Pilkada Aceh Hiasi Media Eropa
Pilkada Aceh yang berlangsung Senin kemarin(11/12) benar-benar mendunia. Kegiatan pemilihan langsung yang baru pertama kali dilaksanakan dalam sejarah Aceh itu jadi sorotan beberapa media terkemuka di Eropa. Di Jerman misalnya, harian beroplah besar die Welt yang terbit di Berlin menulis tragedi tsunami telah melahirkan peluang damai di propinsi yang berseteru. Die Welt juga menyitir harapan banyak kalangan agar Pilkada dapat menjadi puncak tertinggi dari proses perdamaian di Aceh. Hal yang kurang lebih sama juga ditulis harian terkemuka Jerman Frankfurter Algemenen Zeitung (FAZ). FAZ menyebutnya sebagai pemilu yang penuh persahabatan.
Lain halnya dengan Tageszeitung yang terbit di Muenchen. Harian ini secara terbuka menulis judul Ex-Rebellenführer Wahlsieger (Pemenang Pemilu, Mantan Gerilyawan) dengan mengulas pasangan Irwandi Yusuf-Nazar yang unggul sementara dari kandidat-kandidat lainnya. Ulasan Tageszeitung yang “meriah“ ini justru jadi trend. Buktinya N24 –televisi berita Jerman- dan koran online Netzeitung juga mengulas hal yang serupa. Bahkan kedua media ini menampilkan gambar Irwandi yang sedang mengisi kotak suara.
Berita kemenangan Irwandi Yusuf ini juga menghiasi media cetak terkemuka Le Figaro dan La Croix yang terbit di Perancis. Kedua harian itu menyebut kemenangan sementara mantan gerilyawan GAM tersebut sebagai hal yang mengejutkan. La Croix menyebut kejutan karena pasangan independen Irwandi-Nazar tidak masuk hitungan sebelumnya. Harian yang bermarkas di Paris itu meletakkan berita Pilkada Aceh sama hebohnya dengan berita kematian Augusto Pinochet, mantan diktator Chile.
Beranjak ke Swiss, harian Nachrichten, Aargauer Zeitung (AZ), demikian juga Solothurner Zeitung (SZ) seolah seperti sepakat menulis tentang Irwandi Yusuf. “Yusuf in Aceh zum Gouverneur gewählt“ (Yusuf terpilih sebagai gubernur Aceh), tulis SZ seraya menceritakan latar belakang dokter hewan yang sempat berseteru dengan Jakarta itu. Sementara AZ menampilkan gambar Irwandi di arena TPS saat mengisi kotak suara.
Yang menarik adalah der Standard (Austria), melalui kolumnisnya Markus Bernath, harian yang terbit di Wina –ibukota Austria- ini menulis judul Gereifte Rebellen (Gerilyawan yang makin matang) dengan mengulas perjalanan GAM hingga langkahnya ke panggung Pilkada. Berita-berita sejenis juga jadi pokok bahasan di siaran Radio Nederland (Belanda), BBC (Inggris), dan suara Jerman Deutsche Welle.
Di luar negara-negara utama di Eropa itu, Turki yang masih berjuang untuk bisa masuk salah satu anggota Uni Eropa menyebut Irwandi sebagai mantan gerilyawan yang pulang kampung untuk perdamaian. Demikian sebagaimana disitir Turkishweekly.
Begitulah, tampaknya masyarakat dunia pun berharap hal yang sama sebagaimana harapan jutaan pemilih di Aceh. Jangan ada lagi pertumpahan darah, mari bentangkan tangan, satukan hati menuju Aceh damai. Yang jelas siapapun yang terpilih hendaknya memikirkan kemakmuran rakyat bukannya menumpuk kekayaan untuk diri sendiri. Demikian komentar Fikri, salah seorang mahasiswa Aceh yang tinggal di Tirol, Austria. (Zulkarnain Jalil, Jerman, Serambinews)
Monday, December 18, 2006
Wednesday, December 06, 2006
Adakah Jejak Petualang Karl May di Aceh ?
Catatan: Zulkarnain Jalil
Tidak banyak yang tahu siapa itu Karl May. Namun bagi penggemar kisah-kisah petualangan , tentu masih ingat dengan Album Cerita Ternama yang sempat booming di kisaran tahun 70-an. Diantara kisah-kisahnya banyak karangan penulis dan petualang asal Dresden, Jerman itu. Saat ini ada sekitar 80 judul karya Karl May yang diterjemahkan dalam puluhan bahasa. Umumnya bertema persahabatan, perdamaian, dan kebebasan.
Karyanya yang sangat terkenal adalah Winnetou dan Old Shatterhand. Dulu, ketika membaca karya-karya Karl May kebanyakan hanya tahu ia penulis kisah-kisah dunia Western/Barat. Namun tidak banyak yang tahu –orang Jerman sekalipun- ternyata ada pertalian antara Karl May dan Aceh. Kok bisa ?
Beberapa waktu yang lalu saat Kontributor Kontras berkunjung ke Museum Karl May di desa kelahirannya di Radebeul, Dresden ada hal yang mengejutkan. Di museum itu, terpampang foto sebuah kartu pos keluaran Aceh ! Kartu pos tersebut bergambar suasana di Aceh dan foto pahlawan Teuku Umar. Kartu pos itu sendiri dikirim oleh Karl May saat dia melakukan perjalanan ke Dunia Timur selama 1,5 tahun lamanya dan sempat singgah di Aceh pada 4 Nopember 1899. Menilik tulisan di kartu pos itu, yakni De Groeten van Atjeh, jelas kartu itu dicetak pada masa Belanda.
Perjalanan melelahkan menuju museum ini seolah sirna kala menjumpai jejak Karl May di Aceh, walau “hanya“ melalui selembar kartu pos. Museum itu sendiri dibuka tahun 1928 dan hingga kini telah dikunjungi oleh lebih dari 6,5 juta tamu dari seluruh dunia. Tidak ada yang istimewa jika kita melihat fisik bangunan museum ini. Hanya rumah biasa saja. Kalah jauh dengan museum negeri seperti di Banda Aceh, misalnya.
Di sini kita bisa melihat benda-benda asli peninggalan Karl May saat berkunjung ke berbagai negara. Di bekas ruang kerja Karl May demikian juga perpustakaan bisa menggambarkan betapa produktifnya pengarang satu ini di masanya. Hanya sayangnya pengunjung tidak diizinkan untuk mengambil foto benda-benda penuh legenda itu. Terpaksalah main kucing-kucingan dengan si penjaga secara sembunyi-sembunyi. Apa boleh buat.
Selepas mengunjungi museum itu muncul rasa ingin tahu lebih dalam lagi, terutama kisah perjalanannya ke Aceh. Ternyata, semua ceritanya tentang Aceh tertuang di dalam novel "Und Friede auf Erden! " (Dan Damai di Bumi!). Novel berbahasa Jerman ini -telah diterjemahkan ke beberapa bahasa- berisi catatan perjalanan Karl May (selanjutnya disingkat KM) sepanjang tahun 1899-1900. Dalam catatan hariannya itu diketahui bahwa ia juga singgah di Aceh dan Padang.
Tanggal 4 Nopember 1899 May berangkat dari Penang (Malaysia) menuju Edi (Sumatra) dengan menumpang kapal Coen. Edi yang dimaksud May di sini adalah Pidie. Dua hari berselang, 6 Nopember ia melanjutkan perjalanan ke Ulee Lheue (KM menulis Uleh-leh. Dalam surat yang ditulis kepada istrinya Emma May, KM melanjutkan perjalanan ke Kota Radscha (maksudnya Kutaraja, kini Banda Aceh) dengan menggunakan kereta api dan menuju Hotel Rosenberg. Selama di Banda Aceh, ia mengirimkan 100 lembar kartu pos ke istri dan berbagai kenalannya. Nah salah satu kartu pos itu terdapat di Museum KM di Radebeul, Dresden. Selanjutnya, selepas bermalam di Kutaraja, tanggal 8 Nopember dari Ulee Lheue KM dengan kapal Coen bertolak menuju Padang.
Bila membaca kisahnya itu, seakan terbayang keadaan Aceh pada masa 1899 tersebut. Menarik juga untuk dicermati, KM menulis beberapa nama tempat yang unik, seperti Uleh-leh (maksudnya Ulee Lheue), Edi (Pidie), lalu Lo-Semaweh (Lhokseumawe) dan Segli (Sigli).
Akhirnya, muncul pertanyaan di benak kita. Adakah jejak atau situs Karl May di Aceh ? Tentu butuh waktu untuk menjawabnya. Atau jangan-jangan sudah terhempas dibawa air tsunami ? Wallahu ‘alam bisshawab.
Catatan: Zulkarnain Jalil
Tidak banyak yang tahu siapa itu Karl May. Namun bagi penggemar kisah-kisah petualangan , tentu masih ingat dengan Album Cerita Ternama yang sempat booming di kisaran tahun 70-an. Diantara kisah-kisahnya banyak karangan penulis dan petualang asal Dresden, Jerman itu. Saat ini ada sekitar 80 judul karya Karl May yang diterjemahkan dalam puluhan bahasa. Umumnya bertema persahabatan, perdamaian, dan kebebasan.
Karyanya yang sangat terkenal adalah Winnetou dan Old Shatterhand. Dulu, ketika membaca karya-karya Karl May kebanyakan hanya tahu ia penulis kisah-kisah dunia Western/Barat. Namun tidak banyak yang tahu –orang Jerman sekalipun- ternyata ada pertalian antara Karl May dan Aceh. Kok bisa ?
Beberapa waktu yang lalu saat Kontributor Kontras berkunjung ke Museum Karl May di desa kelahirannya di Radebeul, Dresden ada hal yang mengejutkan. Di museum itu, terpampang foto sebuah kartu pos keluaran Aceh ! Kartu pos tersebut bergambar suasana di Aceh dan foto pahlawan Teuku Umar. Kartu pos itu sendiri dikirim oleh Karl May saat dia melakukan perjalanan ke Dunia Timur selama 1,5 tahun lamanya dan sempat singgah di Aceh pada 4 Nopember 1899. Menilik tulisan di kartu pos itu, yakni De Groeten van Atjeh, jelas kartu itu dicetak pada masa Belanda.
Perjalanan melelahkan menuju museum ini seolah sirna kala menjumpai jejak Karl May di Aceh, walau “hanya“ melalui selembar kartu pos. Museum itu sendiri dibuka tahun 1928 dan hingga kini telah dikunjungi oleh lebih dari 6,5 juta tamu dari seluruh dunia. Tidak ada yang istimewa jika kita melihat fisik bangunan museum ini. Hanya rumah biasa saja. Kalah jauh dengan museum negeri seperti di Banda Aceh, misalnya.
Di sini kita bisa melihat benda-benda asli peninggalan Karl May saat berkunjung ke berbagai negara. Di bekas ruang kerja Karl May demikian juga perpustakaan bisa menggambarkan betapa produktifnya pengarang satu ini di masanya. Hanya sayangnya pengunjung tidak diizinkan untuk mengambil foto benda-benda penuh legenda itu. Terpaksalah main kucing-kucingan dengan si penjaga secara sembunyi-sembunyi. Apa boleh buat.
Selepas mengunjungi museum itu muncul rasa ingin tahu lebih dalam lagi, terutama kisah perjalanannya ke Aceh. Ternyata, semua ceritanya tentang Aceh tertuang di dalam novel "Und Friede auf Erden! " (Dan Damai di Bumi!). Novel berbahasa Jerman ini -telah diterjemahkan ke beberapa bahasa- berisi catatan perjalanan Karl May (selanjutnya disingkat KM) sepanjang tahun 1899-1900. Dalam catatan hariannya itu diketahui bahwa ia juga singgah di Aceh dan Padang.
Tanggal 4 Nopember 1899 May berangkat dari Penang (Malaysia) menuju Edi (Sumatra) dengan menumpang kapal Coen. Edi yang dimaksud May di sini adalah Pidie. Dua hari berselang, 6 Nopember ia melanjutkan perjalanan ke Ulee Lheue (KM menulis Uleh-leh. Dalam surat yang ditulis kepada istrinya Emma May, KM melanjutkan perjalanan ke Kota Radscha (maksudnya Kutaraja, kini Banda Aceh) dengan menggunakan kereta api dan menuju Hotel Rosenberg. Selama di Banda Aceh, ia mengirimkan 100 lembar kartu pos ke istri dan berbagai kenalannya. Nah salah satu kartu pos itu terdapat di Museum KM di Radebeul, Dresden. Selanjutnya, selepas bermalam di Kutaraja, tanggal 8 Nopember dari Ulee Lheue KM dengan kapal Coen bertolak menuju Padang.
Bila membaca kisahnya itu, seakan terbayang keadaan Aceh pada masa 1899 tersebut. Menarik juga untuk dicermati, KM menulis beberapa nama tempat yang unik, seperti Uleh-leh (maksudnya Ulee Lheue), Edi (Pidie), lalu Lo-Semaweh (Lhokseumawe) dan Segli (Sigli).
Akhirnya, muncul pertanyaan di benak kita. Adakah jejak atau situs Karl May di Aceh ? Tentu butuh waktu untuk menjawabnya. Atau jangan-jangan sudah terhempas dibawa air tsunami ? Wallahu ‘alam bisshawab.
Monday, December 04, 2006
Maskot Piala Eropa 2008, Trix & Flix di Jenewa
Maskot resmi Piala Eropa 2008, Trix & Flix muncul di acara balap motor anak-anak Course d’Escalade di Jenewa, Swiss Sabtu kemarin (2/12). Seperti dilansir situs resmi Piala Eropa 2008, kedua maskot dinamis ini menyambut kedatangan para bocah peserta lomba yang dimulai sekitar jam sepuluh pagi waktu setempat. Trix & Flix juga berdiri di garis finish pada saat anak-anak itu mengakhiri lomba.
Tak hanya itu, kedua maskot itu muncul disela-sela upacara penyerahan hadiah bagi pemenang lomba yang berlangsung di Promenade des Bastions. Masih pada hari yang yang sama, maskot ini juga meramaikan lomba balap untuk kategori dewasa.
Lomba balap motor Course d’Escalade merupakan salah satu even olahraga tahunan tertua di Jenewa dan masuk dalam kalender ulang tahun kota itu. Tahun lalu ada sekitar 20 ribu peserta ambil bagian dalam kegiatan yang pertama kali diadakan tahun 1978 tersebut.
Trix & Flix sendiri merupakan maskot yang terpilih untuk UEFA EURO 2008 yang akan berlangsung di Austria dan Swiss 7-29 Juni 2008. Menariknya, tidak seperti –katakanlah maskot Piala Dunia 2006 yang diperlombakan, kedua maskot lucu ini justru terpilih melalui pemungutan suara.
Lebih dari 67 ribu fans sepakbola di Austria dan Swiss ambil bagian dalam voting tersebut. Hasilnya, 36,3 persen suara warga di kedua negara bertetangga itu memilih Trix & Flix yang masing.masing mengenakan kaos putih dan merah serta memiliki tanda angka 20 dan 08 di dada.
"Saya yakin kedua maskot ini berikut namanya akan semakin memasyarakat dengan seringnya bergabung di acara-acara seperti ini,” ujar Christian Mutschler, ketua panitia Piala Eropa dari pihak Swiss. Ini merupakan kali kedua adanya tuan rumah bersama setelah sebelumnya tahun 2000 yang berlangsung di Belanda dan Belgia.(Zulkarnain Jalil, dari Jerman untuk Serambinews).
Maskot resmi Piala Eropa 2008, Trix & Flix muncul di acara balap motor anak-anak Course d’Escalade di Jenewa, Swiss Sabtu kemarin (2/12). Seperti dilansir situs resmi Piala Eropa 2008, kedua maskot dinamis ini menyambut kedatangan para bocah peserta lomba yang dimulai sekitar jam sepuluh pagi waktu setempat. Trix & Flix juga berdiri di garis finish pada saat anak-anak itu mengakhiri lomba.
Tak hanya itu, kedua maskot itu muncul disela-sela upacara penyerahan hadiah bagi pemenang lomba yang berlangsung di Promenade des Bastions. Masih pada hari yang yang sama, maskot ini juga meramaikan lomba balap untuk kategori dewasa.
Lomba balap motor Course d’Escalade merupakan salah satu even olahraga tahunan tertua di Jenewa dan masuk dalam kalender ulang tahun kota itu. Tahun lalu ada sekitar 20 ribu peserta ambil bagian dalam kegiatan yang pertama kali diadakan tahun 1978 tersebut.
Trix & Flix sendiri merupakan maskot yang terpilih untuk UEFA EURO 2008 yang akan berlangsung di Austria dan Swiss 7-29 Juni 2008. Menariknya, tidak seperti –katakanlah maskot Piala Dunia 2006 yang diperlombakan, kedua maskot lucu ini justru terpilih melalui pemungutan suara.
Lebih dari 67 ribu fans sepakbola di Austria dan Swiss ambil bagian dalam voting tersebut. Hasilnya, 36,3 persen suara warga di kedua negara bertetangga itu memilih Trix & Flix yang masing.masing mengenakan kaos putih dan merah serta memiliki tanda angka 20 dan 08 di dada.
"Saya yakin kedua maskot ini berikut namanya akan semakin memasyarakat dengan seringnya bergabung di acara-acara seperti ini,” ujar Christian Mutschler, ketua panitia Piala Eropa dari pihak Swiss. Ini merupakan kali kedua adanya tuan rumah bersama setelah sebelumnya tahun 2000 yang berlangsung di Belanda dan Belgia.(Zulkarnain Jalil, dari Jerman untuk Serambinews).
Pelatih tersohor asal Perancis, Phillippe Troussier Masuk Islam
Philippe Troussier adalah pelatih bertangan dingin asal Perancis yang dikenal para pemuka dan penggila sepakbola dunia. Karir terbaik pelatih berusia 51 tahun ini adalah kala mengantar Jepang ke babak 16 besar Piala Dunia 2002 Jepang/Korea. Terakhir Troussier melatih timnas Maroko dan kabarnya kini masuk nominasi calon pelatih tim Kanguru Australia. Ia di juluki “dukun putih“ karena suksesnya melatih tim-tim Afrika.
Akan tetapi tidak banyak yang tahu, jika kini Troussier telah berganti nama menjadi Umar. Ia sendiri tampaknya belum ingin perihal keislamannya diketahui orang ramai. Menurut harian Berliner Zeitung, adalah koran beroplah besar di Perancis L'Opinion yang pertama kali membuka tabir ini.
Menariknya, istri Troussierlah yang justru pertama kali menjadi muallaf tahun 2004 dan berganti nama dari Dominique menjadi Aminah. Sedangkan Phillippe butuh waktu dua tahun sebelum memutuskan memeluk Islam. Sejauh ini belum ada keterangan dari keduanya berkenaan latar ketertarikan mereka dengan Islam. Yang pasti sejak beberapa tahun belakangan suami istri ini bermukim di Casablanca, Maroko.
Muhammad Homrani, sahabat karibnya dan juga pengurus di salah satu klub sepakbola di Rabat adalah orang yang mengajari Troussier mengucapkan dua kalimat syahadah.
Pelatih kelahiran Paris ini mengucap dua kalimah syahadat di Rabat, ibukota Maroko pada 17 Maret 2006 silam. Persis tiga bulan selepas pensiun sebagai pelatih timnas Maroko. Kini pasangan yang belum dikarunia anak itu telah mengadopsi Salma dan Mariam, dua anak perempuan asal Maroko.
Troussier sebelumnya dikenal sebagai penganut Kristen taat. Namun tampaknya merasa belum mendapatkan ketenangan dalam hidupnya. Melalui proses perenungan yang lama, ia berpendapat Islam adalah agama rasional dan jelas.
Islam merupakan agama nomor dua terbesar di Perancis. Ada ratusan warga Perancis memeluk Islam setiap tahunnya. Akan tetapi tidak semuanya secara terbuka menunjukkan keislaman mereka. Semata-mata untuk menghindari tindak diskriminasi baik di rumah ataupun di tempat kerja.
Mantan pemain timnas Perancis Nicolas Anelka misalnya, tidak banyak yang tahu perihal keislamannya. Ia justru mengenal Islam ketika merumput di di klub Liverpool, Inggris (2001-2002). Nama Islamnya adalah Abdul Salam Bilal. Anelka kini berniat menghabiskan waktunya di Uni Emirat Arab serta tidak ingin kembali ke Inggris atau Perancis. (Zulkarnain Jalil, dari Jerman untuk Serambinews)
------------ --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- ---------
Karir kepelatihan Phillippe Troussier:
- Pantai Gading (1993-1995)
- Afrika Selatan (1995)
- Nigeria (1996-1998
- Burkina Faso (1998)
- Jepang (1999-2002)
- Qatar (2004)
- Marokko (Juli 2005-Desember 2005
Philippe Troussier adalah pelatih bertangan dingin asal Perancis yang dikenal para pemuka dan penggila sepakbola dunia. Karir terbaik pelatih berusia 51 tahun ini adalah kala mengantar Jepang ke babak 16 besar Piala Dunia 2002 Jepang/Korea. Terakhir Troussier melatih timnas Maroko dan kabarnya kini masuk nominasi calon pelatih tim Kanguru Australia. Ia di juluki “dukun putih“ karena suksesnya melatih tim-tim Afrika.
Akan tetapi tidak banyak yang tahu, jika kini Troussier telah berganti nama menjadi Umar. Ia sendiri tampaknya belum ingin perihal keislamannya diketahui orang ramai. Menurut harian Berliner Zeitung, adalah koran beroplah besar di Perancis L'Opinion yang pertama kali membuka tabir ini.
Menariknya, istri Troussierlah yang justru pertama kali menjadi muallaf tahun 2004 dan berganti nama dari Dominique menjadi Aminah. Sedangkan Phillippe butuh waktu dua tahun sebelum memutuskan memeluk Islam. Sejauh ini belum ada keterangan dari keduanya berkenaan latar ketertarikan mereka dengan Islam. Yang pasti sejak beberapa tahun belakangan suami istri ini bermukim di Casablanca, Maroko.
Muhammad Homrani, sahabat karibnya dan juga pengurus di salah satu klub sepakbola di Rabat adalah orang yang mengajari Troussier mengucapkan dua kalimat syahadah.
Pelatih kelahiran Paris ini mengucap dua kalimah syahadat di Rabat, ibukota Maroko pada 17 Maret 2006 silam. Persis tiga bulan selepas pensiun sebagai pelatih timnas Maroko. Kini pasangan yang belum dikarunia anak itu telah mengadopsi Salma dan Mariam, dua anak perempuan asal Maroko.
Troussier sebelumnya dikenal sebagai penganut Kristen taat. Namun tampaknya merasa belum mendapatkan ketenangan dalam hidupnya. Melalui proses perenungan yang lama, ia berpendapat Islam adalah agama rasional dan jelas.
Islam merupakan agama nomor dua terbesar di Perancis. Ada ratusan warga Perancis memeluk Islam setiap tahunnya. Akan tetapi tidak semuanya secara terbuka menunjukkan keislaman mereka. Semata-mata untuk menghindari tindak diskriminasi baik di rumah ataupun di tempat kerja.
Mantan pemain timnas Perancis Nicolas Anelka misalnya, tidak banyak yang tahu perihal keislamannya. Ia justru mengenal Islam ketika merumput di di klub Liverpool, Inggris (2001-2002). Nama Islamnya adalah Abdul Salam Bilal. Anelka kini berniat menghabiskan waktunya di Uni Emirat Arab serta tidak ingin kembali ke Inggris atau Perancis. (Zulkarnain Jalil, dari Jerman untuk Serambinews)
------------ --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- ---------
Karir kepelatihan Phillippe Troussier:
- Pantai Gading (1993-1995)
- Afrika Selatan (1995)
- Nigeria (1996-1998
- Burkina Faso (1998)
- Jepang (1999-2002)
- Qatar (2004)
- Marokko (Juli 2005-Desember 2005
Film Aceh di Festival Berlin
"Anywhere but fear " adalah salah satu film dokumenter yang diputar pada Festival Film Manusia dan Media yang berlangsung di Berlin, Jerman dari tanggal 16-22 Nopember 2006. Film yang mengangkat tema tentang konflik Aceh di kisaran tahun 2003-2004 itu diputar Jumat kemarin (17/11) di Kino Arsenal 1, kawasan Postdamer Platz, Berlin. Festival film ini diadakan atas prakarsa One World Berlin, sebuah LSM internasional yang bergerak di bidang hak asasi manusia.
Dari daftar tamu yang hadir di antaranya ada Annette Kaiser (Kementrian Kerjasama dan Pengembangan Perekonomian), lalu Christiane Steinert (Malteser International), dan Arnd Henze dari televisi WDR Jerman. Adapun Adeline Tumenggung, sang sutradara yang sedianya hadir tidak tampak di sana. Dalam surat elektronik yang diterima Kontributor Serambi di Jerman ia menyatakan tidak bisa hadir karena ada masalah mendadak yang harus ditangani di Manchester, sehingga tidak bisa meninggalkan Inggris –tempat tinggalnya saat ini. Adeline adalah seorang jurnalis lepas dan produser film-film dokumenter. Film Anywhere but fear sendiri diproduksinya di Inggris tahun 2004.
Dalam film yang berdurasi 32 menit itu diceritakan reaksi keras pemerintah Indonesia atas kehendak merdeka GAM yang telah berlangsung sejak tahun 1976. Bagaimana perlakuan keras pemerintah terhadap warga di sana ditunjukkan di film ini. Setelah pemutaran film, acara dilanjutkan dengan diskusi dalam bahasa Inggris bertajuk: “Natural Disasters and Conflicts: The Peace Process in Aceh after the Tsunami”-Bencana alam dan konflik: Proses perdamaian di Aceh pasca Tsunami.
Pada bagian akhir ditampilkan sebuah film dokumenter lainnya berjudul My Neighbour; the Giant Boat (Tetanggaku: Perahu Raksasa). Seperti judulnya, film ini menceritakan boat raksasa milik PLN terapung seberat 27.000 ton yang terhempas tsunami di sebuah perkampungan penduduk dekat Ulee Lheue
One World Berlin sendiri adalah sebuah LSM internasional yang bergerak di bidang hak asasi manusia. Lembaga non profit yang bermarkas di Berlin ini memiliki dokumentasi film-film bertema sosial, budaya, dan politik dari berbagai negara. Pada bagian akhir pemutaran film, selalu ada diskusi terbuka untuk masyarakat umum yang menghadirkan tamu yang umumnya adalah pejabat pemerintah setempat sutradara film, pengamat sosial, politik, ataupun budaya. Partner kerjanya antara lain UNICEF, Amnesty International, Transparency International, Human Rights Watch, dan banyak lagi lainnya. (Zulkarnain Jalil, dari Jerman untuk Serambinews).
"Anywhere but fear " adalah salah satu film dokumenter yang diputar pada Festival Film Manusia dan Media yang berlangsung di Berlin, Jerman dari tanggal 16-22 Nopember 2006. Film yang mengangkat tema tentang konflik Aceh di kisaran tahun 2003-2004 itu diputar Jumat kemarin (17/11) di Kino Arsenal 1, kawasan Postdamer Platz, Berlin. Festival film ini diadakan atas prakarsa One World Berlin, sebuah LSM internasional yang bergerak di bidang hak asasi manusia.
Dari daftar tamu yang hadir di antaranya ada Annette Kaiser (Kementrian Kerjasama dan Pengembangan Perekonomian), lalu Christiane Steinert (Malteser International), dan Arnd Henze dari televisi WDR Jerman. Adapun Adeline Tumenggung, sang sutradara yang sedianya hadir tidak tampak di sana. Dalam surat elektronik yang diterima Kontributor Serambi di Jerman ia menyatakan tidak bisa hadir karena ada masalah mendadak yang harus ditangani di Manchester, sehingga tidak bisa meninggalkan Inggris –tempat tinggalnya saat ini. Adeline adalah seorang jurnalis lepas dan produser film-film dokumenter. Film Anywhere but fear sendiri diproduksinya di Inggris tahun 2004.
