Di Afsel, Kaos Bola ‘aspal’ lebih diminati
Catatan: Zulkarnain Jalil
Piala Dunia memberi berkah tersendiri bagi segenap pelaku bisnis. Dari pemodal besar hingga pedagang kaki lima. Intinya, bisnis apa saja yang disentuh sedikit saja dengan ‘aura’ Piala Dunia bakal laku keras. Salah satu bisnis yang sukses mengeruk keuntungan besar adalah bisnis jersey atau kaos bola. Harga kaos bola ini bervariasi, dari harga 1 jutaan hingga belasan ribuan rupiah. Tergantung kocek masing-masing pembeli. Yang harga jut-jut biasanya produk asli merk ternama seperti Adidas, Nike, Puma, Umbro, Lotto, dan lainnya. Mau yang lebih murah, bisa beli jersey aspal, asli tapi palsu. “Yang penting kan enak dipakai dan pas di kantong he he,” cetus seorang maniak bola.
Nah, menariknya kostum tiruan atau aspal justru lebih laris di pasaran. Kenapa? Tentu saja karena harga jual yang lebih murah dibanding kostum asli membuat komoditas ini sangat diminati fans bola. Konon lagi di Afrika yang tingkat pendapatannya masih rendah. Misalnya di Pantai Gading, penjahit di sana mampu memproduksi kostum Didier Drogba dkk dengan bentuk yang tak kalah dengan aslinya. Mereka berani menjual seharga 5 dolar AS (sekitar 50 ribu rupiah). Bandingkan dengan kostum produk asli pabrik yang dibanderol sebesar 75 dolar AS (sekitar 700 ribu rupiah)! Alhasil, tim-tim Adidas atau Nike, tak hanya bertarung di dalam stadion, tapi mereka juga musti ‘bertarung’ lagi di luar lapangan melawan pesaing bisnis mereka.
Alasan ekonomi
Sejak awal 2010 polisi Afsel dikabarkan telah menyita barang-barang palsu Piala Dunia senilai 13 juta dolar AS (sekitar 120 milyar rupiah). Dari data FIFA, tercatat ratusan kasus pemalsuan produk Piala Dunia 2010 telah diajukan ke meja pengadilan. Namun tetap saja bisnis barang aspal itu tetap jalan, di tengah razia polisi yang kerap dilakukan terutama di kawasan kaki lima. Hal ini bisa terjadi karena alasan ekonomi.
"Saya berdagang disini untuk memperoleh sedikit uang buat makan, juga buat biaya sekolah anak-anak saya," tukas Philemon Sigauke, seorang pedagang kaos kaki lima di Johannesburg.
Sipho Mlambo, pedagang lainnya, mengaku ekonomi keluarganya sangat terbantu selama Piala Dunia. "Saya sangat gembira selama Piala Dunia ini. Ini negeri kami, kapan lagi kami bisa mendapat rejeki seperti ini. Piala Dunia telah membawa sesuatu yang lebih pada saya dan keluarga saya," ujar pedagang berusia 32 tahun itu sumringah.
Darimana mereka mendapatkan barang-barang tiruan Piala Dunia itu? "Tidak, saya tidak mau bilang pada Anda dimana saya dapatkan barang-barang ini. Bahaya. Anda harus mengerti ini Piala Dunia dan permintaan kaos sangat tinggi," sahut seorang pedagang kaki lima yang tak mau disebutkan namanya dan berdagang di kawasan Alexandra, sebelah utara Johannesburg.
"Dengan berjualan kaos ini kantong saya bisa lebih berisi dari biasanya. Saya tahu memang banyak yang kena tangkap polisi karena dagang barang seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi. Sayang melepas peluang besar seperti ini. Masalah polisi itu urusan belakangan," imbuh pria itu lagi.
Serbuan produk murah asal China
Disinyalir barang-barang tiruan itu didatangkan dari Asia. "Ya, selama Piala Dunia sangat banyak merchandise tiruan. Amatan kami, sebagian besar diproduksi di Asia," kata Mohamed Khader dari Spoor and Fisher, sebuah lembaga pengacara FIFA. Dikatakannya, sejak Januari 2010 ditemukan banyak produk China dan beberapa negara Asia lainnya dengan nilai investasi mencapai 100 rand (sekitar 120 milyar rupiah). Mereka berani menjual dengan harga rendah. Kaos tim Inggris atau Brazil tiruan misalnya dijual seharga 250 rand di kaki lima, sementara yang asli mencapai 600 rand.
Barang-barang tiruan ternyata tak hanya kaos tim saja. Banyak pernak pernik Piala Dunia berlisensi FIFA juga ditiru. Sebut saja boneka maskot Zakumi termasuk salah satu yang sangat banyak diperdagangkan di pasar gelap.
Bahkan timnas Afsel tak luput dari modus ini. Bendera dan Kaos tim Bafana Bafana sangat populer selama Piala Dunia, bahkan hingga perhelatan akan berakhir tetap laku keras. Permintaan akan kaos timnas Bafana Bafana sejauh ini memang nomor satu di Afsel. Ini terjadi sejak September 2009 silam saat mana Football Friday dicetuskan. Footbal Friday adalah sebuah inisiatif pemerintah Afsel agar warga mengenakan seragam timnas Afsel di hari Jumat. Sebagai bentuk dukungan kepada tim asuhan Carlos Alberto Parreira.
"Setiap orang di Afrika Selatan apakah dia warga asli atau pendatang, seharusnya tidak mendukung pasar gelap ini. Jangan beli produk mereka karena akan berimplikasi serius terhadap ekonomi negeri kita, " pesan Kolonel Vishnu Naidoo, jubir kepolisian nasional Afsel.
"Jika hal ini terus terjadi maka akan makin banyak orang yang kehilangan pekerjaan. Contohnya, seragam Bafana Bafana. Seragam timnas ini diproduksi di Afsel, dengan begitu akan makin banyak peluang kerja yang terbuka," imbuh Naidoo.
Di saat FIFA berperang melawan serbuan barang-barang bajakan, produsen merchandise resmi saat perhelatan pun dibuat pusing oleh munculnya bendera nasional Afsel produk China.
“Produsen lokal tak mampu berkompetisi dengan produsen asal China yang berani melepas dengan harga rendah. Kami bahkan tak mampu menutupi biaya produksi. Sebegitu rendahnya bendera produk China," keluh Michael Goldman, direktur Flag Factory seperti dikutip iol.za.
“Sebuah bendera tipe kecil asal China harganya cuma 35 rand (sekitar 42 ribu rupiah). Itu setengah dari harga jual bendera produk lokal. Perbedaan harga mencolok ini, karena pabrik-pabrik di Afsel harus membayar pekerjanya lebih mahal. Itulah masalahnya. Sayang, padahal saat ini bendera sedang jadi primadona,” lanjut Goldman.
Tak pelak, produsen bendera di Afsel pun geram dengan banyaknya produk murah asal China itu. “Padahal ini peluang besar kami untuk menciptakan lapangan kerja di Afsel. Setidaknya sekitar 4 juta rand hilang diserap bendera impor,” ujar salah satu produsen lokal tak mau disebut namanya.
Wednesday, July 14, 2010
Monday, July 12, 2010
Siyabonga Afrika Selatan!
Terima kasih Afrika Selatan! Piala Dunia 2010 Afsel telah berakhir. 32 kontestan peserta even empat tahunan itu kini telah meningggalkan tanah Afrika. Diakui atau tidak, PD 2010 ini memang banyak kekurangan. Berbagai ironi dan insiden kontroversial mewarnai perhelatan sebulan penuh itu. Dari insiden perampokan, suara vuvuzela, banyaknya kursi kosong hingga buruknya kepemimpinan wasit.
“Ini Piala Dunia spesial. Jangan samakan kesuksesan seperti di benua lain. Piala Dunia di Afrika harus dilihat secara berbeda. Ini benua baru dengan budaya baru. Baru bagi dunia sepakbola,” tegas Sepp Blatter seperti dikutip Goal.com, menyikapi nada miring sebagian pihak terhadap perhelatan PD 2010 Afsel.
Begitupun, dengan segala kekurangan itu, even yang baru pertamakali dihelat di tanah Afrika tetap menyiratkan keistimewaan tersendiri. Munculnya juara baru adalah salah satu ciri istimewanya PD kali ini. Ya itulah Spanyol yang berjuluk La Furia Roja atau si merah membara. Kemenangan Tim Matador sendiri mengandung banyak makna.
Kemenangan Spanyol juga berarti kemenangan sepakbola indah di tengah ramainya pertunjukan tim-tim yang menonjolkan pola permainan pragmatis. Tak hanya itu, dan ini yang sangat penting, kemenangan Carles Puyol dkk telah menyatukan semua elemen warga Spanyol. Ya mereka sukses jadi pemersatu bangsa. Gesekan dan sentimen antar etnis semisal di propinsi Catalonia, Basque, Andalusia dan Galicia yang dulunya bersemangat memisahkan diri dari pemerintaha di Madrid, kini sontak luluh.
Empat propinsi yang memiliki otonomi khusus itu akhirnya membuka diri. Bendera nasional Spanyol yang biasanya jadi benda tabu di Catalonia atau Basque, kini berkibar di seantero pelosok negeri otonom tersebut. Di kantor-kantor, balkon apartemen, pertokoan, hingga kios-kios bermandikan bendera nasional. Plus para fans yang membalut tubuh mereka dengan bendera kebanggaan negeri matador. Mereka turun ke jalan, mengibarkan bendera, membunyikan terompet, bernyanyi-nyanyi, meneriakkan yel-yel kemenangan dan aneka selebrasi lainnya.
”Negara lain, tentu bangga dengan bendera nasional mereka. Tapi tidak dengan kami di Spanyol. Namun, berkat Piala Dunia ini, warga kami mulai terbiasa dan bangga dengan identitas bangsanya. Ya, Piala Dunia telah menyatukan kami,” tukas Cesar de Castro, manajer perusahaan bendera Spanyol, Sosa Dias seperti dikutip harian online Timeslive. Kunci yang telah menyatukan mereka adalah sepakbola! Karena itu mereka patut berterima kasih pada Afrika Selatan, sang tuan rumah Piala Dunia 2010.
Tak hanya itu, euforia kemenangan David Villa dkk juga menumbuhkan kembali semangat rakyat Spanyol untuk bangkit dari hantaman krisis ekonomi sejak setahun silam. Jumlah pengangguran yang mencapai 20% plus pemotongan gaji pegawai negeri dan pekerja swasta telah membuat situasi ekonomi rakyat di sana makin sulit. Namun, tendangan Villa dan tandukan Puyol telah menghapus wajah-wajah murung rakyat Spanyol. Tetesan air mata Iker Casillas di akhir pertandingan adalah tetesan kegembiraan. Kegembiraan bagi segenap rakyat Spanyol. Sizobonana Afsel! Selamat tinggal Afsel! (zulkarnain jalil)
Terima kasih Afrika Selatan! Piala Dunia 2010 Afsel telah berakhir. 32 kontestan peserta even empat tahunan itu kini telah meningggalkan tanah Afrika. Diakui atau tidak, PD 2010 ini memang banyak kekurangan. Berbagai ironi dan insiden kontroversial mewarnai perhelatan sebulan penuh itu. Dari insiden perampokan, suara vuvuzela, banyaknya kursi kosong hingga buruknya kepemimpinan wasit.
“Ini Piala Dunia spesial. Jangan samakan kesuksesan seperti di benua lain. Piala Dunia di Afrika harus dilihat secara berbeda. Ini benua baru dengan budaya baru. Baru bagi dunia sepakbola,” tegas Sepp Blatter seperti dikutip Goal.com, menyikapi nada miring sebagian pihak terhadap perhelatan PD 2010 Afsel.
Begitupun, dengan segala kekurangan itu, even yang baru pertamakali dihelat di tanah Afrika tetap menyiratkan keistimewaan tersendiri. Munculnya juara baru adalah salah satu ciri istimewanya PD kali ini. Ya itulah Spanyol yang berjuluk La Furia Roja atau si merah membara. Kemenangan Tim Matador sendiri mengandung banyak makna.
Kemenangan Spanyol juga berarti kemenangan sepakbola indah di tengah ramainya pertunjukan tim-tim yang menonjolkan pola permainan pragmatis. Tak hanya itu, dan ini yang sangat penting, kemenangan Carles Puyol dkk telah menyatukan semua elemen warga Spanyol. Ya mereka sukses jadi pemersatu bangsa. Gesekan dan sentimen antar etnis semisal di propinsi Catalonia, Basque, Andalusia dan Galicia yang dulunya bersemangat memisahkan diri dari pemerintaha di Madrid, kini sontak luluh.
Empat propinsi yang memiliki otonomi khusus itu akhirnya membuka diri. Bendera nasional Spanyol yang biasanya jadi benda tabu di Catalonia atau Basque, kini berkibar di seantero pelosok negeri otonom tersebut. Di kantor-kantor, balkon apartemen, pertokoan, hingga kios-kios bermandikan bendera nasional. Plus para fans yang membalut tubuh mereka dengan bendera kebanggaan negeri matador. Mereka turun ke jalan, mengibarkan bendera, membunyikan terompet, bernyanyi-nyanyi, meneriakkan yel-yel kemenangan dan aneka selebrasi lainnya.
”Negara lain, tentu bangga dengan bendera nasional mereka. Tapi tidak dengan kami di Spanyol. Namun, berkat Piala Dunia ini, warga kami mulai terbiasa dan bangga dengan identitas bangsanya. Ya, Piala Dunia telah menyatukan kami,” tukas Cesar de Castro, manajer perusahaan bendera Spanyol, Sosa Dias seperti dikutip harian online Timeslive. Kunci yang telah menyatukan mereka adalah sepakbola! Karena itu mereka patut berterima kasih pada Afrika Selatan, sang tuan rumah Piala Dunia 2010.
Tak hanya itu, euforia kemenangan David Villa dkk juga menumbuhkan kembali semangat rakyat Spanyol untuk bangkit dari hantaman krisis ekonomi sejak setahun silam. Jumlah pengangguran yang mencapai 20% plus pemotongan gaji pegawai negeri dan pekerja swasta telah membuat situasi ekonomi rakyat di sana makin sulit. Namun, tendangan Villa dan tandukan Puyol telah menghapus wajah-wajah murung rakyat Spanyol. Tetesan air mata Iker Casillas di akhir pertandingan adalah tetesan kegembiraan. Kegembiraan bagi segenap rakyat Spanyol. Sizobonana Afsel! Selamat tinggal Afsel! (zulkarnain jalil)
Friday, July 02, 2010
Di Blikkiesdorp, Piala Dunia kehilangan makna
Blikkiesdorp tak ada dalam peta Afrika Selatan. Karena memang bukan nama kota ataupun lokasi wisata. Blikkiesdorp adalah barak penampungan sementara kaum marginal. Layaknya shelter korban tsunami di Aceh. Nama formalnya adalah Temporary Relocation Area (TRA) atau kawasan relokalisasi sementara.
Tapi para penghuni barak alergi dengan nama ”mentereng” itu dan lebih suka menyebutnya dengan nama Blikkiesdorp yang bermakna “Kampung Kaleng”, karena seluruh struktur bangunan seluas 6 x 3 meter itu, baik dinding maupun atapnya terbuat dari seng. Di siang hari yang terik, rumah-rumah kaleng itu serasa sangat panas. Tubuh bak terpanggang api. Konon lagi lokasi pemukiman ini berdiri di atas tanah berpasir yang tandus. Tak ada pepohonan apapun di dekat situ.
Pemukiman yang berjarak 20 kilometer dari kota Cape Town itu awalnya diperuntukkan bagi warga kota yang kena gusur akibat adanya pembangunan infrastruktur Piala Dunia 2010. Sambil menanti selesainya pembangunan rumah permanen, mereka diminta tinggal dulu di TRA.
Blikkiesdorp dibangun pertamakali tahun 2007 oleh Pemkot Cape Town, saat itu masih dijabat Walikota Helen Zille. Pemkot setempat kabarnya mengeluarkan dana sekitar 30 juta rand (sekitar 3,6 milyar rupiah) untuk relokalisasi warga pinggiran tersebut. Awalnya khusus diperuntukkan bagi warga dari kawasan Athlone, Symphoni Way, Salt River dan Woodstock.yang kena gusur akibat adanya pembangunan infrastruktur Piala Dunia 2010. Jumlahnya tak sampai seribuan orang. Tapi sekarang ini penghuninya sudah mencapai 15.000 orang!
Penghuninya kini makin beragam, dari gembel, gelandangan, pengemis, pengangguran hingga tunawisma. Suasana makin tak nyaman, akibat kriminalitas makin tinggi disini. Tinggal berhimpit-himpitan dalam barak yang berjumlah sekitar 1500 buah itu. Ditambah lagi fasilitas listrik, air dan toilet umum sangat terbatas. Sebagian warga mengaku mulai frustasi, tak tahan lagi tinggal di Blikkiesdorp.
“Barak ini lebih mirip kamp konsentrasi. Dikelilingi pagar kawat berduri, pakai lampu sorot, pintu masuk dijaga satuan polisi pengaman. Penghuninya diawasi secara ketat dan berlaku jam malam. Layaknya kami ini narapidana saja,” ujar Abahlali Mjondolo, salah satu penghuni Blikkiesdorp. “Lokasinya sangat jauh dari pusat kota, tempat kerja dan juga sekolah,” sambung Mjondolo.
"Mereka mengusir gembel jalanan, gelandangan dan pengemis yang tinggal di gubuk-gubuk kumuh dan menumpuknya disini, semata-mata agar kota tampak indah selama Piala Dunia," sergah Mohammed Ali, salah seorang penghuni yang tempat tinggalnya kena gusur .
“Afsel mengeluarkan dana trilyunan untuk Piala Dunia. Kenapa mereka tidak memanfaatkan uang sebesar itu untuk membangun rumah bagi warga miskin?," umpat Beverley Jacobs yang telah menetap di barak berukuran 18 meter persegi sejak tiga tahun lalu.
Penghuni lainnya, Priscilla Ludidi tinggal bersama empat anaknya ditemani sang ibu yang telah berusia 82 tahun. Mereka tidur berhimpit-himpitan di kasur yang terhampar di atas lantai. Sebagian bangunannya bahkan ada yang sudah bocor.
"Awalnya pemerintah kota menjanjikan bahwa kami disini cuma 3-6 bulan. Tapi nyatanya sudah tahunan kami disini. Mereka telah membohongi kami," keluh Ludidi, juga korban kena gusur.
"Ini bukan rumah. Kami dipaksa pindah kemari. Tapi gimana lagi, kami tak punya pilihan lain. Entah kapan bisa pindah ke rumah yang dijanjikan,” keluh Washeila. Smith (57).
Gelandangan merasa nyaman
Namun ada juga yang merasa nyaman hidup di Blikkiesdorp. James Adam dan Rina Kiwido misalnya, yang masuk barak September 2009 silam. Bagi mereka bisa tinggal di Blikkiesdorp adalah berkah. Betapa tidak, dulunya Adam dan Kiwido homeless alias gelandangan yang tinggal di gubuk-gubuk kumuh dekat stadion Green Point. Warga seperti Adam ini sangat dominan di Kampung Kaleng. Makanya mereka maklum saja ketika gubuk derita mereka digusur pas Piala Dunia.
Sebagian penghuni malah ada yang merenovasi sendiri barak mereka agar layak huni. Xolani Bokolo, misalnya, menyulap gubuknya hingga terkesan “mewah”. Dinding bagian dalam telah dicat. Lalu antara kamar tidur dengan ruang keluarga diberi sekat pembatas. Untuk menghindari masuknya debu lewat seng, Bokolo menempelkan kertas kardus di sisi bagian dalam. Sebelumnya, dia terkadang sulit tidur pada malam hari karena terpaan debu yang sangat tebal.
Bagaimana dengan kebutuhan harian? Beberapa warga memanfaatkan ruang kecil di barak untuk berdagang. Warung kopi juga ada. Setidaknya ada sekitar enam kios disitu. “Semua kebutuhan tersedia. Dari roti, gula, minyak goreng, susu bubuk, dan kebutuhan lainnya. Harganya terjangkau. Dari 1 rand (sekitar 1200 rupiah) hingga 10 rand,” sebut Janine Schoeman, seorang ibu rumah tangga yang mengaku sehari-hari dia belanja tidak sampai 10 rand.
"Sebagian besar warga ingin pindah. Tempat ini sudah penuh dengan kriminalitas, dari perampok hingga pengguna narkoba. Kita tidak ingin anak-anak tumbuh di lingkungan seperti itu," keluh Ashraf Cassiem, salah seorang aktifis Kelompok Anti-Penggusuran seperti dikutip Daily Voice menyikapi keluhan warga Kampung Kaleng.
Begitulah, kini muncul nada miring yang menuduh Blikkiesdorp sebagai tempat untuk penampungan gelandangan dan pengemis di pusat kota agar pemerintah dapat menyembunyikan wajah kemiskinan Afsel dari mata turis asing. Terutama selama Piala Dunia berlangsung. Nasib..nasib…
Blikkiesdorp tak ada dalam peta Afrika Selatan. Karena memang bukan nama kota ataupun lokasi wisata. Blikkiesdorp adalah barak penampungan sementara kaum marginal. Layaknya shelter korban tsunami di Aceh. Nama formalnya adalah Temporary Relocation Area (TRA) atau kawasan relokalisasi sementara.
Tapi para penghuni barak alergi dengan nama ”mentereng” itu dan lebih suka menyebutnya dengan nama Blikkiesdorp yang bermakna “Kampung Kaleng”, karena seluruh struktur bangunan seluas 6 x 3 meter itu, baik dinding maupun atapnya terbuat dari seng. Di siang hari yang terik, rumah-rumah kaleng itu serasa sangat panas. Tubuh bak terpanggang api. Konon lagi lokasi pemukiman ini berdiri di atas tanah berpasir yang tandus. Tak ada pepohonan apapun di dekat situ.
Pemukiman yang berjarak 20 kilometer dari kota Cape Town itu awalnya diperuntukkan bagi warga kota yang kena gusur akibat adanya pembangunan infrastruktur Piala Dunia 2010. Sambil menanti selesainya pembangunan rumah permanen, mereka diminta tinggal dulu di TRA.
Blikkiesdorp dibangun pertamakali tahun 2007 oleh Pemkot Cape Town, saat itu masih dijabat Walikota Helen Zille. Pemkot setempat kabarnya mengeluarkan dana sekitar 30 juta rand (sekitar 3,6 milyar rupiah) untuk relokalisasi warga pinggiran tersebut. Awalnya khusus diperuntukkan bagi warga dari kawasan Athlone, Symphoni Way, Salt River dan Woodstock.yang kena gusur akibat adanya pembangunan infrastruktur Piala Dunia 2010. Jumlahnya tak sampai seribuan orang. Tapi sekarang ini penghuninya sudah mencapai 15.000 orang!
Penghuninya kini makin beragam, dari gembel, gelandangan, pengemis, pengangguran hingga tunawisma. Suasana makin tak nyaman, akibat kriminalitas makin tinggi disini. Tinggal berhimpit-himpitan dalam barak yang berjumlah sekitar 1500 buah itu. Ditambah lagi fasilitas listrik, air dan toilet umum sangat terbatas. Sebagian warga mengaku mulai frustasi, tak tahan lagi tinggal di Blikkiesdorp.
“Barak ini lebih mirip kamp konsentrasi. Dikelilingi pagar kawat berduri, pakai lampu sorot, pintu masuk dijaga satuan polisi pengaman. Penghuninya diawasi secara ketat dan berlaku jam malam. Layaknya kami ini narapidana saja,” ujar Abahlali Mjondolo, salah satu penghuni Blikkiesdorp. “Lokasinya sangat jauh dari pusat kota, tempat kerja dan juga sekolah,” sambung Mjondolo.
"Mereka mengusir gembel jalanan, gelandangan dan pengemis yang tinggal di gubuk-gubuk kumuh dan menumpuknya disini, semata-mata agar kota tampak indah selama Piala Dunia," sergah Mohammed Ali, salah seorang penghuni yang tempat tinggalnya kena gusur .
“Afsel mengeluarkan dana trilyunan untuk Piala Dunia. Kenapa mereka tidak memanfaatkan uang sebesar itu untuk membangun rumah bagi warga miskin?," umpat Beverley Jacobs yang telah menetap di barak berukuran 18 meter persegi sejak tiga tahun lalu.
Penghuni lainnya, Priscilla Ludidi tinggal bersama empat anaknya ditemani sang ibu yang telah berusia 82 tahun. Mereka tidur berhimpit-himpitan di kasur yang terhampar di atas lantai. Sebagian bangunannya bahkan ada yang sudah bocor.
"Awalnya pemerintah kota menjanjikan bahwa kami disini cuma 3-6 bulan. Tapi nyatanya sudah tahunan kami disini. Mereka telah membohongi kami," keluh Ludidi, juga korban kena gusur.
"Ini bukan rumah. Kami dipaksa pindah kemari. Tapi gimana lagi, kami tak punya pilihan lain. Entah kapan bisa pindah ke rumah yang dijanjikan,” keluh Washeila. Smith (57).
Gelandangan merasa nyaman
Namun ada juga yang merasa nyaman hidup di Blikkiesdorp. James Adam dan Rina Kiwido misalnya, yang masuk barak September 2009 silam. Bagi mereka bisa tinggal di Blikkiesdorp adalah berkah. Betapa tidak, dulunya Adam dan Kiwido homeless alias gelandangan yang tinggal di gubuk-gubuk kumuh dekat stadion Green Point. Warga seperti Adam ini sangat dominan di Kampung Kaleng. Makanya mereka maklum saja ketika gubuk derita mereka digusur pas Piala Dunia.
Sebagian penghuni malah ada yang merenovasi sendiri barak mereka agar layak huni. Xolani Bokolo, misalnya, menyulap gubuknya hingga terkesan “mewah”. Dinding bagian dalam telah dicat. Lalu antara kamar tidur dengan ruang keluarga diberi sekat pembatas. Untuk menghindari masuknya debu lewat seng, Bokolo menempelkan kertas kardus di sisi bagian dalam. Sebelumnya, dia terkadang sulit tidur pada malam hari karena terpaan debu yang sangat tebal.
Bagaimana dengan kebutuhan harian? Beberapa warga memanfaatkan ruang kecil di barak untuk berdagang. Warung kopi juga ada. Setidaknya ada sekitar enam kios disitu. “Semua kebutuhan tersedia. Dari roti, gula, minyak goreng, susu bubuk, dan kebutuhan lainnya. Harganya terjangkau. Dari 1 rand (sekitar 1200 rupiah) hingga 10 rand,” sebut Janine Schoeman, seorang ibu rumah tangga yang mengaku sehari-hari dia belanja tidak sampai 10 rand.
"Sebagian besar warga ingin pindah. Tempat ini sudah penuh dengan kriminalitas, dari perampok hingga pengguna narkoba. Kita tidak ingin anak-anak tumbuh di lingkungan seperti itu," keluh Ashraf Cassiem, salah seorang aktifis Kelompok Anti-Penggusuran seperti dikutip Daily Voice menyikapi keluhan warga Kampung Kaleng.
Begitulah, kini muncul nada miring yang menuduh Blikkiesdorp sebagai tempat untuk penampungan gelandangan dan pengemis di pusat kota agar pemerintah dapat menyembunyikan wajah kemiskinan Afsel dari mata turis asing. Terutama selama Piala Dunia berlangsung. Nasib..nasib…
Wednesday, June 30, 2010
Inggris marah, Uruguay minta maaf
Drama Bloemfontein yang menghadirkan kontroversi kekalahan Inggris dari Jerman masih terus bergulir. Kali ini yang terlibat adalah media. Dikabarkan oleh harian Afsel, Cape Times, bahwa banyak surat kabar di Inggris yang terbit Senin (28/6) kemarin meluncurkan serangan pedas atas kinerja buruk tim mereka ketika melawan Jerman. Media itu juga meminta Fabio Capello untuk pergi dengan menyebut istilah FabiGo (dari singkatan Fabio Go atau Fabio silahkan pergi)
"Kita telah mengenalkan sepakbola kepada dunia. Namun setelah tahun 1966, sejak itu dunia tak mau mengembalikannya lagi (kepada kita)," tulis harian Dailymail yang terbit di London, mengacu kepada tahun dimana Inggris pernah memenangkan Piala Dunia.
