam di sana hidup harmonis dengan kalangan lainnya.

Gadis Kolombia itu bersyahadah lewat internet

PENGANTAR. Namanya Saidah Paola Dugue Correa. Dia dilahirkan di kota Bucaramanga, Kolombia. Namun sebagian besar masa kecilnya dihabiskan di kota Valledupar, sebuah kota yang terletak di bagian timurlaut Kolombia. Saidah merupakan sarjana Biologi dari Universidad de Santander (UDES), Bucaramanga. Kini menekuni pekerjaan sebagai seorang bakteriologis. Perkenalan pertamanya dengan Islam adalah tatkala menerima sebuah e-mail dari seorang muslim Mesir. Berawal dari sanalah dia tertarik dengan Islam dan akhirnya bersyahadah. Saidah saat ini bekerja dengan Mostafa Mohye, pria yang mengirim e-mail tersebut dan manejer sebuah proyek yang berpusat di Mesir. Proyek itu dikhususkan bagi para muallaf baru yang ada di Spanyol dan Amerika Latin. Berikut kisah lengkapnya seperti dilaporkan situs Readingislam.com edisi 20 Agustus 2008.

---------------------------------------000-------------------------------------------------------

“Sebelum masuk Islam saya menganut Katolik. Tapi saya tidak pernah mempraktekkan agama itu dalam kehidupan sehari-hari. Bisa disebut agama cuma di KTP,” kata Saidah di awal kisahnya. Kini, selepas masuk Islam, Saidah mengaku bangga menjadi seorang muslimah. Dia sangat bersyukur dengan anugerah yang luar biasa itu.

“Tahun 2004 merupakan awal ketertarikan saya dengan Islam, Alhamdulillah. Sebelum tertarik dengan Islam saya sebenarnya sudah punya rasa ingin tahu yang tinggi dengan budaya Arab, seperti musik Arab, lalu ingin ketemu dengan orang-orang Arab, dan banyak lainnya lagi. Saya juga sangat suka kaligrafi Arab. Itulah beberapa hal yang saya suka dari dunia Islam, jauh sebelum masuk Islam,” kata dia.

E-mail dari Mesir

Perlahan, sembari mempelajari budaya Arab itu tanpa disadarinya diapun “bersentuhan” dengan Islam. “Tahu tidak, pertemuan pertama saya dengan Islam adalah lewat internet,” lanjut Saidah. Ceritanya, satu hari di tahun 2004, Saidah menulis sebuah komentar singkat pada sebuah website Islam yang baru dibacanya. Di situ Saidah menulis bahwa dia sangat tertarik untuk mengetahui Islam.

Beberapa hari kemudian dia menerima sebuah e-mail yang berbunyi:”Anda tertarik untuk mendapatkan buku-buku gratis tentang Islam dalam bahasa Spanyol?". Pengirim surat elektronik itu mengenalkan dirinya dengan nama Mostafa Mohye Mossad dan mengaku berasal dari Mesir. “Ketika membaca e-mail itu saya benar-benar surprise. Tetapi secara spontan hati saya dilanda sedikit keraguan. Mana mungkin ada orang mau berikan buku secara gratis. Ah, ini tidak normal,” aku Saidah.

Begitupun, meski Saidah tidak mengenali siapa itu Mostafa Mohye, dia tetap menaruh perhatian besar pada e-mail tersebut. Sebab, itulah kontak pertama dia dengan kalangan Islam. Perkara itu (keragu-raguan) tak membuatnya surut untuk mengetahui Islam lebih jauh. “Saya balas e-mail itu serta memberikan alamat rumah. Tak lama, kira-kira 2 bulan, buku-buku dimaksud sampai ke alamat saya,” kisahnya. Saidah mengaku sangat gembira sekaligus takjub. Ternyata keragu-raguannya tak terbukti.

Mulai “berdakwah”

“Kala itu, saya jadi tertarik untuk terus melakukan kontak dengan Mohye. Dia telah menunjukkan cara yang sangat menarik dalam mengenalkan Islam kepada nonmuslim,” tukasnya. Saidah bahkan mengirimkan Mohye alamat beberapa orang rekannya yang nonmuslim agar juga dikirimkan buku sejenis. Bukan main, rupanya Saidah mulai “berdakwah” pula. Dan yang membuatnya takjub, Mohye mengirim buku-buku Islam ke teman-temannya yang ada di berbagai negara dengan bahasa negara asal rekan-rekannya itu..

“Juli 2004, kami mulai melakukan kerja dakwah. Kami berempat yakni Mohye, Maryam, Claudia dan saya sendiri membentuk sebuah kelompok kecil. Kini, tahun 2008, Alhamdulillah jaringan dakwah kami sudah luas. Tim kami berjumlah 30 orang yang bersal dari negara-negara latin seperti Kolombia, Argentina, Brayil, Chili, Peru, Meksiko dan lainnya. Tiap kelompok melakukan pertemuan dengan orang-orang yang tertarik dengan Islam,” pungkas Saidah.

Menariknya, Saidah sendiri justru belum bersyahadah lagi. Tapi dia sudah ikut membantu kegiatan dakwah Islam. Inilah yang bikin heran sebagian muslim dan bahkan juga nonmuslim yang lain. Saidah terkadang sangat gigih mempertahankan Islam, jika ketemu dengan orang-orang yang salah dalam memandang Islam. Dengan sigap dia menerangkan kepada mereka tentang kebenaran Islam.

Makin cinta Islam

“Begitulah, bantuan berupa buku-buku referensi dari kawan-kawan, juga referensi dari internet, sangat membantu saya dalam mempelajari Islam. Kecintaan saya pada Islam makin hari makin bertambah. Belajar lewat internet sungguh menarik. Jalur diskusi online sangatlah membantu. Misalnya chatting. Saya banyak bertanya pada rekan-rekan muslim melalui cara chatting ini. Jadi, dapat saya katakan perkenalan awal saya dengan Islam ya melalui internet,” lanjutnya.