Dalam film yang berdurasi 32 menit itu diceritakan reaksi keras pemerintah Indonesia atas kehendak merdeka GAM yang telah berlangsung sejak tahun 1976. Bagaimana perlakuan keras pemerintah terhadap warga di sana ditunjukkan di film ini. Setelah pemutaran film, acara dilanjutkan dengan diskusi dalam bahasa Inggris bertajuk: “Natural Disasters and Conflicts: The Peace Process in Aceh after the Tsunami”-Bencana alam dan konflik: Proses perdamaian di Aceh pasca Tsunami.
Pada bagian akhir ditampilkan sebuah film dokumenter lainnya berjudul My Neighbour; the Giant Boat (Tetanggaku: Perahu Raksasa). Seperti judulnya, film ini menceritakan boat raksasa milik PLN terapung seberat 27.000 ton yang terhempas tsunami di sebuah perkampungan penduduk dekat Ulee Lheue
One World Berlin sendiri adalah sebuah LSM internasional yang bergerak di bidang hak asasi manusia. Lembaga non profit yang bermarkas di Berlin ini memiliki dokumentasi film-film bertema sosial, budaya, dan politik dari berbagai negara. Pada bagian akhir pemutaran film, selalu ada diskusi terbuka untuk masyarakat umum yang menghadirkan tamu yang umumnya adalah pejabat pemerintah setempat sutradara film, pengamat sosial, politik, ataupun budaya. Partner kerjanya antara lain UNICEF, Amnesty International, Transparency International, Human Rights Watch, dan banyak lagi lainnya. (Zulkarnain Jalil, dari Jerman untuk Serambinews).
Tuesday, November 28, 2006
Catatan Malam Budaya Indonesia Muenchen 2006:
Tari Likok Pulo Jadi Primadona
Sebagai warga Aceh yang jauh di rantau, tentu tak kuasa menahan haru saat Tari Likok Pulo tampil ke pentas. Terlebih lagi tatkala tepuk tangan penonton begitu membahana. Bahkan gerakan terakhir tarian itu sempat tertunda agak lama karena tepukan penonton yang tak henti-hentinya. Ya Likok Pulo layak menuai "standing ovation" (tepuk tangan sambil berdiri) Minggu malam kemarin (18/11). Tari yang tampil di puncak acara Indonesischer Kulturabend (Malam Budaya Indonesia) Muenchen 2006 tersebut benar-benar jadi primadona. Tak pelak selepas acara beberapa warga Jerman minta foto bareng para penari yang sebagian besar adalah mahasiswa.
Diawali potongan lagu Saleum (Album Nyawoung), lalu salawat di padu dengan gerakan-gerakan cepat nan atraktif, tarian ini bagai membius warga Jerman yang memenuhi gedung pertunjukan Bildungszentrum kota Muenchen. 400-an penonton -diantaranya terlihat juga Dr. Reinhard Bauer, utusan dari walikota Munich- spontan berdecak kagum, terutama karena keunikan tari asal Aceh itu yang tampil tanpa menggunakan iringan alat musik.
Tarian yang menurut sejarahnya diciptakan oleh seorang ulama Arab yang terdampar di Pulo Aceh sekitar tahun 1849 tersebut memang dikenal hanya mengandalkan suara dan tepuk tangan para penari yang dikombinasikan dengan tepukan dada, pangkal paha serta hempasan badan ke kiri dan kanan.
Adapun inisiatif tari Likok Pulo ini datang dari Teuku Edward (kandidat master Teknik Elektro pada Technische Universität Muenchen).
“Alhamdulillah, acara kita sukses. Saya terharu, sebagian besar penari bukanlah anak-anak Aceh, namun kami benar-benar menyatu dengan tarian ini,“ ungkap pemuda Banda Aceh yang juga mantan Siswa Teladan Nasional tingkat SMP 1990 ini penuh gembira.
“Saya sudah beberapa kali ikuti acara ini, namun saya kira tadi malamlah (Minggu malam –red) yang paling meriah. Konon lagi Likok Pulo yang benar-benar tampil beda,“ tutur Eko Fariadianto, pria asal Aceh yang bekerja di Muenchen. Sebelumnya, Tari Likok Pulo pertama kali tampil di ajang silaturrahmi Idul Fitri 2006 masyarakat Indonesia Muenchen Oktober silam. Sejak itulah muncul tawaran pentas di ajang yang lebih besar.
Acara Malam Budaya Indonesia ini sendiri pertama kalinya diadakan pada Juli 2001. Masa itu masih terbatas pada pertunjukan tradisi adat perkawinan Jawa Barat dan aneka Jajanan Pasar. Berangkat dari sukses itu serta dukungan material dan moril dari berbagai pihak akhirnya diadakanlah setiap tahun.
Tahun 2006 kegiatan malam budaya itu mengambil motto Meine Heimat Indonesia (Indonesia, Tanah Airku). Acara yang dibuka oleh ketua penyelenggara, Swadaya Indonesia Muenchen (SIM) yakni Bambang Arianto, dan kata sambutan dari Konsul Jenderal Republik Indonesia di Frankfurt Muhammad Abduh Dalimunthe menampilkan program-program utama antara lain tari dan lagu daerah (Jawa, Bali, dan Aceh), teater, musik tradisional (kecapi dan angklung), dan tak ketinggalan aneka Jajanan Pasar serta info wisata Indonesia.Walau resminya acara dimulai pukul tujuh malam, namun para penonton sudah terlihat sejak jam lima sore.
Swadaya Indonesia Muenchen sendiri adalah sebuah lembaga non profit tempat berhimpunnya masyarakat Indonesia di kota terbesar ketiga di Jerman itu. Lembaga ini didirikan tahun 2000 oleh masyarakat Indonesia dan Jerman yang ada di Muenchen dengan tujuan utama untuk mewujudkan integrasi warga Indonesia, dan juga sebagai wadah pertukaran antar budaya Indonesia-Jerman. (Zulkarnain Jalil, dari Jerman)
Tari Likok Pulo Jadi Primadona
Sebagai warga Aceh yang jauh di rantau, tentu tak kuasa menahan haru saat Tari Likok Pulo tampil ke pentas. Terlebih lagi tatkala tepuk tangan penonton begitu membahana. Bahkan gerakan terakhir tarian itu sempat tertunda agak lama karena tepukan penonton yang tak henti-hentinya. Ya Likok Pulo layak menuai "standing ovation" (tepuk tangan sambil berdiri) Minggu malam kemarin (18/11). Tari yang tampil di puncak acara Indonesischer Kulturabend (Malam Budaya Indonesia) Muenchen 2006 tersebut benar-benar jadi primadona. Tak pelak selepas acara beberapa warga Jerman minta foto bareng para penari yang sebagian besar adalah mahasiswa.
Diawali potongan lagu Saleum (Album Nyawoung), lalu salawat di padu dengan gerakan-gerakan cepat nan atraktif, tarian ini bagai membius warga Jerman yang memenuhi gedung pertunjukan Bildungszentrum kota Muenchen. 400-an penonton -diantaranya terlihat juga Dr. Reinhard Bauer, utusan dari walikota Munich- spontan berdecak kagum, terutama karena keunikan tari asal Aceh itu yang tampil tanpa menggunakan iringan alat musik.
Tarian yang menurut sejarahnya diciptakan oleh seorang ulama Arab yang terdampar di Pulo Aceh sekitar tahun 1849 tersebut memang dikenal hanya mengandalkan suara dan tepuk tangan para penari yang dikombinasikan dengan tepukan dada, pangkal paha serta hempasan badan ke kiri dan kanan.
Adapun inisiatif tari Likok Pulo ini datang dari Teuku Edward (kandidat master Teknik Elektro pada Technische Universität Muenchen).
“Alhamdulillah, acara kita sukses. Saya terharu, sebagian besar penari bukanlah anak-anak Aceh, namun kami benar-benar menyatu dengan tarian ini,“ ungkap pemuda Banda Aceh yang juga mantan Siswa Teladan Nasional tingkat SMP 1990 ini penuh gembira.
“Saya sudah beberapa kali ikuti acara ini, namun saya kira tadi malamlah (Minggu malam –red) yang paling meriah. Konon lagi Likok Pulo yang benar-benar tampil beda,“ tutur Eko Fariadianto, pria asal Aceh yang bekerja di Muenchen. Sebelumnya, Tari Likok Pulo pertama kali tampil di ajang silaturrahmi Idul Fitri 2006 masyarakat Indonesia Muenchen Oktober silam. Sejak itulah muncul tawaran pentas di ajang yang lebih besar.
Acara Malam Budaya Indonesia ini sendiri pertama kalinya diadakan pada Juli 2001. Masa itu masih terbatas pada pertunjukan tradisi adat perkawinan Jawa Barat dan aneka Jajanan Pasar. Berangkat dari sukses itu serta dukungan material dan moril dari berbagai pihak akhirnya diadakanlah setiap tahun.
Tahun 2006 kegiatan malam budaya itu mengambil motto Meine Heimat Indonesia (Indonesia, Tanah Airku). Acara yang dibuka oleh ketua penyelenggara, Swadaya Indonesia Muenchen (SIM) yakni Bambang Arianto, dan kata sambutan dari Konsul Jenderal Republik Indonesia di Frankfurt Muhammad Abduh Dalimunthe menampilkan program-program utama antara lain tari dan lagu daerah (Jawa, Bali, dan Aceh), teater, musik tradisional (kecapi dan angklung), dan tak ketinggalan aneka Jajanan Pasar serta info wisata Indonesia.Walau resminya acara dimulai pukul tujuh malam, namun para penonton sudah terlihat sejak jam lima sore.
Swadaya Indonesia Muenchen sendiri adalah sebuah lembaga non profit tempat berhimpunnya masyarakat Indonesia di kota terbesar ketiga di Jerman itu. Lembaga ini didirikan tahun 2000 oleh masyarakat Indonesia dan Jerman yang ada di Muenchen dengan tujuan utama untuk mewujudkan integrasi warga Indonesia, dan juga sebagai wadah pertukaran antar budaya Indonesia-Jerman. (Zulkarnain Jalil, dari Jerman)
Film Aceh di Festival Berlin
"Anywhere but fear " adalah salah satu film dokumenter yang diputar pada Festival Film Manusia dan Media yang berlangsung di Berlin, Jerman dari tanggal 16-22 Nopember 2006. Film yang mengangkat tema tentang konflik Aceh di kisaran tahun 2003-2004 itu diputar Jumat kemarin (17/11) di Kino Arsenal 1, kawasan Postdamer Platz, Berlin. Festival film ini diadakan atas prakarsa One World Berlin, sebuah LSM internasional yang bergerak di bidang hak asasi manusia.
Dari daftar tamu yang hadir di antaranya ada Annette Kaiser (Kementrian Kerjasama dan Pengembangan Perekonomian), lalu Christiane Steinert (Malteser International), dan Arnd Henze dari televisi WDR Jerman. Adapun Adeline Tumenggung, sang sutradara yang sedianya hadir tidak tampak di sana. Dalam surat elektronik yang diterima Kontributor Serambi di Jerman ia menyatakan tidak bisa hadir karena ada masalah mendadak yang harus ditangani di Manchester, sehingga tidak bisa meninggalkan Inggris –tempat tinggalnya saat ini. Adeline adalah seorang jurnalis lepas dan produser film-film dokumenter. Film Anywhere but fear sendiri diproduksinya di Inggris tahun 2004.
Dalam film yang berdurasi 32 menit itu diceritakan reaksi keras pemerintah Indonesia atas kehendak merdeka GAM yang telah berlangsung sejak tahun 1976. Bagaimana perlakuan keras pemerintah terhadap warga di sana ditunjukkan di film ini. Setelah pemutaran film, acara dilanjutkan dengan diskusi dalam bahasa Inggris bertajuk: “Natural Disasters and Conflicts: The Peace Process in Aceh after the Tsunami”-Bencana alam dan konflik: Proses perdamaian di Aceh pasca Tsunami. Pada bagian akhir ditampilkan sebuah film dokumenter lainnya berjudul My Neighbour; the Giant Boat (Tetanggaku: Perahu Raksasa). Seperti judulnya, film ini menceritakan boat raksasa milik PLN terapung seberat 27.000 ton yang terdampar di sebuah perkampungan penduduk dekat Ulee Lheue.
One World Berlin sendiri adalah sebuah LSM internasional yang bergerak di bidang hak asasi manusia. Lembaga non profit yang bermarkas di Berlin ini memiliki dokumentasi film-film bertema sosial, budaya, dan politik dari berbagai negara. Pada bagian akhir pemutaran film, selalu ada diskusi terbuka untuk masyarakat umum yang menghadirkan tamu yang umumnya adalah pejabat pemerintah setempat sutradara film, pengamat sosial, politik, ataupun budaya. Partner kerjanya antara lain UNICEF, Amnesty International, Transparency International, Human Rights Watch, dan banyak lagi lainnya. (Zulkarnain Jalil, dari Jerman).
"Anywhere but fear " adalah salah satu film dokumenter yang diputar pada Festival Film Manusia dan Media yang berlangsung di Berlin, Jerman dari tanggal 16-22 Nopember 2006. Film yang mengangkat tema tentang konflik Aceh di kisaran tahun 2003-2004 itu diputar Jumat kemarin (17/11) di Kino Arsenal 1, kawasan Postdamer Platz, Berlin. Festival film ini diadakan atas prakarsa One World Berlin, sebuah LSM internasional yang bergerak di bidang hak asasi manusia.
Dari daftar tamu yang hadir di antaranya ada Annette Kaiser (Kementrian Kerjasama dan Pengembangan Perekonomian), lalu Christiane Steinert (Malteser International), dan Arnd Henze dari televisi WDR Jerman. Adapun Adeline Tumenggung, sang sutradara yang sedianya hadir tidak tampak di sana. Dalam surat elektronik yang diterima Kontributor Serambi di Jerman ia menyatakan tidak bisa hadir karena ada masalah mendadak yang harus ditangani di Manchester, sehingga tidak bisa meninggalkan Inggris –tempat tinggalnya saat ini. Adeline adalah seorang jurnalis lepas dan produser film-film dokumenter. Film Anywhere but fear sendiri diproduksinya di Inggris tahun 2004.
Dalam film yang berdurasi 32 menit itu diceritakan reaksi keras pemerintah Indonesia atas kehendak merdeka GAM yang telah berlangsung sejak tahun 1976. Bagaimana perlakuan keras pemerintah terhadap warga di sana ditunjukkan di film ini. Setelah pemutaran film, acara dilanjutkan dengan diskusi dalam bahasa Inggris bertajuk: “Natural Disasters and Conflicts: The Peace Process in Aceh after the Tsunami”-Bencana alam dan konflik: Proses perdamaian di Aceh pasca Tsunami. Pada bagian akhir ditampilkan sebuah film dokumenter lainnya berjudul My Neighbour; the Giant Boat (Tetanggaku: Perahu Raksasa). Seperti judulnya, film ini menceritakan boat raksasa milik PLN terapung seberat 27.000 ton yang terdampar di sebuah perkampungan penduduk dekat Ulee Lheue.
One World Berlin sendiri adalah sebuah LSM internasional yang bergerak di bidang hak asasi manusia. Lembaga non profit yang bermarkas di Berlin ini memiliki dokumentasi film-film bertema sosial, budaya, dan politik dari berbagai negara. Pada bagian akhir pemutaran film, selalu ada diskusi terbuka untuk masyarakat umum yang menghadirkan tamu yang umumnya adalah pejabat pemerintah setempat sutradara film, pengamat sosial, politik, ataupun budaya. Partner kerjanya antara lain UNICEF, Amnesty International, Transparency International, Human Rights Watch, dan banyak lagi lainnya. (Zulkarnain Jalil, dari Jerman).
Monday, November 20, 2006
Diizinkan, Jawaban Ujian Nasional ala SMS
Short Message Service (SMS) adalah layanan pesan singkat via telepon genggam yang biasa dipakai untuk mengirim pesan-pesan pendek. Banyak kalimat ataupun kata yang dipakai kala mengirim SMS mengalami penyingkatan. Seperti “txt“ untuk singkatan text, “CU“ untuk see you, atau “4 U” untuk for you, dan banyak lainnya. Akan tetapi memakai teks singkat ala SMS untuk menjawab soal ujian di sekolah tentu bukanlah hal yang lazim. Namun, di Selandia Baru para pelajar sekolah kini diizinkan untuk menggunakan jawaban singkat itu dalam ujian akhir nasional.
Seperti dikutip harian Jerman Netzeitung (14/11) dari CNNOnline, saat sekarang ini otoritas sekolah di Selandia Baru telah menyetujui penggunaan singkatan-singkatan ala SMS pada ujian nasional di negara Kiwi itu. Namun otoritas sekolah di sana menyarankan para pelajar untuk tidak memakai istilah yang tidak lazim. Akan tetapi khusus untuk pelajaran bahasa Inggris pemakaian teks singkat tersebut tentu saja dilarang. Demikian menurut salah seorang juru bicara otoritas sekolah di negara yang bertetangga dengan Australia itu kepada CNNOnline.
Tak pelak keputusan ini mengundang pro dan kontra. Beberapa pengamat pendidikan menilai keputusan kontroversial tersebut akan menyebabkan merosotnya kredibilitas bahasa Inggris di masyarakat, bahasa utama di Selandia Baru. Bahkan organisasi guru setempat mengkhawatirkan nantinya singkatan-singkatan “aneh” akan jadi bahasa tutur sehari-hari dalam masyarakat.
“Para guru khawatir pemakaian teks ala SMS ini nantinya akan jadi bahasa sehari-hari, yang tentunya akan merusak bahasa baku,“ tukas Debbie Te Whaiti, ketua Asosiasi Guru di Selandia Baru (PPTA) risau. Seorang pengamat lain menulis dalam blog-nya sembari berkelakar “U mst b joking“ (You must be joking).
(Zulkarnain Jalil)
Short Message Service (SMS) adalah layanan pesan singkat via telepon genggam yang biasa dipakai untuk mengirim pesan-pesan pendek. Banyak kalimat ataupun kata yang dipakai kala mengirim SMS mengalami penyingkatan. Seperti “txt“ untuk singkatan text, “CU“ untuk see you, atau “4 U” untuk for you, dan banyak lainnya. Akan tetapi memakai teks singkat ala SMS untuk menjawab soal ujian di sekolah tentu bukanlah hal yang lazim. Namun, di Selandia Baru para pelajar sekolah kini diizinkan untuk menggunakan jawaban singkat itu dalam ujian akhir nasional.
Seperti dikutip harian Jerman Netzeitung (14/11) dari CNNOnline, saat sekarang ini otoritas sekolah di Selandia Baru telah menyetujui penggunaan singkatan-singkatan ala SMS pada ujian nasional di negara Kiwi itu. Namun otoritas sekolah di sana menyarankan para pelajar untuk tidak memakai istilah yang tidak lazim. Akan tetapi khusus untuk pelajaran bahasa Inggris pemakaian teks singkat tersebut tentu saja dilarang. Demikian menurut salah seorang juru bicara otoritas sekolah di negara yang bertetangga dengan Australia itu kepada CNNOnline.
Tak pelak keputusan ini mengundang pro dan kontra. Beberapa pengamat pendidikan menilai keputusan kontroversial tersebut akan menyebabkan merosotnya kredibilitas bahasa Inggris di masyarakat, bahasa utama di Selandia Baru. Bahkan organisasi guru setempat mengkhawatirkan nantinya singkatan-singkatan “aneh” akan jadi bahasa tutur sehari-hari dalam masyarakat.
“Para guru khawatir pemakaian teks ala SMS ini nantinya akan jadi bahasa sehari-hari, yang tentunya akan merusak bahasa baku,“ tukas Debbie Te Whaiti, ketua Asosiasi Guru di Selandia Baru (PPTA) risau. Seorang pengamat lain menulis dalam blog-nya sembari berkelakar “U mst b joking“ (You must be joking).
(Zulkarnain Jalil)
Sunday, November 19, 2006
Dikira Bom, Ribuan Warga Paris Dievakuasi
Gedung pencakar langit Tour Montparnasse di pusat kota Paris, Senin (13/11) digegerkan oleh bunyi alarm tanda adanya bom. Kontan ribuan warga disekitar kawasan turis itu dilanda kepanikan. Sebagian besar pengunjung yang berada di dalam gedung itu pun segera dievakuasi. Namun setelah polisi spesialis bom menyisir kawasan di dekat Sungai Seine itu beberapa jam kemudian situasi dinyatakan aman, karena tidak terdeteksi adanya bom.
Sebagaimana disitir Netzeitung, seorang tak dikenal sekitar pukul 16.30 waktu setempat mengirim pesan ancaman bom melalui telepon. Selepas mendapat pesan itu polisi yang bertugas di gedung Montparnasse lalu membunyikan alarm pertanda adanya bom serta mengevakuasi warga. Pihak kepolisian sampai saat ini masih mencari biang penebar teror via telepon yang menggegerkan warga Paris itu. Demikian menurut penjelasan bagian penerangan kepolisian kota Paris.
Gedung Montparnasse yang memiliki ketinggian 209 meter serta 59 lantai itu merupakan bangunan tertinggi kedua di Paris setelah Eiffel. Lantai 59 dijadikan sebagai teras yang dipakai untuk menikmati indahnya pemandangan kota Paris dari atas. Dari ke 59 lantai tersebut, 52 lantai dijadikan pusat perkantoran dengan karyawan sebanyak 5000 orang. Menariknya, gedung tersebut dibangun persis di atas sebuah stasiun Metro (kereta api bawah tanah).
Sementara itu suasana di kantor kedutaan besar RI Paris berjalan normal karena letaknya yang berjauhan dari gedung itu. Ali Hasan, salah satu pegawai KBRI asal Aceh yang sempat dihubungi Kontributor Serambi menyebutkan tidak ada kepanikan di sana.
“Suasana normal-normal saja, kantor kita kan jauh dari lokasi itu,” ujar Ali yang telah bermukim di kota mode dunia itu selama hampir 20 tahun. Ali juga adalah saksi mata kejadian ledakan bom di KBRI Paris bulan Oktober 2004 silam yang merusakkan kaca-kaca gedung serta melukai tujuh orang.
Tampaknya warga Eropa kini jadi sangat sensitif dengan isu adanya bom, terutama selepas beberapa kali terjadi ledakan dan ancaman bom di beberapa kota. Misalnya peristiwa peledakan bom Madrid 11 Maret 2004, lalu ledakan bom hebat di stasiun kereta api bawah tanah di London Juli 2005, serta ditemukannya koper berisi bom rakitan di beberapa stasiun kereta api di Jerman bulan Agustus 2006 yang lalu. (Zulkarnain Jalil, Jerman)
Gedung pencakar langit Tour Montparnasse di pusat kota Paris, Senin (13/11) digegerkan oleh bunyi alarm tanda adanya bom. Kontan ribuan warga disekitar kawasan turis itu dilanda kepanikan. Sebagian besar pengunjung yang berada di dalam gedung itu pun segera dievakuasi. Namun setelah polisi spesialis bom menyisir kawasan di dekat Sungai Seine itu beberapa jam kemudian situasi dinyatakan aman, karena tidak terdeteksi adanya bom.
Sebagaimana disitir Netzeitung, seorang tak dikenal sekitar pukul 16.30 waktu setempat mengirim pesan ancaman bom melalui telepon. Selepas mendapat pesan itu polisi yang bertugas di gedung Montparnasse lalu membunyikan alarm pertanda adanya bom serta mengevakuasi warga. Pihak kepolisian sampai saat ini masih mencari biang penebar teror via telepon yang menggegerkan warga Paris itu. Demikian menurut penjelasan bagian penerangan kepolisian kota Paris.
Gedung Montparnasse yang memiliki ketinggian 209 meter serta 59 lantai itu merupakan bangunan tertinggi kedua di Paris setelah Eiffel. Lantai 59 dijadikan sebagai teras yang dipakai untuk menikmati indahnya pemandangan kota Paris dari atas. Dari ke 59 lantai tersebut, 52 lantai dijadikan pusat perkantoran dengan karyawan sebanyak 5000 orang. Menariknya, gedung tersebut dibangun persis di atas sebuah stasiun Metro (kereta api bawah tanah).
Sementara itu suasana di kantor kedutaan besar RI Paris berjalan normal karena letaknya yang berjauhan dari gedung itu. Ali Hasan, salah satu pegawai KBRI asal Aceh yang sempat dihubungi Kontributor Serambi menyebutkan tidak ada kepanikan di sana.
“Suasana normal-normal saja, kantor kita kan jauh dari lokasi itu,” ujar Ali yang telah bermukim di kota mode dunia itu selama hampir 20 tahun. Ali juga adalah saksi mata kejadian ledakan bom di KBRI Paris bulan Oktober 2004 silam yang merusakkan kaca-kaca gedung serta melukai tujuh orang.
Tampaknya warga Eropa kini jadi sangat sensitif dengan isu adanya bom, terutama selepas beberapa kali terjadi ledakan dan ancaman bom di beberapa kota. Misalnya peristiwa peledakan bom Madrid 11 Maret 2004, lalu ledakan bom hebat di stasiun kereta api bawah tanah di London Juli 2005, serta ditemukannya koper berisi bom rakitan di beberapa stasiun kereta api di Jerman bulan Agustus 2006 yang lalu. (Zulkarnain Jalil, Jerman)
Wednesday, November 15, 2006
Takut Islam, Seorang Pendeta Bunuh Diri
Kasus bunuh diri seorang pendeta di Gereja Evangelis kota Erfurt, Jerman kini jadi pembicaraan hangat disana. Kalangan Islam utamanya, kontan memberi reaksi atas kasus ini. Sebabnya, alasan bunuh diri sang pendeta itu karena khawatir dan takut dengan penyebaran Islam di Jerman.
Kalangan Islam menilai hal itu dapat merusak citra Islam sebagai agama damai dan penuh persahabatan.“Islam agama perdamaian, jadi kenapa harus takut ?,“ ujar Abdurrahim Vural, Presiden Organisasi Masyarakat Islam Berlin yang tidak bisa menerima alasan bunuh diri pendeta itu dengan menyebut Islam sebagai momok.
Sementara itu pihak gereja berharap kejadian ini tidak merusak hubungan antara umat Kristen dan Islam di Jerman. “Sungguh, ini kejadian tragis, motif dan alasan bunuh dirinya tidak bisa dimengerti dan dipertanggungjawabkan,“ tukas Uskup Christoph Kähler, salah seorang pembina gereja Evangelis kota Eisenach. Kähler juga menekankan bahwa sejauh ini tidak ada hal negatif dalam hubungan Kristen dan Islam di negara bagian Thuringen. Sementara Uskup Gereja Protestan Saxony, Axel Noack menyatakan kasus bunuh diri itu telah mengejutkan komunitasnya dan berharap hal itu tidak melukai hubungan Islam dan Kristen. Di Thuringen sendiri saat ini ada sekitar 3000 muslim yang bermukim di sana.
Sebagaimana dilaporkan der Spiegel, pendeta Roland Weisselberg kedapatan melakukan aksi bunuh diri di depan biara Augustiner di kota Erfurt, ibukota negara bagian Thuringen pada Selasa (31/10) yang lalu. Saat itu bertepatan dengan peringatan Hari Reformasi –salah satu hari besar umat Kristen Evangelis-. Sang pendeta diketahui membakar dirinya sendiri selepas menyiram bensin ke sekujur tubuh. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit khusus luka bakar di kota Halle. Namun karena luka bakar yang sangat serius, keesokan harinya pendeta malang itu menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Menurut keterangan saksi mata, sekitar pukul 10.30 pendeta berusia 73 tahun itu naik ke atas biara. Di atas ketinggian sekitar 2,5 meter itulah ia menjalankan aksi bunuh dirinya. Pegawai gereja dan biarawati yang berada disana berusaha untuk menolong dengan menyiram air ke tubuhnya. Adapun sekitar 300 jamaah gereja yang sedang mengikuti kebaktian mengaku tidak melihat sama sekali upaya bunuh diri di tempat terbuka itu.