"Menyedihkan sekali. Kemarin kita gagal lagi oleh musuh lama, Jerman. Fabio Capello dan timnya telah bikin malu bangsa. Ini adalah salah satu penghinaan paling perih dalam sejarah olahraga kita," keluh Daily Mail.
Tak kalah sengit, media-media Inggris juga menyemprot wasit yang memimpin pertandingan. Mereka mengecam keputusan wasit Uruguay, Jorge Larrionda dan asistennya Mauricio Espinosa yang tak mensahkan gol Lampard. "Barangkali, cuma wasit dan asistennya saja yang tidak melihat bola itu telah melewati garis gawang," komentar Daily Mail lagi.
Lain lagi fans Inggris, yang telah mengeluarkan dana yang tak sedikit untuk berangkat ke Afrika Selatan, beranggapan bahwa andai saja wasit Larrionda mensahkan gol itu maka jalannya pertandingan akan lain. Begitupun, seperti diakui Dailymail, diluar keputusan kontroversial itu Inggris sendiri memang bermain begitu buruk.
Media Uruguay minta maaf
Sementara itu, merasa nama Uruguay terbawa-bawa dalam kasus itu, beberapa surat kabar terkemuka Uruguay spontan merespon media Inggris. El Pais, misalnya, merespon keluhan orang-orang Inggris dengan pernyataan maaf yang ditulis di headline-nya.
”Atas nama sepakbola: Maafkan kami,” tulis koran beroplah besar itu dengan huruf besar bercetak tebal. Bahkan El Pais yang terbit di Montevideo –ibukota Uruguay- itu juga meminta pejabat sepakbola di negerinya untuk menyampaikan hal yang sama kepada sejawat mereka FA (PSSI-nya Inggris) yang sedang dilanda kesedihan.
Diego Perez, kolumnis di El Pais, berujar: "Kesalahan kemarin itu sangat parah. Ini dapat didefinisikan sebagai sebuah kesalahan besar yang dibuat oleh trio wasit dipimpin oleh Jorge Larrionda. Ini akan jadi sejarah hitam Piala Dunia. Dapat dipastikan mereka bertiga akan bersegera meninggalkan Afrika Selatan. Tapi masalahnya, Uruguay termasuk tim yang masih berjuang di perempat final.”
Sementara itu La Republica, harian berpengaruh Uruguay lainnya, menceritakan bahwa Direktur Atletico Penarol –salah satu klub ternama Uruguay- Sergio Perrone sedang menyelidiki seluruh video pertandingan Penarol yang pernah dipimpin Jorge Larrionda dalam 10 tahun terakhir, terutama saat Penarol melawan rival tradisional mereka. Selanjutnya, video plus rangkuman kerja Larrionda dalam memimpin liga Uruguay bakal dikirimkan ke persatuan sepakbola Uruguay AUF, federasi sepakbola Amerika Latin CONMEBOL dan juga FIFA.
“Kami ingin cek semua keanehan dalam pertandingan yang merugikan kami, yang dipimpin oleh Jorge Larrionda. Sebenarnya, hal ini telah kami rencanakan sejak sebulan yang lalu, jauh sebelum datangnya kontroversi pertandingan Jerman dan Inggris," tukas Sergio Perrone seperti dikutip La Republica.
Sementara itu mantan manajer Lampard di Chelsea, Jose Mourinho, yang kini bertugas di Real Madrid, mengatakan teknologi garis gawang harus segera diperkenalkan untuk mencegah timbulnya perselisihan lebih lanjut. "Aku tak mengerti, mengapa sepak bola termasuk satu dari sedikit cabang olahraga dimana teknologi masih tabu untuk dipakai," sebut pelatih yang mendapat julukan the special one itu penuh rasa heran.
Drama Bloemfontein yang menghadirkan kontroversi kekalahan Inggris dari Jerman masih terus bergulir. Kali ini yang terlibat adalah media. Dikabarkan oleh harian Afsel, Cape Times, bahwa banyak surat kabar di Inggris yang terbit Senin (28/6) kemarin meluncurkan serangan pedas atas kinerja buruk tim mereka ketika melawan Jerman. Media itu juga meminta Fabio Capello untuk pergi dengan menyebut istilah FabiGo (dari singkatan Fabio Go atau Fabio silahkan pergi)
"Kita telah mengenalkan sepakbola kepada dunia. Namun setelah tahun 1966, sejak itu dunia tak mau mengembalikannya lagi (kepada kita)," tulis harian Dailymail yang terbit di London, mengacu kepada tahun dimana Inggris pernah memenangkan Piala Dunia.
"Menyedihkan sekali. Kemarin kita gagal lagi oleh musuh lama, Jerman. Fabio Capello dan timnya telah bikin malu bangsa. Ini adalah salah satu penghinaan paling perih dalam sejarah olahraga kita," keluh Daily Mail.
Tak kalah sengit, media-media Inggris juga menyemprot wasit yang memimpin pertandingan. Mereka mengecam keputusan wasit Uruguay, Jorge Larrionda dan asistennya Mauricio Espinosa yang tak mensahkan gol Lampard. "Barangkali, cuma wasit dan asistennya saja yang tidak melihat bola itu telah melewati garis gawang," komentar Daily Mail lagi.
Lain lagi fans Inggris, yang telah mengeluarkan dana yang tak sedikit untuk berangkat ke Afrika Selatan, beranggapan bahwa andai saja wasit Larrionda mensahkan gol itu maka jalannya pertandingan akan lain. Begitupun, seperti diakui Dailymail, diluar keputusan kontroversial itu Inggris sendiri memang bermain begitu buruk.
Media Uruguay minta maaf
Sementara itu, merasa nama Uruguay terbawa-bawa dalam kasus itu, beberapa surat kabar terkemuka Uruguay spontan merespon media Inggris. El Pais, misalnya, merespon keluhan orang-orang Inggris dengan pernyataan maaf yang ditulis di headline-nya.
”Atas nama sepakbola: Maafkan kami,” tulis koran beroplah besar itu dengan huruf besar bercetak tebal. Bahkan El Pais yang terbit di Montevideo –ibukota Uruguay- itu juga meminta pejabat sepakbola di negerinya untuk menyampaikan hal yang sama kepada sejawat mereka FA (PSSI-nya Inggris) yang sedang dilanda kesedihan.
Diego Perez, kolumnis di El Pais, berujar: "Kesalahan kemarin itu sangat parah. Ini dapat didefinisikan sebagai sebuah kesalahan besar yang dibuat oleh trio wasit dipimpin oleh Jorge Larrionda. Ini akan jadi sejarah hitam Piala Dunia. Dapat dipastikan mereka bertiga akan bersegera meninggalkan Afrika Selatan. Tapi masalahnya, Uruguay termasuk tim yang masih berjuang di perempat final.”
Sementara itu La Republica, harian berpengaruh Uruguay lainnya, menceritakan bahwa Direktur Atletico Penarol –salah satu klub ternama Uruguay- Sergio Perrone sedang menyelidiki seluruh video pertandingan Penarol yang pernah dipimpin Jorge Larrionda dalam 10 tahun terakhir, terutama saat Penarol melawan rival tradisional mereka. Selanjutnya, video plus rangkuman kerja Larrionda dalam memimpin liga Uruguay bakal dikirimkan ke persatuan sepakbola Uruguay AUF, federasi sepakbola Amerika Latin CONMEBOL dan juga FIFA.
“Kami ingin cek semua keanehan dalam pertandingan yang merugikan kami, yang dipimpin oleh Jorge Larrionda. Sebenarnya, hal ini telah kami rencanakan sejak sebulan yang lalu, jauh sebelum datangnya kontroversi pertandingan Jerman dan Inggris," tukas Sergio Perrone seperti dikutip La Republica.
Sementara itu mantan manajer Lampard di Chelsea, Jose Mourinho, yang kini bertugas di Real Madrid, mengatakan teknologi garis gawang harus segera diperkenalkan untuk mencegah timbulnya perselisihan lebih lanjut. "Aku tak mengerti, mengapa sepak bola termasuk satu dari sedikit cabang olahraga dimana teknologi masih tabu untuk dipakai," sebut pelatih yang mendapat julukan the special one itu penuh rasa heran.
Monday, June 28, 2010
Pedagang Zimbabwe jejali Johannesburg
“Hei Jepang, kemari. Ini ada barang bagus buat kamu! Jepang pasti juara!,” teriak Jerry Madziwana ke arah gerombolan turis Jepang berseragam biru yang sedang melintasi kawasan Parkhurst, Johannesburg. Jerry berteriak sembari melambai-lambaikan syal timnas Jepang. Tak ketinggalan terompet vuvuzela juga disodorkannya. Mengenakan pakaian serba hijau dengan senyum yang tak pernah lekang dari bibirnya, Jerry tiada henti memuji-muji kehebatan tim Jepang. Itu memang strategi dagangnya.
Fans Jepang itu tersenyum seraya mendekati Jerry. Dua lembar syal dan beberapa asesoris bercorak timnas Jepang mereka beli. “Dagang disini prospeknya bagus, lumayan lakunya. Sebab disini banyak restoran, toko, bar, cafe dan warung kopi. Fans bola pada ngumpul disini,” kata Jerry sumringah. Jerry sebenarnya bukan warga Afsel. Dia asli dari Zimbabwe, tetangga terdekat Afsel. Jerry hadir disana khusus untuk mengais rezeki selama penyelenggaraan Piala Dunia.
Menarik dicermati, selama Piala Dunia kota-kota utama di Afsel kini dijejali banyak pedagang asing, terutama negara-negara Afrika yang bertetanggaan dengan Afsel. Para pedagang kaki lima kebanyakan berasal dari Zimbabwe, seperti Jerry.
“Tahun 2004, saat Afsel diumumkan sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010, saya bilang sama istri bahwa ini kesempatan emas. Saya musti tinggalkan Harare –ibukota Zimbabwe- sesegera mungkin dan bermukim di Johannesburg untuk sementara waktu,’” ujar Jerry mengenang. “Peluang seperti ini sayang untuk dilewati,” imbuhnya.
Tahun 2005 Jerry pun pindah ke Johannesburg. Di sana dia memborong aneka barang grosiran yang berbau Piala Dunia. “Saya belanja syal, kaos tim, terompet, peluit, dan pernak pernik lainnya. Pokoknya semua yang ada kaitan dengan Piala Dunia,” ujar pria yang mendukung timnas Ghana sembari memegang replika tropi Piala Dunia warna kuning keemasan.
“Tahun-tahun awal berdagang sepi sekali. Saya mulai putus asa dan menyalahkan diri sendiri kenapa dulu datang kemari. Karena ingat keluarga di kampung, saya coba bertahan. Nah setelah beberapa bulan berjalan, perlahan turis mulai ramai datang ke Afsel. Dagangan mulai laku. Semangat saya tumbuh lagi,” kata Jerry mengingat masa-masa sulit di awal usahanya. Sejak itu teman-temannya pun mulai berdatangan dari Zimbabwe.
Selama turnamen berlangsung, Jerry mengaku barang yang paling laku adalah bendera nasional, diikuti syal dan kaos. “Sekarang kan udah masuk musim dingin disini. Jadi banyak fans yang cari perangkat yang bisa menghangatkan tubuh,” tukas Jerry menjawab pertanyaan barang yang paling dicari fans.
Jerry mengaku sekarang ini sangat menikmati hari-harinya di Afsel. “Asyik disini, selain dagang, kita bisa berinteraksi dengan supporter bola dari macam-macam negara. Dari Kanada, Amerika, Belanda, Jerman dan lainnya. Wah macam-macam tingkah polahnya,” kata dia.
Temannya Walter Kanyegoni, juga asal Zimbabwe, membuka lapak di kawasan Parktown. Seperti Jerry, Walter juga datang khusus untuk mengais rejeki selama Piala Dunia.
“Ha ha Zimbabwe memang tak lolos kualifikasi Piala Dunia dan mungkin tak akan pernah,” kata Walter Kanyegoni terbahak ditanya timnas negaranya. Walter merasa gembira dagangannya laris manis selama Piala Dunia. Beda dengan Jerry, selain menjual pernak pernik Piala Dunia Walter juga banyak menawarkan barang-barang kerajinan tangan khas Afrika.
Di sudut lain berdiri Blessing Mdunge. Bibirnya tak henti berteriak menawarkan dagangan. Hingga gigi palsunya yang berwarna keemasan berkilau kena pantulan sinar matahari. Wig bercat warna-warni nangkring di kepalanya. Sekujur tubuhnya diselimuti dengan bendera berbagai negara. “Ramai sekali disini. Ada yang dari Brazil, Italia, Jerman, Belanda. Wah kalau tim-tim besar terus melaju, bakal laris manis,” sebut Blessing bahagia.
Uang keamanan
Agar usaha mereka aman dan lancar, para pedagang kaki lima asal Zimbabwe itu rupanya membayar semacam “jasa keamanan” kepada warga tempatan. Yang buka lapak di kawasan Parkhurst misalnya, mereka nyetor ke Lizo Lukela, seorang juru parkir yang menguasai kawasan situ.
“Ini senang sama senang aja. Saling membantu lah. Bukan semata-mata karena uang. Pedagang Zimbabwe ini saudara kami juga, sesama bangsa Afrika. Mereka pantas mendapatkan keuntungan dari Piala Dunia yang berlangsung di tanah Afrika. Persis seperti saya juga, jadi juru parkir. Mencari rezeki untuk keluarga kami di kampung,” kilah Lizo. Lizo sendiri bukan asli Johannesburg. Dia juga perantau di sana. “Saya dari Queenstown, kota kecil sebelah timur Cape Town. Disini ya selama Piala Dunia aja,” ujar Lizo.
“Di kampung tak ada atmosfir Piala Dunia. Makanya saya kemari. Enaknya lagi, disini bisa dapat kenalan baru, fans bola dari berbagai macam suku bangsa,” imbuh Lizo sambil meniup pluit memandu pengemudi mobil yang masuk area parkir. Tim mana yang mereka dukung?
“Kami awalnya mendukung Afsel. Sayang mereka tersisih. Kini saya dan kawan-kawan mendukung timnas Ghana. Permainan mereka sangat impresif. Pasti semua orang Afrika kepingin tropi Piala Dunia bertahan di Afrika,” ujar Jerry. Tak seperti rekan-rekannya yang lain, Jerry sudah memikirkan apa dan kemana setelah Piala Dunia berakhir, saatmana situasi di Afsel kembali seperti sediakala. Uang hasil jerih payah selama di Johannesburg pun tak lupa disisihkan untuk tabungan.
“Rencananya saya mau buka usaha baru. Belum tahu lagi bentuknya. Saya yakin, selalu saja ada peluang baru. Asal mau berpikir dan berusaha,” tukasnya optimis. Sesaat, dahinya mengkerut seperti mengingat sesuatu. “Oya, saya dengar Afrika Selatan mencalonkan diri jadi tuan rumah Olimpiade 2020. Nah itu kan peluang juga,” sahut Jerry dengan mimik gembira. Iya mas, tapi itu kan masih lama, sepuluh tahun lagi ..he he.
“Hei Jepang, kemari. Ini ada barang bagus buat kamu! Jepang pasti juara!,” teriak Jerry Madziwana ke arah gerombolan turis Jepang berseragam biru yang sedang melintasi kawasan Parkhurst, Johannesburg. Jerry berteriak sembari melambai-lambaikan syal timnas Jepang. Tak ketinggalan terompet vuvuzela juga disodorkannya. Mengenakan pakaian serba hijau dengan senyum yang tak pernah lekang dari bibirnya, Jerry tiada henti memuji-muji kehebatan tim Jepang. Itu memang strategi dagangnya.
Fans Jepang itu tersenyum seraya mendekati Jerry. Dua lembar syal dan beberapa asesoris bercorak timnas Jepang mereka beli. “Dagang disini prospeknya bagus, lumayan lakunya. Sebab disini banyak restoran, toko, bar, cafe dan warung kopi. Fans bola pada ngumpul disini,” kata Jerry sumringah. Jerry sebenarnya bukan warga Afsel. Dia asli dari Zimbabwe, tetangga terdekat Afsel. Jerry hadir disana khusus untuk mengais rezeki selama penyelenggaraan Piala Dunia.
Menarik dicermati, selama Piala Dunia kota-kota utama di Afsel kini dijejali banyak pedagang asing, terutama negara-negara Afrika yang bertetanggaan dengan Afsel. Para pedagang kaki lima kebanyakan berasal dari Zimbabwe, seperti Jerry.
“Tahun 2004, saat Afsel diumumkan sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010, saya bilang sama istri bahwa ini kesempatan emas. Saya musti tinggalkan Harare –ibukota Zimbabwe- sesegera mungkin dan bermukim di Johannesburg untuk sementara waktu,’” ujar Jerry mengenang. “Peluang seperti ini sayang untuk dilewati,” imbuhnya.
Tahun 2005 Jerry pun pindah ke Johannesburg. Di sana dia memborong aneka barang grosiran yang berbau Piala Dunia. “Saya belanja syal, kaos tim, terompet, peluit, dan pernak pernik lainnya. Pokoknya semua yang ada kaitan dengan Piala Dunia,” ujar pria yang mendukung timnas Ghana sembari memegang replika tropi Piala Dunia warna kuning keemasan.
“Tahun-tahun awal berdagang sepi sekali. Saya mulai putus asa dan menyalahkan diri sendiri kenapa dulu datang kemari. Karena ingat keluarga di kampung, saya coba bertahan. Nah setelah beberapa bulan berjalan, perlahan turis mulai ramai datang ke Afsel. Dagangan mulai laku. Semangat saya tumbuh lagi,” kata Jerry mengingat masa-masa sulit di awal usahanya. Sejak itu teman-temannya pun mulai berdatangan dari Zimbabwe.
Selama turnamen berlangsung, Jerry mengaku barang yang paling laku adalah bendera nasional, diikuti syal dan kaos. “Sekarang kan udah masuk musim dingin disini. Jadi banyak fans yang cari perangkat yang bisa menghangatkan tubuh,” tukas Jerry menjawab pertanyaan barang yang paling dicari fans.
Jerry mengaku sekarang ini sangat menikmati hari-harinya di Afsel. “Asyik disini, selain dagang, kita bisa berinteraksi dengan supporter bola dari macam-macam negara. Dari Kanada, Amerika, Belanda, Jerman dan lainnya. Wah macam-macam tingkah polahnya,” kata dia.
Temannya Walter Kanyegoni, juga asal Zimbabwe, membuka lapak di kawasan Parktown. Seperti Jerry, Walter juga datang khusus untuk mengais rejeki selama Piala Dunia.
“Ha ha Zimbabwe memang tak lolos kualifikasi Piala Dunia dan mungkin tak akan pernah,” kata Walter Kanyegoni terbahak ditanya timnas negaranya. Walter merasa gembira dagangannya laris manis selama Piala Dunia. Beda dengan Jerry, selain menjual pernak pernik Piala Dunia Walter juga banyak menawarkan barang-barang kerajinan tangan khas Afrika.
Di sudut lain berdiri Blessing Mdunge. Bibirnya tak henti berteriak menawarkan dagangan. Hingga gigi palsunya yang berwarna keemasan berkilau kena pantulan sinar matahari. Wig bercat warna-warni nangkring di kepalanya. Sekujur tubuhnya diselimuti dengan bendera berbagai negara. “Ramai sekali disini. Ada yang dari Brazil, Italia, Jerman, Belanda. Wah kalau tim-tim besar terus melaju, bakal laris manis,” sebut Blessing bahagia.
Uang keamanan
Agar usaha mereka aman dan lancar, para pedagang kaki lima asal Zimbabwe itu rupanya membayar semacam “jasa keamanan” kepada warga tempatan. Yang buka lapak di kawasan Parkhurst misalnya, mereka nyetor ke Lizo Lukela, seorang juru parkir yang menguasai kawasan situ.
“Ini senang sama senang aja. Saling membantu lah. Bukan semata-mata karena uang. Pedagang Zimbabwe ini saudara kami juga, sesama bangsa Afrika. Mereka pantas mendapatkan keuntungan dari Piala Dunia yang berlangsung di tanah Afrika. Persis seperti saya juga, jadi juru parkir. Mencari rezeki untuk keluarga kami di kampung,” kilah Lizo. Lizo sendiri bukan asli Johannesburg. Dia juga perantau di sana. “Saya dari Queenstown, kota kecil sebelah timur Cape Town. Disini ya selama Piala Dunia aja,” ujar Lizo.
“Di kampung tak ada atmosfir Piala Dunia. Makanya saya kemari. Enaknya lagi, disini bisa dapat kenalan baru, fans bola dari berbagai macam suku bangsa,” imbuh Lizo sambil meniup pluit memandu pengemudi mobil yang masuk area parkir. Tim mana yang mereka dukung?
“Kami awalnya mendukung Afsel. Sayang mereka tersisih. Kini saya dan kawan-kawan mendukung timnas Ghana. Permainan mereka sangat impresif. Pasti semua orang Afrika kepingin tropi Piala Dunia bertahan di Afrika,” ujar Jerry. Tak seperti rekan-rekannya yang lain, Jerry sudah memikirkan apa dan kemana setelah Piala Dunia berakhir, saatmana situasi di Afsel kembali seperti sediakala. Uang hasil jerih payah selama di Johannesburg pun tak lupa disisihkan untuk tabungan.
“Rencananya saya mau buka usaha baru. Belum tahu lagi bentuknya. Saya yakin, selalu saja ada peluang baru. Asal mau berpikir dan berusaha,” tukasnya optimis. Sesaat, dahinya mengkerut seperti mengingat sesuatu. “Oya, saya dengar Afrika Selatan mencalonkan diri jadi tuan rumah Olimpiade 2020. Nah itu kan peluang juga,” sahut Jerry dengan mimik gembira. Iya mas, tapi itu kan masih lama, sepuluh tahun lagi ..he he.
Saturday, June 26, 2010
“Al-Quran bikin saya lebih kuat“
Nanti malam, saat Jerman bentrok lawan Inggris, coba Anda amati ketika lagu kebangsaan masing-masing negara diperdengarkan. Mesut Oezil, pemain andalan Jerman keturunan Turki -seperti biasa- terlihat bungkam sementara teman setimnya khusyuk menyanyikan lagu nasional. Lantas apa yang dilakukan Oziel dalam beberapa menit yang penuh emosional itu?
“Aku melafalkan dalam hati beberapa ayat suci Al-Quran. Dengan ayat (Al-Quran) itu aku seperti dapat “kekuatan“ lebih. Hati jadi tenang, tidak tegang. Jika aku tak melakukannya, perasaanku serasa tak nyaman, ada yang kurang,” ujar Oezil kepada Express, harian Jerman yang terbit di Koln.
Pemain yang membawa timnas Jerman U-21 sebagai juara Eropa 2009 itu juga mengaku sewaktu masih berada di kamar ganti dia tak henti memanjatkan doa. Tak cukup disitu, sesaat sebelum peluit kick off dibunyikan, Oezil pernah tertangkap kamera sedang menadahkan tangannya sambil komat kamit bermohon kepada Allah.
“Aku berdoa bagi diriku sendiri, bagi semua anggota tim agar diberikan kesehatan dan dimudahkan untuk bisa meraih sukses. Masalah nasionalisme jangan diperdebatkan lagi.Aku sudah cukup bangga dengan mendengarkan lagu kebangsaan Jerman,“ tegas pemain berusia 22 tahun yang berposisi sebagai pengatur serangan di lini tengah.
Pemain yang mengidolakan Zinedine Zidane dan saat ini main bersama Werder Bremen, juga mengharamkan daging babi. Sebagai catatan, di Jerman babi adalah makanan harian, seperti daging lembu atau kambing di tempat kita. Kehidupan Mesut Oezil memang banyak dipengaruhi oleh keluarga ayahnya yang asli Turki.
Bagi orang Jerman sendiri, agama adalah masalah pribadi. Umumnya tak berani mengusik terlalu jauh perihal keyakinan seseorang. Anggapan mereka, tiap orang punya ruang privasi dan cara sendiri dalam mengungkapkannya. Namun, bagi sebagian yang belum paham, tentu saja apa yang dilakukan Oezil sebagai hal yang tak biasa atau asing.
Kebiasaan Oezil, yang tak umum di mata orang Jerman itu, pertama kali terkuak tatkala dia melakoni debut bersama tim Panser di pertandingan persahabatan melawan Afrika Selatan 5 September 2009 silam. Kala itu Oezil yang dipercaya memegang ban kapten mencetak sebuah gol.
Idola baru Jerman
Di Jerman sontak figur Mesut Oezil jadi pembicaraan hangat. Media dan pengamat bola tak henti mengulasnya. Bahkan dia diidolakan anak-anak muda, terutama Turki. Oezil jadi kebanggaan, karena belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah sepakbola Jerman ada orang Turki yang diberi peran lebih.
Franz Joseph Wagner, kolumnis harian terkemuka Jerman Bild, menulis dalam kolomnya:“Siapa yang tak bangga dengan Oezil, bintang muda kesebelasan nasional. Ayahnya Turki dan ibu Jerman. Dibesarkan di Gelsenkirchen. Bukankah ini impian kita, melihat masa depan Jerman?“
“Unser Messi ist Özil, (Messi kami adalah Oezil)” kata Horst Hrubesch, mantan punggawa Jerman kala menjuarai Piala Eropa 1980 dan Juara kedua PD 1982, dalam satu wawancara dengan Bild. Mesut Oezil sendiri merupakan mantan anak didik Hrubesh di timnas junior U-21. Nah kabarnya ada sebagian warga Turki yang menanyakan kenapa Oziel tak memperkuat timnas Turki saja, tanah leluhurnya.
”Saya sudah 40 tahun tinggal dan bekerja di Jerman. Oezil lahir dan besar di sini. Jerman adalah tanah air kedua bagi kami. Ada memang yang kecewa, kenapa tidak main untuk Turki yang negeri leluhurnya. Saking banyaknya yang tanya, dia pernah sampai harus memblok home page-nya,“ ujar Mustafa, ayahanda Mesut Oezil seperti dikutip Express. “Mesut dalam bahasa Turki artinya “beruntung,“ imbuh Mustafa. Semoga begitu adanya. Well, kini siapkan jantung Anda untuk laga panas nanti malam. Selamat menonton!
Nanti malam, saat Jerman bentrok lawan Inggris, coba Anda amati ketika lagu kebangsaan masing-masing negara diperdengarkan. Mesut Oezil, pemain andalan Jerman keturunan Turki -seperti biasa- terlihat bungkam sementara teman setimnya khusyuk menyanyikan lagu nasional. Lantas apa yang dilakukan Oziel dalam beberapa menit yang penuh emosional itu?
“Aku melafalkan dalam hati beberapa ayat suci Al-Quran. Dengan ayat (Al-Quran) itu aku seperti dapat “kekuatan“ lebih. Hati jadi tenang, tidak tegang. Jika aku tak melakukannya, perasaanku serasa tak nyaman, ada yang kurang,” ujar Oezil kepada Express, harian Jerman yang terbit di Koln.
Pemain yang membawa timnas Jerman U-21 sebagai juara Eropa 2009 itu juga mengaku sewaktu masih berada di kamar ganti dia tak henti memanjatkan doa. Tak cukup disitu, sesaat sebelum peluit kick off dibunyikan, Oezil pernah tertangkap kamera sedang menadahkan tangannya sambil komat kamit bermohon kepada Allah.