Beberapa temannya kadangkala bertanya kenapa tidak masuk Islam. Saidah selalu menjawab bahwa dia cuma ingin belajar saja, tak ada keinginan untuk masuk Islam. Namun, hati nuraninya tak bisa dibohongi. Seiring dengan perjalanan waktu, dia mulai merasakan sesuatu yang lain di hati.

Saidah mengaku perlahan ada yang “mengalir” dalam hatinya. Tampaknya dia mulai menemukan kebenaran itu ada dalam Islam. Menurut dia, Islamlah agama yang benar. Satu-satunya jalan dan sekaligus cahaya kehidupan yang benar. “Itulah yang muncul dalam pikiran dan hati saya waktu itu. Dan, Mohye kerap menanyakan akankah saya bersegera untuk bersyahadah. Saya hanya menjawab belum lagi. Saya masih butuh beberapa lama lagi untuk memutuskan itu,” kata Saidah.

Memasuki 2007, sebagian teman-teman akhirnya tahu ternyata Saidah belum bersyahadah lagi. “Tapi pada kenyataannya saya sudah bersyahadah di dalam hati. Sebab saya telah yakin bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan-Nya,” tukasnya.

Teman-temannya berujar:"Hatimu sebenarnya sudah Islam. Kamu seorang muslim. Semua yang kamu lakukan adalah perbuatan seorang muslim. Tapi kamu mungkin belum tahu, syahadah itu adalah perkara penting untuk sahnya keislaman seseorang.” Saidah akhirnya paham apa maksud rekan-rekannya itu.

Ke Maicao

Pada akhir Ramadhan 2007 Saidah melawat ke Maicao, sebuah kota di propinsi La Guajira, Kolombia, dengan seorang teman muslimnya Aisyah. Saidah kesana untuk menemani Aisyah yang hendak bersyahadah.

Di Maicao, saat berada di mesjid, Saidah menyaksikan teman-teman mengerjakan shalat. Saat itu hatinya tergerak untuk berdoa dan bermohon pada Allah agar membantunya dalam mengambil keputusan. “Ya Allah, jika ini memang jalan yang Engkau inginkan, tunjukilah jalan menuju Islam ya Allah,’ pintanya sungguh-sungguh.

Beberapa hari kemudian dia menyatakan pada Aisyah dan salah seorang rekan lainnya yakni Muhammad Hamoud tentang keputusannya (untuk memeluk Islam). Mereka terlihat sangat gembira sekali.

“Kamipun bersegera menuju ke mesjid guna mendeklarasikan syahadah itu. Oya beberapa saat sebelum kesana saya sempat menelpon kedua orangtua dan menceritakan keinginan masuk Islam pada mereka,” kisahnya lagi. Saidah merasa perlu memberitahukan kedua orangtuanya, sebab baginya keputusan tersebut akan sangat mempengaruhi kehidupannya di kemudian hari.

Mendengar penuturan putrinya, Milciades, sang ayah berujar dalam bahasa Kolombia:"Bueno mija, felicitaciones!" Artinya, putriku, selamat! Kalimat singkat dari sang ayah sudah lebih dari cukup bagi Saidah. Dia merasa tenang dan makin percaya diri.

Sementara ibunya, Luisa, awalnya sedikit bingung dengan keputusan anaknya itu. Namun akhirnya dia paham kemauan Saidah. "Ok anakku, kamu yang lebih tahu apa yang terbaik bagi kamu”, ujar ibunya kala itu. Kebahagiaan Saidah makin bertambah. Dia bahkan berdoa semoga Allah merahmati mereka dengan hidayah-Nya.

Bersyahadah via internet

Saidah pun mendeklarasikan keislamannya via internet di depan dua orang saksi, yakni Mostafa Mohye dan Ahmed, keduanya dari Mesir. Baik keluarga maupun teman-temannya yang nonmuslim menyambut keislamannya itu secara tenang. Tak ada komentar-komentar miring.

“Ya ada juga sedikit joke-joke kecil, tapi tidak masalah bagi saya. Alhamdulillah, yang terpenting saya masih bagian dari kehidupan mereka. Misalnya keponakan saya, Omar David yang baru berusia 6 tahun, sering meminta saya menulis kata Alah dalam bahasa Arab. Dia suka kaligrafi rupanya. David juga suka mendengar lagu-lagu Islam. Bahkan adakalanya dia meminta saya untuk membacakan beberapa potong ayat suci Alquran,” kata dia mengenang.

Sungguh, keputusan untuk masuk Islam benar-benar datang dari lubuk hati yang dalam. Bukan karena paksaan seseorang atau hal lainnya. Itu semata-mata karena Allah telah menunjukkan jalan yang penuh cahaya kepada saya,” akunya.

Saidah berusaha menunjukkan budi pekerti terbaiknya guna menunjukkan bahwa Islam itu agama yang benar. Saidah beranggapan, selama ini banyak berita tentang Islam, baik melalui televise ataupun media cetak, seringkali tidak adil dalam pemberitaannya. “Benar bahwa ada sekelompok muslim yang melakukan perbuatan keji dan merusak. Tapi janganlah menyalahkan Islam. Itu semata-mata kesalahan pemeluk bukan agamanya. Karena itu saya berpesan kepada semua muslim untuk menunjukkan akhlak terbaik sepertimana diajarkan Islam dan telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Hanya ini yang bisa merubah persepsi mereka yang tidak suka Islam,” pesan Saidah seraya menutup kisahnya. (Zulkarnain Jalil)