Weisselberg yang pensiun tahun 1989 meninggalkan sepucuk surat kepada istrinya. Dalam surat terakhir kepada istrinya itu, ia menyebut alasan bunuh diri karena khawatir dengan semakin berkembangnya Islam di Jerman serta lemahnya upaya gereja dalam hal itu. Peristiwa ini mirip kasus Agustus 1976, saat mana pendeta Oskar Brüsewitz juga melakukan hal yang sama. Namun Brüsewitz bunuh diri karena alasan tekanan pemerintahan komunis di Jerman Timur saat itu.
Di Jerman -dan Eropa secara umum- saat ini bisa dikatakan banyak gereja yang kosong. Hanya kalangan tua saja yang umum terlihat datang ke sana. Sedangkan kaum mudanya malah tidak peduli lagi dengan agama. Majalah beroplah besar terbitan Perancis, Figaro dalam satu laporannya menulis, “Kehadiran umat Islam di masjid yang sedemikian banyak di Jerman, membuat Paus mengimpikan sambutan yang sama terhadap gereja.”
Patut dicatat pula, selepas peristiwa 11 September 2001 di New York, Islam malah makin banyak mendapatkan perhatian dari warga asli Jerman. Penisbatan teroris terhadap Islam justru menyebabkan minat mempelajari Islam semakin tinggi. Malah selepas kejadian itu Al-Quran sempat Ausverkauft (terjual habis).
Adapun warga Jerman yang masuk Islam, bukanlah karena adanya upaya penyebaran terselubung atau cara-cara tidak terpuji lainnya dari Islam. Motif kebanyakan pemeluk Islam di Jerman semata-mata karena ketertarikan mereka secara pribadi akan nilai-nilai yang diserukan oleh Islam. (Zulkarnain Jalil, Jerman).
Kasus bunuh diri seorang pendeta di Gereja Evangelis kota Erfurt, Jerman kini jadi pembicaraan hangat disana. Kalangan Islam utamanya, kontan memberi reaksi atas kasus ini. Sebabnya, alasan bunuh diri sang pendeta itu karena khawatir dan takut dengan penyebaran Islam di Jerman.
Kalangan Islam menilai hal itu dapat merusak citra Islam sebagai agama damai dan penuh persahabatan.“Islam agama perdamaian, jadi kenapa harus takut ?,“ ujar Abdurrahim Vural, Presiden Organisasi Masyarakat Islam Berlin yang tidak bisa menerima alasan bunuh diri pendeta itu dengan menyebut Islam sebagai momok.
Sementara itu pihak gereja berharap kejadian ini tidak merusak hubungan antara umat Kristen dan Islam di Jerman. “Sungguh, ini kejadian tragis, motif dan alasan bunuh dirinya tidak bisa dimengerti dan dipertanggungjawabkan,“ tukas Uskup Christoph Kähler, salah seorang pembina gereja Evangelis kota Eisenach. Kähler juga menekankan bahwa sejauh ini tidak ada hal negatif dalam hubungan Kristen dan Islam di negara bagian Thuringen. Sementara Uskup Gereja Protestan Saxony, Axel Noack menyatakan kasus bunuh diri itu telah mengejutkan komunitasnya dan berharap hal itu tidak melukai hubungan Islam dan Kristen. Di Thuringen sendiri saat ini ada sekitar 3000 muslim yang bermukim di sana.
Sebagaimana dilaporkan der Spiegel, pendeta Roland Weisselberg kedapatan melakukan aksi bunuh diri di depan biara Augustiner di kota Erfurt, ibukota negara bagian Thuringen pada Selasa (31/10) yang lalu. Saat itu bertepatan dengan peringatan Hari Reformasi –salah satu hari besar umat Kristen Evangelis-. Sang pendeta diketahui membakar dirinya sendiri selepas menyiram bensin ke sekujur tubuh. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit khusus luka bakar di kota Halle. Namun karena luka bakar yang sangat serius, keesokan harinya pendeta malang itu menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Menurut keterangan saksi mata, sekitar pukul 10.30 pendeta berusia 73 tahun itu naik ke atas biara. Di atas ketinggian sekitar 2,5 meter itulah ia menjalankan aksi bunuh dirinya. Pegawai gereja dan biarawati yang berada disana berusaha untuk menolong dengan menyiram air ke tubuhnya. Adapun sekitar 300 jamaah gereja yang sedang mengikuti kebaktian mengaku tidak melihat sama sekali upaya bunuh diri di tempat terbuka itu.
Weisselberg yang pensiun tahun 1989 meninggalkan sepucuk surat kepada istrinya. Dalam surat terakhir kepada istrinya itu, ia menyebut alasan bunuh diri karena khawatir dengan semakin berkembangnya Islam di Jerman serta lemahnya upaya gereja dalam hal itu. Peristiwa ini mirip kasus Agustus 1976, saat mana pendeta Oskar Brüsewitz juga melakukan hal yang sama. Namun Brüsewitz bunuh diri karena alasan tekanan pemerintahan komunis di Jerman Timur saat itu.
Di Jerman -dan Eropa secara umum- saat ini bisa dikatakan banyak gereja yang kosong. Hanya kalangan tua saja yang umum terlihat datang ke sana. Sedangkan kaum mudanya malah tidak peduli lagi dengan agama. Majalah beroplah besar terbitan Perancis, Figaro dalam satu laporannya menulis, “Kehadiran umat Islam di masjid yang sedemikian banyak di Jerman, membuat Paus mengimpikan sambutan yang sama terhadap gereja.”
Patut dicatat pula, selepas peristiwa 11 September 2001 di New York, Islam malah makin banyak mendapatkan perhatian dari warga asli Jerman. Penisbatan teroris terhadap Islam justru menyebabkan minat mempelajari Islam semakin tinggi. Malah selepas kejadian itu Al-Quran sempat Ausverkauft (terjual habis).
Adapun warga Jerman yang masuk Islam, bukanlah karena adanya upaya penyebaran terselubung atau cara-cara tidak terpuji lainnya dari Islam. Motif kebanyakan pemeluk Islam di Jerman semata-mata karena ketertarikan mereka secara pribadi akan nilai-nilai yang diserukan oleh Islam. (Zulkarnain Jalil, Jerman).
Wednesday, November 08, 2006
Catatan Idul Fitri 1427 H Eropa:
Likok Pulo Semarakkan Lebaran di Jerman
Masyarakat muslim di Jerman dan Eropa umumnya merayakan Hari Raya Idul Fitri 1427 H pada Senin (23/10). Di Jerman, warga Indonesia di kota-kota besar seperti Berlin, Hamburg, dan Frankfurt mengikuti shalat Id yang diadakan oleh KBRI dan Konsulat Jenderal setempat. Sebagian besar lainnya mengikuti shalat Id di mesjid Turki atau Arab. Lain halnya di Muenchen, warga Indonesia yang berdomisili di kota terbesar ketiga di Jerman itu berinisitif untuk mengadakan sendiri acara shalat Idul Fitri. Istimewanya -tidak seperti di Tanah Air- jamaah ‘Id tidak langsung pulang selepas shalat. Akan tetapi mengadakan berbagai aneka acara seperti nasyid, hiburan anak-anak, hingga pemutaran film sembari bersilaturrahim.
Kontributor Serambi di Jerman -yang bertindak sebagai khatib dan imam di sana- mengamati antusiasme yang tinggi terutama di kalangan anak-anak. Terlebih lagi tatkala Tari Likok Pulo tampil di pentas, tepuk tangan dan decak kagum penonton bagai tak henti setiap para penari menyelesaikan satu variasi gerakan cepat yang diiringi pantun khas Aceh.
“Kami hanya punya waktu efektif untuk belajar sekitar satu minggu. Maklum para penari sibuk dengan kuliah juga. Namun Alhamdulillah, teman-teman cepat beradaptasi dengan tarian ini,” ungkap Teuku Edward, sang pelatih sumringah. Edward –kandidat master di Technische Universitaet Muenchen- dan grup tarinya kontan mendapat tawaran tampil pada acara Malam Budaya Indonesia Muenchen Nopember mendatang. Tak pelak lagi Likok Pulo memang memukau.
Hal lainnya, selepas shalat ‘Id anak-anak juga memperoleh hadiah dari orang tua atau sanak saudara mereka. Hal ini memang sudah mentradisi baik di Jerman maupun Eropa secara umum.
“Sebabnya –sebagai perbandingan- anak-anak selalu mendapat hadiah di sekolah pada saat Natal tiba. Karena itu orang tua perlu mengimbanginya di kala lebaran guna menunjukkan kepada anak-anak mereka bahwa Islam pun punya hari besar,“ tukas Estananto, salah seorang panitia acara itu.
“Bagi muslim yang tinggal di negara Barat hal tersebut menjadi penting. Jika tidak, anak-anak tak akan kenal dengan hari-hari besar Islam yang berujung lunturnya kecintaan pada Islam, “ imbuh Estananto lagi.
Sementara itu di Perancis, ucapan “Bonne Fete” (selamat Idul Fitri) telah menjadi sapaan favorit di kalangan muslim di sana. Sapaan dalam bahasa Perancis itu bahkan melebihi ucapan tradisional yang biasa diucapkan orang tua mereka yang sebagian besar berasal dari Maroko dan Aljazair. Di Perancis -dan beberapa negara Eropa lainnya- Idul Fitri bukanlah libur resmi, sehingga warga tetap ke kantor atau sekolah selepas shalat Id. Namun kebanyakan orang tua tidak mengantar anaknya ke sekolah pada hari pertama lebaran. Hal ini juga untuk menjaga kecintaan Islam bagi anak-anak.
Sebagian besar Warga Indonesia melaksanakan shalat Id di kantor KBRI Paris.
“Yang tidak ada cuma Timphan, lainnya mudah didapat disini, “ ujar Taufik Akbar, mahasiswa asal Aceh mengomentari lebaran di sana seraya tertawa.
Adapun di Italia, tepatnya di kota Milan -seperti dilaporkan IslamOnline (23/10) Idul Fitri yang berlangsung Senin kemarin membawa kebahagiaan tersendiri bagi banyak warga muslim di sana. Shalat Id yang berlangsung di tempat terbuka sekaligus jadi ajang silaturrahim sesama warga muslim di kota mode itu.
Muslim Italia hingga saat ini masih menghadapi banyak kendala terutama meningkatnya Islamofobia di negara Pizza itu. Di Italia warga muslim sedikit tertekan dengan gencarnya propaganda media massa yang menyudutkan Islam yang mengidentikkan Islam dengan terorisme dan kekerasan.
“Kami berusaha melupakan masa-masa sulit itu dan menikmati hari lebaran ‘Id,” ujar Ali Abu Oshwaima, direktur Islamic Center Milan kepada IslamOnline. Di Milan sendiri ada tiga mesjid besar dengan menara dan kubah, disamping 35 mushalla dan 150 toko halal. Populasi muslim Italia saat ini ada sekitar 1,2 juta jiwa, termasuk 20.000 muallaf asli negara Eropa bagian Selatan itu.
Yang menarik adalah di Spanyol, suasana perayaan Idul Fitri sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Setelah dua tahun berada dalam rasa tidak nyaman, selepas kasus penangkapan muslim oleh polisi pada peristiwa bom di kota Madrid (2002) yang menewaskan 190 warga disana. Islam jadi target utama dimana warga muslim, mesjid, Islamic Center sempat jadi sasaran kebencian.
Namun kemarin, suasana Idul Fitri berlangsung meriah. Shalat ‘Id yang berkesan adalah di mesjid Granada. Masjid indah di puncak bukit, menghadap Pegunungan Sierra Nevada dan istana Alhambra itu diresmikan kembali pemakaiannya pada 10 Juli 2003 silam. Kumandang azan di Granada bergema lagi setelah hampir 500 tahun ! Beberapa orang turis muslim yang ada disana terharu, seakan tidak percaya bangunan itu dulunya adalah mesjid.
Laporan IslamOnline menyebutkan media Spanyol yang sebelumnya “garang“ tampak lebih bersahabat, terutama berita-berita yang menyejukkan beberapa hari menjelang lebaran. Mereka berhenti menghujat dan bahkan mengundang tokoh muslim untuk berbicara tentang Islam selama Ramadhan maupun Idul Fitri. Beberapa saluran televisi malah menyiarkan dokumentasi singkat berkenaan persiapan Idul fitri. Misalnya, stasiun televisi Euskal Telebista bahkan mengirim reporternya ke Rabat -ibukota Marokko- guna meliput suasana menjelang Idul Fitri di negara Afrika Utara itu. Patut diketahui warga Maroko merupakan imigran terbesar di Spanyol.
Lain halnya dengan harian La Ley yang mengangkat tentang keingintahuan warga Spanyol tentang Ramadhan serta meningkatnya warga Spanyol yang memeluk Islam. “Kini dengan mudah kita temui orang-orang Spanyol yang belajar tradisi ritual Islam,” tulis surat kabar itu dalam laporan terbarunya.
Selama Ramadhan hubungan muslim dan non muslim juga jadi sorotan. Pemutaran film “Sea and Heaven” –Lautan dan Syurga- yang menceritakan sejarah Andalusia (sekarang Spanyol) mendapat perhatian khusus.
Budaya Andalusia sangat dipengaruhi oleh pemerintahan Muslim di wilayah itu selama delapan abad. Andalusia berasal dari nama bahasa Arab "Al Andalus". Dalam sejarah dinasti Islam di Andalusia, dikisahkan masyarakat pada masa itu baik Yahudi, Kristen, maupun Islam hidup berdampingan secara damai. Mesjid Cordoba di Andalusia –kini beralih fungsi sebagai gereja- adalah saksi bisu kejayaan Islam selama 800 tahun di Spanyol.
Sedikitnya saat ini ada 800.000 muslim dari total 40 juta jiwa penduduk Spanyol. Negara yang terletak di Selatan Eropa itu telah menerima Islam sebagai agama melalui undang-undang kebebasan beragama pada Juli 1967. Saat ini muslim di Spanyol masih terus mengupayakan adanya hari libur resmi pada hari-hari besar Islam. Wallahu ‘alam bisshawab.
(Zulkarnain Jalil Serambinews (28/10)).
Likok Pulo Semarakkan Lebaran di Jerman
Masyarakat muslim di Jerman dan Eropa umumnya merayakan Hari Raya Idul Fitri 1427 H pada Senin (23/10). Di Jerman, warga Indonesia di kota-kota besar seperti Berlin, Hamburg, dan Frankfurt mengikuti shalat Id yang diadakan oleh KBRI dan Konsulat Jenderal setempat. Sebagian besar lainnya mengikuti shalat Id di mesjid Turki atau Arab. Lain halnya di Muenchen, warga Indonesia yang berdomisili di kota terbesar ketiga di Jerman itu berinisitif untuk mengadakan sendiri acara shalat Idul Fitri. Istimewanya -tidak seperti di Tanah Air- jamaah ‘Id tidak langsung pulang selepas shalat. Akan tetapi mengadakan berbagai aneka acara seperti nasyid, hiburan anak-anak, hingga pemutaran film sembari bersilaturrahim.
Kontributor Serambi di Jerman -yang bertindak sebagai khatib dan imam di sana- mengamati antusiasme yang tinggi terutama di kalangan anak-anak. Terlebih lagi tatkala Tari Likok Pulo tampil di pentas, tepuk tangan dan decak kagum penonton bagai tak henti setiap para penari menyelesaikan satu variasi gerakan cepat yang diiringi pantun khas Aceh.
“Kami hanya punya waktu efektif untuk belajar sekitar satu minggu. Maklum para penari sibuk dengan kuliah juga. Namun Alhamdulillah, teman-teman cepat beradaptasi dengan tarian ini,” ungkap Teuku Edward, sang pelatih sumringah. Edward –kandidat master di Technische Universitaet Muenchen- dan grup tarinya kontan mendapat tawaran tampil pada acara Malam Budaya Indonesia Muenchen Nopember mendatang. Tak pelak lagi Likok Pulo memang memukau.
Hal lainnya, selepas shalat ‘Id anak-anak juga memperoleh hadiah dari orang tua atau sanak saudara mereka. Hal ini memang sudah mentradisi baik di Jerman maupun Eropa secara umum.
“Sebabnya –sebagai perbandingan- anak-anak selalu mendapat hadiah di sekolah pada saat Natal tiba. Karena itu orang tua perlu mengimbanginya di kala lebaran guna menunjukkan kepada anak-anak mereka bahwa Islam pun punya hari besar,“ tukas Estananto, salah seorang panitia acara itu.
“Bagi muslim yang tinggal di negara Barat hal tersebut menjadi penting. Jika tidak, anak-anak tak akan kenal dengan hari-hari besar Islam yang berujung lunturnya kecintaan pada Islam, “ imbuh Estananto lagi.
Sementara itu di Perancis, ucapan “Bonne Fete” (selamat Idul Fitri) telah menjadi sapaan favorit di kalangan muslim di sana. Sapaan dalam bahasa Perancis itu bahkan melebihi ucapan tradisional yang biasa diucapkan orang tua mereka yang sebagian besar berasal dari Maroko dan Aljazair. Di Perancis -dan beberapa negara Eropa lainnya- Idul Fitri bukanlah libur resmi, sehingga warga tetap ke kantor atau sekolah selepas shalat Id. Namun kebanyakan orang tua tidak mengantar anaknya ke sekolah pada hari pertama lebaran. Hal ini juga untuk menjaga kecintaan Islam bagi anak-anak.
Sebagian besar Warga Indonesia melaksanakan shalat Id di kantor KBRI Paris.
“Yang tidak ada cuma Timphan, lainnya mudah didapat disini, “ ujar Taufik Akbar, mahasiswa asal Aceh mengomentari lebaran di sana seraya tertawa.
Adapun di Italia, tepatnya di kota Milan -seperti dilaporkan IslamOnline (23/10) Idul Fitri yang berlangsung Senin kemarin membawa kebahagiaan tersendiri bagi banyak warga muslim di sana. Shalat Id yang berlangsung di tempat terbuka sekaligus jadi ajang silaturrahim sesama warga muslim di kota mode itu.
Muslim Italia hingga saat ini masih menghadapi banyak kendala terutama meningkatnya Islamofobia di negara Pizza itu. Di Italia warga muslim sedikit tertekan dengan gencarnya propaganda media massa yang menyudutkan Islam yang mengidentikkan Islam dengan terorisme dan kekerasan.
“Kami berusaha melupakan masa-masa sulit itu dan menikmati hari lebaran ‘Id,” ujar Ali Abu Oshwaima, direktur Islamic Center Milan kepada IslamOnline. Di Milan sendiri ada tiga mesjid besar dengan menara dan kubah, disamping 35 mushalla dan 150 toko halal. Populasi muslim Italia saat ini ada sekitar 1,2 juta jiwa, termasuk 20.000 muallaf asli negara Eropa bagian Selatan itu.
Yang menarik adalah di Spanyol, suasana perayaan Idul Fitri sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Setelah dua tahun berada dalam rasa tidak nyaman, selepas kasus penangkapan muslim oleh polisi pada peristiwa bom di kota Madrid (2002) yang menewaskan 190 warga disana. Islam jadi target utama dimana warga muslim, mesjid, Islamic Center sempat jadi sasaran kebencian.
Namun kemarin, suasana Idul Fitri berlangsung meriah. Shalat ‘Id yang berkesan adalah di mesjid Granada. Masjid indah di puncak bukit, menghadap Pegunungan Sierra Nevada dan istana Alhambra itu diresmikan kembali pemakaiannya pada 10 Juli 2003 silam. Kumandang azan di Granada bergema lagi setelah hampir 500 tahun ! Beberapa orang turis muslim yang ada disana terharu, seakan tidak percaya bangunan itu dulunya adalah mesjid.
Laporan IslamOnline menyebutkan media Spanyol yang sebelumnya “garang“ tampak lebih bersahabat, terutama berita-berita yang menyejukkan beberapa hari menjelang lebaran. Mereka berhenti menghujat dan bahkan mengundang tokoh muslim untuk berbicara tentang Islam selama Ramadhan maupun Idul Fitri. Beberapa saluran televisi malah menyiarkan dokumentasi singkat berkenaan persiapan Idul fitri. Misalnya, stasiun televisi Euskal Telebista bahkan mengirim reporternya ke Rabat -ibukota Marokko- guna meliput suasana menjelang Idul Fitri di negara Afrika Utara itu. Patut diketahui warga Maroko merupakan imigran terbesar di Spanyol.
Lain halnya dengan harian La Ley yang mengangkat tentang keingintahuan warga Spanyol tentang Ramadhan serta meningkatnya warga Spanyol yang memeluk Islam. “Kini dengan mudah kita temui orang-orang Spanyol yang belajar tradisi ritual Islam,” tulis surat kabar itu dalam laporan terbarunya.
Selama Ramadhan hubungan muslim dan non muslim juga jadi sorotan. Pemutaran film “Sea and Heaven” –Lautan dan Syurga- yang menceritakan sejarah Andalusia (sekarang Spanyol) mendapat perhatian khusus.
Budaya Andalusia sangat dipengaruhi oleh pemerintahan Muslim di wilayah itu selama delapan abad. Andalusia berasal dari nama bahasa Arab "Al Andalus". Dalam sejarah dinasti Islam di Andalusia, dikisahkan masyarakat pada masa itu baik Yahudi, Kristen, maupun Islam hidup berdampingan secara damai. Mesjid Cordoba di Andalusia –kini beralih fungsi sebagai gereja- adalah saksi bisu kejayaan Islam selama 800 tahun di Spanyol.
Sedikitnya saat ini ada 800.000 muslim dari total 40 juta jiwa penduduk Spanyol. Negara yang terletak di Selatan Eropa itu telah menerima Islam sebagai agama melalui undang-undang kebebasan beragama pada Juli 1967. Saat ini muslim di Spanyol masih terus mengupayakan adanya hari libur resmi pada hari-hari besar Islam. Wallahu ‘alam bisshawab.
(Zulkarnain Jalil Serambinews (28/10)).
Friday, November 03, 2006
Salju Pertama 2006
1 Nopember, tepatnya malam hari, salju pertama tahun 2006 mulai turun. Walaupun tidak besar, hanya butiran-butiran kecil. Nampaknya tahun ini salju turun lebih awal dibandingkan 2005 yang baru turun bulan sekitar Desember. Manusia jaket pun kini makin banyak bertebaran di jalan-jalan. Jadi ingat anak-anak kalau lagi saljuan seperti ini.
1 Nopember, tepatnya malam hari, salju pertama tahun 2006 mulai turun. Walaupun tidak besar, hanya butiran-butiran kecil. Nampaknya tahun ini salju turun lebih awal dibandingkan 2005 yang baru turun bulan sekitar Desember. Manusia jaket pun kini makin banyak bertebaran di jalan-jalan. Jadi ingat anak-anak kalau lagi saljuan seperti ini.
Monday, October 30, 2006
Fenomena Zeitumstellung
Hari Minggu (29/10), di seluruh Eropa dan negara-negara dengan empat musim musti menggeser jarum jam 1 jam ke belakang. Fenomena ini di dalam bahasa Jerman dikenal dengan sebutan Zeitumstellung (pergeseran/perubahan waktu). Ya setiap perpindahan musim panas ke musim dingin ada perbedaaan waktu. Misalnya di musim panas, siang lebih panjang. Sementara di musim dingin, siang jadi lebih pendek. Biasanya jam di komputer atau jam-jam tertentu yang ada di jalan, taman itu bergeser mundur secara otomatis. Kecuali jam weker di rumah yaa di putar sendiri 1 jam mundur -pas Sabtu malamnya (28/10). Asyik juga bisa tidur 1 jam lebih lama.
Ini nih latar belakangnya, tapi maaf masih belum sempat nerjemahin (harap sabar pak redaktur, artikel ini dipending dulu ya).
Der Hintergrund Die "normale" Zeit ist eigentlich die Winterzeit.Die "Sommerzeit" wurde 1980 behördlich verordnet, um - noch unter dem Eindruck der Ölkrise von 1973 - Energie zu sparen und das Tageslicht besser auszunutzen. Deutschland wollte sich zudem Nachbarländern anpassen, die die Sommerzeit bereits eingeführt hatten. Ob die Einführung der Sommerzeit sinnvoll war, ist nach wie vor umstritten. Nach Angaben des Umweltbundes- amtes steigt im Zusammenhang mit der Sommerzeit -entgegen früheren Hoffnungen- der Energieverbrauch. An den Abenden wird zwar am elektrischen Licht gespart, dafür jedoch am Morgen - vor allem im noch kühlen April - mehr geheizt.Schon während des ersten Weltkrieges wurde an Plänen über eine Zeitumstellung zum Sommer gearbeitet. In den Jahren 1940 bis 1949 wurden die Pläne aufgegriffen und wie zu dieser Zeit üblich weit übertrieben. 1947 gab es eine "Hochsommerzeit", mit einer Differnz von zwei ganzen Stunden zur Mitteleuropäischen Zeit.Ab 1950 hat man drei Jahrzehnte Abstand von einer Zeitumstellung genommen.Rechtsgrundlagen: Europäische UnionRichtlinie 2000/84/EG des Europäischen Parlaments und des Rates vom 19. Jänner 2001ÖsterreichZeitzählungsgesetz, BGBl. Nr. 78/1976, in der Fassung BGBl. Nr. 52/1981Verordnung über die Sommerzeit in den Kalenderjahren 2002 bis 2006, BGBl. II Nr. 209/2001
Hari Minggu (29/10), di seluruh Eropa dan negara-negara dengan empat musim musti menggeser jarum jam 1 jam ke belakang. Fenomena ini di dalam bahasa Jerman dikenal dengan sebutan Zeitumstellung (pergeseran/perubahan waktu). Ya setiap perpindahan musim panas ke musim dingin ada perbedaaan waktu. Misalnya di musim panas, siang lebih panjang. Sementara di musim dingin, siang jadi lebih pendek. Biasanya jam di komputer atau jam-jam tertentu yang ada di jalan, taman itu bergeser mundur secara otomatis. Kecuali jam weker di rumah yaa di putar sendiri 1 jam mundur -pas Sabtu malamnya (28/10). Asyik juga bisa tidur 1 jam lebih lama.
Ini nih latar belakangnya, tapi maaf masih belum sempat nerjemahin (harap sabar pak redaktur, artikel ini dipending dulu ya).
Der Hintergrund Die "normale" Zeit ist eigentlich die Winterzeit.Die "Sommerzeit" wurde 1980 behördlich verordnet, um - noch unter dem Eindruck der Ölkrise von 1973 - Energie zu sparen und das Tageslicht besser auszunutzen. Deutschland wollte sich zudem Nachbarländern anpassen, die die Sommerzeit bereits eingeführt hatten. Ob die Einführung der Sommerzeit sinnvoll war, ist nach wie vor umstritten. Nach Angaben des Umweltbundes- amtes steigt im Zusammenhang mit der Sommerzeit -entgegen früheren Hoffnungen- der Energieverbrauch. An den Abenden wird zwar am elektrischen Licht gespart, dafür jedoch am Morgen - vor allem im noch kühlen April - mehr geheizt.Schon während des ersten Weltkrieges wurde an Plänen über eine Zeitumstellung zum Sommer gearbeitet. In den Jahren 1940 bis 1949 wurden die Pläne aufgegriffen und wie zu dieser Zeit üblich weit übertrieben. 1947 gab es eine "Hochsommerzeit", mit einer Differnz von zwei ganzen Stunden zur Mitteleuropäischen Zeit.Ab 1950 hat man drei Jahrzehnte Abstand von einer Zeitumstellung genommen.Rechtsgrundlagen: Europäische UnionRichtlinie 2000/84/EG des Europäischen Parlaments und des Rates vom 19. Jänner 2001ÖsterreichZeitzählungsgesetz, BGBl. Nr. 78/1976, in der Fassung BGBl. Nr. 52/1981Verordnung über die Sommerzeit in den Kalenderjahren 2002 bis 2006, BGBl. II Nr. 209/2001
http://www.joergmueller.de/hintergrund.html
Friday, October 27, 2006
Warga Aceh di rantau; Ada yang rindu Boh Rom Rom
“Ini abang sama sinyak. Anak kita tambah cabak, dah pintar nangis..” Demikian isi SMS yang diterima Erfiati, salah satu mahasiswi asal Aceh yang saat ini sedang studi di Universitas Leipzig, Jerman. SMS dari suaminya di Banda Aceh itu kontan bikin sesak dada menahan rasa rindu. Er –panggilan perempuan asal Beureunuen ini- mengaku sering menelpon ke kampung hanya untuk mendengar suara tangisan anaknya yang masih berusia lima bulan . Erfiati, barangkali bisa jadi satu diantara sekian banyak mahasiswa Aceh di luar negeri yang harus memendam rindu akan kampung halaman.