“Aku berdoa bagi diriku sendiri, bagi semua anggota tim agar diberikan kesehatan dan dimudahkan untuk bisa meraih sukses. Masalah nasionalisme jangan diperdebatkan lagi.Aku sudah cukup bangga dengan mendengarkan lagu kebangsaan Jerman,“ tegas pemain berusia 22 tahun yang berposisi sebagai pengatur serangan di lini tengah.
Pemain yang mengidolakan Zinedine Zidane dan saat ini main bersama Werder Bremen, juga mengharamkan daging babi. Sebagai catatan, di Jerman babi adalah makanan harian, seperti daging lembu atau kambing di tempat kita. Kehidupan Mesut Oezil memang banyak dipengaruhi oleh keluarga ayahnya yang asli Turki.
Bagi orang Jerman sendiri, agama adalah masalah pribadi. Umumnya tak berani mengusik terlalu jauh perihal keyakinan seseorang. Anggapan mereka, tiap orang punya ruang privasi dan cara sendiri dalam mengungkapkannya. Namun, bagi sebagian yang belum paham, tentu saja apa yang dilakukan Oezil sebagai hal yang tak biasa atau asing.
Kebiasaan Oezil, yang tak umum di mata orang Jerman itu, pertama kali terkuak tatkala dia melakoni debut bersama tim Panser di pertandingan persahabatan melawan Afrika Selatan 5 September 2009 silam. Kala itu Oezil yang dipercaya memegang ban kapten mencetak sebuah gol.
Idola baru Jerman
Di Jerman sontak figur Mesut Oezil jadi pembicaraan hangat. Media dan pengamat bola tak henti mengulasnya. Bahkan dia diidolakan anak-anak muda, terutama Turki. Oezil jadi kebanggaan, karena belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah sepakbola Jerman ada orang Turki yang diberi peran lebih.
Franz Joseph Wagner, kolumnis harian terkemuka Jerman Bild, menulis dalam kolomnya:“Siapa yang tak bangga dengan Oezil, bintang muda kesebelasan nasional. Ayahnya Turki dan ibu Jerman. Dibesarkan di Gelsenkirchen. Bukankah ini impian kita, melihat masa depan Jerman?“
“Unser Messi ist Özil, (Messi kami adalah Oezil)” kata Horst Hrubesch, mantan punggawa Jerman kala menjuarai Piala Eropa 1980 dan Juara kedua PD 1982, dalam satu wawancara dengan Bild. Mesut Oezil sendiri merupakan mantan anak didik Hrubesh di timnas junior U-21. Nah kabarnya ada sebagian warga Turki yang menanyakan kenapa Oziel tak memperkuat timnas Turki saja, tanah leluhurnya.
”Saya sudah 40 tahun tinggal dan bekerja di Jerman. Oezil lahir dan besar di sini. Jerman adalah tanah air kedua bagi kami. Ada memang yang kecewa, kenapa tidak main untuk Turki yang negeri leluhurnya. Saking banyaknya yang tanya, dia pernah sampai harus memblok home page-nya,“ ujar Mustafa, ayahanda Mesut Oezil seperti dikutip Express. “Mesut dalam bahasa Turki artinya “beruntung,“ imbuh Mustafa. Semoga begitu adanya. Well, kini siapkan jantung Anda untuk laga panas nanti malam. Selamat menonton!
Slowakia dapat kiriman dari syurga
Setelah Perancis, kini giliran sang juara bertahan Italia harus angkat koper lebih awal. Pentas Piala Dunia 2010 Afsel memang penuh intrik dan kejutan tak terduga. Coba lihat, Perancis dan Italia yang notabene adalah tim finalis Piala Dunia 2006 Jerman gagal melaju ke babak knock out dan bahkan di fase grup terbenam di posisi juru kunci.
Nasib paling naas nan dramatis dialami Italia. Datang ke Afsel dengan status juara bertahan justru tersingkir di fase grup usai berkejar-kejaran angka dengan Slowakia di laga pamungkas kemarin malam yang berakhir 3-2 untuk Slowakia. Rakyat Slowakia pun bersorak dan Italia menangis. Tak pelak, keesokan harinya media di Afsel pun dipenuhi berita kekalahan tim Azzuri.
“Slowakia dapat kiriman dari syurga,” demikian berita utama surat kabar terkemuka Afsel, Mail and Guardian. “Nikmati sepakbola, mari rayakan. Ini hadiah untuk fans kami semua,” ujar Vladimir Weiss, pelatih Slowakia dalam pesan ringkasnya kepada para supporter dan dikutip harian yang terbit di Johannesburg itu. Masih dalam ulasannya, Mail and Guardian mengungkapkan pernyataan ketua federasi sepakbola Slowakia, Frantisek Laurinec.
"Saya minta para wartawan dan seluruh media Slowakia, marilah harmonis kembali. Kita mulai lagi dari awal, mari jalin kebersamaan. Saya akan bilang Vladimir Weiss dan para pemainnya untuk menormalkan kembali keadaan,” ujar Laurinec. "Ini momen luar biasa bagi sepakbola Slowakia,” imbuh Laurinec. Apa pasal Laurinec sampai berkata begitu?
Rupanya hal ini dipicu oleh kejadian saat konferensi pers seusai Slowakia dikalahkan Paraguay 0-2, hari Minggu lalu (20/6) . Saat itu, Vladimir Weiss naik pitam tatkala seorang wartawan Slowakia menyindir taktik Weiss yang dinilai tak ampuh di turnamen sekaliber Piala Dunia. Weiss, yang merasa terhina di depan orang ramai, mengancam bakal menyerang si wartawan. Untung saja tak jadi, karena Weiss buru-buru ngacir dari ruang konferensi pers.
Kontan saja hal itu memantik polemik. Asosiasi wartawan Slowakia sampai mengeluarkan pernyataan yang meminta Weiss untuk bijak dalam menanggapi media. Sejak itu hubungan Weiss dengan wartawan mulai dingin. Kemenangan atas Italia yang mengantarkan Slowakia melaju ke babak 16 besar, diyakini akan meleburkan hubungan yang sempat retak itu.
Koran terkemuka Afsel Cape Times juga menempatkan berita kekalahan Italia sebagai headline dengan judul: “Slovakia humiliate World Champs” (Slowakia permalukan sang juara bertahan). Harian yang terbit di Cape Town itu mengulas perjalanan Italia yang terseok-seok selama PD 2010 dengan penampilan yang tidak mengesankan sebagai sebuah tim juara dunia. Disebut juga, Azzurri yang peringkat 5 dunia dibenam oleh tim berperingkat 34 dunia. 90 menit yang mengejutkan. Demikian Cape Times edisi Jumat (25/6).
Tak kalah hebohnya di Slowakia, media-media disana dikabarkan penuh oleh berita kemenangan timnas mereka. Novy Cas, salah satu harian terkemuka di Slowakia menulis judul besar “Gol-gol indah dan Italia hancur”. Dalam ulasannya, Novy Cas menyebut “mimpi telah jadi kenyataan.” Pemain Slowakia tampilkan penampilan memikat dengan membekuk sang juara bertahan Italia dan mengirim mereka pulang kampung untuk menikmati libur lebih cepat.
“Historic Slovak victory at World Cup 2010” (Kemenangan bersejarah Slowakia di Piala Dunia 2010) tulis Slovak Spectator, harian beroplah besar lainnya yang terbit di Bratislava , ibukota Slowakia.
Sementara itu Pravda, salah satu surat kabar berpengaruh di Bratislava , menampilkan foto ukuran besar dimana ratusan ribu warga Slowakia menyemut di alun-alun kota Bratislava . Digambarkan Pravda, fans Slowakia dengan kaos kebesaran timnas dan bendera kebangsaan plus syal warna biru tak henti-henti meneriakkan yel-yel kemenangan dalam bahasa Slowak. Lagu kebangsaan pun mengumandang. “Fantastis! Slowakia bisa kalahkan Italia!,” tutup Pravda, masih dalam nuansa euphoria.
Ya Slowakia memang fantastis. Betapa tidak, negara yang dulunya bernama Cekoslowakia itu baru jadi anggota FIFA tahun 1993. Pertandingan internasional pertama mereka setelah merdeka adalah melawan Uni Emirat Arab tahun 1994 di Dubai. Dan, menariknya lagi, ini adalah piala dunia pertama bagi mereka. Bukan main.
Fenomena tumbangnya tim unggulan
Begitulah. Piala Dunia 2010 Afsel memang sarat misteri dan penuh dengan kejutan. Banyak hal yang tak terduga terjadi. Pendukung tim unggulan pun musti menarik nafas panjang. Bahkan banyak yang harus menelan kekecewaan dengan hasil akhir pertandingan. Banyak tim unggulan yang jadi korban tim kecil. Kali ini, dua tim besar Italia dan Prancis telah menjadi korban fenomena mistis Afsel tersebut. Yunani yang mantan kampiun Euro 2004, juga angkat koper. Lalu, tim dinamit Denmark yang eks juara Euro 92 juga kalah kelas dengan Jepang. Jauh sebelumnya, di awal laga fase grup, Spanyol, Inggris bahkan keteteran dari lawan-lawannya. Belum lagi Jerman yang sempat memble di tangan Serbia . Data terkini, Korsel, Jepang , Ghana , Slowakia yang dianggap mewakili “tim lemah” justru mulus melaju. Ada apa ini? Apakah kualitas Piala Dunia telah menurun?
“Bukan, sama sekali turnamen ini tidak menurun kualitasnya. Akan tetapi peta kekuatan sepakbola saat ini telah merata. Sekarang tidak ada lagi yang namanya tim kuat dan tim lemah. Di fase grup jelas terlihat, tak ada tim yang benar-benar dominan atas tim lainnya,” tukas eks maestro Ayam Jantan Prancis, Zinedine Zidane kala ditanya perihal fenomena tumbangnya tim-tim unggulan di Piala Dunia 2010. Hal itu diungkapkan Zidane dalam satu konferensi pers di Sandton Convention Centre, Johannesburg, Senin (21/6) lalu. Apa yang dikatakan Zidane mungkin ada benarnya. Tim-tim yang selama ini jadi makanan empuk tim-tim besar sudah banyak belajar dari ketertinggalannya. Konon lagi jika dikaitkan dengan makin banyak pemain-pemain dari negeri mereka yang merumput di liga-liga elit Eropa. Jadi, siapa yang bakal jadi korban berikutnya? Patut ditunggu.
Setelah Perancis, kini giliran sang juara bertahan Italia harus angkat koper lebih awal. Pentas Piala Dunia 2010 Afsel memang penuh intrik dan kejutan tak terduga. Coba lihat, Perancis dan Italia yang notabene adalah tim finalis Piala Dunia 2006 Jerman gagal melaju ke babak knock out dan bahkan di fase grup terbenam di posisi juru kunci.
Nasib paling naas nan dramatis dialami Italia. Datang ke Afsel dengan status juara bertahan justru tersingkir di fase grup usai berkejar-kejaran angka dengan Slowakia di laga pamungkas kemarin malam yang berakhir 3-2 untuk Slowakia. Rakyat Slowakia pun bersorak dan Italia menangis. Tak pelak, keesokan harinya media di Afsel pun dipenuhi berita kekalahan tim Azzuri.
“Slowakia dapat kiriman dari syurga,” demikian berita utama surat kabar terkemuka Afsel, Mail and Guardian. “Nikmati sepakbola, mari rayakan. Ini hadiah untuk fans kami semua,” ujar Vladimir Weiss, pelatih Slowakia dalam pesan ringkasnya kepada para supporter dan dikutip harian yang terbit di Johannesburg itu. Masih dalam ulasannya, Mail and Guardian mengungkapkan pernyataan ketua federasi sepakbola Slowakia, Frantisek Laurinec.
"Saya minta para wartawan dan seluruh media Slowakia, marilah harmonis kembali. Kita mulai lagi dari awal, mari jalin kebersamaan. Saya akan bilang Vladimir Weiss dan para pemainnya untuk menormalkan kembali keadaan,” ujar Laurinec. "Ini momen luar biasa bagi sepakbola Slowakia,” imbuh Laurinec. Apa pasal Laurinec sampai berkata begitu?
Rupanya hal ini dipicu oleh kejadian saat konferensi pers seusai Slowakia dikalahkan Paraguay 0-2, hari Minggu lalu (20/6) . Saat itu, Vladimir Weiss naik pitam tatkala seorang wartawan Slowakia menyindir taktik Weiss yang dinilai tak ampuh di turnamen sekaliber Piala Dunia. Weiss, yang merasa terhina di depan orang ramai, mengancam bakal menyerang si wartawan. Untung saja tak jadi, karena Weiss buru-buru ngacir dari ruang konferensi pers.
Kontan saja hal itu memantik polemik. Asosiasi wartawan Slowakia sampai mengeluarkan pernyataan yang meminta Weiss untuk bijak dalam menanggapi media. Sejak itu hubungan Weiss dengan wartawan mulai dingin. Kemenangan atas Italia yang mengantarkan Slowakia melaju ke babak 16 besar, diyakini akan meleburkan hubungan yang sempat retak itu.
Koran terkemuka Afsel Cape Times juga menempatkan berita kekalahan Italia sebagai headline dengan judul: “Slovakia humiliate World Champs” (Slowakia permalukan sang juara bertahan). Harian yang terbit di Cape Town itu mengulas perjalanan Italia yang terseok-seok selama PD 2010 dengan penampilan yang tidak mengesankan sebagai sebuah tim juara dunia. Disebut juga, Azzurri yang peringkat 5 dunia dibenam oleh tim berperingkat 34 dunia. 90 menit yang mengejutkan. Demikian Cape Times edisi Jumat (25/6).
Tak kalah hebohnya di Slowakia, media-media disana dikabarkan penuh oleh berita kemenangan timnas mereka. Novy Cas, salah satu harian terkemuka di Slowakia menulis judul besar “Gol-gol indah dan Italia hancur”. Dalam ulasannya, Novy Cas menyebut “mimpi telah jadi kenyataan.” Pemain Slowakia tampilkan penampilan memikat dengan membekuk sang juara bertahan Italia dan mengirim mereka pulang kampung untuk menikmati libur lebih cepat.
“Historic Slovak victory at World Cup 2010” (Kemenangan bersejarah Slowakia di Piala Dunia 2010) tulis Slovak Spectator, harian beroplah besar lainnya yang terbit di Bratislava , ibukota Slowakia.
Sementara itu Pravda, salah satu surat kabar berpengaruh di Bratislava , menampilkan foto ukuran besar dimana ratusan ribu warga Slowakia menyemut di alun-alun kota Bratislava . Digambarkan Pravda, fans Slowakia dengan kaos kebesaran timnas dan bendera kebangsaan plus syal warna biru tak henti-henti meneriakkan yel-yel kemenangan dalam bahasa Slowak. Lagu kebangsaan pun mengumandang. “Fantastis! Slowakia bisa kalahkan Italia!,” tutup Pravda, masih dalam nuansa euphoria.
Ya Slowakia memang fantastis. Betapa tidak, negara yang dulunya bernama Cekoslowakia itu baru jadi anggota FIFA tahun 1993. Pertandingan internasional pertama mereka setelah merdeka adalah melawan Uni Emirat Arab tahun 1994 di Dubai. Dan, menariknya lagi, ini adalah piala dunia pertama bagi mereka. Bukan main.
Fenomena tumbangnya tim unggulan
Begitulah. Piala Dunia 2010 Afsel memang sarat misteri dan penuh dengan kejutan. Banyak hal yang tak terduga terjadi. Pendukung tim unggulan pun musti menarik nafas panjang. Bahkan banyak yang harus menelan kekecewaan dengan hasil akhir pertandingan. Banyak tim unggulan yang jadi korban tim kecil. Kali ini, dua tim besar Italia dan Prancis telah menjadi korban fenomena mistis Afsel tersebut. Yunani yang mantan kampiun Euro 2004, juga angkat koper. Lalu, tim dinamit Denmark yang eks juara Euro 92 juga kalah kelas dengan Jepang. Jauh sebelumnya, di awal laga fase grup, Spanyol, Inggris bahkan keteteran dari lawan-lawannya. Belum lagi Jerman yang sempat memble di tangan Serbia . Data terkini, Korsel, Jepang , Ghana , Slowakia yang dianggap mewakili “tim lemah” justru mulus melaju. Ada apa ini? Apakah kualitas Piala Dunia telah menurun?
“Bukan, sama sekali turnamen ini tidak menurun kualitasnya. Akan tetapi peta kekuatan sepakbola saat ini telah merata. Sekarang tidak ada lagi yang namanya tim kuat dan tim lemah. Di fase grup jelas terlihat, tak ada tim yang benar-benar dominan atas tim lainnya,” tukas eks maestro Ayam Jantan Prancis, Zinedine Zidane kala ditanya perihal fenomena tumbangnya tim-tim unggulan di Piala Dunia 2010. Hal itu diungkapkan Zidane dalam satu konferensi pers di Sandton Convention Centre, Johannesburg, Senin (21/6) lalu. Apa yang dikatakan Zidane mungkin ada benarnya. Tim-tim yang selama ini jadi makanan empuk tim-tim besar sudah banyak belajar dari ketertinggalannya. Konon lagi jika dikaitkan dengan makin banyak pemain-pemain dari negeri mereka yang merumput di liga-liga elit Eropa. Jadi, siapa yang bakal jadi korban berikutnya? Patut ditunggu.
Thursday, June 24, 2010
Perancis berduka, Irlandia tertawa
Perihal angkat kopernya Perancis dari Piala Dunia Afsel rupanya memantik koran-koran di Irlandia untuk menurunkannya sebagai berita utama. Seperti diekspos oleh dua harian berpengaruh di Afsel, yakni Business Day dan Sport24 yang terbit di Johannesburg, bahwa hampir semua koran di Irlandia seakan bersepakat menyebut gagalnya Tim Ayam Jantan Perancis sebagai “Hari Penghakiman” untuk Perancis. Kenapa media Irlandia malah tertawa di atas duka yang sedang dialami Perancis?
Semua bermula pada 19 Oktober 2009 silam saat Perancis lolos dari lobang jarum babak play-off Piala Dunia 2010 dengan menang kontroversial dari Irlandia. Kontroversial, karena gol tunggal Prancis itu dicetak setelah didahului oleh hands ball Thierry Henry. Dari tayang ulang, sangat jelas terlihat kalau bola dibelokkan Henry dengan tangannya, lalu mengoper ke Gallas yang tinggal mendorong sedikit ke gawang Irlandia. Rakyat Irlandia pun meradang.
Begitulah, Prancis berangkat ke Afsel dengan tiket “haram” yang dicuri dari saku Irlandia. Mungkin, karena dicapai dengan cara tidak elegan itu selama berada di negeri Nelson Mandela, Prancis terus didera konflik tiada henti. Konflik internal adalah yang sangat kentara, tinggal menunggu bom waktu saja. Dan, kemelut meledak Sabtu pekan lalu saat striker Nicolas Anelka diusir dari timnas Prancis karena melontarkan kata-kata 'tidak pantas' ke Raimond Domenecg, sang pelatih.
Tak pelak, kini koran-koran di Irlandia pun “bersuka ria” atas gagalnya Perancis melaju ke babak 16 besar Piala Dunia 2010. Mereka seakan bersepakat untuk menurunkan berita itu sebagai berita utama di halaman depan. Tentu saja, ”gol tangan Tuhan” Henry di Stade de France diungkit-ungkit lagi, kendati Henry sendiri telah minta maaf kepada publik Irlandia. ”Hari Penghakiman” tulis harian terkemuka Irlandia Examiner. Koran itu menyebut bahwa kekalahan Perancis atas Afrika Selatan (2-1) dengan memelesetkan Tour de France menjadi ”end of Tour de Farce” (akhir dari lelucon Perancis).
Harian yang terbit di Dublin –ibukota Irlandia- itu masih mengungkit gol Henry tujuh bulan silam dengan mengutip istilah dalam bahasa Perancis "Le Hand of Dieu" atau tragedi tangan Tuhan. Perancis berangkat ke Afsel dengan tiket ”haram” hasil ”penipuan” Henry. Demikian Irish Examiner.
Sementara itu harian terkemuka lainnya, Times menulis "France's nightmare World Cup finally ends with inglorious exit". Mimpi buruk Perancis di Piala Dunia berakhir dengan memalukan, begitu kira-kira artinya.
Times terus memojokkan Prancis dengan kata-kata pedas. "Ini boleh dicatat sebagai Tahun Duka Perancis. Kemarin di Bloemfontein, pelaku kejahatan telah mendapat hukuman setimpal," ulas Times dalam headline-nya.
"Au revoir!" (selamat tinggal!) tulis harian Independent dihalaman utamanya. "Maafkan kami yang tertawa atas duka Les Blues, tapi ini semua gara-gara kalian sendiri. Barangkali ini hukum karma atau kutukan atau apapun namanya. Tapi yang pasti tim yang telah menipu kami hari ini pulang kampung dengan penuh kehinaan,” tambah Independent lagi. "Kami sebenarnya ber-empati dengan hari buruk yang dialami mereka. Namun orang-orang Irlandia tak bisa menyembunyikan rasa senangnya," tutup Independent.
Menariknya, seperti dicatat media Afsel Timeslive, di Paris warga Prancis malah mengelu-elukan kemenangan tim Bafana. Arena nobar di dekat Menara Eiffel berubah jadi pesta untuk Afsel. Bahkan ketika Goucuff dapat kartu merah, disambut dengan sorakan gembira. Kentara sekali kalau suporter Prancis sudah muak dengan lelucon timnas mereka, tulis Timeslive.
Begitulah. Kegagalan ini mirip dengan Piala Dunia 2002 di Jepang-Korea. Kala itu Prancis juga angkat kaki lebih cepat setelah jadi juru kunci. Lagi-lagi masalah internal yang jadi biang keroknya.
Perihal angkat kopernya Perancis dari Piala Dunia Afsel rupanya memantik koran-koran di Irlandia untuk menurunkannya sebagai berita utama. Seperti diekspos oleh dua harian berpengaruh di Afsel, yakni Business Day dan Sport24 yang terbit di Johannesburg, bahwa hampir semua koran di Irlandia seakan bersepakat menyebut gagalnya Tim Ayam Jantan Perancis sebagai “Hari Penghakiman” untuk Perancis. Kenapa media Irlandia malah tertawa di atas duka yang sedang dialami Perancis?
Semua bermula pada 19 Oktober 2009 silam saat Perancis lolos dari lobang jarum babak play-off Piala Dunia 2010 dengan menang kontroversial dari Irlandia. Kontroversial, karena gol tunggal Prancis itu dicetak setelah didahului oleh hands ball Thierry Henry. Dari tayang ulang, sangat jelas terlihat kalau bola dibelokkan Henry dengan tangannya, lalu mengoper ke Gallas yang tinggal mendorong sedikit ke gawang Irlandia. Rakyat Irlandia pun meradang.
Begitulah, Prancis berangkat ke Afsel dengan tiket “haram” yang dicuri dari saku Irlandia. Mungkin, karena dicapai dengan cara tidak elegan itu selama berada di negeri Nelson Mandela, Prancis terus didera konflik tiada henti. Konflik internal adalah yang sangat kentara, tinggal menunggu bom waktu saja. Dan, kemelut meledak Sabtu pekan lalu saat striker Nicolas Anelka diusir dari timnas Prancis karena melontarkan kata-kata 'tidak pantas' ke Raimond Domenecg, sang pelatih.
Tak pelak, kini koran-koran di Irlandia pun “bersuka ria” atas gagalnya Perancis melaju ke babak 16 besar Piala Dunia 2010. Mereka seakan bersepakat untuk menurunkan berita itu sebagai berita utama di halaman depan. Tentu saja, ”gol tangan Tuhan” Henry di Stade de France diungkit-ungkit lagi, kendati Henry sendiri telah minta maaf kepada publik Irlandia. ”Hari Penghakiman” tulis harian terkemuka Irlandia Examiner. Koran itu menyebut bahwa kekalahan Perancis atas Afrika Selatan (2-1) dengan memelesetkan Tour de France menjadi ”end of Tour de Farce” (akhir dari lelucon Perancis).
Harian yang terbit di Dublin –ibukota Irlandia- itu masih mengungkit gol Henry tujuh bulan silam dengan mengutip istilah dalam bahasa Perancis "Le Hand of Dieu" atau tragedi tangan Tuhan. Perancis berangkat ke Afsel dengan tiket ”haram” hasil ”penipuan” Henry. Demikian Irish Examiner.
Sementara itu harian terkemuka lainnya, Times menulis "France's nightmare World Cup finally ends with inglorious exit". Mimpi buruk Perancis di Piala Dunia berakhir dengan memalukan, begitu kira-kira artinya.
Times terus memojokkan Prancis dengan kata-kata pedas. "Ini boleh dicatat sebagai Tahun Duka Perancis. Kemarin di Bloemfontein, pelaku kejahatan telah mendapat hukuman setimpal," ulas Times dalam headline-nya.
"Au revoir!" (selamat tinggal!) tulis harian Independent dihalaman utamanya. "Maafkan kami yang tertawa atas duka Les Blues, tapi ini semua gara-gara kalian sendiri. Barangkali ini hukum karma atau kutukan atau apapun namanya. Tapi yang pasti tim yang telah menipu kami hari ini pulang kampung dengan penuh kehinaan,” tambah Independent lagi. "Kami sebenarnya ber-empati dengan hari buruk yang dialami mereka. Namun orang-orang Irlandia tak bisa menyembunyikan rasa senangnya," tutup Independent.
Menariknya, seperti dicatat media Afsel Timeslive, di Paris warga Prancis malah mengelu-elukan kemenangan tim Bafana. Arena nobar di dekat Menara Eiffel berubah jadi pesta untuk Afsel. Bahkan ketika Goucuff dapat kartu merah, disambut dengan sorakan gembira. Kentara sekali kalau suporter Prancis sudah muak dengan lelucon timnas mereka, tulis Timeslive.
Begitulah. Kegagalan ini mirip dengan Piala Dunia 2002 di Jepang-Korea. Kala itu Prancis juga angkat kaki lebih cepat setelah jadi juru kunci. Lagi-lagi masalah internal yang jadi biang keroknya.
Negara tetangga pun kecipratan rezeki
Sektor pariwisata diprediksi menangguk untung besar dari pagelaran Piala Dunia ini. Tak hanya Afsel, negara tetangga negeri pelangi itu juga mendapat berkah selama Piala Dunia. Alhasil, negara-negara tetangga itu pun bersolek secantik-cantiknya guna memikat para turis mancanegara yang berkunjung ke Afsel. Diperkirakan, selepas turnamen empat tahunan itu, maka tetangga Afsel tersebut bakal menerima limpahan ratusan ribu turis mancanegara.
Seperti dikutip Buanews, negara tetangga itu yakni Angola, Botswana, Lesotho, Mozambik, Namibia, Swaziland, Zambia dan Zimbabwe memanfaatkan even Piala Dunia, yang entah kapan bakal digelar lagi di tanah Afrika, untuk menambah pundi-pundi devisa negaranya. Botswana misalnya, menonjolkan kelebihan taman dan hutan, Mozambik dengan lautnya, Swaziland dengan pegunungan berbukit nan curam. Lalu ada arung jeram di Zambia. Sangat cocok bagi petualang.
Kedelapan negara jiran itu pun menjalin kerjasama dan membentuk secara kolektif dengan apa yang dinamakan Transfrontier Conservation Areas (TFCAs) atau kawasan konservasi antar perbatasan. Rute TFCA ini menawarkan sejumlah lokasi yang bakal tak terlupakan. Melintasi dua samudra besar, untaian panorama yang indah dihiasi aliran sungai, pegunungan hijau dengan beraneka macam keaneragaman hayatinya plus jurang dalam menganga. Semua rute itu dilintasi mengunakan kereta api yang menghubungkan kedelapan negara tersebut dengan Afsel.