Jauh dari kampung, keluarga atau sanak saudara, konon lagi menjelang lebaran, memang sungguh menyiksa batin. Saat ini ada ratusan lebih warga Aceh bertebaran di beberapa negara Eropa. Sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa, ada juga yang telah menetap lama. Selain rindu keluarga, ada pula yang rindu akan masakan, dan tentunya juga suasana Ramadhan. Menariknya lagi, selama di rantau kebanyakan dari mereka justru jadi mahir memasak.
“Saya sering masak sendiri selama puasa. Padahal saya dulu paling ndak bisa masak. Sekarang udah bisa buat rendang Aceh..he..he..,” ujar Meutia, mahasiswa Kedokteran di Universitas Muenster, Jerman sembari terkekeh. Alumni SMA 1 Banda Aceh ini mengaku untuk mengobati rindu sampai berpayah-payah belanja ikan ke Enschede, Belanda yang berbatasan dengan Jerman.
“Pokok jih ta lawok-lawok laju, mangat keudro (pokoknya diaduk-aduk saja, nanti enak sendiri-red),” ujar Bahi, yang tinggal di kota Ulm.
“Alah bisa karena terpaksa,” tambah Bahi memelesetkan sebuah pepatah. Lain halnya Syafii yang tinggal di Valladolid, Spanyol. Pria lajang asal Sanggeu, Pidie ini malah kangen berat dengan boh rom-rom. Untuk masalah masakan khas Aceh sebagian besar memang membawa bumbu sejak berangkat dari Aceh.
Tidak mau kalah dengan saudaranya di kampung, warga Aceh di Eropa ada juga yang mengadakan tradisi meugang. Ali Jahja misalnya, pria asal Meureudu yang tinggal di Hamburg mengaku tiap Ramadhan dan lebaran selalu mengadakan meugang.
“Bagaimana di kampung, ya begini pula di sini. Misal meugang, kami buat juga,” ujar Aminah, istri Ali Yahya yang sudah 38 tahun berada di Jerman.
Tak kurang serunya adalah keluarga Tgk. Iskandar yang tinggal di Amsterdam, Belanda. Pria asal Tanoh Abee, Aceh Besar yang sudah lebih dari 30 tahun di Belanda ini tampaknya terkesan suasana berbuka bersama di mesjid seperti di Tanah Air. Hampir setiap hari Iskandar dan keluarganya berbuka di mesjid PPME (Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa), Amsterdam. Ia bersama warga Indonesia lainnya saling bergantian membawa makanan.untuk berbuka.
“Malah ada juga warga Belanda, Afrika, atau Suriname yang datang ikut berbuka,” ungkap Tgk. Iskandar yang membuka usaha restoran di ibukota Belanda itu.
“Selama Ramadhan, kami juga mendatangkan ustazd dari Indonesia yang berkeliling dari satu kota ke kota lainnya. Biasaya ada lebih dari satu orang ustazd, jadi saling bergantian di tiap kota,” imbuh pria yang putra-putrinya lahir dan besar di Belanda.
Di Belanda sendiri saat ini ada sekitar 200-an mesjid, dan dari 15,6 juta penduduknya ada sekitar 1 juta warga yang beragama Islam. Kaum muslim yang terbesar disana adalah keturunan Turki, selain itu ada Maroko, Aljazair, dan Suriname.
Banyak pula pengalaman menarik lainnya seputar Ramadhan. Misalnya Erfiati yang kadang terpaksa meneguk air di keran kamar mandi di kampusnya untuk berbuka.
“Kalau lagi kuliah sampe sore, dan ndak sempat pulang, saya ke toilet batalin puasa pake air keran,” ungkap alumni MAN Sigli yang saat ini mengambil master Global Studies di Leipzig. Hal yang sama juga dialami temannya sekampus Nadya Rusydi yang berasal dari Banda Aceh.
Entah kapan lagi aku merasakan indahnya alam dari Tebing Bak Ret.
Entah kapan lagi aku merasakan nikmatnya mereguk secangkir kopi di Ulee Kareng.
Entah kapan lagi aku merasakan suasana pagi yang diwarnai ocehan Nyak-Nyak di Pasar Aceh. Entah kapan lagi merasakan indahnya malam di Rek.......
Demikian sejumput ungkapan rindu akan Aceh yang ditulis di sebuah blog (diari online). Masih banyak lagi tentunya pengalaman menarik dengan beragam corak keunikannya. Intinya, Aceh tetap lon sayang.
(Zulkarnain Jalil, dari Jerman untuk Serambi Indonesia)
“Ini abang sama sinyak. Anak kita tambah cabak, dah pintar nangis..” Demikian isi SMS yang diterima Erfiati, salah satu mahasiswi asal Aceh yang saat ini sedang studi di Universitas Leipzig, Jerman. SMS dari suaminya di Banda Aceh itu kontan bikin sesak dada menahan rasa rindu. Er –panggilan perempuan asal Beureunuen ini- mengaku sering menelpon ke kampung hanya untuk mendengar suara tangisan anaknya yang masih berusia lima bulan . Erfiati, barangkali bisa jadi satu diantara sekian banyak mahasiswa Aceh di luar negeri yang harus memendam rindu akan kampung halaman.
Jauh dari kampung, keluarga atau sanak saudara, konon lagi menjelang lebaran, memang sungguh menyiksa batin. Saat ini ada ratusan lebih warga Aceh bertebaran di beberapa negara Eropa. Sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa, ada juga yang telah menetap lama. Selain rindu keluarga, ada pula yang rindu akan masakan, dan tentunya juga suasana Ramadhan. Menariknya lagi, selama di rantau kebanyakan dari mereka justru jadi mahir memasak.
“Saya sering masak sendiri selama puasa. Padahal saya dulu paling ndak bisa masak. Sekarang udah bisa buat rendang Aceh..he..he..,” ujar Meutia, mahasiswa Kedokteran di Universitas Muenster, Jerman sembari terkekeh. Alumni SMA 1 Banda Aceh ini mengaku untuk mengobati rindu sampai berpayah-payah belanja ikan ke Enschede, Belanda yang berbatasan dengan Jerman.
“Pokok jih ta lawok-lawok laju, mangat keudro (pokoknya diaduk-aduk saja, nanti enak sendiri-red),” ujar Bahi, yang tinggal di kota Ulm.
“Alah bisa karena terpaksa,” tambah Bahi memelesetkan sebuah pepatah. Lain halnya Syafii yang tinggal di Valladolid, Spanyol. Pria lajang asal Sanggeu, Pidie ini malah kangen berat dengan boh rom-rom. Untuk masalah masakan khas Aceh sebagian besar memang membawa bumbu sejak berangkat dari Aceh.
Tidak mau kalah dengan saudaranya di kampung, warga Aceh di Eropa ada juga yang mengadakan tradisi meugang. Ali Jahja misalnya, pria asal Meureudu yang tinggal di Hamburg mengaku tiap Ramadhan dan lebaran selalu mengadakan meugang.
“Bagaimana di kampung, ya begini pula di sini. Misal meugang, kami buat juga,” ujar Aminah, istri Ali Yahya yang sudah 38 tahun berada di Jerman.
Tak kurang serunya adalah keluarga Tgk. Iskandar yang tinggal di Amsterdam, Belanda. Pria asal Tanoh Abee, Aceh Besar yang sudah lebih dari 30 tahun di Belanda ini tampaknya terkesan suasana berbuka bersama di mesjid seperti di Tanah Air. Hampir setiap hari Iskandar dan keluarganya berbuka di mesjid PPME (Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa), Amsterdam. Ia bersama warga Indonesia lainnya saling bergantian membawa makanan.untuk berbuka.
“Malah ada juga warga Belanda, Afrika, atau Suriname yang datang ikut berbuka,” ungkap Tgk. Iskandar yang membuka usaha restoran di ibukota Belanda itu.
“Selama Ramadhan, kami juga mendatangkan ustazd dari Indonesia yang berkeliling dari satu kota ke kota lainnya. Biasaya ada lebih dari satu orang ustazd, jadi saling bergantian di tiap kota,” imbuh pria yang putra-putrinya lahir dan besar di Belanda.
Di Belanda sendiri saat ini ada sekitar 200-an mesjid, dan dari 15,6 juta penduduknya ada sekitar 1 juta warga yang beragama Islam. Kaum muslim yang terbesar disana adalah keturunan Turki, selain itu ada Maroko, Aljazair, dan Suriname.
Banyak pula pengalaman menarik lainnya seputar Ramadhan. Misalnya Erfiati yang kadang terpaksa meneguk air di keran kamar mandi di kampusnya untuk berbuka.
“Kalau lagi kuliah sampe sore, dan ndak sempat pulang, saya ke toilet batalin puasa pake air keran,” ungkap alumni MAN Sigli yang saat ini mengambil master Global Studies di Leipzig. Hal yang sama juga dialami temannya sekampus Nadya Rusydi yang berasal dari Banda Aceh.
Entah kapan lagi aku merasakan indahnya alam dari Tebing Bak Ret.
Entah kapan lagi aku merasakan nikmatnya mereguk secangkir kopi di Ulee Kareng.
Entah kapan lagi aku merasakan suasana pagi yang diwarnai ocehan Nyak-Nyak di Pasar Aceh. Entah kapan lagi merasakan indahnya malam di Rek.......
Demikian sejumput ungkapan rindu akan Aceh yang ditulis di sebuah blog (diari online). Masih banyak lagi tentunya pengalaman menarik dengan beragam corak keunikannya. Intinya, Aceh tetap lon sayang.
(Zulkarnain Jalil, dari Jerman untuk Serambi Indonesia)
Thursday, October 26, 2006
Di Aceh Ada Kanji, di Perancis Ada Harira
JIKA kita berkunjung ke Paris-ibukota Perancis- maka siapa sangka kota yang identik dengan mode dan glamournya selebritis dunia itu juga memancarkan nuansa Islam, utamanya di bulan Ramadhan.
Di Evry misalnya, kota kecil berjarak 25 kilometer arah selatan Paris, dihuni 15.000 muslim, yang merupakan sepertiga populasi penduduk kota itu. Masjid dan Islamic Centernya adalah terbesar kedua di Perancis. Warga muslim Perancis sendiri kini ada sekitar 5 juta jiwa yang merupakan populasi terbesar di Eropa.
Selama Ramadhan, sedikitnya 1.500 jamaah meramaikan masjid Evry sepanjang hari. Kala waktu berbuka tiba, jamaah berkumpul di ruangan bawah tanah. Aroma masakan Maroko langsung menyergap. Khalil Merroun-imam masjid––ikut membantu jamaahnya mencuci piring selepas berbuka. Lalu kembali ke ruangan shalat guna menyampaikan ceramah berbahasa Arab maupun Perancis. Begitulah rutinitas di masjid yang dibangun tahun 1985 yang merupakan sumbangan Raja Hassan II dari Maroko.
Ramadhan memang bikin kagum warga Perancis. Sebuah survei yang dilakukan oleh koresponden Islamonline di Paris menyebutkan, mayoritas warga Perancis mengaku kagum dan takjub akan kemampuan rekannya yang muslim dalam menahan napsu (makan, minum, dan lainya) sepanjang hari.
“Benar-benar mengagumkan, teman karib saya tiba-tiba berhenti ke kedai kopi selama Ramadhan,” ujar Escafi yang ikut menikmati malam Ramadhan bersama rekan-rekannya yang muslim di Saint Denis, utara Paris. Saint Denis merupakan tempat berdiamnya populasi muslim terbesar di Perancis ––500.000 jiwa- dari jumlah penduduk kota itu 1,4 juta jiwa.
Namun, harus diakui, berpuasa di negeri berpenduduk 63 juta jiwa juga tidak mudah, terutama untuk menjaga pandangan mata. “Yang cukup berat di sini ya menahan godaan mata, karena walaupun sudah mulai dingin masih banyak yang berpakaian sangat seksi, atau bahkan ada yang asyik peluk cium di depan umum. Kadang suka risih juga melihatnya. Tapi gimana lagi namanya juga kultur mereka. Paling kita palingkan wajah atau pindah tempat duduk,” begitu pengakuan Adhi Setiaji, seorang warga Indonesia yang bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi di Paris.
Bagi warga Perancis sendiri, bulan suci Ramadhan juga identik dengan sup Maroko (harira) yang terkenal lezat itu. Ibaratnya barangkali seperti kanji di tempat kita yang tersedia gratis kala berbuka di hampir semua masjid dan meunasah di Aceh. Bicara masalah makanan, muslim Perancis berani tampil beda.
Jika kita berjalan agak ke timur Paris, tepatnya di Clichy-sous-Bois di sana ada restoran halal, Beurger King Muslim (BKM) namanya. BKM seakan hendak menyaingi McDonalds atau KFC-nya Amerika. Restoran yang dibuka Juli 2005 itu mengikuti sukses Mecca-Cola––menyaingi Coca Cola–– yang diluncurkan November 2002 silam. “Saking gembiranya saya sampai meneteskan air mata,” ungkap Mouna Talbi (24). Mouna yang datang bersama keluarganya menempuh jarak sejauh 90 kilometer untuk membeli burger halal ini. Wanita ini mengaku merasa nyaman berbelanja di sana. “Di restoran lain, saya sering jadi bahan tatapan asing karena berjilbab,” imbuhnya. Pegawai wanita di restoran muslim Aljazair ini juga berjilbab.
Muslimah Perancis memang dikenal sangat teguh mempertahankan jilbabnya kendati ada larangan dari pemerintah. “Jika nanti saya dapat kerja, saya akan tetap berjilbab. Namun saya yakin pasti perusahaan tak akan mengizinkan. Jadi, haruskah saya melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan hati nurani saya?,” tukas Sonya Benhia, mahasiswi muslim yang tinggal di dekat Paris.
“Aku melihat Islam (di Paris), meski tidak ada orang Islam di sana. Aku melihat orang Islam di Kairo, tetapi tak melihat Islam di sana”. Itulah kalimat terkenal yang dilontarkan Syekh Muhammad Abduh. Pemikir muslim dari Mesir tersebut pernah tinggal di Paris pada tahun 1884 saat mana diasingkan oleh pemerintahnya. Kini, di negara yang terkenal dengan menara Eiffel-nya itu tentu sudah jauh berbeda dengan yang dilihat Syekh Abduh dulu.
“Arus masuk Islam menjadi fenomena yang makin meluas di Perancis. Saya yakin nilai-nilai yang diserukan Islam itulah yang menjadi motif pertama kebanyakan pemeluk Islam baru di sini,” demikian dikatakan Steve Brodwer, seorang muallaf baru, seperti disitir Islamonline.
Zulkarnain Jalil, Serambinews 16 Oktober 2006
JIKA kita berkunjung ke Paris-ibukota Perancis- maka siapa sangka kota yang identik dengan mode dan glamournya selebritis dunia itu juga memancarkan nuansa Islam, utamanya di bulan Ramadhan.
Di Evry misalnya, kota kecil berjarak 25 kilometer arah selatan Paris, dihuni 15.000 muslim, yang merupakan sepertiga populasi penduduk kota itu. Masjid dan Islamic Centernya adalah terbesar kedua di Perancis. Warga muslim Perancis sendiri kini ada sekitar 5 juta jiwa yang merupakan populasi terbesar di Eropa.
Selama Ramadhan, sedikitnya 1.500 jamaah meramaikan masjid Evry sepanjang hari. Kala waktu berbuka tiba, jamaah berkumpul di ruangan bawah tanah. Aroma masakan Maroko langsung menyergap. Khalil Merroun-imam masjid––ikut membantu jamaahnya mencuci piring selepas berbuka. Lalu kembali ke ruangan shalat guna menyampaikan ceramah berbahasa Arab maupun Perancis. Begitulah rutinitas di masjid yang dibangun tahun 1985 yang merupakan sumbangan Raja Hassan II dari Maroko.
Ramadhan memang bikin kagum warga Perancis. Sebuah survei yang dilakukan oleh koresponden Islamonline di Paris menyebutkan, mayoritas warga Perancis mengaku kagum dan takjub akan kemampuan rekannya yang muslim dalam menahan napsu (makan, minum, dan lainya) sepanjang hari.
“Benar-benar mengagumkan, teman karib saya tiba-tiba berhenti ke kedai kopi selama Ramadhan,” ujar Escafi yang ikut menikmati malam Ramadhan bersama rekan-rekannya yang muslim di Saint Denis, utara Paris. Saint Denis merupakan tempat berdiamnya populasi muslim terbesar di Perancis ––500.000 jiwa- dari jumlah penduduk kota itu 1,4 juta jiwa.
Namun, harus diakui, berpuasa di negeri berpenduduk 63 juta jiwa juga tidak mudah, terutama untuk menjaga pandangan mata. “Yang cukup berat di sini ya menahan godaan mata, karena walaupun sudah mulai dingin masih banyak yang berpakaian sangat seksi, atau bahkan ada yang asyik peluk cium di depan umum. Kadang suka risih juga melihatnya. Tapi gimana lagi namanya juga kultur mereka. Paling kita palingkan wajah atau pindah tempat duduk,” begitu pengakuan Adhi Setiaji, seorang warga Indonesia yang bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi di Paris.
Bagi warga Perancis sendiri, bulan suci Ramadhan juga identik dengan sup Maroko (harira) yang terkenal lezat itu. Ibaratnya barangkali seperti kanji di tempat kita yang tersedia gratis kala berbuka di hampir semua masjid dan meunasah di Aceh. Bicara masalah makanan, muslim Perancis berani tampil beda.
Jika kita berjalan agak ke timur Paris, tepatnya di Clichy-sous-Bois di sana ada restoran halal, Beurger King Muslim (BKM) namanya. BKM seakan hendak menyaingi McDonalds atau KFC-nya Amerika. Restoran yang dibuka Juli 2005 itu mengikuti sukses Mecca-Cola––menyaingi Coca Cola–– yang diluncurkan November 2002 silam. “Saking gembiranya saya sampai meneteskan air mata,” ungkap Mouna Talbi (24). Mouna yang datang bersama keluarganya menempuh jarak sejauh 90 kilometer untuk membeli burger halal ini. Wanita ini mengaku merasa nyaman berbelanja di sana. “Di restoran lain, saya sering jadi bahan tatapan asing karena berjilbab,” imbuhnya. Pegawai wanita di restoran muslim Aljazair ini juga berjilbab.
Muslimah Perancis memang dikenal sangat teguh mempertahankan jilbabnya kendati ada larangan dari pemerintah. “Jika nanti saya dapat kerja, saya akan tetap berjilbab. Namun saya yakin pasti perusahaan tak akan mengizinkan. Jadi, haruskah saya melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan hati nurani saya?,” tukas Sonya Benhia, mahasiswi muslim yang tinggal di dekat Paris.
“Aku melihat Islam (di Paris), meski tidak ada orang Islam di sana. Aku melihat orang Islam di Kairo, tetapi tak melihat Islam di sana”. Itulah kalimat terkenal yang dilontarkan Syekh Muhammad Abduh. Pemikir muslim dari Mesir tersebut pernah tinggal di Paris pada tahun 1884 saat mana diasingkan oleh pemerintahnya. Kini, di negara yang terkenal dengan menara Eiffel-nya itu tentu sudah jauh berbeda dengan yang dilihat Syekh Abduh dulu.
“Arus masuk Islam menjadi fenomena yang makin meluas di Perancis. Saya yakin nilai-nilai yang diserukan Islam itulah yang menjadi motif pertama kebanyakan pemeluk Islam baru di sini,” demikian dikatakan Steve Brodwer, seorang muallaf baru, seperti disitir Islamonline.
Zulkarnain Jalil, Serambinews 16 Oktober 2006
Mengintip Suasana Puasa di barak militer Austria
Austria –tetangga terdekat Jerman- boleh dijuluki sebagai Serambi Mekkahnya Eropa. Tidak percaya ? Pasalnya, Islam di Austria termasuk agama yang diakui oleh negara sejak tahun 1912. Berbeda dengan negara Eropa lainnya –katakanlah Jerman atau Perancis. Muslim Austria menurut data terbaru diperkirakan berjumlah 400.000 jiwa atau 4 persen dari 8 juta jiwa warga Austria. Populasi Islam di Austria memang terbilang kecil, tetapi lebih beruntung daripada warga muslim lain di Eropa. Hak-hak mereka dijamin oleh undang-undang.
“Adanya undang-undang yang mengatur keberadaan Islam membuat muslim di Austria mudah berintegrasi, sehingga terbangun komunikasi positif antara Islam dengan pemerintah dan organisasi sosial kemasyarakatan,” ujar Prof. Anas Shakfa, Ketua Himpunan Muslim Austria sebagaimana dikutip Islamonline. Kabar terkini menyebutkan saat ini amandemen undang-undang baru tentang pendirian sekolah untuk mendidik para calon imam/guru agama Islam sedang dalam penggodokan.
Patut diketahui di sekolah-sekolah di Austria kini juga ada mata pelajaran agama Islam. Mata pelajaran ini dimulai sejak tahun ajaran 1982/1983 silam. Karena itu pula pada tahun 1998 dibuka sebuah Akademi Agama Islam. Institusi ini tiap tahunnya menghasilkan lulusan berkualitas guna memenuhi tuntutan ketersediaan pengajar mata pelajaran agama Islam di sekolah-sekolah di Austria.
Hal menarik lainnya, saat ini pertumbuhan generasi kedua dan ketiga imigran di Autria telah memberi warna baru di barak militer. Seperti dilaporkan harian Salzburg (23/9), saat ini ada sekitar 1100 tentara beragama Islam di tubuh departemen pertahanan Austria. Disebabkan besarnya jumlah itu –setara dengan tentara yang beragama Katolik dan Evangelis- maka saat ini sedang diupayakan pengadaan ulama di lapangan bagi para tentara tersebut.
“Tentara beragama Islam disini juga diizinkan berpuasa. Bahkan makanan untuk bersahur dan berbuka juga disediakan. Ini menunjukkan respek pemerintah yang tinggi,” imbuh Prof. Anas lebih lanjut. Pada hari-hari besar Islam warga muslim di Austria juga memperoleh masa libur. Idul Adha mendapat prioritas dengan masa libur selama empat hari, sementara Idul Fitri tiga hari.
Uniknya lagi, para tentara muslim dibolehkan juga berjenggot. Hal yang sama juga berlaku bagi penganut aliran Sikh –yang dibolehkan memelihara jenggot dan sorban khas mereka.
Hal lainnya lagi, kehalalan makanan bagi tentara muslim sangatlah diperhatikan, disamping bebas dari daging babi tentunya.
Adapun para tentara yang bermarkas di pusat komando militer Wina –ibukota Austria- kini malah memiliki sebuah mushalla yang aktif digunakan untuk shalat lima waktu dan shalat Jumat. Mushalla seluas 40 meter persegi -dibuka Februari 2002- itu mampu menampung sekitar 60 jamaah. Berikut seorang imam yang bertugas memberikan bimbingan rohani bagi tentara muslim di barak militer tersebut.
"Sebelumnya para tentara muslim itu menunaikan shalat Jumat di mesjid yang terletak jauh dari markas,“ ujar Atila Külcü, salah seorang petugas mushalla. Di Austria sendiri saat ini ada lebih sekitar 100 hingga 130 mesjid besar dan kecil.
Prof. Anas Shakfa menyebutkan integrasi muslim di Austria bisa menjadi model sukses bagi negara Eropa lainnya.
"Atmosfir di Austria kini sangat menyenangkan dan kami berharap tentu saja hal ini menjadi contoh teladan bagi tetangga kami yang lain,“ujar pria kelahiran Syiria ini lebih lanjut dalam satu wawancara dengan dengan televisi Jerman ARD stasiun transmisi Wina. Maka tak heran pula jika Prof. Bernard Lewis, pakar Timur Tengah pada Universitas Princeton, AS sampai mengatakan bahwa Eropa akan makin Islami di penghujung abad ke-21. Wallahu'alam bisshawab. (Zulkarnain Jalil, dari Jerman, Serambinews 21.10.2006)
Austria –tetangga terdekat Jerman- boleh dijuluki sebagai Serambi Mekkahnya Eropa. Tidak percaya ? Pasalnya, Islam di Austria termasuk agama yang diakui oleh negara sejak tahun 1912. Berbeda dengan negara Eropa lainnya –katakanlah Jerman atau Perancis. Muslim Austria menurut data terbaru diperkirakan berjumlah 400.000 jiwa atau 4 persen dari 8 juta jiwa warga Austria. Populasi Islam di Austria memang terbilang kecil, tetapi lebih beruntung daripada warga muslim lain di Eropa. Hak-hak mereka dijamin oleh undang-undang.
“Adanya undang-undang yang mengatur keberadaan Islam membuat muslim di Austria mudah berintegrasi, sehingga terbangun komunikasi positif antara Islam dengan pemerintah dan organisasi sosial kemasyarakatan,” ujar Prof. Anas Shakfa, Ketua Himpunan Muslim Austria sebagaimana dikutip Islamonline. Kabar terkini menyebutkan saat ini amandemen undang-undang baru tentang pendirian sekolah untuk mendidik para calon imam/guru agama Islam sedang dalam penggodokan.
Patut diketahui di sekolah-sekolah di Austria kini juga ada mata pelajaran agama Islam. Mata pelajaran ini dimulai sejak tahun ajaran 1982/1983 silam. Karena itu pula pada tahun 1998 dibuka sebuah Akademi Agama Islam. Institusi ini tiap tahunnya menghasilkan lulusan berkualitas guna memenuhi tuntutan ketersediaan pengajar mata pelajaran agama Islam di sekolah-sekolah di Austria.
Hal menarik lainnya, saat ini pertumbuhan generasi kedua dan ketiga imigran di Autria telah memberi warna baru di barak militer. Seperti dilaporkan harian Salzburg (23/9), saat ini ada sekitar 1100 tentara beragama Islam di tubuh departemen pertahanan Austria. Disebabkan besarnya jumlah itu –setara dengan tentara yang beragama Katolik dan Evangelis- maka saat ini sedang diupayakan pengadaan ulama di lapangan bagi para tentara tersebut.
“Tentara beragama Islam disini juga diizinkan berpuasa. Bahkan makanan untuk bersahur dan berbuka juga disediakan. Ini menunjukkan respek pemerintah yang tinggi,” imbuh Prof. Anas lebih lanjut. Pada hari-hari besar Islam warga muslim di Austria juga memperoleh masa libur. Idul Adha mendapat prioritas dengan masa libur selama empat hari, sementara Idul Fitri tiga hari.
Uniknya lagi, para tentara muslim dibolehkan juga berjenggot. Hal yang sama juga berlaku bagi penganut aliran Sikh –yang dibolehkan memelihara jenggot dan sorban khas mereka.
Hal lainnya lagi, kehalalan makanan bagi tentara muslim sangatlah diperhatikan, disamping bebas dari daging babi tentunya.
Adapun para tentara yang bermarkas di pusat komando militer Wina –ibukota Austria- kini malah memiliki sebuah mushalla yang aktif digunakan untuk shalat lima waktu dan shalat Jumat. Mushalla seluas 40 meter persegi -dibuka Februari 2002- itu mampu menampung sekitar 60 jamaah. Berikut seorang imam yang bertugas memberikan bimbingan rohani bagi tentara muslim di barak militer tersebut.
"Sebelumnya para tentara muslim itu menunaikan shalat Jumat di mesjid yang terletak jauh dari markas,“ ujar Atila Külcü, salah seorang petugas mushalla. Di Austria sendiri saat ini ada lebih sekitar 100 hingga 130 mesjid besar dan kecil.
Prof. Anas Shakfa menyebutkan integrasi muslim di Austria bisa menjadi model sukses bagi negara Eropa lainnya.