Beberapa bentuk kerjasama yang telah dijalin oleh para petinggi disana antara lain peremajaan fasilitas akomodasi dan penginapan, lalu dana stimulus atau peng repe tiap negara juga masuk dalam kerangka kerjasama. Misalnya, Mozambik mengeluarkan sejumlah 51 juta dolar untuk merehab jalur kereta api dari dan ke Afsel untuk memperlancar jaringan kereta api antar negara. Mozambik juga telah menginvestasikan sekitar 600 juta dolar untuk membangun hotel baru, kasino dan fasilitas wisata lainnya.
Yang fenomenal adalah kerjasama dibidang IT dengan terbangunnya jaringan terpadu Africa’s Development Information and Communications Technology Broadband Infrastructure Net (Uhurunet). Investasi jaringan kabel bawah laut sebesar 2 milyar dolar itu menghubungan Afrika dengan India, Timur Tengah, Eropa dan Brazil. Kabel sepanjang 50.000 km itu tentu saja mampu mereduksi biaya telekomunikasi di Afrika. Selama perhelatan Piala Dunia 2010 ini jaringan tersebut telah beroperasi.
Lokasi wisata di-booking
Menariknya, Taman Nasional Zimbabwe yang terhubung dengan 11 negara Afrika lainnya, bahkan kabarnya telah di-booking oleh para turis jauh-jauh hari sebelum Piala Dunia. Emmanuel Fundira, Ketua Badan Pariwisata Nasional Zimbabwe, menyebut lokasi yang banyak diminati adalah taman hutan tropis terkenal Mana Pools. Lalu, air terjun Victoria Falls yang memiliki lebar sejauh 1,7 km dan dikelilingi oleh sungai Zambezi itu juga banyak diincar para turis. Di lokasi air terjun telah pula didirikan bungalow-bungalow kecil, sekilas mirip arena perkemahan. Selain itu, tentu saja taman safari Zimbabwe yang menawarkan aneka satwa liar.
"Selepas turnamen bola di Afsel, kami yakin akan menerima limpahan ribuan turis. Ini dibuktikan oleh banyaknya lokasi wisata yang telah dipesan sejak sebulan lalu. Apalagi kini telah ada penerbangan langsung dari Afsel," kata Fundira seperti dikutip situs Great Indaba.
Sementara itu Mozambik baru saja menerapkan aturan baru soal visa. Dengan visa masuk Mozambik, maka para turis sudah dapat mengunjungi enam negara Afrika tetangga lainnya tanpa harus mengurus visa baru.
"Orang Eropa dan Amerika banyak yang tidak tahu tentang Mozambik. Karena itu, dengan adanya Piala Dunia Juni-Juli ini kami sangat terbantu. Saya kira Mozambik akan jadi salah satu tujuan wisata selepas Piala Dunia," kata Muhammad Juma, seorang pelaku usaha pariwisata di Maputo, ibukota Mozambik yakin.
Halnya negara Swaziland, tahun lalu mampu menarik sekitar 1,3 juta turis mancanegara. Naik 13,3 persen dari tahun 2008. Tahun ini tentu saja bakal naik lagi. Seperti negara lainnya, taman safari dengan segala jenis satwa liar dan langka bakal jadi andalan. "Kami sudah siap. Hanya saja, di tempat kami, hewan ternak masih sering berkeliaran di jalanan. Ini yang bikin pusing. Mudah-mudahan segera ada solusinya," kata Eric Mazeko, ketua otoritas pariwisata setempat.
Sementara Zambia , negara itu menawarkan lokasi arung jeram karena memiliki sungai-sungai berarus deras. Menikmati panorama dari udara menggunakan helikopter juga salah satu tawaran menarik lainya. Begitulah, istilah dimana ada gula disitu ada semut tampaknya mengena untuk Piala Dunia Afsel.
Sektor pariwisata diprediksi menangguk untung besar dari pagelaran Piala Dunia ini. Tak hanya Afsel, negara tetangga negeri pelangi itu juga mendapat berkah selama Piala Dunia. Alhasil, negara-negara tetangga itu pun bersolek secantik-cantiknya guna memikat para turis mancanegara yang berkunjung ke Afsel. Diperkirakan, selepas turnamen empat tahunan itu, maka tetangga Afsel tersebut bakal menerima limpahan ratusan ribu turis mancanegara.
Seperti dikutip Buanews, negara tetangga itu yakni Angola, Botswana, Lesotho, Mozambik, Namibia, Swaziland, Zambia dan Zimbabwe memanfaatkan even Piala Dunia, yang entah kapan bakal digelar lagi di tanah Afrika, untuk menambah pundi-pundi devisa negaranya. Botswana misalnya, menonjolkan kelebihan taman dan hutan, Mozambik dengan lautnya, Swaziland dengan pegunungan berbukit nan curam. Lalu ada arung jeram di Zambia. Sangat cocok bagi petualang.
Kedelapan negara jiran itu pun menjalin kerjasama dan membentuk secara kolektif dengan apa yang dinamakan Transfrontier Conservation Areas (TFCAs) atau kawasan konservasi antar perbatasan. Rute TFCA ini menawarkan sejumlah lokasi yang bakal tak terlupakan. Melintasi dua samudra besar, untaian panorama yang indah dihiasi aliran sungai, pegunungan hijau dengan beraneka macam keaneragaman hayatinya plus jurang dalam menganga. Semua rute itu dilintasi mengunakan kereta api yang menghubungkan kedelapan negara tersebut dengan Afsel.
Beberapa bentuk kerjasama yang telah dijalin oleh para petinggi disana antara lain peremajaan fasilitas akomodasi dan penginapan, lalu dana stimulus atau peng repe tiap negara juga masuk dalam kerangka kerjasama. Misalnya, Mozambik mengeluarkan sejumlah 51 juta dolar untuk merehab jalur kereta api dari dan ke Afsel untuk memperlancar jaringan kereta api antar negara. Mozambik juga telah menginvestasikan sekitar 600 juta dolar untuk membangun hotel baru, kasino dan fasilitas wisata lainnya.
Yang fenomenal adalah kerjasama dibidang IT dengan terbangunnya jaringan terpadu Africa’s Development Information and Communications Technology Broadband Infrastructure Net (Uhurunet). Investasi jaringan kabel bawah laut sebesar 2 milyar dolar itu menghubungan Afrika dengan India, Timur Tengah, Eropa dan Brazil. Kabel sepanjang 50.000 km itu tentu saja mampu mereduksi biaya telekomunikasi di Afrika. Selama perhelatan Piala Dunia 2010 ini jaringan tersebut telah beroperasi.
Lokasi wisata di-booking
Menariknya, Taman Nasional Zimbabwe yang terhubung dengan 11 negara Afrika lainnya, bahkan kabarnya telah di-booking oleh para turis jauh-jauh hari sebelum Piala Dunia. Emmanuel Fundira, Ketua Badan Pariwisata Nasional Zimbabwe, menyebut lokasi yang banyak diminati adalah taman hutan tropis terkenal Mana Pools. Lalu, air terjun Victoria Falls yang memiliki lebar sejauh 1,7 km dan dikelilingi oleh sungai Zambezi itu juga banyak diincar para turis. Di lokasi air terjun telah pula didirikan bungalow-bungalow kecil, sekilas mirip arena perkemahan. Selain itu, tentu saja taman safari Zimbabwe yang menawarkan aneka satwa liar.
"Selepas turnamen bola di Afsel, kami yakin akan menerima limpahan ribuan turis. Ini dibuktikan oleh banyaknya lokasi wisata yang telah dipesan sejak sebulan lalu. Apalagi kini telah ada penerbangan langsung dari Afsel," kata Fundira seperti dikutip situs Great Indaba.
Sementara itu Mozambik baru saja menerapkan aturan baru soal visa. Dengan visa masuk Mozambik, maka para turis sudah dapat mengunjungi enam negara Afrika tetangga lainnya tanpa harus mengurus visa baru.
"Orang Eropa dan Amerika banyak yang tidak tahu tentang Mozambik. Karena itu, dengan adanya Piala Dunia Juni-Juli ini kami sangat terbantu. Saya kira Mozambik akan jadi salah satu tujuan wisata selepas Piala Dunia," kata Muhammad Juma, seorang pelaku usaha pariwisata di Maputo, ibukota Mozambik yakin.
Halnya negara Swaziland, tahun lalu mampu menarik sekitar 1,3 juta turis mancanegara. Naik 13,3 persen dari tahun 2008. Tahun ini tentu saja bakal naik lagi. Seperti negara lainnya, taman safari dengan segala jenis satwa liar dan langka bakal jadi andalan. "Kami sudah siap. Hanya saja, di tempat kami, hewan ternak masih sering berkeliaran di jalanan. Ini yang bikin pusing. Mudah-mudahan segera ada solusinya," kata Eric Mazeko, ketua otoritas pariwisata setempat.
Sementara Zambia , negara itu menawarkan lokasi arung jeram karena memiliki sungai-sungai berarus deras. Menikmati panorama dari udara menggunakan helikopter juga salah satu tawaran menarik lainya. Begitulah, istilah dimana ada gula disitu ada semut tampaknya mengena untuk Piala Dunia Afsel.
Monday, June 21, 2010
Masjid dan makanan halal untuk fans muslim
Gairah dan semangat komunitas muslim Afsel dalam menyemarakkan Piala Dunia 2010 patut diacungi jempol. Mereka telah menyusun aneka program khusus untuk fans muslim mancanegara yang membanjiri negeri pelangi itu. Bermacam cara dilakukan, semata-mata agar fans muslim dapat menikmati PD Afsel dengan nyaman.
Semua program khusus untuk fans muslim selama Piala Dunia dikemas dalam kegiatan yang diberi nama SA Muslim 2010. Program ini pertamakali diinisiasi oleh komunitas muslim kota Durban pada Oktober 2009. Rupanya pemerintah setempat menyambut baik inisiatif itu dan akhirnya tumbuh menjadi program nasional dengan dibentuknya panitia lokal di setiap kota penyelenggara.
Ahmed Shaikh, salah seorang penanggung jawab kegiatan “SA Muslim 2010” yang berbasis di Durban menyebut bahwa inisiatif itu murni datang dari komunitas muslim Afsel. “Banyak fans muslim yang hadir di Afsel selama Piala Dunia ini. Kebanyakan dari mereka bingung mencari mesjid dan toko makanan halal. Makanya kami ingin membantu sekaligus untuk memperlihatkan keberadaan muslim di Afsel dan menunjukkan bahwa Islam agama damai,” kata Ahmad. “Di mesjid-mesjid telah dibentuk semacam posko yang diberi nama Nerve Centre. Oya jika sewaktu-waktu ada hal darurat kami juga telah buka SMS hotline 0842010786, dan juga situs www.samuslims2010.net,” imbuh Ahmad lagi.
“Di kota-kota penyelenggara seperti Durban, Johannesburg, Cape Town dan beberapa kota lainnya juga telah kami siapkan sejumlah relawan. Para relawan ini standby di titik-titik tertentu dan dengan ikhlas akan membantu saudara muslimnya, baik lokal maupun dari negara lain. Kami juga ada bikin pameran, forum diskusi, dan ajang tukar budaya. Fans muslim mancanegara dipersilahkan mengisi kegiatan ini. Jadi semacam ajang pertukaran budaya antar negara sembari silaturrahim,” ungkap Ahmed Shaikh. Umumnya kegiatan dipusatkan di mesjid yang tersebar merata di setiap kota.
Seperti di Mesjid Bostmon, Johannesburg. Pengurus mesjid disana menyediakan sebuah ruangan khusus untuk fans muslim yang terletak di lantai dua mesjid yang letaknya berdekatan dengan Stadion Soccer City. Bahkan tersedia pula fasilitas internet gratis untuk membantu turis dan suporter muslim dalam mencari aneka informasi ataupun mengadakan kontak dengan sanak keluarganya.Di mesjid-mesjid lain kurang lebih sama.
”Sejumlah relawan juga disiapkan guna membantu dan menuntun fans yang belum familiar dengan Afsel. Tak hanya itu, informasi seputar lokasi mesjid, waktu shalat, dan info outlet makanan halal diberikan, yakni dalam bentuk brosur yang bisa diperoleh di hotel, losmen, wisma tamu dan di bandara. Juga dapat diunduh via internet,” jelas Ahmad lagi.
Makanan halal
Masalah makanan halal, saat ini sejumlah toko dan rumah makan halal dibuka di beberapa tempat seperti stadion, Fan Fest, arena nobar dan di beberapa titik di pusat kota. Panganan halal ini mendapat pengawasan ketat dari National Independent Halaal Trust (NIHT), sebuah lembaga independen nasional yang mengurus masalah produk halal di Afsel dan terbentuk tahun 1992 silam.
“Kami juga telah kerahkan sejumlah relawan yang ditempatkan di sekitar stadion dan arena kumpul fans untuk menyebarkan brosur berisi daftar rumah makan halal, produk-produk halal, dan informasi lokasi mesjid. Relawan kami juga siap membantu setiap masalah yang dihadapi fans muslim,” demikian Abdul Wahab Wookay, Direktur NIHT melalui situs resminya.
“Beberapa negara di Eropa saat ini menghadapi masalah rumit terkait integrasi dengan imigran muslim. Jadi, kami berharap upaya ini bisa dijadikan semacam ajang tukar pengalaman. Konon lagi warga Afsel juga pernah menghadapi masaalah yang sama seperti rasisme, budaya yang beragam, demikian pula agama yang berbeda-beda. Yang ingin ditunjukkan adalah bahwa dengan berbagai macam latar belakang yang berbeda itu, kami bisa hidup dalam kebersamaan sebagai bangsa yang satu,” tutup Ahmad penuh filosofi.
Umat Islam di negeri Nelson Mandela saat ini diperkirakan ada sekitar 1,5 persen dari total penduduknya yang berjumlah 50 juta jiwa. Sedangkan 80 persen penduduknya beragama Kristen. Ada sejumlah 500 mesjid dan 400 pusat pendidikan dan organisasi Islam tersebar di seluruh Afsel.
Gairah dan semangat komunitas muslim Afsel dalam menyemarakkan Piala Dunia 2010 patut diacungi jempol. Mereka telah menyusun aneka program khusus untuk fans muslim mancanegara yang membanjiri negeri pelangi itu. Bermacam cara dilakukan, semata-mata agar fans muslim dapat menikmati PD Afsel dengan nyaman.
Semua program khusus untuk fans muslim selama Piala Dunia dikemas dalam kegiatan yang diberi nama SA Muslim 2010. Program ini pertamakali diinisiasi oleh komunitas muslim kota Durban pada Oktober 2009. Rupanya pemerintah setempat menyambut baik inisiatif itu dan akhirnya tumbuh menjadi program nasional dengan dibentuknya panitia lokal di setiap kota penyelenggara.
Ahmed Shaikh, salah seorang penanggung jawab kegiatan “SA Muslim 2010” yang berbasis di Durban menyebut bahwa inisiatif itu murni datang dari komunitas muslim Afsel. “Banyak fans muslim yang hadir di Afsel selama Piala Dunia ini. Kebanyakan dari mereka bingung mencari mesjid dan toko makanan halal. Makanya kami ingin membantu sekaligus untuk memperlihatkan keberadaan muslim di Afsel dan menunjukkan bahwa Islam agama damai,” kata Ahmad. “Di mesjid-mesjid telah dibentuk semacam posko yang diberi nama Nerve Centre. Oya jika sewaktu-waktu ada hal darurat kami juga telah buka SMS hotline 0842010786, dan juga situs www.samuslims2010.net,” imbuh Ahmad lagi.
“Di kota-kota penyelenggara seperti Durban, Johannesburg, Cape Town dan beberapa kota lainnya juga telah kami siapkan sejumlah relawan. Para relawan ini standby di titik-titik tertentu dan dengan ikhlas akan membantu saudara muslimnya, baik lokal maupun dari negara lain. Kami juga ada bikin pameran, forum diskusi, dan ajang tukar budaya. Fans muslim mancanegara dipersilahkan mengisi kegiatan ini. Jadi semacam ajang pertukaran budaya antar negara sembari silaturrahim,” ungkap Ahmed Shaikh. Umumnya kegiatan dipusatkan di mesjid yang tersebar merata di setiap kota.
Seperti di Mesjid Bostmon, Johannesburg. Pengurus mesjid disana menyediakan sebuah ruangan khusus untuk fans muslim yang terletak di lantai dua mesjid yang letaknya berdekatan dengan Stadion Soccer City. Bahkan tersedia pula fasilitas internet gratis untuk membantu turis dan suporter muslim dalam mencari aneka informasi ataupun mengadakan kontak dengan sanak keluarganya.Di mesjid-mesjid lain kurang lebih sama.
”Sejumlah relawan juga disiapkan guna membantu dan menuntun fans yang belum familiar dengan Afsel. Tak hanya itu, informasi seputar lokasi mesjid, waktu shalat, dan info outlet makanan halal diberikan, yakni dalam bentuk brosur yang bisa diperoleh di hotel, losmen, wisma tamu dan di bandara. Juga dapat diunduh via internet,” jelas Ahmad lagi.
Makanan halal
Masalah makanan halal, saat ini sejumlah toko dan rumah makan halal dibuka di beberapa tempat seperti stadion, Fan Fest, arena nobar dan di beberapa titik di pusat kota. Panganan halal ini mendapat pengawasan ketat dari National Independent Halaal Trust (NIHT), sebuah lembaga independen nasional yang mengurus masalah produk halal di Afsel dan terbentuk tahun 1992 silam.
“Kami juga telah kerahkan sejumlah relawan yang ditempatkan di sekitar stadion dan arena kumpul fans untuk menyebarkan brosur berisi daftar rumah makan halal, produk-produk halal, dan informasi lokasi mesjid. Relawan kami juga siap membantu setiap masalah yang dihadapi fans muslim,” demikian Abdul Wahab Wookay, Direktur NIHT melalui situs resminya.
“Beberapa negara di Eropa saat ini menghadapi masalah rumit terkait integrasi dengan imigran muslim. Jadi, kami berharap upaya ini bisa dijadikan semacam ajang tukar pengalaman. Konon lagi warga Afsel juga pernah menghadapi masaalah yang sama seperti rasisme, budaya yang beragam, demikian pula agama yang berbeda-beda. Yang ingin ditunjukkan adalah bahwa dengan berbagai macam latar belakang yang berbeda itu, kami bisa hidup dalam kebersamaan sebagai bangsa yang satu,” tutup Ahmad penuh filosofi.
Umat Islam di negeri Nelson Mandela saat ini diperkirakan ada sekitar 1,5 persen dari total penduduknya yang berjumlah 50 juta jiwa. Sedangkan 80 persen penduduknya beragama Kristen. Ada sejumlah 500 mesjid dan 400 pusat pendidikan dan organisasi Islam tersebar di seluruh Afsel.
Saturday, June 19, 2010
Hindari listrik padam, stadion gunakan genset
Sekitar 2000 suporter bola terjebak di stasiun kereta api Pretoria pasca pertandingan tuan rumah Afsel melawan Uruguay, Rabu (16/6) kemarin. Kereta api yang akan mereka tumpangi mogok akibat putusnya aliran listrik. Alhasil para suporter terpaksa menunggu dua hingga tiga jam lamanya di tengah udara dingin yang menusuk. Tak kuat menunggu, sebagiannya memutuskan menggunakan sarana transportasi lain. Kebanyakan fans baru tiba kembali di rumah masing-masing jelang subuh.
"Malam itu sebagian besar suporter akan ke Johannesburg, yang diperkirakan tiba disana pukul 24.30. Akibat putusnya listrik, kami lalu mengupayakan lokomotif tenaga uap. Namun baru tiba sekitar dua jam kemudian. Atas keterlambatan ini kami meminta maaf kepada pengguna jasa kereta api," ujar Nozipho Sangweni, manajer regional jawatan kereta api propinsi Gauteng, seperti dikutip kantor berita Afsel, SAPA.
Perihal matinya listrik sarana transportasi kereta api itu spontan jadi pembicaraan hangat. Ternyata krisis listrik di Afsel punya kisah tersendiri, mungkin hampir mirip dengan di tempat kita. Krisis listrik ini muncul awal 2008 silam. Sejak itu warga Afsel mulai mengenal yang namanya mati lampu dan pemadaman bergilir karena suplai listrik tak cukup. Lalu bagaimana jika pas pertandingan mati lampu?
”Khusus selama Piala Dunia, pemerintah menjamin pasokan listrik. Bakal tak ada pemadaman listrik selama PD 2010 ini, kecuali jika terjadi hal yang diluar dugaan seumpama bencana alam,” Wakil Presiden Kgalema Motlanthe, seperti disitir Afrol News, memberikan garansinya
Eskom (PLN-nya Afsel) sendiri berjanji pada pemerintah dan FIFA takkan ada pemadaman selama perhelatan Piala Dunia. Pihak Eskom berkilah mereka akan menggunakan berbagai alternatif lain agar suplai listrik cukup selama PD. Misalnya penggunaan listrik tenaga batu bara, uap dan air.
Tapi tampaknya jaminan Eskom itu tetap tak membuat panitia setempat bisa duduk tenang. Mereka tak berani memegang janji Eskom. Sebagai contoh di Stadion Soocer City, Johannesburg kini semua jaringan listrik dihubungkan dengan mesin genset. ” Saat pertandingan malam hari, kami tak akan gunakan jasa Eskom. Takut tiba-tiba mati, sangat berisiko,” sebut salah seorang panitia lokal.
"Seluruh stadion punya fasilitas genset untuk mem-backup listrik Eskom. Kami yakin perangkat ini akan mampu menutupi konsumsi listrik, terutama selama Piala Dunia 2010," sebut panitia.
Pemadaman bergilir terjadi di seluruh Afsel terutama saat beban puncak. Padahal negeri Nelson Mandela itu punya pembangkit listrik tenaga nuklir di Koeberg, Cape Town. Namun saat ini PLTN Koeberg lagi bermasalah dengan salah satu generator pembangkitnya. Listrik tenaga nuklir Koeberg memproduksi 12,7 juta kWh dan mampu menutupi sekitar 6% konsumsi listrik di Afsel.
Sekitar 2000 suporter bola terjebak di stasiun kereta api Pretoria pasca pertandingan tuan rumah Afsel melawan Uruguay, Rabu (16/6) kemarin. Kereta api yang akan mereka tumpangi mogok akibat putusnya aliran listrik. Alhasil para suporter terpaksa menunggu dua hingga tiga jam lamanya di tengah udara dingin yang menusuk. Tak kuat menunggu, sebagiannya memutuskan menggunakan sarana transportasi lain. Kebanyakan fans baru tiba kembali di rumah masing-masing jelang subuh.
"Malam itu sebagian besar suporter akan ke Johannesburg, yang diperkirakan tiba disana pukul 24.30. Akibat putusnya listrik, kami lalu mengupayakan lokomotif tenaga uap. Namun baru tiba sekitar dua jam kemudian. Atas keterlambatan ini kami meminta maaf kepada pengguna jasa kereta api," ujar Nozipho Sangweni, manajer regional jawatan kereta api propinsi Gauteng, seperti dikutip kantor berita Afsel, SAPA.
Perihal matinya listrik sarana transportasi kereta api itu spontan jadi pembicaraan hangat. Ternyata krisis listrik di Afsel punya kisah tersendiri, mungkin hampir mirip dengan di tempat kita. Krisis listrik ini muncul awal 2008 silam. Sejak itu warga Afsel mulai mengenal yang namanya mati lampu dan pemadaman bergilir karena suplai listrik tak cukup. Lalu bagaimana jika pas pertandingan mati lampu?
”Khusus selama Piala Dunia, pemerintah menjamin pasokan listrik. Bakal tak ada pemadaman listrik selama PD 2010 ini, kecuali jika terjadi hal yang diluar dugaan seumpama bencana alam,” Wakil Presiden Kgalema Motlanthe, seperti disitir Afrol News, memberikan garansinya
Eskom (PLN-nya Afsel) sendiri berjanji pada pemerintah dan FIFA takkan ada pemadaman selama perhelatan Piala Dunia. Pihak Eskom berkilah mereka akan menggunakan berbagai alternatif lain agar suplai listrik cukup selama PD. Misalnya penggunaan listrik tenaga batu bara, uap dan air.
Tapi tampaknya jaminan Eskom itu tetap tak membuat panitia setempat bisa duduk tenang. Mereka tak berani memegang janji Eskom. Sebagai contoh di Stadion Soocer City, Johannesburg kini semua jaringan listrik dihubungkan dengan mesin genset. ” Saat pertandingan malam hari, kami tak akan gunakan jasa Eskom. Takut tiba-tiba mati, sangat berisiko,” sebut salah seorang panitia lokal.
"Seluruh stadion punya fasilitas genset untuk mem-backup listrik Eskom. Kami yakin perangkat ini akan mampu menutupi konsumsi listrik, terutama selama Piala Dunia 2010," sebut panitia.
Pemadaman bergilir terjadi di seluruh Afsel terutama saat beban puncak. Padahal negeri Nelson Mandela itu punya pembangkit listrik tenaga nuklir di Koeberg, Cape Town. Namun saat ini PLTN Koeberg lagi bermasalah dengan salah satu generator pembangkitnya. Listrik tenaga nuklir Koeberg memproduksi 12,7 juta kWh dan mampu menutupi sekitar 6% konsumsi listrik di Afsel.
Friday, June 18, 2010
Pedagang bendera pun panen
Piala Dunia membawa berkah tersendiri bagi para pedagang bendera di Afsel. Terbukti penjualan bendera 32 negara peserta PD 2010 saat ini laku keras. Seperti dilaporkan Sport24, banyak warga Afsel yang memanfaatkan even ini untuk memperbaiki kondisi ekonomi mereka. Salah satunya ya dengan berjualan bendera.
Editor olahraga Voice of America, Parke Brewer yang sedang meliput Piala Dunia mengaku terkesima selama berada di Afsel. “Saya tak pernah melihat sebelumnya begitu banyak bendera berkibar disini. Tak hanya di stadion, tapi di hampir semua pelosok kota bermandikan bendera. Mobil, rumah, perkantoran, toko hingga kios-kios kecil,” ujar Brewer kagum.
Sebagian warga Afsel kini malah mengisi waktu dengan berjualan bendera, terutama para pengangguran. Bahkan ada yang meninggalkan pekerjaan lamanya dan beralih jadi pedagang bendera. Karena uang yang diraih dari berjualan bendera bisa lebih banyak.
Di kota-kota besar seperti Johannesburg, Cape Town dan Durban, penjual bendera begitu menjamur. Seperti di Johannesburg, kebanyakan mereka beroperasi di jalan raya, utamanya di kawasan lampu merah. Kota itu kini penuh warna warni bendera 32 kontestan.
Para pedagang jalanan menjual bendera yang paling besar rata-rata seharga 150 rand (sekitar 180 ribu rupiah). Sedangkan yang kecil bervariasi. Bendera yang paling laku adalah Brazil, Belanda, Spanyol dan Portugal. the Netherlands, Spain and Portugal. Tentu saja bendera tuan rumah Afsel masih menempati peringkat pertama. Saat pembukaan pedagang meraup keuntungan besar.
Nathan Murindagamo (24), seorang pemuda Afsel, terlihat sangat menikmati pekerjaan barunya itu. Nathan mengaku telah meneguk untung banyak dari berjualan bendera. "Piala Dunia ini luar biasa, hebat buat kami yang berekonomi lemah. Aku senang bisa dapat uang disini, di jalan raya," ujar pria pengangguran itu gembira.