"Atmosfir di Austria kini sangat menyenangkan dan kami berharap tentu saja hal ini menjadi contoh teladan bagi tetangga kami yang lain,“ujar pria kelahiran Syiria ini lebih lanjut dalam satu wawancara dengan dengan televisi Jerman ARD stasiun transmisi Wina. Maka tak heran pula jika Prof. Bernard Lewis, pakar Timur Tengah pada Universitas Princeton, AS sampai mengatakan bahwa Eropa akan makin Islami di penghujung abad ke-21. Wallahu'alam bisshawab. (Zulkarnain Jalil, dari Jerman, Serambinews 21.10.2006)
Saturday, October 07, 2006
Ada Ramadhan di Bundesliga
Siapa sangka ada Ramadan di Bundesliga (Liga Jerman). Adalah ARD, salah satu televisi swasta Jerman yang menyiarkan satu mata acara guna membahas hal tersebut. “Ramadan in der Bundesliga” (Ramadan di Bundesliga), demikian judul acaranya. Dalam dialog dengan pemain, pelatih dan dokter terungkap beberapa hal menarik, terutama bagaimana pemain muslim di Bundesliga menjalani puasa selama kompetisi berlangsung.
Mehdi Mahdavikia yang bermain di klub Hamburg SV mengaku sejak Minggu(24/9) sudah mulai berpuasa. Pemain asal Iran ini seperti tahun lalu tetap menunjukkan kemampuannya meski main di bulan puasa. Akan tetapi Mehdi juga menyebutkan, jika dalam satu pertandingan atau latihan mulai terasa berat, biasanya ia berbuka dan menggantinya di hari lain. “Dia tahu mana yang terbaik, kapan musti makan dan kapan musti istirahat,“ ujar Thomas Doll, pelatihnya.
Adapun sebagian pemain muslim lain tetap bersikukuh menjalankan puasanya secara penuh. Penyerang Schalke04 asal Turki, Hamit Altintop tetap puasa dan ikut program latihan. “Saya tidak mau kompromi masalah itu (puasa) dengan pelatih", tegas pemain nasional Turki itu. Saudara kembarnya Halil menambahkan; "Saya pada hari biasa juga selalu berusaha menjalankan perintah agama. Akan tetapi kepentingan team tetap menjadi prioritas”. Halil Altintop selalu ingat Ramadhan sebagaimana disambut warga Turki lainnya:“Ramadhan bikin kita tahu, bagaimana lapar dan hausnya mereka-mereka yang hari ini terpaksa menahan lapar, karena bencana gempa misalnya“.
Demikian juga Abdel Aziz Ahanfouf yang bermain di klub Arminia Bielefeld. Pemain nasional Marokko ini mengaku sejak bertahun-tahun sangat ketat mengikuti aturan Ramadan.“Saya nanti mau masuk syurga, karena itu tidak ada pengecualian,” ujar mantan pemain MSV Duisburg itu.
Tetap main dengan perut kosong ? Bagaimana tanggapan pelatih ? Pelatih MSV Duisburg , Rudi Bommer mengatakan ia sudah biasa menangani pemain yang berpuasa. “Musim lalu ketika melatih FC. Saarbrücken, ada empat pemain kami yang muslim, mereka juga tetap berpuasa,” ungkap Bommer.
Mantan pelatih 1860 Muenchen ini malah memberikan kelonggaran kepada pemainnya. “Ada pemain tetap main baik. Tentu saja ada juga yang sedikit berkurang kekuatannya. Sebab itu adakalanya saya tidak memainkannya secara penuh,” terang Bommer lebih lanjut.
Khusus bagi pemain yang mengadakan perjalanan jauh untuk pertandingan antar negara, Bommer menyarankan pemainnya –jika mungkin- untuk tidak puasa.”Saya kira itu juga dijelaskan dalam Quran,“ ujar Bommer seraya menambahkan agar pada saat berbuka menghindari jenis makanan fast food (cepat saji).
Akan tetapi hal ini ada semacam kekurangmengertian di pihak dokter .Dr Nicolas Gumpert termasuk salah satu yang khawatir dengan pemain yang berpuasa. “Olahragawan butuh glikogen yang merupakan sumber energi cadangan. Glikogen pasti akan cepat hilang selama puasa,” ujar Gumpert. Akan tetapi Rudi Bommer menimpali:”Namun kita juga harus menaruh hormat pada agama seseorang,”
Di Liga Jerman secara umum pemain muslim banyak yang berasal dari kawasan Turki dan Afrika Utara (Maroko, Mesir, Tunisia).
Yang menarik adalah di Belanda yang bertetanggaan dengan Jerman. Ibrahim Afellay dan Ismail Aissati -PSV Eindhoven- misalnya, melaksanakan puasa secara penuh. Pemain berdarah Marokko itu juga tetap dimainkan saat PSV menaklukkan Bordeaux di Liga Champion (27/9). Saat ini ada sekitar 20-an pemain muslim dari tim junior hingga senior di PSV. Manajemen PSV sendiri sampai perlu mendatangkan imam untuk menerangkan perihal Ramadhan.
(Zulkarnain Jalil, Kontributor Serambi di Jerman)
Siapa sangka ada Ramadan di Bundesliga (Liga Jerman). Adalah ARD, salah satu televisi swasta Jerman yang menyiarkan satu mata acara guna membahas hal tersebut. “Ramadan in der Bundesliga” (Ramadan di Bundesliga), demikian judul acaranya. Dalam dialog dengan pemain, pelatih dan dokter terungkap beberapa hal menarik, terutama bagaimana pemain muslim di Bundesliga menjalani puasa selama kompetisi berlangsung.
Mehdi Mahdavikia yang bermain di klub Hamburg SV mengaku sejak Minggu(24/9) sudah mulai berpuasa. Pemain asal Iran ini seperti tahun lalu tetap menunjukkan kemampuannya meski main di bulan puasa. Akan tetapi Mehdi juga menyebutkan, jika dalam satu pertandingan atau latihan mulai terasa berat, biasanya ia berbuka dan menggantinya di hari lain. “Dia tahu mana yang terbaik, kapan musti makan dan kapan musti istirahat,“ ujar Thomas Doll, pelatihnya.
Adapun sebagian pemain muslim lain tetap bersikukuh menjalankan puasanya secara penuh. Penyerang Schalke04 asal Turki, Hamit Altintop tetap puasa dan ikut program latihan. “Saya tidak mau kompromi masalah itu (puasa) dengan pelatih", tegas pemain nasional Turki itu. Saudara kembarnya Halil menambahkan; "Saya pada hari biasa juga selalu berusaha menjalankan perintah agama. Akan tetapi kepentingan team tetap menjadi prioritas”. Halil Altintop selalu ingat Ramadhan sebagaimana disambut warga Turki lainnya:“Ramadhan bikin kita tahu, bagaimana lapar dan hausnya mereka-mereka yang hari ini terpaksa menahan lapar, karena bencana gempa misalnya“.
Demikian juga Abdel Aziz Ahanfouf yang bermain di klub Arminia Bielefeld. Pemain nasional Marokko ini mengaku sejak bertahun-tahun sangat ketat mengikuti aturan Ramadan.“Saya nanti mau masuk syurga, karena itu tidak ada pengecualian,” ujar mantan pemain MSV Duisburg itu.
Tetap main dengan perut kosong ? Bagaimana tanggapan pelatih ? Pelatih MSV Duisburg , Rudi Bommer mengatakan ia sudah biasa menangani pemain yang berpuasa. “Musim lalu ketika melatih FC. Saarbrücken, ada empat pemain kami yang muslim, mereka juga tetap berpuasa,” ungkap Bommer.
Mantan pelatih 1860 Muenchen ini malah memberikan kelonggaran kepada pemainnya. “Ada pemain tetap main baik. Tentu saja ada juga yang sedikit berkurang kekuatannya. Sebab itu adakalanya saya tidak memainkannya secara penuh,” terang Bommer lebih lanjut.
Khusus bagi pemain yang mengadakan perjalanan jauh untuk pertandingan antar negara, Bommer menyarankan pemainnya –jika mungkin- untuk tidak puasa.”Saya kira itu juga dijelaskan dalam Quran,“ ujar Bommer seraya menambahkan agar pada saat berbuka menghindari jenis makanan fast food (cepat saji).
Akan tetapi hal ini ada semacam kekurangmengertian di pihak dokter .Dr Nicolas Gumpert termasuk salah satu yang khawatir dengan pemain yang berpuasa. “Olahragawan butuh glikogen yang merupakan sumber energi cadangan. Glikogen pasti akan cepat hilang selama puasa,” ujar Gumpert. Akan tetapi Rudi Bommer menimpali:”Namun kita juga harus menaruh hormat pada agama seseorang,”
Di Liga Jerman secara umum pemain muslim banyak yang berasal dari kawasan Turki dan Afrika Utara (Maroko, Mesir, Tunisia).
Yang menarik adalah di Belanda yang bertetanggaan dengan Jerman. Ibrahim Afellay dan Ismail Aissati -PSV Eindhoven- misalnya, melaksanakan puasa secara penuh. Pemain berdarah Marokko itu juga tetap dimainkan saat PSV menaklukkan Bordeaux di Liga Champion (27/9). Saat ini ada sekitar 20-an pemain muslim dari tim junior hingga senior di PSV. Manajemen PSV sendiri sampai perlu mendatangkan imam untuk menerangkan perihal Ramadhan.
(Zulkarnain Jalil, Kontributor Serambi di Jerman)
Friday, October 06, 2006
Catatan dari Hari Mesjid se-Jerman:
Tak Sebatas Kagum, tapi ada yang Ikut Shalat
RASA ingin tahu apa itu Islam menyeruak pada saat berlangsungnya acara Tag der Offenen Moschee (TOM) atau hari masjid se-Jerman, Selasa 3 Oktober 2006 bertepatan dengan hari ke-10 Ramadhan 1427 H.
“Pertanyaan yang banyak muncul berkenaan dengan konflik kekinian seputar masalah terorisme, lalu tentang wanita dalam Islam, jilbab, dan puasa Ramadhan” ujar Mounir Azzaoui, koordinator acara TOM 2006 di markas Zentralrat der Muslime (ZDM), Koln. Azzaoui yang juga jurubicara ZDM menyatakan ada sekitar 800 masjid di beberapa kota di Jerman membuka pintunya bagi para pengunjung, terutama warga Jerman.
Seperti dilaporkan televisi berita Jerman N-TV, Selasa (3/10), sedikitnya 90.000 pengunjung hadir dalam acara yang bertepatan dengan hari libur di seluruh Jerman itu. Kebanyakan para pengunjung baru pertama kali melihat masjid. Umumnya ingin memperoleh info berkenaan kehidupan keseharian seorang muslim.
“Kalau bukan karena kasus teror 11 September 2001 di Amerika, mungkin kami tidak pernah tahu apa itu Islam dan masjid,” ujar Jürgen Kallmann yang datang bersama istrinya mengunjungi Masjid Ayasofya Moschee, di Neuss-Norf, Duesseldorf. Pasangan usia lanjut ini mengaku pertama kali mengikuti acara ini tahun 2001. Sejak saat itulah muncul rasa ingin tahu mereka tentang Islam.
Para pengunjung juga mengagumi arsitektur di beberapa masjid yang tergolong besar. Seperti di Masjid Sehitlik, Berlin yang berasitektur ala Turki. Mereka berkeliling hingga ke atas kubah masjid. Di Masjid Merkez Berlin, Peter Becker -seorang pengunjung- sangat terkesan dengan suasananya. “Seperti sebuah keluarga besar saja”, ujar Becker menyiratkan rasa kagum. Yang menarik adalah di Kota Koln, di sana malah ada pengunjung yang menonton dan bahkan ikutan shalat.
“Islam adalah agama damai, membunuh hal dilarang dalam Islam,” ujar salah seorang pengurus Masjid Sehitlik menanggapi pertanyaan tentang terorisme dan Islam. “Kami bukan penyokong al-Qaida, dan Islam bukan pembawa bencana serta tidak identik dengan peperangan,” urai Talat Kamran di hadapan pengunjung yang menjenguk Masjid Yavuz Sultan Selim, Mannheim.
TOM 2006 merupakan penyelenggaraan yang kesepuluh sejak dilaksanakan pertama sekali tahun 1997. TOM tahun ini terasa lebih berkesan, karena bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Banyak masjid juga ikut mengundang warga Jerman untuk buka bersama.
Di Jerman saat ini umat Islam mencapai 3,5 juta jiwa, atau terbesar kedua setelah Kristen. Sedangkan jumlah masjid di seluruh Jerman menurut data terbaru mencapai 2.300 masjid. Masjid terbesar adalah Yavuz Sultan Selim di Kota Mannheim yang mampu menampung hingga 2.000 jamaah. Di Duisburg dan Koln saat ini sedang dalam tahap perencanaan pembangunan masjid yang mampu menampung 1.200 jamaah. Adapun masjid tertua terdapat di Wilmersdorf, Berlin yang dibangun tahun 1924. (zulkarnain jalil, kontributor Serambi di Jerman). Serambinews (6/10)
Tak Sebatas Kagum, tapi ada yang Ikut Shalat
RASA ingin tahu apa itu Islam menyeruak pada saat berlangsungnya acara Tag der Offenen Moschee (TOM) atau hari masjid se-Jerman, Selasa 3 Oktober 2006 bertepatan dengan hari ke-10 Ramadhan 1427 H.
“Pertanyaan yang banyak muncul berkenaan dengan konflik kekinian seputar masalah terorisme, lalu tentang wanita dalam Islam, jilbab, dan puasa Ramadhan” ujar Mounir Azzaoui, koordinator acara TOM 2006 di markas Zentralrat der Muslime (ZDM), Koln. Azzaoui yang juga jurubicara ZDM menyatakan ada sekitar 800 masjid di beberapa kota di Jerman membuka pintunya bagi para pengunjung, terutama warga Jerman.
Seperti dilaporkan televisi berita Jerman N-TV, Selasa (3/10), sedikitnya 90.000 pengunjung hadir dalam acara yang bertepatan dengan hari libur di seluruh Jerman itu. Kebanyakan para pengunjung baru pertama kali melihat masjid. Umumnya ingin memperoleh info berkenaan kehidupan keseharian seorang muslim.
“Kalau bukan karena kasus teror 11 September 2001 di Amerika, mungkin kami tidak pernah tahu apa itu Islam dan masjid,” ujar Jürgen Kallmann yang datang bersama istrinya mengunjungi Masjid Ayasofya Moschee, di Neuss-Norf, Duesseldorf. Pasangan usia lanjut ini mengaku pertama kali mengikuti acara ini tahun 2001. Sejak saat itulah muncul rasa ingin tahu mereka tentang Islam.
Para pengunjung juga mengagumi arsitektur di beberapa masjid yang tergolong besar. Seperti di Masjid Sehitlik, Berlin yang berasitektur ala Turki. Mereka berkeliling hingga ke atas kubah masjid. Di Masjid Merkez Berlin, Peter Becker -seorang pengunjung- sangat terkesan dengan suasananya. “Seperti sebuah keluarga besar saja”, ujar Becker menyiratkan rasa kagum. Yang menarik adalah di Kota Koln, di sana malah ada pengunjung yang menonton dan bahkan ikutan shalat.
“Islam adalah agama damai, membunuh hal dilarang dalam Islam,” ujar salah seorang pengurus Masjid Sehitlik menanggapi pertanyaan tentang terorisme dan Islam. “Kami bukan penyokong al-Qaida, dan Islam bukan pembawa bencana serta tidak identik dengan peperangan,” urai Talat Kamran di hadapan pengunjung yang menjenguk Masjid Yavuz Sultan Selim, Mannheim.
TOM 2006 merupakan penyelenggaraan yang kesepuluh sejak dilaksanakan pertama sekali tahun 1997. TOM tahun ini terasa lebih berkesan, karena bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Banyak masjid juga ikut mengundang warga Jerman untuk buka bersama.
Di Jerman saat ini umat Islam mencapai 3,5 juta jiwa, atau terbesar kedua setelah Kristen. Sedangkan jumlah masjid di seluruh Jerman menurut data terbaru mencapai 2.300 masjid. Masjid terbesar adalah Yavuz Sultan Selim di Kota Mannheim yang mampu menampung hingga 2.000 jamaah. Di Duisburg dan Koln saat ini sedang dalam tahap perencanaan pembangunan masjid yang mampu menampung 1.200 jamaah. Adapun masjid tertua terdapat di Wilmersdorf, Berlin yang dibangun tahun 1924. (zulkarnain jalil, kontributor Serambi di Jerman). Serambinews (6/10)
Tuesday, October 03, 2006
Buka Bersama di Jerman; Es gefält mir sehr
Buka bersama adalah kegiatan yang rutin dilakukan oleh umat Islam dimana saja berada. Bagi kita di tanah air, pemandangan ini bisa terlihat baik di mesjid, perkantoran, hotel maupun di warung kopi. Ditambah lagi bunyi sirene dan bedug, komplit sudah ciri khas Ramadhan.
Bagi yang tinggal di luar negeri, buka bersama juga menjadi ajang silaturahmi sesama warga muslim di perantauan. Yang lebih menarik adalah kala warga asli yang nota bene non muslim ikut buka bareng.
“Es gefält mir sehr (Saya benar-benar terkesan),” ujar Andrea sembari menyantap makanan yang disuguhkan dalam acara buka bersama masyarakat Indonesia di Dresden, sebuah kota indah di pinggiran Jerman Timur.
Andrea dan anaknya Maya adalah warga asli Dresden yang sore itu ingin melihat langsung acara buka bersama. Beruntungnya, saat itu juga hadir Hakim, warga asli Jerman yang sudah tiga tahun memeluk Islam. Terjadilah dialog menarik berkenaan puasa dan Islam Sabtu kemarin (30/9). Saking terkesannya, mereka berdua mengaku ingin mempelajari lebih jauh lagi tentang Islam.
Istilah Ramadhan boleh jadi sudah dikenal oleh warga Jerman. Namun bahwa selama Ramadhan tidak diperkenankan makan dan minum, tidak semuanya tahu. Ediansjah, mahasiswa program doktor di TU-Dresden, suatu hari menolak makanan yang ditawarkan rekannya di kampus seraya mengatakan ia sedang berpuasa. Si teman tampaknya bisa mengerti. Sejurus kemudian si teman menawarkan minuman. Nah kali ia benar-benar terkejut. “Oo, jadi minum juga tidak boleh ya,” ujar sang teman manggut-manggut merasa takjub. Demikianlah yang umum terjadi di Jerman. Minum atau pun merokok mereka kira masih diperkenankan selama Ramadhan.
“Awalnya Ramadan bagi saya juga berat. Kalau ndak makan ok lah. Tapi ndak boleh minum dan merokok ?. Wah, berat juga ya,” tukas Hakim sambil tertawa geer mengenang Ramadhan pertamanya 2003 silam.
Tampaknya Ramadan cukup efektif sebagai sarana mengenalkan Islam bagi warga asli setempat. Sebab itu pula kabarnya Zentralrat der Muslime in Deutschland (ZMD) sebagai wakil organisasi masyarakat Islam di Jerman bermaksud mengadakan buka bersama se-Jerman pada tanggal 3 Oktober mendatang. Warga Jerman non muslim turut diundang mengikuti acara yang rencananya bakal digelar di mesjid-mesjid yang ada di seluruh pelosok Jerman. Menarik untuk ditunggu. (Zulkarnain Jalil, Jerman, Serambi Indonesia 2/10).
Buka bersama adalah kegiatan yang rutin dilakukan oleh umat Islam dimana saja berada. Bagi kita di tanah air, pemandangan ini bisa terlihat baik di mesjid, perkantoran, hotel maupun di warung kopi. Ditambah lagi bunyi sirene dan bedug, komplit sudah ciri khas Ramadhan.
Bagi yang tinggal di luar negeri, buka bersama juga menjadi ajang silaturahmi sesama warga muslim di perantauan. Yang lebih menarik adalah kala warga asli yang nota bene non muslim ikut buka bareng.
“Es gefält mir sehr (Saya benar-benar terkesan),” ujar Andrea sembari menyantap makanan yang disuguhkan dalam acara buka bersama masyarakat Indonesia di Dresden, sebuah kota indah di pinggiran Jerman Timur.
Andrea dan anaknya Maya adalah warga asli Dresden yang sore itu ingin melihat langsung acara buka bersama. Beruntungnya, saat itu juga hadir Hakim, warga asli Jerman yang sudah tiga tahun memeluk Islam. Terjadilah dialog menarik berkenaan puasa dan Islam Sabtu kemarin (30/9). Saking terkesannya, mereka berdua mengaku ingin mempelajari lebih jauh lagi tentang Islam.
Istilah Ramadhan boleh jadi sudah dikenal oleh warga Jerman. Namun bahwa selama Ramadhan tidak diperkenankan makan dan minum, tidak semuanya tahu. Ediansjah, mahasiswa program doktor di TU-Dresden, suatu hari menolak makanan yang ditawarkan rekannya di kampus seraya mengatakan ia sedang berpuasa. Si teman tampaknya bisa mengerti. Sejurus kemudian si teman menawarkan minuman. Nah kali ia benar-benar terkejut. “Oo, jadi minum juga tidak boleh ya,” ujar sang teman manggut-manggut merasa takjub. Demikianlah yang umum terjadi di Jerman. Minum atau pun merokok mereka kira masih diperkenankan selama Ramadhan.
“Awalnya Ramadan bagi saya juga berat. Kalau ndak makan ok lah. Tapi ndak boleh minum dan merokok ?. Wah, berat juga ya,” tukas Hakim sambil tertawa geer mengenang Ramadhan pertamanya 2003 silam.
Tampaknya Ramadan cukup efektif sebagai sarana mengenalkan Islam bagi warga asli setempat. Sebab itu pula kabarnya Zentralrat der Muslime in Deutschland (ZMD) sebagai wakil organisasi masyarakat Islam di Jerman bermaksud mengadakan buka bersama se-Jerman pada tanggal 3 Oktober mendatang. Warga Jerman non muslim turut diundang mengikuti acara yang rencananya bakal digelar di mesjid-mesjid yang ada di seluruh pelosok Jerman. Menarik untuk ditunggu. (Zulkarnain Jalil, Jerman, Serambi Indonesia 2/10).
Friday, September 29, 2006
Sukses, Konferensi Organisasi Islam se-Jerman
BERLIN--Islam tidaklah termasuk agama yang diakui oleh negara di Jerman. Namun pemerintah tidak bisa menutup mata atas kenyataan bahwa makin banyak warganya yang beragama Islam dari tahun ke tahun. Saat ini menurut catatan ada sekitar 3,5 juta warga muslim yang berdiam di sana. Karena itu pemerintah mencoba melakukan dialog terbuka dengan wakil-wakil organisasi Islam yang ada di Jerman sebagai upaya penguatan integrasi warga muslim di sana.
Rabu kemarin (27/9) berlangsung sebuah konferensi organisasi Islam se-Jerman yang diadakan di Istana Charlottenburg, Berlin. Kementerian Dalam Negeri sebagai pemrakarsa acara itu mengundang semua wakil organisasi Islam yang ada di Jerman yang terdiri dari berbagai kelompok dan aliran.
Menteri Dalam Negeri Wolfgang Schäuble yang menyampaikan pandangan pemerintah selepas acara itu di gedung parlemen menyebutkan: “Islam adalah bagian dari Jerman dan Eropa. Islam juga bagian dari masa kini dan masa depan kami“. Lebih lanjut Bundestag (DPR-nya Jerman) hari Kamis (28/9) mulai membahas tentang pokok-pokok integrasi Islam di Jerman.
Lebih jauh, Ketua Fraksi Hijau Renate Künachst memandang positif pertemuan tersebut sebagai upaya menuju integrasi yang legal formal. “Tahun-tahun terakhir integrasi di Jerman banyak menghadapi masalah,“ ujar Künachst seraya berharap terbentuknya satu kehidupan harmonis antara penganut Islam dan agama lainnya di Jerman.
Sementara itu Ketua Zentralrat der Muslime in Deutschland (ZMD) –semacam MUI-nya Jerman- Ayyub Axel Köhler, berujar: “Ini merupakan awal yang baik, khususnya bagi pemerintah yang punya niat baik untuk duduk bersama memecahkan persoalan integrasi ini,“. Aiman Mazyek, Sekjen ZMD dalam wawancaranya dengan televisi swasta Jerman ZDF menyebutkan: “Inilah hari yang berkesan bagi Jerman, warga Muslim, dan masa depan integrasi di Jerman.
Konferensi Rabu kemarin tersebut merupakan yang pertama kali di Jerman. Kegiatan itu sekaligus mencairkan hubungan kaku antara pemerintah dan Islam selama hampir setengah abad lamanya. Mendagri secara terbuka menyebutkan bahwa tujuan pertemuan itu guna menguatkan peran Islam dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Konflik yang berlangsung selama ini, semisal masalah pembangunan mesjid, perlakuan terhadap siswi muslim (berjilbab), juga tentang pelajaran agama Islam di sekolah dalam bahasa Jerman, hingga ke masalah pemisahan siswa-siswi dalam olahraga berenang, perlu dicarikan penyelesaiannya. Schäuble juga menambahkan bahwa pertemuan ini bukanlah dialog antar agama, namun dialog antara pemerintah dengan warganya (yang muslim).
Pertemuan di Berlin tersebut –konon lagi di bulan Ramadhan- sedikit banyak meredam semangat anti Islam di dunia Barat. Misalnya pernyataan yang keluar dari bibir Paus Benekditus XVI baru-baru ini, yang menuding Islam sebagai agama tidak rasional dan Nabi Muhammad sebagai tidak humanis. Walau belakangan sang Paus asal Jerman itu meminta maaf atas pernyataannya tersebut.
Diperkirakan sedikitnya saat ini ada sekitar 25 juta warga muslim tinggal di Eropa. Populasi terbesar berdiam di Perancis, yaitu sekitar 5 juta jiwa. Muslim Perancis kebanyakan berasal dari Afrika utara (didominasi Maroko dan Aljazair). Di Jerman, mayoritas muslim datang dari Turki. Sedangkan di Inggris umumnya dari Pakistan dan Bangladesh. Awalnya para pendatang itu tiba di Eropa sebagai tenaga kerja murah antara tahun 1950-1960. Akan tetapi kemudian mereka menetap dan belakangan membawa keluarganya ke Eropa. Adapun generasi saat ini bisa dikatakan sebagai generasi ketiga.
(Zulkarnain Jalil, dari Jerman, Serambinews (30/9).
BERLIN--Islam tidaklah termasuk agama yang diakui oleh negara di Jerman. Namun pemerintah tidak bisa menutup mata atas kenyataan bahwa makin banyak warganya yang beragama Islam dari tahun ke tahun. Saat ini menurut catatan ada sekitar 3,5 juta warga muslim yang berdiam di sana. Karena itu pemerintah mencoba melakukan dialog terbuka dengan wakil-wakil organisasi Islam yang ada di Jerman sebagai upaya penguatan integrasi warga muslim di sana.
Rabu kemarin (27/9) berlangsung sebuah konferensi organisasi Islam se-Jerman yang diadakan di Istana Charlottenburg, Berlin. Kementerian Dalam Negeri sebagai pemrakarsa acara itu mengundang semua wakil organisasi Islam yang ada di Jerman yang terdiri dari berbagai kelompok dan aliran.
Menteri Dalam Negeri Wolfgang Schäuble yang menyampaikan pandangan pemerintah selepas acara itu di gedung parlemen menyebutkan: “Islam adalah bagian dari Jerman dan Eropa. Islam juga bagian dari masa kini dan masa depan kami“. Lebih lanjut Bundestag (DPR-nya Jerman) hari Kamis (28/9) mulai membahas tentang pokok-pokok integrasi Islam di Jerman.
Lebih jauh, Ketua Fraksi Hijau Renate Künachst memandang positif pertemuan tersebut sebagai upaya menuju integrasi yang legal formal. “Tahun-tahun terakhir integrasi di Jerman banyak menghadapi masalah,“ ujar Künachst seraya berharap terbentuknya satu kehidupan harmonis antara penganut Islam dan agama lainnya di Jerman.
Sementara itu Ketua Zentralrat der Muslime in Deutschland (ZMD) –semacam MUI-nya Jerman- Ayyub Axel Köhler, berujar: “Ini merupakan awal yang baik, khususnya bagi pemerintah yang punya niat baik untuk duduk bersama memecahkan persoalan integrasi ini,“. Aiman Mazyek, Sekjen ZMD dalam wawancaranya dengan televisi swasta Jerman ZDF menyebutkan: “Inilah hari yang berkesan bagi Jerman, warga Muslim, dan masa depan integrasi di Jerman.
Konferensi Rabu kemarin tersebut merupakan yang pertama kali di Jerman. Kegiatan itu sekaligus mencairkan hubungan kaku antara pemerintah dan Islam selama hampir setengah abad lamanya. Mendagri secara terbuka menyebutkan bahwa tujuan pertemuan itu guna menguatkan peran Islam dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Konflik yang berlangsung selama ini, semisal masalah pembangunan mesjid, perlakuan terhadap siswi muslim (berjilbab), juga tentang pelajaran agama Islam di sekolah dalam bahasa Jerman, hingga ke masalah pemisahan siswa-siswi dalam olahraga berenang, perlu dicarikan penyelesaiannya. Schäuble juga menambahkan bahwa pertemuan ini bukanlah dialog antar agama, namun dialog antara pemerintah dengan warganya (yang muslim).
Pertemuan di Berlin tersebut –konon lagi di bulan Ramadhan- sedikit banyak meredam semangat anti Islam di dunia Barat. Misalnya pernyataan yang keluar dari bibir Paus Benekditus XVI baru-baru ini, yang menuding Islam sebagai agama tidak rasional dan Nabi Muhammad sebagai tidak humanis. Walau belakangan sang Paus asal Jerman itu meminta maaf atas pernyataannya tersebut.
Diperkirakan sedikitnya saat ini ada sekitar 25 juta warga muslim tinggal di Eropa. Populasi terbesar berdiam di Perancis, yaitu sekitar 5 juta jiwa. Muslim Perancis kebanyakan berasal dari Afrika utara (didominasi Maroko dan Aljazair). Di Jerman, mayoritas muslim datang dari Turki. Sedangkan di Inggris umumnya dari Pakistan dan Bangladesh. Awalnya para pendatang itu tiba di Eropa sebagai tenaga kerja murah antara tahun 1950-1960. Akan tetapi kemudian mereka menetap dan belakangan membawa keluarganya ke Eropa. Adapun generasi saat ini bisa dikatakan sebagai generasi ketiga.
(Zulkarnain Jalil, dari Jerman, Serambinews (30/9).
Thursday, September 28, 2006
Putra Aceh Raih Award Peneliti Muda Terbaik di Jerman
Sebuah award (penghargaan) peneliti muda terbaik diberikan oleh Rheinisch-Westfä lischen Technischen Hochschule (RWTH) Aachen, Jerman kepada Dr.-Ing. Zulfiadi Zulhan. Pria kelahiran Matang Geulumpang Dua, Kab. Bireuen 28 Januari 1973 itu mendapat award Ludwig Bogdandy Preis 2006 atas hasil penelitiannya di bidang metalurgi yang dianggap orisinil dan inovatif serta berguna bagi masa depan. Menariknya, penghargaan ini untuk pertama kalinya dianugerahkan kepada peneliti selain warga Jerman. RWTH Aachen sendiri adalah sebuah perguruan tinggi teknik berkaliber di Jerman, tempat dimana Prof. B.J. Habibie – mantan Presiden Indonesia- pernah menimba ilmu.
Zulfiadi Zulhan lulus ujian doktor (Dr.-Ing.) di Institut für Eisenhüttenkunde (institut untuk ilmu peleburan besi) RWTH Aachen dengan predikat Summa Cumlaude Juni 2006 yang lalu. Disertasi yang bertema “Slag foaming dielectric arc furnace (EAF)“ ditulisnya dalam bahasa Jerman. Adapun perangkat riset untuk menyelidiki porositas permukaan partikel batu bara berikut dengan model matematika guna mengetahui prinsip dasar termodinamika dan kinetika material dirancangnya sendiri. Tak pelak hasil risetnya dilirik oleh kalangan industri pengolahan baja. Dan tak perlu menunggu lama, Siemens VAI, sebuah perusahaan Jerman yang bergerak di bidang konstruksi pabrik baja mengontraknya selama 3 tahun.
“Sebenarnya profesor saya yang menganjurkan agar mencari pengalaman di industri di Jerman sebelum kembali ke Indonesia,“ ujar Zulfiadi yang saat dikontak masih berada di Cina dalam rangka persiapan pabrik “Vacuum Tank Degasser” untuk menghasilkan baja kualitas tinggi.
“Selepas itu saya putuskan kembali ke kampung, mengajar dan meneliti di kampus. Mentransfer ilmu kepada mahasiswa“, imbuh pria yang juga dosen di jurusan Teknik Pertambangan, ITB Bandung dalam bahasa Aceh yang masih kental.
Selama mengerjakan penelitian disertasinya, alumnus SMA Negeri 1 Bireuen ini juga aktif dalam kegiatan pendidikan di RWTH. Misalnya memberikan praktikum dan responsi kepada mahasiswa Jerman. Selain itu ia juga menyelesaikan satu proyek penelitian kerjasama RWTH dengan ISPAT Ltd. India untuk mengoptimisasi proses pembuatan baja.
Ayahnya H. Zulkifli Hanafiah, yang membuka usaha percetakan di Matang Geulumpang Dua dan ibunya Hj. Zubaidah Abubakar (alm) adalah sosok yang berpengaruh dalam hidupnya.
“Saya awalnya mendapat dua beasiswa yaitu dari AUSAID (Australia) dan DAAD (Jerman) pada tahun 2001. Orang tua menganjurkan untuk mengambil di Jerman. Demikian juga saat ditawari menjadi dosen di ITB saya meminta pertimbangan keduanya”, ungkap pria yang menyelesaikan program masternya juga dengan predikat Cumlaude.
“Terima kasih kepada para guru, tanpa ilmu yang kau berikan tentulah keberhasilan ini hanya mimpi belaka. Hal ini juga membuktikan bahwa ilmu dari mereka bisa bersaing di dunia internasional,“ tukas pria yang menikahi Sri Yulis, teman sekelasnya semasa SMA di Bireuen menutup pembicaraan. Anugerah lainnya yang paling berkesan, di Aachen pula mereka memperoleh dua buah hati, Aulia Aghna dan Sybilla Syailannisa yang lahir kembar 29 Maret 2006 silam. (Zulkarnain Jalil, dari Jerman untuk Serambinews (28/9)
Sebuah award (penghargaan) peneliti muda terbaik diberikan oleh Rheinisch-Westfä lischen Technischen Hochschule (RWTH) Aachen, Jerman kepada Dr.-Ing. Zulfiadi Zulhan. Pria kelahiran Matang Geulumpang Dua, Kab. Bireuen 28 Januari 1973 itu mendapat award Ludwig Bogdandy Preis 2006 atas hasil penelitiannya di bidang metalurgi yang dianggap orisinil dan inovatif serta berguna bagi masa depan. Menariknya, penghargaan ini untuk pertama kalinya dianugerahkan kepada peneliti selain warga Jerman. RWTH Aachen sendiri adalah sebuah perguruan tinggi teknik berkaliber di Jerman, tempat dimana Prof. B.J. Habibie – mantan Presiden Indonesia- pernah menimba ilmu.
Zulfiadi Zulhan lulus ujian doktor (Dr.-Ing.) di Institut für Eisenhüttenkunde (institut untuk ilmu peleburan besi) RWTH Aachen dengan predikat Summa Cumlaude Juni 2006 yang lalu. Disertasi yang bertema “Slag foaming dielectric arc furnace (EAF)“ ditulisnya dalam bahasa Jerman. Adapun perangkat riset untuk menyelidiki porositas permukaan partikel batu bara berikut dengan model matematika guna mengetahui prinsip dasar termodinamika dan kinetika material dirancangnya sendiri. Tak pelak hasil risetnya dilirik oleh kalangan industri pengolahan baja. Dan tak perlu menunggu lama, Siemens VAI, sebuah perusahaan Jerman yang bergerak di bidang konstruksi pabrik baja mengontraknya selama 3 tahun.
“Sebenarnya profesor saya yang menganjurkan agar mencari pengalaman di industri di Jerman sebelum kembali ke Indonesia,“ ujar Zulfiadi yang saat dikontak masih berada di Cina dalam rangka persiapan pabrik “Vacuum Tank Degasser” untuk menghasilkan baja kualitas tinggi.
“Selepas itu saya putuskan kembali ke kampung, mengajar dan meneliti di kampus. Mentransfer ilmu kepada mahasiswa“, imbuh pria yang juga dosen di jurusan Teknik Pertambangan, ITB Bandung dalam bahasa Aceh yang masih kental.
Selama mengerjakan penelitian disertasinya, alumnus SMA Negeri 1 Bireuen ini juga aktif dalam kegiatan pendidikan di RWTH. Misalnya memberikan praktikum dan responsi kepada mahasiswa Jerman. Selain itu ia juga menyelesaikan satu proyek penelitian kerjasama RWTH dengan ISPAT Ltd. India untuk mengoptimisasi proses pembuatan baja.
Ayahnya H. Zulkifli Hanafiah, yang membuka usaha percetakan di Matang Geulumpang Dua dan ibunya Hj. Zubaidah Abubakar (alm) adalah sosok yang berpengaruh dalam hidupnya.
“Saya awalnya mendapat dua beasiswa yaitu dari AUSAID (Australia) dan DAAD (Jerman) pada tahun 2001. Orang tua menganjurkan untuk mengambil di Jerman. Demikian juga saat ditawari menjadi dosen di ITB saya meminta pertimbangan keduanya”, ungkap pria yang menyelesaikan program masternya juga dengan predikat Cumlaude.
“Terima kasih kepada para guru, tanpa ilmu yang kau berikan tentulah keberhasilan ini hanya mimpi belaka. Hal ini juga membuktikan bahwa ilmu dari mereka bisa bersaing di dunia internasional,“ tukas pria yang menikahi Sri Yulis, teman sekelasnya semasa SMA di Bireuen menutup pembicaraan. Anugerah lainnya yang paling berkesan, di Aachen pula mereka memperoleh dua buah hati, Aulia Aghna dan Sybilla Syailannisa yang lahir kembar 29 Maret 2006 silam. (Zulkarnain Jalil, dari Jerman untuk Serambinews (28/9)
Tuesday, September 26, 2006
Uji Coba Kereta Magnet di Jerman, 23 Penumpang Tewas
Sebuah kecelakaan hebat terjadi saat uji coba kereta magnet di Emsland, negara bagian Niedersachsen, Jerman Jumat kemarin (22/9). Dilansir Berliner Zeitung (23/9), tragedi naas yang terjadi sekitar pukul sepuluh pagi waktu setempat itu menewaskan 23 penumpang dan beberapa lainnya luka-luka.
Kecelakaan tersebut terjadi karena kereta magnet super cepat yang diberi nama Transrapid menabrak gerbong peralatan teknik. Saat itu Transrapid sendiri sedang melaju dengan kecepatan 200 km/jam. Tak ayal 29 penumpang yang berada di dalam kereta -kebanyakan adalah anggota keluarga para pegawai Transrapid- panik seketika. Selama hampir 6 jam penumpang naas itu masih berada di dalam rongsokan kereta. Petugas tampak kesulitan mengevakuasi para korban karena letak Transrapid yang berada di ketinggian 5 meter dari permukaan tanah.
Presiden Jerman Horst Koehler serta Kanselir Angela Merkel kontan menyatakan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga korban tragedi tersebut. Sementara menteri transportasi Tiefensee membatalkan kunjungannya ke Cina.
Kereta magnet super cepat Jerman tersebut memiliki jalur rel magnet sepanjang 31,5 kilometer yang dibangun antara tahun 1980-1987. Yang menakjubkan adalah kemampuan melajunya yang fantastis, 450 km/jam. Prinsip kerja dari kereta api ini adalah memanfaatkan gaya angkat magnetik yang ada pada rel, sedangkan gaya dorong dihasilkan oleh motor induksi magnetnya. Kereta magnet ini mampu melaju dengan kecepatan maksimal hingga 650 km/jam. Pusat uji coba di Emsland itu boleh disebut sebagai pusat uji coba kereta magnet terbesar di dunia.
Sejauh ini baru ada satu kereta magnet yang sudah dipakai untuk transportasi umum yaitu di Shanghai, Cina yang menghubungkan pusat kota dengan pelabuhan udara. Teknologinya juga produk Jerman.
Kini peristiwa yang sedikit mencoreng wajah teknologi Jerman itu masih dalam penyelidikan para ahli. Terutama keberadaan gerbong peralatan teknik di tempat uji coba menjadi bahan kajian. Yang menjadi tanda tanya besar adalah kenapa kereta dijalankan sementara gerbong peralatan masih berada di jalur rel.
Zulkarnain Jalil, dari Jerman untuk Serambinews (25/9)
Sebuah kecelakaan hebat terjadi saat uji coba kereta magnet di Emsland, negara bagian Niedersachsen, Jerman Jumat kemarin (22/9). Dilansir Berliner Zeitung (23/9), tragedi naas yang terjadi sekitar pukul sepuluh pagi waktu setempat itu menewaskan 23 penumpang dan beberapa lainnya luka-luka.
Kecelakaan tersebut terjadi karena kereta magnet super cepat yang diberi nama Transrapid menabrak gerbong peralatan teknik. Saat itu Transrapid sendiri sedang melaju dengan kecepatan 200 km/jam. Tak ayal 29 penumpang yang berada di dalam kereta -kebanyakan adalah anggota keluarga para pegawai Transrapid- panik seketika. Selama hampir 6 jam penumpang naas itu masih berada di dalam rongsokan kereta. Petugas tampak kesulitan mengevakuasi para korban karena letak Transrapid yang berada di ketinggian 5 meter dari permukaan tanah.
Presiden Jerman Horst Koehler serta Kanselir Angela Merkel kontan menyatakan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga korban tragedi tersebut. Sementara menteri transportasi Tiefensee membatalkan kunjungannya ke Cina.
Kereta magnet super cepat Jerman tersebut memiliki jalur rel magnet sepanjang 31,5 kilometer yang dibangun antara tahun 1980-1987. Yang menakjubkan adalah kemampuan melajunya yang fantastis, 450 km/jam. Prinsip kerja dari kereta api ini adalah memanfaatkan gaya angkat magnetik yang ada pada rel, sedangkan gaya dorong dihasilkan oleh motor induksi magnetnya. Kereta magnet ini mampu melaju dengan kecepatan maksimal hingga 650 km/jam. Pusat uji coba di Emsland itu boleh disebut sebagai pusat uji coba kereta magnet terbesar di dunia.
Sejauh ini baru ada satu kereta magnet yang sudah dipakai untuk transportasi umum yaitu di Shanghai, Cina yang menghubungkan pusat kota dengan pelabuhan udara. Teknologinya juga produk Jerman.
Kini peristiwa yang sedikit mencoreng wajah teknologi Jerman itu masih dalam penyelidikan para ahli. Terutama keberadaan gerbong peralatan teknik di tempat uji coba menjadi bahan kajian. Yang menjadi tanda tanya besar adalah kenapa kereta dijalankan sementara gerbong peralatan masih berada di jalur rel.
Zulkarnain Jalil, dari Jerman untuk Serambinews (25/9)
Sunday, September 24, 2006
Ramadhan 2006
Hari ini 24 September ramadhan hari pertama di Jerman, sebagaimana diumumkan oleh ZMD di islam.de. Di kota Dresden, yang letaknya persis di pinngiran Jerman sebelah timur, sekelompok warga terlihat berkumpul di sebuah apartemen. Kiranya mereka adalah warga Indonesia yang berdiam di sana. tarawih malam pertama berlangsung di kediaman Ediansjah Zulkifli, salah seorang warga Indonesia yang bekerja sebagai asisten peneliti di sebuah institut di TU-Dresden. Bersama istri dan anak-anaknya mereka juga menyediakan makanan berbuka bagi warga Indonesia lainnya yang rata-rata adalah pelajar di sana.
Hari ini 24 September ramadhan hari pertama di Jerman, sebagaimana diumumkan oleh ZMD di islam.de. Di kota Dresden, yang letaknya persis di pinngiran Jerman sebelah timur, sekelompok warga terlihat berkumpul di sebuah apartemen. Kiranya mereka adalah warga Indonesia yang berdiam di sana. tarawih malam pertama berlangsung di kediaman Ediansjah Zulkifli, salah seorang warga Indonesia yang bekerja sebagai asisten peneliti di sebuah institut di TU-Dresden. Bersama istri dan anak-anaknya mereka juga menyediakan makanan berbuka bagi warga Indonesia lainnya yang rata-rata adalah pelajar di sana.
Saturday, September 16, 2006
Jenderal Murung itu Akhirnya Pensiun
Bagi anda penggemar tim nasional Argentina, terlebih lagi kesengsem dengan gocekan Juan Riquelme, maka mulai sekarang sudah bisa menyimpan semua memori dari pemain berwajah “murung” ini. Pasalnya, jenderal lapangan tengah Albiceleste –julukan Argentina- itu menyatakan mengundurkan diri dari tim nasional. Hal itu dikatakannya dalam satu wawancara dengan televisi berita Argentina, Telenoche (13/9). Riquelme menyebutkan masalah psikologis dan kesehatan ibunya yang menjadi alasan pengunduran dirinya.
”Ini keputusan yang sulit sebenarnya. Tentu ada rasa sedih tidak memakai kaos Argentina lagi,” ujar Riquelme yang terakhir memimpin rekan-rekannya saat Argentina kalah melawan Brazil (0:3) di laga persahabatan 3 September yang lalu.
“Namun kesehatan ibuku nomor satu. Dia tidak bisa dibandingkan dengan kaos tim nasional atau apapun yang lainnya,” tukas pemain yang pensiun dini di usia 28, saat mana sebenarnya seorang pemain sedang di puncak karir. Riquelme yang menghabiskan masa kecilnya di sebuah kawasan kumuh di ibukota Argentina, Buenos Aires barangkali bisa dinilai sebagai pemain yang berbakti kepada ibunya.
“Sejak piala dunia yang lalu, ibuku telah dua kali dirawat di rumah sakit dan tugasku untuk menjaga kesehatannya," ujar Riquelme yang menjalani kerasnya kehidupan masa kecil bersama 10 saudara kandungnya itu.
Juan Roman Riquelme nama lengkapnya, pensiun di usia 28 tahun. Terlalu dini memang, apalagi untuk pemain sekaliber dia yang punya penguasaan bola dan visi bermain yang prima. Ia merintis karirnya di klub Boca Juniors, persis seperti Maradona, pemain yang dikaguminya. Lalu pindah ke klub La Liga Spanyol Barcelona (2002). Di klub Catalan itu ia kurang bersinar hingga “dipinjamkan” ke Villareal (2003). Karirnya justru bersinar di Villareal yang dihantarnya hingga ke semifinal Liga Champion musim lalu. Itulah kali pertama klub “kecil” Spanyol tersebut masuk jajaran elit tim-tim Eropa.
Di pentas piala dunia, Riquelme tidak masuk skuad Agentina di Piala Dunia 2002 kala dilatih Marcelo Bielsa. Baru pada Piala Dunia 2006 ia menjadi figur jenderal lapangan tengah di bawah asuhan Jose Pekerman, mantan pelatihnya saat merebut supremasi piala dunia junior tahun 1997. Sayangnya Argentina yang sempat disanjung karena permainan indahnya harus tersingkir di tangan tuan rumah Jerman pada babak perempat final. Banyak pengamat menyebut faktor keluarnya Riquelme di babak kedua sebagai rusaknya irama permainan sehingga Jerman bisa menyamakan kedudukan. Entahlah, yang pasti dunia sepak bola kembali murung selepas jenderal Riquelme pensiun.
Zulkarnain Jalil, dari Jerman untuk Serambinews (16/09)
Bagi anda penggemar tim nasional Argentina, terlebih lagi kesengsem dengan gocekan Juan Riquelme, maka mulai sekarang sudah bisa menyimpan semua memori dari pemain berwajah “murung” ini. Pasalnya, jenderal lapangan tengah Albiceleste –julukan Argentina- itu menyatakan mengundurkan diri dari tim nasional. Hal itu dikatakannya dalam satu wawancara dengan televisi berita Argentina, Telenoche (13/9). Riquelme menyebutkan masalah psikologis dan kesehatan ibunya yang menjadi alasan pengunduran dirinya.
”Ini keputusan yang sulit sebenarnya. Tentu ada rasa sedih tidak memakai kaos Argentina lagi,” ujar Riquelme yang terakhir memimpin rekan-rekannya saat Argentina kalah melawan Brazil (0:3) di laga persahabatan 3 September yang lalu.
“Namun kesehatan ibuku nomor satu. Dia tidak bisa dibandingkan dengan kaos tim nasional atau apapun yang lainnya,” tukas pemain yang pensiun dini di usia 28, saat mana sebenarnya seorang pemain sedang di puncak karir. Riquelme yang menghabiskan masa kecilnya di sebuah kawasan kumuh di ibukota Argentina, Buenos Aires barangkali bisa dinilai sebagai pemain yang berbakti kepada ibunya.
“Sejak piala dunia yang lalu, ibuku telah dua kali dirawat di rumah sakit dan tugasku untuk menjaga kesehatannya," ujar Riquelme yang menjalani kerasnya kehidupan masa kecil bersama 10 saudara kandungnya itu.
Juan Roman Riquelme nama lengkapnya, pensiun di usia 28 tahun. Terlalu dini memang, apalagi untuk pemain sekaliber dia yang punya penguasaan bola dan visi bermain yang prima. Ia merintis karirnya di klub Boca Juniors, persis seperti Maradona, pemain yang dikaguminya. Lalu pindah ke klub La Liga Spanyol Barcelona (2002). Di klub Catalan itu ia kurang bersinar hingga “dipinjamkan” ke Villareal (2003). Karirnya justru bersinar di Villareal yang dihantarnya hingga ke semifinal Liga Champion musim lalu. Itulah kali pertama klub “kecil” Spanyol tersebut masuk jajaran elit tim-tim Eropa.
Di pentas piala dunia, Riquelme tidak masuk skuad Agentina di Piala Dunia 2002 kala dilatih Marcelo Bielsa. Baru pada Piala Dunia 2006 ia menjadi figur jenderal lapangan tengah di bawah asuhan Jose Pekerman, mantan pelatihnya saat merebut supremasi piala dunia junior tahun 1997. Sayangnya Argentina yang sempat disanjung karena permainan indahnya harus tersingkir di tangan tuan rumah Jerman pada babak perempat final. Banyak pengamat menyebut faktor keluarnya Riquelme di babak kedua sebagai rusaknya irama permainan sehingga Jerman bisa menyamakan kedudukan. Entahlah, yang pasti dunia sepak bola kembali murung selepas jenderal Riquelme pensiun.
Zulkarnain Jalil, dari Jerman untuk Serambinews (16/09)
Saturday, August 19, 2006
Malik Fathi, Pemain Muslim Pertama di Timnas Jerman
Pertandingan ujicoba Jerman lawan Swedia Rabu kemarin (16/8) mengingatkan kembali akan babak perdelapan final Piala Dunia 2006, Juli silam. Kala itu Jerman menang 2:0. Kini pun Miroslav Klose dkk tetap berpesta. Kemenangan 3:0 serasa pantas mengingat tim Panzer bermain rancak sejak menit pertama. Awal yang mengesankan bagi pelatih baru Jerman Joachim Loew.
Namun kali ini mantan asisten Klinsmann itu melakukan satu eksperimen yang dinilai cukup berani. Philip Lahm yang biasanya bermain sebagai bek kiri, digeser Jogi –panggilan Loew- ke sisi kanan. Sedangkan Marcell Jansen menggantikan posisi "kesayangan" Lahm tersebut. Kedua pemain itupun terlihat tidak canggung sama sekali dengan perubahan posisi mereka itu. Kejutan masih berlanjut, pada menit ke-46 Jogi memasukkan Malik Fathi menggantikan Jansen. Malik Fathi, siapa pula dia ?
Anak muda berdarah Turki-Jerman ini sebenarnya sudah sejak lama jadi perhatian pengamat sepakbola. Posisi bek kiri di timnas junior U-21 seakan telah jadi miliknya. Lugas, berani, dan jago bola-bola atas, itulah sosok pemuda usia 22 tahun pengagum Paolo Maldini –bintang Italia. Di timnas U-21 ia sudah main sebanyak 21 kali. Barangkali, karena itu pula Loew berani berjudi dengan menarik Lahm ke sisi kanan guna mencoba Fathi di posisi bek kiri. Nominasi Malik Fathi sendiri awalnya karena beberapa pemain bawah cedera seperti Christoph Metzelder, Per Mertesacker dan Robert Huth.
Debutan baru asal Herha BSC Berlin inipun tak menyia-nyiakan kesempatan pertamanya main di timnas senior. "Pemberani dan bermain tanpa cela", tulis harian Abendzeitung keesokan harinya. Bahkan Sueddetsche Zeitung menempatkannya di satu kolom khusus.“Serasa mimpi aja bisa main dengan Podolski dkk. Soalnya di piala dunia kemarin saya cuma lihat wajah mereka di layar televisi”, ujar pemuda yang suka makan spageti Italia ini sumringah selepas pertandingan yang berlangsung di Gelsenkirchen –kandang Schalke 04.
Malik Fathi memulai karir sepakbolanya di klub amatir Tennis Borussia, lalu masuk tim junior Hertha 03 Zehlendorf. Dua-duanya di Berlin, kota kelahiran pemuda yang di waktu senggang suka main bola basket dan juga tenis. Bakat Fathi pun makin terasah, sehingga ia ditawari masuk tim senior Hertha BSC tahun 2001, kala usianya masih 18 tahun.
Di kompetisi Bundesliga (Liga Jerman), Fathi telah main sebanyak 71 kali. "Saya selalu siap, tidak masalah taktik apa yang dimainkan", ujar pemain bernomor punggung 29 itu satu ketika. Dibandingkan dengan teman seangkatannya di Hertha seperti Dennis Cagara, Sofian Chahed atau Alexander Ludwig, Fathi lebih cepat bersinar.
Kehadiran Fathi semakin menampakkan "keterbukaan" Jerman di sepakbola. Di masa silam banyak hal tabu di negara yang pernah punya motto Deutschland ist über alles (Jerman diatas segala-galanya) itu. Misal, tidak ada pemain berkulit gelap di tim Panzer. Hal yang bertolak belakang dengan –misalnya- pasukan multinasional Perancis yang bermaterikan para pemain imigran. Namun di Piala Dunia 2002, kehadiran Gerald Asamoah yang asal Ghana memecah mitos tersebut. Dan kini, masuknya Malik Fathi -nama yang jelas berbau Arab (baca: Islam)- menjadikannya pemain muslim pertama di timnas Jerman.
Karir pemuda yang ayahnya berdarah Turki ini diyakini akan jadi bintang baru pertahanan tim Jerman. Namun Malik Fathi tetap merendah. "Tidak ada manusia yang sempurna, dan saya bukanlah siapa-siapa“, tutur pemuda yang suka dengan kesederhanaan itu diplomatis. (Zulkarnain Jalil, dari Jerman).
Pertandingan ujicoba Jerman lawan Swedia Rabu kemarin (16/8) mengingatkan kembali akan babak perdelapan final Piala Dunia 2006, Juli silam. Kala itu Jerman menang 2:0. Kini pun Miroslav Klose dkk tetap berpesta. Kemenangan 3:0 serasa pantas mengingat tim Panzer bermain rancak sejak menit pertama. Awal yang mengesankan bagi pelatih baru Jerman Joachim Loew.