Lain lagi Murindagamo, dia mengaku mampu meraup pendapatan yang menggiurkan dalam sehari. ”Bendera paling laris ya Afsel, diikuti Brazil, Belanda, Spanyol dan Portugal. Saya mampu mengumpulkan uang hingga 800 rand sehari (sekitar 960 ribu rupiah). Senang sekali rasanya. Piala Dunia sangat membantu keluarga saya," kata dia sumringah.
"Saya meninggalkan pekerjaan lama dan beralih jualan bendera disini. Uangnya lebih banyak dari dagang bendera," kata Lovemore Toronga (30) sambil melambai-lambaikan bendera dagangannya di sebuah perempatan jalanan yang sibuk di Johannesburg. "Saya akan jualan terus hingga turnamen selesai 11 Juli nanti,” imbuh Toronga sembari berteriak menawarkan bendera.
Diantara pedagang kecil, pedagang bendera seperti Toronga dan Murindagamo patut berlega hati. Pasalnya saudara mereka, pedagang kaki lima dan asongan, yang berdagang makanan dan minuman ringan kurang mampu meraih hasil maksimum. Kalah bersaing dengan pedagang modal besar seperti Coca Cola dan McDonald.
Made in China
Sayangnya, raihan omset besar ternyata tak dinikmati produsen bendera lokal. Apa pasal?
“Produsen lokal tak mampu berkompetisi dengan produsen asal China yang berani melepas dengan harga rendah. Kami bahkan tak mampu menutupi biaya produksi. Sebegitu rendahnya bendera produk China," keluh Michael Goldman, direktur Flag Factory seperti dikutip iol.za.
“Sebuah bendera tipe kecil asal China harganya cuma 35 rand (sekitar 42 ribu rupiah). Itu setengah dari harga jual bendera produk lokal. Perbedaan harga mencolok ini, karena pabrik-pabrik di Afsel harus membayar pekerjanya lebih mahal. Itulah masalahnya. Sayang, padahal saat ini bendera sedang jadi primadona,” lanjut Goldman.
Tak pelak, produsen bendera di Afsel pun geram dengan banyaknya produk murah asal China itu. “Padahal ini peluang besar kami untuk menciptakan lapangan kerja di Afsel. Setidaknya sekitar 4 jura rand hilang diserap bendera impor,” ujar salah satu produsen lokal tak mau disebut namanya.
Piala Dunia membawa berkah tersendiri bagi para pedagang bendera di Afsel. Terbukti penjualan bendera 32 negara peserta PD 2010 saat ini laku keras. Seperti dilaporkan Sport24, banyak warga Afsel yang memanfaatkan even ini untuk memperbaiki kondisi ekonomi mereka. Salah satunya ya dengan berjualan bendera.
Editor olahraga Voice of America, Parke Brewer yang sedang meliput Piala Dunia mengaku terkesima selama berada di Afsel. “Saya tak pernah melihat sebelumnya begitu banyak bendera berkibar disini. Tak hanya di stadion, tapi di hampir semua pelosok kota bermandikan bendera. Mobil, rumah, perkantoran, toko hingga kios-kios kecil,” ujar Brewer kagum.
Sebagian warga Afsel kini malah mengisi waktu dengan berjualan bendera, terutama para pengangguran. Bahkan ada yang meninggalkan pekerjaan lamanya dan beralih jadi pedagang bendera. Karena uang yang diraih dari berjualan bendera bisa lebih banyak.
Di kota-kota besar seperti Johannesburg, Cape Town dan Durban, penjual bendera begitu menjamur. Seperti di Johannesburg, kebanyakan mereka beroperasi di jalan raya, utamanya di kawasan lampu merah. Kota itu kini penuh warna warni bendera 32 kontestan.
Para pedagang jalanan menjual bendera yang paling besar rata-rata seharga 150 rand (sekitar 180 ribu rupiah). Sedangkan yang kecil bervariasi. Bendera yang paling laku adalah Brazil, Belanda, Spanyol dan Portugal. the Netherlands, Spain and Portugal. Tentu saja bendera tuan rumah Afsel masih menempati peringkat pertama. Saat pembukaan pedagang meraup keuntungan besar.
Nathan Murindagamo (24), seorang pemuda Afsel, terlihat sangat menikmati pekerjaan barunya itu. Nathan mengaku telah meneguk untung banyak dari berjualan bendera. "Piala Dunia ini luar biasa, hebat buat kami yang berekonomi lemah. Aku senang bisa dapat uang disini, di jalan raya," ujar pria pengangguran itu gembira.
Lain lagi Murindagamo, dia mengaku mampu meraup pendapatan yang menggiurkan dalam sehari. ”Bendera paling laris ya Afsel, diikuti Brazil, Belanda, Spanyol dan Portugal. Saya mampu mengumpulkan uang hingga 800 rand sehari (sekitar 960 ribu rupiah). Senang sekali rasanya. Piala Dunia sangat membantu keluarga saya," kata dia sumringah.
"Saya meninggalkan pekerjaan lama dan beralih jualan bendera disini. Uangnya lebih banyak dari dagang bendera," kata Lovemore Toronga (30) sambil melambai-lambaikan bendera dagangannya di sebuah perempatan jalanan yang sibuk di Johannesburg. "Saya akan jualan terus hingga turnamen selesai 11 Juli nanti,” imbuh Toronga sembari berteriak menawarkan bendera.
Diantara pedagang kecil, pedagang bendera seperti Toronga dan Murindagamo patut berlega hati. Pasalnya saudara mereka, pedagang kaki lima dan asongan, yang berdagang makanan dan minuman ringan kurang mampu meraih hasil maksimum. Kalah bersaing dengan pedagang modal besar seperti Coca Cola dan McDonald.
Made in China
Sayangnya, raihan omset besar ternyata tak dinikmati produsen bendera lokal. Apa pasal?
“Produsen lokal tak mampu berkompetisi dengan produsen asal China yang berani melepas dengan harga rendah. Kami bahkan tak mampu menutupi biaya produksi. Sebegitu rendahnya bendera produk China," keluh Michael Goldman, direktur Flag Factory seperti dikutip iol.za.
“Sebuah bendera tipe kecil asal China harganya cuma 35 rand (sekitar 42 ribu rupiah). Itu setengah dari harga jual bendera produk lokal. Perbedaan harga mencolok ini, karena pabrik-pabrik di Afsel harus membayar pekerjanya lebih mahal. Itulah masalahnya. Sayang, padahal saat ini bendera sedang jadi primadona,” lanjut Goldman.
Tak pelak, produsen bendera di Afsel pun geram dengan banyaknya produk murah asal China itu. “Padahal ini peluang besar kami untuk menciptakan lapangan kerja di Afsel. Setidaknya sekitar 4 jura rand hilang diserap bendera impor,” ujar salah satu produsen lokal tak mau disebut namanya.
Thursday, June 17, 2010
1990 + 1974 - 1954 = 2010
Tim Jerman yang bertanding lawan Australia kemarin malam sejauh ini dinilai banyak pihak sebagai tim yang terbaik. Baik dari segi permainan yang diklaim atraktif dan menghibur, demikian juga jumlah gol yang tercetak. Setelah melewati beberapa pertandingan, banyak maniak bola terlihat belum puas dengan minimnya gol-gol yang terjadi. Skornya tipis-tipis. Kemenangan der Panzer dengan 4 gol sangat memuaskan dahaga mereka. Apalagi Philip Lahm dkk menunjukkan sebuah permainan yang sangat jauh berbeda dengan Jerman di sama silam yang dikenal kaku dan membosankan.
Pasca pertandingan, praktis kota Durban -tempat pertandingan dilangsungkan- dikuasai oleh fans Jerman. Demikian juga di Cape Town yang merupakan basisnya fans Jerman. Bendera nasional Jerman melambai-lambai dimana-mana diiringi tiupan terompet vuvuzela yang memekakkan telinga. Bahkan, sebagian warga Afrika terlihat ikut berbaur dalam euforia itu. Maklum, beberapa pemain timnas Jerman ada yang berdarah Afrika, yakni Jerome Boateng (Ghana), Dennis Aogo (Nigeria) dan Sami Khedira (Tunisia).
Rumus Tolan
Di tengah euforia fans Jerman itulah menyeruak susunan angka-angka seperti di atas. Secara kasat mata Anda pasti sudah mahfum arti angka-angka tersebut. Itulah rumus yang disebut oleh orang Jerman sebagai Tolan Formel atau Rumus Tolan. Angka-angka di atas adalah tahun-tahun dimana Jerman jadi juara dunia (1954, 1974 dan 1990). Nah, penambahan 1990 dengan 1974 lalu dikurangi 1954 maka hasilnya tepat 2010. Artinya, juara Piala Dunia 2010 adalah Jerman! Waw, bukan main.
Empat tahun silam, saya pernah menulis di kolom serupa dengan judul 54 74 – 1990 = 2006 (lihat: Serambi Indonesia edisi 16 Juni 2006). Rumus sederhana itu diperkenalkan pertamakali oleh Prof. Dr. Metin Tolan. Pria ramah berdarah Turki ini adalah guru besar Fisika Eksperimen di Universitas Dortmund, Jerman.
Pemikiran Tolan yang lahir di Oldenburg dari pasangan Jerman (bapak) dan Turki (ibu) memang tergolong nyentrik. Buktinya, dia telah merangkum filosofi berpikirnya dalam beberapa buku yang berjudul tak kalah nyentrik, masing-masing “Fisika Star Trek“, “Fisika James Bond“ dan terakhir “Fisika Sepakbola“.
Namun, kala itu fans Jerman harus kecewa, karena Ballack cs kandas di semifinal dihempas Italia 0-2. Mimpi juara dunia pun punah. Rumus Tolan tak cukup ampuh saat itu. Rupanya, orang Jerman tak patah arang. Maka angka-angka keramat itu pun diutak-atik lagi hingga muncullah formula baru seperti judul di atas. Dasar Jerman, ujar seorang rekan jurnalis.
Tim yang akan melaju ke babak final 11 Juli 2010 nanti belum diketahui, tapi Prof Tolan malah sudah tahu siapa juaranya. “Tak ada keraguan lagi, Jerman adalah juara dunia 2010. Rumusnya kan sudah jelas he he,“ ujar Tolan dalam satu wawancara dengan televisi WDR.
"Jika dihitung lebih detail lagi menggunakan teori statistik, dengan memanfaatkan semua pertandingan yang dimainkan Jerman, jumlah gol, dan beberapa parameter lainnya, maka di Piala Dunia 2010 paling buruk Jerman akan masuk semi final dan dihitung secara rerata der Panzer akan menempati peringkat 3,7," ujar Tolan optimis. Profesor berusia 44 tahun itu sangat yakin dengan rumus terbarunya. Jerman bakal jadi juara dunia 2010. So, patut ditunggu apakah rumus Profesor Tolan benar-benar ampuh.
Tim Jerman yang bertanding lawan Australia kemarin malam sejauh ini dinilai banyak pihak sebagai tim yang terbaik. Baik dari segi permainan yang diklaim atraktif dan menghibur, demikian juga jumlah gol yang tercetak. Setelah melewati beberapa pertandingan, banyak maniak bola terlihat belum puas dengan minimnya gol-gol yang terjadi. Skornya tipis-tipis. Kemenangan der Panzer dengan 4 gol sangat memuaskan dahaga mereka. Apalagi Philip Lahm dkk menunjukkan sebuah permainan yang sangat jauh berbeda dengan Jerman di sama silam yang dikenal kaku dan membosankan.
Pasca pertandingan, praktis kota Durban -tempat pertandingan dilangsungkan- dikuasai oleh fans Jerman. Demikian juga di Cape Town yang merupakan basisnya fans Jerman. Bendera nasional Jerman melambai-lambai dimana-mana diiringi tiupan terompet vuvuzela yang memekakkan telinga. Bahkan, sebagian warga Afrika terlihat ikut berbaur dalam euforia itu. Maklum, beberapa pemain timnas Jerman ada yang berdarah Afrika, yakni Jerome Boateng (Ghana), Dennis Aogo (Nigeria) dan Sami Khedira (Tunisia).
Rumus Tolan
Di tengah euforia fans Jerman itulah menyeruak susunan angka-angka seperti di atas. Secara kasat mata Anda pasti sudah mahfum arti angka-angka tersebut. Itulah rumus yang disebut oleh orang Jerman sebagai Tolan Formel atau Rumus Tolan. Angka-angka di atas adalah tahun-tahun dimana Jerman jadi juara dunia (1954, 1974 dan 1990). Nah, penambahan 1990 dengan 1974 lalu dikurangi 1954 maka hasilnya tepat 2010. Artinya, juara Piala Dunia 2010 adalah Jerman! Waw, bukan main.
Empat tahun silam, saya pernah menulis di kolom serupa dengan judul 54 74 – 1990 = 2006 (lihat: Serambi Indonesia edisi 16 Juni 2006). Rumus sederhana itu diperkenalkan pertamakali oleh Prof. Dr. Metin Tolan. Pria ramah berdarah Turki ini adalah guru besar Fisika Eksperimen di Universitas Dortmund, Jerman.
Pemikiran Tolan yang lahir di Oldenburg dari pasangan Jerman (bapak) dan Turki (ibu) memang tergolong nyentrik. Buktinya, dia telah merangkum filosofi berpikirnya dalam beberapa buku yang berjudul tak kalah nyentrik, masing-masing “Fisika Star Trek“, “Fisika James Bond“ dan terakhir “Fisika Sepakbola“.
Namun, kala itu fans Jerman harus kecewa, karena Ballack cs kandas di semifinal dihempas Italia 0-2. Mimpi juara dunia pun punah. Rumus Tolan tak cukup ampuh saat itu. Rupanya, orang Jerman tak patah arang. Maka angka-angka keramat itu pun diutak-atik lagi hingga muncullah formula baru seperti judul di atas. Dasar Jerman, ujar seorang rekan jurnalis.
Tim yang akan melaju ke babak final 11 Juli 2010 nanti belum diketahui, tapi Prof Tolan malah sudah tahu siapa juaranya. “Tak ada keraguan lagi, Jerman adalah juara dunia 2010. Rumusnya kan sudah jelas he he,“ ujar Tolan dalam satu wawancara dengan televisi WDR.
"Jika dihitung lebih detail lagi menggunakan teori statistik, dengan memanfaatkan semua pertandingan yang dimainkan Jerman, jumlah gol, dan beberapa parameter lainnya, maka di Piala Dunia 2010 paling buruk Jerman akan masuk semi final dan dihitung secara rerata der Panzer akan menempati peringkat 3,7," ujar Tolan optimis. Profesor berusia 44 tahun itu sangat yakin dengan rumus terbarunya. Jerman bakal jadi juara dunia 2010. So, patut ditunggu apakah rumus Profesor Tolan benar-benar ampuh.
Makarapa, berkah dari lemparan penonton
Piala Dunia Afrika Selatan menawarkan banyak pernak pernik unik dan penuh warna. Selain terompet vuvuzela, ada satu asesoris lagi yang kini jamak digunakan suporter bola selama Piala Dunia. Itulah Makarapa, topi yang asal muasalnya dibuat dari helm proyek yang umum dipakai pekerja konstruksi bangunan. Tahu tidak, ternyata munculnya makarapa yang mendunia itu diilhami oleh lemparan penonton saat nonton bola di stadion. Lho, kok bisa?
”Semua bermula di tahun 1979. Kala itu, sehabis bekerja sebagai pencuci mobil, saya ke Orlando Stadium untuk nonton bola. Waktu itu tim kesayangan saya Kaizer Chiefs main lawan Moroka Swallows,” ujar Alfred Baloyi, pencipta makarapa, mengawali ceritanya.
”Bagi yang sering nonton bola di stadion Orlando pasti ingat dengan tribun kelas ekonomi, tribun khusus bagi yang berkantong cekak. Di tribun ini kita sudah biasa kena timpuk penonton yang duduk di atas. Nah, satu hari saya nonton ditemani Hendrik Langa, seorang teman yang bekerja di perusahaan konstruksi bangunan. Mungkin kasihan melihat saya kena timpuk, lantas Hendrik memberi saya sebuah helm proyek. Berkat helm itu kepala saya aman selama pertandingan,” lanjut Baloyi.
Baloyi, yang punya bakat seni sejak kecil, rupanya mencium “sesuatu” dari helm itu. Dia, bak fisikawan terkemuka Newton yang mendapat ilham dari jatuhnya buah apel yang menimpa kepala, lantas bergegas pulang ke rumah untuk menuangkan ide dari lemparan suporter di stadion itu.
"Di gudang, helm itu saya cat dengan warna-warni sesuai warna tim kesayangan saya,” kisahnya lagi. Di hari berikutnya, dia menambahkan tanduk hewan, misalnya tanduk kambing atau kerbau. Lalu ditambah foto para pemain. Rupanya ada penonton yang tertarik. Dia pun membuat beberapa buah makarapa.
“Saya jual seharga 7 rand (sekitar 8 ribu rupiah),” kata Baloyi mengenang. Perlahan, topi makarapa buatannya makin dikenal suporter bola. Pesanan pun terus meningkat. Akhirnya dia memutuskan berhenti bekerja sebagai pencuci mobil dan menekuni usaha makarapa. Baloyi lantas melatih beberapa anak muda di kampungnya merancang makarapa. Tiap ada pertandingan, mereka juga membuka lapak di sekitar stadion.
Jerih payahnya selama bertahun-tahun di bengkel sempit di Ga-Makausi, Germiston akhirnya mulai dikenal dunia luar. Saat Piala Konfederasi tahun 2009 kemarin, banyak fans Afsel mengenakan makarapa buatannya. Baloyi mengaku sangat terbantu oleh foto-foto yang muncul di media internasional. Maka dapat ditebak, topi makarapa pun go internasional.
Helm makarapa sempat diperkenalkan di Swiss saat Afsel ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia. Bahkan bos FIFA Sepp Blatter pernah diberi hadiah makarapa ketika melakukan inspeksi ke Afsel.
Selama Piala Dunia, untuk menambah kesan manis, makarapa pun dimodifikasi dengan tambahan aneka motif dan asesories. Ada yang dipasang sayap, dipadu dengan kacamata raksana, wajah pemain tertentu, bendera negara peserta Piala Dunia, dan bermacam asesories lainnya.
Makarapa bisa diperoleh di toko-toko, pedagang kaki lima hingga asongan dengan harga berkisar 120 rand (sekitar 154 ribu rupiah). Di pasaran internasional laku dijual hingga 30 dolar (sekitar 280 ribu rupiah). Untuk desain yang lebih ekslusif bahkan bisa mencapai 200 dolar (sekitar 1,8 juta rupiah).
Usaha Baloyi kini telah pindah ke Sandton, Johannesburg dan punya gudang luas. Dia dibantu oleh 50 orang pegawainya. Baloyi juga bekerjasama dengan Papadi Integrated Marketing (PIM) untuk memasarkan makarapa ciptaannya. PIM adalah sebuah perusahaan distributor alat-alat olahraga lokal dan direkturnya, Grant Nicholls merupakan teman lamanya dan sama-sama fans bola.
Kendati sudah sukses dan terkenal, Baloyi yang tak tamat sekolah dasar, tetap rendah hati. Hari-harinya disibukkan dengan membuat makarapa. Dia berharap mampu membuka lapangan kerja yang lebih luas dan dapat membantu pemerintah mengurangi pengangguran.
Piala Dunia Afrika Selatan menawarkan banyak pernak pernik unik dan penuh warna. Selain terompet vuvuzela, ada satu asesoris lagi yang kini jamak digunakan suporter bola selama Piala Dunia. Itulah Makarapa, topi yang asal muasalnya dibuat dari helm proyek yang umum dipakai pekerja konstruksi bangunan. Tahu tidak, ternyata munculnya makarapa yang mendunia itu diilhami oleh lemparan penonton saat nonton bola di stadion. Lho, kok bisa?
”Semua bermula di tahun 1979. Kala itu, sehabis bekerja sebagai pencuci mobil, saya ke Orlando Stadium untuk nonton bola. Waktu itu tim kesayangan saya Kaizer Chiefs main lawan Moroka Swallows,” ujar Alfred Baloyi, pencipta makarapa, mengawali ceritanya.
”Bagi yang sering nonton bola di stadion Orlando pasti ingat dengan tribun kelas ekonomi, tribun khusus bagi yang berkantong cekak. Di tribun ini kita sudah biasa kena timpuk penonton yang duduk di atas. Nah, satu hari saya nonton ditemani Hendrik Langa, seorang teman yang bekerja di perusahaan konstruksi bangunan. Mungkin kasihan melihat saya kena timpuk, lantas Hendrik memberi saya sebuah helm proyek. Berkat helm itu kepala saya aman selama pertandingan,” lanjut Baloyi.
Baloyi, yang punya bakat seni sejak kecil, rupanya mencium “sesuatu” dari helm itu. Dia, bak fisikawan terkemuka Newton yang mendapat ilham dari jatuhnya buah apel yang menimpa kepala, lantas bergegas pulang ke rumah untuk menuangkan ide dari lemparan suporter di stadion itu.
"Di gudang, helm itu saya cat dengan warna-warni sesuai warna tim kesayangan saya,” kisahnya lagi. Di hari berikutnya, dia menambahkan tanduk hewan, misalnya tanduk kambing atau kerbau. Lalu ditambah foto para pemain. Rupanya ada penonton yang tertarik. Dia pun membuat beberapa buah makarapa.
“Saya jual seharga 7 rand (sekitar 8 ribu rupiah),” kata Baloyi mengenang. Perlahan, topi makarapa buatannya makin dikenal suporter bola. Pesanan pun terus meningkat. Akhirnya dia memutuskan berhenti bekerja sebagai pencuci mobil dan menekuni usaha makarapa. Baloyi lantas melatih beberapa anak muda di kampungnya merancang makarapa. Tiap ada pertandingan, mereka juga membuka lapak di sekitar stadion.
Jerih payahnya selama bertahun-tahun di bengkel sempit di Ga-Makausi, Germiston akhirnya mulai dikenal dunia luar. Saat Piala Konfederasi tahun 2009 kemarin, banyak fans Afsel mengenakan makarapa buatannya. Baloyi mengaku sangat terbantu oleh foto-foto yang muncul di media internasional. Maka dapat ditebak, topi makarapa pun go internasional.
Helm makarapa sempat diperkenalkan di Swiss saat Afsel ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia. Bahkan bos FIFA Sepp Blatter pernah diberi hadiah makarapa ketika melakukan inspeksi ke Afsel.
Selama Piala Dunia, untuk menambah kesan manis, makarapa pun dimodifikasi dengan tambahan aneka motif dan asesories. Ada yang dipasang sayap, dipadu dengan kacamata raksana, wajah pemain tertentu, bendera negara peserta Piala Dunia, dan bermacam asesories lainnya.
Makarapa bisa diperoleh di toko-toko, pedagang kaki lima hingga asongan dengan harga berkisar 120 rand (sekitar 154 ribu rupiah). Di pasaran internasional laku dijual hingga 30 dolar (sekitar 280 ribu rupiah). Untuk desain yang lebih ekslusif bahkan bisa mencapai 200 dolar (sekitar 1,8 juta rupiah).
Usaha Baloyi kini telah pindah ke Sandton, Johannesburg dan punya gudang luas. Dia dibantu oleh 50 orang pegawainya. Baloyi juga bekerjasama dengan Papadi Integrated Marketing (PIM) untuk memasarkan makarapa ciptaannya. PIM adalah sebuah perusahaan distributor alat-alat olahraga lokal dan direkturnya, Grant Nicholls merupakan teman lamanya dan sama-sama fans bola.
Kendati sudah sukses dan terkenal, Baloyi yang tak tamat sekolah dasar, tetap rendah hati. Hari-harinya disibukkan dengan membuat makarapa. Dia berharap mampu membuka lapangan kerja yang lebih luas dan dapat membantu pemerintah mengurangi pengangguran.
Lengkingan Vuvuzela setara suara mesin jet
Vuvuzela adalah fenomena baru di Piala Dunia kali ini. Boleh jadi, Piala Dunia Afsel akan dikenang sebagai Piala Dunia paling berisik sepanjang masa. Saat pertandingan Afsel lawan Meksiko kemarin malam, pasti Anda mendengar suara riuh mirip dengungan ribuan tawon yang sedang berterbangan. Suara tiupan terompet plastik khas Afsel itu terdengar bagai tak ada henti. Vuvuzela sebagai salah satu alat musik lokal, diyakini mampu mendongkrak semangat pemain di lapangan. Tapi apa jadinya jika malah bikin telinga berdengung?
Tak pelak, vuvuzela bikin penasaran para peneliti masalah suara. "Suara vuvuzela sangat berisiko dan bisa menyebabkan kerusakan permanen pada alat pendengaran," terang Dr De Wet Swanepoel dari Jurusan Patologi Komunikasi, Universitas Pretoria, Afsel seperti dikutip Sport24.
Swanepoel yang melakukan riset bersama Dr James Hall dari Universitas Florida, Amerika Serikat menerbitkan hasil riset terbarunya itu di SA Medical Journal. Tim riset ini melakukan tes di stadion berstandar FIFA dengan kapasitas 30 ribu tempat duduk. 11 orang penonton dijadikan sampel ujicoba. Sebuah detektor suara mini direkatkan di dekat bahu mereka. Pengujian dilakukan sebelum dan sesudah pertandingan.
Hasilnya sangat mencengangkan. Suara vuvuzela selama dua jam ternyata memiliki intensitas sebesar 100,5 desibel (dB). Jika jumlah peniup ditambah, intensitas meningkat hingga 144,2 dB. Sebagai perbandingan, getaran suara mesin bor jalanan sama dengan 100 dB. Deru mesin pesawat terbang 120 dB. Berarti lengkingan vuvuzela bisa melebihi suara mesin jet. Wow!
“Jadi sangat beralasan jika kami katakan intensitas suara vuvuzela bisa lebih tinggi lagi di stadion resmi Piala Dunia. Dimana kapasitasnya bahkan mencapai tiga kali lipat dari stadion yang kami gunakan dalam penelitian ini, " terang Swanepoel dalam makalahnya.
Merujuk data, intensitas suara 30 sampai 40 dB masuk katagori gangguan ringan. Lalu, 40-60 dB skala sedang dan intensitas suara antara 60 hingga 90 desibel sudah tergolong skala berat. Karena itu, dengan intensitas suara yang dimiliki vuvuzela, para peneliti menyarankan perlunya penggunaan alat pelindung mini di telinga.
Hasil riset itu tak berbeda jauh dengan temuan tim riset Phonak -perusahaan produsen alat bantu pendengaran asal Jerman- yang meneliti suara vuvuzela. Hasil temuan tim Phonak yang dilakukan di sebuah stadion di Cape Town diketahui intensitas suara vuvuzela mencapai 127 dB.
Vuvuzela pemain ke-12
Vuvuzela sempat jadi kontroversi di Piala Konfederasi tahun 2009 silam, karena dianggap mengganggu konsentrasi pemain di lapangan. Pemain Spanyol Xabi Alonso bahkan meminta vuvuzela dilarang saja. Entah karena vuvuzela, Spanyol akhirnya kalah lawan Amerika 0-2 di semi final.
Presiden FIFA Sepp Blatter acuh saja dengan saran ini dan dengan enteng menjawab: “Vuvuzela adalah bagian dari budaya masyarakat Afrika. Kenapa kita tidak belajar beradaptasi dengan kultur mereka.“
"Kita musti hargai cara rakyat Afrika mengungkapkan rasa gembiranya. Biarkan mereka mengekspresikan dengan cara mereka sendiri. Mungkin beda dengan kultur kita. Tapi, itulah kebanggaan mereka dan jangan dilukai," timpal Juergen Klinsmann, eks pelatih tim panser Jerman yang berada di Afrika sebagai komentator televisi.
“Kami butuh Vuvuzela. Kami butuh segala hal yang bisa memompa semangat para pemain. Vuvuzela adalah pemain ke-12 kami,“ tegas Carlos Alberto Parreira, pelatih timnas Afsel.
Dan, kini ada sebuah perusahaan di Afsel yang sukses menangkap peluang usaha baru dari kontroversi vuvuzela. Perusahaan itu saat ini memasarkan busa penyumbat telinga yang dirancang secara khusus hingga mampu meredam suara dengan intensitas tinggi. Begitulah.
Vuvuzela adalah fenomena baru di Piala Dunia kali ini. Boleh jadi, Piala Dunia Afsel akan dikenang sebagai Piala Dunia paling berisik sepanjang masa. Saat pertandingan Afsel lawan Meksiko kemarin malam, pasti Anda mendengar suara riuh mirip dengungan ribuan tawon yang sedang berterbangan. Suara tiupan terompet plastik khas Afsel itu terdengar bagai tak ada henti. Vuvuzela sebagai salah satu alat musik lokal, diyakini mampu mendongkrak semangat pemain di lapangan. Tapi apa jadinya jika malah bikin telinga berdengung?
Tak pelak, vuvuzela bikin penasaran para peneliti masalah suara. "Suara vuvuzela sangat berisiko dan bisa menyebabkan kerusakan permanen pada alat pendengaran," terang Dr De Wet Swanepoel dari Jurusan Patologi Komunikasi, Universitas Pretoria, Afsel seperti dikutip Sport24.
Swanepoel yang melakukan riset bersama Dr James Hall dari Universitas Florida, Amerika Serikat menerbitkan hasil riset terbarunya itu di SA Medical Journal. Tim riset ini melakukan tes di stadion berstandar FIFA dengan kapasitas 30 ribu tempat duduk. 11 orang penonton dijadikan sampel ujicoba. Sebuah detektor suara mini direkatkan di dekat bahu mereka. Pengujian dilakukan sebelum dan sesudah pertandingan.
Hasilnya sangat mencengangkan. Suara vuvuzela selama dua jam ternyata memiliki intensitas sebesar 100,5 desibel (dB). Jika jumlah peniup ditambah, intensitas meningkat hingga 144,2 dB. Sebagai perbandingan, getaran suara mesin bor jalanan sama dengan 100 dB. Deru mesin pesawat terbang 120 dB. Berarti lengkingan vuvuzela bisa melebihi suara mesin jet. Wow!
“Jadi sangat beralasan jika kami katakan intensitas suara vuvuzela bisa lebih tinggi lagi di stadion resmi Piala Dunia. Dimana kapasitasnya bahkan mencapai tiga kali lipat dari stadion yang kami gunakan dalam penelitian ini, " terang Swanepoel dalam makalahnya.
Merujuk data, intensitas suara 30 sampai 40 dB masuk katagori gangguan ringan. Lalu, 40-60 dB skala sedang dan intensitas suara antara 60 hingga 90 desibel sudah tergolong skala berat. Karena itu, dengan intensitas suara yang dimiliki vuvuzela, para peneliti menyarankan perlunya penggunaan alat pelindung mini di telinga.
Hasil riset itu tak berbeda jauh dengan temuan tim riset Phonak -perusahaan produsen alat bantu pendengaran asal Jerman- yang meneliti suara vuvuzela. Hasil temuan tim Phonak yang dilakukan di sebuah stadion di Cape Town diketahui intensitas suara vuvuzela mencapai 127 dB.
Vuvuzela pemain ke-12
Vuvuzela sempat jadi kontroversi di Piala Konfederasi tahun 2009 silam, karena dianggap mengganggu konsentrasi pemain di lapangan. Pemain Spanyol Xabi Alonso bahkan meminta vuvuzela dilarang saja. Entah karena vuvuzela, Spanyol akhirnya kalah lawan Amerika 0-2 di semi final.
Presiden FIFA Sepp Blatter acuh saja dengan saran ini dan dengan enteng menjawab: “Vuvuzela adalah bagian dari budaya masyarakat Afrika. Kenapa kita tidak belajar beradaptasi dengan kultur mereka.“
"Kita musti hargai cara rakyat Afrika mengungkapkan rasa gembiranya. Biarkan mereka mengekspresikan dengan cara mereka sendiri. Mungkin beda dengan kultur kita. Tapi, itulah kebanggaan mereka dan jangan dilukai," timpal Juergen Klinsmann, eks pelatih tim panser Jerman yang berada di Afrika sebagai komentator televisi.
“Kami butuh Vuvuzela. Kami butuh segala hal yang bisa memompa semangat para pemain. Vuvuzela adalah pemain ke-12 kami,“ tegas Carlos Alberto Parreira, pelatih timnas Afsel.
Dan, kini ada sebuah perusahaan di Afsel yang sukses menangkap peluang usaha baru dari kontroversi vuvuzela. Perusahaan itu saat ini memasarkan busa penyumbat telinga yang dirancang secara khusus hingga mampu meredam suara dengan intensitas tinggi. Begitulah.
Burung vulture dan tebak skor pertandingan
Burung Vulture atau burung pemakan bangkai memiliki populasi terbesar di Afrika. Namun saat ini dikabarkan keberadaannya makin terancam, terutama selama berlangsungnya Piala Dunia. Lho, apa hubungannya?
Selidik punya selidik, rupanya burung tipe predator (pemangsa) itu digunakan oleh para muti (dukun-red) untuk membantu para pejudi tebak skor hasil pertandingan. Caranya? Sang dukun menyembelih dan mengambil otaknya. Otak itu lalu dibakar hingga mengeluarkan asap. Efek dari bau asap itulah yang dipakai untuk “jampi-jampian” dalam judi tebak skor. Otak vulture adakalanya dibenam dalam tepung dan ditambahkan wewangian tertentu untuk menambah efek magis.
Dukun Afrika sangat meyakini bahwa asap otak burung pemakan bangkai memiliki tenaga supranatural yang mampu menuntun para dukun menebak skor akhir pertandingan. Di jalanan Johannesburg, para muti terlihat secara sembunyi-sembunyi menawarkan otak burung vulture yang siap dipakai untuk ajang tebak skor.
Pengamat masalah lingkungan yakin keberadaan burung vulture sangat terancam, terutama selama Piala Dunia, disebabkan ulah para muti. Mark Anderson, Direktur BirdLife South Africa menyebut bahwa spesies burung pemakan bangkai kini dalam ancaman besar.
“Spesies burung ini di Afsel menurun sangat tajam. Ada beberapa factor pemicu, seperti makin berkurangnya makanan, penggunaan racun secara sengaja dan yang paling parah adalah dibunuh dengan memakai tegangan listrik. Burung-burung itu dibunuh untuk diambil otaknya guna menuntun para muti,” ungkap Anderson seperti dikutip Afrol News.
Chris Magin, pakar lingkungan lainnya, malah memprediksi burung itu bakal terancam punah. “Sejak dua dekade terakhir mulai menghilang di kawasan Afrika Barat, Asia Selatan dan di beberapa kawasan lain,” kata dia.
Hasil observasi Steve McKean, dari KwaZulu-Natal Wildlife, secara jelas menunjukkan bahwa menurunnya jumlah burung vulture sangat berhubungan dengan kepentingan magis para muti. "Hasil penelitian kami menunjukkan penyembelihan burung vulture akhir-akhir ini sering dilakukan untuk alasan yang sangat “tradisional” alias kolot. Jika begini terus, maka secara ekstrem, saya berani katakan populasi spesies burung ini akan hilang dalam 12 tahun ke depan," tegas McKean mengingatkan.
Diracun
Dari hasil penyelidikan lapangan diketahui pula bahwa burung-burung tersebut kebanyakan mati karena diracun. “Jenis racun yang sering dipakai adalah Aldicarb. Racun jenis ini sangat mematikan, bahkan untuk manusia sekalipun,” imbuh McKean.
Andre Botha, manajer Birds of Prey Working Group, mengingatkan bahwa burung pemakan bangkai memegang peranan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan di Afrika. Jika burung pemakan bangkai hilang, bakal berpengaruh pada munculnya masalah lingkungan hidup yang tidak sehat, sepertinya bertebarannya aneka penyakit. Ini akibat hilangnya layanan yang diberikan burung pada manusia, seperti proses pembersihan dan pembusukan bangkai, demikian juga penebaran biji-biji tumbuhan.
"Burung pemakan bangkai, oleh BirdLife International, telah masuk dalam daftar merah sebagai hewan yang paling banyak diburu di Afrika. Ini tugas kami untuk menyelamatkannya," kata Botha. Afsel merupakan salah satu negara dengan populasi burung terbanyak di Afrika. Menurut data, ada sekitar 841 spesies burung di negeri Nelson Mandela itu. Sayangnya, sekitar 39 diantaranya terancam punah.
Begitulah, intervensi magis tampaknya sulit hilang dalam dunia olahraga. Semoga Allah melindungi kita dari hal-hal yang melunturkan iman. Amiin.
Burung Vulture atau burung pemakan bangkai memiliki populasi terbesar di Afrika. Namun saat ini dikabarkan keberadaannya makin terancam, terutama selama berlangsungnya Piala Dunia. Lho, apa hubungannya?
Selidik punya selidik, rupanya burung tipe predator (pemangsa) itu digunakan oleh para muti (dukun-red) untuk membantu para pejudi tebak skor hasil pertandingan. Caranya? Sang dukun menyembelih dan mengambil otaknya. Otak itu lalu dibakar hingga mengeluarkan asap. Efek dari bau asap itulah yang dipakai untuk “jampi-jampian” dalam judi tebak skor. Otak vulture adakalanya dibenam dalam tepung dan ditambahkan wewangian tertentu untuk menambah efek magis.
Dukun Afrika sangat meyakini bahwa asap otak burung pemakan bangkai memiliki tenaga supranatural yang mampu menuntun para dukun menebak skor akhir pertandingan. Di jalanan Johannesburg, para muti terlihat secara sembunyi-sembunyi menawarkan otak burung vulture yang siap dipakai untuk ajang tebak skor.
Pengamat masalah lingkungan yakin keberadaan burung vulture sangat terancam, terutama selama Piala Dunia, disebabkan ulah para muti. Mark Anderson, Direktur BirdLife South Africa menyebut bahwa spesies burung pemakan bangkai kini dalam ancaman besar.
“Spesies burung ini di Afsel menurun sangat tajam. Ada beberapa factor pemicu, seperti makin berkurangnya makanan, penggunaan racun secara sengaja dan yang paling parah adalah dibunuh dengan memakai tegangan listrik. Burung-burung itu dibunuh untuk diambil otaknya guna menuntun para muti,” ungkap Anderson seperti dikutip Afrol News.
Chris Magin, pakar lingkungan lainnya, malah memprediksi burung itu bakal terancam punah. “Sejak dua dekade terakhir mulai menghilang di kawasan Afrika Barat, Asia Selatan dan di beberapa kawasan lain,” kata dia.
Hasil observasi Steve McKean, dari KwaZulu-Natal Wildlife, secara jelas menunjukkan bahwa menurunnya jumlah burung vulture sangat berhubungan dengan kepentingan magis para muti. "Hasil penelitian kami menunjukkan penyembelihan burung vulture akhir-akhir ini sering dilakukan untuk alasan yang sangat “tradisional” alias kolot. Jika begini terus, maka secara ekstrem, saya berani katakan populasi spesies burung ini akan hilang dalam 12 tahun ke depan," tegas McKean mengingatkan.
Diracun
Dari hasil penyelidikan lapangan diketahui pula bahwa burung-burung tersebut kebanyakan mati karena diracun. “Jenis racun yang sering dipakai adalah Aldicarb. Racun jenis ini sangat mematikan, bahkan untuk manusia sekalipun,” imbuh McKean.
Andre Botha, manajer Birds of Prey Working Group, mengingatkan bahwa burung pemakan bangkai memegang peranan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan di Afrika. Jika burung pemakan bangkai hilang, bakal berpengaruh pada munculnya masalah lingkungan hidup yang tidak sehat, sepertinya bertebarannya aneka penyakit. Ini akibat hilangnya layanan yang diberikan burung pada manusia, seperti proses pembersihan dan pembusukan bangkai, demikian juga penebaran biji-biji tumbuhan.
"Burung pemakan bangkai, oleh BirdLife International, telah masuk dalam daftar merah sebagai hewan yang paling banyak diburu di Afrika. Ini tugas kami untuk menyelamatkannya," kata Botha. Afsel merupakan salah satu negara dengan populasi burung terbanyak di Afrika. Menurut data, ada sekitar 841 spesies burung di negeri Nelson Mandela itu. Sayangnya, sekitar 39 diantaranya terancam punah.
Begitulah, intervensi magis tampaknya sulit hilang dalam dunia olahraga. Semoga Allah melindungi kita dari hal-hal yang melunturkan iman. Amiin.
Sunday, June 13, 2010
Pedagang kaki lima pun menjerit
Dibalik gemerlap dan gegap gempita Piala Dunia, ternyata tidak semua orang bisa menikmati hajatan sepak bola terbesar dunia ini. Mereka adalah para pedagang kecil, seumpama pedagang kaki lima dan asongan yang kehilangan kesempatan meraih rezeki selama Piala Dunia. Para pedagang itu harus menyingkir dari area stadion, juga arena fan fest. Munculnya kawasan ekslusif di sekitar stadion dan fan fest yang digagas FIFA telah menimbulkan kekecewaan para pedagang kecil yang berharap kecipratan rezeki selama Piala Dunia. Bahkan para pedagang yang punya kios dan bertahun-tahun telah membuka lapak disana, tetap harus minggat. Kawasan tersebut hanya boleh diisi oleh pedagang atau sponsor resmi berlisensi FIFA.
"Saya pernah jualan di sini, dekat Grand Parade, tetapi sejak didirikan Fan Park kami harus pindah ke pinggiran. Piala Dunia ini hanya peristiwa yang akan menguntungkan kalangan konglomerat besar seperti Cola Cola dan McDonald." Kata benji yang berdagang buah-buahan di kawasan Grand Street, Cape Town. Bersama pedagang kaki lima lain dia saat ini berdesak-desakan di sisi sebuah jalan raya yang sebenarnya sudah diisi para pedagang tetap."Tidak benar kalau disebut Piala Dunia 2010 untuk semua orang Afrika Selatan. Tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Orang seperti kami tak punya kuasa," imbuh Benji.
Lain lagi di Rustenburg. Para pedagang kecil di sana rencananya akan melakukan demo hari Senin (hari ini-red). Demo itu, seperti disitir StreetNet International, akan dipusatkan di kawasan Magistrate’s Court. Ratusan pedagang kaki lima dan asongan yang merasa terampas hak berjualan selama Piala Dunia bakal ikut serta.
“Pemko telah mengusir kami demi untuk “kecantikan” kota selama Piala Dunia. Mereka mengusir tanpa pemberitahuan, juga tidak memberi tempat alternatif lain untuk berdagang,” ujar Paul Shambira, pemimpin demo itu.
"Kami berusaha untuk hidup kami. Kami menjual barang seharga 2 hingga 5 rand (sekitar 2400 hingga 5800 rupiah) untuk membantu mereka-mereka yang tak mampu, bahkan pengemis sekalipun berbelanja pada pedagang seperti kami," ujar Mony Govender, seorang pedagang buah-buahan. "Tentu saja harga seperti itu tak akan didapat jika beli di supermarket atau mall," imbuh ibu itu lagi.
Kekecewaan para pedagang kecil terhadap panitia Piala Dunia juga merebak di kota Durban. Johannes Mzimela, seorang pedagang es krim, mengaku kecewa saat diciduk oleh Satpol PP setempat "Ini razia penuh permusuhan," umpat Mzimela yang bermaksud menggelar dagangannya di sekitar stadion.
“Saya telah jualan es krim selama 25 tahun disini. Tapi kini harus minggat. Pedagang bermodal besar bisa berjualan di dekat stadion. Mereka bisa membayar berapapun untuk mengurus perizinan. Tapi kami?,” ujar Clement Zulu, salah satu pedagang lainnya dengan nada ketus. Menurut regulasi, siapa saja yang akan berjualan musti mengurus izin usaha di kantor pemkot setempat. Yang melanggar, maka penjara menunggu.
Jabulane Ngubane, pedagang kaki lima lainya , menyebut Piala Dunia telah merampas kehidupan keluarganya. "Polisi mengusir kami dari kawasan stadion seakan-akan kami ini orang-orang kriminal," ujar Ngubane, yang berdagang makanan dan minuman ringan untuk menghidupi 13 orang anaknya.
Ngubane sendiri berasal dari Pietermaritzburg, sekitar 43 km dari Durban. Dia pulang kampung seminggu sekali untuk menemui keluarganya. Sebelum diciduk satpol, di hari-hari biasa Ngubane memperoleh penghasilan sekitar 400 rand (sekitar 480 ribu rupiah) dalam sehari. Dengan penghasilan segitu dia mampu mengirim untuk keluarga sedikitnya 1200 rand (sekitar 1,4 juta rupiah) setiap pekan. Saat barang dagangannya disita, dia musti bayar denda sebesar 300 rand, setara dengan pendapatannya sehari. "Tak ada yang bisa dilakukan dengan Piala Dunia ini. Saya gembira jika bisa segera berakhir. Jadi bisa dagang lagi seperti biasa,” harap Ngubane.
Umumnya para pedagang itu menyesalkan aturan yang menyebut hanya sponsor resmi Piala Dunia saja yang berhak tampil di stadion dan arena fan fest. Sementara pedagang kecil yang menjajakan makanan ringan, jagung bakar, rokok, permen, kartu telepon dan aneka souvenir tidak memiliki akses berdagang. Padahal merekalah yang mendominasi gambaran ekonomi warga di hampir semua kota di Afsel.
Seperti saya tulis di Serambi edisi Jumat (11/6) lalu, banyak pedagang kecil yang harus gigit jari sebab dilarang berdagang di arena kumpul fans dan sekitar stadion. FIFA memang mengeluarkan regulasi yang melarang pedagang membuka lapak dagangan di sekitar stadion dan fan fest kecuali sponsor resmi Piala Dunia. Manejer stadion yang ditanya seputar hal itu bungkam, menolak berkomentar. Sejauh ini belum ada respon dari pejabat FIFA terkait masalah sensitif tersebut.
Dibalik gemerlap dan gegap gempita Piala Dunia, ternyata tidak semua orang bisa menikmati hajatan sepak bola terbesar dunia ini. Mereka adalah para pedagang kecil, seumpama pedagang kaki lima dan asongan yang kehilangan kesempatan meraih rezeki selama Piala Dunia. Para pedagang itu harus menyingkir dari area stadion, juga arena fan fest. Munculnya kawasan ekslusif di sekitar stadion dan fan fest yang digagas FIFA telah menimbulkan kekecewaan para pedagang kecil yang berharap kecipratan rezeki selama Piala Dunia. Bahkan para pedagang yang punya kios dan bertahun-tahun telah membuka lapak disana, tetap harus minggat. Kawasan tersebut hanya boleh diisi oleh pedagang atau sponsor resmi berlisensi FIFA.
"Saya pernah jualan di sini, dekat Grand Parade, tetapi sejak didirikan Fan Park kami harus pindah ke pinggiran. Piala Dunia ini hanya peristiwa yang akan menguntungkan kalangan konglomerat besar seperti Cola Cola dan McDonald." Kata benji yang berdagang buah-buahan di kawasan Grand Street, Cape Town. Bersama pedagang kaki lima lain dia saat ini berdesak-desakan di sisi sebuah jalan raya yang sebenarnya sudah diisi para pedagang tetap."Tidak benar kalau disebut Piala Dunia 2010 untuk semua orang Afrika Selatan. Tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Orang seperti kami tak punya kuasa," imbuh Benji.
Lain lagi di Rustenburg. Para pedagang kecil di sana rencananya akan melakukan demo hari Senin (hari ini-red). Demo itu, seperti disitir StreetNet International, akan dipusatkan di kawasan Magistrate’s Court. Ratusan pedagang kaki lima dan asongan yang merasa terampas hak berjualan selama Piala Dunia bakal ikut serta.
“Pemko telah mengusir kami demi untuk “kecantikan” kota selama Piala Dunia. Mereka mengusir tanpa pemberitahuan, juga tidak memberi tempat alternatif lain untuk berdagang,” ujar Paul Shambira, pemimpin demo itu.
"Kami berusaha untuk hidup kami. Kami menjual barang seharga 2 hingga 5 rand (sekitar 2400 hingga 5800 rupiah) untuk membantu mereka-mereka yang tak mampu, bahkan pengemis sekalipun berbelanja pada pedagang seperti kami," ujar Mony Govender, seorang pedagang buah-buahan. "Tentu saja harga seperti itu tak akan didapat jika beli di supermarket atau mall," imbuh ibu itu lagi.
Kekecewaan para pedagang kecil terhadap panitia Piala Dunia juga merebak di kota Durban. Johannes Mzimela, seorang pedagang es krim, mengaku kecewa saat diciduk oleh Satpol PP setempat "Ini razia penuh permusuhan," umpat Mzimela yang bermaksud menggelar dagangannya di sekitar stadion.
“Saya telah jualan es krim selama 25 tahun disini. Tapi kini harus minggat. Pedagang bermodal besar bisa berjualan di dekat stadion. Mereka bisa membayar berapapun untuk mengurus perizinan. Tapi kami?,” ujar Clement Zulu, salah satu pedagang lainnya dengan nada ketus. Menurut regulasi, siapa saja yang akan berjualan musti mengurus izin usaha di kantor pemkot setempat. Yang melanggar, maka penjara menunggu.
Jabulane Ngubane, pedagang kaki lima lainya , menyebut Piala Dunia telah merampas kehidupan keluarganya. "Polisi mengusir kami dari kawasan stadion seakan-akan kami ini orang-orang kriminal," ujar Ngubane, yang berdagang makanan dan minuman ringan untuk menghidupi 13 orang anaknya.
Ngubane sendiri berasal dari Pietermaritzburg, sekitar 43 km dari Durban. Dia pulang kampung seminggu sekali untuk menemui keluarganya. Sebelum diciduk satpol, di hari-hari biasa Ngubane memperoleh penghasilan sekitar 400 rand (sekitar 480 ribu rupiah) dalam sehari. Dengan penghasilan segitu dia mampu mengirim untuk keluarga sedikitnya 1200 rand (sekitar 1,4 juta rupiah) setiap pekan. Saat barang dagangannya disita, dia musti bayar denda sebesar 300 rand, setara dengan pendapatannya sehari. "Tak ada yang bisa dilakukan dengan Piala Dunia ini. Saya gembira jika bisa segera berakhir. Jadi bisa dagang lagi seperti biasa,” harap Ngubane.
Umumnya para pedagang itu menyesalkan aturan yang menyebut hanya sponsor resmi Piala Dunia saja yang berhak tampil di stadion dan arena fan fest. Sementara pedagang kecil yang menjajakan makanan ringan, jagung bakar, rokok, permen, kartu telepon dan aneka souvenir tidak memiliki akses berdagang. Padahal merekalah yang mendominasi gambaran ekonomi warga di hampir semua kota di Afsel.
Seperti saya tulis di Serambi edisi Jumat (11/6) lalu, banyak pedagang kecil yang harus gigit jari sebab dilarang berdagang di arena kumpul fans dan sekitar stadion. FIFA memang mengeluarkan regulasi yang melarang pedagang membuka lapak dagangan di sekitar stadion dan fan fest kecuali sponsor resmi Piala Dunia. Manejer stadion yang ditanya seputar hal itu bungkam, menolak berkomentar. Sejauh ini belum ada respon dari pejabat FIFA terkait masalah sensitif tersebut.
Friday, June 11, 2010
Dan, mimpi bangsa Afrika pun terwujud
Acara pembukaan yang diawali musik dan tari-tarian mewarnai Stadion Soccer City , Johannesburg tadi malam berlangsung memukau. Sayangnya, aneka atraksi pembukaan Piala Dunia 2010 yang ditonton jutaan pasang mata itu tak dihadiri oleh Nelson Mandela. Tokoh kharismatik Afsel itu tengah berduka usai tewasnya sang cicit Zenani Mandela dalam satu kecelakaan tragis Kamis kemarin. Acara pembukaan secara resmi pun hanya berlangsung dalam 30 menit yang berisi pagelaran musik dan tarian. Tak ada pidato yang panjang-panjang dan membosankan.
"Mimpi itu akhirnya terwujud hari ini," ujar bos FIFA Sepp Blatter penuh rasa bangga. Mimpi yang dimaksud adalah bahwa bangsa Afsel mampu menggelar even akbar sejagad itu. Akhirnya, Presiden Afsel Jacob Zuma tampil ke depan dan membuka secara resmi perhelatan empat tahunan tersebut. "Ini adalah Piala Dunia bagi seluruh rakyat benua Afrika," demikian Zuma dalam kata pembukanya.
Setelahnya, pertandingan perdana pun dimulai. Pertandingan Afsel vs Meksiko tadi malam mungkin adalah yang paling bising sepanjang sejarah pembukaan Piala Dunia. Betapa tidak, suara aneh mirip dengungan ribuan tawon yang sedang beterbangan terdengar sepanjang pertandingan. Sangat memekakkan telinga.
Ya itulah suara tiupan Vuvuzela, terompet plastik khas rakyat Afsel yang ditiup dengan memanfaatkan getaran bibir. Gabungan ribuan vuvuzela terdengar memekakkan telinga.
Sepanjang hari Jumat kemarin, suara vuvuzela juga membahana di sepanjang ruas jalan menuju stadion dan kawasan nobar yang tersebar di beberapa titik. Fans terlihat lumayan tertib. Bus dan kereta api cepat bagai tak henti, pulang pergi membawa para maniak bola. Kemacetan tidak begitu terlihat. Karena kebanyakan penonton memilih menggunakan transportasi umum ketimbang kenderaan pribadi. Beberapa helikopter terlihat meraung-raung di angkasa memantau keadaan.
Shalat Jumat dekat stadion
Hal menarik lainnya, khusus fans yang beragama Islam, juga mendapat servis memuaskan dari komunitas muslim setempat. Konon lagi kemarin bertepatan dengan hari Jumat. Komunitas muslim Johannesburg telah menyebarkan informasi via situs mereka samuslims2010.net, mengenai posisi mesjid dan mushalla yang berdekatan dengan lokasi stadion dan arena nobar untuk shalat Jumat.
“Saran kami tunaikan shalat Jumat terlebih dahulu, baru ke stadion. Tempat shalat lumayan luas dan dimulai tepat waktu. Di dalam stadion tidak ada fasilitas ruang shalat,” tukas Mohammed Haffejee, seorang muslim setempat yang menjadi panitia bagian keamanan.
Temapt shalat Jumat yang paling dekat dengan stadion, seperti tertera di situs, diadakan di musalla Corobrik, Mushalla yang terletak di Nasrec Road 85 adalah sebuah bangunan sederhana berdampingan dengan area parkir Shareworld Parking. Jaraknya sekitar 2 kilometer ke Stadion Soccer City . Karena fasilitas wudhu yang terbatas, jamaah diminta membawa botol berisi air masing-masing untuk keperluan wudhu. Begitulah. Bangsa Afsel berdiri tegak penuh rasa bangga. Waka Waka ! Saatnya untuk Afrika!
Acara pembukaan yang diawali musik dan tari-tarian mewarnai Stadion Soccer City , Johannesburg tadi malam berlangsung memukau. Sayangnya, aneka atraksi pembukaan Piala Dunia 2010 yang ditonton jutaan pasang mata itu tak dihadiri oleh Nelson Mandela. Tokoh kharismatik Afsel itu tengah berduka usai tewasnya sang cicit Zenani Mandela dalam satu kecelakaan tragis Kamis kemarin. Acara pembukaan secara resmi pun hanya berlangsung dalam 30 menit yang berisi pagelaran musik dan tarian. Tak ada pidato yang panjang-panjang dan membosankan.