Namun kali ini mantan asisten Klinsmann itu melakukan satu eksperimen yang dinilai cukup berani. Philip Lahm yang biasanya bermain sebagai bek kiri, digeser Jogi –panggilan Loew- ke sisi kanan. Sedangkan Marcell Jansen menggantikan posisi "kesayangan" Lahm tersebut. Kedua pemain itupun terlihat tidak canggung sama sekali dengan perubahan posisi mereka itu. Kejutan masih berlanjut, pada menit ke-46 Jogi memasukkan Malik Fathi menggantikan Jansen. Malik Fathi, siapa pula dia ?
Anak muda berdarah Turki-Jerman ini sebenarnya sudah sejak lama jadi perhatian pengamat sepakbola. Posisi bek kiri di timnas junior U-21 seakan telah jadi miliknya. Lugas, berani, dan jago bola-bola atas, itulah sosok pemuda usia 22 tahun pengagum Paolo Maldini –bintang Italia. Di timnas U-21 ia sudah main sebanyak 21 kali. Barangkali, karena itu pula Loew berani berjudi dengan menarik Lahm ke sisi kanan guna mencoba Fathi di posisi bek kiri. Nominasi Malik Fathi sendiri awalnya karena beberapa pemain bawah cedera seperti Christoph Metzelder, Per Mertesacker dan Robert Huth.
Debutan baru asal Herha BSC Berlin inipun tak menyia-nyiakan kesempatan pertamanya main di timnas senior. "Pemberani dan bermain tanpa cela", tulis harian Abendzeitung keesokan harinya. Bahkan Sueddetsche Zeitung menempatkannya di satu kolom khusus.“Serasa mimpi aja bisa main dengan Podolski dkk. Soalnya di piala dunia kemarin saya cuma lihat wajah mereka di layar televisi”, ujar pemuda yang suka makan spageti Italia ini sumringah selepas pertandingan yang berlangsung di Gelsenkirchen –kandang Schalke 04.
Malik Fathi memulai karir sepakbolanya di klub amatir Tennis Borussia, lalu masuk tim junior Hertha 03 Zehlendorf. Dua-duanya di Berlin, kota kelahiran pemuda yang di waktu senggang suka main bola basket dan juga tenis. Bakat Fathi pun makin terasah, sehingga ia ditawari masuk tim senior Hertha BSC tahun 2001, kala usianya masih 18 tahun.
Di kompetisi Bundesliga (Liga Jerman), Fathi telah main sebanyak 71 kali. "Saya selalu siap, tidak masalah taktik apa yang dimainkan", ujar pemain bernomor punggung 29 itu satu ketika. Dibandingkan dengan teman seangkatannya di Hertha seperti Dennis Cagara, Sofian Chahed atau Alexander Ludwig, Fathi lebih cepat bersinar.
Kehadiran Fathi semakin menampakkan "keterbukaan" Jerman di sepakbola. Di masa silam banyak hal tabu di negara yang pernah punya motto Deutschland ist über alles (Jerman diatas segala-galanya) itu. Misal, tidak ada pemain berkulit gelap di tim Panzer. Hal yang bertolak belakang dengan –misalnya- pasukan multinasional Perancis yang bermaterikan para pemain imigran. Namun di Piala Dunia 2002, kehadiran Gerald Asamoah yang asal Ghana memecah mitos tersebut. Dan kini, masuknya Malik Fathi -nama yang jelas berbau Arab (baca: Islam)- menjadikannya pemain muslim pertama di timnas Jerman.
Karir pemuda yang ayahnya berdarah Turki ini diyakini akan jadi bintang baru pertahanan tim Jerman. Namun Malik Fathi tetap merendah. "Tidak ada manusia yang sempurna, dan saya bukanlah siapa-siapa“, tutur pemuda yang suka dengan kesederhanaan itu diplomatis. (Zulkarnain Jalil, dari Jerman).
Wednesday, August 09, 2006
Situs FIFAworldcup Terbaik Sepanjang Sejarah
Piala Dunia 2006 tidak hanya sukses di atas rumput, namun juga di di dunia maya. Dilaporkan Presseportal, selama Piala Dunia 2006 berlangsung situs FIFAworldcup.com diakses lebih dari 4,2 milyar kali dan videonya yang berisi gol-gol terkini selama turnamen ditonton lebih dari 138 juta kali. Prestasi lainnya, sekitar 73 juta kali website itu juga diakses penggemar sepakbola melalui telepon seluler. Sebagai perbandingan, Piala Dunia 2002 di Korea/Jepang situs sepakbola dunia itu “hanya” diakses sebanyak 2 milyar kali. Dengan demikian FIFAworldcup.com -situs resmi Piala Dunia 2006- terpilih sebagai situs olahraga terbaik sepanjang sejarah
Situs milik FIFA tersebut dikelola oleh perusahaanYahoo! yang merupakan salah satu sponsor utama piala dunia. September 2001 Yahoo! menandatangani kontrak kerjasama jangka panjangnya dengan FIFA. Dalam kerangka perjanjian itu, Yahoo! bertindak sebagai pengelola portal resmi penyelenggaraan piala dunia. Hasil kerja pertama mereka adalah Piala dunia 2002. Masih berbasis Yahoo!, situs McDonald’s/FIFA juga menangguk untung, dimana sekitar 875.000 pengunjung mendaftar di layanan Sport Game-nya perusahaan burger tersebut.
Lebih dari itu, FIFAworldcup dirancang khusus sehingga dapat diakses dalam 9 bahasa, berisi info 32 kesebelasan peserta meliputi berita terkini, data dan profil pemain, demikian juga data seputar negara peserta. Lalu, info negara penyelenggara seperti kota, stadion, tiket, dll. Setiap pertandingan juga bisa disaksikan secara live berikut dengan komentar, statistik, dan gambar-gambar sepanjang pertandingan 90 menit.
Yahoo! awalnya hanyalah sebuah usaha kecil menengah yang dirintis oleh dua orang anak muda, David Filo dan Jerry Yang pada Januari 1994. Keduanya merupakan mahasiswa Universitas Stanford, Amerika. Hanya setahun, tepatnya 2 Maret 1995 Yahoo! menjadi perusahaan yang berbadan hukum. Kini situs perusahaan yang bermarkas di Sunnyvalle, California itu termasuk katagori portal yang paling banyak dikunjungi terutama para pengguna e-mail.
Zulkarnain Jalil, Jerman, Serambinews 10/08/06
Piala Dunia 2006 tidak hanya sukses di atas rumput, namun juga di di dunia maya. Dilaporkan Presseportal, selama Piala Dunia 2006 berlangsung situs FIFAworldcup.com diakses lebih dari 4,2 milyar kali dan videonya yang berisi gol-gol terkini selama turnamen ditonton lebih dari 138 juta kali. Prestasi lainnya, sekitar 73 juta kali website itu juga diakses penggemar sepakbola melalui telepon seluler. Sebagai perbandingan, Piala Dunia 2002 di Korea/Jepang situs sepakbola dunia itu “hanya” diakses sebanyak 2 milyar kali. Dengan demikian FIFAworldcup.com -situs resmi Piala Dunia 2006- terpilih sebagai situs olahraga terbaik sepanjang sejarah
Situs milik FIFA tersebut dikelola oleh perusahaanYahoo! yang merupakan salah satu sponsor utama piala dunia. September 2001 Yahoo! menandatangani kontrak kerjasama jangka panjangnya dengan FIFA. Dalam kerangka perjanjian itu, Yahoo! bertindak sebagai pengelola portal resmi penyelenggaraan piala dunia. Hasil kerja pertama mereka adalah Piala dunia 2002. Masih berbasis Yahoo!, situs McDonald’s/FIFA juga menangguk untung, dimana sekitar 875.000 pengunjung mendaftar di layanan Sport Game-nya perusahaan burger tersebut.
Lebih dari itu, FIFAworldcup dirancang khusus sehingga dapat diakses dalam 9 bahasa, berisi info 32 kesebelasan peserta meliputi berita terkini, data dan profil pemain, demikian juga data seputar negara peserta. Lalu, info negara penyelenggara seperti kota, stadion, tiket, dll. Setiap pertandingan juga bisa disaksikan secara live berikut dengan komentar, statistik, dan gambar-gambar sepanjang pertandingan 90 menit.
Yahoo! awalnya hanyalah sebuah usaha kecil menengah yang dirintis oleh dua orang anak muda, David Filo dan Jerry Yang pada Januari 1994. Keduanya merupakan mahasiswa Universitas Stanford, Amerika. Hanya setahun, tepatnya 2 Maret 1995 Yahoo! menjadi perusahaan yang berbadan hukum. Kini situs perusahaan yang bermarkas di Sunnyvalle, California itu termasuk katagori portal yang paling banyak dikunjungi terutama para pengguna e-mail.
Zulkarnain Jalil, Jerman, Serambinews 10/08/06
Monday, August 07, 2006
20 Mahasiswa Aceh Lanjutkan Studi di Jerman
20 mahasiswa asal Aceh yang akan melanjutkan studi melalui program beasiswa Dinas Pertukaran Akademis Jerman (DAAD) tiba di Goettingen Jumat pekan lalu (4/8). Dibiayai oleh Kementerian Luar Negeri Jerman, sebagian besar mahasiswa itu akan melanjutkan program masternya di Goettingen, umumnya di bidang Pertanian dan Kehutanan. Selain itu tiga orang akan menekuni ilmu kedokteran molekuler dan juga bidang matematika. Khusus untuk ilmu kelautan dan perikanan akan ditempatkan di Universitas Bremen.
Sebelumnya di IPB Bogor, para mahasiswa tersebut telah mendapatkan pelatihan meliputi penguasaan bahasa Inggris serta beberapa pengetahuan yang berhubungan dengan bidang studi mereka sejak Januari 2006 silam.
Menurut keterangan Ingrid Howe dari Centre for Tropical-Subtropical Agriculture and Forestry (CeTSAF) Universitas Goettingen, pada tanggal 21 Agustus nanti akan ada penyambutan resmi. Acara itu akan dihadiri antara lain Rektor Universitas Goettingen, wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan negara bagian Niedersachsen, DAAD, dan Atase Pendidikan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Jerman.
Pada saat yang bersamaan juga akan dilakukan penandatanganan naskah kerjasama antara tiga universitas, yakni Universitas Syiah Kuala, IPB Bogor, dan Universitas Goettingen. Masih menurut Howe, Rektor Universitas Syiah Kuala Prof. Dr. Abdi A. Wahab bakal hadir dalam acara tersebut.
Program yang melibatkan tiga universitas itu merupakan bagian dari bantuan DAAD dalam upaya membantu mahasiswa di daerah yang tertimpa bencana tsunami. Bantuan meliputi pemberian beasiswa bagi mahasiswa di NAD dan Sumut yang sedang menempuh studi di Indonesia, hibah riset, kursus singkat, serta beasiswa jangka panjang untuk studi di Jerman. DAAD adalah salah satu organisasi perantara terbesar di dunia dalam bidang pendidikan dan penelitian yang membantu pertukaran akademis antara Jerman dan dunia internasional. Khusus untuk Indonesia, setiap tahunnya mereka menyerahkan 400 beasiswa dalam berbagai bidang.
Kota Goettingen sendiri disebut-sebut sebagai kampung Melayu-nya Jerman. Sebab komunitas pelajar dan mahasiswa Indonesia terbesar di Jerman ada di Universitas Goettingen. Konon lagi dengan kedatangan rombongan besar dari Aceh ini.“Kajeut ta peudong saboh meunasah (Sudah bisa kita dirikan sebuah musalla)“, ujar Abdul Manan, mahasiswa program doktor pada Universitas Muenster yang juga dosen di IAIN Arraniry Banda Aceh bergurau.
Zulkarnain Jalil, dari Jerman, Serambinews 08/08/06
20 mahasiswa asal Aceh yang akan melanjutkan studi melalui program beasiswa Dinas Pertukaran Akademis Jerman (DAAD) tiba di Goettingen Jumat pekan lalu (4/8). Dibiayai oleh Kementerian Luar Negeri Jerman, sebagian besar mahasiswa itu akan melanjutkan program masternya di Goettingen, umumnya di bidang Pertanian dan Kehutanan. Selain itu tiga orang akan menekuni ilmu kedokteran molekuler dan juga bidang matematika. Khusus untuk ilmu kelautan dan perikanan akan ditempatkan di Universitas Bremen.
Sebelumnya di IPB Bogor, para mahasiswa tersebut telah mendapatkan pelatihan meliputi penguasaan bahasa Inggris serta beberapa pengetahuan yang berhubungan dengan bidang studi mereka sejak Januari 2006 silam.
Menurut keterangan Ingrid Howe dari Centre for Tropical-Subtropical Agriculture and Forestry (CeTSAF) Universitas Goettingen, pada tanggal 21 Agustus nanti akan ada penyambutan resmi. Acara itu akan dihadiri antara lain Rektor Universitas Goettingen, wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan negara bagian Niedersachsen, DAAD, dan Atase Pendidikan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Jerman.
Pada saat yang bersamaan juga akan dilakukan penandatanganan naskah kerjasama antara tiga universitas, yakni Universitas Syiah Kuala, IPB Bogor, dan Universitas Goettingen. Masih menurut Howe, Rektor Universitas Syiah Kuala Prof. Dr. Abdi A. Wahab bakal hadir dalam acara tersebut.
Program yang melibatkan tiga universitas itu merupakan bagian dari bantuan DAAD dalam upaya membantu mahasiswa di daerah yang tertimpa bencana tsunami. Bantuan meliputi pemberian beasiswa bagi mahasiswa di NAD dan Sumut yang sedang menempuh studi di Indonesia, hibah riset, kursus singkat, serta beasiswa jangka panjang untuk studi di Jerman. DAAD adalah salah satu organisasi perantara terbesar di dunia dalam bidang pendidikan dan penelitian yang membantu pertukaran akademis antara Jerman dan dunia internasional. Khusus untuk Indonesia, setiap tahunnya mereka menyerahkan 400 beasiswa dalam berbagai bidang.
Kota Goettingen sendiri disebut-sebut sebagai kampung Melayu-nya Jerman. Sebab komunitas pelajar dan mahasiswa Indonesia terbesar di Jerman ada di Universitas Goettingen. Konon lagi dengan kedatangan rombongan besar dari Aceh ini.“Kajeut ta peudong saboh meunasah (Sudah bisa kita dirikan sebuah musalla)“, ujar Abdul Manan, mahasiswa program doktor pada Universitas Muenster yang juga dosen di IAIN Arraniry Banda Aceh bergurau.
Zulkarnain Jalil, dari Jerman, Serambinews 08/08/06
Dilelang, Barang Bekas Piala Dunia
Anda butuh bendera bekas FIFA atau tempat duduk bekas pelatih dan pemain untuk taman ? Ataupun lampu stadion untuk kamar tidur ? Sekaranglah saatnya bagi para pemburu barang kenang-kenangan. Dari bangku bekas Juergen Klinsmann hingga rumput stadion pun kini mulai dilelang.
"Kami sudah memiliki sekitar 5500 barang inventaris“, ujar jubir FIFA Jens Grittner kepada der Spiegel. “Berapa jumlah totalnya, saya belum bisa sebutkan. Namun setidaknya saat ini ada 3000 kursi bekas wartawan foto, 3300 lampu meja, 1000 printer, 280 mesin fax demikian juga 200 mesin foto kopi. Juga bangku bekas Juergen Klinsmann“, lanjut Grittner.
Adalah Dechow, sebuah rumah lelang yang berpusat di Hamburg mendapat kepercayaan melelang berbagai jenis inventaris original yang ada di di 12 stadion. Beberapa barang yang tertera di situsnya antara lain: tempat duduk pelatih, bendera sepak pojok, tiang gawang, berbagai jenis bendera,plakat, dan spanduk, meja pers, meja IT, papan tulis, lampu, hingga perangkat dekorasi (bunga, lampu hias). Pusat pelelangan akan berlangsung di Hamburg, Koeln, Muenchen, Berlin, Kaiserslautern, dan Frankfurt. “Jadwal pastinya belum jelas lagi. Namun paling lambat awal Agustus sudah bisa dimulai“, ujar direktur Dechow, Jan Broeker seperti dilansir die Welt (11/7).
Lain halnya di Stuttgart, disana pelelangan akan berlangsung hari ini di kawasan Markplatz. “Ada sekitar 600 jenis barang bekas Piala Dunia 2006 yang ditawarkan. Barang-barang ini sudah banyak yang tanya, bahkan sebelum turnamen ini berakhir“, urai Hilke Langer, juru bicara Stuttgart Marketing GmbH. Sedangkan di Koeln, sekitar 1800 bendera bekas akan dilelang pada tanggal 17 dan 18 Juli di gedung Köllner Aussenwerbung GmbH. “Harganya antara 10 hingga 18 Euro“, ujar Simone Winkelhog dari bagian humas.
Rumput Final Dilelang 4000 Euro
Yang menarik adalah rumput bekas pertandingan final di Stadion Olimpia, Berlin. Rumput bekas dipakai babak final tersebut dijual seharga 75 Euro (885 ribu ) per potong. Agar tahan lama disimpan dalam kaca akrilik ukuran 14 x 8 x 5 cm. Juga dijual jenis potongan asli yang masih alami (30 x 20 cm). Total ada sekitar 40.000 hingga 60.000 potong rumput yang akan dijual. Semuanya tentu memiliki sertifikat. Rumput-rumput yang dicabut sejak 11 Juli yang lalu itu diberi perawatan khusus agar tetap dapat tumbuh dan terjaga dengan baik.
”Sebenarnya hal ini tidak lazim, tapi masalahnya FIFA tidak membuat aturan mengenai rumput bekas tersebut. Karenanya kami langsung bicara dengan penanggung jawab stadion mengenai penawaran harga rumput itu“ ujar Manfred Gawlas, juru bicara rumah lelang Quelle seperti disitir Financial Times (11/7). Namun Gawlas menambahkan bahwa rumput tersebut hanya dijual di Jerman saja.“Siapa yang ingin beli, maka harus memakai alamat tinggal di Jerman“, imbuh Gawlas.
Yang paling fenomenal adalah rumput di bekas titik putih penalti. Rumput yang berada di tempat paling dramatis ketika Italia menumbangkan Perancis itu tidak dijual dalam harga standar, melainkan berlabel “edisi khusus” via rumah lelang online eBay. Rumput daerah penalti, tempat dimana Fabio Grosso melesakkan gol kemenangan Italia, dilelang hingga 4000 Euro atau sekitar 47 juta Rupiah ! Sementara itu rumput di sekitar garis gawang dilelang seharga 1590 Euro (sekitar 18,7 juta Rupiah). Memang bagi yang ingin melelang dengan harga tinggi cara terbaik adalah melalui internet.
Lain halnya dengan fans Jerman. Mereka justru lebih tertarik dengan rumput di stadion Stuttgart, sebab disanalah timnasnya merebut peringkat ketiga.
Lebih lanjut Detlef Reichenbacher, kepala bagian teknik Stadion Olimpia Berlin menjelaskan bahwa tiang gawang dan bangku duduk para pemain tetap berada di sana. Adapun bendera sepak pojok masuk ke museum DFB (PSSI-nya Jerman), hanya rumput stadion saja ditangani oleh Quelle.
Namun sejauh ini belum ada yang menanyakan potongan rumput di tempat Zidane menandukkan kepalanya ke dada Materazzi yang menimbulkan polemik hingga hari ini. Mungkin lebih mahal lagi ya?
Zulkarnain Jalil, dari Jerman, Serambinews
Anda butuh bendera bekas FIFA atau tempat duduk bekas pelatih dan pemain untuk taman ? Ataupun lampu stadion untuk kamar tidur ? Sekaranglah saatnya bagi para pemburu barang kenang-kenangan. Dari bangku bekas Juergen Klinsmann hingga rumput stadion pun kini mulai dilelang.
"Kami sudah memiliki sekitar 5500 barang inventaris“, ujar jubir FIFA Jens Grittner kepada der Spiegel. “Berapa jumlah totalnya, saya belum bisa sebutkan. Namun setidaknya saat ini ada 3000 kursi bekas wartawan foto, 3300 lampu meja, 1000 printer, 280 mesin fax demikian juga 200 mesin foto kopi. Juga bangku bekas Juergen Klinsmann“, lanjut Grittner.
Adalah Dechow, sebuah rumah lelang yang berpusat di Hamburg mendapat kepercayaan melelang berbagai jenis inventaris original yang ada di di 12 stadion. Beberapa barang yang tertera di situsnya antara lain: tempat duduk pelatih, bendera sepak pojok, tiang gawang, berbagai jenis bendera,plakat, dan spanduk, meja pers, meja IT, papan tulis, lampu, hingga perangkat dekorasi (bunga, lampu hias). Pusat pelelangan akan berlangsung di Hamburg, Koeln, Muenchen, Berlin, Kaiserslautern, dan Frankfurt. “Jadwal pastinya belum jelas lagi. Namun paling lambat awal Agustus sudah bisa dimulai“, ujar direktur Dechow, Jan Broeker seperti dilansir die Welt (11/7).
Lain halnya di Stuttgart, disana pelelangan akan berlangsung hari ini di kawasan Markplatz. “Ada sekitar 600 jenis barang bekas Piala Dunia 2006 yang ditawarkan. Barang-barang ini sudah banyak yang tanya, bahkan sebelum turnamen ini berakhir“, urai Hilke Langer, juru bicara Stuttgart Marketing GmbH. Sedangkan di Koeln, sekitar 1800 bendera bekas akan dilelang pada tanggal 17 dan 18 Juli di gedung Köllner Aussenwerbung GmbH. “Harganya antara 10 hingga 18 Euro“, ujar Simone Winkelhog dari bagian humas.
Rumput Final Dilelang 4000 Euro
Yang menarik adalah rumput bekas pertandingan final di Stadion Olimpia, Berlin. Rumput bekas dipakai babak final tersebut dijual seharga 75 Euro (885 ribu ) per potong. Agar tahan lama disimpan dalam kaca akrilik ukuran 14 x 8 x 5 cm. Juga dijual jenis potongan asli yang masih alami (30 x 20 cm). Total ada sekitar 40.000 hingga 60.000 potong rumput yang akan dijual. Semuanya tentu memiliki sertifikat. Rumput-rumput yang dicabut sejak 11 Juli yang lalu itu diberi perawatan khusus agar tetap dapat tumbuh dan terjaga dengan baik.
”Sebenarnya hal ini tidak lazim, tapi masalahnya FIFA tidak membuat aturan mengenai rumput bekas tersebut. Karenanya kami langsung bicara dengan penanggung jawab stadion mengenai penawaran harga rumput itu“ ujar Manfred Gawlas, juru bicara rumah lelang Quelle seperti disitir Financial Times (11/7). Namun Gawlas menambahkan bahwa rumput tersebut hanya dijual di Jerman saja.“Siapa yang ingin beli, maka harus memakai alamat tinggal di Jerman“, imbuh Gawlas.
Yang paling fenomenal adalah rumput di bekas titik putih penalti. Rumput yang berada di tempat paling dramatis ketika Italia menumbangkan Perancis itu tidak dijual dalam harga standar, melainkan berlabel “edisi khusus” via rumah lelang online eBay. Rumput daerah penalti, tempat dimana Fabio Grosso melesakkan gol kemenangan Italia, dilelang hingga 4000 Euro atau sekitar 47 juta Rupiah ! Sementara itu rumput di sekitar garis gawang dilelang seharga 1590 Euro (sekitar 18,7 juta Rupiah). Memang bagi yang ingin melelang dengan harga tinggi cara terbaik adalah melalui internet.
Lain halnya dengan fans Jerman. Mereka justru lebih tertarik dengan rumput di stadion Stuttgart, sebab disanalah timnasnya merebut peringkat ketiga.
Lebih lanjut Detlef Reichenbacher, kepala bagian teknik Stadion Olimpia Berlin menjelaskan bahwa tiang gawang dan bangku duduk para pemain tetap berada di sana. Adapun bendera sepak pojok masuk ke museum DFB (PSSI-nya Jerman), hanya rumput stadion saja ditangani oleh Quelle.
Namun sejauh ini belum ada yang menanyakan potongan rumput di tempat Zidane menandukkan kepalanya ke dada Materazzi yang menimbulkan polemik hingga hari ini. Mungkin lebih mahal lagi ya?
Zulkarnain Jalil, dari Jerman, Serambinews
Saturday, August 05, 2006
Lagu ’54, ’74, ’90, 2010 Jadi Hit di Jerman
Kelompok musik Jerman Sportfreunde Stiller selepas kekalahan timnasnya di babak semifinal piala dunia yang lalu menggubah sebuah lagu yang berjudul unik, ’54, ’74, ’90, 2010. Lagu berdurasi tiga menitan itu kini jadi hit di seantero Jerman. Seperti dilansir Mix1, lagu tersebut saat ini nangkring di peringkat pertama tangga lagu Jerman, mengalahkan nama-nama beken semacam Shakira atau Nelly Hurtado.
Awalnya lagu itu berjudul ’54, ’74, ’90, 2006 dan selama piala dunia berlangsung jadi lagu “wajib“ stasiun televisi dan radio. Kopi pertamanya saja sempat meraih sukses besar serta menduduki peringkat pertama tangga musik di Jerman. Namun setelah kalah melawan Italia pada 4 Juli silam mereka tak patah arang. Angka 2006 diganti menjadi 2010 dan beberapa liriknya direvisi. Tahun 2010 adalah harapan Jerman berikutnya untuk menjadi juara dunia di Afrika Selatan.
Sportfreunde Stiller sendiri merupakan grup musik rock asal Germering, Muenchen. Grup musik yang lahir pada tahun 1996 ini terdiri dari tiga orang anak muda, Peter, Florian, dan Ruediger. Stiller diambil dari nama mantan pelatih mereka di klub sepakbola SV Gemering, Hans Stiller. Kini mereka laris manis mendapat undangan manggung dimana-mana.
Sementara itu di Perancis lagu berjudul Coupe de Boule yang berisi pelesetan seputar tandukan kepala Zidane dan kegagalan penalti David Trezequet benar-benar jadi hit di musim panas ini. Lagunya sendiri bernada riang, simak salah satu baitnya yang berbunyi "Zidane menabraknya, piala tidak bisa diraih, namun kita masih bisa tertawa.”
Sebenarnya sebelum Perancis kalah, lagu Zidane y va marquer (Zidane akan mencetak gol) lebih sering dinyanyikan untuk menyemangati Zidane dkk. Namun beberapa jam selepas kalah di final, anak-anak muda di Champs Elysees, Paris menyanyikan Zidane il l'a frappé (Zidane menabraknya) yang akhirnya jadi inspirasi album Coupe de Boule.
Kisah perjalanan lagu ini menuju tangga sukses terhitung unik. Lagu yang dinyanyikan tiga anak muda dari grup musik La Plage itu dibuat persis selepas pertandingan final 9 Juli. Lalu, tanggal 10 Juli sekitar pukul 17.00 disebar melalui internet ke lebih kurang 50 orang teman karib mereka. Dengan “operan bola“ cepat dari tangan ke tangan itulah malamnya lagu tersebut sudah bisa didengarkan melalui siaran radio. Rabu, 12 Juli lagu tersebut sudah masuk dapur rekaman. Coupe de Boule yang berdurasi 2:36 menit kini terjual lebih dari 135.000 kopi dalam waktu tiga minggu. “Luar biasa, ini benar-benar jadi catatan sejarah“, ujar Thierry Chassagne, bos Warner Music Perancis.
Nah, sementara itu di Italia lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi Fabrizio Levita juga sangat populer. Mau tahu judulnya ? Lagu tersebut bertajuk '34, '38, '82, 2006 ! Yakni tahun dimana Italia menjadi juara dunia. Ada-ada saja orang Eropa ini.
(Zulkarnain Jalil dari Jerman, Serambinews, 04/08/06).
Kelompok musik Jerman Sportfreunde Stiller selepas kekalahan timnasnya di babak semifinal piala dunia yang lalu menggubah sebuah lagu yang berjudul unik, ’54, ’74, ’90, 2010. Lagu berdurasi tiga menitan itu kini jadi hit di seantero Jerman. Seperti dilansir Mix1, lagu tersebut saat ini nangkring di peringkat pertama tangga lagu Jerman, mengalahkan nama-nama beken semacam Shakira atau Nelly Hurtado.