"Mimpi itu akhirnya terwujud hari ini," ujar bos FIFA Sepp Blatter penuh rasa bangga. Mimpi yang dimaksud adalah bahwa bangsa Afsel mampu menggelar even akbar sejagad itu. Akhirnya, Presiden Afsel Jacob Zuma tampil ke depan dan membuka secara resmi perhelatan empat tahunan tersebut. "Ini adalah Piala Dunia bagi seluruh rakyat benua Afrika," demikian Zuma dalam kata pembukanya.
Setelahnya, pertandingan perdana pun dimulai. Pertandingan Afsel vs Meksiko tadi malam mungkin adalah yang paling bising sepanjang sejarah pembukaan Piala Dunia. Betapa tidak, suara aneh mirip dengungan ribuan tawon yang sedang beterbangan terdengar sepanjang pertandingan. Sangat memekakkan telinga.
Ya itulah suara tiupan Vuvuzela, terompet plastik khas rakyat Afsel yang ditiup dengan memanfaatkan getaran bibir. Gabungan ribuan vuvuzela terdengar memekakkan telinga.
Sepanjang hari Jumat kemarin, suara vuvuzela juga membahana di sepanjang ruas jalan menuju stadion dan kawasan nobar yang tersebar di beberapa titik. Fans terlihat lumayan tertib. Bus dan kereta api cepat bagai tak henti, pulang pergi membawa para maniak bola. Kemacetan tidak begitu terlihat. Karena kebanyakan penonton memilih menggunakan transportasi umum ketimbang kenderaan pribadi. Beberapa helikopter terlihat meraung-raung di angkasa memantau keadaan.
Shalat Jumat dekat stadion
Hal menarik lainnya, khusus fans yang beragama Islam, juga mendapat servis memuaskan dari komunitas muslim setempat. Konon lagi kemarin bertepatan dengan hari Jumat. Komunitas muslim Johannesburg telah menyebarkan informasi via situs mereka samuslims2010.net, mengenai posisi mesjid dan mushalla yang berdekatan dengan lokasi stadion dan arena nobar untuk shalat Jumat.
“Saran kami tunaikan shalat Jumat terlebih dahulu, baru ke stadion. Tempat shalat lumayan luas dan dimulai tepat waktu. Di dalam stadion tidak ada fasilitas ruang shalat,” tukas Mohammed Haffejee, seorang muslim setempat yang menjadi panitia bagian keamanan.
Temapt shalat Jumat yang paling dekat dengan stadion, seperti tertera di situs, diadakan di musalla Corobrik, Mushalla yang terletak di Nasrec Road 85 adalah sebuah bangunan sederhana berdampingan dengan area parkir Shareworld Parking. Jaraknya sekitar 2 kilometer ke Stadion Soccer City . Karena fasilitas wudhu yang terbatas, jamaah diminta membawa botol berisi air masing-masing untuk keperluan wudhu. Begitulah. Bangsa Afsel berdiri tegak penuh rasa bangga. Waka Waka ! Saatnya untuk Afrika!
Thursday, June 10, 2010
Ke Nako! Johannesburg siap gelar pesta
Ke Nako! Waktunya telah tiba!. Istilah dalam bahasa Zulu ini, bahasa utama warga Afsel, terpampang di spanduk-spanduk raksasa di sepanjang jalan raya kota Johannesburg. Aroma Piala Dunia kini terasa begitu menyengat di kota Johannesburg. Bendera 32 kontestan berkibar di setiap ruas jalan. Tentu saja lebih didominasi oleh warna kuning, warna seragam timnas Afsel. Mobil-mobil berseleweran dengan bendera nasional Afsel. Bendera Afsel juga melambai-lambai di pertokoan, rumah-rumah penduduk yang sudah didekorasi sedemikian rupa. Suara vuvuzela, terompet khas Afsel, terdengar memekakkan telinga. Radio dan televisi saban hari terus menyiarkan musik-musik khas Afsel. Juga iklan-iklan Piala Dunia.
Pemerintah kota Joburg –sebutan untuk Johannesburg- menanti saat-saat jelang pembukaan dengan hati ketar-ketir. Terutama berkaitan dengan transportasi dan kemacetan. Patut diingat, di hari-hari biasa, kemacetan adalah pemandangan umum di Joburg. Pejabat bidang transportasi Propinsi Gauteng, Bheki Nkosi, telah mewanti-wanti para fans bola untuk hadir lebih awal ke stadion agar tak berimbas pada kemacetan.
"Hari Jumat akan ada pengerahan massa besar-besaran. Karena itu kami harapkan penonton untuk berangkat lebih awal, baik ke stadion maupun ke area nonton bareng. Ini untuk menghindari munculnya kemacetan yang parah," pesan Nkosi dalam selebaran yang disebar ke seluruh pojok kota.
Sebanyak 19 metrorail, sejenis tram, telah disiapkan untuk hari-H. Tram ini akan melayani tiga tempat utama yakni Stadion Soccer City, tempat kumpul fans Coca Cola Park dan Loftus. Sebanyak 149 bus yang tergabung dalam Bus Rapid Transit (BRT) –sejenis bus way- juga akan melayani rute yang sama. Tak ketinggalan ratusan taksi milik swasta ikut serta menyukseskan pembukaan nanti.
Amos Masondo, Walikota Johannesburg, memberi jaminan bahwa kotanya sudah sangat siap sebagai tuan rumah, akan menjamu dan melindungi para tamunya selama perhelatan nanti.
Pedagang dilarang jualan
Harapan para pedagang musiman, asongan dan pedagang kaki lima untuk meraih sedikit keuntungan selama turnamen, tampaknya bakal gigit jari. Pasalnya, para pedagang tak resmi dilarang membuka lapak di area seperti stadion, FIFA Fan Fest, dan arena nobar resmi lainnya. Padahal disanalah maniak bola banyak berkumpul. Lalu, memasuki detik-detik akhir jelang pembukaan, di beberapa sudut kota terlihat masih berantakan akibat adanya perbaikan jalan dan infrastruktur lainnya. Masalah penjualan tiket langsung juga masih menggayut.
Namun demikian, menurut beberapa pengamat bola, untuk ukuran negeri yang masih dibelit kemiskinan, pengangguran dan masalah sosial lainnya, apa yang telah dilakukan oleh panitia setempat adalah sebuah progres yang luar biasa. Sebagai negeri yang baru lepas dari politik perbedaan warna kulit (apartheid), satu langkah besar telah mereka tancap.
Sabtu pekan lalu, sebuah parade tahunan Pale Ya Rona digelar di Soweto, kota di selatan Johannesburg. Ribuan warga bergembira bersama di karnaval sepanjang 6 kilometer itu. Warga Afsel kulit putih dan hitam terlihat akrab. Tak ada perbedaan lagi. Turis asing tak ketinggalan ikut menonton. Inilah sepakbola, menyatukan warga Afsel di tengah segala perbedaan.
Akhirnya, mari lupakan sejenak semua persoalan sehari-hari yang membelit. Selama sebulan penuh, perhatian dunia akan tertuju ke Afrika Selatan, tempat hajatan akbar Piala Dunia 2010 dihelat. Ke Nako! Saatnya telah tiba! (zulkarnain jalil)
Ke Nako! Waktunya telah tiba!. Istilah dalam bahasa Zulu ini, bahasa utama warga Afsel, terpampang di spanduk-spanduk raksasa di sepanjang jalan raya kota Johannesburg. Aroma Piala Dunia kini terasa begitu menyengat di kota Johannesburg. Bendera 32 kontestan berkibar di setiap ruas jalan. Tentu saja lebih didominasi oleh warna kuning, warna seragam timnas Afsel. Mobil-mobil berseleweran dengan bendera nasional Afsel. Bendera Afsel juga melambai-lambai di pertokoan, rumah-rumah penduduk yang sudah didekorasi sedemikian rupa. Suara vuvuzela, terompet khas Afsel, terdengar memekakkan telinga. Radio dan televisi saban hari terus menyiarkan musik-musik khas Afsel. Juga iklan-iklan Piala Dunia.
Pemerintah kota Joburg –sebutan untuk Johannesburg- menanti saat-saat jelang pembukaan dengan hati ketar-ketir. Terutama berkaitan dengan transportasi dan kemacetan. Patut diingat, di hari-hari biasa, kemacetan adalah pemandangan umum di Joburg. Pejabat bidang transportasi Propinsi Gauteng, Bheki Nkosi, telah mewanti-wanti para fans bola untuk hadir lebih awal ke stadion agar tak berimbas pada kemacetan.
"Hari Jumat akan ada pengerahan massa besar-besaran. Karena itu kami harapkan penonton untuk berangkat lebih awal, baik ke stadion maupun ke area nonton bareng. Ini untuk menghindari munculnya kemacetan yang parah," pesan Nkosi dalam selebaran yang disebar ke seluruh pojok kota.
Sebanyak 19 metrorail, sejenis tram, telah disiapkan untuk hari-H. Tram ini akan melayani tiga tempat utama yakni Stadion Soccer City, tempat kumpul fans Coca Cola Park dan Loftus. Sebanyak 149 bus yang tergabung dalam Bus Rapid Transit (BRT) –sejenis bus way- juga akan melayani rute yang sama. Tak ketinggalan ratusan taksi milik swasta ikut serta menyukseskan pembukaan nanti.
Amos Masondo, Walikota Johannesburg, memberi jaminan bahwa kotanya sudah sangat siap sebagai tuan rumah, akan menjamu dan melindungi para tamunya selama perhelatan nanti.
Pedagang dilarang jualan
Harapan para pedagang musiman, asongan dan pedagang kaki lima untuk meraih sedikit keuntungan selama turnamen, tampaknya bakal gigit jari. Pasalnya, para pedagang tak resmi dilarang membuka lapak di area seperti stadion, FIFA Fan Fest, dan arena nobar resmi lainnya. Padahal disanalah maniak bola banyak berkumpul. Lalu, memasuki detik-detik akhir jelang pembukaan, di beberapa sudut kota terlihat masih berantakan akibat adanya perbaikan jalan dan infrastruktur lainnya. Masalah penjualan tiket langsung juga masih menggayut.
Namun demikian, menurut beberapa pengamat bola, untuk ukuran negeri yang masih dibelit kemiskinan, pengangguran dan masalah sosial lainnya, apa yang telah dilakukan oleh panitia setempat adalah sebuah progres yang luar biasa. Sebagai negeri yang baru lepas dari politik perbedaan warna kulit (apartheid), satu langkah besar telah mereka tancap.
Sabtu pekan lalu, sebuah parade tahunan Pale Ya Rona digelar di Soweto, kota di selatan Johannesburg. Ribuan warga bergembira bersama di karnaval sepanjang 6 kilometer itu. Warga Afsel kulit putih dan hitam terlihat akrab. Tak ada perbedaan lagi. Turis asing tak ketinggalan ikut menonton. Inilah sepakbola, menyatukan warga Afsel di tengah segala perbedaan.
Akhirnya, mari lupakan sejenak semua persoalan sehari-hari yang membelit. Selama sebulan penuh, perhatian dunia akan tertuju ke Afrika Selatan, tempat hajatan akbar Piala Dunia 2010 dihelat. Ke Nako! Saatnya telah tiba! (zulkarnain jalil)
Wednesday, June 09, 2010
Jelang pembukaan, keamanan makin diperketat
Pembukaan Piala Dunia sudah demikian dekat, hanya hitungan jam. Panitia masih ketar ketir dengan masalah keamanan. Ya keamanan adalah tantangan terbesar selama kejuaraan Piala Dunia 2010. Afsel, tentu saja, tak mau kecolongan untuk masalah yang satu ini. Konon lagi, sejauh ini, stereotip negeri tidak aman dengan tingkat kriminalitas tinggi di dunia masih melekat kuat. Catat saja, sedikitnya 50 orang meninggal dunia akibat kasus pembunuhan dan perampokan.
Kejadian mutakhir adalah kerusuhan berdarah yang terjadi saat pertandingan persahabatan antara Nigeria melawan Korea Utara akhir pekan lalu. Pihak keamanan mulai gerah. Tak mau kecolongan lagi, mereka mulai mengerahkan seluruh aspek keamanan. Mulai dari intensitas penggunaan anjing pelacak, gas air mata, water canon hingga penggunaan helikopter.
“Laga pembuka Jumat(11/6) nanti adalah pertaruhan akan kesiapan tim keamanan,” ujar Sally de Beer, Jubir Kepolisian Afsel serius. Bahkan teknologi komunikasi dan informasi militer canggih bakal dikerahkan.
Saat ini sedikitnya ada 40 helikopter yang telah disiagakan dan melibatkan 41 ribu tim keamanan terlatih. Saking seriusnya masalah keamanan, Afsel menggelontorkan dana sekitar 665 juta rand (sekitar 790 milyar rupiah). Dana sebesar itu untuk pengadaan peralatan keamanan termasuk didalam sistem kontrol otomatis, training, pesawat udara kecil, helikompter, 10 water cannon, 100 mobil patroli dan pengadaan seragam anti peluru.
Tak hanya itu, sekitar 300 kamera bergerak sejenis CCTV juga bakal digunakan. Pekan lalu, sistem keamanan yang diberi nama Africa's Advanced Passenger Processing (APP) telah sukses diujicoba di Johannesburg. Sistem ini dipakai pertamakali di bandara internasional OR Tambo, Johannesburg untuk mendeteksi para berandal atau hooligan.
Usaha jasa keamaman bermunculan
Disisi lain, menariknya, kini malah muncul bisnis jasa keamanan khusus selama perhelatan Piala Dunia. Rupanya pihak perusahan keamanan swasta melihat itu sebagai peluang besar.
“Bisnis keamanan pribadi sangat menggiurkan dan masih terbuka banyak kesempatan kerja. Selama turnamen nanti paling sedikit dibutuhkan 5000 pengawal pribadi, yakni untuk orang-orang khusus. Kami saat ini memperkerjakan sekitar 1000 orang. Sebagian besar sudah dipesan jauh-jauh hari untuk kebutuhan selama Piala Dunia,” ungkap Andre Viljoen, Direktur SA Bodyduard, sebuah perusahaan jasa keamanan yang sudah 17 tahun berpengalaman menangani masalah keamanan. Pengguna jasa pribadi musti merogoh kocek mereka sekitar 350 euro (sekitar 4 juta rupiah) per hari.
Disamping memasok bodyguard (pengawal-red) bagi kalangan personal, perusahaan itu juga menerima pesanan untuk tim peserta kejuaraan. Namun sejauh ini belum diketahui tim mana saja yang menggunakan jasa perusahaan yang bermarkas di Graskop, Nelspruit.
Namun, kebanyakan negara peserta membawa sendiri tim keamanan dari negerinya. Misalnya tim Panser Jerman, mereka menyertakan 20 orang bodyguard yang khusus didatangkan dari negerinya. Bahkan kabarnya timnas Jerman telah menerima anjuran perusahaan keamanan agar para pemain mengenakan jaket anti peluru setiap keluar dari hotel. Baru-baru ini sebuah perusahaan jasa keamanan Inggris memasarkan jaket khusus yang anti tusukan, yang dijual untuk fans sepakbola. Sekilas hal itu sudah terlalu berlebihan. Namun, tentu saja tiap tim punya kebijakan khusus demi menjaga kenyamanan pemain mereka selama turnamen di benua hitam itu. Semoga saja kekhawatiran berlebihan itu tidak terbukti. (zulkarnain jalil)
Pembukaan Piala Dunia sudah demikian dekat, hanya hitungan jam. Panitia masih ketar ketir dengan masalah keamanan. Ya keamanan adalah tantangan terbesar selama kejuaraan Piala Dunia 2010. Afsel, tentu saja, tak mau kecolongan untuk masalah yang satu ini. Konon lagi, sejauh ini, stereotip negeri tidak aman dengan tingkat kriminalitas tinggi di dunia masih melekat kuat. Catat saja, sedikitnya 50 orang meninggal dunia akibat kasus pembunuhan dan perampokan.
Kejadian mutakhir adalah kerusuhan berdarah yang terjadi saat pertandingan persahabatan antara Nigeria melawan Korea Utara akhir pekan lalu. Pihak keamanan mulai gerah. Tak mau kecolongan lagi, mereka mulai mengerahkan seluruh aspek keamanan. Mulai dari intensitas penggunaan anjing pelacak, gas air mata, water canon hingga penggunaan helikopter.
“Laga pembuka Jumat(11/6) nanti adalah pertaruhan akan kesiapan tim keamanan,” ujar Sally de Beer, Jubir Kepolisian Afsel serius. Bahkan teknologi komunikasi dan informasi militer canggih bakal dikerahkan.
Saat ini sedikitnya ada 40 helikopter yang telah disiagakan dan melibatkan 41 ribu tim keamanan terlatih. Saking seriusnya masalah keamanan, Afsel menggelontorkan dana sekitar 665 juta rand (sekitar 790 milyar rupiah). Dana sebesar itu untuk pengadaan peralatan keamanan termasuk didalam sistem kontrol otomatis, training, pesawat udara kecil, helikompter, 10 water cannon, 100 mobil patroli dan pengadaan seragam anti peluru.
Tak hanya itu, sekitar 300 kamera bergerak sejenis CCTV juga bakal digunakan. Pekan lalu, sistem keamanan yang diberi nama Africa's Advanced Passenger Processing (APP) telah sukses diujicoba di Johannesburg. Sistem ini dipakai pertamakali di bandara internasional OR Tambo, Johannesburg untuk mendeteksi para berandal atau hooligan.
Usaha jasa keamaman bermunculan
Disisi lain, menariknya, kini malah muncul bisnis jasa keamanan khusus selama perhelatan Piala Dunia. Rupanya pihak perusahan keamanan swasta melihat itu sebagai peluang besar.
“Bisnis keamanan pribadi sangat menggiurkan dan masih terbuka banyak kesempatan kerja. Selama turnamen nanti paling sedikit dibutuhkan 5000 pengawal pribadi, yakni untuk orang-orang khusus. Kami saat ini memperkerjakan sekitar 1000 orang. Sebagian besar sudah dipesan jauh-jauh hari untuk kebutuhan selama Piala Dunia,” ungkap Andre Viljoen, Direktur SA Bodyduard, sebuah perusahaan jasa keamanan yang sudah 17 tahun berpengalaman menangani masalah keamanan. Pengguna jasa pribadi musti merogoh kocek mereka sekitar 350 euro (sekitar 4 juta rupiah) per hari.
Disamping memasok bodyguard (pengawal-red) bagi kalangan personal, perusahaan itu juga menerima pesanan untuk tim peserta kejuaraan. Namun sejauh ini belum diketahui tim mana saja yang menggunakan jasa perusahaan yang bermarkas di Graskop, Nelspruit.
Namun, kebanyakan negara peserta membawa sendiri tim keamanan dari negerinya. Misalnya tim Panser Jerman, mereka menyertakan 20 orang bodyguard yang khusus didatangkan dari negerinya. Bahkan kabarnya timnas Jerman telah menerima anjuran perusahaan keamanan agar para pemain mengenakan jaket anti peluru setiap keluar dari hotel. Baru-baru ini sebuah perusahaan jasa keamanan Inggris memasarkan jaket khusus yang anti tusukan, yang dijual untuk fans sepakbola. Sekilas hal itu sudah terlalu berlebihan. Namun, tentu saja tiap tim punya kebijakan khusus demi menjaga kenyamanan pemain mereka selama turnamen di benua hitam itu. Semoga saja kekhawatiran berlebihan itu tidak terbukti. (zulkarnain jalil)
Tuesday, June 08, 2010
Relawan kota Cape Town siap tempur
Volunteer (relawan-red) adalah bagian terpenting bagi suksesnya penyelenggaraan Piala Dunia. Cape Town yang bakal disesaki tamu dan maniak bola dilaporkan telah menyiapkan sedikitnya 1200 relawan selama Piala Dunia 2010.
"Sebagian besar relawan kami rekrut dari warga kota Cape Town sendiri. Disamping ada juga dari negara lain. Alasannya, relawan lokal tentu hafal dan paham setiap inci sudut kotanya. Ini akan memudahkan kami dalam membantu dan memandu para tamu.," ungkap Garth Kemp, penanggung jawab relawan kota Cape Town seperti dikutip BuaNews.
Para relawan yang berusia antara 18-75 tahun diseleksi secara ketat. Yang lulus seleksi mendapat pembekalan singkat meliputi tips dan trik servis bagi tamu asing, P3K, keamanan, pariwisata, transportasi, IT dan prosedur pengurusan administrasi kota. Hasil pelatihan langsung diujicoba di stadion dan area penting di pusat kota. Khalayak ramai terlihat antusias menonton atraksi sukarelawan ini.
"Mereka mulai bertugas sejak 5 Juni lalu hingga 13 Juli nanti. Masing-masing dibentuk dalam beberapa kelompok dan bahu membahu satu sama lainnya dengan koordinasi terpadu," imbuh Kemp seraya menyebut wilayah kerja relawan sebagian besar adalah kawasan stadion, arena nonton bareng, bandar udara, dan hotel tempat tim dan para tamu menginap.
Para relawan dengan berbalut seragam warna oranye akan bekerja selama 9 jam sehari dengan cara shift (bergiliran) dari pukul 8.30 pagi hingga 24.30 tengah malam. Tak hanya itu, para relawan juga akan ditempatkan di Pusat Kegiatan Olahraga dan Rekreasi setempat. Area itu bakal dijejali pengunjung, terutama anak-anak sekolah, sebab bertepatan dengan musim liburan.
"Relawan kami adalah relawan terpilih yang memiliki gairah, semangat dan antusias tinggi, juga skill sosial dan kemampuan beradaptasi secara cepat pada tiap kondisi. Mereka mampu berkomunikasi dalam beberapa bahasa, selain Inggris" terang Kemp seraya menyebut seluruh relawan telah mendapat akreditasi penuh dari FIFA.
Selama turnamen, Good Hope Centre akan jadi markas para relawan.
Beberapa relawan ditempatkan khusus untuk memasukkan data-data mutakhir ke sistem database pemerintah kota Cape Town. Hal ini akan memudahkan otoritas kota untuk mengakses segala aktifas di seluruh penjuru kota secara real time, akurat dan tepat waktu.
"Wah, senang sekali bisa ikut serta sebagai relawan di Piala Dunia kali ini. Banyak sekali hal-hal baru yang kupelajari selama pelatihan, terutama saat ujicoba di lapangan. Misalnya, bagaimana mengekspresikan diri dengan orang banyak, dari berbagai negara dan dengan kultur berbeda. Sungguh sebuah pengalaman yang mahal," tukas Joyce McGowan (21), salah seorang anggota relawan yang berasal dari kawasan Scottsdene, Cape Town Utara sumringah.
Selama turnamen Joyce dapat tugas menemani Timothy Amos, relawan lainnya, di Pusat Kegiatan Olahraga dan Rekreasi. Diperkirakan ratusan pelajar berusia 3 hingga 18 tahun bakal memenuhi arena itu selama musim liburan sekolah.
"Dibantu beberapa relawan lain, kami secara bergantian akan memandu acara khusus untuk anak-anak dan para pelajar selama liburan sekolah bulan Juni di kawasan itu," kata Timothy.
Pada Piala Dunia kali ini, hingga akhir masa pendaftaran ada sekitar 67.000 calon relawan dari 170 negara yang memasukkan lamaran mereka. Padahal untuk penyelenggaraan nanti, mengutip FIFA, dibutuhkan 15.000 relawan. Bagi Dr Danny Jordan, Ketua Panitia Piala Dunia, animo pelamar yang sedemikian tinggi sebagai bentuk apresiasi dan respon yang luar biasa dari masyarakat dunia terhadap Piala Dunia Afsel. Apakah para relawan itu mendapat bayaran? Tidak sama sekali alias gratis.
“Kita harus memberi terlebih dahulu dan jangan berharap untuk mendapatkan kembaliannya,” ujar Camila Ismail (44) diplomatis. Dia akan bertugas memandu tim Jerman. “Aku serasa seperti terbang ke bulan. Sulit dilukiskan dengan kata-kata. Begitu bahagianya. Hampir tak percaya bisa jadi salah satu diantara 15 ribu relawan,” tutur Nosisa Mbolekwa yang akan berulang tahun ke-20 persis pada Jumat, 11 Juni nanti. Begitulah, tak semua rasa bahagia bisa dinilai dengan uang semata. (zulkarnain jalil)
Volunteer (relawan-red) adalah bagian terpenting bagi suksesnya penyelenggaraan Piala Dunia. Cape Town yang bakal disesaki tamu dan maniak bola dilaporkan telah menyiapkan sedikitnya 1200 relawan selama Piala Dunia 2010.
"Sebagian besar relawan kami rekrut dari warga kota Cape Town sendiri. Disamping ada juga dari negara lain. Alasannya, relawan lokal tentu hafal dan paham setiap inci sudut kotanya. Ini akan memudahkan kami dalam membantu dan memandu para tamu.," ungkap Garth Kemp, penanggung jawab relawan kota Cape Town seperti dikutip BuaNews.
Para relawan yang berusia antara 18-75 tahun diseleksi secara ketat. Yang lulus seleksi mendapat pembekalan singkat meliputi tips dan trik servis bagi tamu asing, P3K, keamanan, pariwisata, transportasi, IT dan prosedur pengurusan administrasi kota. Hasil pelatihan langsung diujicoba di stadion dan area penting di pusat kota. Khalayak ramai terlihat antusias menonton atraksi sukarelawan ini.
"Mereka mulai bertugas sejak 5 Juni lalu hingga 13 Juli nanti. Masing-masing dibentuk dalam beberapa kelompok dan bahu membahu satu sama lainnya dengan koordinasi terpadu," imbuh Kemp seraya menyebut wilayah kerja relawan sebagian besar adalah kawasan stadion, arena nonton bareng, bandar udara, dan hotel tempat tim dan para tamu menginap.
Para relawan dengan berbalut seragam warna oranye akan bekerja selama 9 jam sehari dengan cara shift (bergiliran) dari pukul 8.30 pagi hingga 24.30 tengah malam. Tak hanya itu, para relawan juga akan ditempatkan di Pusat Kegiatan Olahraga dan Rekreasi setempat. Area itu bakal dijejali pengunjung, terutama anak-anak sekolah, sebab bertepatan dengan musim liburan.
"Relawan kami adalah relawan terpilih yang memiliki gairah, semangat dan antusias tinggi, juga skill sosial dan kemampuan beradaptasi secara cepat pada tiap kondisi. Mereka mampu berkomunikasi dalam beberapa bahasa, selain Inggris" terang Kemp seraya menyebut seluruh relawan telah mendapat akreditasi penuh dari FIFA.
Selama turnamen, Good Hope Centre akan jadi markas para relawan.
Beberapa relawan ditempatkan khusus untuk memasukkan data-data mutakhir ke sistem database pemerintah kota Cape Town. Hal ini akan memudahkan otoritas kota untuk mengakses segala aktifas di seluruh penjuru kota secara real time, akurat dan tepat waktu.
"Wah, senang sekali bisa ikut serta sebagai relawan di Piala Dunia kali ini. Banyak sekali hal-hal baru yang kupelajari selama pelatihan, terutama saat ujicoba di lapangan. Misalnya, bagaimana mengekspresikan diri dengan orang banyak, dari berbagai negara dan dengan kultur berbeda. Sungguh sebuah pengalaman yang mahal," tukas Joyce McGowan (21), salah seorang anggota relawan yang berasal dari kawasan Scottsdene, Cape Town Utara sumringah.
Selama turnamen Joyce dapat tugas menemani Timothy Amos, relawan lainnya, di Pusat Kegiatan Olahraga dan Rekreasi. Diperkirakan ratusan pelajar berusia 3 hingga 18 tahun bakal memenuhi arena itu selama musim liburan sekolah.