Awalnya lagu itu berjudul ’54, ’74, ’90, 2006 dan selama piala dunia berlangsung jadi lagu “wajib“ stasiun televisi dan radio. Kopi pertamanya saja sempat meraih sukses besar serta menduduki peringkat pertama tangga musik di Jerman. Namun setelah kalah melawan Italia pada 4 Juli silam mereka tak patah arang. Angka 2006 diganti menjadi 2010 dan beberapa liriknya direvisi. Tahun 2010 adalah harapan Jerman berikutnya untuk menjadi juara dunia di Afrika Selatan.
Sportfreunde Stiller sendiri merupakan grup musik rock asal Germering, Muenchen. Grup musik yang lahir pada tahun 1996 ini terdiri dari tiga orang anak muda, Peter, Florian, dan Ruediger. Stiller diambil dari nama mantan pelatih mereka di klub sepakbola SV Gemering, Hans Stiller. Kini mereka laris manis mendapat undangan manggung dimana-mana.
Sementara itu di Perancis lagu berjudul Coupe de Boule yang berisi pelesetan seputar tandukan kepala Zidane dan kegagalan penalti David Trezequet benar-benar jadi hit di musim panas ini. Lagunya sendiri bernada riang, simak salah satu baitnya yang berbunyi "Zidane menabraknya, piala tidak bisa diraih, namun kita masih bisa tertawa.”
Sebenarnya sebelum Perancis kalah, lagu Zidane y va marquer (Zidane akan mencetak gol) lebih sering dinyanyikan untuk menyemangati Zidane dkk. Namun beberapa jam selepas kalah di final, anak-anak muda di Champs Elysees, Paris menyanyikan Zidane il l'a frappé (Zidane menabraknya) yang akhirnya jadi inspirasi album Coupe de Boule.
Kisah perjalanan lagu ini menuju tangga sukses terhitung unik. Lagu yang dinyanyikan tiga anak muda dari grup musik La Plage itu dibuat persis selepas pertandingan final 9 Juli. Lalu, tanggal 10 Juli sekitar pukul 17.00 disebar melalui internet ke lebih kurang 50 orang teman karib mereka. Dengan “operan bola“ cepat dari tangan ke tangan itulah malamnya lagu tersebut sudah bisa didengarkan melalui siaran radio. Rabu, 12 Juli lagu tersebut sudah masuk dapur rekaman. Coupe de Boule yang berdurasi 2:36 menit kini terjual lebih dari 135.000 kopi dalam waktu tiga minggu. “Luar biasa, ini benar-benar jadi catatan sejarah“, ujar Thierry Chassagne, bos Warner Music Perancis.
Nah, sementara itu di Italia lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi Fabrizio Levita juga sangat populer. Mau tahu judulnya ? Lagu tersebut bertajuk '34, '38, '82, 2006 ! Yakni tahun dimana Italia menjadi juara dunia. Ada-ada saja orang Eropa ini.
(Zulkarnain Jalil dari Jerman, Serambinews, 04/08/06).
Tuesday, July 25, 2006
Tari Saman di Pegunungan Freiberg
“Hari Kamis ini (20 Juli) kami mengadakan Malam Indonesia, saya dan anak-anak ikut serta menari tari Saman dari Aceh. Datang yaa..“
Demikian isi e-mail (surat elektronik) yang saya terima dari Eka Priadi, mahasiswa program doktor di Technische Universtaet Bergakademie Freiberg (TU-Freiberg), Jerman. Isi e-mail ini kontan memompa darah keacehan saya lebih kencang. Eka yang sudah tiga tahun berada di kota Freiberg ditemani istri dan dua anaknya, merupakan dosen di jurusan Teknik Sipil, Universitas Tanjung Pura, Pontianak.
Tidak banyak mahasiswa Indonesia yang bersekolah di sana, hanya ada tujuh orang saja. Kendatipun demikian semangat mereka mengadakan acara malam budaya ini patut diacungi jempol. TU-Freiberg sendiri adalah perguruan tinggi favorit untuk bidang geologi dan mineral. Kota kecil berpenduduk 43.394 jiwa itu dikenal dengan sebutan “Bergstadt“ atau kota pegunungan dan berjarak hanya sekitar 60 kilometer dari Dresden, ibukota negara bagian Sachsen. Sepintas sangat mirip dengan kota Jantho yang terletak di lembah pegunungan Seulawah, Aceh Besar.
Yesifa sang ketua penyelenggara menyebutkan bahwa penyelenggaraan acara ini guna memperkenalkan budaya Indonesia. Yang mengesankan, unit kegiatan mahasiswa internasional TU-Freiberg sangat mendukung acara ini. Lebih dari itu, bahkan memberikan bantuan finansial serta gedung serba gunanya untuk tempat acara.
Mahasiswi program master asal Bekasi ini dalam sambutan pengantarnya juga menyampaikan Aceh sebagai tempat asal tari Saman, lalu dikaitkan dengan musibah tsunami 2004 silam.
“Saya tertarik untuk mementaskan Tari Saman selepas melihat acara perayaan musim panas (Sommerfest) di Hamburg. Kebetulan ada kawan yang punya CD tari ini. Melalui CD tersebut kami belajar. Persiapannya cuma dua minggu“, urai Yesifa dengan nada gembira. Memang tidak sia-sia, buktinya pengunjung yang hadir dibuat terkesima oleh gerakan tari yang begitu atraktif.
Menariknya, karena kekurangan penari, Yesifa lalu mengajak teman kuliahnya asal Pantai Gading dan Thailand ikut menari. Karin misalnya, mahasiswi asal Pantai Gading mengaku sangat menyukai tarian Aceh itu.“Wow, asyik sekali tarian ini, saya sangat suka. Awalnya sulit juga ya, gerakannya sangat cepat. Trus, sambil duduk pula“, ujar Karin sumringah. Ia juga menceritakan di negaranya kebanyakan tarian dilakukan dengan berdiri. Secara khusus, gadis Afrika ini berpesan kepada rakyat Aceh:“Tetap kuat, lanjutkan kerja, dan semoga tidak ada tsunami lagi“.
Tari Saman memang menjadi primadona di setiap pagelaran budaya di Jerman. Di beberapa kota seperti Aachen, Berlin, Bremen, Bonn, Goettingen, Hamburg, dan Leipzig, tarian ini selalu mendapat sambutan meriah. Yang jadi promotor biasanya salah seorang mahasiswa Aceh yang bermukim di setiap kota tersebut. Adapun para penari adalah mahasiswa Indonesia dari berbagai daerah yang sedang studi di Jerman. Namun, penampilan di kawasan pegunungan Freiberg Kamis kemarin adalah pertama kalinya seorang warga asing ikut jadi penari. Sebuah promosi yang bernilai jual tinggi tentunya. Disamping tari-tarian, juga diperkenalkan beberapa jenis makanan khas Indonesia. Diantaranya terselip roti martabak. Lalu ada aneka permainan seperti kelereng, lomba makan kerupuk, dll. Tentunya permainan ini “aneh” bagi sebagian warga Jerman.
(Zulkarnain Jalil, dari Jerman). Serambinews, 22.07
“Hari Kamis ini (20 Juli) kami mengadakan Malam Indonesia, saya dan anak-anak ikut serta menari tari Saman dari Aceh. Datang yaa..“
Demikian isi e-mail (surat elektronik) yang saya terima dari Eka Priadi, mahasiswa program doktor di Technische Universtaet Bergakademie Freiberg (TU-Freiberg), Jerman. Isi e-mail ini kontan memompa darah keacehan saya lebih kencang. Eka yang sudah tiga tahun berada di kota Freiberg ditemani istri dan dua anaknya, merupakan dosen di jurusan Teknik Sipil, Universitas Tanjung Pura, Pontianak.
Tidak banyak mahasiswa Indonesia yang bersekolah di sana, hanya ada tujuh orang saja. Kendatipun demikian semangat mereka mengadakan acara malam budaya ini patut diacungi jempol. TU-Freiberg sendiri adalah perguruan tinggi favorit untuk bidang geologi dan mineral. Kota kecil berpenduduk 43.394 jiwa itu dikenal dengan sebutan “Bergstadt“ atau kota pegunungan dan berjarak hanya sekitar 60 kilometer dari Dresden, ibukota negara bagian Sachsen. Sepintas sangat mirip dengan kota Jantho yang terletak di lembah pegunungan Seulawah, Aceh Besar.
Yesifa sang ketua penyelenggara menyebutkan bahwa penyelenggaraan acara ini guna memperkenalkan budaya Indonesia. Yang mengesankan, unit kegiatan mahasiswa internasional TU-Freiberg sangat mendukung acara ini. Lebih dari itu, bahkan memberikan bantuan finansial serta gedung serba gunanya untuk tempat acara.
Mahasiswi program master asal Bekasi ini dalam sambutan pengantarnya juga menyampaikan Aceh sebagai tempat asal tari Saman, lalu dikaitkan dengan musibah tsunami 2004 silam.
“Saya tertarik untuk mementaskan Tari Saman selepas melihat acara perayaan musim panas (Sommerfest) di Hamburg. Kebetulan ada kawan yang punya CD tari ini. Melalui CD tersebut kami belajar. Persiapannya cuma dua minggu“, urai Yesifa dengan nada gembira. Memang tidak sia-sia, buktinya pengunjung yang hadir dibuat terkesima oleh gerakan tari yang begitu atraktif.
Menariknya, karena kekurangan penari, Yesifa lalu mengajak teman kuliahnya asal Pantai Gading dan Thailand ikut menari. Karin misalnya, mahasiswi asal Pantai Gading mengaku sangat menyukai tarian Aceh itu.“Wow, asyik sekali tarian ini, saya sangat suka. Awalnya sulit juga ya, gerakannya sangat cepat. Trus, sambil duduk pula“, ujar Karin sumringah. Ia juga menceritakan di negaranya kebanyakan tarian dilakukan dengan berdiri. Secara khusus, gadis Afrika ini berpesan kepada rakyat Aceh:“Tetap kuat, lanjutkan kerja, dan semoga tidak ada tsunami lagi“.
Tari Saman memang menjadi primadona di setiap pagelaran budaya di Jerman. Di beberapa kota seperti Aachen, Berlin, Bremen, Bonn, Goettingen, Hamburg, dan Leipzig, tarian ini selalu mendapat sambutan meriah. Yang jadi promotor biasanya salah seorang mahasiswa Aceh yang bermukim di setiap kota tersebut. Adapun para penari adalah mahasiswa Indonesia dari berbagai daerah yang sedang studi di Jerman. Namun, penampilan di kawasan pegunungan Freiberg Kamis kemarin adalah pertama kalinya seorang warga asing ikut jadi penari. Sebuah promosi yang bernilai jual tinggi tentunya. Disamping tari-tarian, juga diperkenalkan beberapa jenis makanan khas Indonesia. Diantaranya terselip roti martabak. Lalu ada aneka permainan seperti kelereng, lomba makan kerupuk, dll. Tentunya permainan ini “aneh” bagi sebagian warga Jerman.
(Zulkarnain Jalil, dari Jerman). Serambinews, 22.07
Tuesday, July 18, 2006
Adidas dan Puma Bermula dari Ruang Cuci
Dalam perjalanan dari stasiun kereta api Zoologischer Garten menuju Stadion Olimpia, Berlin rekan saya Hizir nyelutuk bahwa yang bertarung di babak final sebenarnya ”Jerman vs Jerman”. Lho, kok bisa ?
Sebagaimana diketahui, sponsor utama perangkat olahraga (kostum dan sepatu) yang dipakai Italia adalah Puma sedangkan timnas Perancis didukung Adidas. Nah, Puma dan Adidas merupakan dua perusahaan asal Jerman. Yang menarik, pemenang ”Jerman vs Jerman” adalah Italia. Kemenangan Italia tersebut berarti kemenangan bagi produsen alat olahraga Puma. ”Ini merupakan kemenangan yang mengesankan bagi kami“, ujar direktur Puma Jochen Zeitz selepas kemenangan Italia di final. Inilah kemenangan pertama Puma di ajang piala dunia.
Perusahaan yang bermarkas di Herzogenaurach, negara bagian Bayern itu telah menandatangani kontrak dengan federasi sepak bola Italia (FIGC) sejak tahun 2003. Bahkan Nopember 2005 yang lalu Puma memperpanjang kontraknya hingga 2014. “Semoga kami bisa juara lagi bersama Italia“, imbuh Zeitz dengan bangga. Seperti dilansir Financial Times (10/7) pendapatan Puma meningkat tajam hingga 40 persen tahun 2005 silam.
Uniknya, jika menilik sejarah cikal bakalnya maka Puma dan Adidas justru merupakan dua saudara kandung. Ceritanya Rudolf Dassler dan adiknya Adolf Dassler pada tahun 1920 mencoba mendirikan usaha kecil-kecil sepatu olahraga. Mereka memulai usaha tersebut di ruang cuci kepunyaan ibunya di Herzogenaurach. Empat tahun kemudian, tepatnya Juli 1924 dua bersaudara ini mendirikan perusahaan sepatu “Gebrüder Dassler”.
Puncak ketenaran perusahaan itu adalah ketika atlet lari Amerika Serikat Jesse Owen sukses merebus medali emas di Olimpiade Berlin tahun 1936 dengan mengenakan sepatu buatan Dassler. Sejak itulah sepatu bikinan mereka makin dikenal luas.
Namun setelah mengalami kemajuan yang cukup pesat, Rudolf Dassler berpisah dengan adiknya Adolf Dassler. Tahun 1948 ia mendirikan perusahaan sepatu sendiri yang diberi nama "PUMA Schuhfabrik Rudolf Dassler", selanjutnya dikenal dengan Puma. Situs Wikipedia Jerman menyebutkan perpisahan kedua bersaudara ini sebagai Meinungsverschiedenheiten atau perbedaan pendapat. Tidak dijelaskan perbedaan pendapat yang seperti apa. Sedangkan adiknya, Adolf Dassler mendirikan perusahaan Adidas yang berasal dari nama ”Adi“ (nama kecil Adolf) yang digabung dengan potongan nama belakangnya yakni ”Dass“. Nama Adidas terdaftar pada tahun 1949.
Dalam perkembangannya Adidas berlari lebih kencang dari Puma. Karena Puma terkesan “kaku”, tidak mengikuti trend dan mode. Belakangan Puma sadar dan mulai berbenah diri, hingga di Piala Dunia 2006 menjadi pemasok kostum dan perlengkapan terbesar setelah Nike dan Adidas. Bandingkan, Puma memasok 12 tim sedangkan Adidas hanya 6 tim. Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan diprediksi Puma masih tetap nomor satu, karena mereka juga pemasok utama tim-tim Afrika. Jadi bisa dikatakan sampai hari ini pun kakak beradik ini masih terus “bertengkar“. Pertengkaran yang membawa rezeki tentunya.
Zulkarnain Jalil, ditulis untuk Serambinews.
Dalam perjalanan dari stasiun kereta api Zoologischer Garten menuju Stadion Olimpia, Berlin rekan saya Hizir nyelutuk bahwa yang bertarung di babak final sebenarnya ”Jerman vs Jerman”. Lho, kok bisa ?
Sebagaimana diketahui, sponsor utama perangkat olahraga (kostum dan sepatu) yang dipakai Italia adalah Puma sedangkan timnas Perancis didukung Adidas. Nah, Puma dan Adidas merupakan dua perusahaan asal Jerman. Yang menarik, pemenang ”Jerman vs Jerman” adalah Italia. Kemenangan Italia tersebut berarti kemenangan bagi produsen alat olahraga Puma. ”Ini merupakan kemenangan yang mengesankan bagi kami“, ujar direktur Puma Jochen Zeitz selepas kemenangan Italia di final. Inilah kemenangan pertama Puma di ajang piala dunia.
Perusahaan yang bermarkas di Herzogenaurach, negara bagian Bayern itu telah menandatangani kontrak dengan federasi sepak bola Italia (FIGC) sejak tahun 2003. Bahkan Nopember 2005 yang lalu Puma memperpanjang kontraknya hingga 2014. “Semoga kami bisa juara lagi bersama Italia“, imbuh Zeitz dengan bangga. Seperti dilansir Financial Times (10/7) pendapatan Puma meningkat tajam hingga 40 persen tahun 2005 silam.
Uniknya, jika menilik sejarah cikal bakalnya maka Puma dan Adidas justru merupakan dua saudara kandung. Ceritanya Rudolf Dassler dan adiknya Adolf Dassler pada tahun 1920 mencoba mendirikan usaha kecil-kecil sepatu olahraga. Mereka memulai usaha tersebut di ruang cuci kepunyaan ibunya di Herzogenaurach. Empat tahun kemudian, tepatnya Juli 1924 dua bersaudara ini mendirikan perusahaan sepatu “Gebrüder Dassler”.
Puncak ketenaran perusahaan itu adalah ketika atlet lari Amerika Serikat Jesse Owen sukses merebus medali emas di Olimpiade Berlin tahun 1936 dengan mengenakan sepatu buatan Dassler. Sejak itulah sepatu bikinan mereka makin dikenal luas.
Namun setelah mengalami kemajuan yang cukup pesat, Rudolf Dassler berpisah dengan adiknya Adolf Dassler. Tahun 1948 ia mendirikan perusahaan sepatu sendiri yang diberi nama "PUMA Schuhfabrik Rudolf Dassler", selanjutnya dikenal dengan Puma. Situs Wikipedia Jerman menyebutkan perpisahan kedua bersaudara ini sebagai Meinungsverschiedenheiten atau perbedaan pendapat. Tidak dijelaskan perbedaan pendapat yang seperti apa. Sedangkan adiknya, Adolf Dassler mendirikan perusahaan Adidas yang berasal dari nama ”Adi“ (nama kecil Adolf) yang digabung dengan potongan nama belakangnya yakni ”Dass“. Nama Adidas terdaftar pada tahun 1949.
Dalam perkembangannya Adidas berlari lebih kencang dari Puma. Karena Puma terkesan “kaku”, tidak mengikuti trend dan mode. Belakangan Puma sadar dan mulai berbenah diri, hingga di Piala Dunia 2006 menjadi pemasok kostum dan perlengkapan terbesar setelah Nike dan Adidas. Bandingkan, Puma memasok 12 tim sedangkan Adidas hanya 6 tim. Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan diprediksi Puma masih tetap nomor satu, karena mereka juga pemasok utama tim-tim Afrika. Jadi bisa dikatakan sampai hari ini pun kakak beradik ini masih terus “bertengkar“. Pertengkaran yang membawa rezeki tentunya.
Zulkarnain Jalil, ditulis untuk Serambinews.
Monday, July 17, 2006
Australia 2018; Apa Kabar Indonesia ?
Polemik seputar ketidaksiapan Afrika Selatan menjadi penyelenggara Piala Dunia 2010 sedikit memanas. Malah media memunculkan opini baru, jika Afsel tidak siap maka sebaiknya ditawarkan kepada Amerika Serikat atau Australia (FAZ, 11/7). Kontan hal ini bikin panas kuping bos FIFA. “Piala Dunia 2010 tetap berlangsung di Afrika Selatan !“, tandas Sepp Blatter.
Baiklah kita tinggalkan sejenak “keributan kecil“ itu. Ada yang lebih menarik lagi sebenarnya, utamanya bagi sepak bola Indonesia. Dilansir situs-situs Sportal, Netzeitung, dan FAZ Jumat kemarin (14/7), Australia semakin mempertegas minatnya untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018. Selepas satu pertemuan di Canberra -ibukota Australia-, para politikus menegaskan mereka mendukung sepenuhnya rencana yang diajukan oleh federasi sepak bola Australia (FFA) tersebut. Bahkan Perdana Menteri John Howard menekankan pemerintah akan melakukan apa saja untuk keberhasilan proposal tersebut.
Keyakinan yang demikian tinggi ini tidak lepas dari sukses Socceroos –julukan Australia- di Piala Dunia 2006 Jerman. Permainan yang ditunjukkan anak asuh Gus Hiddink cukup menjanjikan kendati gagal melaju ke perempat final setelah dihadang Italia melalui drama yang disebut sebagai “10 detik yang menyakitkan“. Di samping itu mereka memang pernah menjadi penyelenggara even berkaliber dunia. Misalnya, pernah sukses sebagai tuan rumah Olimpiade Sydney 2000, lalu kejuaraan dunia Rugby 2003, dan terakhir pekan olah raga persemakmuran (Commenwealth Games) Maret 2006 silam di Melbourne.
”Tahun 2006 di Eropa, 2010 Afrika, 2014 ke Amerika Selatan, dan 2018 giliran kami. Jika tidak bisa juga, ya 2022”, ujar Sekjen FFA John O’Neill optimis. Australia yang sejak Januari 2006 masuk zone Asia –meninggalkan Oceania- juga menyatakan keinginannya menjadi penyelenggara Piala Asia 2011 sebagai bagian dari ambisi menggapai tuan rumah Piala Dunia 2018. Pada Piala Asia 2007 Indonesia menjadi tuan rumah bersama Malaysia, Thailand, dan Vietnam.
Lebih lanjut Mohammed bin Hammam, Presiden konfederasi sepak bola Asia (AFC) baru-baru ini berujar:“Australia adalah bagian dari Asia dan itu impian saya untuk melihat tahun 2018 di Asia (lagi)”.
Berkaitan dengan hal itu, saat nonton bareng di kota Dresden beberapa waktu yang lalu, seorang teman berseloroh kenapa PSSI tidak menyewa Gus Hiddink saja sebagai pelatih. Pertama dia orang Belanda, setidaknya dalam darah di tubuhnya pasti ada mengalir sebagian hasil jarahan VOC (serikat dagang Belanda) ketika menjajah Indonesia dulu. Kedua, Hiddink memang bertangan dingin dalam menangani tim “kelas dua”. Lihat hasil sentuhannya di Korea Selatan (juara empat Piala Dunia 2002). Lalu Australia pun dihantarnya hingga babak 16 besar Piala Dunia 2006. Permainan trengginas ala Eropa mengalir di tim Ginseng dan Kanguru. Entahlah, barangkali Hiddink pun “takut“ dengan atmosfir sepak bola Indonesia yang identik dengan kerusuhan.
Ada yang bilang sepak bola Indonesia sulit maju, karena kita tak punya tradisi sepak bola. Terlepas dari urusan politik dengan Australia -tetangga nakal yang selalu bikin masalah-, sepak bola di sana dulu juga cuma olah raga kelas dua. Kriket (juara dunia 1999, 2003) dan rugby justru lebih memasyarakat di sana. Kini sepak bola makin mendapat tempat di hati masyarakat. Para pemainnya kini pasti makin diminati klub-klub Eropa. Apalagi selepas dilatih Gus Hiddink, rekomendasinya tentu makin dipercaya.
Jika memang nanti negara Kanguru itu jadi tuan rumah piala dunia, masak kita cuma jadi penonton saja di sebelah rumah yang cuma selemparan batu itu ? Aduh jangan sampai lah. Padahal bakat-bakat alam lumayan banyak di tempat kita. Mungkin ada baiknya pemain-pemain remaja yang ada sekarang di titipkan saja di klub-klub Belanda. Irvin Museng, remaja Makasar yang kini bermain di Ajax Amsterdam junior barangkali bisa jadi contoh. Masalahnya, apa meneer-meneer itu mau ?
Zulkarnain Jalil, Serambinews (17/07/07).
Polemik seputar ketidaksiapan Afrika Selatan menjadi penyelenggara Piala Dunia 2010 sedikit memanas. Malah media memunculkan opini baru, jika Afsel tidak siap maka sebaiknya ditawarkan kepada Amerika Serikat atau Australia (FAZ, 11/7). Kontan hal ini bikin panas kuping bos FIFA. “Piala Dunia 2010 tetap berlangsung di Afrika Selatan !“, tandas Sepp Blatter.
Baiklah kita tinggalkan sejenak “keributan kecil“ itu. Ada yang lebih menarik lagi sebenarnya, utamanya bagi sepak bola Indonesia. Dilansir situs-situs Sportal, Netzeitung, dan FAZ Jumat kemarin (14/7), Australia semakin mempertegas minatnya untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018. Selepas satu pertemuan di Canberra -ibukota Australia-, para politikus menegaskan mereka mendukung sepenuhnya rencana yang diajukan oleh federasi sepak bola Australia (FFA) tersebut. Bahkan Perdana Menteri John Howard menekankan pemerintah akan melakukan apa saja untuk keberhasilan proposal tersebut.
Keyakinan yang demikian tinggi ini tidak lepas dari sukses Socceroos –julukan Australia- di Piala Dunia 2006 Jerman. Permainan yang ditunjukkan anak asuh Gus Hiddink cukup menjanjikan kendati gagal melaju ke perempat final setelah dihadang Italia melalui drama yang disebut sebagai “10 detik yang menyakitkan“. Di samping itu mereka memang pernah menjadi penyelenggara even berkaliber dunia. Misalnya, pernah sukses sebagai tuan rumah Olimpiade Sydney 2000, lalu kejuaraan dunia Rugby 2003, dan terakhir pekan olah raga persemakmuran (Commenwealth Games) Maret 2006 silam di Melbourne.
”Tahun 2006 di Eropa, 2010 Afrika, 2014 ke Amerika Selatan, dan 2018 giliran kami. Jika tidak bisa juga, ya 2022”, ujar Sekjen FFA John O’Neill optimis. Australia yang sejak Januari 2006 masuk zone Asia –meninggalkan Oceania- juga menyatakan keinginannya menjadi penyelenggara Piala Asia 2011 sebagai bagian dari ambisi menggapai tuan rumah Piala Dunia 2018. Pada Piala Asia 2007 Indonesia menjadi tuan rumah bersama Malaysia, Thailand, dan Vietnam.
Lebih lanjut Mohammed bin Hammam, Presiden konfederasi sepak bola Asia (AFC) baru-baru ini berujar:“Australia adalah bagian dari Asia dan itu impian saya untuk melihat tahun 2018 di Asia (lagi)”.
Berkaitan dengan hal itu, saat nonton bareng di kota Dresden beberapa waktu yang lalu, seorang teman berseloroh kenapa PSSI tidak menyewa Gus Hiddink saja sebagai pelatih. Pertama dia orang Belanda, setidaknya dalam darah di tubuhnya pasti ada mengalir sebagian hasil jarahan VOC (serikat dagang Belanda) ketika menjajah Indonesia dulu. Kedua, Hiddink memang bertangan dingin dalam menangani tim “kelas dua”. Lihat hasil sentuhannya di Korea Selatan (juara empat Piala Dunia 2002). Lalu Australia pun dihantarnya hingga babak 16 besar Piala Dunia 2006. Permainan trengginas ala Eropa mengalir di tim Ginseng dan Kanguru. Entahlah, barangkali Hiddink pun “takut“ dengan atmosfir sepak bola Indonesia yang identik dengan kerusuhan.
Ada yang bilang sepak bola Indonesia sulit maju, karena kita tak punya tradisi sepak bola. Terlepas dari urusan politik dengan Australia -tetangga nakal yang selalu bikin masalah-, sepak bola di sana dulu juga cuma olah raga kelas dua. Kriket (juara dunia 1999, 2003) dan rugby justru lebih memasyarakat di sana. Kini sepak bola makin mendapat tempat di hati masyarakat. Para pemainnya kini pasti makin diminati klub-klub Eropa. Apalagi selepas dilatih Gus Hiddink, rekomendasinya tentu makin dipercaya.
Jika memang nanti negara Kanguru itu jadi tuan rumah piala dunia, masak kita cuma jadi penonton saja di sebelah rumah yang cuma selemparan batu itu ? Aduh jangan sampai lah. Padahal bakat-bakat alam lumayan banyak di tempat kita. Mungkin ada baiknya pemain-pemain remaja yang ada sekarang di titipkan saja di klub-klub Belanda. Irvin Museng, remaja Makasar yang kini bermain di Ajax Amsterdam junior barangkali bisa jadi contoh. Masalahnya, apa meneer-meneer itu mau ?
Zulkarnain Jalil, Serambinews (17/07/07).
Subscribe to:
Comments (Atom)