"Dibantu beberapa relawan lain, kami secara bergantian akan memandu acara khusus untuk anak-anak dan para pelajar selama liburan sekolah bulan Juni di kawasan itu," kata Timothy.
Pada Piala Dunia kali ini, hingga akhir masa pendaftaran ada sekitar 67.000 calon relawan dari 170 negara yang memasukkan lamaran mereka. Padahal untuk penyelenggaraan nanti, mengutip FIFA, dibutuhkan 15.000 relawan. Bagi Dr Danny Jordan, Ketua Panitia Piala Dunia, animo pelamar yang sedemikian tinggi sebagai bentuk apresiasi dan respon yang luar biasa dari masyarakat dunia terhadap Piala Dunia Afsel. Apakah para relawan itu mendapat bayaran? Tidak sama sekali alias gratis.
“Kita harus memberi terlebih dahulu dan jangan berharap untuk mendapatkan kembaliannya,” ujar Camila Ismail (44) diplomatis. Dia akan bertugas memandu tim Jerman. “Aku serasa seperti terbang ke bulan. Sulit dilukiskan dengan kata-kata. Begitu bahagianya. Hampir tak percaya bisa jadi salah satu diantara 15 ribu relawan,” tutur Nosisa Mbolekwa yang akan berulang tahun ke-20 persis pada Jumat, 11 Juni nanti. Begitulah, tak semua rasa bahagia bisa dinilai dengan uang semata. (zulkarnain jalil)
Monday, June 07, 2010
Blatter serahkan trofi Piala Dunia ke Pemerintah Afsel
Presiden FIFA Sepp Blatter secara resmi menyerahkan trofi Piala Dunia kepada pemerintah Afsel Jumat (4/6) pekan lalu di Pretoria . Dalam kesempatan itu, Blatter menyatakan apresiasi tingginya kepada rakyat dan pemerintah Afsel atas persiapan, keramahan dan segala sesuatu yang membuat para tamu betah berada disana. Seperti disitir Buanews, Blatter dalam sambutannya secara khusus menyelipkan penghargaan bagi mantan Presiden Nelson Mandela atas perannya dalam membangun demokrasi dan stabilitas politik di Afsel.
"Saya menyampaikan penghargaan yang tinggi bagi pemerintah Afsel karena tanpa kerjasama dan dukungan mereka tak mungkin even sekaliber ini bisa berlangsung. Khususnya bagi rakyat Afsel, saya mengucapkan terima kasih tak berhingga atas semangat menggelora yang mereka tunjukkan bagi suksesnya Piala Dunia," ucap Blatter sesaat setelah menyerahkan trofi Piala Dunia kepada pihak pemerintah yang diterima oleh Wakil Presiden, Kgalema Motlanthe. Selanjutnya trofi seberat 6,17 kg dan bakal diperebutkan oleh 32 kontestan Piala Dunia dipajang di Soweto, Johanesburg sembari menanti hari pembukaan yang akan berlangsung di Stadion Soccer City pada 11 Juni.
Pegawai istana antusias
Para pegawai di Istana Wapres tampak sangat bersemangat ingin melihat dari dekat piala penuh legenda itu. Mereka berkerumun di dekat trofi itu. Blatter tampak tersenyum maklum seraya memberi ruang lebih luas bagi mereka untuk mendekat. "Tapi mohon jangan disentuh," pinta Blatter khawatir piala itu jatuh.
Wapres Motlanthe, ditemani beberapa menteri negara, mengatakan pemerintah telah bekerja keras dan menjamin semua persyaratan yang diminta FIFA bagi suksesnya penyelenggaraan Piala Dunia telah terpenuhi. Dia menegaskan bahwa terpilihnya Afsel sebagai tuan rumah turnamen akbar itu sebagai buah kerja yang "incredible" (baca: luar biasa) dari tokoh nasional Nelson Mandela, mantan Presiden Thabo Mbeki dan Jacob Zuma, Presiden Afsel saat ini.
"Ini adalah kerja keras yang mengagumkan dari orang-orang terbaik negeri kami. Hari ini kami akan buktikan mampu menjadi tuan rumah even langka ini. Kami, bangsa Afsel bangga bisa sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia sepakbola," ujar Motlanthe.
Blatter kembali menyitir opini-opini miring yang berhembus selama ini. Bahwa Afsel bakal tak mampu jadi tuan rumah, tidak terbukti. "Memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tidak mungkin sukses itu selalu harus 100 persen. Tapi, dengan apa yang kita saksikan hari ini, mereka-mereka yang selama ini mengkritik patut menarik kembali ucapannya," kata dia.
Terkait kehadiran Nelson Mandela di hari pembukaan Jumat (11/6) nanti, Blatter menceritakan bahwa dia telah bertemu langsung dengan negarawan berusia 91 tahun itu dan mengindikasikan Mandela bisa hadir langsung di stadion. (zulkarnain jalil)
Presiden FIFA Sepp Blatter secara resmi menyerahkan trofi Piala Dunia kepada pemerintah Afsel Jumat (4/6) pekan lalu di Pretoria . Dalam kesempatan itu, Blatter menyatakan apresiasi tingginya kepada rakyat dan pemerintah Afsel atas persiapan, keramahan dan segala sesuatu yang membuat para tamu betah berada disana. Seperti disitir Buanews, Blatter dalam sambutannya secara khusus menyelipkan penghargaan bagi mantan Presiden Nelson Mandela atas perannya dalam membangun demokrasi dan stabilitas politik di Afsel.
"Saya menyampaikan penghargaan yang tinggi bagi pemerintah Afsel karena tanpa kerjasama dan dukungan mereka tak mungkin even sekaliber ini bisa berlangsung. Khususnya bagi rakyat Afsel, saya mengucapkan terima kasih tak berhingga atas semangat menggelora yang mereka tunjukkan bagi suksesnya Piala Dunia," ucap Blatter sesaat setelah menyerahkan trofi Piala Dunia kepada pihak pemerintah yang diterima oleh Wakil Presiden, Kgalema Motlanthe. Selanjutnya trofi seberat 6,17 kg dan bakal diperebutkan oleh 32 kontestan Piala Dunia dipajang di Soweto, Johanesburg sembari menanti hari pembukaan yang akan berlangsung di Stadion Soccer City pada 11 Juni.
Pegawai istana antusias
Para pegawai di Istana Wapres tampak sangat bersemangat ingin melihat dari dekat piala penuh legenda itu. Mereka berkerumun di dekat trofi itu. Blatter tampak tersenyum maklum seraya memberi ruang lebih luas bagi mereka untuk mendekat. "Tapi mohon jangan disentuh," pinta Blatter khawatir piala itu jatuh.
Wapres Motlanthe, ditemani beberapa menteri negara, mengatakan pemerintah telah bekerja keras dan menjamin semua persyaratan yang diminta FIFA bagi suksesnya penyelenggaraan Piala Dunia telah terpenuhi. Dia menegaskan bahwa terpilihnya Afsel sebagai tuan rumah turnamen akbar itu sebagai buah kerja yang "incredible" (baca: luar biasa) dari tokoh nasional Nelson Mandela, mantan Presiden Thabo Mbeki dan Jacob Zuma, Presiden Afsel saat ini.
"Ini adalah kerja keras yang mengagumkan dari orang-orang terbaik negeri kami. Hari ini kami akan buktikan mampu menjadi tuan rumah even langka ini. Kami, bangsa Afsel bangga bisa sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia sepakbola," ujar Motlanthe.
Blatter kembali menyitir opini-opini miring yang berhembus selama ini. Bahwa Afsel bakal tak mampu jadi tuan rumah, tidak terbukti. "Memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tidak mungkin sukses itu selalu harus 100 persen. Tapi, dengan apa yang kita saksikan hari ini, mereka-mereka yang selama ini mengkritik patut menarik kembali ucapannya," kata dia.
Terkait kehadiran Nelson Mandela di hari pembukaan Jumat (11/6) nanti, Blatter menceritakan bahwa dia telah bertemu langsung dengan negarawan berusia 91 tahun itu dan mengindikasikan Mandela bisa hadir langsung di stadion. (zulkarnain jalil)
Hotel di Cape Town habis dibooking
Hanya bersisa beberapa hari lagi Piala Dunia Afsel 2010 akan dibuka. Salah satu sektor yang kecipratan rejeki nomplok adalah perhotelan. Saat ini seluruh hotel berbintang dilaporkan telah habis dibooking oleh turis dan fans bola mancanegara. Contohnya di kota Cape Town, yang akan menjadi salah satu kota magnet bola dunia 2010, hotel-hotel disana sudah masuk status fully booked alias habis dibooking.
Hasil satu survey, seperti dilaporkan Cape Times , hotel-hotel berbintang kini kapasitasnya tampungnya makin terbatas karena telah dipesan jauh-jauh hari. Sedangkan tingkat hunian hotel-hotel skala kecil menengah telah pun mencapai 50 hingga 70 persen. Cape Grace Hotel misalnya. Hotel berbintang lima dikabarkan telah 90 persen terisi. Baik oleh secara kelompok maupun pribadi.
“Kamar-kamar di hotel kami sudah penuh untuk periode Juni-Juli ini. Memang ada beberapa kamar kelas ekonomi yang tersisa, tapi itu tidak banyak. Secara definitif, kami sudah penuh selama Piala Dunia,” kata salah seorang pegawai Cape Grace Hotel bagian reservasi.
Sementara itu di Table Bay Hotel, salah satu hotel bintang lima lainnya, hanya tersisa lima kamar tipe twin rooms (dua tempat tidur) dan dua kamar suite khusus untuk keluarga.
"Memang masih ada kamar kosong, tapi sangat terbatas sekali. Mayoritas sudah dipesan jauh-jauh hari khusus selama penyelenggaraan Piala Dunia.," tukas Yolisa Motsamai, salah seorang pegawai hotel itu.
Yang fenomenal adalah penginapan Pepper Club. Tingkat hunian hotel yang terletak di kawasan Loop Street ini telah melebihi prediksi awal dimana 95 persen kamarnya telah diboking. Padahal hotel ini justru baru dibuka tahun ini.
"Hotel-hotel mewah berbintang di pusat perkotaan lebih diminati dan dipilih oleh turis asing selama Piala Dunia. Daya tampung hotel-hotel jenis ini memang sangat terbatas. Kadangkala ada hotel yang terpaksa menambah kapasitas kamar karena permintaan yang tinggi," sebut David Solomon, juru bicara Pepper Club.
Bagi yang berkantong cekak, bisa menginap di hotel skala kecil meski terletak agak di pinggiran kota. Begitupun, tetap saja diminati. Seperti hotel Ashanti Lodge di kawasan Green Point, 60 persen kamar telah dipesan. "Kebanyakan calon penghuni kami adalah grup atau kelompok fans tertentu. Saya yakin menjelang hari-H nanti akan penuh," kata Lisa Mason, sang pemilik hotel optimis. Lalu ada penginapan A Cat and Moose Backpackers, petugas hotel disana menyebut 70 persen telah dibooking. Meski hotel-hotel kecil tersebut tidak masuk dalam daftar registrasi agen FIFA, namun tetap dipercaya oleh calon penghuni yang sebagian besar warga asing.
Cape Town memang menawarkan eksotisme yang memanjakan mata. Kota ini terletak di sisi pegunungan yang berjajar di Cape Peninsula dan berada sejajar dengan permukaan air laut yang sangat indah. Karena itu lebih dikenal sebagai kota pelabuhan.
Pertandingan selama Piala Dunia di Cape Town akan berlangsung di Stadion Green Point. Di stadion berkapasitas 70 ribu tempat duduk ini nantinya akan dilangsungkan lima pertandingan babak penyisihan, satu babak 16 besar, satu perempat final, dan satu semi final. (zulkarnain jalil)
Hanya bersisa beberapa hari lagi Piala Dunia Afsel 2010 akan dibuka. Salah satu sektor yang kecipratan rejeki nomplok adalah perhotelan. Saat ini seluruh hotel berbintang dilaporkan telah habis dibooking oleh turis dan fans bola mancanegara. Contohnya di kota Cape Town, yang akan menjadi salah satu kota magnet bola dunia 2010, hotel-hotel disana sudah masuk status fully booked alias habis dibooking.
Hasil satu survey, seperti dilaporkan Cape Times , hotel-hotel berbintang kini kapasitasnya tampungnya makin terbatas karena telah dipesan jauh-jauh hari. Sedangkan tingkat hunian hotel-hotel skala kecil menengah telah pun mencapai 50 hingga 70 persen. Cape Grace Hotel misalnya. Hotel berbintang lima dikabarkan telah 90 persen terisi. Baik oleh secara kelompok maupun pribadi.
“Kamar-kamar di hotel kami sudah penuh untuk periode Juni-Juli ini. Memang ada beberapa kamar kelas ekonomi yang tersisa, tapi itu tidak banyak. Secara definitif, kami sudah penuh selama Piala Dunia,” kata salah seorang pegawai Cape Grace Hotel bagian reservasi.
Sementara itu di Table Bay Hotel, salah satu hotel bintang lima lainnya, hanya tersisa lima kamar tipe twin rooms (dua tempat tidur) dan dua kamar suite khusus untuk keluarga.
"Memang masih ada kamar kosong, tapi sangat terbatas sekali. Mayoritas sudah dipesan jauh-jauh hari khusus selama penyelenggaraan Piala Dunia.," tukas Yolisa Motsamai, salah seorang pegawai hotel itu.
Yang fenomenal adalah penginapan Pepper Club. Tingkat hunian hotel yang terletak di kawasan Loop Street ini telah melebihi prediksi awal dimana 95 persen kamarnya telah diboking. Padahal hotel ini justru baru dibuka tahun ini.
"Hotel-hotel mewah berbintang di pusat perkotaan lebih diminati dan dipilih oleh turis asing selama Piala Dunia. Daya tampung hotel-hotel jenis ini memang sangat terbatas. Kadangkala ada hotel yang terpaksa menambah kapasitas kamar karena permintaan yang tinggi," sebut David Solomon, juru bicara Pepper Club.
Bagi yang berkantong cekak, bisa menginap di hotel skala kecil meski terletak agak di pinggiran kota. Begitupun, tetap saja diminati. Seperti hotel Ashanti Lodge di kawasan Green Point, 60 persen kamar telah dipesan. "Kebanyakan calon penghuni kami adalah grup atau kelompok fans tertentu. Saya yakin menjelang hari-H nanti akan penuh," kata Lisa Mason, sang pemilik hotel optimis. Lalu ada penginapan A Cat and Moose Backpackers, petugas hotel disana menyebut 70 persen telah dibooking. Meski hotel-hotel kecil tersebut tidak masuk dalam daftar registrasi agen FIFA, namun tetap dipercaya oleh calon penghuni yang sebagian besar warga asing.
Cape Town memang menawarkan eksotisme yang memanjakan mata. Kota ini terletak di sisi pegunungan yang berjajar di Cape Peninsula dan berada sejajar dengan permukaan air laut yang sangat indah. Karena itu lebih dikenal sebagai kota pelabuhan.
Pertandingan selama Piala Dunia di Cape Town akan berlangsung di Stadion Green Point. Di stadion berkapasitas 70 ribu tempat duduk ini nantinya akan dilangsungkan lima pertandingan babak penyisihan, satu babak 16 besar, satu perempat final, dan satu semi final. (zulkarnain jalil)
Warga Pretoria Antusias Sambut Trofi Piala Dunia
Pagi itu 31 Mei, ribuan fans bola dari berbagai kalangan, tua muda, hingga kanak-kanak memenuhi aula balai kota Pretoria, ibukota Afrika Selatan. Kendati cuaca masih sangat dingin, namun jumlah mereka yang datang makin lama makin bejubel saja. Ya warga Pretoria tumpah ruah untuk melihat dan berpose dengan trofi Piala Dunia yang saat itu dipajang di Balai Kota Tshwane.
Piala terbuat dari emas, dengan berat sekitar 6,17 kg itu menempuh perjalanan terakhir dari rangkaian tur trofi piala dunia di 86 negara di seluruh dunia. Menurut Manajer Coca Cola, Brad Ross, seperti disitir BuaNews (31/5), perhentian terakhir tur adalah di kota Soweto pada Sabtu 5 Juni mendatang. Setelah itu trofi Piala Dunia yang menempuh garis start awal di Zurich, Swiss akan dikembalikan ke FIFA.
Ditanya tentang tanggapan warga di kota-kota calon tuan rumah saat dikunjungi, Ross mengatakan: "Pengalaman yang sangat menakjubkan. Masyarakat sangat antusias dan terjadi antrian yang begitu panjang di tiap kota yang kami singgahi. Tidak ada keraguan sedikitpun, Afrika Selatan sangat pantas jadi tuan rumah turnamen sepak bola spektakuler sejagad ini," tukas Ross dipenuhi rasa kagumnya.
Elias Mahlangu (23), salah seorang fans bola yang datang dari desa kecil di pinggiran Pretoria untuk melihat trofi, mengaku bangga jadi warga Afrika Selatan. "Saya bangga jadi warga Afsel. Kami memang pantas untuk perhelatan ini. Saya gembira bisa melihat piala penuh legenda itu," katanya Elias penuh semangat.
Sementara itu Nomthandazo Ntikinca (29), warga Afsel lainnya, melakukan perjalanan jauh dari East Rand, Katlehong, hanya untuk melihat trofi piala dunia. "Piala dunia adalah impianku. Saya senang bahwa Afrika Selatan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010. Meskipun tidak akan nonton di stadion karena aku tidak mampu beli tiket, aku akan tonton semua pertandingan via televisi," aku Nomtha. Pria berkulit gelap itu seakan mewakili warga Afsel kebanyakan, yang tidak mampu membeli tiket untuk bisa nonton langsung di stadion.
Dengan waktu tersisa sepekan lagi sebelum peluit kick-off dibunyikan, Pretoria sebagai salah satu kota penyelenggara benar-benar berubah. Memasuki pusat kota, di sepanjang jalan dipenuhi oleh beragam spanduk, poster, bendera, graffiti, iklan berbagai merk produk, dari besar, kecil hingga kombinasi aneka warna. Di malam hari, Pretoria bermandikan lampu hias aneka warna. Tak hanya itu, kondisi kota juga tampak bersih bersinar dan menyehatkan. “Kami sudah punya komitmen untuk menjadikan Pretoria nyaman dan sehat bagi pengunjung sepakbola. Warga kota sudah siap untuk menyambut tamunya dengan ramah,” kata Dr Gwen Ramokgopa, Walikota Pretoria dalam siaran persnya.
Begitulah. Di seluruh Afsel, kini orang-orang menghabiskan malam tanpa tidur karena antrian dalam upaya untuk membeli tiket. Virus demam piala dunia sudah menjangkiti warga benua hitam. (zulkarnain jalil).
Pagi itu 31 Mei, ribuan fans bola dari berbagai kalangan, tua muda, hingga kanak-kanak memenuhi aula balai kota Pretoria, ibukota Afrika Selatan. Kendati cuaca masih sangat dingin, namun jumlah mereka yang datang makin lama makin bejubel saja. Ya warga Pretoria tumpah ruah untuk melihat dan berpose dengan trofi Piala Dunia yang saat itu dipajang di Balai Kota Tshwane.
Piala terbuat dari emas, dengan berat sekitar 6,17 kg itu menempuh perjalanan terakhir dari rangkaian tur trofi piala dunia di 86 negara di seluruh dunia. Menurut Manajer Coca Cola, Brad Ross, seperti disitir BuaNews (31/5), perhentian terakhir tur adalah di kota Soweto pada Sabtu 5 Juni mendatang. Setelah itu trofi Piala Dunia yang menempuh garis start awal di Zurich, Swiss akan dikembalikan ke FIFA.
Ditanya tentang tanggapan warga di kota-kota calon tuan rumah saat dikunjungi, Ross mengatakan: "Pengalaman yang sangat menakjubkan. Masyarakat sangat antusias dan terjadi antrian yang begitu panjang di tiap kota yang kami singgahi. Tidak ada keraguan sedikitpun, Afrika Selatan sangat pantas jadi tuan rumah turnamen sepak bola spektakuler sejagad ini," tukas Ross dipenuhi rasa kagumnya.
Elias Mahlangu (23), salah seorang fans bola yang datang dari desa kecil di pinggiran Pretoria untuk melihat trofi, mengaku bangga jadi warga Afrika Selatan. "Saya bangga jadi warga Afsel. Kami memang pantas untuk perhelatan ini. Saya gembira bisa melihat piala penuh legenda itu," katanya Elias penuh semangat.
Sementara itu Nomthandazo Ntikinca (29), warga Afsel lainnya, melakukan perjalanan jauh dari East Rand, Katlehong, hanya untuk melihat trofi piala dunia. "Piala dunia adalah impianku. Saya senang bahwa Afrika Selatan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010. Meskipun tidak akan nonton di stadion karena aku tidak mampu beli tiket, aku akan tonton semua pertandingan via televisi," aku Nomtha. Pria berkulit gelap itu seakan mewakili warga Afsel kebanyakan, yang tidak mampu membeli tiket untuk bisa nonton langsung di stadion.
Dengan waktu tersisa sepekan lagi sebelum peluit kick-off dibunyikan, Pretoria sebagai salah satu kota penyelenggara benar-benar berubah. Memasuki pusat kota, di sepanjang jalan dipenuhi oleh beragam spanduk, poster, bendera, graffiti, iklan berbagai merk produk, dari besar, kecil hingga kombinasi aneka warna. Di malam hari, Pretoria bermandikan lampu hias aneka warna. Tak hanya itu, kondisi kota juga tampak bersih bersinar dan menyehatkan. “Kami sudah punya komitmen untuk menjadikan Pretoria nyaman dan sehat bagi pengunjung sepakbola. Warga kota sudah siap untuk menyambut tamunya dengan ramah,” kata Dr Gwen Ramokgopa, Walikota Pretoria dalam siaran persnya.
Begitulah. Di seluruh Afsel, kini orang-orang menghabiskan malam tanpa tidur karena antrian dalam upaya untuk membeli tiket. Virus demam piala dunia sudah menjangkiti warga benua hitam. (zulkarnain jalil).
7 siswa Aceh lulus program beasiswa Bidik Misi ITS
7 siswa SMA/MA Aceh, setelah melalui proses seleksi yang ketat, diterima di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya dan akan mendapat beasiswa penuh selama 4 tahun melalui program beasiswa Bidik Misi. Beasiswa Bidik Misi adalah program dari Departemen Pendidikan Nasional dan dilaksanakan oleh universitas-universitas di Indonesia. Beasiwa ini khusus diperuntukkan bagi mereka yang memiliki prestasi akademik tinggi namun kurang mampu secara ekonomi. Dua diantara siswa Aceh ini berasal dari SMA Negeri 10 Fajar Harapan, Banda Aceh dan lima lainnya berasal dari MAS Ruhul Islam Anak Bangsa, Aceh Besar.
Nama-nama mereka serta jurusan masing-masing adalah sebagai berikut:
1. Iskandar Zulkarnain, SMA 10 Fajar Harapan, diterima di jurusan Teknik Industri
2. Iqbal Abrian Z, SMA 10 Fajar Harapan, diterima di jurusan Teknik Informatika
3. Rizki Satryanto, MAS Ruhul Islam, diterima di jurusan Perencanaan Wilayah Kota
4. Nurul Qamar, MAS Ruhul Islam, diterima di jurusan Teknik Informatika
5. Rina Trisfuani, MAS Ruhul Islam, diterima di jurusan Teknik Arsitektur
6. Mukhlisin ZB, MAS Ruhul Islam, diterima di jurusan Teknik Sistem Perkapalan
7. Yeni Anggraini AY, MAS Ruhul Islam, diterima di jurusan Teknik Industri
Sementara itu, dalam rangka menambah motivasi mereka, Ikatan Alumni ITS cabang Aceh menggelar ramah tamah dengan para siswa dan keluarganya yang berlangsung Jumat (4/6) kemarin di Aula Kantor Dishubkomintel NAD. Pertemuan itu, Kadis Hubkomintel Aceh, Prof. Dr. Ir. Yuwaldi Away, M.Sc, yang juga Ketua Umum Ikatan Alumni ITS cabang Aceh memberikan motivasi dan dorongan agar mampu menjaga prestasi selama di ITS. Yuwaldi juga berharap para siswa dapat membawa nama baik Aceh di level nasional dan setelah menyelesaikan studi dapat mengambil peran dalam membangun daerah. Pertemuan ini dihadiri oleh para orang tua atau wali dari setiap calon mahasiswa, para anggota IKA-ITS Cabang Aceh, dan juga kepala sekolah SMA 10 Fajar Harapan dan MAS Ruhul Islam.
Dalam kesempatan tersebut, IKA-ITS Aceh juga menyerahkan sumbangan berupa tiket perjalanan Banda Aceh-Surabaya kepada 7 siswa tersebut. Para siswa akan berangkat ke Surabaya pada tanggal 15 Juni mendatang untuk melakukan pendaftaran ulang.
7 siswa SMA/MA Aceh, setelah melalui proses seleksi yang ketat, diterima di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya dan akan mendapat beasiswa penuh selama 4 tahun melalui program beasiswa Bidik Misi. Beasiswa Bidik Misi adalah program dari Departemen Pendidikan Nasional dan dilaksanakan oleh universitas-universitas di Indonesia. Beasiwa ini khusus diperuntukkan bagi mereka yang memiliki prestasi akademik tinggi namun kurang mampu secara ekonomi. Dua diantara siswa Aceh ini berasal dari SMA Negeri 10 Fajar Harapan, Banda Aceh dan lima lainnya berasal dari MAS Ruhul Islam Anak Bangsa, Aceh Besar.
Nama-nama mereka serta jurusan masing-masing adalah sebagai berikut:
1. Iskandar Zulkarnain, SMA 10 Fajar Harapan, diterima di jurusan Teknik Industri
2. Iqbal Abrian Z, SMA 10 Fajar Harapan, diterima di jurusan Teknik Informatika
3. Rizki Satryanto, MAS Ruhul Islam, diterima di jurusan Perencanaan Wilayah Kota
4. Nurul Qamar, MAS Ruhul Islam, diterima di jurusan Teknik Informatika
5. Rina Trisfuani, MAS Ruhul Islam, diterima di jurusan Teknik Arsitektur
6. Mukhlisin ZB, MAS Ruhul Islam, diterima di jurusan Teknik Sistem Perkapalan
7. Yeni Anggraini AY, MAS Ruhul Islam, diterima di jurusan Teknik Industri
Sementara itu, dalam rangka menambah motivasi mereka, Ikatan Alumni ITS cabang Aceh menggelar ramah tamah dengan para siswa dan keluarganya yang berlangsung Jumat (4/6) kemarin di Aula Kantor Dishubkomintel NAD. Pertemuan itu, Kadis Hubkomintel Aceh, Prof. Dr. Ir. Yuwaldi Away, M.Sc, yang juga Ketua Umum Ikatan Alumni ITS cabang Aceh memberikan motivasi dan dorongan agar mampu menjaga prestasi selama di ITS. Yuwaldi juga berharap para siswa dapat membawa nama baik Aceh di level nasional dan setelah menyelesaikan studi dapat mengambil peran dalam membangun daerah. Pertemuan ini dihadiri oleh para orang tua atau wali dari setiap calon mahasiswa, para anggota IKA-ITS Cabang Aceh, dan juga kepala sekolah SMA 10 Fajar Harapan dan MAS Ruhul Islam.
Dalam kesempatan tersebut, IKA-ITS Aceh juga menyerahkan sumbangan berupa tiket perjalanan Banda Aceh-Surabaya kepada 7 siswa tersebut. Para siswa akan berangkat ke Surabaya pada tanggal 15 Juni mendatang untuk melakukan pendaftaran ulang.
Subscribe to:
Comments (Atom)